2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Goyang Tiktok STAH Mpu Kuturan dan Upaya Baik Menciptakan Media Seksi Pendidikan

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
March 17, 2022
in Khas
Goyang Tiktok STAH Mpu Kuturan dan Upaya Baik Menciptakan Media Seksi Pendidikan

Sejumlah tangkapan layar video pendek karya mahasiswa MPU Kuturan untuk memperkenlakan kampus mereka

STAH Mpu Kuturan, Singaraja, Bali, memilih tiktok sebagai media promosi, sebagai perangsang minat calon mahasiswa untuk kuliah di kampus itu. Pilihan ini bisa disebut kreatif sekaligus juga punya resiko.

Pilihan penggunaan tiktok atau video-video pendek sebagai media promosi tentu saja bukan pilihan baru. Banyak lembaga, formal atau non formal, menggunakan aplikasi tiktok untuk “menjual” apa pun yang hendak dijual.

Tentu, pilihan jatuh pada tiktok, reel, atau aplikasi video pendek lain, karena pengguna tiktok dan aplikasi sejenis itu memang jumlahnya melimpah, bahkan kini jauh lebih melimpah dari media sosial lain yang lebih dulu dikenal.

Begitu larisnya tiktok, hingga banyak kampus ikut kepincut mempromosikan program-program studinya lewat aplikasi itu. Termasuk STAH Mpu Kuturan.

***

Kenapa STAH Mpu Kuturan memilih video pendek untuk diunggah di aplikasi tiktok atau aplikasi sejenis itu?

Pandemi. Karena pandemi, terbataslah gerak panitia penerimaan mahasiswa baru di STAH Mpu Kuturan untuk memperkenalkan kampus kepada calon mahasiswa baru secara luring. Selain tak bisa ramai-ramai, juga harus menerapkan protocol kesehatan secara ketat.

“Kami kemudian berpikir untuk mengoptimalkan penggunaan media sosial,” kata Gede Yoga Satria Wibawa, ketua panitia penerimaan mahasiswa baru di STAH Mpu Kuturan.

Sosialisasi lewat media sosial, pada zaman kini, tentu dirasa lebih efektif, ketimbang misalnya menyebarkan brosur atau pamphlet tercetak secara manual di tempat-tempat umum.   

“Kadang anak-anak muda sekarang susah diajak untuk membaca brosur, flyer atau pamplet. Kalau pun dibaca, itu sambil lalu saja,” kata Yoga.

Belum lama ini, cerita Yoga, mahasiswa dan dosen STAH Mpu Kuturan melakukan acara bersih-bersih terkait Dies Natalis di Pelabuhan Tua Buleleng. Dalam acara itu diisi juga kegiatan penyebaran brosur. Yang terjadi kemudian sungguh menggelikan.

 “Selain membersihkan sampah di pelabuhan, kami juga membersihkan brosur yang sebelumnya kami sebarkan kepada pengunjung pelabuhan,” kata Yoga sambil tertawa.

Iya, iyalah. Bagi anak millennial, brosur itu tak jelas jenis kelaminnya. Jadi, brosur sudah mahal, sasarannya belum tentu tercapai.

Kenapa tiktok?

“Kami sebenarnya punya video yang di-share di youtubue,” kata Yoga.

Nah, masalahnya untuk mengalihkan perhatian nitizen ke kanal youtube STAH Mpu Kuturan atau Mpu Kuturan TV itu agak susah. Cuplikannya diunggah di media sosial lain, tapi untuk kemudian menonton secara lengkap di youtube, hanya beberapa saja yang mau.

Tentu lain dengan tiktok. Video pendek dibuat dengan konsep khas anak muda. Isinya gerakan tubuh yang energik. Bisa berupa goyang, bisa tarian, biasa saja gerakan-gerakan senam yang menggairahkan. Pendek dan ringkas. Itu menarik. Anak muda tertarik, calon mahasiswa baru bisa lebih terangsang minatnya untuk masuk ke STAH Mpu Kuturan.

“Video pendek semacam tiktok itu lebih mudah dibagikan dalam bentuk story dan postingan di media sosial seperti facebook atau IG,” kata Yoga.

Apalagi, menurut Yoga, penyimak tiktok, memang sebagian besar anak muda, rentang umurnya mulai dari  14 hingga 35 tahun. Dan anak-anak semuda itu adalah pasar bagi lembaga pendidikan tinggi, termasuk STAH Mpu Kuturan.

Pastilah tiktok bagi STAH Mpu Kuturan bukan barang baru. Banyak mahasiswa, pegawai dan juga dosen yang suka memainkan tiktok. Bahkan sejumlah mahasiswa yang main tiktok juga dikenal sebagai selebgram yang punya banyak penggemar. Sehingga, untuk membuat konten tiktok, bagi STAH Mpu Kuturan bukan hal sulit.

“Konten-kontennya murni dibuat dengan memberdayakan mahasiswa dan dosen,” ujar Yoga.  

***

Jadi, tiktok adalah pilihan sadar bagi kampus, bukan sekadar ikut-ikutan. Termasuk juga STAH Mpu Kuturan. Namun, boleh jadi, tiktok STAH Mpu Kuturan menjadi lebih menarik perhatian dari  tiktok kampus lain, tentu karena STAH Mpu Kuturan adalah lembaga pendidikan berbasis agama dengan nama sakral Sekolah Tinggi Agama Hindu (STAH).

Mungkin akan tampak biasa jika tiktok dimanfaatkan oleh kampus yang memang punya basis pendidikan tekhnologi informasi, atau basis pendidikan aplikasi media digital. Tapi, ini, STAH, kampus berbasis agama. Agama Hindu.

Di satu sisi lembaga itu dituntut menjaga citra sebagai pemegang mandat besar dalam pendidikan dan pelestarian nilai-nilai agama atau nilai-nilai moral kemanusiaan. Di sisi lain, saat tiktokan, lembaga ini harus mengadopsi daya tarik tiktok itu sendiri.       

Nah, sialnya, salah satu daya tarik tiktok, bahkan bisa disebut sebagai nyawa dari tiktok, adalah goyang tubuh. Goyang personal, goyang bersama, goyang biasa, goyang seksi, goyang erotis. Tak usah dibantah, banyak nitizen kecanduan buka tiktok, ya, itu, karena ingin melihat goyang seksi di layar HP. Sekali lagi, ini susah dibantah.    

BACA JUGA:

HINDU & KEJAWEN BERHALA?
BALI PERLU KESADARAN UGRAŚRAWA

Dan, ini adalah tantangan bagi dunia pendidikan, termasuk STAH Mpu Kuturan. Tantangan terbesar adalah menundukkan citraan yang sudah terbentuk sejak awal aplikasi itu diciptakan. Lembaga pendidikan pengguna aplikasi tiktok, atau aplikasi sejenisnya, sebagai media promosi, termasuk juga sebagai media pendidikan dan pelestari seni-budaya, dituntut juga untuk melesakkan citraan baru, Sehingga pendidikan pun bisa menjadi seksi, diminati, dan menggairahkan.     

Tentu bukan kerja mudah. Tapi bukan berarti tidak bisa. Dulu, radio siaran niaga isinya hanya lagu-lagu dan iklan. Radio, dulu, semata-mata dianggap sebagai media penghibur. Tapi, sejak sekitar tahun 1990-an radio kemudian dikenal juga sebagai media pendidikan dan pelestari budaya Bali.

Munculnya acara Gadang Gantal di RRI Denpasar dan acara Sudah Lepet Jukut Undis di RRI Singaraja adalah bukti bahwa citraan radio sebagai media semata-mata penghidur bisa dibanting setirnya menjadi media pendidikan. Acara Dagang Gantal dan acara Sudang Lepet Jukut Undis adalah acara yang menyiarkan kegiatan pesantian seperti mageguritan, makidung, macapat, dan sejenisnya. Acara itu sangat terkenal dan diminati di Bali sekira tahun 1990-an.

Acara itu kemudian ditiru oleh radio-radio swasta niaga. Bahkan banyak radio swasta kemudian menyediakan program acara dengan penyiar berbahasa Bali. Bahkan lagi, ada radio yang secara penuh menyiarkan acaranya dengan bahasa Bali, termasuk siaran berita.

Pemahaman tentang hiburan pun berubah Sebelumnya, yang dianggap hiburan hanya lagu-lagu pop, namun kemudian geguritan, bahkan berita dan program pendidikan pun dianggap hiburan.

BACA JUGA:

MANTRA-MANTRA NYEPI REKOMENDASI I GUSTI BAGUS SUGRIWA
MANTRA-MANTRA NYEPI REKOMENDASI I GUSTI BAGUS SUGRIWA

Di dunia tiktok, saat ini yang dianggap paling menghibur mungkin adalah goyang seksi, tapi suatu bsaat nanti bisa saja tari-tarian tradisional yang diciptakan dengan sedemikian rupa menjadi hal paling menghibur pada aplikasi itu.

Atau, pendidikan moral dan spiritual, pun bisa jadi hal yang paling dicari jika video pendek itu digarap dengan konsep yang  serius dan kreatif.  Jadi, aplikasi boleh lumrah, tapi konsep harus original. Bukan ikut-ikut, tapi ikut menciptakan.

***

STAH Mpu Kuturan tentu saja sudah memikirkan pertentangan dua citraan itu. Citraan tiktok dan citraan lembaga.  

“Kami tetap memikirkan konsep penciptaan video itu agar tidak kebablasan yang justru bisa menimbulkan citraan yang tak baik,” kata Gede Yoga Satria Wibawa.

Kata Yoga, dirinya selaku panitia selalu mewanti-wanti mahasiswa agar memperhatikan pemilihan kostum dan memperhatikan koreagrafi gerakan-gerakannya. Kostum tidak boleh terbuka, dan lebih banyak menggunakan pakaian adat.

Kalau pun tak menggunakan pakaian adat, tetap harus dipilih kostum yang sopan dan tidak menimbulkan persepsi negatif. Gerakan tubuh juga disesuaikan dengan gerakan-gerakan tari.

“Agar yang menonjol adalah nilai seninya, bukan nilai pornonya,” kata Yoga.

Menurut Yoga, melalui media tiktok ini mahasiswa STAH Mpu Kuturan juga ingin menunjukkan kepada nitizen tentang penggunaan media sosial yang baik.

Memang, diakui, nitizen sebagian besar mencari artis dan gerakan erotis. Namun sebagai kampus berbasis agama, STAH harus mengedukasi masyarakat. Apalagi, dalam video itu dimunculkan logo STAH yang bisa diartikan sebagai simbol agama.

“Kami harus melakukan edukasi, ini lho media sosial yang juga bisa dipakai sebagai fungsi edukasi,” kata Yoga.

***

Video pendek dengan konten seleb berpakaian adat atau pakaian nasional, dengan gerakan tari tradisi, plus kata-kata bijak, sesungguhnya bukan hal baru di media sosial. Banyak lembaga atau seleb media sosial di Bali sudah berupaya menciptakan konten semacam itu di tiktok, , IG atau facebook.

BACA JUGA:

Parade Pelegongan di DNA Denpasar | Esensi Legong Kembang Ura, Benarkah Membuat Rakyat Sejahtera?
Parade Pelegongan di DNA Denpasar | Esensi Legong Kembang Ura, Benarkah Membuat Rakyat Sejahtera?

Upaya-upaya semacam itu bisa diartikan sebagai upaya menciptakan citraan baru, misalnya citraan pendidikan, atau citraan sebagai pelestari seni-budaya, dan sejenisnya, di tengah citraan erotis yang jadi daya tarik konten-konten selebritis di dunia hiburan, atau seleb yang memang bertujuan memamerkan keseksian tubuh mereka.

Namun upaya itu masih terkesan iseng-iseng, pengisi waktu luang, atau paling serius untuk mengejar endorse agar mendapatkan cuan. Pemanfaatan aplikasi video-video pendek itu belum menjadi semacam gerakan serius, misalnya sebagai sarana pendidikan agama, seni dan budaya dengan konsep yang terukur, terpadu, dan tetap menarik bagi kaum millennial sebagaimana kaum millennial menggandrungi goyang seksi dan video lucu-lucuan tanpa makna.

Ini pasti saja pekerjaan sulit. Meski sulit, lembaga-lembaga pendidikan, termasuk STAH Mpu Kuturan, harus memikirkannya dengan sungguh-sungguh. Jika pengetahuan agama dan kebaikan-kebaikan hidup sudah ada di lontar dan buku-buku, kini pengetahuan agama dan pengetahuan bijak sebagai pedoman hidup sebaiknya ada pada aplikasi-aplikasi digital yang ringan dan menghibur. Dengan begitu, nanti, yang seksi bukan hanya tubuh, tapi pengetahuan.  [T]    

BACA JUGA:

Teater Pakeliran : Konsep Populer Dalam Garap Karya Pewayangan
Teater Pakeliran : Konsep Populer Dalam Garap Karya Pewayangan
Benang Merah Wayang dan Realita | Antara Pesan dan Lelucon yang Dikehendaki
Benang Merah Wayang dan Realita | Antara Pesan dan Lelucon yang Dikehendaki
Tags: media sosialPendidikanSTAH Mpu KuturanSTAHN Mpu Kuturantiktok
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mie Instan, Susu, dan Masa Depan

Next Post

Dilema SMA Bali Mandara | Ketika Marhaen Lupakan Kaum Marjinal

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Waspada, “Branding” Bali Kadaluwarsa!

Dilema SMA Bali Mandara | Ketika Marhaen Lupakan Kaum Marjinal

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co