14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Goyang Tiktok STAH Mpu Kuturan dan Upaya Baik Menciptakan Media Seksi Pendidikan

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
March 17, 2022
in Khas
Goyang Tiktok STAH Mpu Kuturan dan Upaya Baik Menciptakan Media Seksi Pendidikan

Sejumlah tangkapan layar video pendek karya mahasiswa MPU Kuturan untuk memperkenlakan kampus mereka

STAH Mpu Kuturan, Singaraja, Bali, memilih tiktok sebagai media promosi, sebagai perangsang minat calon mahasiswa untuk kuliah di kampus itu. Pilihan ini bisa disebut kreatif sekaligus juga punya resiko.

Pilihan penggunaan tiktok atau video-video pendek sebagai media promosi tentu saja bukan pilihan baru. Banyak lembaga, formal atau non formal, menggunakan aplikasi tiktok untuk “menjual” apa pun yang hendak dijual.

Tentu, pilihan jatuh pada tiktok, reel, atau aplikasi video pendek lain, karena pengguna tiktok dan aplikasi sejenis itu memang jumlahnya melimpah, bahkan kini jauh lebih melimpah dari media sosial lain yang lebih dulu dikenal.

Begitu larisnya tiktok, hingga banyak kampus ikut kepincut mempromosikan program-program studinya lewat aplikasi itu. Termasuk STAH Mpu Kuturan.

***

Kenapa STAH Mpu Kuturan memilih video pendek untuk diunggah di aplikasi tiktok atau aplikasi sejenis itu?

Pandemi. Karena pandemi, terbataslah gerak panitia penerimaan mahasiswa baru di STAH Mpu Kuturan untuk memperkenalkan kampus kepada calon mahasiswa baru secara luring. Selain tak bisa ramai-ramai, juga harus menerapkan protocol kesehatan secara ketat.

“Kami kemudian berpikir untuk mengoptimalkan penggunaan media sosial,” kata Gede Yoga Satria Wibawa, ketua panitia penerimaan mahasiswa baru di STAH Mpu Kuturan.

Sosialisasi lewat media sosial, pada zaman kini, tentu dirasa lebih efektif, ketimbang misalnya menyebarkan brosur atau pamphlet tercetak secara manual di tempat-tempat umum.   

“Kadang anak-anak muda sekarang susah diajak untuk membaca brosur, flyer atau pamplet. Kalau pun dibaca, itu sambil lalu saja,” kata Yoga.

Belum lama ini, cerita Yoga, mahasiswa dan dosen STAH Mpu Kuturan melakukan acara bersih-bersih terkait Dies Natalis di Pelabuhan Tua Buleleng. Dalam acara itu diisi juga kegiatan penyebaran brosur. Yang terjadi kemudian sungguh menggelikan.

 “Selain membersihkan sampah di pelabuhan, kami juga membersihkan brosur yang sebelumnya kami sebarkan kepada pengunjung pelabuhan,” kata Yoga sambil tertawa.

Iya, iyalah. Bagi anak millennial, brosur itu tak jelas jenis kelaminnya. Jadi, brosur sudah mahal, sasarannya belum tentu tercapai.

Kenapa tiktok?

“Kami sebenarnya punya video yang di-share di youtubue,” kata Yoga.

Nah, masalahnya untuk mengalihkan perhatian nitizen ke kanal youtube STAH Mpu Kuturan atau Mpu Kuturan TV itu agak susah. Cuplikannya diunggah di media sosial lain, tapi untuk kemudian menonton secara lengkap di youtube, hanya beberapa saja yang mau.

Tentu lain dengan tiktok. Video pendek dibuat dengan konsep khas anak muda. Isinya gerakan tubuh yang energik. Bisa berupa goyang, bisa tarian, biasa saja gerakan-gerakan senam yang menggairahkan. Pendek dan ringkas. Itu menarik. Anak muda tertarik, calon mahasiswa baru bisa lebih terangsang minatnya untuk masuk ke STAH Mpu Kuturan.

“Video pendek semacam tiktok itu lebih mudah dibagikan dalam bentuk story dan postingan di media sosial seperti facebook atau IG,” kata Yoga.

Apalagi, menurut Yoga, penyimak tiktok, memang sebagian besar anak muda, rentang umurnya mulai dari  14 hingga 35 tahun. Dan anak-anak semuda itu adalah pasar bagi lembaga pendidikan tinggi, termasuk STAH Mpu Kuturan.

Pastilah tiktok bagi STAH Mpu Kuturan bukan barang baru. Banyak mahasiswa, pegawai dan juga dosen yang suka memainkan tiktok. Bahkan sejumlah mahasiswa yang main tiktok juga dikenal sebagai selebgram yang punya banyak penggemar. Sehingga, untuk membuat konten tiktok, bagi STAH Mpu Kuturan bukan hal sulit.

“Konten-kontennya murni dibuat dengan memberdayakan mahasiswa dan dosen,” ujar Yoga.  

***

Jadi, tiktok adalah pilihan sadar bagi kampus, bukan sekadar ikut-ikutan. Termasuk juga STAH Mpu Kuturan. Namun, boleh jadi, tiktok STAH Mpu Kuturan menjadi lebih menarik perhatian dari  tiktok kampus lain, tentu karena STAH Mpu Kuturan adalah lembaga pendidikan berbasis agama dengan nama sakral Sekolah Tinggi Agama Hindu (STAH).

Mungkin akan tampak biasa jika tiktok dimanfaatkan oleh kampus yang memang punya basis pendidikan tekhnologi informasi, atau basis pendidikan aplikasi media digital. Tapi, ini, STAH, kampus berbasis agama. Agama Hindu.

Di satu sisi lembaga itu dituntut menjaga citra sebagai pemegang mandat besar dalam pendidikan dan pelestarian nilai-nilai agama atau nilai-nilai moral kemanusiaan. Di sisi lain, saat tiktokan, lembaga ini harus mengadopsi daya tarik tiktok itu sendiri.       

Nah, sialnya, salah satu daya tarik tiktok, bahkan bisa disebut sebagai nyawa dari tiktok, adalah goyang tubuh. Goyang personal, goyang bersama, goyang biasa, goyang seksi, goyang erotis. Tak usah dibantah, banyak nitizen kecanduan buka tiktok, ya, itu, karena ingin melihat goyang seksi di layar HP. Sekali lagi, ini susah dibantah.    

BACA JUGA:

HINDU & KEJAWEN BERHALA?
BALI PERLU KESADARAN UGRAŚRAWA

Dan, ini adalah tantangan bagi dunia pendidikan, termasuk STAH Mpu Kuturan. Tantangan terbesar adalah menundukkan citraan yang sudah terbentuk sejak awal aplikasi itu diciptakan. Lembaga pendidikan pengguna aplikasi tiktok, atau aplikasi sejenisnya, sebagai media promosi, termasuk juga sebagai media pendidikan dan pelestari seni-budaya, dituntut juga untuk melesakkan citraan baru, Sehingga pendidikan pun bisa menjadi seksi, diminati, dan menggairahkan.     

Tentu bukan kerja mudah. Tapi bukan berarti tidak bisa. Dulu, radio siaran niaga isinya hanya lagu-lagu dan iklan. Radio, dulu, semata-mata dianggap sebagai media penghibur. Tapi, sejak sekitar tahun 1990-an radio kemudian dikenal juga sebagai media pendidikan dan pelestari budaya Bali.

Munculnya acara Gadang Gantal di RRI Denpasar dan acara Sudah Lepet Jukut Undis di RRI Singaraja adalah bukti bahwa citraan radio sebagai media semata-mata penghidur bisa dibanting setirnya menjadi media pendidikan. Acara Dagang Gantal dan acara Sudang Lepet Jukut Undis adalah acara yang menyiarkan kegiatan pesantian seperti mageguritan, makidung, macapat, dan sejenisnya. Acara itu sangat terkenal dan diminati di Bali sekira tahun 1990-an.

Acara itu kemudian ditiru oleh radio-radio swasta niaga. Bahkan banyak radio swasta kemudian menyediakan program acara dengan penyiar berbahasa Bali. Bahkan lagi, ada radio yang secara penuh menyiarkan acaranya dengan bahasa Bali, termasuk siaran berita.

Pemahaman tentang hiburan pun berubah Sebelumnya, yang dianggap hiburan hanya lagu-lagu pop, namun kemudian geguritan, bahkan berita dan program pendidikan pun dianggap hiburan.

BACA JUGA:

MANTRA-MANTRA NYEPI REKOMENDASI I GUSTI BAGUS SUGRIWA
MANTRA-MANTRA NYEPI REKOMENDASI I GUSTI BAGUS SUGRIWA

Di dunia tiktok, saat ini yang dianggap paling menghibur mungkin adalah goyang seksi, tapi suatu bsaat nanti bisa saja tari-tarian tradisional yang diciptakan dengan sedemikian rupa menjadi hal paling menghibur pada aplikasi itu.

Atau, pendidikan moral dan spiritual, pun bisa jadi hal yang paling dicari jika video pendek itu digarap dengan konsep yang  serius dan kreatif.  Jadi, aplikasi boleh lumrah, tapi konsep harus original. Bukan ikut-ikut, tapi ikut menciptakan.

***

STAH Mpu Kuturan tentu saja sudah memikirkan pertentangan dua citraan itu. Citraan tiktok dan citraan lembaga.  

“Kami tetap memikirkan konsep penciptaan video itu agar tidak kebablasan yang justru bisa menimbulkan citraan yang tak baik,” kata Gede Yoga Satria Wibawa.

Kata Yoga, dirinya selaku panitia selalu mewanti-wanti mahasiswa agar memperhatikan pemilihan kostum dan memperhatikan koreagrafi gerakan-gerakannya. Kostum tidak boleh terbuka, dan lebih banyak menggunakan pakaian adat.

Kalau pun tak menggunakan pakaian adat, tetap harus dipilih kostum yang sopan dan tidak menimbulkan persepsi negatif. Gerakan tubuh juga disesuaikan dengan gerakan-gerakan tari.

“Agar yang menonjol adalah nilai seninya, bukan nilai pornonya,” kata Yoga.

Menurut Yoga, melalui media tiktok ini mahasiswa STAH Mpu Kuturan juga ingin menunjukkan kepada nitizen tentang penggunaan media sosial yang baik.

Memang, diakui, nitizen sebagian besar mencari artis dan gerakan erotis. Namun sebagai kampus berbasis agama, STAH harus mengedukasi masyarakat. Apalagi, dalam video itu dimunculkan logo STAH yang bisa diartikan sebagai simbol agama.

“Kami harus melakukan edukasi, ini lho media sosial yang juga bisa dipakai sebagai fungsi edukasi,” kata Yoga.

***

Video pendek dengan konten seleb berpakaian adat atau pakaian nasional, dengan gerakan tari tradisi, plus kata-kata bijak, sesungguhnya bukan hal baru di media sosial. Banyak lembaga atau seleb media sosial di Bali sudah berupaya menciptakan konten semacam itu di tiktok, , IG atau facebook.

BACA JUGA:

Parade Pelegongan di DNA Denpasar | Esensi Legong Kembang Ura, Benarkah Membuat Rakyat Sejahtera?
Parade Pelegongan di DNA Denpasar | Esensi Legong Kembang Ura, Benarkah Membuat Rakyat Sejahtera?

Upaya-upaya semacam itu bisa diartikan sebagai upaya menciptakan citraan baru, misalnya citraan pendidikan, atau citraan sebagai pelestari seni-budaya, dan sejenisnya, di tengah citraan erotis yang jadi daya tarik konten-konten selebritis di dunia hiburan, atau seleb yang memang bertujuan memamerkan keseksian tubuh mereka.

Namun upaya itu masih terkesan iseng-iseng, pengisi waktu luang, atau paling serius untuk mengejar endorse agar mendapatkan cuan. Pemanfaatan aplikasi video-video pendek itu belum menjadi semacam gerakan serius, misalnya sebagai sarana pendidikan agama, seni dan budaya dengan konsep yang terukur, terpadu, dan tetap menarik bagi kaum millennial sebagaimana kaum millennial menggandrungi goyang seksi dan video lucu-lucuan tanpa makna.

Ini pasti saja pekerjaan sulit. Meski sulit, lembaga-lembaga pendidikan, termasuk STAH Mpu Kuturan, harus memikirkannya dengan sungguh-sungguh. Jika pengetahuan agama dan kebaikan-kebaikan hidup sudah ada di lontar dan buku-buku, kini pengetahuan agama dan pengetahuan bijak sebagai pedoman hidup sebaiknya ada pada aplikasi-aplikasi digital yang ringan dan menghibur. Dengan begitu, nanti, yang seksi bukan hanya tubuh, tapi pengetahuan.  [T]    

BACA JUGA:

Teater Pakeliran : Konsep Populer Dalam Garap Karya Pewayangan
Teater Pakeliran : Konsep Populer Dalam Garap Karya Pewayangan
Benang Merah Wayang dan Realita | Antara Pesan dan Lelucon yang Dikehendaki
Benang Merah Wayang dan Realita | Antara Pesan dan Lelucon yang Dikehendaki
Tags: media sosialPendidikanSTAH Mpu KuturanSTAHN Mpu Kuturantiktok
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mie Instan, Susu, dan Masa Depan

Next Post

Dilema SMA Bali Mandara | Ketika Marhaen Lupakan Kaum Marjinal

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails
Next Post
Waspada, “Branding” Bali Kadaluwarsa!

Dilema SMA Bali Mandara | Ketika Marhaen Lupakan Kaum Marjinal

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co