13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

BALI PERLU KESADARAN UGRAŚRAWA

Sugi Lanus by Sugi Lanus
March 6, 2022
in Esai
HINDU & KEJAWEN BERHALA?

—  Catatan Harian, Sugi Lanus, 6 Maret 2022

1.         Ketika orang Bali secara umum tidak lagi mampu membaca puluhan ribu lontar-lontar peninggalan leluhurnya, tradisi keagamaan di Bali akan terguncang. Banyak muncul kesimpangsiuran.

Kesimpangsiuran dalam pedoman lontar-lontar sastra keagamaan di Bali berpotensi mengundang kemunculan 3 kelompok masyarakat yang rentan memicu kericuhan:

a. Kelompok “saklek”. Kelompok ini adalah kelompok yang mati-matian menjadi penerus tradisi tanpa mau dikritik, merasa tidak perlu dijelaskan (padahal tidak bisa menjelaskan) dan berbaris pasang melawan kritik yang dianggap berseberangan dengannya. Kelompok ini dengan segala upaya ingin menjaga tradisi tanpa perlu diperdebatkan, menolak diskusi masyarakat diajak patuh tanpa perlu bertanya apa penjelasan tradisi yang dianut.

b. Kelompok “mie instan”. Kelompok ini adalah kelompok yang lari dari kenyataan dan mencari ajaran luar yang lebih instan. Gampang cerna dan tunggal tidak perlu lagi ditimbang, asal punya guru, asal dirasa memuaskan secara instan. Ini mirip ketika masyarakat sedang lapar, tidak bisa lagi  berproses “nyakan” (menanak nasi dengan proses manual — ngalih saang, nginsah baas, ngaru, dan tidak punya payuk-jakan-kuskusan) akhirnya memilih mencari “mie instan”, makan siap saji. Langsung kenyang. Tidak lagi memikirkan resiko bahaya menelan bahan pengawet dan kebanyakan micin.

c. Kelompok “saru-gremeng”.  Kelompok ini adalah kelompok yang tidak juga mau belajar soal leluhurnya, dan tidak juga mau ikut-ikutan kelompok “mie instan”, sekalipun sesungguhnya was-was tapi main aman, “milu-milu bawang/tuwung” merapat ke kelompok “saklek” karena tidak mau beresiko dimusuhi.

Lontar Adi Parwa [koleksi Griya Toko Lod Pasar, Sanur]

2.         Dalam situasi masyarakat terputusnya sastragama (sastra sesuluh beragama) yang dipegang leluhur, dan tidak bisa lagi memahami pedoman-pedoman tertulis jelas dalam bentuk aksara dan bahasa yang tidak lagi dipahami, yang bentuknya terbatas dari segi kuantitas dan akses, yaitu lontar-lontar sastra-agama, apa yang diperlukan? Bagaimana jalan keluarnya?

3.         Ada situasi dimana keluarga rsi, para ksatria, dan rakyat di era perang Kuruksetra, dimana pengetahuan sastra-agama yang kebanyakan masih dalam bentuk ingatan dan tradisi lisan nyaris terputus. Nyaris terputus karena manusia cemerlang Romaharṣaṇa, yang tidak lain adalah murid utama & kesayangan Vyasa, tewas terbunuh.

Romaharṣaṇa adalah penghafal terbaik Catur Veda dan semua Purana serta puluhan ribu sloka.

Dalam situasi itu, semua tergagap. Bersyukur putra dari  Romaharṣaṇa  bernama UGRAŚRAWA masih hidup. Ia telah mendengarkan ribuan sloka dan kisah-kisah Purana dari Romaharṣaṇa  dan bisa menghafalkan apa yang diceritakan ayahnya. Iapun menjadi penyambung ingatan ajaran suci berupa ribuan sloka-sloka dan purana-purana penting yang hampir terkubur bersama tewasnya Romaharṣaṇa.

4.         Sivapurāṇa 1.1. memuji Romaharṣaṇa sebagai yang terpuji,

“O Romaharṣaṇa, yang mahatahu, dengan kekayaan inganmu yang berbobot, seluruh pengetahuan Purāṇa, mengandung isinya yang bermakna, telah diamankan olehmu dari Vyāsa. Oleh karena itu engkau adalah wadah dari kisah-kisah yang menginspirasi keajaiban, bahkan seperti lautan yang luas adalah gudang permata yang sangat berharga. Tidak ada apa pun di tiga dunia yang tidak Anda ketahui, dari masa lalu, sekarang dan masa depan. Merupakan keberuntungan besar bagi kami bahwa Engkau sendiri telah datang mengunjungi kami. Oleh karena itu, tidak pantas bagimu untuk kembali tanpa membantu kami”.

Tragisnya, Romaharṣaṇa disebutkan dibunuh karena dianggap tidak hormat atau dicap tidak mengikuti tata-titi kerajaan, gara-gara ia tidak bangun ketika penguasa datang. Ia tetap duduk ketika para rsi menyambut dengan berdiri kedatangan Dewa Balarama. Ia dianggap terlalu lancang berani duduk tetap duduk di balai Vyasasana— padahal banyak kaum terpelajar yang berasal garis brahmana atau brahma-resi yang murni dan agung yang berdiri menyambut Dewa Balarama. Ketika semua orang berdiri dan memberi salam hormat untuk menyambut Dewa Balarama, Romaharṣaṇa tetap duduk. Iapun dibunuh atas sikapnya yang dianggap tidak pantas.

5.         Tewasnya Romaharṣaṇa membuat seluruh rsi suci dan kaum terpelajar merunduk diam. Umat manusia kehilangan murid terbaik Vyasa. Dunia sesaat tertegun, lowong, rasa diliputi kehilangan “kehilangan ingatan kitab suci”.

Di sanalah muncul Ugraśrava, putra Romaharṣaṇa menggantikan ayahnya. Seluruh kisah Mahabharata dan berbagai purana penting dan utama, diingat oleh Ugraśrava berdasarkan ingatannya. Ia mendengar dan hafal semua apa yang pernah dikisahkan oleh ayahnya. Dikisahkan bahwa versi Mahabharata yang kita warisi di dunia sekarang adalah versi yang diingat oleh Ugraśrava. Begitu pula Purana-Purana penting dan ribuan sloka-sloka penting lainnya.

6.         Ugraśrava adalah narator Mahābhārata dan beberapa Purana penting, seperti Śiva Purana, Bhagavata Purana, Harivamsa, Brahmavaivarta Purana, dan Padma Purana; seperti diceritakan kembali atau dikisahkan kembali dihadapan para rsi dan brahmana terpelajar oleh Ugraśrava di di Hutan Naimisha.

Yang sangat menarik dicatat, Ugraśrava bukanlah dianggap keturunan brahmana yang murni. Kakeknya adalah seorang “sutā”, artinya dari garis neneknya bergaris brahmana dan kakeknya bergaris penyair yang bukan brahmana. Ada yang menyebutkan kakeknya seorang kusir kereta perang. Dalam sejarah ajaran sloka-sloka dan wahyu peran Ugraśrava sangat dihormati di kalangan para brahmana. Bahkan orang tuanya sampai kini dipuja di kalangan banyak brahmana. Sebagai contoh, di Buleleng sampai kini masih ada rumah keluarga pendeta purohito (pendeta penasihat raja) dari era Kerajaan Buleleng bernama Griya Romaharṣaṇa.

Lukisan garis silsilah para Bagawan pelanjut tradisi suci dalam Adiparwa…: Sumber: The Virtual Museum of Balinese Painting

7.         Pelajaran penting dari sejarah pewarisan kitab Mahabrata dan ribuan sloka yang dihafal oleh Ugraśrava, didapat gambaran bahwa tradisi ajaran suci bisa diwariskan dan teruskan oleh orang yang tidak berdarah brahmana murni. Tradisi suci Weda dan Purana berjalan dan terwariskan sampai kini karena ada tradisi guru-sisya, atau kelompok dan sosok murid dari brahmin suci bernama Rsi Vyasa yang berhasil mendidik muridnya sampai menjadi pengingat sloka-sloka, dan tidak harus dari garis lelaki brahmana.

8.         Seluruh epos Mahābhārata yang menyebar di dunia sampai kini, diriwayatkan berdasar babon atau bersumber dari penuturan atau penceritaan kembali oleh Ugraśrava. Mahābhārata disusun sebagai dialog antara Ugraśrava Sauti (narator) dan seorang rsi bijak Saunaka.

Narasi sejarah keluarga Bharata oleh resi Vaisampayana kepada raja Kuru Janamejaya tertanam dalam penceritaan kembali oleh Ugraśrava Sauti. Demikian juga narasi Vaisampayana yang berisi narasi Perang Kurukshetra oleh Sanjaya, kepada raja Kuru Dhritarashtra. Demikianlah Mahābhārata memiliki sebuah cerita di dalam sebuah struktur cerita yang sangat Panjang, diriwayatkan terselamatkan oleh sosok penyambung tradisi bernama Ugraśrava.

9.         Sampai kini, sebagaimana ditulis dalam lontar-lontar Bali yang merupakan kelanjutan tradisi Kawi (Jawa Kuno), diingat oleh para bangsawan dan para rsi dalam kitab-kitab Jawa Kuno, yang tercatat dalam lontar-lontar, nama Ugraśrava (dan juga ayahnya Romaharṣaṇa) dipuji sebagai “juru sambung tradisi yang cemerlang”, penyelamat dan narator Mahābhārata dan berbagai sloka-sloka yang masih terselamatkan dan tercatat dalam lontar-lontar Bali. Sosok penyambung tradisi ini sangat dihormati dengan penuh keseriusan di masa lalu di Bali — dulu… ketika masyarakat Bali masih fasih membaca dan mengartikan lontar-lontar sebagai pedoman upakara dan etika berkehidupan sebagai krama Bali yang paham muasal drestanya.

10.       Demikianlah alasan kenapa kita di Bali sangat dinanti dan perlu “sosok-sosok Ugraśrava” tampil kembali untuk “menyambung ingatan” dan “membuka kembali sastra-dresta” yang terancam tewas.

Sebagaimana tewasnya Romaharṣaṇa, sebagai pengingat kitab dan sastra pedoman dalam kehidupan beragama, kehadiran pelanjut seperti Ugraśrava diperlukan. Bentuknya bisa berupa pegiat-pegiat sastra-agama yang mau merawat, menjaga, membaca kembali lontar-lontar yang berisi kandungan suci sastra-agama (Jangan campur aduk dengan lontar-lontar yang tidak mengandung sastra-agama).

Kehadiran “sosok-sosok Ugraśrava” berupa paguyuban para dalang yang serius membaca dan mempedomani membaca sastra-agama Bali dan memasukkannya ke dalam narasi pedalangan secara actual, sangat dinanti. Diperlukan lahirnya kelompok-kelompok pesantian modern yang bisa membagikan isi lontar-lontar tetuah-petuah sastra-sastra-agama ke dalam media baru yang komunikatif sesuai era sekarang. Diperlukan kesadaran bersama dan pengakuan diri bahwa “ingatan Bali terancam tewas” dan perlu diumumkan secara terbuka pentingnya mengkader dan mengundang sosok Ugraśrava kembali tampil dalam pentas kehidupan orang Bali, yang berdasarkan sastra-sastra-agama yang berdasar dan punya penjelasan. Diperlukan tradisi “mabebasan” atau “mababaosan” yang lemes lentuk, tidak saklek, berani cerdas berdiskusi merujuk pada sastra-agama.

11.       Jika di Bali tidak tampil sosok-sosok berkesadaran Ugraśrava, maka sosok-sosok yang “berkesadaran mie instan” akan mengambil alih dan menyapu bersih generasi pelanjut Bali.

Jika di Bali tidak muncul “kesadaran Ugraśrava”, lambat laun, dan bisa dipastikan, generasi Bali kedepan akan dikuasai oleh pemikiran “kesadaran mie instan”. [T]

*Tulisan ini terinspirasi dari Adi Parwa, bagian pertama Mahabharata. Gambar: Lontar Adi Parwa (koleksi Griya Toko Lod Pasar, Sanur) dan lukisan Silsilah Bhagawan Adi Parwa [foto Virtual Museum of Balinese Painting — https://heuristplus.sydney.edu.au/]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dek Doll, Mantan Pekerja Kapal Pesiar, Membentuk Sebatu, Semeton Bani Tuyuh, di Desa Tembok

Next Post

Pasek Nurhyang, Alumni SMAN Bali Mandara: Kecilnya Kerja Bikin “Payas Penjor”, Kini Dokter Muda

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Pasek Nurhyang, Alumni SMAN Bali Mandara: Kecilnya Kerja Bikin “Payas Penjor”, Kini Dokter Muda

Pasek Nurhyang, Alumni SMAN Bali Mandara: Kecilnya Kerja Bikin “Payas Penjor”, Kini Dokter Muda

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co