2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dilema SMA Bali Mandara | Ketika Marhaen Lupakan Kaum Marjinal

Gede Suardana by Gede Suardana
March 17, 2022
in Opini
Waspada, “Branding” Bali Kadaluwarsa!

Bung Karno sebagai penggagas ajaran marhaenisme mungkin tengah bersedih. Ajarannya yang terinspirasi dari kaum marhaen, oleh sejumlah pengikutnya, tidak dijalankan untuk mengayomi kaum marhaen itu sendiri, justru kaum marhaen terkesan diabaikan.

Siapa kaum marhaen? Marhaen merupakan saudara kandung kaum marjinal. Kaum marjinal adalah mereka yang tidak memiliki akses pendidikan, ekonomi, dan sosial. Kaum yang terpinggirkan dalam tatanan masyarakat.

Sementara itu, “Seorang Marhaen adalah orang yang memiliki alat-alat yang sedikit, orang kecil dengan milik kecil, dengan alat-alat kecil, sekedar cukup untuk dirinya sendiri. Bangsa kita yang punya puluhan juta jiwa, yang sudah dimelaratkan, bekerja bukan untuk orang lain dan tidak ada orang bekerja untuk dia. Tidak ada pengisapan tenaga seseorang oleh orang lain. Marhaenisme adalah Sosialisme Indonesia dalam praktik,” demikian Sukarno menjabarkan (hlm. 75) dikutip dari Tirto.id (2020).

Jadi marhaenisme sebuah ideologi yang menentang penindasan terhadap kaum marjinal, kaum terpinggirkan. Kaum yang terpinggirkan dari tatanan masyarakat dan jauh dari lingkar kekuasaan.

Namun, fenomena rencana pemerintah Bali menghapus bantuan biaya penuh siswa sangat miskin di SMA Bali Mandara telah mengkhianati ajaran luhur marhaenisme. Fenomena yang sangat janggal. Namun tengah terjadi secara nyata di Bali.

Gubernur Bali Wayan Koster, yang mengaku sebagai kaum marhaen di saat ia belum menjadi orang nomor satu di Bali, saat ini tengah diuji orisinilitas sikap marhaennya. Diuji integritasnya membela kaum marjinal.

“Ada isu bahwa kalau Pak Koster menjadi gubernur, SMA Bali Mandara ini tidak akan dilanjutkan. Saya memastikan, kalau saya gubernur Bali di 2018, astungkara program ini harus dijalankan. Dan wajib hukumnya untuk dijalankan karena ini program yang betul-betul berpihak kepada masyarakat yang tidak mampu. Yang masuk dalam kategori, kalau di PDI Perjuangan disebut sebagai kaum marhaen. Yang harus kita prioritaskan sebagai kebijakan yang berpihak kepada masyarakat yang tidak mampu,” kata Koster saat ia masih menjadi anggota DPR RI, seperti dikutip dari Seputar Bali beberapa tahun lalu.

Saat itu, Gubernur Koster yang mengaku sebagai bagian dari kaum marhen, berjanji akan meneruskan program pendidikan SMA Bali Mandara. Sekolah yang sistem pendidikannya diperuntukkan khusus untuk siswa dari keluarga sangat miskin di Bali. Pendidikan khusus bagi kaum marhaen.

Prestasi SMA Bali Mandara

SMA Bali Mandara telah terbukti melahirkan ratusan alumnus yang berprestasi. Mengharumkan nama Bali di tingkat nasional dan internasional.

Sebuah bukti bahwa SMA Bali Mandara yang baru saja melewati usia satu dasa warsa mampu melahirkan anak-anak berprestasi. Prestasi mereka lebih istimewa karena anak-anaknya berasal dari keluarga yang sangat miskin.

Mereka itu adalah anak-anak kaum marhaen. Anak yang tidak mampu secara ekonomi, sosial, dan politik. Anak-anak yang tidur di gubuk kecil, berdinding bambu, berlantai tanah, dan tidur beralas tikar. Anak yang hanya cukup untuk dirinya sendiri. “Saya dan keluarga miskin. Makan saja tidak bisa apalagi biaya sekolah,” kata seorang alumni SMA Bali Mandara (nama dirahasiakan).

BACA JUGA:

Pasek Nurhyang, Alumni SMAN Bali Mandara: Kecilnya Kerja Bikin “Payas Penjor”, Kini Dokter Muda
Pasek Nurhyang, Alumni SMAN Bali Mandara: Kecilnya Kerja Bikin “Payas Penjor”, Kini Dokter Muda

Anak-anak miskin di SMA Bali Mandara adalah anak kandung kaum marhaen yang telah membuat Bali diakui dunia internasional dengan berbagai prestasi akademik dan non akademik.

SMA Bali Mandara dibangun untuk anak kaum marhaen pada era Gubernur Mangku Pastika. Pendidikan bagi kaum yang sangat termarjinalkan karena sekolah reguler pun tidak akan mampu mereka raih meskipun disediakan jalur siswa miskin.

 “Jika tidak di SMA Bali Mandara,  saya tidak akan sekolah. Saya tidak tahu akan menjadi apa. Mungkin nasib akan sama seperti saudara saya lainnya,” ujar alumnus yang kini tengah menempuh studi perguruan tinggi di Buleleng.

Namun Gubernur Koster sepertinya mengingkari janji itu, untuk memberikan prioritas pendidikan bagi kaum marhaen. Ia akan menghapus bantuan siswa secara penuh kepada anak-anak SMA Bali Mandara mulai tahun ajaran 2022. Alasannya klasik, tidak memiliki anggaran di APBD.

Konsekuensi dari kebijakan itu adalah SMA Bali Mandara akan menjadi sekolah reguler. Sistemnya sama dengan sekolah reguler negeri yang ada saat ini. Bukan lagi sekolah yang khusus dipersembahkan bagi kaum marhaen.

Konsekuensi lainnya, kebijakan menghapus bantuan penuh ini akan menjadikan calon siswa kelas 10 mulai ajaran baru 2022 akan mengikuti sistem penerimaan siswa baru melalui jalur zonasi dengan berbagai aturan mainnya. Sementara kelas 11 dan 12 masih akan menjalani program bantuan pendidikan penuh, seperti sedia kala. Jika rencana ini berlanjut maka dua tahun lagi, spirit SMA Bali Mandara akan terkubur.

Alasan tidak memiliki anggaran untuk kelangsungan sekolah ini sangat kontradiktif dengan tekad kerasnya membangun mega proyek infrastruktur di Bali. Proyek yang menelan dana Rp 12 triliun, di mana sebanyak Rp 2,15 triliun bersumber dari APBD Bali.

BACA JUGA:

Komang Ego | Kabur dari SD, Mengemis, Jual Gelang, Sekolah Lagi, Juara Olimpiade
Komang Ego | Kabur dari SD, Mengemis, Jual Gelang, Sekolah Lagi, Juara Olimpiade

Anggaran mega proyek tentu sangat besar jika dibandingkan dengan biaya bantuan penuh SMA Bali Mandara. Di mana setiap anak dibiayai sebesar Rp 22,5 juta per anak per tahun. Atau kira-kira total anggaran sebesar Rp 22,5 miliar untuk membiaya 100 anak per tahun. Biaya yang sangat kecil dibandingkan Rp 12 triliun untuk mega proyek infrastruktur di Bali.

Jika seseorang mengaku dirinya bagian dari kaum marhaen, dengan begitu bersuka cita merogoh saku APBD bernilai triliunan rupiah untuk membangun mega proyek namun pelit untuk menyiapkan sedikit uang APBD bagi anak-anak miskin SMA Bali Mandara, bukankah hal itu bisa disebut sebagai sikap melupakan kaum marhaen?

Begitu hak kaum marhaen untuk mendapatkan hak paling dasar dilupakan, yaitu hak untuk mendapat pendidikan seusai cita-cita bangsa, maka hal itu bisa dinilai sebagai sikap untuk menanggalkan dan melucuti sendiri seluruh identitasnya sebagai penganut ajaran marhaenisme.[T]

Singaraja, 17/3/2022

Tags: kaum marhaenPendidikanSMAN Bali Mandara
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Goyang Tiktok STAH Mpu Kuturan dan Upaya Baik Menciptakan Media Seksi Pendidikan

Next Post

Kenapa Patung Bung Karno di Buleleng Menunjuk ke Timur? Jawabannya Bisa Puitis dan Bisa Logis

Gede Suardana

Gede Suardana

Mantan wartawan, kini akademisi Undiknas Denpasar

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post
Kenapa Patung Bung Karno di Buleleng Menunjuk ke Timur? Jawabannya Bisa Puitis dan Bisa Logis

Kenapa Patung Bung Karno di Buleleng Menunjuk ke Timur? Jawabannya Bisa Puitis dan Bisa Logis

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co