3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Demokrasi, Korupsi, dan Filsafat “Sekeha Tuak”

Juli Sastrawan by Juli Sastrawan
February 2, 2018
in Opini

Sumber foto: youtube/video Tuak adalah Nyawa

BELAKANGAN ini ketenaran tuak atau dalam versi dan varian lain biasa disebut lau mencapai puncaknya. Dari anak baru gede (abege), remaja agak wayah, pemuda, hingga orang tua setengah abad dan orang tua 70-an, sedang larut dalam trend minuman ini.

Lihatlah, kelompok-kelompok remaja membuat t-shirt sekeha tuak atau perkumpulan peminum tuak.  Tulisan dalam t-sirt atau kaos oblong macam-macam. Ada yang menyebut diri mereka dengan tulisan “Lauyer” atau “Lauyer Bali” pada kaos yang mereka pakai, terutama dipamerkan pada hari-hari raya semacam Tahun Baru atau Galungan. “Lauyer Bali” tentu saja maksudnya Pecinta Lau dari Bali.

Di sejumlah daerah pernah ada sekelompok remaja menggunakan baju dengan tulisan “Jaka Juice”. Kita bisa menduga maksudnya adalah Jus Jaka. Jaka itu pohon enau alias nira, salah satu pohon penghasil tuak. Tak pedulilah mereka dengan pertanyaan orang-orang, apakah jus jaka itu maksudnya sagu yang digunakan untuk bahan jus, apakah buah jaka (bluluk) yang diblender untuk jus, atau empol jaka digiling untuk jus. Kita diminta paham dengan ikhlas bahwa Jaka Juice itu maksudnya tuak jaka.

Kesadaran untuk berkumpul ternyata bukan hanya saat minum tuak di penggak, atau minum lau di poskamling, atau minum arak di pondok pekak di tengah kebun. Lucu memang, mereka juga punya kesadaran berorganisasi dan guyub dalam lembaga yang mereka buat sendiri dengan pengurus siapa saja.

Mereka seakan menunjukkan bahwa hak berorganisasi bukan melulu hak kaum professional semacam IDI, HIPMI, atau PSSI. Bukan juga melulu hak kaum intelektual, pemuda dan cendekiawan keagamaan, semacam KMHDI, KNPI, atau Peradah. Dan, bukan pula melulu hak kaum politikus yang tergabung dalam partai politik serta oraganisasi sayap-sayapnya, baik sayap lebar, sayap panjang maupun sayap kecil seperti burung kepecit.

Jika organisasi formal itu memiliki forum-forum diskusi yang serius atau sekadar hobi-hobian, peminum juga bisa membuat forumnya sendiri. Apalagi dengan munculnya wabah lagu sejuta umat dengan judul “Tuak adalah Nyawa” yang diperkenalkan kelompok “Masekepung” dari Sukawati Gianyar.

Lagu itu semakin mengukuhkan posisi tuak sebagai minuman yang digandrungi generasi saat ini. Dalam beberapa minggu saja setelah diunggah di youtube, video lagu itu sudah ditonton hampir 1 juta orang. Video itu juga terus berkembang-biak karena banyak orang kemudian membuat varian-variannya. Ada yang menambahkan video dengan lirik, bahkan ada yang menambahkan dengan chord gitar secara lengkap.

Upaya-upaya semacam itu dilakukan karena mereka sadar bahwa mereka kelompok marginal (meski jumlahnya banyak) yang tak mungkin menjadi formal. Dengan kesadaran penuh mereka menyebarkan lagu “Tuak adalah Nyawa”  seakan lagu itu lagu wajib yang wajib dilapalkan oleh kelompok-kelompok mereka.

Semua dilakukan tanpa paksaan. Yang berminat silakan ikut, yang tak suka jangan mencerca. Kesadaran semacam itu juga diperlihatkan dalam gambaran video klip lagu “Masekepung”yang beredar di youtube. Video itu seolah mengatakan: “Ikut? Ayo!”, “Tak ikut? Diamlah!”

Terlepas dari hal itu semua ternyata sekeha  tuak juga mempunyai filsafatnya tersendiri, misalnya kesadaran demokrasi, politik dan bagaimana bersikap jujur dan sportif.

Demokrasi

Demokrasi sudah dari dulu diterapkan di Indonesia. Bahkan banyak negara sudah menerapkan sistem ini, ya meskipun seiring perkembangannya demokrasi tidak sepenuhnya berpihak pada rakyat. Suara rakyat hanya diperlukan saat pemilu saja. Setelah itu? Rakyat tetaplah rakyat yang mencari pengupa jiwa sendiri untuk menafkahi sanak keluarganya.

Yang tukang bangunan tetap jadi tukang bangunan, yang berdagang tetaplah berdagang. Jarang dan bahkan tidak pernah rakyat dilibatkan langsung saat pengambilan kebijakan di pemerintahan. Ah terlalu serius artikel ini jika kita bicarakan demokrasi yang sudah stagnan ini. Bagaimana dengan demokrasi dalam Sekeha  tuak?

Wah disini bisa dilihat demokrasinya. Tak pernah ada sekeha  tuak yang berbeda pendapat untuk minum apa dan minum-minuman berbeda beda di suatu tempat. Dalam sekeha  tuak demokrasi sudah barang tentu harga mati. Sekarang minum apa? Kalau tuak, tuaklah kita minum bersama-sama. Kalau arak, araklah bersama-sama.

Jika ada perbedaan pendapat dalam hal jenis minuman yang akan diminum, memang biasa terjadi perdebatan dengan suara agak keras semacam orang bertengkar, namun setelah itu, jenis minuman apa pun yang datang, mereka akan minum bersama-sama. Jarang terjadi, seseorang walk out hanya gara-gara ia kalah suara dalam memilih jenis minuman.

Ah, memang, indahnya kebersamaan dalam sekeha  tuak ini, he he he. Dari kita, oleh kita dan untuk kita. Bukankah demokrasi seperti itu? Demokrasi dalam sekeha  tuak memang benar nyata.

Tak ada Korupsi 

Di negara Indonesia yang kita cintai ini, he he he, korupsi sudah sangat dikenal dan bahkan sebagian masyarakat sudah mual mendengarnya. Dari DPR sampai kader partai sangat sering diberitakan punya urusan dengan yang namanya korupsi. Ya, meskipun tidak semua, tapi banyaklah, ya. Dari korupsi daging sapi hingga korupsi e-KTP.

Nah, sekeha  tuak itu bisa dikata nol korupsi. Jika wakil rakyat membuat anggaran membeli barang yang harganya murah bisa jadi mahal, sedangkan barang yang kecil bisa jadi besar, sekeha  tuak malah kerap menunjukkan hal sebaliknya.

Jika sekeha  tuak ingin membeli tuak 3 botol, bukan tidak mungkin yang datang 4 botol. Bagaimana bisa? Jika sekeha  tuak ditanya, “ngujang adi liu meli tuak?” (Kenapa banyak beli tuak?). Jawabannya santai saja, “nahhh pang mekeloan minum” (yaa biar lebih lama minumnya). Jadi, tak mungkin terjadi anggota sekeha diminta beli tuak 3 botol, lalu yang datang 2 botol, dan uang untuk 1 botol disalahgunakan, misalnya membeli rokok untuk diri sendiri. Itu tak mungkin terjadi.

Maka sudah disimpul sekeha  tuak nol korupsi. Memang sekeha  tuak bisa menjadi inspirasi untuk wakil rakyat, meskipun sifatnya hanya mewakili he he he.

Mungkin saja filsafat lain ataupun ada ide lain yang banyak bisa dipelajari dari sekeha  tuak. Terlepas dari itu semua, sekeha  tuak tidak sekedar minum-minum dan mabuk, ada sesuatu yang bisa dilihat maupun dipelajari dari sekeha  tuak ini. Mengutip lagu “Tuak adalah Nyawa”: “yening awai sing maan tuak, hidupe serasa kuangan“.

Ya betul, satu hari tanpa minum dan berkumpul memang hidup ada yang kurang. Sangat setuju dengan slogan “Makan nggak makan asal kumpul”. Selama kita bersama, semua pasti bahagia. Bahagia.  (T)

Tags: baligaya hiduplaguorganisasituak
Share369TweetSendShareSend
Previous Post

Dongeng Pendidikan: Krayon Abu-abu dan Si Gajah

Next Post

Catatan Kecil Putu Wijaya: Kompromi (3), Taktik dan Strategi

Juli Sastrawan

Juli Sastrawan

Pengajar, penggiat literasi, sastrawan kw 5, pustakawan di komunitas Literasi Anak Bangsa

Related Posts

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

Read moreDetails

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

Read moreDetails

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails
Next Post

Catatan Kecil Putu Wijaya: Kompromi (3), Taktik dan Strategi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co