3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Demokrasi, Korupsi, dan Filsafat “Sekeha Tuak”

Juli Sastrawan by Juli Sastrawan
February 2, 2018
in Opini

Sumber foto: youtube/video Tuak adalah Nyawa

BELAKANGAN ini ketenaran tuak atau dalam versi dan varian lain biasa disebut lau mencapai puncaknya. Dari anak baru gede (abege), remaja agak wayah, pemuda, hingga orang tua setengah abad dan orang tua 70-an, sedang larut dalam trend minuman ini.

Lihatlah, kelompok-kelompok remaja membuat t-shirt sekeha tuak atau perkumpulan peminum tuak.  Tulisan dalam t-sirt atau kaos oblong macam-macam. Ada yang menyebut diri mereka dengan tulisan “Lauyer” atau “Lauyer Bali” pada kaos yang mereka pakai, terutama dipamerkan pada hari-hari raya semacam Tahun Baru atau Galungan. “Lauyer Bali” tentu saja maksudnya Pecinta Lau dari Bali.

Di sejumlah daerah pernah ada sekelompok remaja menggunakan baju dengan tulisan “Jaka Juice”. Kita bisa menduga maksudnya adalah Jus Jaka. Jaka itu pohon enau alias nira, salah satu pohon penghasil tuak. Tak pedulilah mereka dengan pertanyaan orang-orang, apakah jus jaka itu maksudnya sagu yang digunakan untuk bahan jus, apakah buah jaka (bluluk) yang diblender untuk jus, atau empol jaka digiling untuk jus. Kita diminta paham dengan ikhlas bahwa Jaka Juice itu maksudnya tuak jaka.

Kesadaran untuk berkumpul ternyata bukan hanya saat minum tuak di penggak, atau minum lau di poskamling, atau minum arak di pondok pekak di tengah kebun. Lucu memang, mereka juga punya kesadaran berorganisasi dan guyub dalam lembaga yang mereka buat sendiri dengan pengurus siapa saja.

Mereka seakan menunjukkan bahwa hak berorganisasi bukan melulu hak kaum professional semacam IDI, HIPMI, atau PSSI. Bukan juga melulu hak kaum intelektual, pemuda dan cendekiawan keagamaan, semacam KMHDI, KNPI, atau Peradah. Dan, bukan pula melulu hak kaum politikus yang tergabung dalam partai politik serta oraganisasi sayap-sayapnya, baik sayap lebar, sayap panjang maupun sayap kecil seperti burung kepecit.

Jika organisasi formal itu memiliki forum-forum diskusi yang serius atau sekadar hobi-hobian, peminum juga bisa membuat forumnya sendiri. Apalagi dengan munculnya wabah lagu sejuta umat dengan judul “Tuak adalah Nyawa” yang diperkenalkan kelompok “Masekepung” dari Sukawati Gianyar.

Lagu itu semakin mengukuhkan posisi tuak sebagai minuman yang digandrungi generasi saat ini. Dalam beberapa minggu saja setelah diunggah di youtube, video lagu itu sudah ditonton hampir 1 juta orang. Video itu juga terus berkembang-biak karena banyak orang kemudian membuat varian-variannya. Ada yang menambahkan video dengan lirik, bahkan ada yang menambahkan dengan chord gitar secara lengkap.

Upaya-upaya semacam itu dilakukan karena mereka sadar bahwa mereka kelompok marginal (meski jumlahnya banyak) yang tak mungkin menjadi formal. Dengan kesadaran penuh mereka menyebarkan lagu “Tuak adalah Nyawa”  seakan lagu itu lagu wajib yang wajib dilapalkan oleh kelompok-kelompok mereka.

Semua dilakukan tanpa paksaan. Yang berminat silakan ikut, yang tak suka jangan mencerca. Kesadaran semacam itu juga diperlihatkan dalam gambaran video klip lagu “Masekepung”yang beredar di youtube. Video itu seolah mengatakan: “Ikut? Ayo!”, “Tak ikut? Diamlah!”

Terlepas dari hal itu semua ternyata sekeha  tuak juga mempunyai filsafatnya tersendiri, misalnya kesadaran demokrasi, politik dan bagaimana bersikap jujur dan sportif.

Demokrasi

Demokrasi sudah dari dulu diterapkan di Indonesia. Bahkan banyak negara sudah menerapkan sistem ini, ya meskipun seiring perkembangannya demokrasi tidak sepenuhnya berpihak pada rakyat. Suara rakyat hanya diperlukan saat pemilu saja. Setelah itu? Rakyat tetaplah rakyat yang mencari pengupa jiwa sendiri untuk menafkahi sanak keluarganya.

Yang tukang bangunan tetap jadi tukang bangunan, yang berdagang tetaplah berdagang. Jarang dan bahkan tidak pernah rakyat dilibatkan langsung saat pengambilan kebijakan di pemerintahan. Ah terlalu serius artikel ini jika kita bicarakan demokrasi yang sudah stagnan ini. Bagaimana dengan demokrasi dalam Sekeha  tuak?

Wah disini bisa dilihat demokrasinya. Tak pernah ada sekeha  tuak yang berbeda pendapat untuk minum apa dan minum-minuman berbeda beda di suatu tempat. Dalam sekeha  tuak demokrasi sudah barang tentu harga mati. Sekarang minum apa? Kalau tuak, tuaklah kita minum bersama-sama. Kalau arak, araklah bersama-sama.

Jika ada perbedaan pendapat dalam hal jenis minuman yang akan diminum, memang biasa terjadi perdebatan dengan suara agak keras semacam orang bertengkar, namun setelah itu, jenis minuman apa pun yang datang, mereka akan minum bersama-sama. Jarang terjadi, seseorang walk out hanya gara-gara ia kalah suara dalam memilih jenis minuman.

Ah, memang, indahnya kebersamaan dalam sekeha  tuak ini, he he he. Dari kita, oleh kita dan untuk kita. Bukankah demokrasi seperti itu? Demokrasi dalam sekeha  tuak memang benar nyata.

Tak ada Korupsi 

Di negara Indonesia yang kita cintai ini, he he he, korupsi sudah sangat dikenal dan bahkan sebagian masyarakat sudah mual mendengarnya. Dari DPR sampai kader partai sangat sering diberitakan punya urusan dengan yang namanya korupsi. Ya, meskipun tidak semua, tapi banyaklah, ya. Dari korupsi daging sapi hingga korupsi e-KTP.

Nah, sekeha  tuak itu bisa dikata nol korupsi. Jika wakil rakyat membuat anggaran membeli barang yang harganya murah bisa jadi mahal, sedangkan barang yang kecil bisa jadi besar, sekeha  tuak malah kerap menunjukkan hal sebaliknya.

Jika sekeha  tuak ingin membeli tuak 3 botol, bukan tidak mungkin yang datang 4 botol. Bagaimana bisa? Jika sekeha  tuak ditanya, “ngujang adi liu meli tuak?” (Kenapa banyak beli tuak?). Jawabannya santai saja, “nahhh pang mekeloan minum” (yaa biar lebih lama minumnya). Jadi, tak mungkin terjadi anggota sekeha diminta beli tuak 3 botol, lalu yang datang 2 botol, dan uang untuk 1 botol disalahgunakan, misalnya membeli rokok untuk diri sendiri. Itu tak mungkin terjadi.

Maka sudah disimpul sekeha  tuak nol korupsi. Memang sekeha  tuak bisa menjadi inspirasi untuk wakil rakyat, meskipun sifatnya hanya mewakili he he he.

Mungkin saja filsafat lain ataupun ada ide lain yang banyak bisa dipelajari dari sekeha  tuak. Terlepas dari itu semua, sekeha  tuak tidak sekedar minum-minum dan mabuk, ada sesuatu yang bisa dilihat maupun dipelajari dari sekeha  tuak ini. Mengutip lagu “Tuak adalah Nyawa”: “yening awai sing maan tuak, hidupe serasa kuangan“.

Ya betul, satu hari tanpa minum dan berkumpul memang hidup ada yang kurang. Sangat setuju dengan slogan “Makan nggak makan asal kumpul”. Selama kita bersama, semua pasti bahagia. Bahagia.  (T)

Tags: baligaya hiduplaguorganisasituak
Share369TweetSendShareSend
Previous Post

Dongeng Pendidikan: Krayon Abu-abu dan Si Gajah

Next Post

Catatan Kecil Putu Wijaya: Kompromi (3), Taktik dan Strategi

Juli Sastrawan

Juli Sastrawan

Pengajar, penggiat literasi, sastrawan kw 5, pustakawan di komunitas Literasi Anak Bangsa

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post

Catatan Kecil Putu Wijaya: Kompromi (3), Taktik dan Strategi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co