23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dongeng Pendidikan: Krayon Abu-abu dan Si Gajah

Wayan Purne by Wayan Purne
February 2, 2018
in Esai

PADA suatu hari di Dunia Krayon. Krayon Merah, Krayon Ungu, dan Krayon Coklat Muda sedang sibuk mewarnai buah-buahan di hutan. Krayon Merah sibuk mewarnai buah apel. Krayon Ungu sedang asik mewarnai anggur. Dan, Krayon Coklat Muda sedang khusyuk mewarnai buah sawo.

“Krayon Merah, apakah apelnya sudah selesai kamu warnai?” tanya Krayon Ungu tanpa menoleh ke arah Krayon Merah.

“Sudah mau selesai. Ini tinggal lagi satu buah apel,” jawab Krayon Merah.

“Gimana dengan kamu, Krayon Coklat Muda? Apakah kamu sudah selesai mewarnai buah sawo?” tanya Krayon Ungu agak teriak. Sebab, tempat Krayon Ungu agak berjauhan dengan posisi Krayon Coklat Muda.

“Ini lagi dua buah sawo belum diwarnai,” teriak Krayon Coklat Muda yang hampir jatuh dari pohon sawo.

Mereka pun menyelesaikan kegiatan itu dengan penuh kepuasan. Dan, dengan rasa kekaguman, mereka beristirahat menikmati warna-wani buah itu dari rumah pohon.

Tiba-tiba, jauh di bawah, mereka melihat Krayon Abu-abu berlari dikejar-kejar Si Gajah.

“Krayon Abu-abu, tunggu aku! Jangan lari terus! Tubuhku belum selesai kamu warnai,” teriak Si Gajah.

 “Mengapa Krayon Abu-abu lari dari Si Gajah?” tanya Krayon Merah kepada  temannya di atas pohon. Mereka melihat bersama-sama dengan perasaan heran.

Dari atas pohon, Krayon Ungu, Krayon Merah dan Krayon Coklat Muda, melihat Si Gajah terus mengejar Krayon Abu-abu. Sampai Si Gajah kehabisan tenaga. Ia tak memiliki kekuatan lagi mengejar Krayon Abu-abu yang berlari begitu kencang. Si Gajah pun berhenti.

“Mengapa Krayon Abu-abu lari sebelum selesai mewarnai tubuhku? Ah, aku sudah lelah. Nanti saja aku mencari Krayon Abu-abu,” keluh Si Gajah sambil terengah-engah.

Si Gajah beristirahat dan tertidur di bawah pohon.

Krayon Merah, Ungu, dan Coklat turun dari pohon, lalu mendekati Krayon Abu-abu yang sedang kelelahan sehabis berlari.

“Krayon Abu-abu, apa yang terjadi antara kamu dan Si Gajah?” tanya Krayon Merah.

“Aku lelah mewarnai Si Gajah yang besar itu. Lihat tubuhku ini yang semakin kecil karena harus mewarnai Si Gajah Besar yang besar.” cerita si Krayon Abu-abu dengan wajah bersedih.

Krayon Merah, Ungu, dan Coklat Muda pun mendekati Si Gajah yang sedang tertidur.

“Ternyata benar kata Krayon Abu-abu, Si Gajah memang begitu besar,” gumam Krayon Merah.

“Bukankah kita melihat Si Gajah terlihat kecil?” ucap Krayon Ungu yang masih heran.

“Itu kan karena kita berada di atas pohon,” terang Krayon Merah.

Krayon Merah, Ungu, dan Coklat meninggalkan Si Gajah yang sedang tertidur lelap. Mereka berjalan perlahan-lahan agar tidak membangunkan si Gajah. Mereka pun kembali menemui Krayon Abu-abu.

“Krayon Abu-abu, benar perkataanmu. Gajah itu begitu besar,” ungkap Krayon Coklat Muda.

“Sudah aku bilang, Si Gajah itu begitu besar. Aku tidak sanggup lagi mewarnainya,” ucap Krayon Abu-abu yang mulai dipahami oleh teman-temannya.

“Kami akan membantumu mewarnai Si Gajah. Benar kan, Kroyon Merah dan Coklat?” kata Krayon Ungu.

Krayon Merah dan Coklat muda mengangguk tanda setuju. Krayon Abu-abu merasa lega.

Mereka pergi mendekati Si Gajah yang sedang tertidur.

“Pelan-pelan, jangan sampai membangunkan Si Gajah,” bisik si Krayon Abu-abu.

Mereka mulai mewarnai Si Gajah dengan hati-hati. Kulit Si Gajah menjadi berwana merah, ungu, coklat muda, dan abu-abu.

“Si Gajah pasti senang tubuhnya berwarna-warni,” kata Krayon Coklat Muda.

“Iya, pasti Si Gajah akan terlihat lucu,” ucap Krayon Abu-abu.

Ketika Si Gajah bangun, ia heran dengan tubuhnya yang warna-warni.

“Ini bukan warna kesukaanku. Warna kesukaanku adalah abu-abu,” kata Si Gajah sedih.

Si Gajah lari mendekati sungai dan menceburkan dirinya. 

***

Dongeng tentang Krayon Abu-abu dan Si Gajah itu sebenarnya adalah karangan Wayan. Ia sedang mempersiapkan bahan mengajar untuk anak-anak PAUD (Pendidikan Usia Dini). Dengan dongeng itu, ia ingin memberitahu anak-anak PAUD tentang warna.

Ketika sedang suntuk masuk ke Dunia Krayon, Wayan tak sadar bahwa sebenarnya dia sedang rapat bersama guru-guru lain. Ia tersentak ketika seseorang menepuk pundaknya.

“Yan, sudah dapat ide cerita untuk berbicara soal topik warna abu-abu bersama anak-anak?” tanya Angga tiba-tiba.

Wayan gelagapan.

“Sebelumnya kita sudah membahas topik warna merah, ungu, dan coklat muda. Kini gliran membahas topik warna abu-abu” tanya Angga lagi memecah kekhusyukkan Wayan yang tampaknya masih larut dalam Dunia Krayon.

“Sudah, Ga. Kita akan mengawali dengan dongeng ‘Krayon Abu-abu dan Si Gajah’,” jawab Wayan setelah benar-benar sadar ia sedang berada di tengah rapat.

“Lalu apa lagi?” ucap Angga yang ingin mendengar penjelasan lebih lanjut. Wayan pun mengerti yang dimaksud Angga.

“Dari cerita, kita berbicara perasaan Krayon Abu-abu  dan seperti apa keluhan si Krayon Abu-abu? Apa saja yang berwarna abu-abu? Kita juga membicarakan soal kerjasama warna yang menimbulkan perpaduan warna yang indah. Kita juga bicara soal riwayat Krayon Abu-abu yang lahir dari pencampuran hitam dan putih, lalu kita membuktikannya dengan mencampur warna bersama anak-anak,” terang Wayan.

“Bagaimana kalau anak-anak juga diajak bermain mewarnai gajah tetapi dengan mata tertutup,” ucap Ibu Nengah mengusulkan idenya.

“Bagaimana cara bermainnya?” tanya Wayan yang tertarik dengan ide itu.

“Kita siapkan sketsa gambar-gambar gajah yang besar dan ditempel di papan. Lalu, anak berpasangan, satu anak ditutup matanya dan pasangannya memberikan instruksi daerah mana saja yang harus diwarnai,” kata Ibu Nengah bersemangat.

“Aku setuju idenya Ibu Nengah,” celetuk Juli.

Mereka pun mempersiapkan semua bahan yang diperlukan dalam kegiatan PAUD besoknya. Namun, Wayan lupa pada Si Gajah yang menceburkan diri di sungai. Ia pun kembali masuk ke Dunia Krayon untuk melihat kejadian yang dialami Si Gajah.

***

Ajaib, setelah menceburkan diri ke sungai, seluruh tubuh Si Gajah berubah menjadi berwarna abu-abu. Si Gajah begitu bahagia melihat kulitnya sesuai dengan warna kesukaanya.

“Ah, aku tak kan lagi menyusahkan Krayon Abu-abu lagi, kasihan dia tubuhnya makin pendek saja,” ucap Si Gajah dalam hatinya. Si Gajah pun pergi ke tengah hutan. (T)

 

Tags: dongengfaunafloraPendidikanpendidikan usia dini
Share17TweetSendShareSend
Previous Post

Musik Pop Gamelan – Musik yang Sudah “Terkunyah Habis”

Next Post

Demokrasi, Korupsi, dan Filsafat “Sekeha Tuak”

Wayan Purne

Wayan Purne

Lulusan Undiksha Singaraja. Suka membaca. Kini tinggal di sebuah desa di kawasan Buleleng timur menjadi pendidik di sebuah sekolah yang tak konvensional.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post

Demokrasi, Korupsi, dan Filsafat “Sekeha Tuak”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co