11 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

Laurensia Junita Della by Laurensia Junita Della
April 19, 2026
in Tualang
Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul | Foto: Dok. penulis

“Tanpa seni, dunia jadi hambar.”

Saya tidak yakin dari mana saya mendapatkan kata-kata ini, tapi saya setuju.

Sebagai orang yang tak bisa hidup tanpa sentuhan seni, saya ingin membuat hidup ini punya aroma yang nyeni, bahkan dalam tugas kuliah.

Akhir 2025, angin kuliah menerbangkan saya ke Dusun Tengger di Gunung Kidul, karena saya harus menuliskan sesuatu tentang ”pedesaan.”

Dan pas sekali. Di sana, saya menemukan praktik kesenian yang menyatu dengan kehidupan sehari-hari, bahkan dalam kehidupan spiritual masyarakat setempat.

Di Dusun Tengger, seni bukanlah pajangan atau sekedar pertunjukan di panggung. Seni menjadi cara hidup, cermin jiwa, dan cara bertahan. Tak jauh-jauh, seni hadir di pendopo rumah, dan di malam yang penuh rasa kebersamaan.

Gagasan ini mengingatkan saya pada gagasan John Dewey yang melihat seni sebagai bagian dari keseharian manusia. Jadi, seni bukan benda eksklusif yang hanya bisa ditemui di tempat-tempat khusus. Apa yang ada di Dusun Tengger seolah menghidupkan gagasan ini.

Dalam kunjungan singkat saya ke Dusun Tengger, saya melihat bagaimana praktik kesenian setempat, khususnya macapatan, menjadi media penting dalam mengolah spiritualitas, melestarikan warisan, sekaligus mempertahankan identitas sosial warga yang masih menghayati kepercayaan leluhur.

Dusun Tengger dan Komunitas PPN

Dusun Tengger terletak di Kecamatan Rongkop, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta. Letaknya tidak jauh dari Jalur Lintas Selatan (JLS), namun cukup tersembunyi dari lalu lintas jalan besar. Suasananya tenang, asri, dan terasa jauh dari hiruk-pikuk. Keramahan orang-orang di sana juga membuat saya jatuh hati dengan tempat ini.

Foto: Dok. penulis

Di samping itu, Dusun Tengger punya dinamika kepercayaan yang khas. Sebagian warganya masih setia menghayati ajaran leluhur. Mereka terafiliasi dengan komunitas Palang Putih Nusantara (PPN) “Kejawen Urip Sejati” yang berpusat di Yogyakarta. Anggota komunitas ini didominasi para sesepuh dusun yang sebagian besar berusia di atas lima puluh tahun.

Di tengah kuatnya arus budaya, tantangan regenerasi, dan tekanan identitas dari luar, anggota komunitas PPN Ranting Rongkop punya cara tersendiri untuk lebih mendalami serta mempertahankan keyakinan mereka. Mereka mempraktikkan kesenian untuk merawat nilai, ingatan, dan identitas komunitas.

Macapatan di Malam Senin

Setiap malam Senin, anggota komunitas PPN rutin berkumpul di salah satu rumah pendopo untuk menyanyikan tembang macapat. Mereka duduk melingkar, berbincang ringan, sesekali menyeruput teh hangat, lalu bersama-sama menyanyikan tembang macapat dengan penuh penghayatan.

Bagi yang belum familiar, macapat adalah salah satu cabang seni suara Jawa yang menyampaikan wejangan atau pesan-pesan luhur. Tembang Macapat mengandung pesan-pesan kehidupan yang mendalam. Kedalaman itu membuatnya menjadi jembatan spiritual bagi anggota komunitas.

Umumnya, tembang Macapat berisi pesan luhur tentang siklus hidup manusia. Salah satunya adalah tembang Maskumambang. Tembang ini menceritakan keadaan manusia ketika masih di dalam kandungan. Selain itu, tembang ini juga seolah menasihati kita akan sikap-sikap yang dapat diambil ketika berhadapan dengan orang yang lebih tua.

Tembang Maskumambang berpesan bahwa manusia perlu lebih berhati-hati dalam memilih panutan hidup dan mencontoh orang yang lebih tua. Karena usia yang lebih tua tak selalu menjamin kematangan jiwa dan kebijaksanaan. Itulah yang dikatakan Pak Sularto selaku ketua PPN Ranting Rongkop ketika berbincang ringan dengan saya.

Pesan-pesan seperti inilah yang terus dihidupkan melalui kegiatan macapatan.

Kegiatan macapatan biasanya dimulai pukul tujuh malam. Selama mengikuti kegiatan ini, saya merasakan kehangatan dan kebersamaan yang kuat. Keramahan dan keterbukaan semua orang yang hadir sungguh menyelamatkan saya dari perasaan kaku dan canggung selama mengikuti rangkaian kegiatan. Pak Sularto juga banyak membantu saya dalam menafsirkan pesan-pesan dalam tembang yang dinyanyikan.

Seni sebagai Jembatan Lahir dan Batin

Masih banyak yang perlu dibahas dalam tulisan ini. Pertama, mari kita beralih ke perspektif anggota komunitas PPN Ranting Rongkop tentang bagaimana mereka memaknai “seni.”

“Kalo menurut konsep sembilan bidang kebudayaan menurut Rama Wisnu atau PPN, seni itu ada di tengah-tengah. Ada pribadi, sosial, ekonomi, dan politik. Ada empat itu, di tengah ada seni. Baru nanti ada ilmu pengetahuan, mistik, ketuhanan, dan yang lain yang sifatnya spiritual. Jadi di sana seni niku ngge pembanding seimbang, jembatan antara lahir dan batin,” jelas Pak Sularto.

Artinya, seni memiliki kedudukan yang penting bagi komunitas PPN di Dusun Tengger. Ia berperan sebagai jembatan yang menghubungkan spiritualitas dengan kehidupan sehari-hari anggota komunitas.

Kemudian, Pak Sularto juga menambahkan, “Sebenarnya seni itu bukan bagian dari ekspresi spiritual. Tapi bagi kami, itu bagian dari cara kita menjiwai, cara olah rasa. Jadi, olah rasa itu juga bisa dilakukan dengan seni tari, karawitan, seni lukis.”

Kalimat itu menyentuh poin yang paling penting di sini. Bagi anggota PPN di Dusun Tengger, kesenian menjadi salah satu jalan yang paling banyak diambil untuk mematangkan kehidupan spiritual mereka. Dengan mempraktikkan seni, para anggota komunitas mengasah kebijaksanaan dan kepekaan batin mereka.

Tembang Macapat mengajarkan pitutur-pitutur luhur yang penting bagi kehidupan mereka. Dengan tembang Macapat, anggota komunitas mendapatkan panduan yang kaya untuk mengasah kebijaksanaan mereka. Selain itu, cara menyanyikan tembang Macapat yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan perhatian sangat membantu dalam mengasah rasa dan kepekaan batin.

Macapat dan Identitas Penghayat

Di dusun Tengger, seni juga berperan dalam menjaga kesinambungan budaya dan komunitas.

Bagi komunitas PPN di Dusun Tengger, kegiatan macapatan yang rutin dilakukan setiap malam Senin menjadi momen dimana para anggota saling memperdalam kebijaksanaan, berbagi pengalaman, dan mempertahankan nilai-nilai.

Tak hanya itu. Di tengah tantangan regenerasi anggota, kegiatan ini menjadi salah satu cara untuk menjaga keberlanjutan identitas mereka sebagai seorang penghayat kepercayaan leluhur. Identitas tidak mereka pertahankan melalui slogan yang muluk-muluk, tapi melalui praktik yang rutin dijalankan dan dihayati.

Sehingga, melalui kunjungan singkat ini, saya sadar bahwa masyarakat penghayat di Dusun Tengger tidaklah pasif ketika menerima benturan-benturan yang ada.

Saya diperlihatkan bagaimana ketangguhan anggota komunitas PPN di Dusun Tengger yang bersikap aktif dalam mengelola perbedaan dan dinamika sosial yang ada.

Ini sekaligus menunjukkan bahwa identitas bukan hanya label semata. Tapi, identitas menjadi bagian dari dinamika sosial-psikologis yang dapat terus dinegosiasikan. [T]

Tags: Dusun TenggerGunung KidulSeniYogyakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

Next Post

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

Laurensia Junita Della

Laurensia Junita Della

Tinggal di Kedawung, Karanganyar, Jawa Tengah. Instagram @laurensia0222 @junii.gadogado

Related Posts

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

by Chusmeru
April 30, 2026
0
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

Read moreDetails

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

by I Nyoman Tingkat
April 19, 2026
0
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa,  guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di...

Read moreDetails

Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
April 14, 2026
0
Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

HARI itu adalah hari yang telah lama saya nantikan. Hari ketika akhirnya saya bisa menyaksikan dunia dari ketinggian 3.145 mdpl,...

Read moreDetails

Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

by Jaswanto
March 29, 2026
0
Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

APA ada Surabaya di Shanghai? Saya kira tidak. Tapi ada Shanghai di Surabaya—meski hanya Shanghai-Shanghaian. Maksudnya, bukan Shanghai betulan. Hanya...

Read moreDetails

Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
0
Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

KABUT tipis masih menggantung saat saya tiba di dataran tinggi Kintamani, Bangli, Bali. Udara dingin menempel di kulit, sementara di...

Read moreDetails

Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

by Ahmad Sihabudin
March 8, 2026
0
Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

DESEMBER 1982, kami baru naik kelas dua SMA. Umur masih belasan, dada penuh angin, kepala penuh peta yang belum tentu...

Read moreDetails

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails

Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

by Kadek Surya Jayadi
February 18, 2026
0
Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

SINAR mentari pagi menyambut dengan hangat, menghiasi perjalanan Keluarga Besar Prodi Sejarah Universitas Udayana menuju Desa Bodhakeling. Bus Universitas Udayana...

Read moreDetails
Next Post
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Monyet Cerdik dan Babi Hutan | Dongeng dari Jepang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk PKB 2026
Panggung

Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk PKB 2026

DESA Mengwi yang dulunya sebagai pusat kerajaan mewarisi berbagai kebudayaan, tradisi dan nilai-nilai luhur yang sangat penting bagi kehidupan bermasyarakat...

by Nyoman Budarsana
May 10, 2026
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca
Esai

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

by Angga Wijaya
May 10, 2026
Empat Perupa Bali Pamerkan ‘Vernal Artistic’ di Santrian Art Gallery: Pemaknaan atas Musim Semi
Pameran

Empat Perupa Bali Pamerkan ‘Vernal Artistic’ di Santrian Art Gallery: Pemaknaan atas Musim Semi

Jauh sebelum para undangan itu hadir, karya seni rupa berbagai ukuran sudah terpasang rapi pada dinding tembok putih. Lampu sorot...

by Nyoman Budarsana
May 10, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

MKN Bukan Tameng Impunitas: Notaris Berintegritas, Penegak Hukum  Taati Prosedur

MAHKAMAH Konstitusi melalui Putusan Nomor 65/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor...

by I Made Pria Dharsana
May 9, 2026
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna
Esai

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
Puting Beliung | Cerpen Supartika
Cerpen

Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

by I Putu Supartika
May 9, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

by Sugi Lanus
May 9, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co