13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

Laurensia Junita Della by Laurensia Junita Della
April 19, 2026
in Tualang
Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul | Foto: Dok. penulis

“Tanpa seni, dunia jadi hambar.”

Saya tidak yakin dari mana saya mendapatkan kata-kata ini, tapi saya setuju.

Sebagai orang yang tak bisa hidup tanpa sentuhan seni, saya ingin membuat hidup ini punya aroma yang nyeni, bahkan dalam tugas kuliah.

Akhir 2025, angin kuliah menerbangkan saya ke Dusun Tengger di Gunung Kidul, karena saya harus menuliskan sesuatu tentang ”pedesaan.”

Dan pas sekali. Di sana, saya menemukan praktik kesenian yang menyatu dengan kehidupan sehari-hari, bahkan dalam kehidupan spiritual masyarakat setempat.

Di Dusun Tengger, seni bukanlah pajangan atau sekedar pertunjukan di panggung. Seni menjadi cara hidup, cermin jiwa, dan cara bertahan. Tak jauh-jauh, seni hadir di pendopo rumah, dan di malam yang penuh rasa kebersamaan.

Gagasan ini mengingatkan saya pada gagasan John Dewey yang melihat seni sebagai bagian dari keseharian manusia. Jadi, seni bukan benda eksklusif yang hanya bisa ditemui di tempat-tempat khusus. Apa yang ada di Dusun Tengger seolah menghidupkan gagasan ini.

Dalam kunjungan singkat saya ke Dusun Tengger, saya melihat bagaimana praktik kesenian setempat, khususnya macapatan, menjadi media penting dalam mengolah spiritualitas, melestarikan warisan, sekaligus mempertahankan identitas sosial warga yang masih menghayati kepercayaan leluhur.

Dusun Tengger dan Komunitas PPN

Dusun Tengger terletak di Kecamatan Rongkop, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta. Letaknya tidak jauh dari Jalur Lintas Selatan (JLS), namun cukup tersembunyi dari lalu lintas jalan besar. Suasananya tenang, asri, dan terasa jauh dari hiruk-pikuk. Keramahan orang-orang di sana juga membuat saya jatuh hati dengan tempat ini.

Foto: Dok. penulis

Di samping itu, Dusun Tengger punya dinamika kepercayaan yang khas. Sebagian warganya masih setia menghayati ajaran leluhur. Mereka terafiliasi dengan komunitas Palang Putih Nusantara (PPN) “Kejawen Urip Sejati” yang berpusat di Yogyakarta. Anggota komunitas ini didominasi para sesepuh dusun yang sebagian besar berusia di atas lima puluh tahun.

Di tengah kuatnya arus budaya, tantangan regenerasi, dan tekanan identitas dari luar, anggota komunitas PPN Ranting Rongkop punya cara tersendiri untuk lebih mendalami serta mempertahankan keyakinan mereka. Mereka mempraktikkan kesenian untuk merawat nilai, ingatan, dan identitas komunitas.

Macapatan di Malam Senin

Setiap malam Senin, anggota komunitas PPN rutin berkumpul di salah satu rumah pendopo untuk menyanyikan tembang macapat. Mereka duduk melingkar, berbincang ringan, sesekali menyeruput teh hangat, lalu bersama-sama menyanyikan tembang macapat dengan penuh penghayatan.

Bagi yang belum familiar, macapat adalah salah satu cabang seni suara Jawa yang menyampaikan wejangan atau pesan-pesan luhur. Tembang Macapat mengandung pesan-pesan kehidupan yang mendalam. Kedalaman itu membuatnya menjadi jembatan spiritual bagi anggota komunitas.

Umumnya, tembang Macapat berisi pesan luhur tentang siklus hidup manusia. Salah satunya adalah tembang Maskumambang. Tembang ini menceritakan keadaan manusia ketika masih di dalam kandungan. Selain itu, tembang ini juga seolah menasihati kita akan sikap-sikap yang dapat diambil ketika berhadapan dengan orang yang lebih tua.

Tembang Maskumambang berpesan bahwa manusia perlu lebih berhati-hati dalam memilih panutan hidup dan mencontoh orang yang lebih tua. Karena usia yang lebih tua tak selalu menjamin kematangan jiwa dan kebijaksanaan. Itulah yang dikatakan Pak Sularto selaku ketua PPN Ranting Rongkop ketika berbincang ringan dengan saya.

Pesan-pesan seperti inilah yang terus dihidupkan melalui kegiatan macapatan.

Kegiatan macapatan biasanya dimulai pukul tujuh malam. Selama mengikuti kegiatan ini, saya merasakan kehangatan dan kebersamaan yang kuat. Keramahan dan keterbukaan semua orang yang hadir sungguh menyelamatkan saya dari perasaan kaku dan canggung selama mengikuti rangkaian kegiatan. Pak Sularto juga banyak membantu saya dalam menafsirkan pesan-pesan dalam tembang yang dinyanyikan.

Seni sebagai Jembatan Lahir dan Batin

Masih banyak yang perlu dibahas dalam tulisan ini. Pertama, mari kita beralih ke perspektif anggota komunitas PPN Ranting Rongkop tentang bagaimana mereka memaknai “seni.”

“Kalo menurut konsep sembilan bidang kebudayaan menurut Rama Wisnu atau PPN, seni itu ada di tengah-tengah. Ada pribadi, sosial, ekonomi, dan politik. Ada empat itu, di tengah ada seni. Baru nanti ada ilmu pengetahuan, mistik, ketuhanan, dan yang lain yang sifatnya spiritual. Jadi di sana seni niku ngge pembanding seimbang, jembatan antara lahir dan batin,” jelas Pak Sularto.

Artinya, seni memiliki kedudukan yang penting bagi komunitas PPN di Dusun Tengger. Ia berperan sebagai jembatan yang menghubungkan spiritualitas dengan kehidupan sehari-hari anggota komunitas.

Kemudian, Pak Sularto juga menambahkan, “Sebenarnya seni itu bukan bagian dari ekspresi spiritual. Tapi bagi kami, itu bagian dari cara kita menjiwai, cara olah rasa. Jadi, olah rasa itu juga bisa dilakukan dengan seni tari, karawitan, seni lukis.”

Kalimat itu menyentuh poin yang paling penting di sini. Bagi anggota PPN di Dusun Tengger, kesenian menjadi salah satu jalan yang paling banyak diambil untuk mematangkan kehidupan spiritual mereka. Dengan mempraktikkan seni, para anggota komunitas mengasah kebijaksanaan dan kepekaan batin mereka.

Tembang Macapat mengajarkan pitutur-pitutur luhur yang penting bagi kehidupan mereka. Dengan tembang Macapat, anggota komunitas mendapatkan panduan yang kaya untuk mengasah kebijaksanaan mereka. Selain itu, cara menyanyikan tembang Macapat yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan perhatian sangat membantu dalam mengasah rasa dan kepekaan batin.

Macapat dan Identitas Penghayat

Di dusun Tengger, seni juga berperan dalam menjaga kesinambungan budaya dan komunitas.

Bagi komunitas PPN di Dusun Tengger, kegiatan macapatan yang rutin dilakukan setiap malam Senin menjadi momen dimana para anggota saling memperdalam kebijaksanaan, berbagi pengalaman, dan mempertahankan nilai-nilai.

Tak hanya itu. Di tengah tantangan regenerasi anggota, kegiatan ini menjadi salah satu cara untuk menjaga keberlanjutan identitas mereka sebagai seorang penghayat kepercayaan leluhur. Identitas tidak mereka pertahankan melalui slogan yang muluk-muluk, tapi melalui praktik yang rutin dijalankan dan dihayati.

Sehingga, melalui kunjungan singkat ini, saya sadar bahwa masyarakat penghayat di Dusun Tengger tidaklah pasif ketika menerima benturan-benturan yang ada.

Saya diperlihatkan bagaimana ketangguhan anggota komunitas PPN di Dusun Tengger yang bersikap aktif dalam mengelola perbedaan dan dinamika sosial yang ada.

Ini sekaligus menunjukkan bahwa identitas bukan hanya label semata. Tapi, identitas menjadi bagian dari dinamika sosial-psikologis yang dapat terus dinegosiasikan. [T]

Tags: Dusun TenggerGunung KidulSeniYogyakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

Next Post

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

Laurensia Junita Della

Laurensia Junita Della

Tinggal di Kedawung, Karanganyar, Jawa Tengah. Instagram @laurensia0222 @junii.gadogado

Related Posts

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

by Wahyu Mahaputra
June 11, 2026
0
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu...

Read moreDetails

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
0
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

Read moreDetails

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails

Kota Tua Tak Pernah Mati

by I Nyoman Tingkat
May 24, 2026
0
Kota Tua Tak Pernah Mati

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se- Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Jumat Paing...

Read moreDetails

Oleh-Oleh dari Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 23, 2026
0
Oleh-Oleh dari Baduy Luar

MENGIKUTI rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan Study Tiru ke Baduy Luar, Provinsi Banten, Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026,...

Read moreDetails

Berguru ke Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 21, 2026
0
Berguru ke Baduy Luar

SETELAH rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan persembahyangan di Pura Aditya Jaya Rawangun Jakarta Timur pada Kamis Umanis Gumbreg, 14...

Read moreDetails
Next Post
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana
Esai

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co