APA yang tebersit ketika kita membayangkan kata grafis dalam kacamata kesenian hari ini? Bagaimana posisinya, atau bahkan eksistensinya, di era ketika hampir segala hal sah untuk disematkan sebagai sebuah karya seni?
Jika ditelusuri lebih jauh dalam alur perkembangannya, pada awalnya grafis lahir dan tumbuh dari kebutuhan fungsional, bukan dari dorongan sebagai karya dengan estetika yang murni. Ia ternyata lebih purba dari yang kita kira, nenek moyang kita secara tak sadar menjadikan konsep grafis sebagai alat untuk menampakan sebuah jejak yang menandai sebuah tempat yang mereka anggap penting.
Seperti yang tercermin pada Gua Leang-Leang di Sulawesi Selatan, lebih 40.000 tahun lalu. Kesenian ini ternyata muncul dari keinginan dasar manusia untuk menyatakan dirinya ada, hadir dan menampak pada bumi yang menjadi tempat mereka berpijak. Cetakan tangan yang saling menyeruak satu sama lain, membuktikan grafis justru telah menjadi bagian menubuh yang lebih dulu eksis sebelum gambar dan lukisan itu diciptakan.

Kita Mengatakan ‘kau Mengenali tangan sang pemilik’… secara figuratif seniman meninggalkan bekas tangannya kepada anak cucunya. Ia mengalihkan sebagian dari dirinya pada benda, membuatnya tampak dan memberinya eksistensi yang terpisah dari dirinya.
— Claire Holt
Namun, apa yang kita sanjung pada awal perkembangan grafis ternyata pernah runtuh pada era dimana seni dan ilmu pengetahuan justru mengalami pencerahan. Era dimana Michelangelo dan kawan-kawan asik memahatkan patung marmer dan mengoleskan cat pada permukaan dinding dan kanvas yang suci. Pada masa itu, grafis menjadi anak tiri yang dianggap tak sesuci lukisan dan patung sebagai seni tinggi.
Kondisi itu semakin menguat ketika modernisme melanda negara-negara Barat, yang sibuk pada pertentangan antara kehadiran satu gaya yang mendrobrak gaya lainnya. Di era itu grafis di cap sebagai pengulangan yang mentah, tak eksklusif dan pantas untuk disebut sebagai seni rendahan. Sifatnya yang bisa direproduksi massal menjadi akar utama dari stigma tersebut, menjadikan grafis begitu terpinggirkan dalam hierarki seni modern.
Hingga kemudian hadir Andy Warhol, seorang tokoh penting pada era 60-an yang merusak dan mengacak-acak konsep seni yang telah menciptakan hierarki di antara seni tinggi dan rendah. Grafis tak lagi meminta maaf karena bisa digandakan. Sebaliknya, justru ia terpampang untuk menghantam mitos konsepsi seni yang pernah berjaya di masanya

Namun nampaknya, walau dengan Warhol yang telah meninggalkan jejak melalui pemikirannya, stigma tersebut sungguh mengakar pada diri kita. Bahkan hingga hari ini, kita agaknya masih tabu untuk menempatkan grafis pada posisi yang setara dan patut disandingkan pada karya seni dengan medium-medium yang telah mapan.
Setidaknya hal tersebut cukup terobati ketika saya melihat praktik grafis pada Kadek Dwi, lewat presentasi tunggalnya di Lano Contemporary Art Gallery, Sabtu 31 Januari lalu.
Konvensionalisme Grafis
Pameran yang bertajuk ‘Stand Alone If You Must, But You Must Stand’ menjadi satu pilihan sepadan, dalam menawarkan angin segar untuk melihat grafis dalam praktiknya yang begitu lentur hari ini.

Kita semua tahu, nampaknya ada sebuah konvensi yang telah melekat dan disepakati bersama untuk melihat grafis pada fungsi yang seyogyanya. Pun praktiknya sangat beragam; baik yang bermain dengan intensitas cahaya, warna yang berbuah dari celah-celah cetak saring, atau pun noda yang tertampak atas tinggi rendahnya ceruk cetakan. Dan Kadek, nampaknya lebih fokus pada praktik cetak dengan menggunakan cukil sebagai teknis utamanya.
Di tangannya, grafis tak lagi mewujud pada cetakan massal untuk menjadi propaganda atas agenda tertentu, Kadek justru hadir dan terlihat bermain-main dengan kelenturan teknik cukil dalam perluasan praktik cetak mencetak. Karyanya hadir sebagai wujud artistik dari individu pribadi yang punya kebebasan dalam berekspresi.
Ketika kita masuk dan melihat luaran karya yang tertampil pada pameran tunggalnya, kita langsung mengerti betapa telatennya seorang Kadek dalam mengeluarkan potensi tak terduga dari cetakan yang saling menghimpit satu sama lain. Ia tak hanya puas dengan praktik konvensional penggrafis yang agaknya alergi dengan hasil cetakan yang tidak pas, atau meleber di sana sini.

Latar belakangnya yang tumbuh tidak dari rahim pendidikan akademis, justru memperlihatkan potensi tersembunyi di balik sesuatu yang dipandang lemah dalam ekosistem seni. Bersama Army sebagai kurator dalam pameran tunggalnya. Ia justru nampak bebas menekuk dan meng-ekspose relief cetakan, yang mungkin dianggap sakral oleh sebagian besar penggrafis.
Seperti dalam karyanya yang berjudul “Anomali Holistik” karya yang menampak seperti kertas yang terlipat, ternyata juga menampilkan proses sebagai bagian penting dalam keutuhan karyanya. Ketika disimak perlahan, ia ternyata membeberkan relief cukil yang terkesan mentah, namun nampak sempurna untuk melengkapi hasil cetakan yang menempel ajeg dalam sebuah papan kayu.
Ia membiarkan ketidaksempurnaan hadir dalam hasil cetakannya. Warna yang berlebih, cetakan yang tertumpuk, fragmen lino yang terpotong-potong, justru menjadikan karyanya nampak jujur dan lugas. Bukan sebuah alibi, tapi bagaimana cara ia untuk dapat meramu berbagai kesalahan teknis yang umum pada praktik grafis yang konvensional.

Juga tak perlu risau, siapa yang peduli jika itu sebuah kesalahan, penikmat justru dibawa untuk meresapi karya seni dan bagaimana proses menjadi bagian penting untuk dihadirkan dalam karya-karya Kadek.
Dalam olahan artistiknya, grafis tak hanya hadir dalam kesakralan dinding kaca yang hanya terpaku dalam bingkai kotak. Di karya lainnya, ia justru mempermainkan bentuk sebagai perpanjangan bahasa visual yang ia eksplorasi. Bukan sebuah pujian, tapi keheranan saya sebagai penikmat untuk melihat keluwesan Kadek dalam memperlakukan grafis sebagai metode artistiknya.
Posisi grafis yang ajeg, perlahan runtuh ketika menikmati berbagai karya yang ia suguhkan, seperti potongan lino yang menjadi limbah malah terpampang solid dalam jalinan karya yang memberikan makna baru pada ia yang sejatinya terbuang. Kain yang melekuk, kolase yang menempel, ataupun guratan relief cukil menjadi satu wahana untuk melihat praktik grafis dari sisi yang lain.

Namun jadi satu catatan penting, bahwa eksperimentasi Kadek tidak selalu terasa aman. Beberapa karyanya berdiri di ambang kegagalan, antara keberanian membuka proses dan risiko jatuh menjadi sekadar efek visual. Namun justru pada titik inilah praktiknya menjadi menarik. Ketidaktepatan cetak, noda berlebih, dan potongan lino yang tersisa tidak ia rapikan demi estetika, melainkan dibiarkan sebagai bukti bahwa grafis bisa menampung keraguan dan ketidakpastian dalam proses penciptaan.
Karya Kadek Dwi menjadi pemantik yang segar bagi seni di era kontemporer ini, ia menunjukan bahwa persoalan teknis tidaklah sebatas alat yang menunjang kehadiran sebuah karya, justru sebaliknya, ia hadir dan eksis sebagai satu bagian utuh yang melengkapi dan menjadikan karya tersebut kaya secara dimensional.
“Dalam konteks seni rupa Bali hari ini, praktik Kadek Dwi menjadi penting bukan karena ia menawarkan kebaruan teknis semata, melainkan karena ia merusak cara lama memandang grafis sebagai medium yang harus rapi, patuh, dan tahu tempatnya. Grafis, lewat praktik ini, tidak lagi meminta legitimasi dari lukisan atau patung, melainkan berdiri sebagai bahasa visual yang sanggup menampung konflik, proses, dan ketidaksempurnaan yang selama ini disingkirkan”.
Panjang Umur Seni Rupa!!!! [T]
Penulis: Made Chandra
Editor: Adnyana Ole



























