23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Grafis yang Melentur: Menerka Praktik Berkesenian Seorang Kadek Dwi

Made Chandra by Made Chandra
February 9, 2026
in Ulas Rupa
Grafis yang Melentur: Menerka Praktik Berkesenian Seorang Kadek Dwi

Menerka Praktik Berkesenian Seorang Kadek Dwi

APA yang tebersit ketika kita membayangkan kata grafis dalam kacamata kesenian hari ini? Bagaimana posisinya, atau bahkan eksistensinya, di era ketika hampir segala hal sah untuk disematkan sebagai sebuah karya seni?

Jika ditelusuri lebih jauh dalam alur perkembangannya, pada awalnya grafis lahir dan tumbuh dari kebutuhan fungsional, bukan dari dorongan sebagai karya dengan estetika yang murni. Ia ternyata lebih purba dari yang kita kira, nenek moyang kita secara tak sadar menjadikan konsep grafis sebagai alat untuk menampakan sebuah jejak yang menandai sebuah tempat yang mereka anggap penting.

Seperti yang tercermin pada Gua Leang-Leang di Sulawesi Selatan, lebih 40.000 tahun lalu. Kesenian ini ternyata muncul dari keinginan dasar manusia untuk menyatakan dirinya ada, hadir dan menampak pada bumi yang menjadi tempat mereka berpijak. Cetakan tangan yang saling menyeruak satu sama lain, membuktikan grafis justru telah menjadi bagian menubuh yang lebih dulu eksis sebelum gambar dan lukisan itu diciptakan.

Goa Leang-Leang | Sumber: The world travel guy

Kita Mengatakan ‘kau Mengenali tangan sang pemilik’… secara figuratif seniman meninggalkan bekas tangannya kepada anak cucunya. Ia mengalihkan sebagian dari dirinya pada benda, membuatnya tampak dan memberinya eksistensi yang terpisah dari dirinya.

— Claire Holt

Namun, apa yang kita sanjung pada awal perkembangan grafis ternyata pernah runtuh pada era dimana seni dan ilmu pengetahuan justru mengalami pencerahan. Era dimana Michelangelo dan kawan-kawan asik memahatkan patung marmer dan mengoleskan cat pada permukaan dinding dan kanvas yang suci. Pada masa itu, grafis menjadi anak tiri yang dianggap tak sesuci lukisan dan patung sebagai seni tinggi.

Kondisi itu semakin menguat ketika modernisme melanda negara-negara Barat, yang sibuk pada pertentangan antara kehadiran satu gaya yang mendrobrak gaya lainnya. Di era itu grafis di cap sebagai pengulangan yang mentah, tak eksklusif dan pantas untuk disebut sebagai seni rendahan. Sifatnya yang bisa direproduksi massal menjadi akar utama dari stigma tersebut, menjadikan grafis begitu terpinggirkan dalam hierarki seni modern.

Hingga kemudian hadir Andy Warhol, seorang tokoh penting pada era 60-an yang merusak dan mengacak-acak konsep seni yang telah menciptakan hierarki di antara seni tinggi dan rendah. Grafis tak lagi meminta maaf karena bisa digandakan. Sebaliknya, justru ia terpampang untuk menghantam mitos konsepsi seni yang pernah berjaya di masanya

Andy Warhol, Marilyn Monroe (Marilyn) 1967 | Sumber: Masterworks Fine Art Gallery

Namun nampaknya, walau dengan Warhol yang telah meninggalkan jejak melalui pemikirannya, stigma tersebut sungguh mengakar pada diri kita. Bahkan hingga hari ini, kita agaknya masih tabu untuk menempatkan grafis pada posisi yang setara dan patut disandingkan pada karya seni dengan medium-medium yang telah mapan.

Setidaknya hal tersebut cukup terobati ketika saya melihat praktik grafis pada Kadek Dwi, lewat presentasi tunggalnya di Lano Contemporary Art Gallery, Sabtu 31 Januari lalu.

Konvensionalisme Grafis

Pameran yang bertajuk ‘Stand Alone If You Must, But You Must Stand’ menjadi satu pilihan sepadan, dalam menawarkan angin segar untuk melihat grafis dalam praktiknya yang begitu lentur hari ini.

Kita semua tahu, nampaknya ada sebuah konvensi yang telah melekat dan disepakati bersama untuk melihat grafis pada fungsi yang seyogyanya. Pun praktiknya sangat beragam; baik yang bermain dengan intensitas cahaya, warna yang berbuah dari celah-celah cetak saring, atau pun noda yang tertampak atas tinggi rendahnya ceruk cetakan. Dan Kadek, nampaknya lebih fokus pada praktik cetak dengan menggunakan cukil sebagai  teknis utamanya.

Di tangannya, grafis tak lagi mewujud pada cetakan massal untuk menjadi propaganda atas agenda tertentu, Kadek justru hadir dan terlihat bermain-main dengan kelenturan teknik cukil dalam perluasan praktik cetak mencetak. Karyanya hadir sebagai wujud artistik dari individu pribadi yang punya kebebasan dalam berekspresi.

Ketika kita masuk dan melihat luaran karya yang tertampil pada pameran tunggalnya, kita langsung mengerti betapa telatennya seorang Kadek dalam mengeluarkan potensi tak terduga dari cetakan yang saling menghimpit satu sama lain. Ia tak hanya puas dengan praktik konvensional penggrafis yang agaknya alergi dengan hasil cetakan yang tidak pas, atau meleber di sana sini.

Latar belakangnya yang tumbuh tidak dari rahim pendidikan akademis, justru memperlihatkan potensi tersembunyi di balik sesuatu yang dipandang lemah dalam ekosistem seni. Bersama Army sebagai kurator dalam pameran tunggalnya. Ia justru nampak bebas menekuk dan meng-ekspose relief cetakan, yang mungkin dianggap sakral oleh sebagian besar penggrafis.

Seperti dalam karyanya yang berjudul “Anomali Holistik” karya yang menampak seperti kertas yang terlipat, ternyata juga menampilkan proses sebagai bagian penting dalam keutuhan karyanya. Ketika disimak perlahan, ia ternyata membeberkan relief cukil yang terkesan mentah, namun nampak sempurna untuk melengkapi hasil cetakan yang menempel ajeg dalam sebuah papan kayu.

Ia membiarkan ketidaksempurnaan hadir dalam hasil cetakannya. Warna yang berlebih, cetakan yang tertumpuk, fragmen lino yang terpotong-potong, justru menjadikan karyanya nampak jujur dan lugas. Bukan sebuah alibi, tapi bagaimana cara ia untuk dapat meramu berbagai kesalahan teknis yang umum pada praktik grafis yang konvensional.

Juga tak perlu risau, siapa yang peduli jika itu sebuah kesalahan, penikmat justru dibawa untuk meresapi karya seni dan bagaimana proses menjadi bagian penting untuk dihadirkan dalam karya-karya Kadek.

Dalam olahan artistiknya, grafis tak hanya hadir dalam kesakralan dinding kaca yang hanya terpaku dalam bingkai kotak. Di karya lainnya, ia justru mempermainkan bentuk sebagai perpanjangan bahasa visual yang ia eksplorasi. Bukan sebuah pujian, tapi keheranan saya sebagai penikmat untuk melihat keluwesan Kadek dalam memperlakukan grafis sebagai metode artistiknya.

Posisi grafis yang ajeg, perlahan runtuh ketika menikmati berbagai karya yang ia suguhkan, seperti potongan lino yang menjadi limbah malah terpampang solid dalam jalinan karya yang memberikan makna baru pada ia yang sejatinya terbuang. Kain yang melekuk, kolase yang menempel, ataupun guratan relief cukil menjadi satu wahana untuk  melihat praktik grafis dari sisi yang lain.

Namun jadi satu catatan penting, bahwa eksperimentasi Kadek tidak selalu terasa aman. Beberapa karyanya berdiri di ambang kegagalan, antara keberanian membuka proses dan risiko jatuh menjadi sekadar efek visual. Namun justru pada titik inilah praktiknya menjadi menarik. Ketidaktepatan cetak, noda berlebih, dan potongan lino yang tersisa tidak ia rapikan demi estetika, melainkan dibiarkan sebagai bukti bahwa grafis bisa menampung keraguan dan ketidakpastian dalam proses penciptaan.

Karya Kadek Dwi menjadi pemantik yang segar bagi seni di era kontemporer ini, ia menunjukan bahwa persoalan teknis tidaklah sebatas alat yang menunjang kehadiran sebuah karya, justru sebaliknya, ia hadir dan eksis sebagai satu bagian utuh yang melengkapi dan menjadikan karya tersebut kaya secara dimensional.

“Dalam konteks seni rupa Bali hari ini, praktik Kadek Dwi menjadi penting bukan karena ia menawarkan kebaruan teknis semata, melainkan karena ia merusak cara lama memandang grafis sebagai medium yang harus rapi, patuh, dan tahu tempatnya. Grafis, lewat praktik ini, tidak lagi meminta legitimasi dari lukisan atau patung, melainkan berdiri sebagai bahasa visual yang sanggup menampung konflik, proses, dan ketidaksempurnaan yang selama ini disingkirkan”.

Panjang Umur Seni Rupa!!!! [T]

Penulis: Made Chandra
Editor: Adnyana Ole

Tags: Pameran Seni RupaSeni Rupaseni rupa Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

Next Post

‘Mlancaran Ka Sasak’, dari Novel ke Drama Bali Modern — Sanggar Nong Nong Kling Bersiap ‘Masolah’ di Bulan Bahasa Bali 2026

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

by Mahesa Putra
June 18, 2026
0
Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

SEJAK pagi langit mendung, angin membuat barisan pohon kelapa di halaman Roemah Tumbuh Kembang menari. Padahal sudah satu minggu ini...

Read moreDetails

Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

by Oka Rusmini
June 15, 2026
0
Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

SEBUAH pertanyaan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik kalimat pendek, “What’s for Dinner?” atau “Mau makan malam apa?”,...

Read moreDetails

Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

by Mas Ruscitadewi
June 13, 2026
0
Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar....

Read moreDetails

Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

by Made Chandra
June 8, 2026
0
Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

DERAP langkah beranjak naik, kain tirai perlahan mulai disingkapkan, lalu dengan segera bunyi-bunyian kendang, tembang dan segala perangkat kesenian jaranan,...

Read moreDetails

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

by Made Chandra
June 2, 2026
0
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

Read moreDetails

Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

by I Gede Made Surya Darma
May 7, 2026
0
Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

DI tengah geliat seni rupa kontemporer yang semakin cair dan lintas disiplin, pameran “Roots & Routes” yang berlangsung di Biji...

Read moreDetails

Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

by Made Chandra
May 4, 2026
0
Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

Artikel ini adalah catatan kuratorial pameran seni rupa “Refracted” pada 2 Mei 2026 di Ruang Arta Derau, Tegallalang. Tak pernah...

Read moreDetails

Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

by Made Chandra
April 14, 2026
0
Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

HARI itu rasanya begitu spesial, hari dimana buku-buku tersusun bertumpuk untuk dirayakan kehadirannya. Semerebak wangi dupa menyeruak sampai menyentil dalam-dalam...

Read moreDetails

Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan? —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

by I Wayan Sujana Suklu
March 27, 2026
0
Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan?  —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

Membaca Aurora Blue dan Red Blossom karya Wayan Kun Adnyana, pameran Parama Paraga Retrospective of Biographical Metaphoric Figure to New...

Read moreDetails

SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

by I Wayan Sujana Suklu
March 24, 2026
0
SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

Liminalitas sebagai Ambang Kosmologis LIMINALITAS, dalam pengertian paling mendasar, bukan sekadar fase peralihan, melainkan kondisi ontologis di mana batas-batas eksistensi...

Read moreDetails
Next Post
‘Mlancaran Ka Sasak’, dari Novel ke Drama Bali Modern — Sanggar Nong Nong Kling Bersiap ‘Masolah’ di Bulan Bahasa Bali 2026

'Mlancaran Ka Sasak', dari Novel ke Drama Bali Modern --- Sanggar Nong Nong Kling Bersiap 'Masolah' di Bulan Bahasa Bali 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co