25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Grafis yang Melentur: Menerka Praktik Berkesenian Seorang Kadek Dwi

Made Chandra by Made Chandra
February 9, 2026
in Ulas Rupa
Grafis yang Melentur: Menerka Praktik Berkesenian Seorang Kadek Dwi

Menerka Praktik Berkesenian Seorang Kadek Dwi

APA yang tebersit ketika kita membayangkan kata grafis dalam kacamata kesenian hari ini? Bagaimana posisinya, atau bahkan eksistensinya, di era ketika hampir segala hal sah untuk disematkan sebagai sebuah karya seni?

Jika ditelusuri lebih jauh dalam alur perkembangannya, pada awalnya grafis lahir dan tumbuh dari kebutuhan fungsional, bukan dari dorongan sebagai karya dengan estetika yang murni. Ia ternyata lebih purba dari yang kita kira, nenek moyang kita secara tak sadar menjadikan konsep grafis sebagai alat untuk menampakan sebuah jejak yang menandai sebuah tempat yang mereka anggap penting.

Seperti yang tercermin pada Gua Leang-Leang di Sulawesi Selatan, lebih 40.000 tahun lalu. Kesenian ini ternyata muncul dari keinginan dasar manusia untuk menyatakan dirinya ada, hadir dan menampak pada bumi yang menjadi tempat mereka berpijak. Cetakan tangan yang saling menyeruak satu sama lain, membuktikan grafis justru telah menjadi bagian menubuh yang lebih dulu eksis sebelum gambar dan lukisan itu diciptakan.

Goa Leang-Leang | Sumber: The world travel guy

Kita Mengatakan ‘kau Mengenali tangan sang pemilik’… secara figuratif seniman meninggalkan bekas tangannya kepada anak cucunya. Ia mengalihkan sebagian dari dirinya pada benda, membuatnya tampak dan memberinya eksistensi yang terpisah dari dirinya.

— Claire Holt

Namun, apa yang kita sanjung pada awal perkembangan grafis ternyata pernah runtuh pada era dimana seni dan ilmu pengetahuan justru mengalami pencerahan. Era dimana Michelangelo dan kawan-kawan asik memahatkan patung marmer dan mengoleskan cat pada permukaan dinding dan kanvas yang suci. Pada masa itu, grafis menjadi anak tiri yang dianggap tak sesuci lukisan dan patung sebagai seni tinggi.

Kondisi itu semakin menguat ketika modernisme melanda negara-negara Barat, yang sibuk pada pertentangan antara kehadiran satu gaya yang mendrobrak gaya lainnya. Di era itu grafis di cap sebagai pengulangan yang mentah, tak eksklusif dan pantas untuk disebut sebagai seni rendahan. Sifatnya yang bisa direproduksi massal menjadi akar utama dari stigma tersebut, menjadikan grafis begitu terpinggirkan dalam hierarki seni modern.

Hingga kemudian hadir Andy Warhol, seorang tokoh penting pada era 60-an yang merusak dan mengacak-acak konsep seni yang telah menciptakan hierarki di antara seni tinggi dan rendah. Grafis tak lagi meminta maaf karena bisa digandakan. Sebaliknya, justru ia terpampang untuk menghantam mitos konsepsi seni yang pernah berjaya di masanya

Andy Warhol, Marilyn Monroe (Marilyn) 1967 | Sumber: Masterworks Fine Art Gallery

Namun nampaknya, walau dengan Warhol yang telah meninggalkan jejak melalui pemikirannya, stigma tersebut sungguh mengakar pada diri kita. Bahkan hingga hari ini, kita agaknya masih tabu untuk menempatkan grafis pada posisi yang setara dan patut disandingkan pada karya seni dengan medium-medium yang telah mapan.

Setidaknya hal tersebut cukup terobati ketika saya melihat praktik grafis pada Kadek Dwi, lewat presentasi tunggalnya di Lano Contemporary Art Gallery, Sabtu 31 Januari lalu.

Konvensionalisme Grafis

Pameran yang bertajuk ‘Stand Alone If You Must, But You Must Stand’ menjadi satu pilihan sepadan, dalam menawarkan angin segar untuk melihat grafis dalam praktiknya yang begitu lentur hari ini.

Kita semua tahu, nampaknya ada sebuah konvensi yang telah melekat dan disepakati bersama untuk melihat grafis pada fungsi yang seyogyanya. Pun praktiknya sangat beragam; baik yang bermain dengan intensitas cahaya, warna yang berbuah dari celah-celah cetak saring, atau pun noda yang tertampak atas tinggi rendahnya ceruk cetakan. Dan Kadek, nampaknya lebih fokus pada praktik cetak dengan menggunakan cukil sebagai  teknis utamanya.

Di tangannya, grafis tak lagi mewujud pada cetakan massal untuk menjadi propaganda atas agenda tertentu, Kadek justru hadir dan terlihat bermain-main dengan kelenturan teknik cukil dalam perluasan praktik cetak mencetak. Karyanya hadir sebagai wujud artistik dari individu pribadi yang punya kebebasan dalam berekspresi.

Ketika kita masuk dan melihat luaran karya yang tertampil pada pameran tunggalnya, kita langsung mengerti betapa telatennya seorang Kadek dalam mengeluarkan potensi tak terduga dari cetakan yang saling menghimpit satu sama lain. Ia tak hanya puas dengan praktik konvensional penggrafis yang agaknya alergi dengan hasil cetakan yang tidak pas, atau meleber di sana sini.

Latar belakangnya yang tumbuh tidak dari rahim pendidikan akademis, justru memperlihatkan potensi tersembunyi di balik sesuatu yang dipandang lemah dalam ekosistem seni. Bersama Army sebagai kurator dalam pameran tunggalnya. Ia justru nampak bebas menekuk dan meng-ekspose relief cetakan, yang mungkin dianggap sakral oleh sebagian besar penggrafis.

Seperti dalam karyanya yang berjudul “Anomali Holistik” karya yang menampak seperti kertas yang terlipat, ternyata juga menampilkan proses sebagai bagian penting dalam keutuhan karyanya. Ketika disimak perlahan, ia ternyata membeberkan relief cukil yang terkesan mentah, namun nampak sempurna untuk melengkapi hasil cetakan yang menempel ajeg dalam sebuah papan kayu.

Ia membiarkan ketidaksempurnaan hadir dalam hasil cetakannya. Warna yang berlebih, cetakan yang tertumpuk, fragmen lino yang terpotong-potong, justru menjadikan karyanya nampak jujur dan lugas. Bukan sebuah alibi, tapi bagaimana cara ia untuk dapat meramu berbagai kesalahan teknis yang umum pada praktik grafis yang konvensional.

Juga tak perlu risau, siapa yang peduli jika itu sebuah kesalahan, penikmat justru dibawa untuk meresapi karya seni dan bagaimana proses menjadi bagian penting untuk dihadirkan dalam karya-karya Kadek.

Dalam olahan artistiknya, grafis tak hanya hadir dalam kesakralan dinding kaca yang hanya terpaku dalam bingkai kotak. Di karya lainnya, ia justru mempermainkan bentuk sebagai perpanjangan bahasa visual yang ia eksplorasi. Bukan sebuah pujian, tapi keheranan saya sebagai penikmat untuk melihat keluwesan Kadek dalam memperlakukan grafis sebagai metode artistiknya.

Posisi grafis yang ajeg, perlahan runtuh ketika menikmati berbagai karya yang ia suguhkan, seperti potongan lino yang menjadi limbah malah terpampang solid dalam jalinan karya yang memberikan makna baru pada ia yang sejatinya terbuang. Kain yang melekuk, kolase yang menempel, ataupun guratan relief cukil menjadi satu wahana untuk  melihat praktik grafis dari sisi yang lain.

Namun jadi satu catatan penting, bahwa eksperimentasi Kadek tidak selalu terasa aman. Beberapa karyanya berdiri di ambang kegagalan, antara keberanian membuka proses dan risiko jatuh menjadi sekadar efek visual. Namun justru pada titik inilah praktiknya menjadi menarik. Ketidaktepatan cetak, noda berlebih, dan potongan lino yang tersisa tidak ia rapikan demi estetika, melainkan dibiarkan sebagai bukti bahwa grafis bisa menampung keraguan dan ketidakpastian dalam proses penciptaan.

Karya Kadek Dwi menjadi pemantik yang segar bagi seni di era kontemporer ini, ia menunjukan bahwa persoalan teknis tidaklah sebatas alat yang menunjang kehadiran sebuah karya, justru sebaliknya, ia hadir dan eksis sebagai satu bagian utuh yang melengkapi dan menjadikan karya tersebut kaya secara dimensional.

“Dalam konteks seni rupa Bali hari ini, praktik Kadek Dwi menjadi penting bukan karena ia menawarkan kebaruan teknis semata, melainkan karena ia merusak cara lama memandang grafis sebagai medium yang harus rapi, patuh, dan tahu tempatnya. Grafis, lewat praktik ini, tidak lagi meminta legitimasi dari lukisan atau patung, melainkan berdiri sebagai bahasa visual yang sanggup menampung konflik, proses, dan ketidaksempurnaan yang selama ini disingkirkan”.

Panjang Umur Seni Rupa!!!! [T]

Penulis: Made Chandra
Editor: Adnyana Ole

Tags: Pameran Seni RupaSeni Rupaseni rupa Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

Next Post

‘Mlancaran Ka Sasak’, dari Novel ke Drama Bali Modern — Sanggar Nong Nong Kling Bersiap ‘Masolah’ di Bulan Bahasa Bali 2026

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

by Emi Suy
October 19, 2026
0
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

Read moreDetails

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
0
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

Read moreDetails

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails
Next Post
‘Mlancaran Ka Sasak’, dari Novel ke Drama Bali Modern — Sanggar Nong Nong Kling Bersiap ‘Masolah’ di Bulan Bahasa Bali 2026

'Mlancaran Ka Sasak', dari Novel ke Drama Bali Modern --- Sanggar Nong Nong Kling Bersiap 'Masolah' di Bulan Bahasa Bali 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co