2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Grafis yang Melentur: Menerka Praktik Berkesenian Seorang Kadek Dwi

Made Chandra by Made Chandra
February 9, 2026
in Ulas Rupa
Grafis yang Melentur: Menerka Praktik Berkesenian Seorang Kadek Dwi

Menerka Praktik Berkesenian Seorang Kadek Dwi

APA yang tebersit ketika kita membayangkan kata grafis dalam kacamata kesenian hari ini? Bagaimana posisinya, atau bahkan eksistensinya, di era ketika hampir segala hal sah untuk disematkan sebagai sebuah karya seni?

Jika ditelusuri lebih jauh dalam alur perkembangannya, pada awalnya grafis lahir dan tumbuh dari kebutuhan fungsional, bukan dari dorongan sebagai karya dengan estetika yang murni. Ia ternyata lebih purba dari yang kita kira, nenek moyang kita secara tak sadar menjadikan konsep grafis sebagai alat untuk menampakan sebuah jejak yang menandai sebuah tempat yang mereka anggap penting.

Seperti yang tercermin pada Gua Leang-Leang di Sulawesi Selatan, lebih 40.000 tahun lalu. Kesenian ini ternyata muncul dari keinginan dasar manusia untuk menyatakan dirinya ada, hadir dan menampak pada bumi yang menjadi tempat mereka berpijak. Cetakan tangan yang saling menyeruak satu sama lain, membuktikan grafis justru telah menjadi bagian menubuh yang lebih dulu eksis sebelum gambar dan lukisan itu diciptakan.

Goa Leang-Leang | Sumber: The world travel guy

Kita Mengatakan ‘kau Mengenali tangan sang pemilik’… secara figuratif seniman meninggalkan bekas tangannya kepada anak cucunya. Ia mengalihkan sebagian dari dirinya pada benda, membuatnya tampak dan memberinya eksistensi yang terpisah dari dirinya.

— Claire Holt

Namun, apa yang kita sanjung pada awal perkembangan grafis ternyata pernah runtuh pada era dimana seni dan ilmu pengetahuan justru mengalami pencerahan. Era dimana Michelangelo dan kawan-kawan asik memahatkan patung marmer dan mengoleskan cat pada permukaan dinding dan kanvas yang suci. Pada masa itu, grafis menjadi anak tiri yang dianggap tak sesuci lukisan dan patung sebagai seni tinggi.

Kondisi itu semakin menguat ketika modernisme melanda negara-negara Barat, yang sibuk pada pertentangan antara kehadiran satu gaya yang mendrobrak gaya lainnya. Di era itu grafis di cap sebagai pengulangan yang mentah, tak eksklusif dan pantas untuk disebut sebagai seni rendahan. Sifatnya yang bisa direproduksi massal menjadi akar utama dari stigma tersebut, menjadikan grafis begitu terpinggirkan dalam hierarki seni modern.

Hingga kemudian hadir Andy Warhol, seorang tokoh penting pada era 60-an yang merusak dan mengacak-acak konsep seni yang telah menciptakan hierarki di antara seni tinggi dan rendah. Grafis tak lagi meminta maaf karena bisa digandakan. Sebaliknya, justru ia terpampang untuk menghantam mitos konsepsi seni yang pernah berjaya di masanya

Andy Warhol, Marilyn Monroe (Marilyn) 1967 | Sumber: Masterworks Fine Art Gallery

Namun nampaknya, walau dengan Warhol yang telah meninggalkan jejak melalui pemikirannya, stigma tersebut sungguh mengakar pada diri kita. Bahkan hingga hari ini, kita agaknya masih tabu untuk menempatkan grafis pada posisi yang setara dan patut disandingkan pada karya seni dengan medium-medium yang telah mapan.

Setidaknya hal tersebut cukup terobati ketika saya melihat praktik grafis pada Kadek Dwi, lewat presentasi tunggalnya di Lano Contemporary Art Gallery, Sabtu 31 Januari lalu.

Konvensionalisme Grafis

Pameran yang bertajuk ‘Stand Alone If You Must, But You Must Stand’ menjadi satu pilihan sepadan, dalam menawarkan angin segar untuk melihat grafis dalam praktiknya yang begitu lentur hari ini.

Kita semua tahu, nampaknya ada sebuah konvensi yang telah melekat dan disepakati bersama untuk melihat grafis pada fungsi yang seyogyanya. Pun praktiknya sangat beragam; baik yang bermain dengan intensitas cahaya, warna yang berbuah dari celah-celah cetak saring, atau pun noda yang tertampak atas tinggi rendahnya ceruk cetakan. Dan Kadek, nampaknya lebih fokus pada praktik cetak dengan menggunakan cukil sebagai  teknis utamanya.

Di tangannya, grafis tak lagi mewujud pada cetakan massal untuk menjadi propaganda atas agenda tertentu, Kadek justru hadir dan terlihat bermain-main dengan kelenturan teknik cukil dalam perluasan praktik cetak mencetak. Karyanya hadir sebagai wujud artistik dari individu pribadi yang punya kebebasan dalam berekspresi.

Ketika kita masuk dan melihat luaran karya yang tertampil pada pameran tunggalnya, kita langsung mengerti betapa telatennya seorang Kadek dalam mengeluarkan potensi tak terduga dari cetakan yang saling menghimpit satu sama lain. Ia tak hanya puas dengan praktik konvensional penggrafis yang agaknya alergi dengan hasil cetakan yang tidak pas, atau meleber di sana sini.

Latar belakangnya yang tumbuh tidak dari rahim pendidikan akademis, justru memperlihatkan potensi tersembunyi di balik sesuatu yang dipandang lemah dalam ekosistem seni. Bersama Army sebagai kurator dalam pameran tunggalnya. Ia justru nampak bebas menekuk dan meng-ekspose relief cetakan, yang mungkin dianggap sakral oleh sebagian besar penggrafis.

Seperti dalam karyanya yang berjudul “Anomali Holistik” karya yang menampak seperti kertas yang terlipat, ternyata juga menampilkan proses sebagai bagian penting dalam keutuhan karyanya. Ketika disimak perlahan, ia ternyata membeberkan relief cukil yang terkesan mentah, namun nampak sempurna untuk melengkapi hasil cetakan yang menempel ajeg dalam sebuah papan kayu.

Ia membiarkan ketidaksempurnaan hadir dalam hasil cetakannya. Warna yang berlebih, cetakan yang tertumpuk, fragmen lino yang terpotong-potong, justru menjadikan karyanya nampak jujur dan lugas. Bukan sebuah alibi, tapi bagaimana cara ia untuk dapat meramu berbagai kesalahan teknis yang umum pada praktik grafis yang konvensional.

Juga tak perlu risau, siapa yang peduli jika itu sebuah kesalahan, penikmat justru dibawa untuk meresapi karya seni dan bagaimana proses menjadi bagian penting untuk dihadirkan dalam karya-karya Kadek.

Dalam olahan artistiknya, grafis tak hanya hadir dalam kesakralan dinding kaca yang hanya terpaku dalam bingkai kotak. Di karya lainnya, ia justru mempermainkan bentuk sebagai perpanjangan bahasa visual yang ia eksplorasi. Bukan sebuah pujian, tapi keheranan saya sebagai penikmat untuk melihat keluwesan Kadek dalam memperlakukan grafis sebagai metode artistiknya.

Posisi grafis yang ajeg, perlahan runtuh ketika menikmati berbagai karya yang ia suguhkan, seperti potongan lino yang menjadi limbah malah terpampang solid dalam jalinan karya yang memberikan makna baru pada ia yang sejatinya terbuang. Kain yang melekuk, kolase yang menempel, ataupun guratan relief cukil menjadi satu wahana untuk  melihat praktik grafis dari sisi yang lain.

Namun jadi satu catatan penting, bahwa eksperimentasi Kadek tidak selalu terasa aman. Beberapa karyanya berdiri di ambang kegagalan, antara keberanian membuka proses dan risiko jatuh menjadi sekadar efek visual. Namun justru pada titik inilah praktiknya menjadi menarik. Ketidaktepatan cetak, noda berlebih, dan potongan lino yang tersisa tidak ia rapikan demi estetika, melainkan dibiarkan sebagai bukti bahwa grafis bisa menampung keraguan dan ketidakpastian dalam proses penciptaan.

Karya Kadek Dwi menjadi pemantik yang segar bagi seni di era kontemporer ini, ia menunjukan bahwa persoalan teknis tidaklah sebatas alat yang menunjang kehadiran sebuah karya, justru sebaliknya, ia hadir dan eksis sebagai satu bagian utuh yang melengkapi dan menjadikan karya tersebut kaya secara dimensional.

“Dalam konteks seni rupa Bali hari ini, praktik Kadek Dwi menjadi penting bukan karena ia menawarkan kebaruan teknis semata, melainkan karena ia merusak cara lama memandang grafis sebagai medium yang harus rapi, patuh, dan tahu tempatnya. Grafis, lewat praktik ini, tidak lagi meminta legitimasi dari lukisan atau patung, melainkan berdiri sebagai bahasa visual yang sanggup menampung konflik, proses, dan ketidaksempurnaan yang selama ini disingkirkan”.

Panjang Umur Seni Rupa!!!! [T]

Penulis: Made Chandra
Editor: Adnyana Ole

Tags: Pameran Seni RupaSeni Rupaseni rupa Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

Next Post

‘Mlancaran Ka Sasak’, dari Novel ke Drama Bali Modern — Sanggar Nong Nong Kling Bersiap ‘Masolah’ di Bulan Bahasa Bali 2026

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails
Next Post
‘Mlancaran Ka Sasak’, dari Novel ke Drama Bali Modern — Sanggar Nong Nong Kling Bersiap ‘Masolah’ di Bulan Bahasa Bali 2026

'Mlancaran Ka Sasak', dari Novel ke Drama Bali Modern --- Sanggar Nong Nong Kling Bersiap 'Masolah' di Bulan Bahasa Bali 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co