23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Grafis yang Melentur: Menerka Praktik Berkesenian Seorang Kadek Dwi

Made Chandra by Made Chandra
February 9, 2026
in Ulas Rupa
Grafis yang Melentur: Menerka Praktik Berkesenian Seorang Kadek Dwi

Menerka Praktik Berkesenian Seorang Kadek Dwi

APA yang tebersit ketika kita membayangkan kata grafis dalam kacamata kesenian hari ini? Bagaimana posisinya, atau bahkan eksistensinya, di era ketika hampir segala hal sah untuk disematkan sebagai sebuah karya seni?

Jika ditelusuri lebih jauh dalam alur perkembangannya, pada awalnya grafis lahir dan tumbuh dari kebutuhan fungsional, bukan dari dorongan sebagai karya dengan estetika yang murni. Ia ternyata lebih purba dari yang kita kira, nenek moyang kita secara tak sadar menjadikan konsep grafis sebagai alat untuk menampakan sebuah jejak yang menandai sebuah tempat yang mereka anggap penting.

Seperti yang tercermin pada Gua Leang-Leang di Sulawesi Selatan, lebih 40.000 tahun lalu. Kesenian ini ternyata muncul dari keinginan dasar manusia untuk menyatakan dirinya ada, hadir dan menampak pada bumi yang menjadi tempat mereka berpijak. Cetakan tangan yang saling menyeruak satu sama lain, membuktikan grafis justru telah menjadi bagian menubuh yang lebih dulu eksis sebelum gambar dan lukisan itu diciptakan.

Goa Leang-Leang | Sumber: The world travel guy

Kita Mengatakan ‘kau Mengenali tangan sang pemilik’… secara figuratif seniman meninggalkan bekas tangannya kepada anak cucunya. Ia mengalihkan sebagian dari dirinya pada benda, membuatnya tampak dan memberinya eksistensi yang terpisah dari dirinya.

— Claire Holt

Namun, apa yang kita sanjung pada awal perkembangan grafis ternyata pernah runtuh pada era dimana seni dan ilmu pengetahuan justru mengalami pencerahan. Era dimana Michelangelo dan kawan-kawan asik memahatkan patung marmer dan mengoleskan cat pada permukaan dinding dan kanvas yang suci. Pada masa itu, grafis menjadi anak tiri yang dianggap tak sesuci lukisan dan patung sebagai seni tinggi.

Kondisi itu semakin menguat ketika modernisme melanda negara-negara Barat, yang sibuk pada pertentangan antara kehadiran satu gaya yang mendrobrak gaya lainnya. Di era itu grafis di cap sebagai pengulangan yang mentah, tak eksklusif dan pantas untuk disebut sebagai seni rendahan. Sifatnya yang bisa direproduksi massal menjadi akar utama dari stigma tersebut, menjadikan grafis begitu terpinggirkan dalam hierarki seni modern.

Hingga kemudian hadir Andy Warhol, seorang tokoh penting pada era 60-an yang merusak dan mengacak-acak konsep seni yang telah menciptakan hierarki di antara seni tinggi dan rendah. Grafis tak lagi meminta maaf karena bisa digandakan. Sebaliknya, justru ia terpampang untuk menghantam mitos konsepsi seni yang pernah berjaya di masanya

Andy Warhol, Marilyn Monroe (Marilyn) 1967 | Sumber: Masterworks Fine Art Gallery

Namun nampaknya, walau dengan Warhol yang telah meninggalkan jejak melalui pemikirannya, stigma tersebut sungguh mengakar pada diri kita. Bahkan hingga hari ini, kita agaknya masih tabu untuk menempatkan grafis pada posisi yang setara dan patut disandingkan pada karya seni dengan medium-medium yang telah mapan.

Setidaknya hal tersebut cukup terobati ketika saya melihat praktik grafis pada Kadek Dwi, lewat presentasi tunggalnya di Lano Contemporary Art Gallery, Sabtu 31 Januari lalu.

Konvensionalisme Grafis

Pameran yang bertajuk ‘Stand Alone If You Must, But You Must Stand’ menjadi satu pilihan sepadan, dalam menawarkan angin segar untuk melihat grafis dalam praktiknya yang begitu lentur hari ini.

Kita semua tahu, nampaknya ada sebuah konvensi yang telah melekat dan disepakati bersama untuk melihat grafis pada fungsi yang seyogyanya. Pun praktiknya sangat beragam; baik yang bermain dengan intensitas cahaya, warna yang berbuah dari celah-celah cetak saring, atau pun noda yang tertampak atas tinggi rendahnya ceruk cetakan. Dan Kadek, nampaknya lebih fokus pada praktik cetak dengan menggunakan cukil sebagai  teknis utamanya.

Di tangannya, grafis tak lagi mewujud pada cetakan massal untuk menjadi propaganda atas agenda tertentu, Kadek justru hadir dan terlihat bermain-main dengan kelenturan teknik cukil dalam perluasan praktik cetak mencetak. Karyanya hadir sebagai wujud artistik dari individu pribadi yang punya kebebasan dalam berekspresi.

Ketika kita masuk dan melihat luaran karya yang tertampil pada pameran tunggalnya, kita langsung mengerti betapa telatennya seorang Kadek dalam mengeluarkan potensi tak terduga dari cetakan yang saling menghimpit satu sama lain. Ia tak hanya puas dengan praktik konvensional penggrafis yang agaknya alergi dengan hasil cetakan yang tidak pas, atau meleber di sana sini.

Latar belakangnya yang tumbuh tidak dari rahim pendidikan akademis, justru memperlihatkan potensi tersembunyi di balik sesuatu yang dipandang lemah dalam ekosistem seni. Bersama Army sebagai kurator dalam pameran tunggalnya. Ia justru nampak bebas menekuk dan meng-ekspose relief cetakan, yang mungkin dianggap sakral oleh sebagian besar penggrafis.

Seperti dalam karyanya yang berjudul “Anomali Holistik” karya yang menampak seperti kertas yang terlipat, ternyata juga menampilkan proses sebagai bagian penting dalam keutuhan karyanya. Ketika disimak perlahan, ia ternyata membeberkan relief cukil yang terkesan mentah, namun nampak sempurna untuk melengkapi hasil cetakan yang menempel ajeg dalam sebuah papan kayu.

Ia membiarkan ketidaksempurnaan hadir dalam hasil cetakannya. Warna yang berlebih, cetakan yang tertumpuk, fragmen lino yang terpotong-potong, justru menjadikan karyanya nampak jujur dan lugas. Bukan sebuah alibi, tapi bagaimana cara ia untuk dapat meramu berbagai kesalahan teknis yang umum pada praktik grafis yang konvensional.

Juga tak perlu risau, siapa yang peduli jika itu sebuah kesalahan, penikmat justru dibawa untuk meresapi karya seni dan bagaimana proses menjadi bagian penting untuk dihadirkan dalam karya-karya Kadek.

Dalam olahan artistiknya, grafis tak hanya hadir dalam kesakralan dinding kaca yang hanya terpaku dalam bingkai kotak. Di karya lainnya, ia justru mempermainkan bentuk sebagai perpanjangan bahasa visual yang ia eksplorasi. Bukan sebuah pujian, tapi keheranan saya sebagai penikmat untuk melihat keluwesan Kadek dalam memperlakukan grafis sebagai metode artistiknya.

Posisi grafis yang ajeg, perlahan runtuh ketika menikmati berbagai karya yang ia suguhkan, seperti potongan lino yang menjadi limbah malah terpampang solid dalam jalinan karya yang memberikan makna baru pada ia yang sejatinya terbuang. Kain yang melekuk, kolase yang menempel, ataupun guratan relief cukil menjadi satu wahana untuk  melihat praktik grafis dari sisi yang lain.

Namun jadi satu catatan penting, bahwa eksperimentasi Kadek tidak selalu terasa aman. Beberapa karyanya berdiri di ambang kegagalan, antara keberanian membuka proses dan risiko jatuh menjadi sekadar efek visual. Namun justru pada titik inilah praktiknya menjadi menarik. Ketidaktepatan cetak, noda berlebih, dan potongan lino yang tersisa tidak ia rapikan demi estetika, melainkan dibiarkan sebagai bukti bahwa grafis bisa menampung keraguan dan ketidakpastian dalam proses penciptaan.

Karya Kadek Dwi menjadi pemantik yang segar bagi seni di era kontemporer ini, ia menunjukan bahwa persoalan teknis tidaklah sebatas alat yang menunjang kehadiran sebuah karya, justru sebaliknya, ia hadir dan eksis sebagai satu bagian utuh yang melengkapi dan menjadikan karya tersebut kaya secara dimensional.

“Dalam konteks seni rupa Bali hari ini, praktik Kadek Dwi menjadi penting bukan karena ia menawarkan kebaruan teknis semata, melainkan karena ia merusak cara lama memandang grafis sebagai medium yang harus rapi, patuh, dan tahu tempatnya. Grafis, lewat praktik ini, tidak lagi meminta legitimasi dari lukisan atau patung, melainkan berdiri sebagai bahasa visual yang sanggup menampung konflik, proses, dan ketidaksempurnaan yang selama ini disingkirkan”.

Panjang Umur Seni Rupa!!!! [T]

Penulis: Made Chandra
Editor: Adnyana Ole

Tags: Pameran Seni RupaSeni Rupaseni rupa Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

Next Post

‘Mlancaran Ka Sasak’, dari Novel ke Drama Bali Modern — Sanggar Nong Nong Kling Bersiap ‘Masolah’ di Bulan Bahasa Bali 2026

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
0
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

Read moreDetails

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

by Hartanto
August 13, 2026
0
Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

MASIH berlanjut soal pameran The Power of Colours , perhelatan ini berlangsung 25 hingga 31 Agustus mendatang. Pameran digelar  di...

Read moreDetails

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

by Hartanto
August 11, 2026
0
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

Read moreDetails

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026
0
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

---Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena...

Read moreDetails

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

by Angga Wijaya
August 7, 2026
0
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

Read moreDetails

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

by Hartanto
August 7, 2026
0
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists...

Read moreDetails

Mantra Visual Made Wiradana

by Hartanto
August 2, 2026
0
Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

Read moreDetails

SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

by Gustra Adnyana
July 31, 2026
0
SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

Di tepian aliran sungai Petanu, sebuah ruang seni baru tumbuh di tengah lanskap hijau Ubud. Buki Gallery di Bumi Kinar...

Read moreDetails

Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

by Angga Wijaya
July 30, 2026
0
Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

ADA perubahan yang menarik dalam lanskap seni kriya Indonesia dalam dua dekade terakhir. Jika dahulu kriya lebih sering dipahami sebagai...

Read moreDetails

Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

by Hartanto
July 30, 2026
0
Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

EMPAT karya dari empat pelukis Bali kontemporer yang turut berpartisipasi dalam Jogja Annual Art ke-11, yakni I Made Ruta, Ida...

Read moreDetails
Next Post
‘Mlancaran Ka Sasak’, dari Novel ke Drama Bali Modern — Sanggar Nong Nong Kling Bersiap ‘Masolah’ di Bulan Bahasa Bali 2026

'Mlancaran Ka Sasak', dari Novel ke Drama Bali Modern --- Sanggar Nong Nong Kling Bersiap 'Masolah' di Bulan Bahasa Bali 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co