23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
February 9, 2026
in Esai
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

Ahmad Sihabudin

KOMUNIKASI lingkungan lahir dari sinergi dua disiplin ilmu utama, yakni ilmu komunikasi dan ilmu lingkungan. Perjumpaan ini bukanlah pertemuan yang kebetulan, melainkan sebuah kebutuhan historis yang muncul seiring meningkatnya kompleksitas persoalan lingkungan hidup global sejak dekade 1960-an. Pada fase ini, pembangunan industri, urbanisasi masif, dan eksploitasi sumber daya alam menghadirkan paradoks: kemajuan ekonomi di satu sisi, dan degradasi lingkungan di sisi lain.

Dalam konteks inilah komunikasi mengambil peran strategis, bukan sekadar sebagai penyampai informasi, tetapi sebagai penghubung antara pengetahuan ilmiah, kebijakan publik, dan kesadaran masyarakat. Artikel ini ditulis dalam rangka menyambut Hari Pers Nasional 9 Februari 2026, yang mengusung tema ”Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat”.

Menurut Oepen (1999), komunikasi lingkungan merupakan rencana dan strategi yang memanfaatkan proses komunikasi serta produk media untuk mendukung efektivitas pembuatan kebijakan, partisipasi publik, dan implementasi kebijakan lingkungan. Definisi ini menegaskan bahwa komunikasi lingkungan bukanlah aktivitas tambahan atau pelengkap, melainkan komponen yang terintegrasi langsung dalam kebijakan lingkungan itu sendiri. Komunikasi tidak berdiri di luar kebijakan, tetapi berada di dalamnya, membentuk cara kebijakan dipahami, diterima, dan dijalankan oleh masyarakat.

Dalam praktiknya, komunikasi lingkungan mengaitkan nilai-nilai tertentu dengan isu kesehatan, kesejahteraan sosial, serta kemakmuran ekonomi. Lingkungan tidak lagi diposisikan sebagai isu teknis semata, melainkan sebagai isu kemanusiaan yang menyentuh kehidupan sehari-hari. Ketika banjir, tanah longsor, abrasi, atau kekeringan terjadi, yang terdampak bukan hanya ekosistem, tetapi juga mata pencaharian, kesehatan, dan martabat manusia. Pada titik ini, komunikasi lingkungan berperan membentuk persepsi publik, sekaligus mengundang pendekatan pragmatis untuk mendidik dan menggalang masyarakat agar bertindak atas persoalan lingkungan yang dihadapi.

Akar Komunikasi Lingkungan

Komunikasi lingkungan juga memiliki akar yang kuat dalam tradisi komunikasi pembangunan dan komunikasi pendidikan. Dalam perspektif ini, lingkungan dipahami sebagai arena pembelajaran sosial. Masyarakat belajar mengenali masalah lingkungannya, memahami sebab-akibatnya, dan merumuskan tindakan kolektif untuk mengatasinya. Dampak komunikasi lingkungan setidaknya berlangsung pada dua tingkat. Pertama, tingkat kognitif, yakni meningkatnya pengetahuan dan kesadaran publik. Kedua, tingkat praksis, yaitu perubahan sikap dan perilaku yang berujung pada tindakan nyata.

Analogi yang kerap digunakan untuk menjelaskan posisi komunikasi lingkungan adalah rantai pada sepeda. Sepeda tidak akan dapat berjalan tanpa rantai, tetapi rantai juga tidak memiliki arti tanpa sepeda. Demikian pula komunikasi lingkungan: ia menghubungkan perencanaan (plan) dengan tindakan (action). Tanpa komunikasi, kebijakan lingkungan akan berhenti sebagai dokumen administratif; sebaliknya, tanpa kebijakan, komunikasi kehilangan arah dan tujuan.

Berangkat dari konsep ini, momentum Hari Pers Nasional 2026 menjadi sangat relevan untuk menegaskan kembali peran pers dalam krisis ekologis yang kian parah. Kondisi lingkungan Indonesia hari ini menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan: banjir berulang di wilayah perkotaan dan pedesaan, tanah longsor di kawasan perbukitan, abrasi di wilayah pesisir, hutan gundul akibat alih fungsi lahan dan pembalakan, serta krisis kualitas udara dan air. Semua ini bukan sekadar bencana alam, melainkan bencana ekologis yang memiliki akar sosial, ekonomi, dan politik.

Dalam situasi seperti ini, pers tidak cukup hanya melaporkan peristiwa bencana sebagai berita episodik. Pers dituntut untuk mengambil peran lebih substantif melalui penguatan jurnalisme lingkungan dan pengarusutamaan konsep pers hijau. Jurnalisme lingkungan menempatkan isu lingkungan sebagai isu struktural dan berjangka panjang, bukan sekadar peristiwa sesaat. Ia menelusuri sebab-sebab mendasar, relasi kuasa, kepentingan ekonomi, serta dampak kebijakan yang sering kali luput dari perhatian publik.

Pers Hijau

Pers hijau, dalam pengertian ini, bukanlah pers yang bersikap ideologis atau propaganda, melainkan pers yang memiliki keberpihakan etis pada keberlanjutan lingkungan hidup. Keberpihakan ini sejalan dengan fungsi pers sebagai pengawal kepentingan publik. Lingkungan hidup adalah kepentingan publik paling mendasar, karena tanpanya tidak mungkin ada kehidupan sosial dan ekonomi yang berkelanjutan.

Dalam kerangka komunikasi lingkungan, pers memiliki setidaknya tiga peran strategis. Pertama, sebagai agen edukasi publik. Pers dapat menerjemahkan bahasa ilmiah dan kebijakan lingkungan ke dalam narasi yang mudah dipahami masyarakat. Isu seperti perubahan iklim, degradasi hutan, atau pencemaran air membutuhkan penjelasan yang kontekstual dan relevan dengan pengalaman sehari-hari khalayak.

Kedua, sebagai arena diskursus publik. Pers menyediakan ruang bagi perdebatan, kritik, dan pertukaran gagasan mengenai kebijakan dan praktik pengelolaan lingkungan. Dalam tradisi teori ruang publik, media berfungsi sebagai tempat bertemunya beragam suara; ilmuwan, pembuat kebijakan, aktivis, pelaku usaha, dan warga terdampak. Diskursus ini penting untuk mencegah dominasi satu narasi tunggal yang sering kali berpihak pada kepentingan ekonomi jangka pendek.

Ketiga, sebagai penggerak partisipasi dan tindakan kolektif. Melalui liputan investigatif, kampanye publik, dan cerita-cerita inspiratif, pers dapat mendorong masyarakat untuk terlibat dalam upaya pelestarian lingkungan. Komunikasi lingkungan yang efektif tidak berhenti pada kesadaran, tetapi mengarah pada perubahan perilaku dan aksi sosial.

Namun demikian, tantangan yang dihadapi pers tidaklah ringan. Di tengah tekanan ekonomi media, kecepatan siklus berita digital, dan algoritma platform media sosial yang cenderung mengutamakan sensasi, isu lingkungan sering kali kalah bersaing dengan isu politik elektoral atau hiburan. Di sinilah diperlukan komitmen editorial yang kuat untuk menempatkan lingkungan sebagai isu strategis jangka panjang.

Hari Pers Nasional 2026 seharusnya menjadi momentum reflektif bagi insan pers untuk meninjau ulang orientasi pemberitaan. Pers perlu bertanya: sejauh mana media telah berkontribusi dalam membangun kesadaran ekologis publik? Apakah pers telah menjadi bagian dari solusi, atau justru tanpa sadar memperparah kebisingan ruang publik dengan narasi dangkal dan sensasional?

Dalam konteks komunikasi lingkungan, pers idealnya berperan meredam kebisingan tersebut dengan menghadirkan jurnalisme yang mendalam, berbasis data, dan berorientasi pada kepentingan publik jangka panjang. Pers tidak sekadar melaporkan kerusakan, tetapi juga mengawal proses pemulihan dan keberlanjutan.

Akhirnya, pers hijau bukanlah pilihan, melainkan keniscayaan. Di tengah krisis ekologis yang semakin nyata, pers memiliki tanggung jawab historis untuk memastikan bahwa isu lingkungan hidup tetap berada di pusat perhatian publik. Dengan mengintegrasikan prinsip-prinsip komunikasi lingkungan dalam praktik jurnalistik, pers dapat menjadi rantai penghubung yang menggerakkan sepeda perubahan menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.

Momentum Hari Pers Nasional 2026 adalah saat yang tepat untuk menegaskan kembali komitmen tersebut: bahwa menjaga lingkungan hidup bukan hanya tugas aktivis atau pemerintah, tetapi juga panggilan etis bagi pers sebagai pilar demokrasi dan penjaga kepentingan publik. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: komunikasimedia massaperspers hijau
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Vokal, Teknik dan Penyajian yang Berkualitas dalam Wimbakara Gending Rare di Bulan Bahasa Bali 2026

Next Post

Grafis yang Melentur: Menerka Praktik Berkesenian Seorang Kadek Dwi

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Grafis yang Melentur: Menerka Praktik Berkesenian Seorang Kadek Dwi

Grafis yang Melentur: Menerka Praktik Berkesenian Seorang Kadek Dwi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co