3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Mlancaran Ka Sasak’, dari Novel ke Drama Bali Modern — Sanggar Nong Nong Kling Bersiap ‘Masolah’ di Bulan Bahasa Bali 2026

Radha Dwi Pradnyani by Radha Dwi Pradnyani
February 9, 2026
in Panggung
‘Mlancaran Ka Sasak’, dari Novel ke Drama Bali Modern — Sanggar Nong Nong Kling Bersiap ‘Masolah’ di Bulan Bahasa Bali 2026

Suasana latihan drama bali modern Sanggar Nong Nong Kling untuk persiapan pentas di Bulan Bahasa Bali 2026

LAMPU Gedung Sasana Budaya di Singaraja itu dipadamkan ketika para anak Sanggar Seni Nong Nong Kling berkumpul untuk latihan drama modern bersama. Lampu sorot memancarkan sinar kuning ke arah mereka, menggantikan sinar putih lampu dan memudarkan kegelapan — menandakan drama sudah memasuki babak pertama.

Babak pertama dibuka dengan suara kidung khas gaya kesenian Renganis Pengalatan. Alunan merdu yang masyhur menari-menari dalam telinga. Tidak ada musik pada babak itu, hanya dari pita suara anak-anak sanggar yang beriringan bernyanyi, menciptakan musik tersendiri.

Lampu sorot dimatikan, menandakan tirai sudah ditutup untuk ke adegan selanjutnya. Dalam kegelapan semua pemain bergerak. Dengan cekatan dan lihai mereka berpindah dari satu posisi ke posisi lainnya. Anak-anak sanggar sangat fokus dengan peran mereka, tak ada canda ataupun tawa, hanya peran palsu yang terlihat.

“Ini adalah scene pertama,” kata Darwin Setia Budi atau yang dikenalkan sebagai “Ajik” oleh si pendiri sanggar. Saat itu, Darwin sedang duduk dengan santai, namun matanya fokus memperhatikan jalannya drama. Sebagai penulis naskah sekaligus sutradara pementasan drama tersebut, sudah dipastikan dirinya harus memberikan perhatian lebih pada drama ini.

***

Tak hanya Ajik Darwin, namun saya dan kedua rekan dari tim tatkala.co ikut fokus memperhatikan jalannya drama. Saking terbawa suasana dan akting dari pemain-pemain di atas panggung, kami bertiga hanya terdiam saja. Duduk dan menatap lurus ke arah panggung. Seketika, fokus kami menjadi pecah ketika salah satu rekan bertanya, “Apa maksud dari pementasan ini?” Sontak kami saling memandang satu sama lain.

Suasana latihan drama bali modern Sanggar Nong Nong Kling untuk persiapan pentas di Bulan Bahasa Bali 2026

Drama Modern ini memiliki judul “Mlancaran Ka Sasak” , sebuah drama modern berbahasa Bali yang dibawakan oleh Sanggar Seni Nong Nong Kling dan akan dipentaskan pada tanggal 20 Februari 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali di Denpasar, berkaitan dengan acara Bulan Bahasa Bali VIII.

Drama ini diambil dari sebuah novel klasik Bali dengan judul “Mlancaran Ka Sasak” dan ditulis oleh Gde Srawana. Buku ini menceritakan tiga tokoh yang masing-masing bernama Made Sarati, Dayu Priya, dan Luh Sari, melancong bersama ke Sasak (Lombok). Dalam perjalanan mereka, muncul benih-benih cinta dari tokoh Made Sarati dan Dayu Priya. Namun cinta tersebut harus mereka pendam akibat perbedaan kasta.

“Begitu ceritanya!” seru saya ketika menjelaskan panjang lebar kepada rekan-rekan tentang drama ini. Salah seorang rekan mengangguk, tapi satu rekan saya membuka suara. “Oh begitu …. Dramanya berbahasa bali sih, gak paham jadinya.”

***

Drama berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali adalah hal lumrah. Akan jadi aneh apabila sebuah drama berbahasa Indonesia dipentaskan saat Bulan Bahasa Bali. Tapi yang menjadi fokus saya bukan pada penggunaan bahasa, melainkan sebuah kesadaran bahwa masih banyak anak muda (termasuk saya sendiri) yang kurang memahami bahasa ibunya.

Suasana latihan drama bali modern Sanggar Nong Nong Kling untuk persiapan pentas di Bulan Bahasa Bali 2026

Bahasa Bali — sepertinya namanya, adalah sebuah media yang digunakan orang Bali dalam berkomunikasi secara lisan satu sama lain. Tidak hanya bahasa saja, Bali juga memiliki tulisan aksara, aksara Bali. Aksara ini terdiri dari 18 hingga 33 aksara dasar tergantung pemakaiannya. Bahasa Bali pun juga banyak dan beragam. Logat Bahasa Bali Utara dan Bali Selatan akan sangat berbeda, dari daerah kabupaten satu dan kabupaten lainnya pun juga berbeda.  

Keberagaman bahasa dan aksara inilah yang kemudian dirasakan secara langsung oleh Nyoman Suardika atau yang sering dikenal sebagai Mang Epo. Ia adalah pendiri Sanggar Seni Nong Nong Kling.

Baginya, Bahasa Bali bukan sekadar alat komunikasi, melainkan bagian dari identitas dan cara orang Bali memahami dirinya sendiri. “Bali itu hebat! Pulau yang kecil ini punya bahasa dan juga aksara, tidak semua daerah bisa punya bahasa dan aksara sekaligus!” jelas Mang Epo dengan tegas bersuara. Pemikiran yang serupa juga menggema dari Ajik Darwin. “Aksara Bali itu kan tidak semua daerah memilikinya. Jadi Bali itu istimewa sekali!”

Walaupun dengan keberagaman bahasa dan aksara yang tersebar di seluruh pulau dewata, generasi anak muda terlihat tidak tertarik bahkan melupakan bahasa Bali. Fenomena ini membuat miris Mang Epo. Baginya masyarakat Bali mulai melenceng, “tyang (saya)miris melihat banyak orang tua yang tidak berbicara berbahasa bali dengan anaknya. Kalau saya selalu mengusahakan berbicara Bahasa Bali dengan anak dan cucu saya,” jelasnya dengan raut kekecewaan.

Tantangan tidak hanya datang dari pelestarian bahasa dan aksara, namun juga dari pelestarian budaya. Sebagai sanggar seni, Sanggar Nong Nong Kling memiliki berbagai aktivitas kesenian. Dimulai dari tarian, tabuh, drama gong, bahkan menciptakan drama kesenian bernama ladrak  (lawak drama kreatif) yang sedang digencar mendapatkan Haki oleh Sanggar Nong Nong Kling.

Namun tetap saja peminatan akan seni tetap berkurang. Menurut Ajik Darwin, untuk mendapatkan pemeran putri atau pangeran yang berparas indah, dengan proporsi tubuh yang bagus itu sangat susah — jika dapat pun, menyuruh pemain untuk bermain peran dan mau berbicara Bahasa Bali adalah masalah selanjutnya. Baginya, ini menjadi kekhawatiran. Terlebih Sanggar Nong Nong Kling selalu mendapatkan job untuk mengisi acara di Pesta Kesenian Bali atau sering dikenal dengan PKB.

Sebenarnya Ajik Darwin tidak pesimis, ia hanya menerangkan fenomena yang ia lihat saat ini. Dalam hatinya, ia yakin bahwa kesenian Bali akan kembali dilirik anak muda apabila kesenian tersebut dihadirkan dengan pendekatan yang dekat dengan kehidupan dan cara berpikir mereka. Sehingga meningkatkan daya tarik menonton pentas seni, salah satunya adalah pementasan drama modern dengan Bahasa Bali.

Drama Anti Kasta dalam Bulan Bahasa Bali

Sanggar Nong Nong Kling diberikan kesempatan oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Bali untuk ikut memeriahkan Bulan Bahasa Bali dengan menampilkan sebuah drama modern berbahasa Bali. Disbud memberikan sebuah cerita novel Mlancaran Ka Sasak dalam bentuk 5 halaman, dan sebuah ketentuan bahwa drama harus  ditampilkan selama minimal 45 menit dan kurang dari 1 jam, serta pemain harus berjumlah 41 orang dengan 4 orang sebagai panitia dari Sanggar Nong Nong Kling.

Setelah melakukan pertemuan dan rapat, pada pertengahan bulan Januari, Ajik Darwin mulai menulis naskah untuk dramanya. Dengan bermodal pengalaman menulis beberapa naskah drama gong untuk mengiringi upacara di pura serta mengisi acara di PKB, ia mampu menulis naskah drama ini dalam waktu 10 hari.

Ajik Darwin mengaku dalam proses kreatifnya, ia mengalami banyak kesulitan yang terjadi karena naskah tersebut adalah naskah drama modern pertama yang pernah ia buat. Memang sebelumnya, sanggar ini tidak pernah membuat dan menampilkan penampilan drama modern. “Pernah dulu Disbud beri kami cerita untuk PKB, dan kami jadikan sebagai drama gong. Tapi kali ini baru disuruh bikin drama modern,” terangnya.

Mang Epo

Tak hanya Ajik Darwin, Mang Epo selaku pendiri sanggar juga kaget, “Ini sebuah tantangan. Padahal banyak sanggar mementaskan drama modern. Kenapa Nong Nong Kling yang terpilih?” Tapi bagi saya sendiri, Disbud melihat sanggar ini memiliki potensi dan ingin menantang mereka. Sehingganya Sanggar Nong Nong Kling diberikan kepercayaan untuk membuat drama modern.

Walau ini kali pertama dengan banyak proses belajar, Ajik Darwin tetap menyelesaikan naskahnya. Dengan terus mengikuti kegiatan teater Sanggar Selem Putih, dan mendapatkan inspirasi dari mereka. “Ya kita curi-curi idelah dari Putu Satria Kusuma.” Dan dari ilmu-ilmu di sanggar tersebut, dirinya bisa mendapatkan ide adegan dan suasana dalam panggung teater.

***

Ajik Darwin juga seperti mayoritas penulis, membutuhkan tempat yang tenang dan sepi agar bisa lancar berimajinasi. Aktivitas seperti membaca juga tak pernah ia lewatkan. Setelah ia membaca buku novel Mlancaran Ka Sasak, Ajik Darwin menulis ulang cerita tersebut sesuai ketentuan dari pusat dan interpretasi dirinya sendiri.

Menurutnya kisah dalam novel tersebut memiliki makna “anti-feodalisme” atau anti atas sistem kasta di Bali. Buku ini ditulis di tahun 1930-an, sebuah periode ketika perang masih berkecamuk di bumi nusantara, serta kasta masih kental-kental nya dalam sistem bermasyarakat di Bali. Dengan suasana kasta yang kental, buku ini seolah ingin melawan sistem dengan penulisan roman.

Interpretasi ini akhirnya ia kembangkan menjadi sebuah dialog naskah drama. Ia menjelaskan, pada babak pertama dan ketiga, tokoh Ratu Ajik (ayah dari Dayu Priya) selalu memberikan sebuah dialog yang memberikan kesan bahwa walaupun dirinya adalah orang berkasta, Ratu Ajik tidak menjatuhkan orang bawahannya.

Gede Aditya Simpatiaji (kiri), pemeran tokoh Made Sarati

Selain dari tokoh Ratu Ajik, interpretasi anti kasta dari Ajik Darwin juga dikembangkan dalam dialog antara Made Sarati dan Dayu Priya. Alih-alih memberikan percakapan romantis untuk menjelaskan hubungan mereka, Ajik Darwin membuat dialog dengan bumbu bladbadan (perumpamaan/teguran yang bersifat humoris) yang biasanya digunakan dalam drama gong.

Cerita ini ditutup dengan tidak memberitahu kepastian dari hubungan antara Made Sarati dan juga Dayu Priya. Ajik Darwin menutup kisah drama dengan membawakan bladbadan yang serupa. “Biarkan saja penonton interpretasikan sendiri hubungan Made sarati dan Dayu Priya,” jawab Ajik Darwin.

Selain itu, ia juga menonton beberapa film untuk proses kreativitasnya, salah satunya adalah Jagad X Code yang memberikannya sebuah ide dalam penataan properti dalam dramanya. Pada babak kedua, ketika Made Sarati, Dayu Priya, dan Luh Sari berada di dalam penginapan daerah Sasak, Ajik Darwin mengambil penataan properti yang mirip pada salah satu adegan di film tersebut — adegan malam hari dengan tiang-tiang sebagai ruangan. Ajik Darwin menggunakan ide properti agar babak kedua terasa lebih hidup.

Setelah naskah sudah dihadirkan, para anak sanggar mulai dilatih. Berawal dari latihan per individu seperti menghafal naskah dengan peran masing-masing, sampai latihan blocking (posisi)antar pemain. Para aktor tidak hanya dari anak sanggar yang berasal dari latar belakang teater tapi juga dari anak sekaa gong Sanggar Nong Nong Kling.

Membawa anak sekaa gong dalam drama teater memberikan rintangan baru bagi Ajik Darwin. Anak sekaa gong yang biasanya bebas bergerak dan bersikap ketika berada di belakang panggung, harus menyesuaikan sikap sesuai peran ketika di atas panggung. “Kalau mereka bercanda atau ketawa-ketawa di atas panggung kan jelek kelihatannya, seperti tidak (serius) digarap,” kata Ajik Darwin kepada saya.

Dengan kondisi seperti ini, pendekatan melalui evaluasi setiap berakhirnya latihan selalu dilakukan. Untuk saling memberikan ilmu, pendapat, dan penilaian kepada masing-masing aktor agar bisa mengecilkan kekurangan yang masih dirasakan. Ajik Darwin berharap dengan pendekatan seperti ini, para aktor — terlebih anak-anak dari sekaa gong — tidak merasa tertekan atau bahkan menyerah di tengah jalan. “Ya mudah-mudahan mereka tidak seperti itu …. Mau ikut belajar, kami semua juga dalam belajar.”

Ada kelompok anak sanggar yang terdiri dari Dea, Nia, Sri dan Santhi yang ingin membagikan cerita. Mereka berasal dari anak teater, bahkan salah satu dari mereka merupakan anggota UKM Teater Kampus Seribu Jendela Undiksha. Walaupun berlatar dari dunia bermain peran, mereka mengaku bahwa latihan blocking membutuhkan tenaga ekstra untuk dikuasai. Dan itu bisa diatasi dengan kekompakan dan latihan bersama-sama.

Suasana latihan drama bali modern Sanggar Nong Nong Kling untuk persiapan pentas di Bulan Bahasa Bali 2026

Selain kesulitan dalam blocking antar pemain, penggunaan dialog Bahasa Bali juga menyulitkan kelancaran pentas mereka. Shanti — aktor dari karakter Luh Sari sekaligus anak dari Mang Epo merasa kesulitan dalam mendalami perannya karena harus menggunakan Bahasa Bali Alus Sor Singgih yang tak ia kuasai, “Kan udah biasa di kota pakai Bahasa Indonesia, jadi  saat pakai Basa Alus, sulit untuk mengimbanginya.” Sedangkan untuk ketiga temannya mengaku tidak mengalami masalah karena dialog mereka menggunakan Bahasa Bali sehari-hari, yaitu Bahasa Bali Andap.

Dengan kemampuan berbahasa yang berbeda-beda, tidak mengurangi semangat mereka dalam mempelajari bahasa ibu. Dan dengan adanya drama ini, mereka mempelajari pakem Bahasa Bali dan pelafalannya. Mereka akhirnya menyepakati bersama bahwa penggunaan Bahasa Bali sendiri sangat diperlukan, “Yang disayangkan, banyak sekarang orang Bali gak bisa berbahasa Bali …. Dengan pementasan ini, kita belajar untuk melestarikannya,” kata salah satu dari mereka.

***

Mang Epo, Ajik Darwin, Dea, Nia, Sri, dan Shanti memiliki sekucup harapan dari penampilan mereka pada Bulan Bahasa ini. Harapan untuk mampu melestarikan serta memberikan inspirasi kepada khalayak ramai — terutama anak muda — untuk ikut berpartisipasi untuk menjaga kebudayaan Bali.

Sanggar Nong Nong Kling tidak hanya menjadi perwakilan daerah Banyuning untuk Bulan Bahasa Bali, namun mereka juga perwakilan dari pelestarian budaya dan bahasa daerah Banyuning. Sanggar Nong Nong Kling ada untuk mencoba menghidupkan kembali daya tarik kesenian Bali — terlebih kesenian gong drama. Sanggar ini membangkitkan kesenian tersebut, menjadikan mereka satu-satunya sanggar yang memiliki drama gong.

Sama halnya dengan Bahasa Inggris maupun Bahasa Jepang, Bahasa Bali juga bisa dikuasai dengan keinginan, konsistensi, dan praktik berbicara sehari-hari. Dengan lampu sorot dan alunan kidung Renganis yang khas, anak-anak Sanggar Nong Nong Kling — baik muda maupun lanjut usia — seolah kembali ke sebuah masa yang jauh. Di sanalah bahasa tidak lagi berdiri sebagai hafalan atau aturan, melainkan sebagai perilaku: cara berbicara, bersikap, dan memandang dunia, yang diwariskan oleh para leluhur dari satu generasi ke generasi berikutnya. [T]

Reporter: Made Ayu Radha Dwi Pradnyani, Amanda Harum Puspita, Ni Ketut Winda Ari Yanti
Fotografer: Ni Ketut Winda Ari Yanti
Penulis: Made Ayu Radha Dwi Pradnyani
Editor: Adnyana Ole

  • Catatan: Artikel ini adalah hasil pelatihan menulis dalam program PKL atau magang siswa SMK TI Global di tatkala.co
Tags: Bahasa BaliBulan Bahasa BaliBulan Bahasa Bali 2026drama bahasa baliDrama Bali ModernSanggar Nong Nong Kling
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Grafis yang Melentur: Menerka Praktik Berkesenian Seorang Kadek Dwi

Next Post

Oleh-oleh Minikino dari Prancis: Film Pendek Indonesia Makin Go Global!

Radha Dwi Pradnyani

Radha Dwi Pradnyani

Made Ayu Radha Dwi Pradnyani, siswa SMKTI Global, Singaraja

Related Posts

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

by Komang Sujana
June 3, 2026
0
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

Read moreDetails

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
0
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

Read moreDetails

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
0
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

Read moreDetails

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

Read moreDetails

Dari Laut hingga Ladang, Ubud Food Festival 2026 Resmi Dibuka dengan Semangat Menjaga Pangan

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Dari Laut hingga Ladang, Ubud Food Festival 2026 Resmi Dibuka dengan Semangat Menjaga Pangan

MALAM baru saja turun di Taman Kuliner Ubud, Kamis, 28 Mei 2026. Di hadapan para tamu undangan, pelaku industri kuliner,...

Read moreDetails

Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

MEMASUKI tahun kesebelas penyelenggaraannya, Ubud Food Festival kembali digelar di Taman Kuliner Ubud dengan mengusung tema “Farmers: Guardians of Land...

Read moreDetails

Dilatih Prof. Dibia, Mahasiswa Korea Siap Pentaskan Kecak di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
May 28, 2026
0
Dilatih Prof. Dibia, Mahasiswa Korea Siap Pentaskan Kecak di Pesta Kesenian Bali 2026

SEKITAR 40 mahasiswa dari Korea, laki-laki dan perempuan, bersiap mementaskan kecak di Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII-2026. Cak cak cak…...

Read moreDetails

Bumi Bajra : Ruang Tumbuh yang Menubuh

by Made Chandra
May 25, 2026
0
Bumi Bajra : Ruang Tumbuh yang Menubuh

DI sudut gang yang dari luar tampak tak sepenuhnya meyakinkan, tampak sebuah ruang yang terasa begitu hangat karena dipeluk tertawaan...

Read moreDetails

Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
May 25, 2026
0
Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA suasana hening dari masyarakat dan para undangan, tabuh mulai dimainkan. Muda-mudi yang didominasi para remaja itu menari lepas tanpa...

Read moreDetails

Catatan Perjalanan Janger Beringkit

by IGP Weda Adi Wangsa
May 23, 2026
0
Catatan Perjalanan Janger Beringkit

JIKA menuju Tabanan dari arah Denpasar tentu akan melewati Desa Adat Beringkit di Kawasan Kecamatan Mengwi, Badung. Ketika mendengar Beringkit,...

Read moreDetails
Next Post
Oleh-oleh Minikino dari Prancis: Film Pendek Indonesia Makin Go Global!

Oleh-oleh Minikino dari Prancis: Film Pendek Indonesia Makin Go Global!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co