23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Mlancaran Ka Sasak’, dari Novel ke Drama Bali Modern — Sanggar Nong Nong Kling Bersiap ‘Masolah’ di Bulan Bahasa Bali 2026

Radha Dwi Pradnyani by Radha Dwi Pradnyani
February 9, 2026
in Panggung
‘Mlancaran Ka Sasak’, dari Novel ke Drama Bali Modern — Sanggar Nong Nong Kling Bersiap ‘Masolah’ di Bulan Bahasa Bali 2026

Suasana latihan drama bali modern Sanggar Nong Nong Kling untuk persiapan pentas di Bulan Bahasa Bali 2026

LAMPU Gedung Sasana Budaya di Singaraja itu dipadamkan ketika para anak Sanggar Seni Nong Nong Kling berkumpul untuk latihan drama modern bersama. Lampu sorot memancarkan sinar kuning ke arah mereka, menggantikan sinar putih lampu dan memudarkan kegelapan — menandakan drama sudah memasuki babak pertama.

Babak pertama dibuka dengan suara kidung khas gaya kesenian Renganis Pengalatan. Alunan merdu yang masyhur menari-menari dalam telinga. Tidak ada musik pada babak itu, hanya dari pita suara anak-anak sanggar yang beriringan bernyanyi, menciptakan musik tersendiri.

Lampu sorot dimatikan, menandakan tirai sudah ditutup untuk ke adegan selanjutnya. Dalam kegelapan semua pemain bergerak. Dengan cekatan dan lihai mereka berpindah dari satu posisi ke posisi lainnya. Anak-anak sanggar sangat fokus dengan peran mereka, tak ada canda ataupun tawa, hanya peran palsu yang terlihat.

“Ini adalah scene pertama,” kata Darwin Setia Budi atau yang dikenalkan sebagai “Ajik” oleh si pendiri sanggar. Saat itu, Darwin sedang duduk dengan santai, namun matanya fokus memperhatikan jalannya drama. Sebagai penulis naskah sekaligus sutradara pementasan drama tersebut, sudah dipastikan dirinya harus memberikan perhatian lebih pada drama ini.

***

Tak hanya Ajik Darwin, namun saya dan kedua rekan dari tim tatkala.co ikut fokus memperhatikan jalannya drama. Saking terbawa suasana dan akting dari pemain-pemain di atas panggung, kami bertiga hanya terdiam saja. Duduk dan menatap lurus ke arah panggung. Seketika, fokus kami menjadi pecah ketika salah satu rekan bertanya, “Apa maksud dari pementasan ini?” Sontak kami saling memandang satu sama lain.

Suasana latihan drama bali modern Sanggar Nong Nong Kling untuk persiapan pentas di Bulan Bahasa Bali 2026

Drama Modern ini memiliki judul “Mlancaran Ka Sasak” , sebuah drama modern berbahasa Bali yang dibawakan oleh Sanggar Seni Nong Nong Kling dan akan dipentaskan pada tanggal 20 Februari 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali di Denpasar, berkaitan dengan acara Bulan Bahasa Bali VIII.

Drama ini diambil dari sebuah novel klasik Bali dengan judul “Mlancaran Ka Sasak” dan ditulis oleh Gde Srawana. Buku ini menceritakan tiga tokoh yang masing-masing bernama Made Sarati, Dayu Priya, dan Luh Sari, melancong bersama ke Sasak (Lombok). Dalam perjalanan mereka, muncul benih-benih cinta dari tokoh Made Sarati dan Dayu Priya. Namun cinta tersebut harus mereka pendam akibat perbedaan kasta.

“Begitu ceritanya!” seru saya ketika menjelaskan panjang lebar kepada rekan-rekan tentang drama ini. Salah seorang rekan mengangguk, tapi satu rekan saya membuka suara. “Oh begitu …. Dramanya berbahasa bali sih, gak paham jadinya.”

***

Drama berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali adalah hal lumrah. Akan jadi aneh apabila sebuah drama berbahasa Indonesia dipentaskan saat Bulan Bahasa Bali. Tapi yang menjadi fokus saya bukan pada penggunaan bahasa, melainkan sebuah kesadaran bahwa masih banyak anak muda (termasuk saya sendiri) yang kurang memahami bahasa ibunya.

Suasana latihan drama bali modern Sanggar Nong Nong Kling untuk persiapan pentas di Bulan Bahasa Bali 2026

Bahasa Bali — sepertinya namanya, adalah sebuah media yang digunakan orang Bali dalam berkomunikasi secara lisan satu sama lain. Tidak hanya bahasa saja, Bali juga memiliki tulisan aksara, aksara Bali. Aksara ini terdiri dari 18 hingga 33 aksara dasar tergantung pemakaiannya. Bahasa Bali pun juga banyak dan beragam. Logat Bahasa Bali Utara dan Bali Selatan akan sangat berbeda, dari daerah kabupaten satu dan kabupaten lainnya pun juga berbeda.  

Keberagaman bahasa dan aksara inilah yang kemudian dirasakan secara langsung oleh Nyoman Suardika atau yang sering dikenal sebagai Mang Epo. Ia adalah pendiri Sanggar Seni Nong Nong Kling.

Baginya, Bahasa Bali bukan sekadar alat komunikasi, melainkan bagian dari identitas dan cara orang Bali memahami dirinya sendiri. “Bali itu hebat! Pulau yang kecil ini punya bahasa dan juga aksara, tidak semua daerah bisa punya bahasa dan aksara sekaligus!” jelas Mang Epo dengan tegas bersuara. Pemikiran yang serupa juga menggema dari Ajik Darwin. “Aksara Bali itu kan tidak semua daerah memilikinya. Jadi Bali itu istimewa sekali!”

Walaupun dengan keberagaman bahasa dan aksara yang tersebar di seluruh pulau dewata, generasi anak muda terlihat tidak tertarik bahkan melupakan bahasa Bali. Fenomena ini membuat miris Mang Epo. Baginya masyarakat Bali mulai melenceng, “tyang (saya)miris melihat banyak orang tua yang tidak berbicara berbahasa bali dengan anaknya. Kalau saya selalu mengusahakan berbicara Bahasa Bali dengan anak dan cucu saya,” jelasnya dengan raut kekecewaan.

Tantangan tidak hanya datang dari pelestarian bahasa dan aksara, namun juga dari pelestarian budaya. Sebagai sanggar seni, Sanggar Nong Nong Kling memiliki berbagai aktivitas kesenian. Dimulai dari tarian, tabuh, drama gong, bahkan menciptakan drama kesenian bernama ladrak  (lawak drama kreatif) yang sedang digencar mendapatkan Haki oleh Sanggar Nong Nong Kling.

Namun tetap saja peminatan akan seni tetap berkurang. Menurut Ajik Darwin, untuk mendapatkan pemeran putri atau pangeran yang berparas indah, dengan proporsi tubuh yang bagus itu sangat susah — jika dapat pun, menyuruh pemain untuk bermain peran dan mau berbicara Bahasa Bali adalah masalah selanjutnya. Baginya, ini menjadi kekhawatiran. Terlebih Sanggar Nong Nong Kling selalu mendapatkan job untuk mengisi acara di Pesta Kesenian Bali atau sering dikenal dengan PKB.

Sebenarnya Ajik Darwin tidak pesimis, ia hanya menerangkan fenomena yang ia lihat saat ini. Dalam hatinya, ia yakin bahwa kesenian Bali akan kembali dilirik anak muda apabila kesenian tersebut dihadirkan dengan pendekatan yang dekat dengan kehidupan dan cara berpikir mereka. Sehingga meningkatkan daya tarik menonton pentas seni, salah satunya adalah pementasan drama modern dengan Bahasa Bali.

Drama Anti Kasta dalam Bulan Bahasa Bali

Sanggar Nong Nong Kling diberikan kesempatan oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Bali untuk ikut memeriahkan Bulan Bahasa Bali dengan menampilkan sebuah drama modern berbahasa Bali. Disbud memberikan sebuah cerita novel Mlancaran Ka Sasak dalam bentuk 5 halaman, dan sebuah ketentuan bahwa drama harus  ditampilkan selama minimal 45 menit dan kurang dari 1 jam, serta pemain harus berjumlah 41 orang dengan 4 orang sebagai panitia dari Sanggar Nong Nong Kling.

Setelah melakukan pertemuan dan rapat, pada pertengahan bulan Januari, Ajik Darwin mulai menulis naskah untuk dramanya. Dengan bermodal pengalaman menulis beberapa naskah drama gong untuk mengiringi upacara di pura serta mengisi acara di PKB, ia mampu menulis naskah drama ini dalam waktu 10 hari.

Ajik Darwin mengaku dalam proses kreatifnya, ia mengalami banyak kesulitan yang terjadi karena naskah tersebut adalah naskah drama modern pertama yang pernah ia buat. Memang sebelumnya, sanggar ini tidak pernah membuat dan menampilkan penampilan drama modern. “Pernah dulu Disbud beri kami cerita untuk PKB, dan kami jadikan sebagai drama gong. Tapi kali ini baru disuruh bikin drama modern,” terangnya.

Mang Epo

Tak hanya Ajik Darwin, Mang Epo selaku pendiri sanggar juga kaget, “Ini sebuah tantangan. Padahal banyak sanggar mementaskan drama modern. Kenapa Nong Nong Kling yang terpilih?” Tapi bagi saya sendiri, Disbud melihat sanggar ini memiliki potensi dan ingin menantang mereka. Sehingganya Sanggar Nong Nong Kling diberikan kepercayaan untuk membuat drama modern.

Walau ini kali pertama dengan banyak proses belajar, Ajik Darwin tetap menyelesaikan naskahnya. Dengan terus mengikuti kegiatan teater Sanggar Selem Putih, dan mendapatkan inspirasi dari mereka. “Ya kita curi-curi idelah dari Putu Satria Kusuma.” Dan dari ilmu-ilmu di sanggar tersebut, dirinya bisa mendapatkan ide adegan dan suasana dalam panggung teater.

***

Ajik Darwin juga seperti mayoritas penulis, membutuhkan tempat yang tenang dan sepi agar bisa lancar berimajinasi. Aktivitas seperti membaca juga tak pernah ia lewatkan. Setelah ia membaca buku novel Mlancaran Ka Sasak, Ajik Darwin menulis ulang cerita tersebut sesuai ketentuan dari pusat dan interpretasi dirinya sendiri.

Menurutnya kisah dalam novel tersebut memiliki makna “anti-feodalisme” atau anti atas sistem kasta di Bali. Buku ini ditulis di tahun 1930-an, sebuah periode ketika perang masih berkecamuk di bumi nusantara, serta kasta masih kental-kental nya dalam sistem bermasyarakat di Bali. Dengan suasana kasta yang kental, buku ini seolah ingin melawan sistem dengan penulisan roman.

Interpretasi ini akhirnya ia kembangkan menjadi sebuah dialog naskah drama. Ia menjelaskan, pada babak pertama dan ketiga, tokoh Ratu Ajik (ayah dari Dayu Priya) selalu memberikan sebuah dialog yang memberikan kesan bahwa walaupun dirinya adalah orang berkasta, Ratu Ajik tidak menjatuhkan orang bawahannya.

Gede Aditya Simpatiaji (kiri), pemeran tokoh Made Sarati

Selain dari tokoh Ratu Ajik, interpretasi anti kasta dari Ajik Darwin juga dikembangkan dalam dialog antara Made Sarati dan Dayu Priya. Alih-alih memberikan percakapan romantis untuk menjelaskan hubungan mereka, Ajik Darwin membuat dialog dengan bumbu bladbadan (perumpamaan/teguran yang bersifat humoris) yang biasanya digunakan dalam drama gong.

Cerita ini ditutup dengan tidak memberitahu kepastian dari hubungan antara Made Sarati dan juga Dayu Priya. Ajik Darwin menutup kisah drama dengan membawakan bladbadan yang serupa. “Biarkan saja penonton interpretasikan sendiri hubungan Made sarati dan Dayu Priya,” jawab Ajik Darwin.

Selain itu, ia juga menonton beberapa film untuk proses kreativitasnya, salah satunya adalah Jagad X Code yang memberikannya sebuah ide dalam penataan properti dalam dramanya. Pada babak kedua, ketika Made Sarati, Dayu Priya, dan Luh Sari berada di dalam penginapan daerah Sasak, Ajik Darwin mengambil penataan properti yang mirip pada salah satu adegan di film tersebut — adegan malam hari dengan tiang-tiang sebagai ruangan. Ajik Darwin menggunakan ide properti agar babak kedua terasa lebih hidup.

Setelah naskah sudah dihadirkan, para anak sanggar mulai dilatih. Berawal dari latihan per individu seperti menghafal naskah dengan peran masing-masing, sampai latihan blocking (posisi)antar pemain. Para aktor tidak hanya dari anak sanggar yang berasal dari latar belakang teater tapi juga dari anak sekaa gong Sanggar Nong Nong Kling.

Membawa anak sekaa gong dalam drama teater memberikan rintangan baru bagi Ajik Darwin. Anak sekaa gong yang biasanya bebas bergerak dan bersikap ketika berada di belakang panggung, harus menyesuaikan sikap sesuai peran ketika di atas panggung. “Kalau mereka bercanda atau ketawa-ketawa di atas panggung kan jelek kelihatannya, seperti tidak (serius) digarap,” kata Ajik Darwin kepada saya.

Dengan kondisi seperti ini, pendekatan melalui evaluasi setiap berakhirnya latihan selalu dilakukan. Untuk saling memberikan ilmu, pendapat, dan penilaian kepada masing-masing aktor agar bisa mengecilkan kekurangan yang masih dirasakan. Ajik Darwin berharap dengan pendekatan seperti ini, para aktor — terlebih anak-anak dari sekaa gong — tidak merasa tertekan atau bahkan menyerah di tengah jalan. “Ya mudah-mudahan mereka tidak seperti itu …. Mau ikut belajar, kami semua juga dalam belajar.”

Ada kelompok anak sanggar yang terdiri dari Dea, Nia, Sri dan Santhi yang ingin membagikan cerita. Mereka berasal dari anak teater, bahkan salah satu dari mereka merupakan anggota UKM Teater Kampus Seribu Jendela Undiksha. Walaupun berlatar dari dunia bermain peran, mereka mengaku bahwa latihan blocking membutuhkan tenaga ekstra untuk dikuasai. Dan itu bisa diatasi dengan kekompakan dan latihan bersama-sama.

Suasana latihan drama bali modern Sanggar Nong Nong Kling untuk persiapan pentas di Bulan Bahasa Bali 2026

Selain kesulitan dalam blocking antar pemain, penggunaan dialog Bahasa Bali juga menyulitkan kelancaran pentas mereka. Shanti — aktor dari karakter Luh Sari sekaligus anak dari Mang Epo merasa kesulitan dalam mendalami perannya karena harus menggunakan Bahasa Bali Alus Sor Singgih yang tak ia kuasai, “Kan udah biasa di kota pakai Bahasa Indonesia, jadi  saat pakai Basa Alus, sulit untuk mengimbanginya.” Sedangkan untuk ketiga temannya mengaku tidak mengalami masalah karena dialog mereka menggunakan Bahasa Bali sehari-hari, yaitu Bahasa Bali Andap.

Dengan kemampuan berbahasa yang berbeda-beda, tidak mengurangi semangat mereka dalam mempelajari bahasa ibu. Dan dengan adanya drama ini, mereka mempelajari pakem Bahasa Bali dan pelafalannya. Mereka akhirnya menyepakati bersama bahwa penggunaan Bahasa Bali sendiri sangat diperlukan, “Yang disayangkan, banyak sekarang orang Bali gak bisa berbahasa Bali …. Dengan pementasan ini, kita belajar untuk melestarikannya,” kata salah satu dari mereka.

***

Mang Epo, Ajik Darwin, Dea, Nia, Sri, dan Shanti memiliki sekucup harapan dari penampilan mereka pada Bulan Bahasa ini. Harapan untuk mampu melestarikan serta memberikan inspirasi kepada khalayak ramai — terutama anak muda — untuk ikut berpartisipasi untuk menjaga kebudayaan Bali.

Sanggar Nong Nong Kling tidak hanya menjadi perwakilan daerah Banyuning untuk Bulan Bahasa Bali, namun mereka juga perwakilan dari pelestarian budaya dan bahasa daerah Banyuning. Sanggar Nong Nong Kling ada untuk mencoba menghidupkan kembali daya tarik kesenian Bali — terlebih kesenian gong drama. Sanggar ini membangkitkan kesenian tersebut, menjadikan mereka satu-satunya sanggar yang memiliki drama gong.

Sama halnya dengan Bahasa Inggris maupun Bahasa Jepang, Bahasa Bali juga bisa dikuasai dengan keinginan, konsistensi, dan praktik berbicara sehari-hari. Dengan lampu sorot dan alunan kidung Renganis yang khas, anak-anak Sanggar Nong Nong Kling — baik muda maupun lanjut usia — seolah kembali ke sebuah masa yang jauh. Di sanalah bahasa tidak lagi berdiri sebagai hafalan atau aturan, melainkan sebagai perilaku: cara berbicara, bersikap, dan memandang dunia, yang diwariskan oleh para leluhur dari satu generasi ke generasi berikutnya. [T]

Reporter: Made Ayu Radha Dwi Pradnyani, Amanda Harum Puspita, Ni Ketut Winda Ari Yanti
Fotografer: Ni Ketut Winda Ari Yanti
Penulis: Made Ayu Radha Dwi Pradnyani
Editor: Adnyana Ole

  • Catatan: Artikel ini adalah hasil pelatihan menulis dalam program PKL atau magang siswa SMK TI Global di tatkala.co
Tags: Bahasa BaliBulan Bahasa BaliBulan Bahasa Bali 2026drama bahasa baliDrama Bali ModernSanggar Nong Nong Kling
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Grafis yang Melentur: Menerka Praktik Berkesenian Seorang Kadek Dwi

Next Post

Oleh-oleh Minikino dari Prancis: Film Pendek Indonesia Makin Go Global!

Radha Dwi Pradnyani

Radha Dwi Pradnyani

Made Ayu Radha Dwi Pradnyani, siswa SMKTI Global, Singaraja

Related Posts

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
0
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

Read moreDetails

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

Read moreDetails

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

Read moreDetails

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
0
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

Read moreDetails

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

Read moreDetails

Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

ANAK-ANAK bergerak mengikuti irama. Ada yang mengepakkan tangan seperti burung, melangkah dalam barisan, memainkan properti, hingga berpindah formasi bersama teman-temannya....

Read moreDetails

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
0
Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

Read moreDetails

Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
0
Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

SALAH satu momen menarik ketika Salamander Big Band tampil membuka Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026 pada Jumat, 7...

Read moreDetails

Sebelum Merah Putih Berkibar, SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Sudah Riuh Lebih Awal Lewat Panggung Ekspresi

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
0
Sebelum Merah Putih Berkibar, SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Sudah Riuh Lebih Awal Lewat Panggung Ekspresi

SORAK sorai suporter terdengar dari sudut aula. Tepuk tangan menyambut setiap penampilan, sementara tawa pecah di antara adegan-adegan drama yang...

Read moreDetails

Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

by Nyoman Budarsana
August 15, 2026
0
Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

KETIKA suling mulai dimainkan, suasana seketika berubah. Para pemain Genjek Pondok Pekak, Ubud, bergerak dengan ekspresi yang kuat. Penari laki-laki...

Read moreDetails
Next Post
Oleh-oleh Minikino dari Prancis: Film Pendek Indonesia Makin Go Global!

Oleh-oleh Minikino dari Prancis: Film Pendek Indonesia Makin Go Global!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co