25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dentang yang Tak Pernah Sepenuhnya Hilang: Membaca ‘Broken Strings’ dalam Cermin Feminisme Perempuan Bali

Luh Putu Anggreny by Luh Putu Anggreny
January 13, 2026
in Ulas Buku
Dentang yang Tak Pernah Sepenuhnya Hilang: Membaca ‘Broken Strings’ dalam Cermin Feminisme Perempuan Bali

ADA jenis luka yang tidak berdarah, tetapi bergaung lebih lama dari suara jeritan. Ia hidup dalam ingatan, dalam rasa bersalah yang tak pernah sepenuhnya milik kita, dan dalam kalimat-kalimat yang terlalu sering diulang oleh perempuan: “Mungkin aku yang terlalu sensitif.” Dalam Broken Strings: Kepingan Masa Muda Yang Patah, Aurelie Moeremans menulis bukan sekadar tentang hubungan yang menyakitkan, melainkan tentang bagaimana kekuasaan menyusup ke dalam cinta, membungkus diri sebagai perhatian, dan perlahan mematahkan kehendak seseorang.

Buku ini bukan fiksi. Ia adalah memoar—catatan tentang bagaimana seorang remaja berusia 15 tahun masuk ke dalam relasi dengan laki-laki yang jauh lebih tua, dan bagaimana relasi itu berkembang bukan menjadi kemitraan, tetapi ketergantungan yang dikendalikan. Di salah satu bagian awal, Aurelie menulis bahwa ia merasa “dipilih” dan “diperhatikan”, tetapi di saat yang sama mulai merasakan kegelisahan yang tidak bisa ia beri nama. Perasaan itu ia gambarkan sebagai sesuatu yang seperti “ketika kamu merasa aman, tetapi juga merasa tidak boleh benar-benar menjadi dirimu sendiri”.

Apa yang diungkapkan Aurelie bukan hanya kisah cinta yang gagal. Ini adalah narasi grooming, manipulasi, dan kekerasan relasional—jenis kekerasan yang sering tidak dikenali karena tidak selalu muncul sebagai pukulan, melainkan sebagai kontrol emosional, isolasi sosial, dan pembalikan rasa bersalah.

Dan di titik inilah Broken Strings bertemu dengan konteks yang lebih luas: patriarki—sistem sosial yang membuat relasi timpang terasa wajar, yang mengajarkan perempuan untuk berterima kasih atas perhatian, bahkan ketika perhatian itu mulai terasa seperti penjara.

Ketika kisah ini dibaca dalam konteks perempuan Bali, resonansinya semakin kuat. Bukan karena semua perempuan Bali mengalami kekerasan seperti Aurelie, tetapi karena struktur budaya dan adat yang menekankan keharmonisan, rasa malu, dan loyalitas keluarga sering kali menciptakan ruang di mana luka perempuan lebih mudah disembunyikan daripada didengarkan.

Dalam salah satu kajian feminisme yang dimuat dalam website resmi konde.co, ada satu hal yang terus diulang: yang personal adalah politis. Pengalaman cinta, tubuh, dan relasi bukanlah wilayah netral; ia dibentuk oleh struktur sosial yang lebih besar. Broken Strings memperlihatkan ini dengan telanjang.

Relasi yang ditulis Aurelie dimulai dari sesuatu yang tampak sederhana: perhatian, hadiah, perasaan “dipahami”. Namun perlahan, relasi itu berubah menjadi sistem yang membuatnya bergantung secara emosional dan sosial. Dalam satu bagian buku, Aurelie menggambarkan bagaimana ia mulai menjauh dari teman-temannya karena pasangannya tidak menyukai mereka. Ia menuliskan perasaan bersalah karena memilih orang lain selain pasangannya—seolah hidupnya harus berpusat pada satu figur.

Ia menuliskan semacam pengakuan:

“Aku mulai merasa bersalah setiap kali aku ingin melakukan sesuatu tanpa dia.” — (Broken Strings, hal. 130)

Kalimat ini adalah ciri klasik relasi abusif. Di sinilah kekerasan tidak lagi berbentuk tindakan tunggal, tetapi menjadi lingkungan psikologis. Korban tidak lagi bertanya “apakah ini salah?”, melainkan “apa yang salah denganku?”.

Relasi ini juga memperlihatkan ketimpangan usia dan kuasa. Dalam teori feminis dan psikologi trauma, perbedaan usia yang besar—terutama ketika salah satu pihak masih remaja—menciptakan ketidakseimbangan pengetahuan, pengalaman, dan posisi tawar. Ketika pihak yang lebih tua juga memiliki kontrol ekonomi atau sosial, relasi itu semakin tidak setara.

Dalam Broken Strings, Aurelie menulis bagaimana pasangannya sering memposisikan dirinya sebagai satu-satunya orang yang benar-benar “mengerti” dirinya. Ini adalah teknik klasik grooming: membuat korban merasa dunia di luar relasi itu tidak aman atau tidak penting. Hal ini juga berhubungan erat dengan budaya patriarki yang tetap ada di masyarakat.

Patriarki sering disalahpahami sebagai sekadar “laki-laki jahat”. Padahal, ia adalah sistem nilai dan struktur sosial yang mengajarkan bahwa laki-laki lebih pantas memimpin, menentukan, dan mengontrol. Dalam sistem ini, perempuan dididik untuk menjadi penyesuai, bukan penentu.

Relasi seperti yang dialami Aurelie tidak muncul dalam ruang hampa. Ia tumbuh dalam budaya yang masih sering memuja:

“laki-laki yang lebih tua sebagai “lebih tahu”, perempuan muda sebagai “lebih lugu”, dan perbedaan kuasa sebagai sesuatu yang romantis”.

Dalam banyak masyarakat—termasuk Bali—perempuan diajarkan untuk bersyukur atas perhatian laki-laki, bahkan ketika perhatian itu mulai melampaui batas.

Di Bali, patriarki memiliki wajah yang khas. Sistem adat Bali bersifat patrilineal (purusa), di mana garis keturunan, warisan, dan status keluarga mengikuti pihak laki-laki. Perempuan yang menikah dianggap “keluar” dari keluarga asalnya dan masuk ke keluarga suami. Struktur ini berdampak pada posisi tawar perempuan dalam keluarga, ekonomi, dan keputusan sosial.

Penelitian tentang hukum waris Hindu di Bali menunjukkan bahwa prioritas diberikan kepada anak laki-laki dalam pewarisan dan status keluarga, sementara perempuan sering berada pada posisi yang lebih lemah secara struktural . Ini bukan sekadar soal harta. Ini tentang siapa yang dianggap pusat, dan siapa yang harus menyesuaikan diri.

Dalam budaya Bali, keharmonisan (Rwa Bhineda Dan Tri Hita Karana) sangat dijunjung tinggi. Namun, di tingkat sosial, keharmonisan ini sering diterjemahkan menjadi menahan konflik, menutup luka, dan menjaga nama baik keluarga.

Kajian tentang politik tubuh perempuan Bali menunjukkan bahwa tubuh perempuan sering tidak hanya milik dirinya, tetapi juga milik keluarga, adat, dan komunitas. Cara berpakaian, berperilaku, bahkan berbicara diawasi oleh norma sosial yang ketat .

Ini berdampak besar ketika kekerasan terjadi. Banyak perempuan enggan melapor karena takut dianggap:

  • merusak reputasi keluarga,
  • membuka aib,
  • atau gagal menjadi “perempuan baik”.

Data media lokal menunjukkan bahwa kekerasan terhadap perempuan di Bali bukanlah hal kecil. Sepanjang tahun 2024 saja, tercatat 383 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Bali, mencakup kekerasan fisik, psikis, seksual, dan ekonomi .

Namun angka ini hanyalah puncak gunung es. Dalam masyarakat dengan budaya malu yang kuat, banyak kasus tidak pernah sampai ke statistik. Dalam konteks ini, pengalaman Aurelie terasa sangat dekat: rasa bersalah karena bersuara, ketakutan karena tidak ingin merusak relasi, dan tekanan untuk tetap “baik-baik saja”.

Di sinilah feminisme menjadi penting—bukan sebagai ideologi asing, tetapi sebagai alat untuk memahami pengalaman perempuan secara struktural.

Feminisme mengatakan bahwa:

“Jika banyak perempuan mengalami pola yang sama,
maka itu bukan kebetulan,
melainkan sistem.”

Dalam Broken Strings, Aurelie menuliskan perasaan bertanya-tanya apakah ia terlalu lemah, terlalu cemburu, atau terlalu bergantung. Feminisme menjawab pertanyaan itu dengan keras: bukan kamu yang salah; sistemnya yang timpang.

Di Bali sendiri, berbagai kajian dan gerakan perempuan menunjukkan upaya untuk mendekonstruksi patriarki dari dalam budaya—melalui sastra, aktivisme, dan reinterpretasi adat.. Feminisme Bali tidak selalu berteriak; ia sering bekerja melalui cerita, ritual, dan solidaritas sunyi. Tapi tujuannya sama: membuka ruang bagi suara perempuan.

___

Salah satu hal paling berbahaya dari relasi abusif adalah kemampuannya untuk terlihat “normal”. Tidak ada teriakan. Tidak ada lebam yang bisa difoto. Yang ada hanyalah perasaan tertekan, bersalah, dan kehilangan diri.

Dalam Broken Strings, Aurelie berkali-kali menuliskan bagaimana ia mulai meragukan perasaannya sendiri. Ia tahu ada yang tidak beres, tetapi tidak bisa menunjuknya. Ia menuliskan bahwa setiap kali ia merasa tidak nyaman, pasangannya akan membuatnya merasa seolah itu adalah kesalahannya—ia terlalu sensitif, terlalu dramatis, atau tidak cukup bersyukur.

Inilah yang dalam kajian feminis disebut gaslighting: bentuk kekerasan psikologis di mana pelaku memanipulasi korban agar meragukan realitasnya sendiri. Gaslighting bekerja bukan dengan kekuatan fisik, tetapi dengan narasi. Korban tidak lagi percaya pada instingnya, dan ketika insting mati, perlawanan menjadi hampir mustahil.

Dalam satu bagian buku, Aurelie menuliskan kurang lebih seperti ini:

“Aku tahu ada sesuatu yang salah, tapi setiap kali aku mencoba mengatakannya, aku justru merasa seperti orang yang tidak tahu berterima kasih.”
 (Broken Strings, hal. 31)

Kalimat ini merangkum inti kekerasan psikologis: ketika ketidaknyamanan diubah menjadi rasa bersalah.

Dalam konteks Bali, mekanisme ini diperkuat oleh budaya sosial. Banyak perempuan Bali dibesarkan dengan nilai:

“tidak membantah,
tidak mempermalukan keluarga,
dan tidak membawa konflik keluar rumah”

Jika seorang perempuan mengeluh tentang relasi yang menyakitkan, respons sosial yang sering muncul bukanlah “kamu berhak aman”, tetapi:

“Sabar saja.”
“Pikirkan keluarga.”
“Jangan bikin ribut.”

Budaya ini tidak menciptakan kekerasan, tetapi membuat kekerasan lebih mudah bertahan.

Kisah Aurelie akan mudah diremehkan jika dianggap sebagai “drama selebritas”. Namun ketika kita meletakkannya berdampingan dengan data sosial, kita melihat bahwa ini adalah pola, bukan anomali.

Media lokal Bali mencatat bahwa sepanjang 2024 terjadi 383 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Bali, mencakup kekerasan fisik, seksual, psikis, dan penelantaran ekonomi . Angka ini dilaporkan oleh Bali Post dan Detik Bali berdasarkan data lembaga perlindungan perempuan dan anak.

Pemerintah Provinsi Bali bahkan meluncurkan layanan SAPA 129 untuk menangani kekerasan terhadap perempuan dan anak, karena kasus-kasus ini dianggap sudah berada pada level darurat sosial .

Namun para aktivis perempuan Bali berulang kali mengingatkan: angka resmi selalu lebih kecil daripada realitas. Banyak perempuan tidak melapor karena:

“takut stigma,
takut kehilangan dukungan keluarga,
takut dipersalahkan”

Inilah yang disebut para feminis sebagai “kekerasan struktural”—bukan hanya karena seseorang memukul atau menyakiti, tetapi karena sistem sosial membuat korban tidak bisa mencari pertolongan tanpa risiko sosial yang besar.

Sering kali feminisme dituduh bertentangan dengan adat. Padahal di Bali, banyak perempuan justru menggunakan budaya sebagai alat perlawanan.

Penelitian tentang sastra dan ekspresi perempuan Bali menunjukkan bahwa perempuan Bali telah lama menulis, menari, dan berbicara untuk menantang peran yang membatasi mereka. Dalam karya sastra dan narasi lokal, perempuan tidak lagi hanya menjadi istri atau anak, tetapi subjek dengan hasrat, kemarahan, dan suara .

Feminisme Bali tidak selalu memakai istilah “feminis”. Kadang ia muncul sebagai:

ibu yang menolak menikahkan anaknya terlalu muda,
perempuan yang melapor kekerasan meski dicap membuka aib,
penulis yang menulis tentang tubuh dan trauma.

Di titik inilah Broken Strings menjadi penting. Buku ini memberikan bahasa kepada perempuan yang selama ini hanya punya diam.

Ketika Aurelie menulis kisahnya, ia bukan hanya sedang menyembuhkan diri. Ia sedang melanggar aturan tak tertulis patriarki: jangan bicara tentang apa yang terjadi di balik pintu tertutup.

Dalam masyarakat patriarkal, perempuan yang bersuara sering dicurigai:

dianggap mencari perhatian,
dituduh merusak reputasi,
atau diminta “move on”.

Feminisme menolak itu. Ia mengatakan bahwa mengingat adalah perlawanan.

Membaca Broken Strings dalam konteks Bali berarti membaca bagaimana:

perempuan diajarkan untuk mengalah,
luka diprivatisasi,
dan kuasa disamarkan sebagai cinta.

Broken Strings tidak menawarkan akhir yang rapi. Tidak ada keadilan puitis. Yang ada hanyalah suara yang akhirnya berani berbicara.

Dan mungkin itulah yang paling radikal.

Di Bali—di mana keharmonisan sering lebih dihargai daripada kebenaran—suara perempuan seperti ini adalah tindakan politik. Ia mengingatkan kita bahwa adat tanpa keadilan bukanlah kebijaksanaan, dan cinta tanpa kesetaraan bukanlah cinta.

Kisah Aurelie bukan milik satu orang. Ia adalah cermin bagi banyak perempuan yang diajarkan untuk diam.

Dan setiap kali seorang perempuan berkata, “Ini menyakitiku,” satu senar patriarki pun mulai retak. [T]

Penulis: Luh Putu Anggreny
Editor: Adnyana Ole

Tags: BukufeminismePerempuan BaliUlasan Buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perkawinan: Glorifikasi, No! Memuliakan, Yes!

Next Post

‘Pelawatan Barong Bang Masolah’ : Tanggung Jawab Kultural Krama Panyungsung

Luh Putu Anggreny

Luh Putu Anggreny

Penikmat kata dan halaman-halaman sunyi. Menyukai menulis dan membaca, serta hal-hal kecil yang sering terlewat. Sejak lama jatuh cinta pada senja—karena dari sanalah ia belajar bahwa keindahan sering datang bersama kefanaan. Dapat dijumpai di Instagram: @pt.anggreny_

Related Posts

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

by Hartanto
October 21, 2026
0
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

Read moreDetails

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
0
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

Read moreDetails

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

by Emi Suy
October 8, 2026
0
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

Read moreDetails

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails
Next Post
‘Pelawatan Barong Bang Masolah’ : Tanggung Jawab Kultural Krama Panyungsung

'Pelawatan Barong Bang Masolah' : Tanggung Jawab Kultural Krama Panyungsung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co