2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dentang yang Tak Pernah Sepenuhnya Hilang: Membaca ‘Broken Strings’ dalam Cermin Feminisme Perempuan Bali

Luh Putu Anggreny by Luh Putu Anggreny
January 13, 2026
in Ulas Buku
Dentang yang Tak Pernah Sepenuhnya Hilang: Membaca ‘Broken Strings’ dalam Cermin Feminisme Perempuan Bali

ADA jenis luka yang tidak berdarah, tetapi bergaung lebih lama dari suara jeritan. Ia hidup dalam ingatan, dalam rasa bersalah yang tak pernah sepenuhnya milik kita, dan dalam kalimat-kalimat yang terlalu sering diulang oleh perempuan: “Mungkin aku yang terlalu sensitif.” Dalam Broken Strings: Kepingan Masa Muda Yang Patah, Aurelie Moeremans menulis bukan sekadar tentang hubungan yang menyakitkan, melainkan tentang bagaimana kekuasaan menyusup ke dalam cinta, membungkus diri sebagai perhatian, dan perlahan mematahkan kehendak seseorang.

Buku ini bukan fiksi. Ia adalah memoar—catatan tentang bagaimana seorang remaja berusia 15 tahun masuk ke dalam relasi dengan laki-laki yang jauh lebih tua, dan bagaimana relasi itu berkembang bukan menjadi kemitraan, tetapi ketergantungan yang dikendalikan. Di salah satu bagian awal, Aurelie menulis bahwa ia merasa “dipilih” dan “diperhatikan”, tetapi di saat yang sama mulai merasakan kegelisahan yang tidak bisa ia beri nama. Perasaan itu ia gambarkan sebagai sesuatu yang seperti “ketika kamu merasa aman, tetapi juga merasa tidak boleh benar-benar menjadi dirimu sendiri”.

Apa yang diungkapkan Aurelie bukan hanya kisah cinta yang gagal. Ini adalah narasi grooming, manipulasi, dan kekerasan relasional—jenis kekerasan yang sering tidak dikenali karena tidak selalu muncul sebagai pukulan, melainkan sebagai kontrol emosional, isolasi sosial, dan pembalikan rasa bersalah.

Dan di titik inilah Broken Strings bertemu dengan konteks yang lebih luas: patriarki—sistem sosial yang membuat relasi timpang terasa wajar, yang mengajarkan perempuan untuk berterima kasih atas perhatian, bahkan ketika perhatian itu mulai terasa seperti penjara.

Ketika kisah ini dibaca dalam konteks perempuan Bali, resonansinya semakin kuat. Bukan karena semua perempuan Bali mengalami kekerasan seperti Aurelie, tetapi karena struktur budaya dan adat yang menekankan keharmonisan, rasa malu, dan loyalitas keluarga sering kali menciptakan ruang di mana luka perempuan lebih mudah disembunyikan daripada didengarkan.

Dalam salah satu kajian feminisme yang dimuat dalam website resmi konde.co, ada satu hal yang terus diulang: yang personal adalah politis. Pengalaman cinta, tubuh, dan relasi bukanlah wilayah netral; ia dibentuk oleh struktur sosial yang lebih besar. Broken Strings memperlihatkan ini dengan telanjang.

Relasi yang ditulis Aurelie dimulai dari sesuatu yang tampak sederhana: perhatian, hadiah, perasaan “dipahami”. Namun perlahan, relasi itu berubah menjadi sistem yang membuatnya bergantung secara emosional dan sosial. Dalam satu bagian buku, Aurelie menggambarkan bagaimana ia mulai menjauh dari teman-temannya karena pasangannya tidak menyukai mereka. Ia menuliskan perasaan bersalah karena memilih orang lain selain pasangannya—seolah hidupnya harus berpusat pada satu figur.

Ia menuliskan semacam pengakuan:

“Aku mulai merasa bersalah setiap kali aku ingin melakukan sesuatu tanpa dia.” — (Broken Strings, hal. 130)

Kalimat ini adalah ciri klasik relasi abusif. Di sinilah kekerasan tidak lagi berbentuk tindakan tunggal, tetapi menjadi lingkungan psikologis. Korban tidak lagi bertanya “apakah ini salah?”, melainkan “apa yang salah denganku?”.

Relasi ini juga memperlihatkan ketimpangan usia dan kuasa. Dalam teori feminis dan psikologi trauma, perbedaan usia yang besar—terutama ketika salah satu pihak masih remaja—menciptakan ketidakseimbangan pengetahuan, pengalaman, dan posisi tawar. Ketika pihak yang lebih tua juga memiliki kontrol ekonomi atau sosial, relasi itu semakin tidak setara.

Dalam Broken Strings, Aurelie menulis bagaimana pasangannya sering memposisikan dirinya sebagai satu-satunya orang yang benar-benar “mengerti” dirinya. Ini adalah teknik klasik grooming: membuat korban merasa dunia di luar relasi itu tidak aman atau tidak penting. Hal ini juga berhubungan erat dengan budaya patriarki yang tetap ada di masyarakat.

Patriarki sering disalahpahami sebagai sekadar “laki-laki jahat”. Padahal, ia adalah sistem nilai dan struktur sosial yang mengajarkan bahwa laki-laki lebih pantas memimpin, menentukan, dan mengontrol. Dalam sistem ini, perempuan dididik untuk menjadi penyesuai, bukan penentu.

Relasi seperti yang dialami Aurelie tidak muncul dalam ruang hampa. Ia tumbuh dalam budaya yang masih sering memuja:

“laki-laki yang lebih tua sebagai “lebih tahu”, perempuan muda sebagai “lebih lugu”, dan perbedaan kuasa sebagai sesuatu yang romantis”.

Dalam banyak masyarakat—termasuk Bali—perempuan diajarkan untuk bersyukur atas perhatian laki-laki, bahkan ketika perhatian itu mulai melampaui batas.

Di Bali, patriarki memiliki wajah yang khas. Sistem adat Bali bersifat patrilineal (purusa), di mana garis keturunan, warisan, dan status keluarga mengikuti pihak laki-laki. Perempuan yang menikah dianggap “keluar” dari keluarga asalnya dan masuk ke keluarga suami. Struktur ini berdampak pada posisi tawar perempuan dalam keluarga, ekonomi, dan keputusan sosial.

Penelitian tentang hukum waris Hindu di Bali menunjukkan bahwa prioritas diberikan kepada anak laki-laki dalam pewarisan dan status keluarga, sementara perempuan sering berada pada posisi yang lebih lemah secara struktural . Ini bukan sekadar soal harta. Ini tentang siapa yang dianggap pusat, dan siapa yang harus menyesuaikan diri.

Dalam budaya Bali, keharmonisan (Rwa Bhineda Dan Tri Hita Karana) sangat dijunjung tinggi. Namun, di tingkat sosial, keharmonisan ini sering diterjemahkan menjadi menahan konflik, menutup luka, dan menjaga nama baik keluarga.

Kajian tentang politik tubuh perempuan Bali menunjukkan bahwa tubuh perempuan sering tidak hanya milik dirinya, tetapi juga milik keluarga, adat, dan komunitas. Cara berpakaian, berperilaku, bahkan berbicara diawasi oleh norma sosial yang ketat .

Ini berdampak besar ketika kekerasan terjadi. Banyak perempuan enggan melapor karena takut dianggap:

  • merusak reputasi keluarga,
  • membuka aib,
  • atau gagal menjadi “perempuan baik”.

Data media lokal menunjukkan bahwa kekerasan terhadap perempuan di Bali bukanlah hal kecil. Sepanjang tahun 2024 saja, tercatat 383 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Bali, mencakup kekerasan fisik, psikis, seksual, dan ekonomi .

Namun angka ini hanyalah puncak gunung es. Dalam masyarakat dengan budaya malu yang kuat, banyak kasus tidak pernah sampai ke statistik. Dalam konteks ini, pengalaman Aurelie terasa sangat dekat: rasa bersalah karena bersuara, ketakutan karena tidak ingin merusak relasi, dan tekanan untuk tetap “baik-baik saja”.

Di sinilah feminisme menjadi penting—bukan sebagai ideologi asing, tetapi sebagai alat untuk memahami pengalaman perempuan secara struktural.

Feminisme mengatakan bahwa:

“Jika banyak perempuan mengalami pola yang sama,
maka itu bukan kebetulan,
melainkan sistem.”

Dalam Broken Strings, Aurelie menuliskan perasaan bertanya-tanya apakah ia terlalu lemah, terlalu cemburu, atau terlalu bergantung. Feminisme menjawab pertanyaan itu dengan keras: bukan kamu yang salah; sistemnya yang timpang.

Di Bali sendiri, berbagai kajian dan gerakan perempuan menunjukkan upaya untuk mendekonstruksi patriarki dari dalam budaya—melalui sastra, aktivisme, dan reinterpretasi adat.. Feminisme Bali tidak selalu berteriak; ia sering bekerja melalui cerita, ritual, dan solidaritas sunyi. Tapi tujuannya sama: membuka ruang bagi suara perempuan.

___

Salah satu hal paling berbahaya dari relasi abusif adalah kemampuannya untuk terlihat “normal”. Tidak ada teriakan. Tidak ada lebam yang bisa difoto. Yang ada hanyalah perasaan tertekan, bersalah, dan kehilangan diri.

Dalam Broken Strings, Aurelie berkali-kali menuliskan bagaimana ia mulai meragukan perasaannya sendiri. Ia tahu ada yang tidak beres, tetapi tidak bisa menunjuknya. Ia menuliskan bahwa setiap kali ia merasa tidak nyaman, pasangannya akan membuatnya merasa seolah itu adalah kesalahannya—ia terlalu sensitif, terlalu dramatis, atau tidak cukup bersyukur.

Inilah yang dalam kajian feminis disebut gaslighting: bentuk kekerasan psikologis di mana pelaku memanipulasi korban agar meragukan realitasnya sendiri. Gaslighting bekerja bukan dengan kekuatan fisik, tetapi dengan narasi. Korban tidak lagi percaya pada instingnya, dan ketika insting mati, perlawanan menjadi hampir mustahil.

Dalam satu bagian buku, Aurelie menuliskan kurang lebih seperti ini:

“Aku tahu ada sesuatu yang salah, tapi setiap kali aku mencoba mengatakannya, aku justru merasa seperti orang yang tidak tahu berterima kasih.”
 (Broken Strings, hal. 31)

Kalimat ini merangkum inti kekerasan psikologis: ketika ketidaknyamanan diubah menjadi rasa bersalah.

Dalam konteks Bali, mekanisme ini diperkuat oleh budaya sosial. Banyak perempuan Bali dibesarkan dengan nilai:

“tidak membantah,
tidak mempermalukan keluarga,
dan tidak membawa konflik keluar rumah”

Jika seorang perempuan mengeluh tentang relasi yang menyakitkan, respons sosial yang sering muncul bukanlah “kamu berhak aman”, tetapi:

“Sabar saja.”
“Pikirkan keluarga.”
“Jangan bikin ribut.”

Budaya ini tidak menciptakan kekerasan, tetapi membuat kekerasan lebih mudah bertahan.

Kisah Aurelie akan mudah diremehkan jika dianggap sebagai “drama selebritas”. Namun ketika kita meletakkannya berdampingan dengan data sosial, kita melihat bahwa ini adalah pola, bukan anomali.

Media lokal Bali mencatat bahwa sepanjang 2024 terjadi 383 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Bali, mencakup kekerasan fisik, seksual, psikis, dan penelantaran ekonomi . Angka ini dilaporkan oleh Bali Post dan Detik Bali berdasarkan data lembaga perlindungan perempuan dan anak.

Pemerintah Provinsi Bali bahkan meluncurkan layanan SAPA 129 untuk menangani kekerasan terhadap perempuan dan anak, karena kasus-kasus ini dianggap sudah berada pada level darurat sosial .

Namun para aktivis perempuan Bali berulang kali mengingatkan: angka resmi selalu lebih kecil daripada realitas. Banyak perempuan tidak melapor karena:

“takut stigma,
takut kehilangan dukungan keluarga,
takut dipersalahkan”

Inilah yang disebut para feminis sebagai “kekerasan struktural”—bukan hanya karena seseorang memukul atau menyakiti, tetapi karena sistem sosial membuat korban tidak bisa mencari pertolongan tanpa risiko sosial yang besar.

Sering kali feminisme dituduh bertentangan dengan adat. Padahal di Bali, banyak perempuan justru menggunakan budaya sebagai alat perlawanan.

Penelitian tentang sastra dan ekspresi perempuan Bali menunjukkan bahwa perempuan Bali telah lama menulis, menari, dan berbicara untuk menantang peran yang membatasi mereka. Dalam karya sastra dan narasi lokal, perempuan tidak lagi hanya menjadi istri atau anak, tetapi subjek dengan hasrat, kemarahan, dan suara .

Feminisme Bali tidak selalu memakai istilah “feminis”. Kadang ia muncul sebagai:

ibu yang menolak menikahkan anaknya terlalu muda,
perempuan yang melapor kekerasan meski dicap membuka aib,
penulis yang menulis tentang tubuh dan trauma.

Di titik inilah Broken Strings menjadi penting. Buku ini memberikan bahasa kepada perempuan yang selama ini hanya punya diam.

Ketika Aurelie menulis kisahnya, ia bukan hanya sedang menyembuhkan diri. Ia sedang melanggar aturan tak tertulis patriarki: jangan bicara tentang apa yang terjadi di balik pintu tertutup.

Dalam masyarakat patriarkal, perempuan yang bersuara sering dicurigai:

dianggap mencari perhatian,
dituduh merusak reputasi,
atau diminta “move on”.

Feminisme menolak itu. Ia mengatakan bahwa mengingat adalah perlawanan.

Membaca Broken Strings dalam konteks Bali berarti membaca bagaimana:

perempuan diajarkan untuk mengalah,
luka diprivatisasi,
dan kuasa disamarkan sebagai cinta.

Broken Strings tidak menawarkan akhir yang rapi. Tidak ada keadilan puitis. Yang ada hanyalah suara yang akhirnya berani berbicara.

Dan mungkin itulah yang paling radikal.

Di Bali—di mana keharmonisan sering lebih dihargai daripada kebenaran—suara perempuan seperti ini adalah tindakan politik. Ia mengingatkan kita bahwa adat tanpa keadilan bukanlah kebijaksanaan, dan cinta tanpa kesetaraan bukanlah cinta.

Kisah Aurelie bukan milik satu orang. Ia adalah cermin bagi banyak perempuan yang diajarkan untuk diam.

Dan setiap kali seorang perempuan berkata, “Ini menyakitiku,” satu senar patriarki pun mulai retak. [T]

Penulis: Luh Putu Anggreny
Editor: Adnyana Ole

Tags: BukufeminismePerempuan BaliUlasan Buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perkawinan: Glorifikasi, No! Memuliakan, Yes!

Next Post

‘Pelawatan Barong Bang Masolah’ : Tanggung Jawab Kultural Krama Panyungsung

Luh Putu Anggreny

Luh Putu Anggreny

Penikmat kata dan halaman-halaman sunyi. Menyukai menulis dan membaca, serta hal-hal kecil yang sering terlewat. Sejak lama jatuh cinta pada senja—karena dari sanalah ia belajar bahwa keindahan sering datang bersama kefanaan. Dapat dijumpai di Instagram: @pt.anggreny_

Related Posts

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
0
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

Read moreDetails

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails
Next Post
‘Pelawatan Barong Bang Masolah’ : Tanggung Jawab Kultural Krama Panyungsung

'Pelawatan Barong Bang Masolah' : Tanggung Jawab Kultural Krama Panyungsung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co