2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perkawinan: Glorifikasi, No! Memuliakan, Yes!

Wisnu Widjanarko by Wisnu Widjanarko
January 13, 2026
in Esai
Mempertanyakan Cinta : Meniti Rasa, Menata Jiwa

Wisnu Widjanarko

Prolog

Belum usai riuhnya isu perselingkuhan mewarnai jagat pemberitaan di media massa dan unggahan di media sosial. Kini, kembali diramaikan tentang adanya unggahan di media sosial yang memberi impresi anjuran nikah muda. Tentu saja, ada pro dan kontra menyikapi hal tersebut.

Ada yang mengatakan hal tersebut sebagai sesuatu yang progresif, berfikir out of the box, termasuk memiliki dimensi religi. Sebaliknya, ada yang mengatakan hal tersebut justru sebagai kemunduran, sesat fikir, bahkan gagal dalam memahami konteks religiusitas atas isu tersebut.  Namun semuanya, kedua kutub pemikiran tersebut; kita berbaik sangka untuk berangkat dari pemikiran, bahwa semua diawali dari asumsi kebolehjadian, bahwa opsi yang diambil tentu memiliki benefitnya tersendiri dari sudut pandangnya.

Hal ini tentunya menarik untuk disimak dari perspektif komunikasi keluarga, dan menimbulkan ragam pertanyaan, seperti mengapa orang mau menikah? Lalu, apa yang  harus disiapkan ketika mereka memilih menikah sebagai bagian dari jalan kehidupannya?

Perkawinan: Bukan Sekadar Cinta Belaka

Mari kita mulai yang pertama, mengapa orang menikah? Selain karena ketertarikan secara individual yang kerap dibahasakan sebagai ‘jatuh cinta’, maka ada hal yang juga membuat membuat seseorang memutuskan untuk terikat dalam ikatan perkawinan, yakni mempertimbangkan aspek teologis, aspek legal, dan aspek sosiokultural.

Secara teologis, orang menikah karena dilandasi keyakinan bahwa menikah merupakan bagian dari ibadah, jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya, sekaligus menghindari dari hal-hal yang identik dengan salah dan dosa.  Sehingga, melalui perkawinan diharapkan menjadi momen artikulasi rasa kasih sayang sekaligus sarana untuk melanjutkan keturunan yang dilandasi oleh keyakinan atas nilai-nilai religiusitas dan spiritualitas.  Lalu, orang menikah karena berkepentingan pada aspek legal.

Perkawinan diyakini tidak hanya menyatunya dua hati, melainkan juga melekat konsekuensi, seperti status di mata hukum, baik buat pasangan maupun anak-anak yang dilahirkan. Status hukum memberi kenyamanan atas relasi yang terbangun, termasuk berkaitan dengan aset serta layanan administrasi publik yang bisa jadi diterima. 

Kemudian, orang juga menikah karena mencermati nilai yang berlaku secara sosial budaya. Menikah dalam budaya tertentu dianggap sebagai sebuah pencapaian dalam kehidupan, baik bagi keluarga yang menikahkan anaknya, maupun bagi anak yang berencana akan menikah.

Gambaran di atas secara jelas menunjukkan, bahwa perkawinan merupakan sesuatu yang memiliki nilai positif baik dari pandangan keagamaan, hukum, maupun sosial budaya. Sehingga, tidak salah ketika seseorang menikah, maka dia akan dipersepsikan sebagai pribadi yang mampu meletakkan relasi romantiknya dalam bingkai menjalankan aturan agama dan keyakinannya dengan baik, dalam kerangka legal yang diakui negara, sekaligus memenuhi norma-norma yang berlaku di masyarakat yang meletakkan perkawinan sebagai sebuah nilai tersendiri.

Menyegerakan itu Baik, Memaksakan Diri? Jelas Tidak Baik

Nah, yang menjadi permasalahan adalah ketika perkawinan diglorifikasi sebagai jawaban tunggal dari semua permasalahan, termasuk menjadikannya  suatu tekanan bahkan melabelkan tertentu bernada minor bagi mereka yang belum mengambil keputusan untuk segera menikah.  Menyegerakan perkawinan bagi mereka yang sudah siap dan tak terhalang apa pun adalah sebuah pilihan yang tidak salah.

Namun, mengkampanyekan bahwa yang tidak memilih opsi tersebut sebagai sesuatu yang keliru, justru sebuah kekeliruan. Bila ini sungguh-sungguh terjadi, pada titik inilah, kemuliaan sebuah perkawinan ‘direnggut’ paksa oleh pemikiran yang justru membuat perkawinan kehilangan esensi kebahagiannya.

Mengapa demikian? Menikah membutuhkan kematangan emosional sekaligus kesiapan finansial, di mana setiap orang berbeda situasinya. Menikah juga membutuhkan dukungan moral dari keluarga, di mana untuk hal tersebut setiap orang punya ceritanya masing-masing.  Menikah adalah perjumpaan dua kepribadian yang senantiasa menyelaraskan kepentingan dalam dialektika relasi yang membutuhkan kedewasaan berfikir, kematangan bersikap, dan kalkulasi dalam bertindak. 

Setiap orang berhak punya versinya sendiri dalam mempersiapkan perkawinannya, agar mengurangi setiap resiko kegagalan. Setiap orang punya lini masanya masing-masing untuk memastikan yang akan dijalaninya menjadi momen sepenuh bahagia dengan dinamikanya. Ibarat sebuah etape kehidupan, maka perkawinan bagi masing-masing pasangan memiliki peta jalannya masing-masing, yang tidak bisa disamakan satu sama lain, meskipun tujuannya sama, yakni mencurahkan kasih sayang dalam keintiman dan komitmen yang tak berkesudahan.

Walhasil, bila merujuk pada konsep komunikasi keluarga,  maka perkawinan jelas bukan suatu yang bersifat statis dan final. Perkawinan justru merupakan sebuah proses yang bersifat terus-menerus, dinamis, dan berkelanjutan di mana berbagi peran dan kewenangan, ada dinamika dalam pengambilan keputusan, termasuk konflik yang membutuhkan kecakapan komunikasi yang mumpuni terkait hal tersebut. 

Artinya, perkawinan membutuhkan kesiapan yang tidak bisa digeneralisasi satu sama lain, yang sangat tergantung dari sejauhmana pengetahuan masing-masing pasangan tentang hakikat perkawinan,  sehingga terlebih dahulu saling mengenal, terbuka, dan percaya satu sama lain. 

Atau dengan kata lain, kompleksitas dari suatu perkawinan yang ada, rasanya menjadi tidaklah adil ketika disederhanakan begitu saja. Setiap orang berhak untuk berproses dengan caranya masing-masing sesuai dengan keadaannya. Sehingga, ketika saatnya tiba, maka perkawinan menjadi jalan untuk memuliakan kehidupan, sebagai ikhtiar untuk menemukan kebahagiaan yang hakiki, baik sebagai manusia maupun hamba-Nya. 

Persiapan yang matang bagi mereka yang akan menjalani perkawinan, merupakan sarana untuk memuliakan dan menghormati institusi perkawinan sebagai ruang untuk berbagi kasih sayang dan penghormatan dengan pasangan yang akan menghabiskan sisa waktu hidupnya bersama, termasuk kelak dengan anak keturunannya.

Epilog

Perkawinan adalah sebuah pilihan yang dijalani dalam mengelola rasa kasih sayang dan kenyamanan dalam sebuah komitmen yang melekat padanya nilai-nilai teologis, legal, dan sosiokultural.  Memiliki pengetahuan dan pemahaman yang komprehensif tentang perkawinan, sungguh akan sangat membantu dalam mempersiapkan ikatan suci tersebut sebagai ruang perjumpaan yang membahagiakan.

Memuliakan perkawinan tidaklah menjadikan pasangan suami istri menjadi nirkonflik, melainkan memampukan diri untuk saling terhubung dan senantiasa menghargai perspektif masing-masing,  mendialogkan apa yang dipikirkan dan dirasakan, seraya menyesuaikan diri untuk berbincang dan menyimak apa yang ada di benak dan rasa. [T]

Penulis: Wisnu Widjanarko
Editor: Adnyana Ole

Tags: cintaglorifikasiperkawinansuami istri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘No Viral, No Justice’

Next Post

Dentang yang Tak Pernah Sepenuhnya Hilang: Membaca ‘Broken Strings’ dalam Cermin Feminisme Perempuan Bali

Wisnu Widjanarko

Wisnu Widjanarko

Dosen Psikologi Komunikasi dan Komunikasi Keluarga pada Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Dentang yang Tak Pernah Sepenuhnya Hilang: Membaca ‘Broken Strings’ dalam Cermin Feminisme Perempuan Bali

Dentang yang Tak Pernah Sepenuhnya Hilang: Membaca 'Broken Strings' dalam Cermin Feminisme Perempuan Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co