23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perkawinan: Glorifikasi, No! Memuliakan, Yes!

Wisnu Widjanarko by Wisnu Widjanarko
January 13, 2026
in Esai
Mempertanyakan Cinta : Meniti Rasa, Menata Jiwa

Wisnu Widjanarko

Prolog

Belum usai riuhnya isu perselingkuhan mewarnai jagat pemberitaan di media massa dan unggahan di media sosial. Kini, kembali diramaikan tentang adanya unggahan di media sosial yang memberi impresi anjuran nikah muda. Tentu saja, ada pro dan kontra menyikapi hal tersebut.

Ada yang mengatakan hal tersebut sebagai sesuatu yang progresif, berfikir out of the box, termasuk memiliki dimensi religi. Sebaliknya, ada yang mengatakan hal tersebut justru sebagai kemunduran, sesat fikir, bahkan gagal dalam memahami konteks religiusitas atas isu tersebut.  Namun semuanya, kedua kutub pemikiran tersebut; kita berbaik sangka untuk berangkat dari pemikiran, bahwa semua diawali dari asumsi kebolehjadian, bahwa opsi yang diambil tentu memiliki benefitnya tersendiri dari sudut pandangnya.

Hal ini tentunya menarik untuk disimak dari perspektif komunikasi keluarga, dan menimbulkan ragam pertanyaan, seperti mengapa orang mau menikah? Lalu, apa yang  harus disiapkan ketika mereka memilih menikah sebagai bagian dari jalan kehidupannya?

Perkawinan: Bukan Sekadar Cinta Belaka

Mari kita mulai yang pertama, mengapa orang menikah? Selain karena ketertarikan secara individual yang kerap dibahasakan sebagai ‘jatuh cinta’, maka ada hal yang juga membuat membuat seseorang memutuskan untuk terikat dalam ikatan perkawinan, yakni mempertimbangkan aspek teologis, aspek legal, dan aspek sosiokultural.

Secara teologis, orang menikah karena dilandasi keyakinan bahwa menikah merupakan bagian dari ibadah, jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya, sekaligus menghindari dari hal-hal yang identik dengan salah dan dosa.  Sehingga, melalui perkawinan diharapkan menjadi momen artikulasi rasa kasih sayang sekaligus sarana untuk melanjutkan keturunan yang dilandasi oleh keyakinan atas nilai-nilai religiusitas dan spiritualitas.  Lalu, orang menikah karena berkepentingan pada aspek legal.

Perkawinan diyakini tidak hanya menyatunya dua hati, melainkan juga melekat konsekuensi, seperti status di mata hukum, baik buat pasangan maupun anak-anak yang dilahirkan. Status hukum memberi kenyamanan atas relasi yang terbangun, termasuk berkaitan dengan aset serta layanan administrasi publik yang bisa jadi diterima. 

Kemudian, orang juga menikah karena mencermati nilai yang berlaku secara sosial budaya. Menikah dalam budaya tertentu dianggap sebagai sebuah pencapaian dalam kehidupan, baik bagi keluarga yang menikahkan anaknya, maupun bagi anak yang berencana akan menikah.

Gambaran di atas secara jelas menunjukkan, bahwa perkawinan merupakan sesuatu yang memiliki nilai positif baik dari pandangan keagamaan, hukum, maupun sosial budaya. Sehingga, tidak salah ketika seseorang menikah, maka dia akan dipersepsikan sebagai pribadi yang mampu meletakkan relasi romantiknya dalam bingkai menjalankan aturan agama dan keyakinannya dengan baik, dalam kerangka legal yang diakui negara, sekaligus memenuhi norma-norma yang berlaku di masyarakat yang meletakkan perkawinan sebagai sebuah nilai tersendiri.

Menyegerakan itu Baik, Memaksakan Diri? Jelas Tidak Baik

Nah, yang menjadi permasalahan adalah ketika perkawinan diglorifikasi sebagai jawaban tunggal dari semua permasalahan, termasuk menjadikannya  suatu tekanan bahkan melabelkan tertentu bernada minor bagi mereka yang belum mengambil keputusan untuk segera menikah.  Menyegerakan perkawinan bagi mereka yang sudah siap dan tak terhalang apa pun adalah sebuah pilihan yang tidak salah.

Namun, mengkampanyekan bahwa yang tidak memilih opsi tersebut sebagai sesuatu yang keliru, justru sebuah kekeliruan. Bila ini sungguh-sungguh terjadi, pada titik inilah, kemuliaan sebuah perkawinan ‘direnggut’ paksa oleh pemikiran yang justru membuat perkawinan kehilangan esensi kebahagiannya.

Mengapa demikian? Menikah membutuhkan kematangan emosional sekaligus kesiapan finansial, di mana setiap orang berbeda situasinya. Menikah juga membutuhkan dukungan moral dari keluarga, di mana untuk hal tersebut setiap orang punya ceritanya masing-masing.  Menikah adalah perjumpaan dua kepribadian yang senantiasa menyelaraskan kepentingan dalam dialektika relasi yang membutuhkan kedewasaan berfikir, kematangan bersikap, dan kalkulasi dalam bertindak. 

Setiap orang berhak punya versinya sendiri dalam mempersiapkan perkawinannya, agar mengurangi setiap resiko kegagalan. Setiap orang punya lini masanya masing-masing untuk memastikan yang akan dijalaninya menjadi momen sepenuh bahagia dengan dinamikanya. Ibarat sebuah etape kehidupan, maka perkawinan bagi masing-masing pasangan memiliki peta jalannya masing-masing, yang tidak bisa disamakan satu sama lain, meskipun tujuannya sama, yakni mencurahkan kasih sayang dalam keintiman dan komitmen yang tak berkesudahan.

Walhasil, bila merujuk pada konsep komunikasi keluarga,  maka perkawinan jelas bukan suatu yang bersifat statis dan final. Perkawinan justru merupakan sebuah proses yang bersifat terus-menerus, dinamis, dan berkelanjutan di mana berbagi peran dan kewenangan, ada dinamika dalam pengambilan keputusan, termasuk konflik yang membutuhkan kecakapan komunikasi yang mumpuni terkait hal tersebut. 

Artinya, perkawinan membutuhkan kesiapan yang tidak bisa digeneralisasi satu sama lain, yang sangat tergantung dari sejauhmana pengetahuan masing-masing pasangan tentang hakikat perkawinan,  sehingga terlebih dahulu saling mengenal, terbuka, dan percaya satu sama lain. 

Atau dengan kata lain, kompleksitas dari suatu perkawinan yang ada, rasanya menjadi tidaklah adil ketika disederhanakan begitu saja. Setiap orang berhak untuk berproses dengan caranya masing-masing sesuai dengan keadaannya. Sehingga, ketika saatnya tiba, maka perkawinan menjadi jalan untuk memuliakan kehidupan, sebagai ikhtiar untuk menemukan kebahagiaan yang hakiki, baik sebagai manusia maupun hamba-Nya. 

Persiapan yang matang bagi mereka yang akan menjalani perkawinan, merupakan sarana untuk memuliakan dan menghormati institusi perkawinan sebagai ruang untuk berbagi kasih sayang dan penghormatan dengan pasangan yang akan menghabiskan sisa waktu hidupnya bersama, termasuk kelak dengan anak keturunannya.

Epilog

Perkawinan adalah sebuah pilihan yang dijalani dalam mengelola rasa kasih sayang dan kenyamanan dalam sebuah komitmen yang melekat padanya nilai-nilai teologis, legal, dan sosiokultural.  Memiliki pengetahuan dan pemahaman yang komprehensif tentang perkawinan, sungguh akan sangat membantu dalam mempersiapkan ikatan suci tersebut sebagai ruang perjumpaan yang membahagiakan.

Memuliakan perkawinan tidaklah menjadikan pasangan suami istri menjadi nirkonflik, melainkan memampukan diri untuk saling terhubung dan senantiasa menghargai perspektif masing-masing,  mendialogkan apa yang dipikirkan dan dirasakan, seraya menyesuaikan diri untuk berbincang dan menyimak apa yang ada di benak dan rasa. [T]

Penulis: Wisnu Widjanarko
Editor: Adnyana Ole

Tags: cintaglorifikasiperkawinansuami istri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘No Viral, No Justice’

Next Post

Dentang yang Tak Pernah Sepenuhnya Hilang: Membaca ‘Broken Strings’ dalam Cermin Feminisme Perempuan Bali

Wisnu Widjanarko

Wisnu Widjanarko

Dosen Psikologi Komunikasi dan Komunikasi Keluarga pada Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Dentang yang Tak Pernah Sepenuhnya Hilang: Membaca ‘Broken Strings’ dalam Cermin Feminisme Perempuan Bali

Dentang yang Tak Pernah Sepenuhnya Hilang: Membaca 'Broken Strings' dalam Cermin Feminisme Perempuan Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co