13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Pelawatan Barong Bang Masolah’ : Tanggung Jawab Kultural Krama Panyungsung

I Gusti Made Darma Putra by I Gusti Made Darma Putra
January 13, 2026
in Esai
‘Pelawatan Barong Bang Masolah’ : Tanggung Jawab Kultural Krama Panyungsung

Pelawatan Barong Bang Masolah

SEJAK dulu, kehidupan masyarakat Banjar Temacun dan Banjar Pemamoran Kuta telah dilingkupi oleh kehadiran Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bang. Beliau tidak hadir sebagai sesuatu yang terpisah dari kehidupan krama panyungsung, melainkan tumbuh bersama ingatan yang diwariskan lintas generasi, mengiringi ritme spiritual yang secara perlahan membentuk kesadaran dan rasa kultural.

Keberadaan Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bang bukanlah entitas yang berjarak dari kehidupan masyarakat kedua banjar tersebut. Beliau hidup dalam memori sosial masyarakat, menyatu dalam ruang spiritual, dan sejak usia dini membentuk rasa, sikap batin, serta kesadaran kultural saya. PelawatanBarong Bang pun tidak hadir sebagai simbol, melainkan sebagai laku hidup yang terus berdenyut di tengah dinamika kehidupan masyarakat Kuta.

Saya menyadari bahwa ketika pelawatan Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bang masolah, tidak pernah berdiri pada logika estetika panggung semata. beliau berada dalam ranah ritual performance yaitu istilah yang menempatkan seni sebagai praktik simbolik sarat makna, bukan sekadar representasi visual. Dalam konteks ini, tubuh pragina berfungsi sebagai medium transformatif, sementara “Pura” menjadi ruang liminal, ruang peralihan, di mana batas antara sekala dan niskala mencair. Masolah bukanlah showing, melainkan becoming, sebuah proses menjadi, sebuah peristiwa hidup.

 Pada Jumat, 3 Januari 2025, yang bertepatan dengan rahina suci Tumpek Krulut dan Purnama, Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bang masolah di Pura Sada, Desa Adat Kuta. Peristiwa ini sebagai momentum ritual dan kultural yang mempertautkan hubungan antara manusia, alam, dan kekuatan niskala yang dipuja. Tumpek Krulut yang dimaknai sebagai hari pemuliaan rasa, keindahan, dan getaran batin menjadi ruang waktu yang tepat ketika Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bang masolah, menampakkan gerak sebagai manifestasi kekuatan pelindung dan keharmonisan kosmis.

Pelawatan masolah merupakan aktivitas budaya religius yang diwarisi secara turun-temurun oleh masyarakat pengempon dan panyungsung, baik dalam wujud Pelawatan Barong maupun Pelawatan Rangda. Kata “masolah” yang secara harfiah berarti “menari” dalam konteks ini tidak dapat dipahami semata sebagai gerak tubuh atau susunan koreografi. Masolah adalah bahasa simbolik, sebuah laku persembahan yang menghadirkan dialog antara sekala dan niskala, antara rasa bhakti dan kesadaran krama panyungsung. Pada titik ini, pelawatan masolah tidak lagi berbicara tentang gerak pragina, melainkan tentang gerak yang dipercaya telah “diisi” oleh taksu dan kekuatan suci Ida Sasuhunan.

Dalam esai ini, pembahasan difokuskan pada Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bang Kuta sebagai entitas sakral yang hidup dalam ingatan budaya masyarakat panyungsung. Pelawatan Barong Bang tidak hanya diposisikan sebagai simbol pelindung, tetapi juga sebagai cermin filosofi keseimbangan hidup.

Aktivitas pelawatan masolah bukan dramatika konflik, melainkan visualisasi keseimbangan. Kehadiran tari Telek, Sesandaran, serta Jauk atau Omang menghadirkan dua sisi penyeimbang yang mengingatkan bahwa kehidupan berjalan dalam ritme dan harmoni. Dalam konteks ritual, pelawatan masolah menjadi pengingat bahwa keseimbangan desa tidak lahir dari penghapusan perbedaan, melainkan dari kesadaran untuk merawatnya.

Salah satu aspek paling penting dalam memahami pelawatan masolah adalah keberadaan Taksu. Taksu bukan sekadar aura artistik, melainkan daya hidup yang muncul dari keselarasan antara niat suci, laku bhakti, dan kesiapan batin. Pada saat Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bang masolah, yang hadir bukan hanya bentuk fisik pelawatan, tetapi juga kekuatan spiritual yang dipercaya malinggih dan menghidupkan setiap geraknya.

Dalam konteks ini, penari bukan subjek utama. Tubuh pragina berfungsi sebagai medium, sementara pusat kesadaran berada pada Ida Sasuhunan itu sendiri. Oleh karena itu, masolah tidak pernah dipahami sebagai unjuk keterampilan individu, melainkan sebagai peristiwa sakral ketika taksu bekerja dan dirasakan bersama oleh krama. Getaran batin, rasa merinding, hingga keheningan kolektif menjadi indikator kehadiran taksu yang diterima secara bersama-sama.

Pelaksanaan masolah pada Tumpek Krulut memberikan landasan filosofis yang kuat terhadap dimensi rasa. Krulut tidak semata dimaknai sebagai keindahan bunyi atau estetika visual, melainkan sebagai getaran rasa yang menyentuh batin terdalam. Pelawatan Barong Bang masolah pada hari suci ini menjadi media penyaluran spirit keindahan, sebuah komunikasi rasa antara Ida Sasuhunan dan umatnya. Tabuh iringan yang diwarisi secara turun-temurun, berpadu dengan respons emosional krama panyungsung, membentuk pengalaman estetikamspiritual yang utuh. Keindahan, dalam konteks ini, hadir sebagai proses penyucian batin.

Ngiring masolah pada hakikatnya adalah laku bhakti. Ia bukan pertunjukan yang menuntut apresiasi penonton, melainkan persembahan tulus kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa melalui manifestasi Ida Sasuhunan. Setiap unsur dalam pertunjukan ini baik mulai dari persiapan pelawatan, iringan gamelan, hingga keterlibatan krama merupakan bentuk pengabdian kolektif. Dalam perspektif ini, masolah tidak mengenal konsep “penonton” melainkan keterlibatan semua dalam menyertai dan menguatkan proses ritual.

Memahami Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bang masolah sebagai ritual berarti menempatkannya dalam kerangka sakral, bukan profan. Ia tidak dirancang untuk konsumsi visual semata, melainkan sebagai bagian integral dari sistem kepercayaan dan tata kehidupan krama panyungsung. Pelawatan Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bang masolah adalah living ritual atau peristiwa hidup yang menjaga denyut spiritual, memperkuat identitas kolektif, dan menegaskan bahwa seni di Kuta selalu berakar pada bhakti dan filosofi hidup.

Dari sudut pandang estetika ritual, keindahan saat Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bangmesolah tidak dapat diukur melalui standar koreografis modern. Keindahan hadir sebagai pengalaman afektif kolektif ialah getaran rasa yang dialami bersama. Taksu, dalam hal ini, dapat dipahami sebagai embodied aesthetics, di mana nilai keindahan melekat pada keselarasan niat, laku, dan konteks sakral.

Dalam diskursus antropologi budaya, Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bang mesolah dapat dibaca sebagai warisan budaya takbenda (intangible cultural heritage) yang hidup karena dipraktikkan, bukan sekadar didokumentasikan. Keberlanjutannya ditentukan oleh konsistensi laku bhakti masyarakat panyungsungnya. Di tengah Kuta sebagai ruang global yang terus bergerak, masolah menjadi penanda identitas yang tegas bahwa ada nilai-nilai spiritual yang tidak dapat dinegosiasikan.

Menulis tentang Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bang mesolah bagi saya bukanlah upaya mengobjektifikasi tradisi, melainkan bentuk tanggung jawab kultural. Sebuah ikhtiar untuk menjaga agar praktik sakral ini tetap dipahami dalam kerangka makna, bukan direduksi menjadi atraksi. Tulisan ini sekaligus menjadi ajakan reflektif bahwa seni tradisi Bali di tanah Kuta hanya akan tetap bernyawa apabila ia ditempatkan pada ruang aslinya sebagai laku hidup yang menyatukan estetika, etika, dan spiritualitas.

Pada akhirnya, Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bang mesolah bukan hanya seni pertunjukan, melainkan gerak kesadaran masyarakat penyungsung dalam merawat keseimbangan hidup. Selama bhakti masih dihidupi, krulut masih dirasakan, dan Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bang masih dihormati, kehadiran beliau pasti akan teris menjaga denyut spiritual krama panyungsung, melampaui waktu dan generasi. [T]

Penulis: I Gusti Made Darma Putra
Editor: Adnyana Ole

Tags: BarongHindu Balikesenian baliKutaritual
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dentang yang Tak Pernah Sepenuhnya Hilang: Membaca ‘Broken Strings’ dalam Cermin Feminisme Perempuan Bali

Next Post

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

I Gusti Made Darma Putra

I Gusti Made Darma Putra

Seniman pedalangan, kreator wayang Bali

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

Film Pendek 'Anuja': Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co