8 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Pelawatan Barong Bang Masolah’ : Tanggung Jawab Kultural Krama Panyungsung

I Gusti Made Darma Putra by I Gusti Made Darma Putra
January 13, 2026
in Esai
‘Pelawatan Barong Bang Masolah’ : Tanggung Jawab Kultural Krama Panyungsung

Pelawatan Barong Bang Masolah

SEJAK dulu, kehidupan masyarakat Banjar Temacun dan Banjar Pemamoran Kuta telah dilingkupi oleh kehadiran Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bang. Beliau tidak hadir sebagai sesuatu yang terpisah dari kehidupan krama panyungsung, melainkan tumbuh bersama ingatan yang diwariskan lintas generasi, mengiringi ritme spiritual yang secara perlahan membentuk kesadaran dan rasa kultural.

Keberadaan Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bang bukanlah entitas yang berjarak dari kehidupan masyarakat kedua banjar tersebut. Beliau hidup dalam memori sosial masyarakat, menyatu dalam ruang spiritual, dan sejak usia dini membentuk rasa, sikap batin, serta kesadaran kultural saya. PelawatanBarong Bang pun tidak hadir sebagai simbol, melainkan sebagai laku hidup yang terus berdenyut di tengah dinamika kehidupan masyarakat Kuta.

Saya menyadari bahwa ketika pelawatan Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bang masolah, tidak pernah berdiri pada logika estetika panggung semata. beliau berada dalam ranah ritual performance yaitu istilah yang menempatkan seni sebagai praktik simbolik sarat makna, bukan sekadar representasi visual. Dalam konteks ini, tubuh pragina berfungsi sebagai medium transformatif, sementara “Pura” menjadi ruang liminal, ruang peralihan, di mana batas antara sekala dan niskala mencair. Masolah bukanlah showing, melainkan becoming, sebuah proses menjadi, sebuah peristiwa hidup.

 Pada Jumat, 3 Januari 2025, yang bertepatan dengan rahina suci Tumpek Krulut dan Purnama, Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bang masolah di Pura Sada, Desa Adat Kuta. Peristiwa ini sebagai momentum ritual dan kultural yang mempertautkan hubungan antara manusia, alam, dan kekuatan niskala yang dipuja. Tumpek Krulut yang dimaknai sebagai hari pemuliaan rasa, keindahan, dan getaran batin menjadi ruang waktu yang tepat ketika Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bang masolah, menampakkan gerak sebagai manifestasi kekuatan pelindung dan keharmonisan kosmis.

Pelawatan masolah merupakan aktivitas budaya religius yang diwarisi secara turun-temurun oleh masyarakat pengempon dan panyungsung, baik dalam wujud Pelawatan Barong maupun Pelawatan Rangda. Kata “masolah” yang secara harfiah berarti “menari” dalam konteks ini tidak dapat dipahami semata sebagai gerak tubuh atau susunan koreografi. Masolah adalah bahasa simbolik, sebuah laku persembahan yang menghadirkan dialog antara sekala dan niskala, antara rasa bhakti dan kesadaran krama panyungsung. Pada titik ini, pelawatan masolah tidak lagi berbicara tentang gerak pragina, melainkan tentang gerak yang dipercaya telah “diisi” oleh taksu dan kekuatan suci Ida Sasuhunan.

Dalam esai ini, pembahasan difokuskan pada Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bang Kuta sebagai entitas sakral yang hidup dalam ingatan budaya masyarakat panyungsung. Pelawatan Barong Bang tidak hanya diposisikan sebagai simbol pelindung, tetapi juga sebagai cermin filosofi keseimbangan hidup.

Aktivitas pelawatan masolah bukan dramatika konflik, melainkan visualisasi keseimbangan. Kehadiran tari Telek, Sesandaran, serta Jauk atau Omang menghadirkan dua sisi penyeimbang yang mengingatkan bahwa kehidupan berjalan dalam ritme dan harmoni. Dalam konteks ritual, pelawatan masolah menjadi pengingat bahwa keseimbangan desa tidak lahir dari penghapusan perbedaan, melainkan dari kesadaran untuk merawatnya.

Salah satu aspek paling penting dalam memahami pelawatan masolah adalah keberadaan Taksu. Taksu bukan sekadar aura artistik, melainkan daya hidup yang muncul dari keselarasan antara niat suci, laku bhakti, dan kesiapan batin. Pada saat Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bang masolah, yang hadir bukan hanya bentuk fisik pelawatan, tetapi juga kekuatan spiritual yang dipercaya malinggih dan menghidupkan setiap geraknya.

Dalam konteks ini, penari bukan subjek utama. Tubuh pragina berfungsi sebagai medium, sementara pusat kesadaran berada pada Ida Sasuhunan itu sendiri. Oleh karena itu, masolah tidak pernah dipahami sebagai unjuk keterampilan individu, melainkan sebagai peristiwa sakral ketika taksu bekerja dan dirasakan bersama oleh krama. Getaran batin, rasa merinding, hingga keheningan kolektif menjadi indikator kehadiran taksu yang diterima secara bersama-sama.

Pelaksanaan masolah pada Tumpek Krulut memberikan landasan filosofis yang kuat terhadap dimensi rasa. Krulut tidak semata dimaknai sebagai keindahan bunyi atau estetika visual, melainkan sebagai getaran rasa yang menyentuh batin terdalam. Pelawatan Barong Bang masolah pada hari suci ini menjadi media penyaluran spirit keindahan, sebuah komunikasi rasa antara Ida Sasuhunan dan umatnya. Tabuh iringan yang diwarisi secara turun-temurun, berpadu dengan respons emosional krama panyungsung, membentuk pengalaman estetikamspiritual yang utuh. Keindahan, dalam konteks ini, hadir sebagai proses penyucian batin.

Ngiring masolah pada hakikatnya adalah laku bhakti. Ia bukan pertunjukan yang menuntut apresiasi penonton, melainkan persembahan tulus kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa melalui manifestasi Ida Sasuhunan. Setiap unsur dalam pertunjukan ini baik mulai dari persiapan pelawatan, iringan gamelan, hingga keterlibatan krama merupakan bentuk pengabdian kolektif. Dalam perspektif ini, masolah tidak mengenal konsep “penonton” melainkan keterlibatan semua dalam menyertai dan menguatkan proses ritual.

Memahami Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bang masolah sebagai ritual berarti menempatkannya dalam kerangka sakral, bukan profan. Ia tidak dirancang untuk konsumsi visual semata, melainkan sebagai bagian integral dari sistem kepercayaan dan tata kehidupan krama panyungsung. Pelawatan Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bang masolah adalah living ritual atau peristiwa hidup yang menjaga denyut spiritual, memperkuat identitas kolektif, dan menegaskan bahwa seni di Kuta selalu berakar pada bhakti dan filosofi hidup.

Dari sudut pandang estetika ritual, keindahan saat Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bangmesolah tidak dapat diukur melalui standar koreografis modern. Keindahan hadir sebagai pengalaman afektif kolektif ialah getaran rasa yang dialami bersama. Taksu, dalam hal ini, dapat dipahami sebagai embodied aesthetics, di mana nilai keindahan melekat pada keselarasan niat, laku, dan konteks sakral.

Dalam diskursus antropologi budaya, Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bang mesolah dapat dibaca sebagai warisan budaya takbenda (intangible cultural heritage) yang hidup karena dipraktikkan, bukan sekadar didokumentasikan. Keberlanjutannya ditentukan oleh konsistensi laku bhakti masyarakat panyungsungnya. Di tengah Kuta sebagai ruang global yang terus bergerak, masolah menjadi penanda identitas yang tegas bahwa ada nilai-nilai spiritual yang tidak dapat dinegosiasikan.

Menulis tentang Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bang mesolah bagi saya bukanlah upaya mengobjektifikasi tradisi, melainkan bentuk tanggung jawab kultural. Sebuah ikhtiar untuk menjaga agar praktik sakral ini tetap dipahami dalam kerangka makna, bukan direduksi menjadi atraksi. Tulisan ini sekaligus menjadi ajakan reflektif bahwa seni tradisi Bali di tanah Kuta hanya akan tetap bernyawa apabila ia ditempatkan pada ruang aslinya sebagai laku hidup yang menyatukan estetika, etika, dan spiritualitas.

Pada akhirnya, Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bang mesolah bukan hanya seni pertunjukan, melainkan gerak kesadaran masyarakat penyungsung dalam merawat keseimbangan hidup. Selama bhakti masih dihidupi, krulut masih dirasakan, dan Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bang masih dihormati, kehadiran beliau pasti akan teris menjaga denyut spiritual krama panyungsung, melampaui waktu dan generasi. [T]

Penulis: I Gusti Made Darma Putra
Editor: Adnyana Ole

Tags: BarongHindu Balikesenian baliKutaritual
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dentang yang Tak Pernah Sepenuhnya Hilang: Membaca ‘Broken Strings’ dalam Cermin Feminisme Perempuan Bali

Next Post

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

I Gusti Made Darma Putra

I Gusti Made Darma Putra

Seniman pedalangan, kreator wayang Bali

Related Posts

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails
Next Post
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

Film Pendek 'Anuja': Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Permata Bali — Kumpulan Cerita Pendek
Buku Tatkala

Permata Bali — Kumpulan Cerita Pendek

Judul: Permata Bali -- kumpulan cerita pendek Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putu Oka Sukanta ISBN: Masih dalam proses...

by Buku Tatkala
October 7, 2026
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa
Opini

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

by Chusmeru
October 7, 2026
10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud
Pameran

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

SUDAH mengunjungi pameran Ten Ubud Local Artists di Sthala Ubud Bali? Jumlah karya yang disajikan tidak terlalu banyak memang, namun...

by Nyoman Budarsana
October 7, 2026
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co