24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Pelawatan Barong Bang Masolah’ : Tanggung Jawab Kultural Krama Panyungsung

I Gusti Made Darma Putra by I Gusti Made Darma Putra
January 13, 2026
in Esai
‘Pelawatan Barong Bang Masolah’ : Tanggung Jawab Kultural Krama Panyungsung

Pelawatan Barong Bang Masolah

SEJAK dulu, kehidupan masyarakat Banjar Temacun dan Banjar Pemamoran Kuta telah dilingkupi oleh kehadiran Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bang. Beliau tidak hadir sebagai sesuatu yang terpisah dari kehidupan krama panyungsung, melainkan tumbuh bersama ingatan yang diwariskan lintas generasi, mengiringi ritme spiritual yang secara perlahan membentuk kesadaran dan rasa kultural.

Keberadaan Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bang bukanlah entitas yang berjarak dari kehidupan masyarakat kedua banjar tersebut. Beliau hidup dalam memori sosial masyarakat, menyatu dalam ruang spiritual, dan sejak usia dini membentuk rasa, sikap batin, serta kesadaran kultural saya. PelawatanBarong Bang pun tidak hadir sebagai simbol, melainkan sebagai laku hidup yang terus berdenyut di tengah dinamika kehidupan masyarakat Kuta.

Saya menyadari bahwa ketika pelawatan Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bang masolah, tidak pernah berdiri pada logika estetika panggung semata. beliau berada dalam ranah ritual performance yaitu istilah yang menempatkan seni sebagai praktik simbolik sarat makna, bukan sekadar representasi visual. Dalam konteks ini, tubuh pragina berfungsi sebagai medium transformatif, sementara “Pura” menjadi ruang liminal, ruang peralihan, di mana batas antara sekala dan niskala mencair. Masolah bukanlah showing, melainkan becoming, sebuah proses menjadi, sebuah peristiwa hidup.

 Pada Jumat, 3 Januari 2025, yang bertepatan dengan rahina suci Tumpek Krulut dan Purnama, Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bang masolah di Pura Sada, Desa Adat Kuta. Peristiwa ini sebagai momentum ritual dan kultural yang mempertautkan hubungan antara manusia, alam, dan kekuatan niskala yang dipuja. Tumpek Krulut yang dimaknai sebagai hari pemuliaan rasa, keindahan, dan getaran batin menjadi ruang waktu yang tepat ketika Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bang masolah, menampakkan gerak sebagai manifestasi kekuatan pelindung dan keharmonisan kosmis.

Pelawatan masolah merupakan aktivitas budaya religius yang diwarisi secara turun-temurun oleh masyarakat pengempon dan panyungsung, baik dalam wujud Pelawatan Barong maupun Pelawatan Rangda. Kata “masolah” yang secara harfiah berarti “menari” dalam konteks ini tidak dapat dipahami semata sebagai gerak tubuh atau susunan koreografi. Masolah adalah bahasa simbolik, sebuah laku persembahan yang menghadirkan dialog antara sekala dan niskala, antara rasa bhakti dan kesadaran krama panyungsung. Pada titik ini, pelawatan masolah tidak lagi berbicara tentang gerak pragina, melainkan tentang gerak yang dipercaya telah “diisi” oleh taksu dan kekuatan suci Ida Sasuhunan.

Dalam esai ini, pembahasan difokuskan pada Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bang Kuta sebagai entitas sakral yang hidup dalam ingatan budaya masyarakat panyungsung. Pelawatan Barong Bang tidak hanya diposisikan sebagai simbol pelindung, tetapi juga sebagai cermin filosofi keseimbangan hidup.

Aktivitas pelawatan masolah bukan dramatika konflik, melainkan visualisasi keseimbangan. Kehadiran tari Telek, Sesandaran, serta Jauk atau Omang menghadirkan dua sisi penyeimbang yang mengingatkan bahwa kehidupan berjalan dalam ritme dan harmoni. Dalam konteks ritual, pelawatan masolah menjadi pengingat bahwa keseimbangan desa tidak lahir dari penghapusan perbedaan, melainkan dari kesadaran untuk merawatnya.

Salah satu aspek paling penting dalam memahami pelawatan masolah adalah keberadaan Taksu. Taksu bukan sekadar aura artistik, melainkan daya hidup yang muncul dari keselarasan antara niat suci, laku bhakti, dan kesiapan batin. Pada saat Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bang masolah, yang hadir bukan hanya bentuk fisik pelawatan, tetapi juga kekuatan spiritual yang dipercaya malinggih dan menghidupkan setiap geraknya.

Dalam konteks ini, penari bukan subjek utama. Tubuh pragina berfungsi sebagai medium, sementara pusat kesadaran berada pada Ida Sasuhunan itu sendiri. Oleh karena itu, masolah tidak pernah dipahami sebagai unjuk keterampilan individu, melainkan sebagai peristiwa sakral ketika taksu bekerja dan dirasakan bersama oleh krama. Getaran batin, rasa merinding, hingga keheningan kolektif menjadi indikator kehadiran taksu yang diterima secara bersama-sama.

Pelaksanaan masolah pada Tumpek Krulut memberikan landasan filosofis yang kuat terhadap dimensi rasa. Krulut tidak semata dimaknai sebagai keindahan bunyi atau estetika visual, melainkan sebagai getaran rasa yang menyentuh batin terdalam. Pelawatan Barong Bang masolah pada hari suci ini menjadi media penyaluran spirit keindahan, sebuah komunikasi rasa antara Ida Sasuhunan dan umatnya. Tabuh iringan yang diwarisi secara turun-temurun, berpadu dengan respons emosional krama panyungsung, membentuk pengalaman estetikamspiritual yang utuh. Keindahan, dalam konteks ini, hadir sebagai proses penyucian batin.

Ngiring masolah pada hakikatnya adalah laku bhakti. Ia bukan pertunjukan yang menuntut apresiasi penonton, melainkan persembahan tulus kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa melalui manifestasi Ida Sasuhunan. Setiap unsur dalam pertunjukan ini baik mulai dari persiapan pelawatan, iringan gamelan, hingga keterlibatan krama merupakan bentuk pengabdian kolektif. Dalam perspektif ini, masolah tidak mengenal konsep “penonton” melainkan keterlibatan semua dalam menyertai dan menguatkan proses ritual.

Memahami Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bang masolah sebagai ritual berarti menempatkannya dalam kerangka sakral, bukan profan. Ia tidak dirancang untuk konsumsi visual semata, melainkan sebagai bagian integral dari sistem kepercayaan dan tata kehidupan krama panyungsung. Pelawatan Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bang masolah adalah living ritual atau peristiwa hidup yang menjaga denyut spiritual, memperkuat identitas kolektif, dan menegaskan bahwa seni di Kuta selalu berakar pada bhakti dan filosofi hidup.

Dari sudut pandang estetika ritual, keindahan saat Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bangmesolah tidak dapat diukur melalui standar koreografis modern. Keindahan hadir sebagai pengalaman afektif kolektif ialah getaran rasa yang dialami bersama. Taksu, dalam hal ini, dapat dipahami sebagai embodied aesthetics, di mana nilai keindahan melekat pada keselarasan niat, laku, dan konteks sakral.

Dalam diskursus antropologi budaya, Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bang mesolah dapat dibaca sebagai warisan budaya takbenda (intangible cultural heritage) yang hidup karena dipraktikkan, bukan sekadar didokumentasikan. Keberlanjutannya ditentukan oleh konsistensi laku bhakti masyarakat panyungsungnya. Di tengah Kuta sebagai ruang global yang terus bergerak, masolah menjadi penanda identitas yang tegas bahwa ada nilai-nilai spiritual yang tidak dapat dinegosiasikan.

Menulis tentang Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bang mesolah bagi saya bukanlah upaya mengobjektifikasi tradisi, melainkan bentuk tanggung jawab kultural. Sebuah ikhtiar untuk menjaga agar praktik sakral ini tetap dipahami dalam kerangka makna, bukan direduksi menjadi atraksi. Tulisan ini sekaligus menjadi ajakan reflektif bahwa seni tradisi Bali di tanah Kuta hanya akan tetap bernyawa apabila ia ditempatkan pada ruang aslinya sebagai laku hidup yang menyatukan estetika, etika, dan spiritualitas.

Pada akhirnya, Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bang mesolah bukan hanya seni pertunjukan, melainkan gerak kesadaran masyarakat penyungsung dalam merawat keseimbangan hidup. Selama bhakti masih dihidupi, krulut masih dirasakan, dan Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bang masih dihormati, kehadiran beliau pasti akan teris menjaga denyut spiritual krama panyungsung, melampaui waktu dan generasi. [T]

Penulis: I Gusti Made Darma Putra
Editor: Adnyana Ole

Tags: BarongHindu Balikesenian baliKutaritual
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dentang yang Tak Pernah Sepenuhnya Hilang: Membaca ‘Broken Strings’ dalam Cermin Feminisme Perempuan Bali

Next Post

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

I Gusti Made Darma Putra

I Gusti Made Darma Putra

Seniman pedalangan, kreator wayang Bali

Related Posts

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails
Next Post
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

Film Pendek 'Anuja': Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 23, 2026
PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co