SIANG di Dalung, Badung, Bali, di penghujung 2025, bergerak pelan. Jalanan tidak benar-benar lengang, tapi cukup memberi ruang bagi pikiran untuk tidak tergesa. Di sebuah warung kopi sederhana, bukan kafe bergaya industrial, bukan pula tempat nongkrong penuh laptop dan Wi-Fi, saya bertemu Menot Sukadana. Nama aslinya Nyoman Sukadana, jurnalis senior Bali, dan pemilik media daring podiumnews.com.
Di atas meja, dua cangkir kopi hitam mengepul tipis. Asapnya naik perlahan, seperti memberi isyarat bahwa perbincangan ini tidak akan meledak-ledak, melainkan mengalir. Di tangan Menot, sebuah buku dengan sampul sederhana. Judulnya Jeda (Catatan Renungan Seorang Jurnalis Tentang Kopi, Hidup, dan Makna). Buku ini baru saja terbit. Buku perdana, meski penulisnya telah puluhan tahun hidup dalam dunia kata.
“Ini buku yang lahir dari berhenti sejenak,” katanya pelan, hampir seperti sedang berbicara kepada dirinya sendiri.
Menot bukan nama asing di dunia pers Bali. Ia telah hampir seperempat abad berkutat di media, dari masa media cetak masih berjaya hingga media online menjadi arus utama. Di tengah ritme kerja wartawan yang identik dengan deadline, kecepatan, dan tuntutan selalu hadir, Jeda justru hadir sebagai perlawanan halus terhadap tergesa.
Buku ini berisi 36 tulisan yang ditulis sepanjang 2025. Esai-esai pendek, catatan reflektif, dan renungan personal seorang jurnalis yang memilih menoleh ke belakang, bukan untuk bernostalgia semata, melainkan untuk memahami apa yang telah ia jalani.
“Banyak orang heran, kenapa baru sekarang bikin buku,” ujar Menot sambil tersenyum. “Padahal niatnya sudah lebih dari sepuluh tahun. Tapi mungkin memang harus menunggu waktunya,” imbuhnya.
Di usia mendekati 50 tahun, Menot merasa perlu memberi jeda pada dirinya sendiri. Dunia jurnalistik yang ia jalani selama ini menuntut kehadiran penuh, nyaris tanpa ruang untuk berhenti dan bertanya; untuk apa semua ini.
Tidak kebetulan kopi menjadi bagian penting dari buku ini. Bukan sekadar minuman, kopi hadir sebagai metafora. Seperti jeda di antara dua aktivitas, kopi sering menjadi alasan seseorang berhenti sejenak. Duduk, menghela napas, lalu berpikir.
“Ngopi itu jeda kecil. Di situ kita bisa menata ulang pikiran,” kata Menot.
Di warung kopi Dalung itu, Menot bercerita bahwa banyak tulisannya justru lahir dari momen-momen seperti ini. Duduk sendiri, atau berbincang ringan, lalu menulis tanpa tekanan redaksi, tanpa target klik, tanpa kejar tayang.
Dalam Jeda, kopi bukan gaya hidup urban, melainkan teman sunyi. Ia hadir menemani kegelisahan, pertanyaan tentang makna bekerja, makna hidup, dan makna menjadi wartawan di tengah ekosistem media yang semakin rapuh.
Kesaksian Orang Dalam Dunia Media Lokal
Yang membuat Jeda penting bukan hanya karena ia reflektif, tetapi karena ia jujur. Menot menulis dari posisi orang dalam. Ia tidak sedang mengulas dunia pers sebagai objek penelitian, melainkan sebagai ruang hidup yang ia jalani sendiri.
Ia bercerita tentang wartawan media online di Bali yang hidup dalam kondisi serba terbatas. Tentang perusahaan media yang secara bisnis mirip UMKM; hidup segan mati tidak mau. Tentang gaji di bawah standar, ketiadaan jaminan sosial, dan masa depan yang samar.
“Banyak wartawan belum pensiun saja sudah sakit. Tidak punya BPJS, tidak punya jaminan apa-apa. Kalau berhenti kerja, ya berhenti penghasilan,” katanya.
Buku ini, dengan demikian, menjadi semacam kesaksian sosial. Menot tidak menunjuk siapa pun, tidak menyebut nama media atau perusahaan tertentu. Ia hanya memotret kondisi. Bahwa di balik citra wartawan yang dekat dengan pejabat dan tokoh politik, ada kehidupan ekonomi yang sering kali rapuh.
Dalam perbincangan kami, Menot beberapa kali menekankan bahwa ia tidak sedang menghakimi wartawan. Ia justru ingin menjelaskan konteks. Ketika kesejahteraan tidak terpenuhi, ketika sistem tidak sehat, kompromi etika kerap muncul bukan karena niat buruk, melainkan karena keterpaksaan.
“Kalau orang menyebut wartawan amplop, itu tidak bisa dilepaskan dari ekosistemnya. Sistemnya belum adil,” cetusnya.
Di Jeda, tema ini muncul berulang. Wartawan diposisikan sebagai manusia biasa, dengan kebutuhan hidup, keluarga, dan ketakutan akan masa depan. Buku ini mengajak pembaca melihat bahwa etika jurnalistik tidak bisa dilepaskan dari struktur ekonomi media.
Salah satu konsep yang cukup kuat dalam buku ini adalah wanaprasta. Dalam tradisi Hindu, wanaprasta adalah fase kehidupan ketika seseorang mulai menarik diri dari hiruk pikuk duniawi. Bagi Menot, usia 50 adalah momen reflektif.
“Ini bukan soal pensiun besok. Tapi soal kesadaran bahwa waktu tidak lagi panjang,” ucapnya.

Sebagai wartawan, ia menyadari bahwa profesi ini tidak mengenal pensiun yang layak. Tidak ada dana pensiun, tidak ada jaminan hari tua. Kesadaran ini membuat Jeda terasa personal sekaligus politis. Personal karena ia lahir dari kegelisahan individu. Politis karena kegelisahan itu berakar pada sistem.
Dari Ruang Redaksi ke Ruang Sunyi
Menot mendirikan podiumnews.com dengan semangat membangun media lokal yang independen. Namun dalam buku ini, ia tidak sedang mempromosikan medianya. Ia justru mengambil jarak, seolah ingin berkata bahwa dirinya lebih dulu adalah manusia, baru kemudian wartawan.
“Menulis di buku ini beda dengan menulis berita. Tidak ada tekanan,” ujarnya.
Di sinilah Jeda menemukan kekuatannya. Ia tidak meledak-ledak, tidak retoris. Ia berjalan pelan, seperti kopi yang dibiarkan dingin sebelum diteguk. Buku ini memberi ruang bagi pembaca untuk ikut berhenti sejenak.
Dalam obrolan yang mengalir, Menot juga menyinggung keterlibatannya dalam berbagai organisasi kewartawanan di Bali. Upaya itu, menurutnya, berangkat dari kesadaran bahwa perubahan tidak bisa hanya dilakukan sendiri.
Ia bercerita tentang upaya mendorong media online agar lebih sehat secara bisnis, tentang kerja sama dengan pemerintah daerah, tentang penggalangan dana ketika wartawan sakit atau meninggal.
“Kadang yang bisa kita lakukan hanya solidaritas,” katanya.
Buku Jeda mencatat semua itu dengan nada reflektif, bukan heroik. Tidak ada glorifikasi aktivisme. Yang ada adalah kesadaran bahwa bertahan di dunia pers lokal adalah kerja kolektif.
Meski ini buku pertamanya, Menot tidak ingin Jeda menjadi yang terakhir. Ia bahkan menyebut buku ini sebagai bagian awal dari rangkaian panjang. Ada rencana Jeda 2, Jeda 3, dan seterusnya.
“Selama masih bisa menulis, saya ingin menulis,” ujarnya singkat.
Bagi Menot, menulis buku ini seperti melepaskan beban yang lama dipikul. Ada kelegaan, meski bukan euforia. Ia tidak mengejar penjualan besar atau popularitas. Buku ini lebih seperti surat kepada diri sendiri, yang kebetulan bisa dibaca orang lain.
Salah satu harapan Menot dari buku ini adalah agar publik bisa melihat wartawan dengan lebih jernih. Tidak lagi hanya dari stigma, tetapi dari realitas. Wartawan, dalam Jeda, adalah pekerja dengan tanggung jawab moral besar, tetapi sering kali tanpa perlindungan memadai.
“Tanggung jawab kita ke publik itu berat. Tapi kesejahteraan kita sering tidak sebanding,” ujarnya.
Buku ini, dengan demikian, menjadi semacam upaya meluruskan. Bahwa di balik berita yang dibaca setiap hari, ada manusia dengan kegelisahan, ketakutan, dan harapan.

Di akhir perbincangan, saya bertanya tentang anak-anak muda yang ingin menjadi wartawan. Menot tertawa kecil. Dulu, katanya, ada lelucon bahwa menjadi wartawan berarti siap miskin. Kini lelucon itu jarang terdengar, tetapi kondisinya belum sepenuhnya berubah.
“Kalau mau jadi wartawan, harus siap dengan konsekuensinya,” katanya. “Tapi juga jangan berhenti berharap sistem bisa berubah,” sebutnya.
Pesan itu terasa seperti benang merah Jeda. Buku ini tidak pesimistis, tetapi juga tidak naif. Ia menawarkan kesadaran, bukan solusi instan.
Ketika kopi kami tinggal ampas, obrolan pun melambat. Menot menutup bukunya, lalu menatap sejenak ke luar warung. Siang di Dalung masih bergerak pelan. Tidak ada yang mendesak.
Jeda lahir dari momen seperti ini. Dari berhenti sejenak. Dari kesadaran bahwa hidup, seperti kopi, perlu dinikmati tanpa terburu-buru. Bagi dunia jurnalistik Bali, buku ini adalah catatan penting. Bagi pembaca umum, ia adalah ajakan untuk melihat dunia pers dari sudut yang lebih manusiawi.
Dan bagi Menot Sukadana, Jeda adalah cara untuk mengatakan bahwa setelah puluhan tahun berlari mengejar berita, berhenti sejenak justru menjadi bentuk keberanian yang paling jujur. [T]
Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole



























