15 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Urgensi Penetapan Waktu Pecaruan pada Tilem Kesanga : Tinjauan Tekstual, Astronomis, dan Filosofis

Ida Kade Suarioka by Ida Kade Suarioka
January 2, 2026
in Esai
Urgensi Penetapan Waktu Pecaruan pada Tilem Kesanga : Tinjauan Tekstual, Astronomis, dan Filosofis

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Pendahuluan

Dalam khazanah ritual keagamaan Hindu Bali, pelaksanaan upacara Bhuta Yadnya yang dikenal sebagai Tawur atau Pecaruan menjelang Hari Raya Nyepi menempati posisi yang sangat penting. Dewasa ini, muncul wacana untuk menggeser waktu pelaksanaan Pecaruan dari waktu yang telah ditetapkan secara tradisional, yakni pada Tilem Kesanga (bulan mati di bulan kesembilan dalam kalender Bali), menjadi satu hari sebelumnya yaitu pada Purwaning Tilem Kesanga (Panglong Ping 14 Sasih Kesanga). Pergeseran ini tentu bukan persoalan teknis semata, melainkan menyangkut fondasi teologis, astronomis, dan filosofis yang telah dibangun dalam tradisi keagamaan Hindu selama berabad-abad.

Tulisan ini berupaya mengurai urgensi pelaksanaan Pecaruan pada waktu yang tepat, yakni Tilem Kesanga, melalui tiga pendekatan utama: pertama, tinjauan tekstual berdasarkan lontar-lontar klasik sebagai sumber rujukan otoritatif; kedua, perspektif astronomis yang menjelaskan keterkaitan waktu ritual dengan fenomena kosmik; dan ketiga, dimensi filosofis yang mengungkap makna mendalam dari kesesuaian antara tindakan manusia dengan ritme alam semesta. Ketiga pendekatan ini saling berkelindan membentuk argumentasi yang kokoh mengapa pergeseran waktu pelaksanaan pecaruan perlu dikaji secara mendalam sebelum diputuskan.

Landasan Tekstual: Otoritas Lontar dalam Menentukan Waktu Ritual

Tradisi keagamaan Hindu Bali memiliki karakter tekstual yang kuat, di mana lontar-lontar klasik menjadi rujukan utama dalam penetapan tata cara dan waktu pelaksanaan ritual. Dalam konteks Pecaruan menjelang Nyepi, terdapat dua sumber tekstual utama yang secara eksplisit mengatur waktu pelaksanaannya.

Sumber pertama adalah Lontar Sri Aji Jaya Kasunu, yang menyebutkan secara spesifik mengenai kewajiban melaksanakan upacara Tawur atau Bhuta Yadnya sehari sebelum Hari Raya Nyepi, tepatnya pada saat Tilem Sasih Kesanga. Kutipan kunci dari lontar tersebut yang sering dirujuk adalah: “ring tilem ing sasih kasanga, patut maprakertti caru tawur wastanya, sadulur nyepi awengi“. Secara harfiah, kalimat ini dapat diterjemahkan: “Pada bulan mati (Tilem) sasih kesanga, patut (wajib) melaksanakan upacara Caru yang disebut Tawur, sehari sebelum Nyepi”.

Kata “patut” dalam konteks ini bukan sekadar anjuran, melainkan mengandung makna kewajiban religius yang harus dipenuhi. Penggunaan kata ini menunjukkan bahwa penetapan waktu Tilem Kesanga bukanlah pilihan arbitrer, melainkan ketentuan yang bersifat preskriptif, sebuah perintah yang mengikat secara teologis. Lontar ini tidak memberikan ruang interpretasi untuk menggeser waktu pelaksanaan ke hari sebelumnya, karena spesifikasi waktu “Tilem ing sasih kasanga” telah dinyatakan dengan tegas.

Sumber kedua adalah Lontar Purwana Tattwa Wariga, yang memberikan penjelasan lebih mendalam tentang signifikansi teologis dari hari Tilem itu sendiri. Dalam lontar ini dijelaskan bahwa hari Tilem merupakan prabhawa (pengaruh spiritual) dari Sang Hyang Rudra, sebagai perwujudan Sang Hyang Yamadipati (Dewa Kematian) yang memiliki kekuatan praline, kekuatan untuk memulihkan kembali segala sesuatu ke asal-usulnya (sangkan paran). Persembahan pada hari Tilem dimaksudkan agar umat yang tekun melaksanakan persembahan pada waktu tersebut, ketika nanti meninggal dunia, rohnya tidak akan diberi jalan yang sesat menuju neraka, melainkan sebaliknya dituntun ke Swargaloka.

Penjelasan ini mengungkap dimensi soteriologis dari pelaksanaan ritual pada waktu yang tepat. Tilem bukan sekadar penanda temporal dalam kalender, melainkan momentum kosmik ketika energi tertentu, dalam hal ini energi transformasi dan pemurnian yang diasosiasikan dengan Sang Hyang Rudra, mencapai puncaknya. Melaksanakan Pecaruan pada saat Tilem berarti menyelaraskan tindakan ritual dengan puncak energi kosmik tersebut, sehingga efektivitas spiritual dari ritual dapat tercapai secara maksimal.

Kedua sumber tekstual ini membentuk dasar teologis yang solid untuk pelaksanaan Pecaruan pada Tilem Kesanga, bukan pada hari sebelumnya. Menggeser waktu pelaksanaan berarti mengabaikan otoritas tekstual yang telah menjadi rujukan selama berabad-abad, sekaligus berpotensi mengurangi efektivitas spiritual dari ritual itu sendiri.

Perspektif Astronomis: Resonansi antara Ritual dan Fenomena Kosmik

Selain landasan tekstual, penetapan waktu Pecaruan pada Tilem Kesanga juga memiliki justifikasi astronomis yang kuat. Dalam ilmu Pangrepeting Sasih, sistem perhitungan waktu yang menggabungkan kalender lunar (candra) dan solar (surya), terdapat syarat-syarat khusus yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan Tawur Kesanga Nyepi.

Syarat pertama adalah bahwa pada hari tersebut harus jatuh pada Tilem, dan Tilem tersebut harus tepat pada Sasih Kesanga (bulan kesembilan) dalam sistem kalender candra. Tilem, yang menandai fase bulan baru ketika bulan tidak terlihat dari bumi, memiliki signifikansi astronomis dan spiritual. Dalam kosmologi Hindu, fase bulan mati ini diasosiasikan dengan energi transformasi, pelepasan, dan pemurnian, energi yang sangat diperlukan dalam konteks Bhuta Yadnya sebagai upaya penyucian dan harmonisasi dengan kekuatan-kekuatan bhuta (elemen alam).

Syarat kedua, yang tidak kalah pentingnya, adalah bahwa pada pelaksanaan Tawur Kesanga Nyepi tersebut, matahari harus berada pada posisi “Bajeging Surya” atau tepat di garis khatulistiwa. Fenomena ini terjadi saat ekuinoks (vernal equinox), ketika panjang siang dan malam hampir sama di seluruh permukaan bumi. Dalam sistem kalender Surya (Surya Pramana), posisi ini menandai keseimbangan kosmik, sebuah momentum ketika energi alam semesta berada dalam harmoni sempurna antara terang dan gelap, siang dan malam, aktivitas dan ketenangan.

Kesesuaian antara Tilem dalam kalender Candra dan Bajeging Surya dalam kalender Surya menciptakan sebuah “window” kosmik yang sangat spesifik, sebuah momentum ketika energi lunar dan solar berkonvergensi menciptakan kondisi optimal untuk pelaksanaan ritual transformasi dan pemurnian. Ini bukan sekadar kebetulan astronomis, melainkan desain kosmik yang telah dipahami oleh para pendahulu melalui pengamatan mendalam terhadap ritme alam semesta.

Kedua syarat ini menjadi sangat penting karena pada keesokan harinya adalah peringatan pergantian tahun Icaka Warsa, yang dalam kalender Caka Bali dikenal dengan nama Nyepi atau Sipeng, yang jatuhnya pada Penanggal Apisan (tanggal satu terang) Sasih Kadasa (bulan kesepuluh).  Nyepi sebagai hari pembaruan spiritual dan kosmik memerlukan persiapan ritual yang dilaksanakan pada momentum kosmik yang tepat, dan momentum tersebut adalah Tilem Kesanga dengan segala konfigurasi astronomisnya.

Perlu dicatat bahwa dalam sistem kalender Surya Candra Pramana, setiap Tilem menandai tutup sasih (akhir bulan lunar), sementara setiap Purnama menandai tengah sasih (pertengahan bulan lunar). Struktur temporal ini mencerminkan pemahaman mendalam akan siklus lunar dan pengaruhnya terhadap kehidupan manusia dan pelaksanaan ritual. Menggeser waktu Pecaruan ke Panglong Ping 14 (Purwaning Tilem) berarti melaksanakan ritual di luar momentum kosmik yang optimal, ketika konfigurasi astronomis belum mencapai titik konvergensi yang diperlukan.

Dimensi Filosofis: Wariga sebagai Ilmu Harmoni Kosmik

Pada tataran filosofis, perdebatan tentang waktu pelaksanaan Pecaruan membawa kita pada pemahaman yang lebih mendalam tentang hakikat Wariga itu sendiri. Wariga bukan sekadar sistem kalender teknis untuk menentukan hari baik dan buruk, melainkan sebuah ilmu kosmik yang menyatukan manusia dengan ritme semesta. Pemahaman ini mengharuskan kita untuk terlebih dahulu memahami fondasi filosofis Wariga yang dikenal sebagai Tri Adik.

Tri Adik terdiri dari tiga elemen fundamental: pertama, Ṛta (hukum); kedua, Kāla (waktu); dan ketiga, Karma (tindakan). Ṛta adalah hukum kosmis, keteraturan laten yang membuat jagat raya berjalan sebagaimana mestinya, sebuah ordo universal yang mengatur pergerakan planet, pergantian musim, dan siklus kehidupan. Kāla adalah medium ritmis yang membawa hukum tersebut ke dalam pengalaman manusia, waktu bukan hanya pengukuran kuantitatif, melainkan kualitas yang berbeda-beda bergantung pada konfigurasi kosmik. Sementara Karma adalah jawaban manusia berupa tindakan yang diselaraskan dengan ritme kosmos.

Dari kerangka Tri Adik ini, kita dapat memahami bahwa menentukan waktu yang tepat untuk pelaksanaan ritual (dewasa ayu) bukanlah takhayul, melainkan bentuk prudensi etis, sebuah seni hidup tepat waktu. Ini adalah upaya sadar untuk menyelaraskan tindakan manusia (Karma) dengan hukum kosmis (Ṛta) melalui pemilihan waktu yang tepat (Kāla). Ketiga elemen ini harus bekerja dalam harmoni: tindakan yang baik (Karma yang dharma) akan mencapai hasil optimal ketika dilaksanakan pada waktu yang tepat (Kāla yang tepat) sesuai dengan hukum alam semesta (Ṛta).

Dalam konteks ini, mengubah jadwal Pecaruan dari yang semestinya pada Tilem Kesanga menjadi Purwaning Tilem Kesanga menimbulkan pertanyaan filosofis yang mendasar: apakah Kāla (waktu) yang diusulkan tersebut telah beresonansi dengan irama kosmos? Apakah pergeseran satu hari tersebut masih memenuhi syarat kesesuaian dengan Ṛta? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dapat dijawab dengan pertimbangan pragmatis semata, melainkan memerlukan refleksi mendalam tentang hakikat hubungan antara manusia dan kosmos.

Wariga mengajarkan bahwa tanpa pemahaman waktu yang tepat, sebuah upacara bisa kehilangan makna sakralnya karena tidak beresonansi dengan irama kosmos. Ritual yang dilaksanakan pada waktu yang tidak tepat ibarat orkestra yang memainkan simfoni dengan tempo yang keliru, secara teknis mungkin benar, tetapi kehilangan harmoni dan keindahan yang seharusnya dihasilkan. Demikian pula, Pecaruan yang dilaksanakan di luar momentum kosmik yang tepat mungkin secara prosedural terlaksana, tetapi efektivitas spiritual dan transformatifnya akan berkurang.

Lebih jauh lagi, pemahaman filosofis tentang Wariga membawa kita pada kesadaran eksistensial bahwa hidup sejatinya harus mengikuti irama kosmos: kapan bekerja, kapan beristirahat, kapan merayakan hidup, dan kapan melaksanakan ritual pemurnian. Eksistensi manusia selalu sudah terentang dalam horizon waktu, kita tidak bisa tidak berada dalam waktu. Wariga memberikan bahasa lokal pada refleksi universal ini: tanpa memahami waktu, manusia takkan pernah selaras dengan dunia.

Implikasi Praktis dan Pertimbangan Pengambilan Keputusan

Mengingat kompleksitas dimensi tekstual, astronomis, dan filosofis yang telah diuraikan, para pemangku kepentingan, tokoh agama, tokoh adat, dan pemangku jabatan, yang akan memutuskan persoalan waktu pelaksanaan Pecaruan perlu mempertimbangkan beberapa hal penting.

Pertama, setiap keputusan yang berdampak luas pada masyarakat harus didasarkan pada pemahaman yang komprehensif tentang fondasi filosofis Wariga, khususnya konsep Tri Adik. Perubahan tradisi yang telah berjalan berabad-abad tidak boleh dilakukan secara serampangan tanpa kajian mendalam tentang konsekuensi teologis, astronomis, dan filosofisnya.

Kedua, perlu ada kesadaran bahwa Wariga bukan sistem yang dapat dimodifikasi dengan mudah demi kepentingan pragmatis. Sebagai ilmu kosmik yang menyatukan manusia dengan ritme semesta, Wariga memiliki logika internalnya sendiri yang tidak dapat diabaikan tanpa risiko kehilangan makna sakral dan efektivitas spiritual dari ritual yang dilaksanakan.

Ketiga, otoritas tekstual dari lontar-lontar klasik harus tetap menjadi rujukan utama. Dalam tradisi keagamaan yang memiliki karakter tekstual kuat seperti Hindu Bali, penyimpangan dari ketentuan tekstual memerlukan justifikasi yang sangat kuat dan tidak boleh dilakukan hanya berdasarkan pertimbangan praktis jangka pendek.

Pertimbangan Historis

Dalam kesempatan lain penting untuk mempertimbangkan kajian historis, dalam catatan Sugi Lanus yang dimuat oleh Tatkala.co mencatat sejarah perjalanan panjang mengenai ditetapkannya Tawur Agung ke Sanga sebagai berikut :


Tawur Kasangaberdasar tradisi kuno dilakukan pada hari Tilem Kasanga. Besoknya, penanggal apisan, sasih sasih kedasa, dilakukan Brata Penyepian, berdasarkan lontar Aji Swamandaladan lontar Panugrahan Bhatara Durgha ring Sri Jaya Kasunu (dikenal sebagai lontar Sri Jaya Kasunu) yang menjadi pedoman tradisi Tawur di Parahyangan Besakih.

  • Pesamuan Agung II (9 Maret 1960): 

Diadakan di Balai Masyarakat Denpasar, pesamuan menetapkan bahwa berdasarkan lontar Sundarigama, Nyepi jatuh tepat pada Tilem Kesanga. Upacara Bhuta Yadnya (Pangerupukan) dilakukan sehari sebelumnya, dan Ngembak dilakukan sehari setelahnya.

  • Perubahan Tradisi (1960–1982): 

Selama periode ini 1960–1982, pelaksanaan Nyepi mengikuti “tafsir baru” tersebut, yang berbeda dari tradisi kuno.

  • Seminar Kesatuan Tafsir (13 Januari 1983): 

Keputusan tahun 1960 tersebut direvisi kembali dalam ‘Seminar Kesatuan Tafsir Denpasar’, 13 Januari 1983. Hasil seminar ini kemudian diterbitkan sebagai HIMPUNAN KEPUTUSAN SEMINAR KESATUAN TAFSIR TERHADAP ASPEK-ASPEK AGAMA HINDU I–IXoleh PHDI Pusat tertanggal 27 Januari 1983. Pelaksanaan Nyepi dikembalikan ke tradisi lama.

Nyepi sekarang dirayakan seperti sediakala, telah sesuai tradisi kuno, yaitu: Tawur Kesanga dilaksanakan pada hari Tilem, dan Nyepi dilaksanakan sehari setelah Tilem (Pananggal Apisan Sasih Kedasa).

Perubahan pada Pesamuan Agung II (9 Maret 1960) dinilai lemah karena hanya berdasarkan tafsir satu sumber (Lontar Sundarigama) yang secara linguistik dan isi tergolong literatur baru, sehingga diputuskan untuk kembali ke akar tradisi yang lebih tua. Lontar inipun bukan lontar pedoman Tawur yang dipakai dalam tradisi Parahyangan Besakih sebagaimana lontar Aji Swamandaladan lontar Sri Jaya Kasunu.

Penutup

Pelaksanaan Pecaruan pada Tilem Kesanga bukanlah ketentuan arbitrer yang dapat diubah sesuai dengan kenyamanan atau kepraktisan semata. Ketentuan ini memiliki fondasi yang kokoh pada tiga dimensi: otoritas tekstual dari lontar-lontar klasik yang menetapkan waktu tersebut secara eksplisit; justifikasi astronomis yang menunjukkan bahwa Tilem Kesanga adalah momentum kosmik ketika terjadi konvergensi antara fase lunar dan posisi solar yang optimal; serta landasan filosofis yang mengajarkan pentingnya kesesuaian antara tindakan manusia (Karma) dengan waktu yang tepat (Kāla) sesuai dengan hukum alam semesta (Ṛta).

Wacana untuk menggeser waktu pelaksanaan ke Purwaning Tilem Kesanga perlu dikaji dengan sangat hati-hati, mengingat implikasi teologis, kosmologis, dan filosofisnya yang mendalam. Keputusan untuk mengubah tradisi yang telah berjalan berabad-abad tidak boleh dilakukan tanpa kajian komprehensif yang melibatkan pemahaman mendalam tentang sistem Wariga sebagai ilmu harmoni kosmik.

Pada akhirnya, pertanyaan yang harus dijawab bukan sekadar “bisakah kita mengubah waktu pelaksanaan?” melainkan “haruskah kita mengubah apa yang telah terbukti efektif secara spiritual dan selaras dengan ritme kosmos selama berabad-abad?” Jawaban terhadap pertanyaan ini memerlukan kebijaksanaan yang mendalam, pemahaman yang komprehensif tentang tradisi, dan kerendahan hati untuk mengakui bahwa tidak semua yang tampak praktis dalam perspektif modern sejalan dengan kebijaksanaan kosmik yang telah diwariskan oleh para pendahulu. [T]

Daftar Referensi Akademik

Putra Manik Aryana,I.B.(2005) Wariga Dasar. UNHI Fakultas Ilmu Agama. Denpasar.

Putra Manik Aryana,I.B.(2009) Tenung Wariga. Bali Aga. Denpasar.

Sudarsana, I. K. (2016). Wariga dan Harmoni Kosmik dalam Tradisi Bali. Denpasar: Universitas Hindu Indonesia Press.

Suarioka,Ida Kade, (2023). Tika dan Wariga Bali : Yayasan Puri Kauhan Ubud Gianyar.

Suarioka,Ida Kade, (2025). WARIGA : Kosmologi waktu dan Etika Kosmis Bali:Sarwa Tattwa Pustaka,  Abiansemal, Badung.

Diakses pada 1 Januari 2026 dari https://tatkala.co/author/sugi-lanus/

Daftar Lontar Pendukung

  1. Lontar  Sri Aji Jaya Kasunu, Pusat Dokumentasi Budaya Bali Denpasar).
    – Memuat ajaran dasar tentang keteraturan waktu (sasih, rahina) dan pentingnya sinkronisasi manusia dengan ritme jagat.
  2. Lontar Purwana Tattwa Wariga, ( Pusat Dokumentasi Budaya Bali Denpasar).
    – Menyediakan aturan mengenai dewasa ayu dan larangan-larangan kosmik
  3. Lontar Bhagawan Garga ( Pusat Dokumentasi Budaya Bali Denpasar).
    – Menyajikan kosmologi mikrokosmos-makrokosmos, integrasi astrologi Jyotiṣa dengan budaya Bali.

Penulis: Ida Kade Suarioka
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliHari Raya Nyepitilem kasangatradisi nyepi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jeda di Secangkir Kopi

Next Post

Desa Wisata atau Wisata Desa Menjamur, Benarkah Kelatahan Pariwisata?

Ida Kade Suarioka

Ida Kade Suarioka

Akademisi UNHI Denpasar

Related Posts

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
0
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

Read moreDetails

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
0
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

Read moreDetails

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails
Next Post
Desa Wisata atau Wisata Desa Menjamur, Benarkah Kelatahan Pariwisata?

Desa Wisata atau Wisata Desa Menjamur, Benarkah Kelatahan Pariwisata?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co