12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jeda di Secangkir Kopi

Angga Wijaya by Angga Wijaya
January 2, 2026
in Ulas Buku
Jeda di Secangkir Kopi

SIANG di Dalung, Badung, Bali, di penghujung 2025, bergerak pelan. Jalanan tidak benar-benar lengang, tapi cukup memberi ruang bagi pikiran untuk tidak tergesa. Di sebuah warung kopi sederhana, bukan kafe bergaya industrial, bukan pula tempat nongkrong penuh laptop dan Wi-Fi, saya bertemu Menot Sukadana. Nama aslinya Nyoman Sukadana, jurnalis senior Bali, dan pemilik media daring podiumnews.com.

Di atas meja, dua cangkir kopi hitam mengepul tipis. Asapnya naik perlahan, seperti memberi isyarat bahwa perbincangan ini tidak akan meledak-ledak, melainkan mengalir. Di tangan Menot, sebuah buku dengan sampul sederhana. Judulnya Jeda (Catatan Renungan Seorang Jurnalis Tentang Kopi, Hidup, dan Makna). Buku ini baru saja terbit. Buku perdana, meski penulisnya telah puluhan tahun hidup dalam dunia kata.

“Ini buku yang lahir dari berhenti sejenak,” katanya pelan, hampir seperti sedang berbicara kepada dirinya sendiri.

Menot bukan nama asing di dunia pers Bali. Ia telah hampir seperempat abad berkutat di media, dari masa media cetak masih berjaya hingga media online menjadi arus utama. Di tengah ritme kerja wartawan yang identik dengan deadline, kecepatan, dan tuntutan selalu hadir, Jeda justru hadir sebagai perlawanan halus terhadap tergesa.

Buku ini berisi 36 tulisan yang ditulis sepanjang 2025. Esai-esai pendek, catatan reflektif, dan renungan personal seorang jurnalis yang memilih menoleh ke belakang, bukan untuk bernostalgia semata, melainkan untuk memahami apa yang telah ia jalani.

“Banyak orang heran, kenapa baru sekarang bikin buku,” ujar Menot sambil tersenyum. “Padahal niatnya sudah lebih dari sepuluh tahun. Tapi mungkin memang harus menunggu waktunya,” imbuhnya.

Di usia mendekati 50 tahun, Menot merasa perlu memberi jeda pada dirinya sendiri. Dunia jurnalistik yang ia jalani selama ini menuntut kehadiran penuh, nyaris tanpa ruang untuk berhenti dan bertanya; untuk apa semua ini.

Tidak kebetulan kopi menjadi bagian penting dari buku ini. Bukan sekadar minuman, kopi hadir sebagai metafora. Seperti jeda di antara dua aktivitas, kopi sering menjadi alasan seseorang berhenti sejenak. Duduk, menghela napas, lalu berpikir.

“Ngopi itu jeda kecil. Di situ kita bisa menata ulang pikiran,” kata Menot.

Di warung kopi Dalung itu, Menot bercerita bahwa banyak tulisannya justru lahir dari momen-momen seperti ini. Duduk sendiri, atau berbincang ringan, lalu menulis tanpa tekanan redaksi, tanpa target klik, tanpa kejar tayang.

Dalam Jeda, kopi bukan gaya hidup urban, melainkan teman sunyi. Ia hadir menemani kegelisahan, pertanyaan tentang makna bekerja, makna hidup, dan makna menjadi wartawan di tengah ekosistem media yang semakin rapuh.

Kesaksian Orang Dalam Dunia Media Lokal

Yang membuat Jeda penting bukan hanya karena ia reflektif, tetapi karena ia jujur. Menot menulis dari posisi orang dalam. Ia tidak sedang mengulas dunia pers sebagai objek penelitian, melainkan sebagai ruang hidup yang ia jalani sendiri.

Ia bercerita tentang wartawan media online di Bali yang hidup dalam kondisi serba terbatas. Tentang perusahaan media yang secara bisnis mirip UMKM; hidup segan mati tidak mau. Tentang gaji di bawah standar, ketiadaan jaminan sosial, dan masa depan yang samar.

“Banyak wartawan belum pensiun saja sudah sakit. Tidak punya BPJS, tidak punya jaminan apa-apa. Kalau berhenti kerja, ya berhenti penghasilan,” katanya.

Buku ini, dengan demikian, menjadi semacam kesaksian sosial. Menot tidak menunjuk siapa pun, tidak menyebut nama media atau perusahaan tertentu. Ia hanya memotret kondisi. Bahwa di balik citra wartawan yang dekat dengan pejabat dan tokoh politik, ada kehidupan ekonomi yang sering kali rapuh.

Dalam perbincangan kami, Menot beberapa kali menekankan bahwa ia tidak sedang menghakimi wartawan. Ia justru ingin menjelaskan konteks. Ketika kesejahteraan tidak terpenuhi, ketika sistem tidak sehat, kompromi etika kerap muncul bukan karena niat buruk, melainkan karena keterpaksaan.

“Kalau orang menyebut wartawan amplop, itu tidak bisa dilepaskan dari ekosistemnya. Sistemnya belum adil,” cetusnya.

Di Jeda, tema ini muncul berulang. Wartawan diposisikan sebagai manusia biasa, dengan kebutuhan hidup, keluarga, dan ketakutan akan masa depan. Buku ini mengajak pembaca melihat bahwa etika jurnalistik tidak bisa dilepaskan dari struktur ekonomi media.

Salah satu konsep yang cukup kuat dalam buku ini adalah wanaprasta. Dalam tradisi Hindu, wanaprasta adalah fase kehidupan ketika seseorang mulai menarik diri dari hiruk pikuk duniawi. Bagi Menot, usia 50 adalah momen reflektif.

“Ini bukan soal pensiun besok. Tapi soal kesadaran bahwa waktu tidak lagi panjang,” ucapnya.

Menot Sukadana dan bukunya | Foto: Angga

Sebagai wartawan, ia menyadari bahwa profesi ini tidak mengenal pensiun yang layak. Tidak ada dana pensiun, tidak ada jaminan hari tua. Kesadaran ini membuat Jeda terasa personal sekaligus politis. Personal karena ia lahir dari kegelisahan individu. Politis karena kegelisahan itu berakar pada sistem.

Dari Ruang Redaksi ke Ruang Sunyi

Menot mendirikan podiumnews.com dengan semangat membangun media lokal yang independen. Namun dalam buku ini, ia tidak sedang mempromosikan medianya. Ia justru mengambil jarak, seolah ingin berkata bahwa dirinya lebih dulu adalah manusia, baru kemudian wartawan.

“Menulis di buku ini beda dengan menulis berita. Tidak ada tekanan,” ujarnya.

Di sinilah Jeda menemukan kekuatannya. Ia tidak meledak-ledak, tidak retoris. Ia berjalan pelan, seperti kopi yang dibiarkan dingin sebelum diteguk. Buku ini memberi ruang bagi pembaca untuk ikut berhenti sejenak.

Dalam obrolan yang mengalir, Menot juga menyinggung keterlibatannya dalam berbagai organisasi kewartawanan di Bali. Upaya itu, menurutnya, berangkat dari kesadaran bahwa perubahan tidak bisa hanya dilakukan sendiri.

Ia bercerita tentang upaya mendorong media online agar lebih sehat secara bisnis, tentang kerja sama dengan pemerintah daerah, tentang penggalangan dana ketika wartawan sakit atau meninggal.

“Kadang yang bisa kita lakukan hanya solidaritas,” katanya.

Buku Jeda mencatat semua itu dengan nada reflektif, bukan heroik. Tidak ada glorifikasi aktivisme. Yang ada adalah kesadaran bahwa bertahan di dunia pers lokal adalah kerja kolektif.

Meski ini buku pertamanya, Menot tidak ingin Jeda menjadi yang terakhir. Ia bahkan menyebut buku ini sebagai bagian awal dari rangkaian panjang. Ada rencana Jeda 2, Jeda 3, dan seterusnya.

“Selama masih bisa menulis, saya ingin menulis,” ujarnya singkat.

Bagi Menot, menulis buku ini seperti melepaskan beban yang lama dipikul. Ada kelegaan, meski bukan euforia. Ia tidak mengejar penjualan besar atau popularitas. Buku ini lebih seperti surat kepada diri sendiri, yang kebetulan bisa dibaca orang lain.

Salah satu harapan Menot dari buku ini adalah agar publik bisa melihat wartawan dengan lebih jernih. Tidak lagi hanya dari stigma, tetapi dari realitas. Wartawan, dalam Jeda, adalah pekerja dengan tanggung jawab moral besar, tetapi sering kali tanpa perlindungan memadai.

“Tanggung jawab kita ke publik itu berat. Tapi kesejahteraan kita sering tidak sebanding,” ujarnya.

Buku ini, dengan demikian, menjadi semacam upaya meluruskan. Bahwa di balik berita yang dibaca setiap hari, ada manusia dengan kegelisahan, ketakutan, dan harapan.

Di akhir perbincangan, saya bertanya tentang anak-anak muda yang ingin menjadi wartawan. Menot tertawa kecil. Dulu, katanya, ada lelucon bahwa menjadi wartawan berarti siap miskin. Kini lelucon itu jarang terdengar, tetapi kondisinya belum sepenuhnya berubah.

“Kalau mau jadi wartawan, harus siap dengan konsekuensinya,” katanya. “Tapi juga jangan berhenti berharap sistem bisa berubah,” sebutnya.

Pesan itu terasa seperti benang merah Jeda. Buku ini tidak pesimistis, tetapi juga tidak naif. Ia menawarkan kesadaran, bukan solusi instan.

Ketika kopi kami tinggal ampas, obrolan pun melambat. Menot menutup bukunya, lalu menatap sejenak ke luar warung. Siang di Dalung masih bergerak pelan. Tidak ada yang mendesak.

Jeda lahir dari momen seperti ini. Dari berhenti sejenak. Dari kesadaran bahwa hidup, seperti kopi, perlu dinikmati tanpa terburu-buru. Bagi dunia jurnalistik Bali, buku ini adalah catatan penting. Bagi pembaca umum, ia adalah ajakan untuk melihat dunia pers dari sudut yang lebih manusiawi.

Dan bagi Menot Sukadana, Jeda adalah cara untuk mengatakan bahwa setelah puluhan tahun berlari mengejar berita, berhenti sejenak justru menjadi bentuk keberanian yang paling jujur. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Bukujurnalisjurnalisme
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jembrana, Generasi Muda, dan Kebudayaan sebagai Kesadaran —Membaca Tahun dari Barat Bali

Next Post

Urgensi Penetapan Waktu Pecaruan pada Tilem Kesanga : Tinjauan Tekstual, Astronomis, dan Filosofis

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails
Next Post
Urgensi Penetapan Waktu Pecaruan pada Tilem Kesanga : Tinjauan Tekstual, Astronomis, dan Filosofis

Urgensi Penetapan Waktu Pecaruan pada Tilem Kesanga : Tinjauan Tekstual, Astronomis, dan Filosofis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co