4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jembrana, Generasi Muda, dan Kebudayaan sebagai Kesadaran —Membaca Tahun dari Barat Bali

tatkala by tatkala
January 1, 2026
in Panggung
Jembrana, Generasi Muda, dan Kebudayaan sebagai Kesadaran —Membaca Tahun dari Barat Bali

Perayaan menyambut tahun baru 2026 di Jembrana | Foto-foto: Ist

Pergantian tahun kerap ditempatkan sebagai ritual kegembiraan kolektif. Namun di Kabupaten Jembrana, penutupan tahun justru dipilih dengan cara berbeda. Tidak ada euforia berlebihan. Yang dihadirkan adalah jeda: ruang untuk berhenti, menengok ke belakang, dan membaca ulang makna pergantian waktu.

Pilihan ini tidak lahir dalam ruang hampa. Sepanjang tahun terakhir, bencana hadir berulang di berbagai wilayah Indonesia: banjir, longsor, cuaca ekstrem, dan kerusakan bentang alam yang semakin kasatmata. Di tengah lanskap nasional semacam itu, Malam Refleksi dan Doa Bersama yang digelar di Jembrana menjadi respon kultural terhadap kegamangan yang lebih luas, ketika pembangunan terus berjalan tetapi relasi manusia dengan alam kian rapuh.

Alih-alih menjadikan kebudayaan sebagai ornamen seremoni, panggung malam itu dirancang sebagai ruang dialog simbolik. Generasi muda diletakkan di pusat, bukan sebagai pelengkap hiburan, melainkan sebagai subjek kebudayaan yang diajak menafsirkan ulang Jembrana dalam bahasa zamannya sendiri. Tradisi dan musik populer dipertemukan bukan untuk saling menegaskan superioritas, tetapi untuk menunjukkan bahwa kebudayaan adalah proses hidup yang terus bergerak, berada dalam tarik-menarik antara kontinuitas dan perubahan.

Rangkaian acara menghadirkan spektrum ekspresi lintas generasi dan lintas genre. Di atas panggung tampil Trio Sengklek, Tari Bhakti Marga dan Tabuh Eksperimental dari Paguyuban Jegog Pring Agung, Efready, Senar Putus, Rudiawan, Bramasta, Made Gimbal, hingga Nanoe Biroe. Penayangan video profil Kabupaten Jembrana dan peluncuran anthem daerah Demi Jembrana, Pasti Bisa! yang digarap Negara Creative Lab berkolaborasi dengan Sanggar Gayatri ditempatkan sebagai simpul narasi. Keberagaman ini bukan sekadar variasi hiburan, melainkan cerminan lanskap sosial Jembrana itu sendiri: tempat generasi, selera, dan latar belakang bertemu dalam satu ruang kebersamaan.

Di titik ini, kebudayaan bekerja sebagai instrumen refleksi sosial. Ketika diskursus kebencanaan kerap terjebak pada angka kerugian dan respon darurat, seni, musik, dan ritual justru membuka ruang lain: ruang untuk merasakan, mengendapkan, dan memaknai krisis secara lebih manusiawi. Anak muda tidak hanya diajak menunjukkan kreativitasnya, tetapi juga menempatkan diri mereka dalam jejaring relasi yang lebih luas dengan sesama, dengan alam, dan dengan nilai-nilai yang melampaui kepentingan diri.

Salah satu momen paling simbolik malam itu hadir melalui parade lilin. Api kecil yang dibawa menjadi suluh, mengiringi langkah Forum Komunikasi Umat Beragama dan unsur Forkopimda sebagai penanda bahwa harmoni sosial dan arah kepemimpinan idealnya berjalan dalam terang kesadaran moral. Cahaya itu menjadi metafora relasi timbal balik: bahwa kehidupan bersama hanya mungkin terjaga ketika manusia mau saling melihat dirinya dalam diri yang lain, dan menempatkan kepentingan bersama di atas ego sektoral.

Kerangka berpikir inilah yang kemudian menjadi fondasi refleksi akhir tahun pemerintah daerah. Di tengah tekanan ekologis yang kian menguat, pembangunan tidak lagi dimaknai semata sebagai akumulasi proyek fisik. Ada kesadaran bahwa yang sama mendesaknya adalah membangun kesadaran kolektif, bagaimana manusia menjaga keseimbangan dengan lingkungannya, merawat kohesi sosial, sekaligus menguatkan hubungan batin dengan nilai-nilai spiritual yang memberi arah.

Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan, menegaskan bahwa pergantian tahun perlu dimaknai lebih dalam, tidak sekadar sebagai perayaan, tetapi sebagai momentum memperkuat tekad bersama.

“Di tahun 2026, kami akan berupaya sekuat tenaga memaksimalkan visi dan misi pembangunan Jembrana. Kita akan bekerja keras, bahu membahu, dan saling mendukung agar seluruh program menuju Jembrana yang maju, harmoni, dan bermartabat dapat segera terwujud,” ujarnya.

Pergantian tahun, dalam konteks ini, diposisikan bukan sebagai titik nol yang ilusif, melainkan sebagai momentum evaluatif. Orientasi pembangunan dibaca ulang: dari logika percepatan menuju kehati-hatian; dari pertumbuhan menuju keberlanjutan. Kebudayaan tidak ditempatkan di pinggir kebijakan, tetapi diusulkan sebagai medium strategis untuk menanamkan nilai, membentuk sikap, dan merawat daya kritis generasi muda.

Situasi di lapangan memperlihatkan resonansi gagasan tersebut. Meski hujan deras sempat mengguyur, animo masyarakat tidak surut. Gedung Kesenian Ir. Soekarno tetap dipadati warga dari berbagai latar, dari anak muda, keluarga, seniman, dan tokoh masyarakat, yang memilih bertahan hingga akhir. Hujan justru membentuk hening yang berbeda, mempertegas bahwa refleksi tidak selalu lahir dalam kondisi ideal.

Bagi tim kreatif Negara Creative Lab, malam refleksi ini sejak awal dirancang sebagai ruang bagi generasi muda. Seni dan doa diposisikan sebagai bahasa bersama untuk membaca krisis tanpa jatuh pada pesimisme, namun juga tanpa menutup mata terhadap realitas. Optimisme dirawat bukan dengan menafikan luka, melainkan dengan kesediaan untuk menatapnya bersama. “Kami tidak ingin menghadirkan ruang yang riuh tetapi memberi kesempatan untuk berhenti sejenak dan berpikir,” ujarnya.

Menjelang akhir acara, kulkul memecah udara yang masih basah oleh hujan, menandai akhir sekaligus awal. Bunyi itu tidak mengajak bersorak, melainkan memanggil seperti ingatan yang dikembalikan pada asalnya.

Waktu tidak sungguh-sungguh berganti hanya karena kalender berubah. Ia berubah ketika manusia memilih untuk mendengar. Di sanalah keseimbangan diuji: antara manusia dan alam, antara hasrat merayakan dan tanggung jawab menjaga. Di luar area utama, sebagian warga masih menyalakan kembang api, memperlihatkan bahwa perubahan selalu berlangsung bertahap, melalui dialog dan negosiasi budaya.

Di Jembrana, tahun baru tidak disambut dengan sorak-sorai, melainkan dengan kesunyian yang bermakna. Sebuah kesadaran bahwa masa depan tidak bisa lagi dibangun dengan tergesa, tetapi dengan menjaga hubungan dengan sesama, dengan alam, dan dengan nilai-nilai yang membuat hidup tetap seimbang.

Demi Jembrana, Pasti Bisa! bukan sebagai janji yang gegabah, melainkan sebagai tekad kultural yang berakar pada tanah, tumbuh dan dijaga dengan penuh kesadaran. [T]

Tags: generasi mudajembranakebudayaantahun baru
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Awas Bahaya Laten Ke(tidak)intiman Komunikasi dalam Perkawinan!

Next Post

Jeda di Secangkir Kopi

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

by tatkala
October 4, 2026
0
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

by Ingga Adelia
September 11, 2026
0
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

Read moreDetails
Next Post
Jeda di Secangkir Kopi

Jeda di Secangkir Kopi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co