5 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jembrana, Generasi Muda, dan Kebudayaan sebagai Kesadaran —Membaca Tahun dari Barat Bali

tatkala by tatkala
January 1, 2026
in Panggung
Jembrana, Generasi Muda, dan Kebudayaan sebagai Kesadaran —Membaca Tahun dari Barat Bali

Perayaan menyambut tahun baru 2026 di Jembrana | Foto-foto: Ist

Pergantian tahun kerap ditempatkan sebagai ritual kegembiraan kolektif. Namun di Kabupaten Jembrana, penutupan tahun justru dipilih dengan cara berbeda. Tidak ada euforia berlebihan. Yang dihadirkan adalah jeda: ruang untuk berhenti, menengok ke belakang, dan membaca ulang makna pergantian waktu.

Pilihan ini tidak lahir dalam ruang hampa. Sepanjang tahun terakhir, bencana hadir berulang di berbagai wilayah Indonesia: banjir, longsor, cuaca ekstrem, dan kerusakan bentang alam yang semakin kasatmata. Di tengah lanskap nasional semacam itu, Malam Refleksi dan Doa Bersama yang digelar di Jembrana menjadi respon kultural terhadap kegamangan yang lebih luas, ketika pembangunan terus berjalan tetapi relasi manusia dengan alam kian rapuh.

Alih-alih menjadikan kebudayaan sebagai ornamen seremoni, panggung malam itu dirancang sebagai ruang dialog simbolik. Generasi muda diletakkan di pusat, bukan sebagai pelengkap hiburan, melainkan sebagai subjek kebudayaan yang diajak menafsirkan ulang Jembrana dalam bahasa zamannya sendiri. Tradisi dan musik populer dipertemukan bukan untuk saling menegaskan superioritas, tetapi untuk menunjukkan bahwa kebudayaan adalah proses hidup yang terus bergerak, berada dalam tarik-menarik antara kontinuitas dan perubahan.

Rangkaian acara menghadirkan spektrum ekspresi lintas generasi dan lintas genre. Di atas panggung tampil Trio Sengklek, Tari Bhakti Marga dan Tabuh Eksperimental dari Paguyuban Jegog Pring Agung, Efready, Senar Putus, Rudiawan, Bramasta, Made Gimbal, hingga Nanoe Biroe. Penayangan video profil Kabupaten Jembrana dan peluncuran anthem daerah Demi Jembrana, Pasti Bisa! yang digarap Negara Creative Lab berkolaborasi dengan Sanggar Gayatri ditempatkan sebagai simpul narasi. Keberagaman ini bukan sekadar variasi hiburan, melainkan cerminan lanskap sosial Jembrana itu sendiri: tempat generasi, selera, dan latar belakang bertemu dalam satu ruang kebersamaan.

Di titik ini, kebudayaan bekerja sebagai instrumen refleksi sosial. Ketika diskursus kebencanaan kerap terjebak pada angka kerugian dan respon darurat, seni, musik, dan ritual justru membuka ruang lain: ruang untuk merasakan, mengendapkan, dan memaknai krisis secara lebih manusiawi. Anak muda tidak hanya diajak menunjukkan kreativitasnya, tetapi juga menempatkan diri mereka dalam jejaring relasi yang lebih luas dengan sesama, dengan alam, dan dengan nilai-nilai yang melampaui kepentingan diri.

Salah satu momen paling simbolik malam itu hadir melalui parade lilin. Api kecil yang dibawa menjadi suluh, mengiringi langkah Forum Komunikasi Umat Beragama dan unsur Forkopimda sebagai penanda bahwa harmoni sosial dan arah kepemimpinan idealnya berjalan dalam terang kesadaran moral. Cahaya itu menjadi metafora relasi timbal balik: bahwa kehidupan bersama hanya mungkin terjaga ketika manusia mau saling melihat dirinya dalam diri yang lain, dan menempatkan kepentingan bersama di atas ego sektoral.

Kerangka berpikir inilah yang kemudian menjadi fondasi refleksi akhir tahun pemerintah daerah. Di tengah tekanan ekologis yang kian menguat, pembangunan tidak lagi dimaknai semata sebagai akumulasi proyek fisik. Ada kesadaran bahwa yang sama mendesaknya adalah membangun kesadaran kolektif, bagaimana manusia menjaga keseimbangan dengan lingkungannya, merawat kohesi sosial, sekaligus menguatkan hubungan batin dengan nilai-nilai spiritual yang memberi arah.

Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan, menegaskan bahwa pergantian tahun perlu dimaknai lebih dalam, tidak sekadar sebagai perayaan, tetapi sebagai momentum memperkuat tekad bersama.

“Di tahun 2026, kami akan berupaya sekuat tenaga memaksimalkan visi dan misi pembangunan Jembrana. Kita akan bekerja keras, bahu membahu, dan saling mendukung agar seluruh program menuju Jembrana yang maju, harmoni, dan bermartabat dapat segera terwujud,” ujarnya.

Pergantian tahun, dalam konteks ini, diposisikan bukan sebagai titik nol yang ilusif, melainkan sebagai momentum evaluatif. Orientasi pembangunan dibaca ulang: dari logika percepatan menuju kehati-hatian; dari pertumbuhan menuju keberlanjutan. Kebudayaan tidak ditempatkan di pinggir kebijakan, tetapi diusulkan sebagai medium strategis untuk menanamkan nilai, membentuk sikap, dan merawat daya kritis generasi muda.

Situasi di lapangan memperlihatkan resonansi gagasan tersebut. Meski hujan deras sempat mengguyur, animo masyarakat tidak surut. Gedung Kesenian Ir. Soekarno tetap dipadati warga dari berbagai latar, dari anak muda, keluarga, seniman, dan tokoh masyarakat, yang memilih bertahan hingga akhir. Hujan justru membentuk hening yang berbeda, mempertegas bahwa refleksi tidak selalu lahir dalam kondisi ideal.

Bagi tim kreatif Negara Creative Lab, malam refleksi ini sejak awal dirancang sebagai ruang bagi generasi muda. Seni dan doa diposisikan sebagai bahasa bersama untuk membaca krisis tanpa jatuh pada pesimisme, namun juga tanpa menutup mata terhadap realitas. Optimisme dirawat bukan dengan menafikan luka, melainkan dengan kesediaan untuk menatapnya bersama. “Kami tidak ingin menghadirkan ruang yang riuh tetapi memberi kesempatan untuk berhenti sejenak dan berpikir,” ujarnya.

Menjelang akhir acara, kulkul memecah udara yang masih basah oleh hujan, menandai akhir sekaligus awal. Bunyi itu tidak mengajak bersorak, melainkan memanggil seperti ingatan yang dikembalikan pada asalnya.

Waktu tidak sungguh-sungguh berganti hanya karena kalender berubah. Ia berubah ketika manusia memilih untuk mendengar. Di sanalah keseimbangan diuji: antara manusia dan alam, antara hasrat merayakan dan tanggung jawab menjaga. Di luar area utama, sebagian warga masih menyalakan kembang api, memperlihatkan bahwa perubahan selalu berlangsung bertahap, melalui dialog dan negosiasi budaya.

Di Jembrana, tahun baru tidak disambut dengan sorak-sorai, melainkan dengan kesunyian yang bermakna. Sebuah kesadaran bahwa masa depan tidak bisa lagi dibangun dengan tergesa, tetapi dengan menjaga hubungan dengan sesama, dengan alam, dan dengan nilai-nilai yang membuat hidup tetap seimbang.

Demi Jembrana, Pasti Bisa! bukan sebagai janji yang gegabah, melainkan sebagai tekad kultural yang berakar pada tanah, tumbuh dan dijaga dengan penuh kesadaran. [T]

Tags: generasi mudajembranakebudayaantahun baru
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Awas Bahaya Laten Ke(tidak)intiman Komunikasi dalam Perkawinan!

Next Post

Jeda di Secangkir Kopi

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif

by Dede Putra Wiguna
June 5, 2026
0
‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif

CAHAYA panggung perlahan meredup. Alunan musik mengalir lembut, mengisi ruang Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, yang malam itu...

Read moreDetails

‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem

by Dede Putra Wiguna
June 5, 2026
0
‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem

SUASANA Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, malam itu terasa berbeda ketika denting pertama gamelan Selonding mulai mengalun dari...

Read moreDetails

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
0
‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

Read moreDetails

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

by Komang Sujana
June 3, 2026
0
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

Read moreDetails

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
0
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

Read moreDetails

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
0
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

Read moreDetails

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

Read moreDetails

Dari Laut hingga Ladang, Ubud Food Festival 2026 Resmi Dibuka dengan Semangat Menjaga Pangan

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Dari Laut hingga Ladang, Ubud Food Festival 2026 Resmi Dibuka dengan Semangat Menjaga Pangan

MALAM baru saja turun di Taman Kuliner Ubud, Kamis, 28 Mei 2026. Di hadapan para tamu undangan, pelaku industri kuliner,...

Read moreDetails

Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

MEMASUKI tahun kesebelas penyelenggaraannya, Ubud Food Festival kembali digelar di Taman Kuliner Ubud dengan mengusung tema “Farmers: Guardians of Land...

Read moreDetails

Dilatih Prof. Dibia, Mahasiswa Korea Siap Pentaskan Kecak di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
May 28, 2026
0
Dilatih Prof. Dibia, Mahasiswa Korea Siap Pentaskan Kecak di Pesta Kesenian Bali 2026

SEKITAR 40 mahasiswa dari Korea, laki-laki dan perempuan, bersiap mementaskan kecak di Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII-2026. Cak cak cak…...

Read moreDetails
Next Post
Jeda di Secangkir Kopi

Jeda di Secangkir Kopi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane
Cerpen

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

by Wayan Gde Yudane
June 5, 2026
Puisi-puisi Ama Gaspar
Puisi

Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

by Ama Gaspar
June 5, 2026
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui
Khas

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif
Panggung

‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif

CAHAYA panggung perlahan meredup. Alunan musik mengalir lembut, mengisi ruang Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, yang malam itu...

by Dede Putra Wiguna
June 5, 2026
Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku
Esai

Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku

Di tengah gempuran media sosial,  kembali kepada buku kertas adalah penting untuk dipikirkan ulang. Apakah pengetahuan-pengetahuan di media sosial itu...

by I Wayan Artika
June 5, 2026
‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem
Panggung

‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem

SUASANA Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, malam itu terasa berbeda ketika denting pertama gamelan Selonding mulai mengalun dari...

by Dede Putra Wiguna
June 5, 2026
Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta
Esai

Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

Matematikawan yang Menolak Realitas Sekadar Mesin Roger Penrose bukan sekadar fisikawan biasa. Ia adalah salah satu ilmuwan yang berani melampaui...

by Agung Sudarsa
June 5, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menonton Pemimpin yang ‘Adigang, Adigung, Adiguna’

GAMBARAN sosok pemimpin dari masa ke masa selalu berubah seiring dengan dinamika masyarakatnya. Dahulu kala, pemimpin di Indonesia sarat dengan...

by Chusmeru
June 5, 2026
‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co