16 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jembrana, Generasi Muda, dan Kebudayaan sebagai Kesadaran —Membaca Tahun dari Barat Bali

tatkala by tatkala
January 1, 2026
in Panggung
Jembrana, Generasi Muda, dan Kebudayaan sebagai Kesadaran —Membaca Tahun dari Barat Bali

Perayaan menyambut tahun baru 2026 di Jembrana | Foto-foto: Ist

Pergantian tahun kerap ditempatkan sebagai ritual kegembiraan kolektif. Namun di Kabupaten Jembrana, penutupan tahun justru dipilih dengan cara berbeda. Tidak ada euforia berlebihan. Yang dihadirkan adalah jeda: ruang untuk berhenti, menengok ke belakang, dan membaca ulang makna pergantian waktu.

Pilihan ini tidak lahir dalam ruang hampa. Sepanjang tahun terakhir, bencana hadir berulang di berbagai wilayah Indonesia: banjir, longsor, cuaca ekstrem, dan kerusakan bentang alam yang semakin kasatmata. Di tengah lanskap nasional semacam itu, Malam Refleksi dan Doa Bersama yang digelar di Jembrana menjadi respon kultural terhadap kegamangan yang lebih luas, ketika pembangunan terus berjalan tetapi relasi manusia dengan alam kian rapuh.

Alih-alih menjadikan kebudayaan sebagai ornamen seremoni, panggung malam itu dirancang sebagai ruang dialog simbolik. Generasi muda diletakkan di pusat, bukan sebagai pelengkap hiburan, melainkan sebagai subjek kebudayaan yang diajak menafsirkan ulang Jembrana dalam bahasa zamannya sendiri. Tradisi dan musik populer dipertemukan bukan untuk saling menegaskan superioritas, tetapi untuk menunjukkan bahwa kebudayaan adalah proses hidup yang terus bergerak, berada dalam tarik-menarik antara kontinuitas dan perubahan.

Rangkaian acara menghadirkan spektrum ekspresi lintas generasi dan lintas genre. Di atas panggung tampil Trio Sengklek, Tari Bhakti Marga dan Tabuh Eksperimental dari Paguyuban Jegog Pring Agung, Efready, Senar Putus, Rudiawan, Bramasta, Made Gimbal, hingga Nanoe Biroe. Penayangan video profil Kabupaten Jembrana dan peluncuran anthem daerah Demi Jembrana, Pasti Bisa! yang digarap Negara Creative Lab berkolaborasi dengan Sanggar Gayatri ditempatkan sebagai simpul narasi. Keberagaman ini bukan sekadar variasi hiburan, melainkan cerminan lanskap sosial Jembrana itu sendiri: tempat generasi, selera, dan latar belakang bertemu dalam satu ruang kebersamaan.

Di titik ini, kebudayaan bekerja sebagai instrumen refleksi sosial. Ketika diskursus kebencanaan kerap terjebak pada angka kerugian dan respon darurat, seni, musik, dan ritual justru membuka ruang lain: ruang untuk merasakan, mengendapkan, dan memaknai krisis secara lebih manusiawi. Anak muda tidak hanya diajak menunjukkan kreativitasnya, tetapi juga menempatkan diri mereka dalam jejaring relasi yang lebih luas dengan sesama, dengan alam, dan dengan nilai-nilai yang melampaui kepentingan diri.

Salah satu momen paling simbolik malam itu hadir melalui parade lilin. Api kecil yang dibawa menjadi suluh, mengiringi langkah Forum Komunikasi Umat Beragama dan unsur Forkopimda sebagai penanda bahwa harmoni sosial dan arah kepemimpinan idealnya berjalan dalam terang kesadaran moral. Cahaya itu menjadi metafora relasi timbal balik: bahwa kehidupan bersama hanya mungkin terjaga ketika manusia mau saling melihat dirinya dalam diri yang lain, dan menempatkan kepentingan bersama di atas ego sektoral.

Kerangka berpikir inilah yang kemudian menjadi fondasi refleksi akhir tahun pemerintah daerah. Di tengah tekanan ekologis yang kian menguat, pembangunan tidak lagi dimaknai semata sebagai akumulasi proyek fisik. Ada kesadaran bahwa yang sama mendesaknya adalah membangun kesadaran kolektif, bagaimana manusia menjaga keseimbangan dengan lingkungannya, merawat kohesi sosial, sekaligus menguatkan hubungan batin dengan nilai-nilai spiritual yang memberi arah.

Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan, menegaskan bahwa pergantian tahun perlu dimaknai lebih dalam, tidak sekadar sebagai perayaan, tetapi sebagai momentum memperkuat tekad bersama.

“Di tahun 2026, kami akan berupaya sekuat tenaga memaksimalkan visi dan misi pembangunan Jembrana. Kita akan bekerja keras, bahu membahu, dan saling mendukung agar seluruh program menuju Jembrana yang maju, harmoni, dan bermartabat dapat segera terwujud,” ujarnya.

Pergantian tahun, dalam konteks ini, diposisikan bukan sebagai titik nol yang ilusif, melainkan sebagai momentum evaluatif. Orientasi pembangunan dibaca ulang: dari logika percepatan menuju kehati-hatian; dari pertumbuhan menuju keberlanjutan. Kebudayaan tidak ditempatkan di pinggir kebijakan, tetapi diusulkan sebagai medium strategis untuk menanamkan nilai, membentuk sikap, dan merawat daya kritis generasi muda.

Situasi di lapangan memperlihatkan resonansi gagasan tersebut. Meski hujan deras sempat mengguyur, animo masyarakat tidak surut. Gedung Kesenian Ir. Soekarno tetap dipadati warga dari berbagai latar, dari anak muda, keluarga, seniman, dan tokoh masyarakat, yang memilih bertahan hingga akhir. Hujan justru membentuk hening yang berbeda, mempertegas bahwa refleksi tidak selalu lahir dalam kondisi ideal.

Bagi tim kreatif Negara Creative Lab, malam refleksi ini sejak awal dirancang sebagai ruang bagi generasi muda. Seni dan doa diposisikan sebagai bahasa bersama untuk membaca krisis tanpa jatuh pada pesimisme, namun juga tanpa menutup mata terhadap realitas. Optimisme dirawat bukan dengan menafikan luka, melainkan dengan kesediaan untuk menatapnya bersama. “Kami tidak ingin menghadirkan ruang yang riuh tetapi memberi kesempatan untuk berhenti sejenak dan berpikir,” ujarnya.

Menjelang akhir acara, kulkul memecah udara yang masih basah oleh hujan, menandai akhir sekaligus awal. Bunyi itu tidak mengajak bersorak, melainkan memanggil seperti ingatan yang dikembalikan pada asalnya.

Waktu tidak sungguh-sungguh berganti hanya karena kalender berubah. Ia berubah ketika manusia memilih untuk mendengar. Di sanalah keseimbangan diuji: antara manusia dan alam, antara hasrat merayakan dan tanggung jawab menjaga. Di luar area utama, sebagian warga masih menyalakan kembang api, memperlihatkan bahwa perubahan selalu berlangsung bertahap, melalui dialog dan negosiasi budaya.

Di Jembrana, tahun baru tidak disambut dengan sorak-sorai, melainkan dengan kesunyian yang bermakna. Sebuah kesadaran bahwa masa depan tidak bisa lagi dibangun dengan tergesa, tetapi dengan menjaga hubungan dengan sesama, dengan alam, dan dengan nilai-nilai yang membuat hidup tetap seimbang.

Demi Jembrana, Pasti Bisa! bukan sebagai janji yang gegabah, melainkan sebagai tekad kultural yang berakar pada tanah, tumbuh dan dijaga dengan penuh kesadaran. [T]

Tags: generasi mudajembranakebudayaantahun baru
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Awas Bahaya Laten Ke(tidak)intiman Komunikasi dalam Perkawinan!

Next Post

Jeda di Secangkir Kopi

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
0
Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

Read moreDetails

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
0
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

Read moreDetails

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
0
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

Read moreDetails

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
0
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

Read moreDetails

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
0
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

Read moreDetails

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
0
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
0
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

Read moreDetails

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
0
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

Read moreDetails

‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 10, 2026
0
‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026

MALAM itu nyaris tak terdengar suara selain desir angin dan dialog yang mengalun dari layar. Puluhan pasang mata tertuju ke...

Read moreDetails

Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali

SORE itu, suasana sakral menyelimuti Kalangan Ratna Kanda, Taman Budaya Provinsi Bali, Kamis (9/7/2026). Nada-nada yang terdengar sederhana, tetapi kokoh...

Read moreDetails
Next Post
Jeda di Secangkir Kopi

Jeda di Secangkir Kopi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih
Esai

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   
Esai

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng
Khas

Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng

RUMAH itu kembali ramai, tetapi bukan karena bunyi pahat atau aroma cat yang biasa mengisi ruang-ruangnya. Sabtu, 11 Juli 2026...

by Komang Puja Savitri
July 15, 2026
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Esai

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)
Khas

Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

Tema: Menelusuri Jejak Awal Kepariwisataan Budaya Bali dalam Perspektif Sejarah dan Kebudayaan Focus Group Discussion (FGD) Kajian 100 Tahun Pariwisata...

by Nyoman Mariyana
July 15, 2026
Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi
Ulas Rupa

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

TIDAK semua pengetahuan lahir dari buku. Jauh sebelum manusia mengenal aksara, alam telah lebih dahulu menjadi ruang belajar. Pohon mengajarkan...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif
Esai

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali
Panggung

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co