10 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Awas Bahaya Laten Ke(tidak)intiman Komunikasi dalam Perkawinan!

Wisnu Widjanarko by Wisnu Widjanarko
January 1, 2026
in Esai
Mempertanyakan Cinta : Meniti Rasa, Menata Jiwa

Wisnu Widjanarko

Salah satu tantangan terbesar dalam perkawinan adalah ketika riak-riak kecil permasalahan berubah menjadi ombak badai yang mengguncangkan. Alih-alih bertukar ide dan gagasan penuh persuasi, justru berubah menjadi kesalingan yang saling menyakiti satu sama lain. 

Rangkaian kalimat yang diutarakan seolah seperti berondongan peluru yang dimuntahkan dari senapan laras panjang. Intonasi nada dan tatapan mata, ibarat belati yang menghunjam tanpa belas kasihan. Tidak hanya itu, bahkan pada titik tertentu marah dalam kesenyapan justru menjadi bom atom yang siap menghancurkan semua rasa yang pernah ada, nyaris tanpa sisa. 

Walhasil, perbedaan yang sesungguhnya masih bisa didialogkan, kehilangan kesempatan untuk menemukan titik kesepakatannya.  Relasi pasangan suami istri yang seharusnya penuh kelindan kasih sayang, justru terkadang terjebak dalam ruang saling melukai dan menimbulkan kekecewaan yang tak terperi.

Situasi ini berpotensi merentankan perkawinan ke tepi jurang kehancuran, termasuk memberi ruang kepada ‘orang ketiga’ memasuki benak dan rasa pada salah satu atau malah masing-masing pasangan. Hal ini sesungguhnya menarik untuk disimak. Mengapa perkawinan yang ‘katanya’ ruang persamuhan akan rasa kewelasasihan, justru laksana padang kurusetra yang siap meniadakan yang berseberangan?

Relasi Romantis yang Dinamis

Salah satu kekeliruan terbesar adalah membaca perkawinan sebagai akhir dari sebuah relasi romantis dua anak manusia. Mengapa demikian? Relasi romantis itu tidak bersifat linear, yang diawali dari perkenalan, merasakan adanya kedekatan, hingga saling terbuka satu sama lain dan memutuskan untuk mengokohkan komitmen dalam perkawinan. 

Relasi romantis, sejatinya bersifat sirkuler dan dinamis. Betul, bahwa perkawinan menjadi puncak tertinggi artikulasi komitmen akan kesetiaan terhadap pasangan. Namun demikian, perkawinan bukanlah melulu struktur belaka.  Padahal merujuk dari Segrin & Flora (2011) perkawinan sebagai bentuk keluarga, tidak hanya dari aspek struktur dan fungsi saja, melainkan juga sebagai sebuah interaksi. Atau dengan kata lain, perkawinan merupakan sebuah ‘ruang yang hidup’ di mana interaksi diantara pasangan suami istri akan senantiasa tak berkesudahan sejauh terikat konteks keseharian, harapan, dan tujuan yang diyakini bersama dalam perkawinan.  

Sehingga, naif bila perkawinan bersifat statis, karena hampir bisa dipastikan akan selalu cair bahkan sangat dinamis. Kemajemukan dan berkembangnya peran, yang awalnya adalah ‘dua orang yang saling jatuh cinta’ kemudian menjadi menantu bagi keluarga pasangannya, orangtua bagi anak, mertua dan besan ketika anak sudah menikah, bahkan menjadi kakek nenek! Ini sungguh menegaskan betapa relasi romantik pasangan suami istri tidak akan benar-benar sama di awal perkawinan.  Itu saja, baru dari konteks tambahan peran sebagai orangtua, belum lagi bila dikaitkan dengan usia, karir, relasi sosial dan keluarga besar, tentunya akan memberikan kompleksitas dan kerumitan tersendiri yang menyedot energi.

Nah, pada titik-titik di mana energi begitu tersedot, di situlah kerentanan emosi terjadi yang menyulut pertikaian di antara pasangan.  Walhasil, masing-masing pasangan tidak dapat mengendalikan pilihan verbal dan non-verbal dalam mengekspresikan perasaan dan pandangannya, sehingga disadari atau tidak menciderai perasaan pasangan. 

Pasangan kehilangan fokus dari menyampaikan pandangannya menjadi memaksakan perspektifnya. Pasangan tidak lagi menekankan pada urgensi dan rasionalisasi atas sudut pandangnya, melainkan terjebak dalam menegasikan pemikiran di luar yang diyakininya. Walhasil, kata-kata tidak lagi menjelaskan ide, gagasan, pemikiran dan perasaan melainkan menekankan pada kebenaran tunggal versi dirinya sekaligus menyatakan bahwa di luar versinya adalah sebuah kesalahan.

Parabahasa tidak lagi mengedepankan atensi dan afeksi yang bersifat kesalingan yang apresiatif, tapi tergoda untuk agitatif dan agresif.  Implikasinya jelas, masing-masing pasangan akan merasa terluka, karena dua hal, pertama, tersakiti oleh pilihan ucapan dan bahasa tubuh yang merendahkannya dan kedua, tersakiti karena dituturkan oleh orang yang dicintai. 

Belum lagi ketika ada pihak-pihak di luar perkawinan yang ikut campur, baik dengan niat baik ataupun ada niat tersembunyi di balik intervensinya.   Kerentanan ini semakin diperparah, ketika justru mencari pelarian dengan orang lain, dan mempersepsikan pelarian itu memberikan kenyamanan. Sangat mungkin, akibat dari komunikasi yang tersumbat, pilihan kata yang tidak menjaga perasaan dan memuliakan pasangan, menjadikan rasa cinta yang ada perlahan terkikis, tergerus, serta hambar.  Walhasil, perkawinan bukan lagi surga yang turun di bumi, melainkan neraka yang tercipta di dunia. 

Intimasi Melalui Komunikasi

Situasi ini, sekali lagi menjadi sangat rentan bagi keutuhan perkawinan, karena memicu pasangan untuk ‘malas’ membangun intimasi melalui komunikasi, yang muaranya meredupkan hasrat yang ada dan meresikokan komitmen yang selama ini dibangun. Padahal,  perilaku komunikasi sesungguhnya manifestasi dari proses mental yang berlangsung pada diri setiap individu, dan bertransformasi dalam olah verbal maupun non-verbal  (Widjanarko, 2025).

Lebih lanjut diungkapkan, bahwa hakikat dari komunikasi adalah persuasif serta membangun persepsi, sikap, dan perilaku yang diharapkan.  Komunikasi tidak hanya sebagai ruang pengiriman atau pertukaran pesan belaka, melainkan juga untuk ruang untuk memanusiawikan diri, yang tidak berada dalam ruang hampa budaya (Lusiana, 2025). 

Lebih spesifik lagi, dalam konteks komunikasi keluarga, maka interaksi menjadi landasan yang fundamental sekaligus pilar yang mengokohkan kelindan perasaan dan pikiran yang ada setiap anggota keluarga, termasuk di dalamnya adalah pasangan suami istri (Widjanarko, Marhaeni, dan Runtiko, 2023).

Lalu, bagaimana cara menatakelola keintiman komunikasi di dalam perkawinan, sehingga interaksi dapat berjalan secara sehat, harmonis, dan menyegarkan pasangan untuk senantiasa memadu kasih?

Berangkat dari pemikiran tersebut, maka dibutuhkan sebuah ikhtiar komunikasi diantara pasangan suami istri, baik yang baru memulai mahligai perkawinan atapun yang sudah makan asam garamnya bahtera rumah tangga. Harapannya, semua bisa didialogkan dengan ‘kepala dingin’ dan ‘kehangatan’ jiwa diantara keduanya, khususnya manakala terjadi perbedaan.

Pertama, setiap pasangan perlu melatih cara dalam menyampaikan pandangan yang potensial berbeda perspektifnya. Alih-alih ingin detail dan komprehensif, justru malahan terkadang yang disampaikan lebih terwarnai kebuncahan emosi dan tidak memberi kesempatan pasangannya untuk menyimak dengan utuh. 

Pilihlah waktu yang tepat serta situasi yang nyaman. Mulailah dengan memberikan gambaran situasi yang ada, kemudian mendeskripsikan alasan mengapa memiliki sudut pandang tersebut. Pastikan ada jeda, cermati bahasa tubuh pasangan, dan beri ruang kepada pasangan untuk memberi tanggapan selama dialog berlangsung.

Kedua, setiap pasangan perlu melatih cara dalam menyimak. Godaan terbesar saat menyimak adalah ketika kita mendengarkan untuk merespon, alih-alih untuk mencoba mengerti apa yang sesungguhnya disampaikan pasangan. Kita terjebak untuk seolah-olah mengerti apa yang dimaksudkan dan melakukan simplifikasi dalam menyimpulkan pesan berdasarkan sudut pandang kita sendiri.  Mulailah mendengarkan dengan bahasa tubuh yang supportif, jangan tergesa-gesa menafsirkan sebelum pesan itu utuh tersampaikan, peka dengan kebutuhan pasangan, apakah dia ingin mendapatkan solusi, ataukan dia lebih ingin untuk didengarkan.

Ketiga, setiap pasangan perlu berempati dengan kemungkinan ketidaknyamanan yang ditimbulkan dari gaya komunikasi masing-masing. Setiap pasangan kita dibesarkan dengan pola komunikasi keluarga yang berbeda-beda. Maka, menjadi penting untuk saling mengenal dan mendalami pola dan gayanya, sehingga proses komunikasi menjadi lebih mengena sekaligus efektif.

Bayangkan, ketika salah satu dibesarkan dengan gaya demokratis bertemu dengan pasangan yang diasuh dengan gaya otoritatif, tentu diperlukan penyelarasan terlebih dahulu, bila tidak ingin terjadi situasi yang malah menjadi konfrontatif.  Setiap pasangan kiranya perlu menjadi lebih terbuka menceritakan bagaimana di masa kecil mereka diasuh, dibesarkan dan cara komunikasi masing-masing, sehingga menjadi lebih memahami alih-alih menghakimi.

Berada dalam ikatan perkawinan, sejatinya adalah menjadi ada dan mengada pada  ruang dan waktu yang akan dihabiskan melalui mekanisme negosiasi dua pribadi yang berbeda,  namun bersepakat untuk menjalankan kehidupan bersama.  Perkawinan adalah momentum terindah bagi dua anak manusia yang saling menggenapkan kehidupannya dengan keberadaan pasangannya.

Otentisitas yang dimiliki masing-masing pasangan, tentunya akan menjadi kekuatan yang menyempurnakan kebahagiaan dan menguatkan keyakinan mengapa perkawinan ini dipilih, dijalani, dan dipertahankan.  Keintiman komunikasi akan memampukan pasangan menjaga daya pikatnya masing-masing, merayakan keberbagian pikiran dan perasaan yang dimiliki tanpa meniadakan perbedaan setiap pasangan sebagai sebuah keterberian.

Maka, jangan pernah ragu untuk membangun keintiman komunikasi sedini mungkin, menjaganya agar tak berkesudahan, sehingga memaknai perspektif yang berbeda menjadi dinamika yang menggelorakan asmaradahana yang ada alih-alih sebagai pemantik konflik berkepanjangan. [T]

Tags: komunikasiperkawinansuami istri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Toto – Africa’: Membuka Gerbang Menuju Dunia Lain, Antara Realita dan Mimpi

Next Post

Jembrana, Generasi Muda, dan Kebudayaan sebagai Kesadaran —Membaca Tahun dari Barat Bali

Wisnu Widjanarko

Wisnu Widjanarko

Dosen Psikologi Komunikasi dan Komunikasi Keluarga pada Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails

Terbang di Atas Sepi

by Angga Wijaya
May 8, 2026
0
Terbang di Atas Sepi

“Kalau gak sabar, silakan terbang di atas sepi.” Tulisan di bak truk itu mungkin lahir dari kemacetan. Dari jalan yang...

Read moreDetails

Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama

by I Gede Joni Suhartawan
May 8, 2026
0
Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama

DATA BPS Februari 2026 membuat kita harus berhenti pura-pura tidak hirau: tingkat pengangguran terbuka lulusan SMK  8.62%..! Tertinggi dari semua...

Read moreDetails

Trio Brunkow, Ramsdell, dan Sakaguchi: Ketika Kolaborasi Ilmiah Mengubah Masa Depan Kemanusiaan

by Agung Sudarsa
May 8, 2026
0
Trio Brunkow, Ramsdell, dan Sakaguchi: Ketika Kolaborasi Ilmiah Mengubah Masa Depan Kemanusiaan

Jejak Kehidupan Tiga Ilmuwan Penjaga Sistem Imun Dunia ilmu pengetahuan sering melahirkan tokoh-tokoh besar yang bekerja dalam kesunyian laboratorium, jauh...

Read moreDetails

Deforestasi Sangat Ditabukan Suku Baduy

by Asep Kurnia
May 7, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

DUNIA saat ini sedang dilanda berbagai bencana alam yang mengerikan dan akan menghadapi suatu bencana yang amat sangat mengerikan bila...

Read moreDetails

Tengah Malam Rokok Habis                           

by Angga Wijaya
May 7, 2026
0
Tengah Malam Rokok Habis                           

HAL yang paling menyiksa bagi para perokok adalah ketika bangun tengah malam dan mendapati bungkus rokok kosong di atas meja....

Read moreDetails

KENAPA MASYARAKAT BALI MENSAKRALKAN MANGROVE (Prapat/Pedada/Pidada)?

by Sugi Lanus
May 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Mengenang Kembali Pohon Pesisir yang Dimuliakan Danghyang Nirartha Oleh: Sugi Lanus Di sepanjang garis pantai pulau Serangan dan pantai-pantai...

Read moreDetails

Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri

by Nur Kamilia
May 5, 2026
0
Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri

- Sebuah Refleksi tentang Komodifikasi Kesunyian dan Pergeseran Makna Ruang Sakral BALI kini tengah menjual sesuatu yang paling mahal di...

Read moreDetails
Next Post
Jembrana, Generasi Muda, dan Kebudayaan sebagai Kesadaran —Membaca Tahun dari Barat Bali

Jembrana, Generasi Muda, dan Kebudayaan sebagai Kesadaran ---Membaca Tahun dari Barat Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

MKN Bukan Tameng Impunitas: Notaris Berintegritas, Penegak Hukum  Taati Prosedur

MAHKAMAH Konstitusi melalui Putusan Nomor 65/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor...

by I Made Pria Dharsana
May 9, 2026
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna
Esai

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
Puting Beliung | Cerpen Supartika
Cerpen

Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

by I Putu Supartika
May 9, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

by Sugi Lanus
May 9, 2026
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot
Esai

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
Terbang di Atas Sepi
Esai

Terbang di Atas Sepi

“Kalau gak sabar, silakan terbang di atas sepi.” Tulisan di bak truk itu mungkin lahir dari kemacetan. Dari jalan yang...

by Angga Wijaya
May 8, 2026
Filla, Unit Rock Tunanetra asal Bali Resmi Bertransformasi Jadi Solo Project Setelah Merilis Tiga Single
Pop

Filla, Unit Rock Tunanetra asal Bali Resmi Bertransformasi Jadi Solo Project Setelah Merilis Tiga Single

SETELAH mencuri perhatian sebagai unit rock tunanetra asal Bali lewat single “Keidela”, “I’m a Fire”, dan “3”, kini Filla memasuki...

by Dede Putra Wiguna
May 8, 2026
Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama
Esai

Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama

DATA BPS Februari 2026 membuat kita harus berhenti pura-pura tidak hirau: tingkat pengangguran terbuka lulusan SMK  8.62%..! Tertinggi dari semua...

by I Gede Joni Suhartawan
May 8, 2026
Trio Brunkow, Ramsdell, dan Sakaguchi: Ketika Kolaborasi Ilmiah Mengubah Masa Depan Kemanusiaan
Esai

Trio Brunkow, Ramsdell, dan Sakaguchi: Ketika Kolaborasi Ilmiah Mengubah Masa Depan Kemanusiaan

Jejak Kehidupan Tiga Ilmuwan Penjaga Sistem Imun Dunia ilmu pengetahuan sering melahirkan tokoh-tokoh besar yang bekerja dalam kesunyian laboratorium, jauh...

by Agung Sudarsa
May 8, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Deforestasi Sangat Ditabukan Suku Baduy

DUNIA saat ini sedang dilanda berbagai bencana alam yang mengerikan dan akan menghadapi suatu bencana yang amat sangat mengerikan bila...

by Asep Kurnia
May 7, 2026
Tengah Malam Rokok Habis                           
Esai

Tengah Malam Rokok Habis                           

HAL yang paling menyiksa bagi para perokok adalah ketika bangun tengah malam dan mendapati bungkus rokok kosong di atas meja....

by Angga Wijaya
May 7, 2026
Wujudkan Tri Hita Karana, KKN Tematik UPMI 2026 Sukses Bawa Perubahan Positif di Banjar Negari, Singapadu Tengah, Gianyar
Pendidikan

Wujudkan Tri Hita Karana, KKN Tematik UPMI 2026 Sukses Bawa Perubahan Positif di Banjar Negari, Singapadu Tengah, Gianyar

MAHASISWA Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali) Kelompok VI Tahun 2026 sukses menyelenggarakan serangkaian program...

by Dede Putra Wiguna
May 7, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co