25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menapaki Sulawesi, Menyelami Toraja: Perjalanan Hati untuk Belajar dari Kehidupan

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
November 17, 2025
in Tualang
Menapaki Sulawesi, Menyelami Toraja: Perjalanan Hati untuk Belajar dari Kehidupan

Menapaki Sulawesi, Menyelami Toraja: Perjalanan Hati untuk Belajar dari Kehidupan

UDARA Makassar terasa lembab siang itu ketika roda pesawat mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin. Saya menjejakkan kaki dengan rasa yang selalu sama: rindu pada tanah Sulawesi. Kali ini bukan semata urusan akademik, melainkan perjalanan yang menautkan langkah, usia, dan rasa syukur.

Saya datang bersama istri tercinta dan sahabat dekatsaya, Prof. Dr. Suwaib Amiruddin, untuk menghadiri sidang promosi doktor di Universitas Hasanuddin. Namun di balik agenda resmi itu, kami menyiapkan diri untuk sebuah perjalanan batin yang lebih dalam.

Rumah ibunda Prof. Andi Alimuddin di Sidrap | Foto Dok.Penulis

Sebelum berangkat jauh, kami menikmati Coto Makassar Samudra yang tersohor. Kuahnya kental, aromanya kuat, dan rasa rempahnya seperti sapaan hangat dari tanah Bugis. Usai santap siang, kami menuju Parepare bersama Prof. Andi Alimuddin. Perjalanan darat ini menembus kota-kota pesisir Maros, Pangkep, Barru dengan sawah hijau dan garis pantai biru di kejauhan. Di Parepare, kopi dan Barongko menjadi teman sore kami. Barongko, kue pisang lembut yang dibungkus daun, menghadirkan nostalgia masa kecil kami, seakan mengingatkan bahwa manisnya hidup selalu datang dari kesederhanaan.

Malam menjelang, di beranda rumah Prof. Andi, kami berbincang tentang hidup, pendidikan, dan makna perjalanan. Lalu tuan rumah menatap kami sambil tersenyum, “Bagaimana kalau besok ke Toraja?” Kalimat itu seperti undangan dari alam. Saya sudah pernah ke sana, tapi ajakan kali ini terasa lain. Ada semacam panggilan batin untuk kembali.

Perkampungan Adat Kete Kesu | Foto Dok.Penulis

Keesokan pagi, kami berkemas. Istri Prof. Andi membekali kami lepat ketan dan telur asin, bekal perjalanan darat yang panjang, turut serta juga putri bungsu Prof Andi, bocah kelas 5 SD, Tenri namanya. Dari Parepare kami bergerak melewati Pinrang, Sidrap, dan Enrekang. Jalan berkelok, udara makin sejuk.

Dari Parepare, mobil kami mulai menanjak perlahan meninggalkan udara pesisir yang panas menuju wilayah Pinrang. Jalanan membentang di antara hamparan sawah dan kebun kakao yang tampak hijau dan subur. Sesekali terlihat anak-anak bersepeda di pinggir jalan, menyapa ramah setiap mobil yang lewat. Pinrang terasa hidup dengan denyut pedesaan yang tenang namun bersemangat.

Kami berhenti di sebuah kios kecil di tepi jalan untuk mencicipi Dangke, makanan khas daerah ini. Seorang ibu penjual bercerita, “Dangke ini dibuat dari susu sapi segar, dicampur getah pepaya, lalu dipres tanpa bahan kimia.” Ia menawarkannya dengan sambal tomat pedas dan sedikit perasan jeruk nipis. Rasanya gurih, sederhana, tapi meninggalkan kesan otentik yang kuat, seperti wajah masyarakat Bugis yang tulus dan apa adanya.

Patung Yesus di bukit Burake | Foto Dok.Penulis

Setelah dari Pinrang, kami mulai memasuki wilayah Enrekang, tempat di mana daratan mulai menanjak dan pemandangan berubah drastis. Bukit-bukit batu menjulang di kiri kanan jalan, menandai peralihan dari dataran ke pegunungan. Angin terasa lebih dingin, dan pepohonan tumbuh rapat meneduhi sebagian ruas jalan Trans Sulawesi.

Di sebuah pasar kecil dekat perbatasan, kami kembali berhenti untuk makan siang. Menu hari itu: Nasu Cemba, olahan daging sapi berkuah rempah dengan daun asam yang memberi sentuhan segar. “Kalau di Makassar namanya coto, tapi di sini rasanya lebih ringan,” kata seorang bapak yang duduk di meja sebelah sambil tersenyum ramah. Di warung itu, percakapan ringan antara pelancong dan warga terasa begitu alami, seperti keluarga yang baru saja bertemu kembali.

***

Perjalanan terus berlanjut ke arah Gunung Nona, ikon alam Enrekang yang menantang sekaligus memesona. Jalan berkelok naik, dan dari kejauhan tampak puncak gunung yang diselimuti kabut. Di sebuah titik pandang, kami berhenti untuk minum kopi tubruk panas yang disajikan dalam cangkir kaleng. Sambil menatap lembah luas yang membentang, saya merasakan kedamaian yang tak bisa dibeli di kota manapun, hanya suara angin, aroma kopi, dan rasa syukur dalam hati.

Londa, kompleks makam gua yang sakral | Foto Dok.Penulis

Kami tiba di Rantepao, Toraja Utara, menjelang malam. Kota kecil ini sejuk dan tenang, dikelilingi rumah-rumah Tongkonan beratap lengkung seperti perahu. Keesokan pagi kami menuju Londa, kompleks makam gua yang sakral. Di dinding batu tergantung peti kayu tua dan arca kayu “tau-tau” yang memandangi lembah dari ketinggian. Di sana saya merasa kecil di hadapan sejarah dan penghormatan orang Toraja kepada leluhur mereka.

Dari Londa, kami melanjutkan ke Kete Kesu, perkampungan tradisional yang masih hidup dengan adat dan kearifan lokalnya. Di depan rumah Tongkonan tergantung tanduk-tanduk kerbau, penanda kehormatan keluarga. Seorang warga bercerita bahwa setiap tanduk adalah simbol pengorbanan, tanda cinta dan penghormatan dalam upacara kematian Rambu Solo. Di Toraja, kematian bukan akhir, melainkan perjalanan menuju kehidupan abadi.

Menjelang siang kami naik ke Bukit Burake, tempat patung Yesus setinggi hampir 40 meter berdiri memandang lembah Makale. Dari puncak itu, pemandangan terbentang seperti lukisan hidup: rumah Tongkonan, kabut yang bergulung, dan suara lonceng gereja yang sayup terdengar. Di titik itu, saya terdiam lama. Ada rasa haru dan syukur, bahwa di usia yang tak muda lagi, saya masih diberi kesempatan untuk melihat keindahan yang menenangkan jiwa.

Sore menjelang ketika kami kembali ke Parepare. Di rumah keluarga Prof. Andi, kopi kembali tersaji. Percakapan ringan mengalir, diselingi tawa kecil mengenang perjalanan yang baru kami lalui. Lelah perjalanan terbayar dengan rasa syukur. Ada kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan jarak, tetapi dengan perasaan: bahwa hidup, sejatinya, adalah perjalanan menuju pemahaman dan ketenangan.

Perkampungan Lemo | Foto Dok. Penulis

Di dalam gua pemakaman Londa | Foto Dok.Penulis

 

Perjalanan ke Toraja bukan hanya menapaki jalan berkelok di pegunungan Sulawesi Selatan, melainkan perjalanan hati untuk belajar dari kehidupan. Dari keramahan warga Bugis hingga kebijaksanaan adat Toraja, saya belajar, bahwa rasa syukur tidak datang dari pencapaian besar, melainkan dari kesederhanaan: secangkir kopi panas, kabut yang menurunkan sunyi, dan langkah yang masih bisa saya ayunkan. Alhamdulillah, hanya kepadaMu hamba bersyukur. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: SulawesiToraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Buku-Buku Populer yang Jadi Favorit Banyak Pembaca di CFD Kota Padang, Mana Pilihanmu?

Next Post

Piodalan Agung di Pura Segara Buleleng: Ketulusan Ngayah STT Yowana Taruna Wirahita Banjar Jawa

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails
Next Post
Piodalan Agung di Pura Segara Buleleng: Ketulusan Ngayah STT Yowana Taruna Wirahita Banjar Jawa

Piodalan Agung di Pura Segara Buleleng: Ketulusan Ngayah STT Yowana Taruna Wirahita Banjar Jawa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co