25 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menapaki Sulawesi, Menyelami Toraja: Perjalanan Hati untuk Belajar dari Kehidupan

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
November 17, 2025
in Tualang
Menapaki Sulawesi, Menyelami Toraja: Perjalanan Hati untuk Belajar dari Kehidupan

Menapaki Sulawesi, Menyelami Toraja: Perjalanan Hati untuk Belajar dari Kehidupan

UDARA Makassar terasa lembab siang itu ketika roda pesawat mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin. Saya menjejakkan kaki dengan rasa yang selalu sama: rindu pada tanah Sulawesi. Kali ini bukan semata urusan akademik, melainkan perjalanan yang menautkan langkah, usia, dan rasa syukur.

Saya datang bersama istri tercinta dan sahabat dekatsaya, Prof. Dr. Suwaib Amiruddin, untuk menghadiri sidang promosi doktor di Universitas Hasanuddin. Namun di balik agenda resmi itu, kami menyiapkan diri untuk sebuah perjalanan batin yang lebih dalam.

Rumah ibunda Prof. Andi Alimuddin di Sidrap | Foto Dok.Penulis

Sebelum berangkat jauh, kami menikmati Coto Makassar Samudra yang tersohor. Kuahnya kental, aromanya kuat, dan rasa rempahnya seperti sapaan hangat dari tanah Bugis. Usai santap siang, kami menuju Parepare bersama Prof. Andi Alimuddin. Perjalanan darat ini menembus kota-kota pesisir Maros, Pangkep, Barru dengan sawah hijau dan garis pantai biru di kejauhan. Di Parepare, kopi dan Barongko menjadi teman sore kami. Barongko, kue pisang lembut yang dibungkus daun, menghadirkan nostalgia masa kecil kami, seakan mengingatkan bahwa manisnya hidup selalu datang dari kesederhanaan.

Malam menjelang, di beranda rumah Prof. Andi, kami berbincang tentang hidup, pendidikan, dan makna perjalanan. Lalu tuan rumah menatap kami sambil tersenyum, “Bagaimana kalau besok ke Toraja?” Kalimat itu seperti undangan dari alam. Saya sudah pernah ke sana, tapi ajakan kali ini terasa lain. Ada semacam panggilan batin untuk kembali.

Perkampungan Adat Kete Kesu | Foto Dok.Penulis

Keesokan pagi, kami berkemas. Istri Prof. Andi membekali kami lepat ketan dan telur asin, bekal perjalanan darat yang panjang, turut serta juga putri bungsu Prof Andi, bocah kelas 5 SD, Tenri namanya. Dari Parepare kami bergerak melewati Pinrang, Sidrap, dan Enrekang. Jalan berkelok, udara makin sejuk.

Dari Parepare, mobil kami mulai menanjak perlahan meninggalkan udara pesisir yang panas menuju wilayah Pinrang. Jalanan membentang di antara hamparan sawah dan kebun kakao yang tampak hijau dan subur. Sesekali terlihat anak-anak bersepeda di pinggir jalan, menyapa ramah setiap mobil yang lewat. Pinrang terasa hidup dengan denyut pedesaan yang tenang namun bersemangat.

Kami berhenti di sebuah kios kecil di tepi jalan untuk mencicipi Dangke, makanan khas daerah ini. Seorang ibu penjual bercerita, “Dangke ini dibuat dari susu sapi segar, dicampur getah pepaya, lalu dipres tanpa bahan kimia.” Ia menawarkannya dengan sambal tomat pedas dan sedikit perasan jeruk nipis. Rasanya gurih, sederhana, tapi meninggalkan kesan otentik yang kuat, seperti wajah masyarakat Bugis yang tulus dan apa adanya.

Patung Yesus di bukit Burake | Foto Dok.Penulis

Setelah dari Pinrang, kami mulai memasuki wilayah Enrekang, tempat di mana daratan mulai menanjak dan pemandangan berubah drastis. Bukit-bukit batu menjulang di kiri kanan jalan, menandai peralihan dari dataran ke pegunungan. Angin terasa lebih dingin, dan pepohonan tumbuh rapat meneduhi sebagian ruas jalan Trans Sulawesi.

Di sebuah pasar kecil dekat perbatasan, kami kembali berhenti untuk makan siang. Menu hari itu: Nasu Cemba, olahan daging sapi berkuah rempah dengan daun asam yang memberi sentuhan segar. “Kalau di Makassar namanya coto, tapi di sini rasanya lebih ringan,” kata seorang bapak yang duduk di meja sebelah sambil tersenyum ramah. Di warung itu, percakapan ringan antara pelancong dan warga terasa begitu alami, seperti keluarga yang baru saja bertemu kembali.

***

Perjalanan terus berlanjut ke arah Gunung Nona, ikon alam Enrekang yang menantang sekaligus memesona. Jalan berkelok naik, dan dari kejauhan tampak puncak gunung yang diselimuti kabut. Di sebuah titik pandang, kami berhenti untuk minum kopi tubruk panas yang disajikan dalam cangkir kaleng. Sambil menatap lembah luas yang membentang, saya merasakan kedamaian yang tak bisa dibeli di kota manapun, hanya suara angin, aroma kopi, dan rasa syukur dalam hati.

Londa, kompleks makam gua yang sakral | Foto Dok.Penulis

Kami tiba di Rantepao, Toraja Utara, menjelang malam. Kota kecil ini sejuk dan tenang, dikelilingi rumah-rumah Tongkonan beratap lengkung seperti perahu. Keesokan pagi kami menuju Londa, kompleks makam gua yang sakral. Di dinding batu tergantung peti kayu tua dan arca kayu “tau-tau” yang memandangi lembah dari ketinggian. Di sana saya merasa kecil di hadapan sejarah dan penghormatan orang Toraja kepada leluhur mereka.

Dari Londa, kami melanjutkan ke Kete Kesu, perkampungan tradisional yang masih hidup dengan adat dan kearifan lokalnya. Di depan rumah Tongkonan tergantung tanduk-tanduk kerbau, penanda kehormatan keluarga. Seorang warga bercerita bahwa setiap tanduk adalah simbol pengorbanan, tanda cinta dan penghormatan dalam upacara kematian Rambu Solo. Di Toraja, kematian bukan akhir, melainkan perjalanan menuju kehidupan abadi.

Menjelang siang kami naik ke Bukit Burake, tempat patung Yesus setinggi hampir 40 meter berdiri memandang lembah Makale. Dari puncak itu, pemandangan terbentang seperti lukisan hidup: rumah Tongkonan, kabut yang bergulung, dan suara lonceng gereja yang sayup terdengar. Di titik itu, saya terdiam lama. Ada rasa haru dan syukur, bahwa di usia yang tak muda lagi, saya masih diberi kesempatan untuk melihat keindahan yang menenangkan jiwa.

Sore menjelang ketika kami kembali ke Parepare. Di rumah keluarga Prof. Andi, kopi kembali tersaji. Percakapan ringan mengalir, diselingi tawa kecil mengenang perjalanan yang baru kami lalui. Lelah perjalanan terbayar dengan rasa syukur. Ada kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan jarak, tetapi dengan perasaan: bahwa hidup, sejatinya, adalah perjalanan menuju pemahaman dan ketenangan.

Perkampungan Lemo | Foto Dok. Penulis

Di dalam gua pemakaman Londa | Foto Dok.Penulis

 

Perjalanan ke Toraja bukan hanya menapaki jalan berkelok di pegunungan Sulawesi Selatan, melainkan perjalanan hati untuk belajar dari kehidupan. Dari keramahan warga Bugis hingga kebijaksanaan adat Toraja, saya belajar, bahwa rasa syukur tidak datang dari pencapaian besar, melainkan dari kesederhanaan: secangkir kopi panas, kabut yang menurunkan sunyi, dan langkah yang masih bisa saya ayunkan. Alhamdulillah, hanya kepadaMu hamba bersyukur. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: SulawesiToraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Buku-Buku Populer yang Jadi Favorit Banyak Pembaca di CFD Kota Padang, Mana Pilihanmu?

Next Post

Piodalan Agung di Pura Segara Buleleng: Ketulusan Ngayah STT Yowana Taruna Wirahita Banjar Jawa

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
0
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

Read moreDetails

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
0
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

Read moreDetails

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

by Chusmeru
July 13, 2026
0
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

Read moreDetails

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails
Next Post
Piodalan Agung di Pura Segara Buleleng: Ketulusan Ngayah STT Yowana Taruna Wirahita Banjar Jawa

Piodalan Agung di Pura Segara Buleleng: Ketulusan Ngayah STT Yowana Taruna Wirahita Banjar Jawa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co