5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menapaki Sulawesi, Menyelami Toraja: Perjalanan Hati untuk Belajar dari Kehidupan

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
November 17, 2025
in Tualang
Menapaki Sulawesi, Menyelami Toraja: Perjalanan Hati untuk Belajar dari Kehidupan

Menapaki Sulawesi, Menyelami Toraja: Perjalanan Hati untuk Belajar dari Kehidupan

UDARA Makassar terasa lembab siang itu ketika roda pesawat mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin. Saya menjejakkan kaki dengan rasa yang selalu sama: rindu pada tanah Sulawesi. Kali ini bukan semata urusan akademik, melainkan perjalanan yang menautkan langkah, usia, dan rasa syukur.

Saya datang bersama istri tercinta dan sahabat dekatsaya, Prof. Dr. Suwaib Amiruddin, untuk menghadiri sidang promosi doktor di Universitas Hasanuddin. Namun di balik agenda resmi itu, kami menyiapkan diri untuk sebuah perjalanan batin yang lebih dalam.

Rumah ibunda Prof. Andi Alimuddin di Sidrap | Foto Dok.Penulis

Sebelum berangkat jauh, kami menikmati Coto Makassar Samudra yang tersohor. Kuahnya kental, aromanya kuat, dan rasa rempahnya seperti sapaan hangat dari tanah Bugis. Usai santap siang, kami menuju Parepare bersama Prof. Andi Alimuddin. Perjalanan darat ini menembus kota-kota pesisir Maros, Pangkep, Barru dengan sawah hijau dan garis pantai biru di kejauhan. Di Parepare, kopi dan Barongko menjadi teman sore kami. Barongko, kue pisang lembut yang dibungkus daun, menghadirkan nostalgia masa kecil kami, seakan mengingatkan bahwa manisnya hidup selalu datang dari kesederhanaan.

Malam menjelang, di beranda rumah Prof. Andi, kami berbincang tentang hidup, pendidikan, dan makna perjalanan. Lalu tuan rumah menatap kami sambil tersenyum, “Bagaimana kalau besok ke Toraja?” Kalimat itu seperti undangan dari alam. Saya sudah pernah ke sana, tapi ajakan kali ini terasa lain. Ada semacam panggilan batin untuk kembali.

Perkampungan Adat Kete Kesu | Foto Dok.Penulis

Keesokan pagi, kami berkemas. Istri Prof. Andi membekali kami lepat ketan dan telur asin, bekal perjalanan darat yang panjang, turut serta juga putri bungsu Prof Andi, bocah kelas 5 SD, Tenri namanya. Dari Parepare kami bergerak melewati Pinrang, Sidrap, dan Enrekang. Jalan berkelok, udara makin sejuk.

Dari Parepare, mobil kami mulai menanjak perlahan meninggalkan udara pesisir yang panas menuju wilayah Pinrang. Jalanan membentang di antara hamparan sawah dan kebun kakao yang tampak hijau dan subur. Sesekali terlihat anak-anak bersepeda di pinggir jalan, menyapa ramah setiap mobil yang lewat. Pinrang terasa hidup dengan denyut pedesaan yang tenang namun bersemangat.

Kami berhenti di sebuah kios kecil di tepi jalan untuk mencicipi Dangke, makanan khas daerah ini. Seorang ibu penjual bercerita, “Dangke ini dibuat dari susu sapi segar, dicampur getah pepaya, lalu dipres tanpa bahan kimia.” Ia menawarkannya dengan sambal tomat pedas dan sedikit perasan jeruk nipis. Rasanya gurih, sederhana, tapi meninggalkan kesan otentik yang kuat, seperti wajah masyarakat Bugis yang tulus dan apa adanya.

Patung Yesus di bukit Burake | Foto Dok.Penulis

Setelah dari Pinrang, kami mulai memasuki wilayah Enrekang, tempat di mana daratan mulai menanjak dan pemandangan berubah drastis. Bukit-bukit batu menjulang di kiri kanan jalan, menandai peralihan dari dataran ke pegunungan. Angin terasa lebih dingin, dan pepohonan tumbuh rapat meneduhi sebagian ruas jalan Trans Sulawesi.

Di sebuah pasar kecil dekat perbatasan, kami kembali berhenti untuk makan siang. Menu hari itu: Nasu Cemba, olahan daging sapi berkuah rempah dengan daun asam yang memberi sentuhan segar. “Kalau di Makassar namanya coto, tapi di sini rasanya lebih ringan,” kata seorang bapak yang duduk di meja sebelah sambil tersenyum ramah. Di warung itu, percakapan ringan antara pelancong dan warga terasa begitu alami, seperti keluarga yang baru saja bertemu kembali.

***

Perjalanan terus berlanjut ke arah Gunung Nona, ikon alam Enrekang yang menantang sekaligus memesona. Jalan berkelok naik, dan dari kejauhan tampak puncak gunung yang diselimuti kabut. Di sebuah titik pandang, kami berhenti untuk minum kopi tubruk panas yang disajikan dalam cangkir kaleng. Sambil menatap lembah luas yang membentang, saya merasakan kedamaian yang tak bisa dibeli di kota manapun, hanya suara angin, aroma kopi, dan rasa syukur dalam hati.

Londa, kompleks makam gua yang sakral | Foto Dok.Penulis

Kami tiba di Rantepao, Toraja Utara, menjelang malam. Kota kecil ini sejuk dan tenang, dikelilingi rumah-rumah Tongkonan beratap lengkung seperti perahu. Keesokan pagi kami menuju Londa, kompleks makam gua yang sakral. Di dinding batu tergantung peti kayu tua dan arca kayu “tau-tau” yang memandangi lembah dari ketinggian. Di sana saya merasa kecil di hadapan sejarah dan penghormatan orang Toraja kepada leluhur mereka.

Dari Londa, kami melanjutkan ke Kete Kesu, perkampungan tradisional yang masih hidup dengan adat dan kearifan lokalnya. Di depan rumah Tongkonan tergantung tanduk-tanduk kerbau, penanda kehormatan keluarga. Seorang warga bercerita bahwa setiap tanduk adalah simbol pengorbanan, tanda cinta dan penghormatan dalam upacara kematian Rambu Solo. Di Toraja, kematian bukan akhir, melainkan perjalanan menuju kehidupan abadi.

Menjelang siang kami naik ke Bukit Burake, tempat patung Yesus setinggi hampir 40 meter berdiri memandang lembah Makale. Dari puncak itu, pemandangan terbentang seperti lukisan hidup: rumah Tongkonan, kabut yang bergulung, dan suara lonceng gereja yang sayup terdengar. Di titik itu, saya terdiam lama. Ada rasa haru dan syukur, bahwa di usia yang tak muda lagi, saya masih diberi kesempatan untuk melihat keindahan yang menenangkan jiwa.

Sore menjelang ketika kami kembali ke Parepare. Di rumah keluarga Prof. Andi, kopi kembali tersaji. Percakapan ringan mengalir, diselingi tawa kecil mengenang perjalanan yang baru kami lalui. Lelah perjalanan terbayar dengan rasa syukur. Ada kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan jarak, tetapi dengan perasaan: bahwa hidup, sejatinya, adalah perjalanan menuju pemahaman dan ketenangan.

Perkampungan Lemo | Foto Dok. Penulis

Di dalam gua pemakaman Londa | Foto Dok.Penulis

 

Perjalanan ke Toraja bukan hanya menapaki jalan berkelok di pegunungan Sulawesi Selatan, melainkan perjalanan hati untuk belajar dari kehidupan. Dari keramahan warga Bugis hingga kebijaksanaan adat Toraja, saya belajar, bahwa rasa syukur tidak datang dari pencapaian besar, melainkan dari kesederhanaan: secangkir kopi panas, kabut yang menurunkan sunyi, dan langkah yang masih bisa saya ayunkan. Alhamdulillah, hanya kepadaMu hamba bersyukur. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: SulawesiToraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Buku-Buku Populer yang Jadi Favorit Banyak Pembaca di CFD Kota Padang, Mana Pilihanmu?

Next Post

Piodalan Agung di Pura Segara Buleleng: Ketulusan Ngayah STT Yowana Taruna Wirahita Banjar Jawa

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails
Next Post
Piodalan Agung di Pura Segara Buleleng: Ketulusan Ngayah STT Yowana Taruna Wirahita Banjar Jawa

Piodalan Agung di Pura Segara Buleleng: Ketulusan Ngayah STT Yowana Taruna Wirahita Banjar Jawa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co