ENTAH kapan saya mulai peduli dengan isu sampah, terutama tentang bahaya dari penggunaan kemasan sekali pakai. Sebelum berangkat kuliah ke Amerika di tahun 2019, saya sudah mulai mempraktikkan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan. Salah satunya dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai saat berbelanja dan menggantinya dengan produce bag, tas yang dirancang untuk membawa produk segar seperti buah dan sayuran.
Saya juga punya beeswax wrap (pengganti pembungkus plastik atau alumunium foil yang terbuat dari kain katun dilapisi dengan lilin lebah), wadah makanan, lengkap dengan sendok dan garpunya. Semua alat perang, begitu saya menyebut set ini, menjadi bagian dari bekal bermigrasi ke Amerika Serikat.
Sebagai seseorang yang mengidolakan Amerika Serikat sebagai negara maju, saya punya fantasi tersendiri: bahwa negara maju pasti memiliki kesadaran lingkungan yang lebih tinggi. Sejak kecil kita membangun anggapan bahwa negara maju pasti lebih berbudaya, sehingga rasanya mustahil mereka melakukan hal-hal tak bermoral seperti pencemaran lingkungan.
Mereka adalah orang-orang berpendidikan. Tidak terbayang rasanya negara yang dipenuhi orang-orang terdidik mengabaikan hasil penelitian ilmuwan tentang krisis iklim yang mengancam alam dan seluruh isinya, termasuk manusia. Lebih aneh lagi jika membayangkan orang-orang terdidik di Amerika hanya berdiam diri melihat kerusakan yang nyata. Keyakinan ini, pada akhirnya, lebih merupakan cerminan dari pikiran naif saya pada masa itu.
Sejak hari pertama di Amerika, saya langsung pergi ke supermarket–sumber utama bahan makanan atau kebutuhan sehari-hari dengan harga paling terjangkau. Saya membeli kebutuhan terdekat saat itu; air minum, beras, beberapa jenis sayuran.

Antrean tidak panjang, dengan cepat giliran saya datang. Belum terbiasa berinteraksi sehari-hari dengan bahasa inggris di Amerika, saat itu saya perlu jeda memikirkan bahasa yang tepat untuk menyampaikan bahwa saya tidak perlu tas kresek–sambil terus meletakkan belanjaan ke meja kasir. Sedikit lengah, barang belanjaan sudah dengan cepat dipindai dan dimasukkan ke dalam tas kresek, hampir satu barang satu tas. Belum sempat mencerna keadaan, petugas kasir sudah meminta saya untuk membayar.
Canggung rasanya melihat penggunaan plastik yang eksesif di Amerika. Hanya dalam ruang lingkup supermarket sebagai tempat membeli kebutuhan sehari hari, penggunaan plastik sebagai kemasan begitu masif. Contohnya, untuk produk-produk pembersih mereka tidak menyediakan kemasan isi ulang. Tentu jika isinya sudah habis, kemasan-kemasan itu akan berakhir ke tempat sampah.
Saya juga heran melihat makanan ringan seperti biskuit, coklat, permen, atau keripik kentang yang dijual dalam partai besar, tetapi setiap buahnya dibungkus dengan kemasan tersendiri. Sama seperti bagaimana permen dijual. Beberapa tahun belakangan, kebiasaan ini semakin banyak diadopsi oleh perusahaan-perusahaan makanan ringan kemasan di Indonesia dengan beragam versi mini pack-nya.
Makanan ringan dalam kemasan kecil seperti ini hampir selalu hadir di setiap perayaan atau pertemuan. Dengan kesibukan bekerja yang menjadi pusat kehidupan orang Amerika, ditambah pekerjaan rumah yang banyak menyita waktu, membeli makanan kemasan adalah jalan ninjanya.
Saya pernah ke taman untuk berkumpul dengan teman-teman pelajar Indonesia. Kebanyakan dari kami membawa makanan buatan masing-masing, mulai dari cilok, martabak, gorengan, mie, kerupuk; ini cara kami membangun suasana komunitas seperti di Indonesia. Tentu ada juga tersedia makanan ringan khas Amerika, karena siapa yang tidak tergoda dengan coklat-coklat yang jadi murah ketika mendapatkan uang bulanan dalam dolar.
Tidak jauh dari tempat kami berkumpul, saya melihat satu keluarga yang sedang merayakan ulang tahun. Semua serba biru, mulai dari alat makan, dekorasi, sampai makanannya. Ternyata kebutuhan pesta seperti taplak, piring, gelas, sendok/garpu dengan warna senada tersedia di supermarket–tentu semua terbuat dari plastik. Dan keheranan saya, jelas tidak berhenti di sana.

Ketika pesta ulang tahun berakhir, salah satu anggota keluarga menyatukan keempat ujung taplak meja plastik, mengangkatnya dan membuang semua yang tersisa ke tempat sampah. Semua alat makan dan makanan yang di dalamnya bersatu menjadi sampah yang tak lagi berguna. Pemandangan ini bukan hal yang asing karena hampir setiap pertemuan yang saya hadiri menggunakan alat makan sekali pakai, lengkap dengan makanan dan minuman kemasannya.
Saya belum membahas tentang kebiasaan berbelanja online. Teman saya bercerita bahwa di rumah saudaranya paket datang setiap dua jam sekali. Di kemas dalam kardus sebesar kardus sepatu, ketika isinya hanya sebuah sabun cuci muka. Ada teman lain yang menceritakan pengalamannya membeli barang dengan kemasan kotak sampai lapis tujuh. Hal-hal tersebut sangat lumrah di Amerika.
Menjadi aktivis zero-waste di Amerika adalah pekerjaan yang susah. Industri sangat paham cara memanfaatkan kelemahan manusia. Di tengah budaya di mana kesepian dan rasa terisolasi menjadi bagian hidup yang lumrah bagi banyak orang, belanja sering dijadikan jalan keluar sementara untuk meredakan ketidaknyamanan yang muncul.
Di bagian pertama seri tulisan ini, saya pernah cerita tentang Aldi, jenama supermarket asal Jerman yang terkenal dengan harga produk yang lebih murah. Salah satu cara Aldi menekan biaya operasional adalah dengan tidak menyediakan tas kresek dan memberikan tanggung jawab mengepak barang belanjaan yang telah dibayar kepada pembeli. Selain karena bisa menghemat, ini menjadi alasan besar bagi saya untuk memilih berbelanja di Aldi.
Prosesnya sederhana. Petugas kasir mengambil barang dari troli belanja pembeli, memindai, lalu meletakkannya ke dalam troli kosong di samping. Setelah pembayaran selesai, pembeli menukar troli kosong dengan troli kasir yang sudah terisi belanjaan, untuk kemudian dibawa ke area khusus tempat barang bisa dipindahkan ke tas masing-masing.
Praktik seperti ini menunjukkan bahwa sistem yang lebih bijaksana sebenarnya bisa berjalan, bahkan di negara yang Che Guavara sebut sebagai “the belly of the beast” –pusatnya kapitalisme. Hanya saja, kebiasaan yang dibentuk oleh sistem tidak bisa diubah jika mengandalkan kesadaran individu semata. Mengandalkan setiap orang untuk bijak dalam berbelanja atau rajin mendaur ulang hanya akan menghasilkan perubahan kecil.

Anggapan naif saya tentang Amerika tidak sepenuhnya salah. Banyak warganya yang sadar tentang bahaya krisis iklim yang mengintai. Namun, ketika sistem yang ada sudah begitu mengakar, sulit untuk benar-benar menghindari atau mengurangi konsumsi berlebih. Upaya individu, sekeras apapun, tidak akan berdampak signifikan, jika kampanye hanya fokus padanya.
Kita sudah punya bukti, dimana kampanye besar daur ulang yang dibiayai oleh perusahaan minyak dunia selama lebih dari tiga dekade hanya berhasil membuat 9% sampah plastik untuk diproses. Kita perlu beranjak dari ilusi daur ulang.

Perubahan nyata hanya mungkin terjadi lewat langkah-langkah sistemik, dari hulu hingga hilir; karena plastik akan tetap menjadi bagian dari kehidupan manusia. Perusahaan yang memproduksi dan menggunakan kemasan plastik perlu membatasi produksinya. Tanggung jawab tidak lagi hanya dibebankan pada pemerintah atau konsumen, tetapi ditanggung bersama seluruh pihak yang terlibat. Semua ini baru mungkin berjalan apabila ada aturan yang mengikat.
Misalnya, perlu ada undang-undang yang membatasi penggunaan plastik, terutama yang bersifat sekali pakai. Perusahaan seharusnya diwajibkan bertanggung jawab terhadap produknya dari segi desain sampai pembuangan, secara finansial maupun operasional. Selanjutnya, pemerintah dengan seksama mengembangkan kebijakan publik yang mendorong ekonomi sirkular dan sistem daur ulang yang memadai.
Semua itu memang perlu anggaran tambahan–dan barangkali begitu seharusnya. Terlalu lama kita menutup mata, merasa plastik murah tetapi mengabaikan biaya ekosistem yang pada akhirnya akan dibayar jauh lebih mahal oleh generasi berikutnya: anak cucu kita. [T]
Cincinnati, 24 September 2025
Penulis: J. Savitri
Editor: Adnyana Ole
![Kembali ke Amerika [2] — Tanah Impian (Berlapis Plastik dan Bertumpuk Kardus)](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2025/09/jasmine.-as2.1-750x375.png)


























