6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kembali ke Amerika [2] — Tanah Impian (Berlapis Plastik dan Bertumpuk Kardus)

J. Savitri by J. Savitri
September 28, 2025
in Tualang
Kembali ke Amerika [2] — Tanah Impian (Berlapis Plastik dan Bertumpuk Kardus)

Makanan kemasan di AS

ENTAH kapan saya mulai peduli dengan isu sampah, terutama tentang bahaya dari penggunaan kemasan sekali pakai. Sebelum berangkat kuliah ke Amerika di tahun 2019, saya sudah mulai mempraktikkan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan. Salah satunya dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai saat berbelanja dan menggantinya dengan produce bag, tas yang dirancang untuk membawa produk segar seperti buah dan sayuran.

Saya juga punya beeswax wrap (pengganti pembungkus plastik atau alumunium foil yang terbuat dari kain katun dilapisi dengan lilin lebah), wadah makanan, lengkap dengan sendok dan garpunya. Semua alat perang, begitu saya menyebut set ini, menjadi bagian dari bekal bermigrasi ke Amerika Serikat.

Sebagai seseorang yang mengidolakan Amerika Serikat sebagai negara maju, saya punya fantasi tersendiri: bahwa negara maju pasti memiliki kesadaran lingkungan yang lebih tinggi. Sejak kecil kita membangun anggapan bahwa negara maju pasti lebih berbudaya, sehingga rasanya mustahil mereka melakukan hal-hal tak bermoral seperti pencemaran lingkungan.

Mereka adalah orang-orang berpendidikan. Tidak terbayang rasanya negara yang dipenuhi orang-orang terdidik mengabaikan hasil penelitian ilmuwan tentang krisis iklim yang mengancam alam dan seluruh isinya, termasuk manusia. Lebih aneh lagi jika membayangkan orang-orang terdidik di Amerika hanya berdiam diri melihat kerusakan yang nyata. Keyakinan ini, pada akhirnya, lebih merupakan cerminan dari pikiran naif saya pada masa itu.

Sejak hari pertama di Amerika, saya langsung pergi ke supermarket–sumber utama bahan makanan atau kebutuhan sehari-hari dengan harga paling terjangkau. Saya membeli kebutuhan terdekat saat itu; air minum, beras, beberapa jenis sayuran.

Ini contoh ketika ada acara makan-makan, pakai alat sekali pakai semua | Foto: J Savitri

Antrean tidak panjang, dengan cepat giliran saya datang. Belum terbiasa berinteraksi sehari-hari dengan bahasa inggris di Amerika, saat itu saya perlu jeda memikirkan bahasa yang tepat untuk menyampaikan bahwa saya tidak perlu tas kresek–sambil terus meletakkan belanjaan ke meja kasir. Sedikit lengah, barang belanjaan sudah dengan cepat dipindai dan dimasukkan ke dalam tas kresek, hampir satu barang satu tas. Belum sempat mencerna keadaan, petugas kasir sudah meminta saya untuk membayar.

Canggung rasanya melihat penggunaan plastik yang eksesif di Amerika. Hanya dalam ruang lingkup supermarket sebagai tempat membeli kebutuhan sehari hari, penggunaan plastik sebagai kemasan begitu masif. Contohnya, untuk produk-produk pembersih mereka tidak menyediakan kemasan isi ulang. Tentu jika isinya sudah habis, kemasan-kemasan itu akan berakhir ke tempat sampah.

Saya juga heran melihat makanan ringan seperti biskuit, coklat, permen, atau keripik kentang yang dijual dalam partai besar, tetapi setiap buahnya dibungkus dengan kemasan tersendiri. Sama seperti bagaimana permen dijual. Beberapa tahun belakangan, kebiasaan ini semakin banyak diadopsi oleh perusahaan-perusahaan makanan ringan kemasan di Indonesia dengan beragam versi mini pack-nya.

Makanan ringan dalam kemasan kecil seperti ini hampir selalu hadir di setiap perayaan atau pertemuan. Dengan kesibukan bekerja yang menjadi pusat kehidupan orang Amerika, ditambah pekerjaan rumah yang banyak menyita waktu, membeli makanan kemasan adalah jalan ninjanya.

Saya pernah ke taman untuk berkumpul dengan teman-teman pelajar Indonesia. Kebanyakan dari kami membawa makanan buatan masing-masing, mulai dari cilok, martabak, gorengan, mie, kerupuk; ini cara kami membangun suasana komunitas seperti di Indonesia. Tentu ada juga tersedia makanan ringan khas Amerika, karena siapa yang tidak tergoda dengan coklat-coklat yang jadi murah ketika mendapatkan uang bulanan dalam dolar.

Tidak jauh dari tempat kami berkumpul, saya melihat satu keluarga yang sedang merayakan ulang tahun. Semua serba biru, mulai dari alat makan, dekorasi, sampai makanannya. Ternyata kebutuhan pesta seperti taplak, piring, gelas, sendok/garpu dengan warna senada tersedia di supermarket–tentu semua terbuat dari plastik. Dan keheranan saya, jelas tidak berhenti di sana.

Ini suguhan normal kalau acara besar, kebetulan ini pas sholat Idul Adha, semua makanan kemasan | Foro: J Savitri

Ketika pesta ulang tahun berakhir, salah satu anggota keluarga menyatukan keempat ujung taplak meja plastik, mengangkatnya dan membuang semua yang tersisa ke tempat sampah. Semua alat makan dan makanan yang di dalamnya bersatu menjadi sampah yang tak lagi berguna. Pemandangan ini bukan hal yang asing karena hampir setiap pertemuan yang saya hadiri menggunakan alat makan sekali pakai, lengkap dengan makanan dan minuman kemasannya.

Saya belum membahas tentang kebiasaan berbelanja online. Teman saya bercerita bahwa di rumah saudaranya paket datang setiap dua jam sekali. Di kemas dalam kardus sebesar kardus sepatu, ketika isinya hanya sebuah sabun cuci muka. Ada teman lain yang menceritakan pengalamannya membeli barang dengan kemasan kotak sampai lapis tujuh. Hal-hal tersebut sangat lumrah di Amerika.

Menjadi aktivis zero-waste di Amerika adalah pekerjaan yang susah. Industri sangat paham cara memanfaatkan kelemahan manusia. Di tengah budaya di mana kesepian dan rasa terisolasi menjadi bagian hidup yang lumrah bagi banyak orang, belanja sering dijadikan jalan keluar sementara untuk meredakan ketidaknyamanan yang muncul.

Di bagian pertama seri tulisan ini, saya pernah cerita tentang Aldi, jenama supermarket asal Jerman yang terkenal dengan harga produk yang lebih murah. Salah satu cara Aldi menekan biaya operasional adalah dengan tidak menyediakan tas kresek dan memberikan tanggung jawab mengepak barang belanjaan yang telah dibayar kepada pembeli. Selain karena bisa menghemat, ini menjadi alasan besar bagi saya untuk memilih berbelanja di Aldi.

Prosesnya sederhana. Petugas kasir mengambil barang dari troli belanja pembeli, memindai, lalu meletakkannya ke dalam troli kosong di samping. Setelah pembayaran selesai, pembeli menukar troli kosong dengan troli kasir yang sudah terisi belanjaan, untuk kemudian dibawa ke area khusus tempat barang bisa dipindahkan ke tas masing-masing.

Praktik seperti ini menunjukkan bahwa sistem yang lebih bijaksana sebenarnya bisa berjalan, bahkan di negara yang Che Guavara sebut sebagai “the belly of the beast” –pusatnya kapitalisme. Hanya saja, kebiasaan yang dibentuk oleh sistem tidak bisa diubah jika mengandalkan kesadaran individu semata. Mengandalkan setiap orang untuk bijak dalam berbelanja atau rajin mendaur ulang hanya akan menghasilkan perubahan kecil.

Ini supermarket Asia | Foto: J Savitri

Anggapan naif saya tentang Amerika tidak sepenuhnya salah. Banyak warganya yang sadar tentang bahaya krisis iklim yang mengintai. Namun, ketika sistem yang ada sudah begitu mengakar, sulit untuk benar-benar menghindari atau mengurangi konsumsi berlebih. Upaya individu, sekeras apapun, tidak akan berdampak signifikan, jika kampanye hanya fokus padanya.

Kita sudah punya bukti, dimana kampanye besar daur ulang yang dibiayai oleh perusahaan minyak dunia selama lebih dari tiga dekade hanya berhasil membuat 9% sampah plastik untuk diproses. Kita perlu beranjak dari ilusi daur ulang.

Ini kalau belanja di Supermarket, rata-rata orang juga belanja sebanyak ini | Foto: Google

Perubahan nyata hanya mungkin terjadi lewat langkah-langkah sistemik, dari hulu hingga hilir; karena plastik akan tetap menjadi bagian dari kehidupan manusia. Perusahaan yang memproduksi dan menggunakan kemasan plastik perlu membatasi produksinya. Tanggung jawab tidak lagi hanya dibebankan pada pemerintah atau konsumen, tetapi ditanggung bersama seluruh pihak yang terlibat. Semua ini baru mungkin berjalan apabila ada aturan yang mengikat.

Misalnya, perlu ada undang-undang yang membatasi penggunaan plastik, terutama yang bersifat sekali pakai. Perusahaan seharusnya diwajibkan bertanggung jawab terhadap produknya dari segi desain sampai pembuangan, secara finansial maupun operasional. Selanjutnya, pemerintah dengan seksama mengembangkan kebijakan publik yang mendorong ekonomi sirkular dan sistem daur ulang yang memadai.

Semua itu memang perlu anggaran tambahan–dan barangkali begitu seharusnya. Terlalu lama kita menutup mata, merasa plastik murah tetapi mengabaikan biaya ekosistem yang pada akhirnya akan dibayar jauh lebih mahal oleh generasi berikutnya: anak cucu kita. [T]

Cincinnati, 24 September 2025

Penulis: J. Savitri
Editor: Adnyana Ole

Tags: Amerika SerikatKembali ke Amerikasampah plastik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Festival ke Uma V-2025: Ketika Anak-anak Mengenal Tanah dan Lumpur Sawah dengan Riang-Gembira

Next Post

Kisah Anak Agung Oka Budiasih, Perempuan Tukang Pahat Kayu dari Guwang

J. Savitri

J. Savitri

Penyuka martabak dan senang belajar, sesekali menyanyi. Saat ini sedang menimba ilmu di Bali Utara

Related Posts

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails

Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

by Kadek Surya Jayadi
February 18, 2026
0
Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

SINAR mentari pagi menyambut dengan hangat, menghiasi perjalanan Keluarga Besar Prodi Sejarah Universitas Udayana menuju Desa Bodhakeling. Bus Universitas Udayana...

Read moreDetails

Benteng Van der Wijck, Gombong: Jejak Silam Kolonial Belanda

by Chusmeru
February 1, 2026
0
Benteng Van der Wijck, Gombong: Jejak Silam Kolonial Belanda

GOMBONG merupakan satu kecamatan yang terdapat di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Kecamatan ini memiliki lokasi yang strategis, karena dilewati oleh...

Read moreDetails

Kilas Balik Sejarah Kelam di Kamp Konsentrasi Auschwitz

by Nadia Pranasiwi Justie Dewantari
January 27, 2026
0
Kilas Balik Sejarah Kelam di Kamp Konsentrasi Auschwitz

KATOWICE, kota tempat saya menjalankan exchange di Polandia, menawarkan kesibukan layaknya kota modern pada umumnya. Namun, hanya satu jam dari...

Read moreDetails

Lebih dari Sekadar ‘Exchange’: Pengalaman Berharga di Polandia

by Nadia Pranasiwi Justie Dewantari
January 22, 2026
0
Lebih dari Sekadar ‘Exchange’: Pengalaman Berharga di Polandia

Dzień dobry! Nama saya Nadia Pranasiwi Justie Dewantari, mahasiswi kedokteran Universitas Gadjah Mada, Indonesia. Pada bulan Agustus 2025, saya mengikuti...

Read moreDetails

Jejak Sunyi di Negeri Sakura

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
January 8, 2026
0
Jejak Sunyi di Negeri Sakura

JEPANG kerap dijuluki sebagai negeri Sakura yang disinari matahari terang, sebuah citra yang terpatri kuat melalui benderanya: lingkaran merah di...

Read moreDetails

Mengamati Wolfdog di Alpha Wolf Lodge Nuanu

by Doni Sugiarto Wijaya
January 6, 2026
0
Mengamati Wolfdog di Alpha Wolf Lodge Nuanu

DI kabupaten Tabanan, tepatnya tak jauh dari lokasi Pantai Nyanyi, Desa  Beraban, ada tempat wisata bernama Nuanu. Nuanu dikenal sebagai...

Read moreDetails

Mengagumi Branding Negeri Perak, Ipoh, Malaysia

by Nyoman Nadiana
December 30, 2025
0
Mengagumi Branding Negeri Perak, Ipoh, Malaysia

PERJALANAN di penghujung tahun 2025 kemarin, saya menaruh Ipoh di Negeri Perak Malaysia sebagai destinasi setelah Singapura. Mengambil jalur darat...

Read moreDetails
Next Post
Kisah Anak Agung Oka Budiasih, Perempuan Tukang Pahat Kayu dari Guwang

Kisah Anak Agung Oka Budiasih, Perempuan Tukang Pahat Kayu dari Guwang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co