25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kembali ke Amerika [2] — Tanah Impian (Berlapis Plastik dan Bertumpuk Kardus)

J. Savitri by J. Savitri
September 28, 2025
in Tualang
Kembali ke Amerika [2] — Tanah Impian (Berlapis Plastik dan Bertumpuk Kardus)

Makanan kemasan di AS

ENTAH kapan saya mulai peduli dengan isu sampah, terutama tentang bahaya dari penggunaan kemasan sekali pakai. Sebelum berangkat kuliah ke Amerika di tahun 2019, saya sudah mulai mempraktikkan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan. Salah satunya dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai saat berbelanja dan menggantinya dengan produce bag, tas yang dirancang untuk membawa produk segar seperti buah dan sayuran.

Saya juga punya beeswax wrap (pengganti pembungkus plastik atau alumunium foil yang terbuat dari kain katun dilapisi dengan lilin lebah), wadah makanan, lengkap dengan sendok dan garpunya. Semua alat perang, begitu saya menyebut set ini, menjadi bagian dari bekal bermigrasi ke Amerika Serikat.

Sebagai seseorang yang mengidolakan Amerika Serikat sebagai negara maju, saya punya fantasi tersendiri: bahwa negara maju pasti memiliki kesadaran lingkungan yang lebih tinggi. Sejak kecil kita membangun anggapan bahwa negara maju pasti lebih berbudaya, sehingga rasanya mustahil mereka melakukan hal-hal tak bermoral seperti pencemaran lingkungan.

Mereka adalah orang-orang berpendidikan. Tidak terbayang rasanya negara yang dipenuhi orang-orang terdidik mengabaikan hasil penelitian ilmuwan tentang krisis iklim yang mengancam alam dan seluruh isinya, termasuk manusia. Lebih aneh lagi jika membayangkan orang-orang terdidik di Amerika hanya berdiam diri melihat kerusakan yang nyata. Keyakinan ini, pada akhirnya, lebih merupakan cerminan dari pikiran naif saya pada masa itu.

Sejak hari pertama di Amerika, saya langsung pergi ke supermarket–sumber utama bahan makanan atau kebutuhan sehari-hari dengan harga paling terjangkau. Saya membeli kebutuhan terdekat saat itu; air minum, beras, beberapa jenis sayuran.

Ini contoh ketika ada acara makan-makan, pakai alat sekali pakai semua | Foto: J Savitri

Antrean tidak panjang, dengan cepat giliran saya datang. Belum terbiasa berinteraksi sehari-hari dengan bahasa inggris di Amerika, saat itu saya perlu jeda memikirkan bahasa yang tepat untuk menyampaikan bahwa saya tidak perlu tas kresek–sambil terus meletakkan belanjaan ke meja kasir. Sedikit lengah, barang belanjaan sudah dengan cepat dipindai dan dimasukkan ke dalam tas kresek, hampir satu barang satu tas. Belum sempat mencerna keadaan, petugas kasir sudah meminta saya untuk membayar.

Canggung rasanya melihat penggunaan plastik yang eksesif di Amerika. Hanya dalam ruang lingkup supermarket sebagai tempat membeli kebutuhan sehari hari, penggunaan plastik sebagai kemasan begitu masif. Contohnya, untuk produk-produk pembersih mereka tidak menyediakan kemasan isi ulang. Tentu jika isinya sudah habis, kemasan-kemasan itu akan berakhir ke tempat sampah.

Saya juga heran melihat makanan ringan seperti biskuit, coklat, permen, atau keripik kentang yang dijual dalam partai besar, tetapi setiap buahnya dibungkus dengan kemasan tersendiri. Sama seperti bagaimana permen dijual. Beberapa tahun belakangan, kebiasaan ini semakin banyak diadopsi oleh perusahaan-perusahaan makanan ringan kemasan di Indonesia dengan beragam versi mini pack-nya.

Makanan ringan dalam kemasan kecil seperti ini hampir selalu hadir di setiap perayaan atau pertemuan. Dengan kesibukan bekerja yang menjadi pusat kehidupan orang Amerika, ditambah pekerjaan rumah yang banyak menyita waktu, membeli makanan kemasan adalah jalan ninjanya.

Saya pernah ke taman untuk berkumpul dengan teman-teman pelajar Indonesia. Kebanyakan dari kami membawa makanan buatan masing-masing, mulai dari cilok, martabak, gorengan, mie, kerupuk; ini cara kami membangun suasana komunitas seperti di Indonesia. Tentu ada juga tersedia makanan ringan khas Amerika, karena siapa yang tidak tergoda dengan coklat-coklat yang jadi murah ketika mendapatkan uang bulanan dalam dolar.

Tidak jauh dari tempat kami berkumpul, saya melihat satu keluarga yang sedang merayakan ulang tahun. Semua serba biru, mulai dari alat makan, dekorasi, sampai makanannya. Ternyata kebutuhan pesta seperti taplak, piring, gelas, sendok/garpu dengan warna senada tersedia di supermarket–tentu semua terbuat dari plastik. Dan keheranan saya, jelas tidak berhenti di sana.

Ini suguhan normal kalau acara besar, kebetulan ini pas sholat Idul Adha, semua makanan kemasan | Foro: J Savitri

Ketika pesta ulang tahun berakhir, salah satu anggota keluarga menyatukan keempat ujung taplak meja plastik, mengangkatnya dan membuang semua yang tersisa ke tempat sampah. Semua alat makan dan makanan yang di dalamnya bersatu menjadi sampah yang tak lagi berguna. Pemandangan ini bukan hal yang asing karena hampir setiap pertemuan yang saya hadiri menggunakan alat makan sekali pakai, lengkap dengan makanan dan minuman kemasannya.

Saya belum membahas tentang kebiasaan berbelanja online. Teman saya bercerita bahwa di rumah saudaranya paket datang setiap dua jam sekali. Di kemas dalam kardus sebesar kardus sepatu, ketika isinya hanya sebuah sabun cuci muka. Ada teman lain yang menceritakan pengalamannya membeli barang dengan kemasan kotak sampai lapis tujuh. Hal-hal tersebut sangat lumrah di Amerika.

Menjadi aktivis zero-waste di Amerika adalah pekerjaan yang susah. Industri sangat paham cara memanfaatkan kelemahan manusia. Di tengah budaya di mana kesepian dan rasa terisolasi menjadi bagian hidup yang lumrah bagi banyak orang, belanja sering dijadikan jalan keluar sementara untuk meredakan ketidaknyamanan yang muncul.

Di bagian pertama seri tulisan ini, saya pernah cerita tentang Aldi, jenama supermarket asal Jerman yang terkenal dengan harga produk yang lebih murah. Salah satu cara Aldi menekan biaya operasional adalah dengan tidak menyediakan tas kresek dan memberikan tanggung jawab mengepak barang belanjaan yang telah dibayar kepada pembeli. Selain karena bisa menghemat, ini menjadi alasan besar bagi saya untuk memilih berbelanja di Aldi.

Prosesnya sederhana. Petugas kasir mengambil barang dari troli belanja pembeli, memindai, lalu meletakkannya ke dalam troli kosong di samping. Setelah pembayaran selesai, pembeli menukar troli kosong dengan troli kasir yang sudah terisi belanjaan, untuk kemudian dibawa ke area khusus tempat barang bisa dipindahkan ke tas masing-masing.

Praktik seperti ini menunjukkan bahwa sistem yang lebih bijaksana sebenarnya bisa berjalan, bahkan di negara yang Che Guavara sebut sebagai “the belly of the beast” –pusatnya kapitalisme. Hanya saja, kebiasaan yang dibentuk oleh sistem tidak bisa diubah jika mengandalkan kesadaran individu semata. Mengandalkan setiap orang untuk bijak dalam berbelanja atau rajin mendaur ulang hanya akan menghasilkan perubahan kecil.

Ini supermarket Asia | Foto: J Savitri

Anggapan naif saya tentang Amerika tidak sepenuhnya salah. Banyak warganya yang sadar tentang bahaya krisis iklim yang mengintai. Namun, ketika sistem yang ada sudah begitu mengakar, sulit untuk benar-benar menghindari atau mengurangi konsumsi berlebih. Upaya individu, sekeras apapun, tidak akan berdampak signifikan, jika kampanye hanya fokus padanya.

Kita sudah punya bukti, dimana kampanye besar daur ulang yang dibiayai oleh perusahaan minyak dunia selama lebih dari tiga dekade hanya berhasil membuat 9% sampah plastik untuk diproses. Kita perlu beranjak dari ilusi daur ulang.

Ini kalau belanja di Supermarket, rata-rata orang juga belanja sebanyak ini | Foto: Google

Perubahan nyata hanya mungkin terjadi lewat langkah-langkah sistemik, dari hulu hingga hilir; karena plastik akan tetap menjadi bagian dari kehidupan manusia. Perusahaan yang memproduksi dan menggunakan kemasan plastik perlu membatasi produksinya. Tanggung jawab tidak lagi hanya dibebankan pada pemerintah atau konsumen, tetapi ditanggung bersama seluruh pihak yang terlibat. Semua ini baru mungkin berjalan apabila ada aturan yang mengikat.

Misalnya, perlu ada undang-undang yang membatasi penggunaan plastik, terutama yang bersifat sekali pakai. Perusahaan seharusnya diwajibkan bertanggung jawab terhadap produknya dari segi desain sampai pembuangan, secara finansial maupun operasional. Selanjutnya, pemerintah dengan seksama mengembangkan kebijakan publik yang mendorong ekonomi sirkular dan sistem daur ulang yang memadai.

Semua itu memang perlu anggaran tambahan–dan barangkali begitu seharusnya. Terlalu lama kita menutup mata, merasa plastik murah tetapi mengabaikan biaya ekosistem yang pada akhirnya akan dibayar jauh lebih mahal oleh generasi berikutnya: anak cucu kita. [T]

Cincinnati, 24 September 2025

Penulis: J. Savitri
Editor: Adnyana Ole

Tags: Amerika SerikatKembali ke Amerikasampah plastik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Festival ke Uma V-2025: Ketika Anak-anak Mengenal Tanah dan Lumpur Sawah dengan Riang-Gembira

Next Post

Kisah Anak Agung Oka Budiasih, Perempuan Tukang Pahat Kayu dari Guwang

J. Savitri

J. Savitri

Penyuka martabak dan senang belajar, sesekali menyanyi. Saat ini sedang menimba ilmu di Bali Utara

Related Posts

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails
Next Post
Kisah Anak Agung Oka Budiasih, Perempuan Tukang Pahat Kayu dari Guwang

Kisah Anak Agung Oka Budiasih, Perempuan Tukang Pahat Kayu dari Guwang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co