13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kembali ke Amerika [2] — Tanah Impian (Berlapis Plastik dan Bertumpuk Kardus)

J. Savitri by J. Savitri
September 28, 2025
in Tualang
Kembali ke Amerika [2] — Tanah Impian (Berlapis Plastik dan Bertumpuk Kardus)

Makanan kemasan di AS

ENTAH kapan saya mulai peduli dengan isu sampah, terutama tentang bahaya dari penggunaan kemasan sekali pakai. Sebelum berangkat kuliah ke Amerika di tahun 2019, saya sudah mulai mempraktikkan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan. Salah satunya dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai saat berbelanja dan menggantinya dengan produce bag, tas yang dirancang untuk membawa produk segar seperti buah dan sayuran.

Saya juga punya beeswax wrap (pengganti pembungkus plastik atau alumunium foil yang terbuat dari kain katun dilapisi dengan lilin lebah), wadah makanan, lengkap dengan sendok dan garpunya. Semua alat perang, begitu saya menyebut set ini, menjadi bagian dari bekal bermigrasi ke Amerika Serikat.

Sebagai seseorang yang mengidolakan Amerika Serikat sebagai negara maju, saya punya fantasi tersendiri: bahwa negara maju pasti memiliki kesadaran lingkungan yang lebih tinggi. Sejak kecil kita membangun anggapan bahwa negara maju pasti lebih berbudaya, sehingga rasanya mustahil mereka melakukan hal-hal tak bermoral seperti pencemaran lingkungan.

Mereka adalah orang-orang berpendidikan. Tidak terbayang rasanya negara yang dipenuhi orang-orang terdidik mengabaikan hasil penelitian ilmuwan tentang krisis iklim yang mengancam alam dan seluruh isinya, termasuk manusia. Lebih aneh lagi jika membayangkan orang-orang terdidik di Amerika hanya berdiam diri melihat kerusakan yang nyata. Keyakinan ini, pada akhirnya, lebih merupakan cerminan dari pikiran naif saya pada masa itu.

Sejak hari pertama di Amerika, saya langsung pergi ke supermarket–sumber utama bahan makanan atau kebutuhan sehari-hari dengan harga paling terjangkau. Saya membeli kebutuhan terdekat saat itu; air minum, beras, beberapa jenis sayuran.

Ini contoh ketika ada acara makan-makan, pakai alat sekali pakai semua | Foto: J Savitri

Antrean tidak panjang, dengan cepat giliran saya datang. Belum terbiasa berinteraksi sehari-hari dengan bahasa inggris di Amerika, saat itu saya perlu jeda memikirkan bahasa yang tepat untuk menyampaikan bahwa saya tidak perlu tas kresek–sambil terus meletakkan belanjaan ke meja kasir. Sedikit lengah, barang belanjaan sudah dengan cepat dipindai dan dimasukkan ke dalam tas kresek, hampir satu barang satu tas. Belum sempat mencerna keadaan, petugas kasir sudah meminta saya untuk membayar.

Canggung rasanya melihat penggunaan plastik yang eksesif di Amerika. Hanya dalam ruang lingkup supermarket sebagai tempat membeli kebutuhan sehari hari, penggunaan plastik sebagai kemasan begitu masif. Contohnya, untuk produk-produk pembersih mereka tidak menyediakan kemasan isi ulang. Tentu jika isinya sudah habis, kemasan-kemasan itu akan berakhir ke tempat sampah.

Saya juga heran melihat makanan ringan seperti biskuit, coklat, permen, atau keripik kentang yang dijual dalam partai besar, tetapi setiap buahnya dibungkus dengan kemasan tersendiri. Sama seperti bagaimana permen dijual. Beberapa tahun belakangan, kebiasaan ini semakin banyak diadopsi oleh perusahaan-perusahaan makanan ringan kemasan di Indonesia dengan beragam versi mini pack-nya.

Makanan ringan dalam kemasan kecil seperti ini hampir selalu hadir di setiap perayaan atau pertemuan. Dengan kesibukan bekerja yang menjadi pusat kehidupan orang Amerika, ditambah pekerjaan rumah yang banyak menyita waktu, membeli makanan kemasan adalah jalan ninjanya.

Saya pernah ke taman untuk berkumpul dengan teman-teman pelajar Indonesia. Kebanyakan dari kami membawa makanan buatan masing-masing, mulai dari cilok, martabak, gorengan, mie, kerupuk; ini cara kami membangun suasana komunitas seperti di Indonesia. Tentu ada juga tersedia makanan ringan khas Amerika, karena siapa yang tidak tergoda dengan coklat-coklat yang jadi murah ketika mendapatkan uang bulanan dalam dolar.

Tidak jauh dari tempat kami berkumpul, saya melihat satu keluarga yang sedang merayakan ulang tahun. Semua serba biru, mulai dari alat makan, dekorasi, sampai makanannya. Ternyata kebutuhan pesta seperti taplak, piring, gelas, sendok/garpu dengan warna senada tersedia di supermarket–tentu semua terbuat dari plastik. Dan keheranan saya, jelas tidak berhenti di sana.

Ini suguhan normal kalau acara besar, kebetulan ini pas sholat Idul Adha, semua makanan kemasan | Foro: J Savitri

Ketika pesta ulang tahun berakhir, salah satu anggota keluarga menyatukan keempat ujung taplak meja plastik, mengangkatnya dan membuang semua yang tersisa ke tempat sampah. Semua alat makan dan makanan yang di dalamnya bersatu menjadi sampah yang tak lagi berguna. Pemandangan ini bukan hal yang asing karena hampir setiap pertemuan yang saya hadiri menggunakan alat makan sekali pakai, lengkap dengan makanan dan minuman kemasannya.

Saya belum membahas tentang kebiasaan berbelanja online. Teman saya bercerita bahwa di rumah saudaranya paket datang setiap dua jam sekali. Di kemas dalam kardus sebesar kardus sepatu, ketika isinya hanya sebuah sabun cuci muka. Ada teman lain yang menceritakan pengalamannya membeli barang dengan kemasan kotak sampai lapis tujuh. Hal-hal tersebut sangat lumrah di Amerika.

Menjadi aktivis zero-waste di Amerika adalah pekerjaan yang susah. Industri sangat paham cara memanfaatkan kelemahan manusia. Di tengah budaya di mana kesepian dan rasa terisolasi menjadi bagian hidup yang lumrah bagi banyak orang, belanja sering dijadikan jalan keluar sementara untuk meredakan ketidaknyamanan yang muncul.

Di bagian pertama seri tulisan ini, saya pernah cerita tentang Aldi, jenama supermarket asal Jerman yang terkenal dengan harga produk yang lebih murah. Salah satu cara Aldi menekan biaya operasional adalah dengan tidak menyediakan tas kresek dan memberikan tanggung jawab mengepak barang belanjaan yang telah dibayar kepada pembeli. Selain karena bisa menghemat, ini menjadi alasan besar bagi saya untuk memilih berbelanja di Aldi.

Prosesnya sederhana. Petugas kasir mengambil barang dari troli belanja pembeli, memindai, lalu meletakkannya ke dalam troli kosong di samping. Setelah pembayaran selesai, pembeli menukar troli kosong dengan troli kasir yang sudah terisi belanjaan, untuk kemudian dibawa ke area khusus tempat barang bisa dipindahkan ke tas masing-masing.

Praktik seperti ini menunjukkan bahwa sistem yang lebih bijaksana sebenarnya bisa berjalan, bahkan di negara yang Che Guavara sebut sebagai “the belly of the beast” –pusatnya kapitalisme. Hanya saja, kebiasaan yang dibentuk oleh sistem tidak bisa diubah jika mengandalkan kesadaran individu semata. Mengandalkan setiap orang untuk bijak dalam berbelanja atau rajin mendaur ulang hanya akan menghasilkan perubahan kecil.

Ini supermarket Asia | Foto: J Savitri

Anggapan naif saya tentang Amerika tidak sepenuhnya salah. Banyak warganya yang sadar tentang bahaya krisis iklim yang mengintai. Namun, ketika sistem yang ada sudah begitu mengakar, sulit untuk benar-benar menghindari atau mengurangi konsumsi berlebih. Upaya individu, sekeras apapun, tidak akan berdampak signifikan, jika kampanye hanya fokus padanya.

Kita sudah punya bukti, dimana kampanye besar daur ulang yang dibiayai oleh perusahaan minyak dunia selama lebih dari tiga dekade hanya berhasil membuat 9% sampah plastik untuk diproses. Kita perlu beranjak dari ilusi daur ulang.

Ini kalau belanja di Supermarket, rata-rata orang juga belanja sebanyak ini | Foto: Google

Perubahan nyata hanya mungkin terjadi lewat langkah-langkah sistemik, dari hulu hingga hilir; karena plastik akan tetap menjadi bagian dari kehidupan manusia. Perusahaan yang memproduksi dan menggunakan kemasan plastik perlu membatasi produksinya. Tanggung jawab tidak lagi hanya dibebankan pada pemerintah atau konsumen, tetapi ditanggung bersama seluruh pihak yang terlibat. Semua ini baru mungkin berjalan apabila ada aturan yang mengikat.

Misalnya, perlu ada undang-undang yang membatasi penggunaan plastik, terutama yang bersifat sekali pakai. Perusahaan seharusnya diwajibkan bertanggung jawab terhadap produknya dari segi desain sampai pembuangan, secara finansial maupun operasional. Selanjutnya, pemerintah dengan seksama mengembangkan kebijakan publik yang mendorong ekonomi sirkular dan sistem daur ulang yang memadai.

Semua itu memang perlu anggaran tambahan–dan barangkali begitu seharusnya. Terlalu lama kita menutup mata, merasa plastik murah tetapi mengabaikan biaya ekosistem yang pada akhirnya akan dibayar jauh lebih mahal oleh generasi berikutnya: anak cucu kita. [T]

Cincinnati, 24 September 2025

Penulis: J. Savitri
Editor: Adnyana Ole

Tags: Amerika SerikatKembali ke Amerikasampah plastik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Festival ke Uma V-2025: Ketika Anak-anak Mengenal Tanah dan Lumpur Sawah dengan Riang-Gembira

Next Post

Kisah Anak Agung Oka Budiasih, Perempuan Tukang Pahat Kayu dari Guwang

J. Savitri

J. Savitri

Penyuka martabak dan senang belajar, sesekali menyanyi. Saat ini sedang menimba ilmu di Bali Utara

Related Posts

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

by Wahyu Mahaputra
June 11, 2026
0
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu...

Read moreDetails

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
0
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

Read moreDetails

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails

Kota Tua Tak Pernah Mati

by I Nyoman Tingkat
May 24, 2026
0
Kota Tua Tak Pernah Mati

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se- Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Jumat Paing...

Read moreDetails

Oleh-Oleh dari Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 23, 2026
0
Oleh-Oleh dari Baduy Luar

MENGIKUTI rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan Study Tiru ke Baduy Luar, Provinsi Banten, Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026,...

Read moreDetails

Berguru ke Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 21, 2026
0
Berguru ke Baduy Luar

SETELAH rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan persembahyangan di Pura Aditya Jaya Rawangun Jakarta Timur pada Kamis Umanis Gumbreg, 14...

Read moreDetails
Next Post
Kisah Anak Agung Oka Budiasih, Perempuan Tukang Pahat Kayu dari Guwang

Kisah Anak Agung Oka Budiasih, Perempuan Tukang Pahat Kayu dari Guwang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co