23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kembali ke Amerika [2] — Tanah Impian (Berlapis Plastik dan Bertumpuk Kardus)

J. Savitri by J. Savitri
September 28, 2025
in Tualang
Kembali ke Amerika [2] — Tanah Impian (Berlapis Plastik dan Bertumpuk Kardus)

Makanan kemasan di AS

ENTAH kapan saya mulai peduli dengan isu sampah, terutama tentang bahaya dari penggunaan kemasan sekali pakai. Sebelum berangkat kuliah ke Amerika di tahun 2019, saya sudah mulai mempraktikkan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan. Salah satunya dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai saat berbelanja dan menggantinya dengan produce bag, tas yang dirancang untuk membawa produk segar seperti buah dan sayuran.

Saya juga punya beeswax wrap (pengganti pembungkus plastik atau alumunium foil yang terbuat dari kain katun dilapisi dengan lilin lebah), wadah makanan, lengkap dengan sendok dan garpunya. Semua alat perang, begitu saya menyebut set ini, menjadi bagian dari bekal bermigrasi ke Amerika Serikat.

Sebagai seseorang yang mengidolakan Amerika Serikat sebagai negara maju, saya punya fantasi tersendiri: bahwa negara maju pasti memiliki kesadaran lingkungan yang lebih tinggi. Sejak kecil kita membangun anggapan bahwa negara maju pasti lebih berbudaya, sehingga rasanya mustahil mereka melakukan hal-hal tak bermoral seperti pencemaran lingkungan.

Mereka adalah orang-orang berpendidikan. Tidak terbayang rasanya negara yang dipenuhi orang-orang terdidik mengabaikan hasil penelitian ilmuwan tentang krisis iklim yang mengancam alam dan seluruh isinya, termasuk manusia. Lebih aneh lagi jika membayangkan orang-orang terdidik di Amerika hanya berdiam diri melihat kerusakan yang nyata. Keyakinan ini, pada akhirnya, lebih merupakan cerminan dari pikiran naif saya pada masa itu.

Sejak hari pertama di Amerika, saya langsung pergi ke supermarket–sumber utama bahan makanan atau kebutuhan sehari-hari dengan harga paling terjangkau. Saya membeli kebutuhan terdekat saat itu; air minum, beras, beberapa jenis sayuran.

Ini contoh ketika ada acara makan-makan, pakai alat sekali pakai semua | Foto: J Savitri

Antrean tidak panjang, dengan cepat giliran saya datang. Belum terbiasa berinteraksi sehari-hari dengan bahasa inggris di Amerika, saat itu saya perlu jeda memikirkan bahasa yang tepat untuk menyampaikan bahwa saya tidak perlu tas kresek–sambil terus meletakkan belanjaan ke meja kasir. Sedikit lengah, barang belanjaan sudah dengan cepat dipindai dan dimasukkan ke dalam tas kresek, hampir satu barang satu tas. Belum sempat mencerna keadaan, petugas kasir sudah meminta saya untuk membayar.

Canggung rasanya melihat penggunaan plastik yang eksesif di Amerika. Hanya dalam ruang lingkup supermarket sebagai tempat membeli kebutuhan sehari hari, penggunaan plastik sebagai kemasan begitu masif. Contohnya, untuk produk-produk pembersih mereka tidak menyediakan kemasan isi ulang. Tentu jika isinya sudah habis, kemasan-kemasan itu akan berakhir ke tempat sampah.

Saya juga heran melihat makanan ringan seperti biskuit, coklat, permen, atau keripik kentang yang dijual dalam partai besar, tetapi setiap buahnya dibungkus dengan kemasan tersendiri. Sama seperti bagaimana permen dijual. Beberapa tahun belakangan, kebiasaan ini semakin banyak diadopsi oleh perusahaan-perusahaan makanan ringan kemasan di Indonesia dengan beragam versi mini pack-nya.

Makanan ringan dalam kemasan kecil seperti ini hampir selalu hadir di setiap perayaan atau pertemuan. Dengan kesibukan bekerja yang menjadi pusat kehidupan orang Amerika, ditambah pekerjaan rumah yang banyak menyita waktu, membeli makanan kemasan adalah jalan ninjanya.

Saya pernah ke taman untuk berkumpul dengan teman-teman pelajar Indonesia. Kebanyakan dari kami membawa makanan buatan masing-masing, mulai dari cilok, martabak, gorengan, mie, kerupuk; ini cara kami membangun suasana komunitas seperti di Indonesia. Tentu ada juga tersedia makanan ringan khas Amerika, karena siapa yang tidak tergoda dengan coklat-coklat yang jadi murah ketika mendapatkan uang bulanan dalam dolar.

Tidak jauh dari tempat kami berkumpul, saya melihat satu keluarga yang sedang merayakan ulang tahun. Semua serba biru, mulai dari alat makan, dekorasi, sampai makanannya. Ternyata kebutuhan pesta seperti taplak, piring, gelas, sendok/garpu dengan warna senada tersedia di supermarket–tentu semua terbuat dari plastik. Dan keheranan saya, jelas tidak berhenti di sana.

Ini suguhan normal kalau acara besar, kebetulan ini pas sholat Idul Adha, semua makanan kemasan | Foro: J Savitri

Ketika pesta ulang tahun berakhir, salah satu anggota keluarga menyatukan keempat ujung taplak meja plastik, mengangkatnya dan membuang semua yang tersisa ke tempat sampah. Semua alat makan dan makanan yang di dalamnya bersatu menjadi sampah yang tak lagi berguna. Pemandangan ini bukan hal yang asing karena hampir setiap pertemuan yang saya hadiri menggunakan alat makan sekali pakai, lengkap dengan makanan dan minuman kemasannya.

Saya belum membahas tentang kebiasaan berbelanja online. Teman saya bercerita bahwa di rumah saudaranya paket datang setiap dua jam sekali. Di kemas dalam kardus sebesar kardus sepatu, ketika isinya hanya sebuah sabun cuci muka. Ada teman lain yang menceritakan pengalamannya membeli barang dengan kemasan kotak sampai lapis tujuh. Hal-hal tersebut sangat lumrah di Amerika.

Menjadi aktivis zero-waste di Amerika adalah pekerjaan yang susah. Industri sangat paham cara memanfaatkan kelemahan manusia. Di tengah budaya di mana kesepian dan rasa terisolasi menjadi bagian hidup yang lumrah bagi banyak orang, belanja sering dijadikan jalan keluar sementara untuk meredakan ketidaknyamanan yang muncul.

Di bagian pertama seri tulisan ini, saya pernah cerita tentang Aldi, jenama supermarket asal Jerman yang terkenal dengan harga produk yang lebih murah. Salah satu cara Aldi menekan biaya operasional adalah dengan tidak menyediakan tas kresek dan memberikan tanggung jawab mengepak barang belanjaan yang telah dibayar kepada pembeli. Selain karena bisa menghemat, ini menjadi alasan besar bagi saya untuk memilih berbelanja di Aldi.

Prosesnya sederhana. Petugas kasir mengambil barang dari troli belanja pembeli, memindai, lalu meletakkannya ke dalam troli kosong di samping. Setelah pembayaran selesai, pembeli menukar troli kosong dengan troli kasir yang sudah terisi belanjaan, untuk kemudian dibawa ke area khusus tempat barang bisa dipindahkan ke tas masing-masing.

Praktik seperti ini menunjukkan bahwa sistem yang lebih bijaksana sebenarnya bisa berjalan, bahkan di negara yang Che Guavara sebut sebagai “the belly of the beast” –pusatnya kapitalisme. Hanya saja, kebiasaan yang dibentuk oleh sistem tidak bisa diubah jika mengandalkan kesadaran individu semata. Mengandalkan setiap orang untuk bijak dalam berbelanja atau rajin mendaur ulang hanya akan menghasilkan perubahan kecil.

Ini supermarket Asia | Foto: J Savitri

Anggapan naif saya tentang Amerika tidak sepenuhnya salah. Banyak warganya yang sadar tentang bahaya krisis iklim yang mengintai. Namun, ketika sistem yang ada sudah begitu mengakar, sulit untuk benar-benar menghindari atau mengurangi konsumsi berlebih. Upaya individu, sekeras apapun, tidak akan berdampak signifikan, jika kampanye hanya fokus padanya.

Kita sudah punya bukti, dimana kampanye besar daur ulang yang dibiayai oleh perusahaan minyak dunia selama lebih dari tiga dekade hanya berhasil membuat 9% sampah plastik untuk diproses. Kita perlu beranjak dari ilusi daur ulang.

Ini kalau belanja di Supermarket, rata-rata orang juga belanja sebanyak ini | Foto: Google

Perubahan nyata hanya mungkin terjadi lewat langkah-langkah sistemik, dari hulu hingga hilir; karena plastik akan tetap menjadi bagian dari kehidupan manusia. Perusahaan yang memproduksi dan menggunakan kemasan plastik perlu membatasi produksinya. Tanggung jawab tidak lagi hanya dibebankan pada pemerintah atau konsumen, tetapi ditanggung bersama seluruh pihak yang terlibat. Semua ini baru mungkin berjalan apabila ada aturan yang mengikat.

Misalnya, perlu ada undang-undang yang membatasi penggunaan plastik, terutama yang bersifat sekali pakai. Perusahaan seharusnya diwajibkan bertanggung jawab terhadap produknya dari segi desain sampai pembuangan, secara finansial maupun operasional. Selanjutnya, pemerintah dengan seksama mengembangkan kebijakan publik yang mendorong ekonomi sirkular dan sistem daur ulang yang memadai.

Semua itu memang perlu anggaran tambahan–dan barangkali begitu seharusnya. Terlalu lama kita menutup mata, merasa plastik murah tetapi mengabaikan biaya ekosistem yang pada akhirnya akan dibayar jauh lebih mahal oleh generasi berikutnya: anak cucu kita. [T]

Cincinnati, 24 September 2025

Penulis: J. Savitri
Editor: Adnyana Ole

Tags: Amerika SerikatKembali ke Amerikasampah plastik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Festival ke Uma V-2025: Ketika Anak-anak Mengenal Tanah dan Lumpur Sawah dengan Riang-Gembira

Next Post

Kisah Anak Agung Oka Budiasih, Perempuan Tukang Pahat Kayu dari Guwang

J. Savitri

J. Savitri

Penyuka martabak dan senang belajar, sesekali menyanyi. Saat ini sedang menimba ilmu di Bali Utara

Related Posts

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
0
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

Read moreDetails

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
0
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

Read moreDetails

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

by Chusmeru
July 13, 2026
0
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

Read moreDetails

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails
Next Post
Kisah Anak Agung Oka Budiasih, Perempuan Tukang Pahat Kayu dari Guwang

Kisah Anak Agung Oka Budiasih, Perempuan Tukang Pahat Kayu dari Guwang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co