14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kisah Anak Agung Oka Budiasih, Perempuan Tukang Pahat Kayu dari Guwang

Ni Komang Sariasih by Ni Komang Sariasih
September 28, 2025
in Persona
Kisah Anak Agung Oka Budiasih, Perempuan Tukang Pahat Kayu dari Guwang

Anak Agung Oka Budiasih

DI sudut Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Bali, terdengar suara ketukan pelan namun pasti dari alat pahat yang bertemu kayu. Di tangan Anak Agung Oka Budiasih (57), sebatang kayu akasia polos bertransformasi menjadi tapel sai—topeng tradisional Bali yang sarat makna budaya. Di tengah profesi yang kerap diasosiasikan dengan laki-laki, perempuan yang akrab disapa Ibu Oka ini menorehkan kisah inspiratif tentang ketekunan, kemandirian, dan cinta pada seni pahat.

Dari Meja Pengacara ke Meja Pahat

Oka Budiasih bukanlah nama asing di dunia hukum pada masanya. Ia lulusan Universitas Warmadewa Jurusan Hukum, san menjalani profesi sebagai pengacara selama delapan tahun sejak 1993. Namun, hidup membawanya ke babak baru. Setelah menikah pada 1997 dan memiliki anak pada tahun 2000, ia memilih mengundurkan diri dari dunia pengadilan untuk menjadi ibu rumah tangga.

“Menjadi ibu rumah tangga saya tidak bisa diam saja. Harus menghasilkan, bantu-bantu perekonomian keluarga,” ujar Oka Budiasih dengan nada tegas namun hangat.

Keputusan itu bukanlah akhir dari produktivitasnya. Dengan latar belakang pendidikan formal yang mentereng—SD di SD 3 Guwang, SMP di SMP Saraswati Sukawati, SMA di SMA 1 Gianyar, hingga kuliah di Universitas Warmadewa—Oka kembali ke akar budayanya: seni pahat kayu. Keterampilan yang ia pelajari sejak kecil ini menjadi jalan untuk tetap berkarya sambil menjalani peran sebagai ibu.

Seni pahat bukanlah hal baru bagi Oka. Sejak kelas tiga SD, ia sudah akrab dengan dunia kayu. Dari kelas tiga SD, ia sudah bisa menghasilkan uang dari memahat kayu. Untuk menambah bekal, karena keluarganya juga kurang berada.

Oka Budiasih

Ia adalah anak ketiga dari empat bersaudara, dibesarkan oleh orang tua yang sederhana—sang ayah seorang guru SD sekaligus tukang ukir kayu, sementara penghasilan sebagai pegawai negeri saat itu hanya cukup untuk kebutuhan dasar.

“Dulu gaji guru cuma cukup beli sabun, odol. Bisa dibilang nggak dapat gaji, benar-benar mengabdi,” ceritanya dengan tawa kecil.

Di masa kecil, bekal sekolah adalah barang mewah.

“Kalau dulu, 25 rupiah itu sudah besar. Biasanya bekal cuma 5 rupiah, kalau dapat 5 rupiah lagi, jadi 10 rupiah, sudah bisa beli nasi di sekolah,” ungkap Oka.

Bersama kakak-kakak dan adiknya, ia belajar mengukir di bawah bimbingan ayahnya. Setiap pulang sekolah, mereka menghabiskan sore dengan memahat, menghasilkan karya sederhana yang dijual untuk tambahan bekal.

“Beda dengan sekarang, anak-anak dibuatkan nasi, diberi uang jajan. Dulu disekolahkan saja sudah syukur,” tambahnya, mengenang masa kecil yang penuh perjuangan.

Tapel Sai: Jejak Tradisi dan Mata Pencaharian

Kecintaannya pada seni pahat berakar dari tradisi keluarga dan lingkungan Guwang, desa yang dikenal sebagai pusat kerajinan pahat kayu. Di Guwang, seni pahat merupakan kerajinan turun-temurun. Kalau ada yang tidak punya pekerjaan tetap, maka memahat akan jadi penghasilan utama. Bagi ibu rumah tangga seperti dirinya, memahat adalah pekerjaan sampingan yang bermakna. Selain itu, ia juga menerima pesanan nasi kotak dan rayunan pedanda—sajian khusus untuk sulinggih sebagai bentuk persembahan—serta aktif di seka gong, kidung, dan Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI).

Oka Budiasih

Kalau dulu ukiran itu banyak jenisnya dan memang sejak dulu tapel sai saja yang dibuat ibunya karena ukiran itu yang lebih laku di pasaran dan dijual lima puluh ribu, satu jam dapat satu tapel sai karena sudah lihai, kalau sempat kerja sampai lima jam sudah dapat lima tapel sai langsung selesai karena ibunya juga sudah berumur, tidak kuat duduk terlalu lama.

Seni pahat sering dianggap sebagai dunia laki-laki, namun Oka membuktikan sebaliknya.

“Kalau saya, nggak ada tantangan. Semua gampang-gampang saja, nggak ada yang susah. Beli kayu ya beli sendiri, tanpa campur tangan laki-laki,” tegasnya.

Ketika ada komentar yang meragukan karyanya, ia memilih untuk tidak terpaku. Ia yakin pasti ada yang mengatakan karya yang dihasilkan Oka tidak bagus. Tetapi ia tidak memikirkan semua itu, yang terpenting baginya adalah yang membeli karyanya masih banyak. Itu saja pandangan yang diungkapkan dengan percaya diri ketika ditanya pernah mendapat pandangan atau komentar yang meragukan kemampuannya.

Menurutnya, perempuan tidak memiliki kelebihan khusus dibandingkan laki-laki dalam seni pahat. Kalau laki-laki mau belajar, hasilnya bisa lebih bagus, pasti lebih kuat. Ia menyampaikan perempuan banyak sekali tantangannya: mengurus anak, rumah, banjar, ngayah. Jadi tidak bisa fokus belajar yang bagus sekali.

Namun, ia menambahkan dengan nada tulus, “Kalau kemampuan saya segini saja, sudah bangga, sudah bersyukur. Masih bisa diberikan kemampuan untuk memahat kayu demi menyambung hidup.”

Bagi Oka, seni pahat bukan sekadar mata pencaharian, melainkan jembatan untuk melestarikan budaya Bali. Banyak sekali peran seni pahat dalam pelestarian budaya lokal. Selain itu, memiliki skill atau kemampuan juga otomatis bisa bantu perekonomian keluarga. Ia berharap generasi muda mau belajar dan melanjutkan tradisi ini agar tidak punah.

“Kalau ada yang mau, pasti saya ajarkan,” katanya dengan antusias.

Oka Budiasih

Meski belum pernah mengikuti pameran formal, karya Oka sering dikunjungi pembeli langsung ke rumahnya. Harapannya sederhana namun mendalam: seni pahat Guwang tetap hidup, diminati, dan menjadi sumber penghidupan bagi banyak orang, terutama ibu-ibu yang membutuhkan pekerjaan dan seni pahat tetap laku di pasaran, supaya Bali tetap ajeg, tetap lestari.

Kepada anak muda, khususnya perempuan, yang ingin menekuni seni pahat, pesan Oka jelas.

“Mau belajar dan meneruskan apa yang sudah ada. Lestarikan agar tidak punah.”

Dengan pahat di tangan dan semangat yang tak pernah pudar, Anak Agung Oka Budiasih bukan hanya mengukir kayu, tetapi juga mengukir jejak keberanian dan dedikasi untuk generasi mendatang. [T]

  • Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co

Penulis: Ni Komang Sariasih
Editor: Adnyana Ole

Tags: Desa GuwangSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kembali ke Amerika [2] — Tanah Impian (Berlapis Plastik dan Bertumpuk Kardus)

Next Post

Taman Ayun Barong Festival 2025: Regenerasi dan Superstar Jadi Sorotan

Ni Komang Sariasih

Ni Komang Sariasih

Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali

Related Posts

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails
Next Post
Taman Ayun Barong Festival 2025: Regenerasi dan Superstar Jadi Sorotan

Taman Ayun Barong Festival 2025: Regenerasi dan Superstar Jadi Sorotan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co