14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kisah Anak Agung Oka Budiasih, Perempuan Tukang Pahat Kayu dari Guwang

Ni Komang Sariasih by Ni Komang Sariasih
September 28, 2025
in Persona
Kisah Anak Agung Oka Budiasih, Perempuan Tukang Pahat Kayu dari Guwang

Anak Agung Oka Budiasih

DI sudut Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Bali, terdengar suara ketukan pelan namun pasti dari alat pahat yang bertemu kayu. Di tangan Anak Agung Oka Budiasih (57), sebatang kayu akasia polos bertransformasi menjadi tapel sai—topeng tradisional Bali yang sarat makna budaya. Di tengah profesi yang kerap diasosiasikan dengan laki-laki, perempuan yang akrab disapa Ibu Oka ini menorehkan kisah inspiratif tentang ketekunan, kemandirian, dan cinta pada seni pahat.

Dari Meja Pengacara ke Meja Pahat

Oka Budiasih bukanlah nama asing di dunia hukum pada masanya. Ia lulusan Universitas Warmadewa Jurusan Hukum, san menjalani profesi sebagai pengacara selama delapan tahun sejak 1993. Namun, hidup membawanya ke babak baru. Setelah menikah pada 1997 dan memiliki anak pada tahun 2000, ia memilih mengundurkan diri dari dunia pengadilan untuk menjadi ibu rumah tangga.

“Menjadi ibu rumah tangga saya tidak bisa diam saja. Harus menghasilkan, bantu-bantu perekonomian keluarga,” ujar Oka Budiasih dengan nada tegas namun hangat.

Keputusan itu bukanlah akhir dari produktivitasnya. Dengan latar belakang pendidikan formal yang mentereng—SD di SD 3 Guwang, SMP di SMP Saraswati Sukawati, SMA di SMA 1 Gianyar, hingga kuliah di Universitas Warmadewa—Oka kembali ke akar budayanya: seni pahat kayu. Keterampilan yang ia pelajari sejak kecil ini menjadi jalan untuk tetap berkarya sambil menjalani peran sebagai ibu.

Seni pahat bukanlah hal baru bagi Oka. Sejak kelas tiga SD, ia sudah akrab dengan dunia kayu. Dari kelas tiga SD, ia sudah bisa menghasilkan uang dari memahat kayu. Untuk menambah bekal, karena keluarganya juga kurang berada.

Oka Budiasih

Ia adalah anak ketiga dari empat bersaudara, dibesarkan oleh orang tua yang sederhana—sang ayah seorang guru SD sekaligus tukang ukir kayu, sementara penghasilan sebagai pegawai negeri saat itu hanya cukup untuk kebutuhan dasar.

“Dulu gaji guru cuma cukup beli sabun, odol. Bisa dibilang nggak dapat gaji, benar-benar mengabdi,” ceritanya dengan tawa kecil.

Di masa kecil, bekal sekolah adalah barang mewah.

“Kalau dulu, 25 rupiah itu sudah besar. Biasanya bekal cuma 5 rupiah, kalau dapat 5 rupiah lagi, jadi 10 rupiah, sudah bisa beli nasi di sekolah,” ungkap Oka.

Bersama kakak-kakak dan adiknya, ia belajar mengukir di bawah bimbingan ayahnya. Setiap pulang sekolah, mereka menghabiskan sore dengan memahat, menghasilkan karya sederhana yang dijual untuk tambahan bekal.

“Beda dengan sekarang, anak-anak dibuatkan nasi, diberi uang jajan. Dulu disekolahkan saja sudah syukur,” tambahnya, mengenang masa kecil yang penuh perjuangan.

Tapel Sai: Jejak Tradisi dan Mata Pencaharian

Kecintaannya pada seni pahat berakar dari tradisi keluarga dan lingkungan Guwang, desa yang dikenal sebagai pusat kerajinan pahat kayu. Di Guwang, seni pahat merupakan kerajinan turun-temurun. Kalau ada yang tidak punya pekerjaan tetap, maka memahat akan jadi penghasilan utama. Bagi ibu rumah tangga seperti dirinya, memahat adalah pekerjaan sampingan yang bermakna. Selain itu, ia juga menerima pesanan nasi kotak dan rayunan pedanda—sajian khusus untuk sulinggih sebagai bentuk persembahan—serta aktif di seka gong, kidung, dan Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI).

Oka Budiasih

Kalau dulu ukiran itu banyak jenisnya dan memang sejak dulu tapel sai saja yang dibuat ibunya karena ukiran itu yang lebih laku di pasaran dan dijual lima puluh ribu, satu jam dapat satu tapel sai karena sudah lihai, kalau sempat kerja sampai lima jam sudah dapat lima tapel sai langsung selesai karena ibunya juga sudah berumur, tidak kuat duduk terlalu lama.

Seni pahat sering dianggap sebagai dunia laki-laki, namun Oka membuktikan sebaliknya.

“Kalau saya, nggak ada tantangan. Semua gampang-gampang saja, nggak ada yang susah. Beli kayu ya beli sendiri, tanpa campur tangan laki-laki,” tegasnya.

Ketika ada komentar yang meragukan karyanya, ia memilih untuk tidak terpaku. Ia yakin pasti ada yang mengatakan karya yang dihasilkan Oka tidak bagus. Tetapi ia tidak memikirkan semua itu, yang terpenting baginya adalah yang membeli karyanya masih banyak. Itu saja pandangan yang diungkapkan dengan percaya diri ketika ditanya pernah mendapat pandangan atau komentar yang meragukan kemampuannya.

Menurutnya, perempuan tidak memiliki kelebihan khusus dibandingkan laki-laki dalam seni pahat. Kalau laki-laki mau belajar, hasilnya bisa lebih bagus, pasti lebih kuat. Ia menyampaikan perempuan banyak sekali tantangannya: mengurus anak, rumah, banjar, ngayah. Jadi tidak bisa fokus belajar yang bagus sekali.

Namun, ia menambahkan dengan nada tulus, “Kalau kemampuan saya segini saja, sudah bangga, sudah bersyukur. Masih bisa diberikan kemampuan untuk memahat kayu demi menyambung hidup.”

Bagi Oka, seni pahat bukan sekadar mata pencaharian, melainkan jembatan untuk melestarikan budaya Bali. Banyak sekali peran seni pahat dalam pelestarian budaya lokal. Selain itu, memiliki skill atau kemampuan juga otomatis bisa bantu perekonomian keluarga. Ia berharap generasi muda mau belajar dan melanjutkan tradisi ini agar tidak punah.

“Kalau ada yang mau, pasti saya ajarkan,” katanya dengan antusias.

Oka Budiasih

Meski belum pernah mengikuti pameran formal, karya Oka sering dikunjungi pembeli langsung ke rumahnya. Harapannya sederhana namun mendalam: seni pahat Guwang tetap hidup, diminati, dan menjadi sumber penghidupan bagi banyak orang, terutama ibu-ibu yang membutuhkan pekerjaan dan seni pahat tetap laku di pasaran, supaya Bali tetap ajeg, tetap lestari.

Kepada anak muda, khususnya perempuan, yang ingin menekuni seni pahat, pesan Oka jelas.

“Mau belajar dan meneruskan apa yang sudah ada. Lestarikan agar tidak punah.”

Dengan pahat di tangan dan semangat yang tak pernah pudar, Anak Agung Oka Budiasih bukan hanya mengukir kayu, tetapi juga mengukir jejak keberanian dan dedikasi untuk generasi mendatang. [T]

  • Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co

Penulis: Ni Komang Sariasih
Editor: Adnyana Ole

Tags: Desa GuwangSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kembali ke Amerika [2] — Tanah Impian (Berlapis Plastik dan Bertumpuk Kardus)

Next Post

Taman Ayun Barong Festival 2025: Regenerasi dan Superstar Jadi Sorotan

Ni Komang Sariasih

Ni Komang Sariasih

Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali

Related Posts

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
0
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

Read moreDetails

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails
Next Post
Taman Ayun Barong Festival 2025: Regenerasi dan Superstar Jadi Sorotan

Taman Ayun Barong Festival 2025: Regenerasi dan Superstar Jadi Sorotan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co