25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kisah Anak Agung Oka Budiasih, Perempuan Tukang Pahat Kayu dari Guwang

Ni Komang Sariasih by Ni Komang Sariasih
September 28, 2025
in Persona
Kisah Anak Agung Oka Budiasih, Perempuan Tukang Pahat Kayu dari Guwang

Anak Agung Oka Budiasih

DI sudut Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Bali, terdengar suara ketukan pelan namun pasti dari alat pahat yang bertemu kayu. Di tangan Anak Agung Oka Budiasih (57), sebatang kayu akasia polos bertransformasi menjadi tapel sai—topeng tradisional Bali yang sarat makna budaya. Di tengah profesi yang kerap diasosiasikan dengan laki-laki, perempuan yang akrab disapa Ibu Oka ini menorehkan kisah inspiratif tentang ketekunan, kemandirian, dan cinta pada seni pahat.

Dari Meja Pengacara ke Meja Pahat

Oka Budiasih bukanlah nama asing di dunia hukum pada masanya. Ia lulusan Universitas Warmadewa Jurusan Hukum, san menjalani profesi sebagai pengacara selama delapan tahun sejak 1993. Namun, hidup membawanya ke babak baru. Setelah menikah pada 1997 dan memiliki anak pada tahun 2000, ia memilih mengundurkan diri dari dunia pengadilan untuk menjadi ibu rumah tangga.

“Menjadi ibu rumah tangga saya tidak bisa diam saja. Harus menghasilkan, bantu-bantu perekonomian keluarga,” ujar Oka Budiasih dengan nada tegas namun hangat.

Keputusan itu bukanlah akhir dari produktivitasnya. Dengan latar belakang pendidikan formal yang mentereng—SD di SD 3 Guwang, SMP di SMP Saraswati Sukawati, SMA di SMA 1 Gianyar, hingga kuliah di Universitas Warmadewa—Oka kembali ke akar budayanya: seni pahat kayu. Keterampilan yang ia pelajari sejak kecil ini menjadi jalan untuk tetap berkarya sambil menjalani peran sebagai ibu.

Seni pahat bukanlah hal baru bagi Oka. Sejak kelas tiga SD, ia sudah akrab dengan dunia kayu. Dari kelas tiga SD, ia sudah bisa menghasilkan uang dari memahat kayu. Untuk menambah bekal, karena keluarganya juga kurang berada.

Oka Budiasih

Ia adalah anak ketiga dari empat bersaudara, dibesarkan oleh orang tua yang sederhana—sang ayah seorang guru SD sekaligus tukang ukir kayu, sementara penghasilan sebagai pegawai negeri saat itu hanya cukup untuk kebutuhan dasar.

“Dulu gaji guru cuma cukup beli sabun, odol. Bisa dibilang nggak dapat gaji, benar-benar mengabdi,” ceritanya dengan tawa kecil.

Di masa kecil, bekal sekolah adalah barang mewah.

“Kalau dulu, 25 rupiah itu sudah besar. Biasanya bekal cuma 5 rupiah, kalau dapat 5 rupiah lagi, jadi 10 rupiah, sudah bisa beli nasi di sekolah,” ungkap Oka.

Bersama kakak-kakak dan adiknya, ia belajar mengukir di bawah bimbingan ayahnya. Setiap pulang sekolah, mereka menghabiskan sore dengan memahat, menghasilkan karya sederhana yang dijual untuk tambahan bekal.

“Beda dengan sekarang, anak-anak dibuatkan nasi, diberi uang jajan. Dulu disekolahkan saja sudah syukur,” tambahnya, mengenang masa kecil yang penuh perjuangan.

Tapel Sai: Jejak Tradisi dan Mata Pencaharian

Kecintaannya pada seni pahat berakar dari tradisi keluarga dan lingkungan Guwang, desa yang dikenal sebagai pusat kerajinan pahat kayu. Di Guwang, seni pahat merupakan kerajinan turun-temurun. Kalau ada yang tidak punya pekerjaan tetap, maka memahat akan jadi penghasilan utama. Bagi ibu rumah tangga seperti dirinya, memahat adalah pekerjaan sampingan yang bermakna. Selain itu, ia juga menerima pesanan nasi kotak dan rayunan pedanda—sajian khusus untuk sulinggih sebagai bentuk persembahan—serta aktif di seka gong, kidung, dan Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI).

Oka Budiasih

Kalau dulu ukiran itu banyak jenisnya dan memang sejak dulu tapel sai saja yang dibuat ibunya karena ukiran itu yang lebih laku di pasaran dan dijual lima puluh ribu, satu jam dapat satu tapel sai karena sudah lihai, kalau sempat kerja sampai lima jam sudah dapat lima tapel sai langsung selesai karena ibunya juga sudah berumur, tidak kuat duduk terlalu lama.

Seni pahat sering dianggap sebagai dunia laki-laki, namun Oka membuktikan sebaliknya.

“Kalau saya, nggak ada tantangan. Semua gampang-gampang saja, nggak ada yang susah. Beli kayu ya beli sendiri, tanpa campur tangan laki-laki,” tegasnya.

Ketika ada komentar yang meragukan karyanya, ia memilih untuk tidak terpaku. Ia yakin pasti ada yang mengatakan karya yang dihasilkan Oka tidak bagus. Tetapi ia tidak memikirkan semua itu, yang terpenting baginya adalah yang membeli karyanya masih banyak. Itu saja pandangan yang diungkapkan dengan percaya diri ketika ditanya pernah mendapat pandangan atau komentar yang meragukan kemampuannya.

Menurutnya, perempuan tidak memiliki kelebihan khusus dibandingkan laki-laki dalam seni pahat. Kalau laki-laki mau belajar, hasilnya bisa lebih bagus, pasti lebih kuat. Ia menyampaikan perempuan banyak sekali tantangannya: mengurus anak, rumah, banjar, ngayah. Jadi tidak bisa fokus belajar yang bagus sekali.

Namun, ia menambahkan dengan nada tulus, “Kalau kemampuan saya segini saja, sudah bangga, sudah bersyukur. Masih bisa diberikan kemampuan untuk memahat kayu demi menyambung hidup.”

Bagi Oka, seni pahat bukan sekadar mata pencaharian, melainkan jembatan untuk melestarikan budaya Bali. Banyak sekali peran seni pahat dalam pelestarian budaya lokal. Selain itu, memiliki skill atau kemampuan juga otomatis bisa bantu perekonomian keluarga. Ia berharap generasi muda mau belajar dan melanjutkan tradisi ini agar tidak punah.

“Kalau ada yang mau, pasti saya ajarkan,” katanya dengan antusias.

Oka Budiasih

Meski belum pernah mengikuti pameran formal, karya Oka sering dikunjungi pembeli langsung ke rumahnya. Harapannya sederhana namun mendalam: seni pahat Guwang tetap hidup, diminati, dan menjadi sumber penghidupan bagi banyak orang, terutama ibu-ibu yang membutuhkan pekerjaan dan seni pahat tetap laku di pasaran, supaya Bali tetap ajeg, tetap lestari.

Kepada anak muda, khususnya perempuan, yang ingin menekuni seni pahat, pesan Oka jelas.

“Mau belajar dan meneruskan apa yang sudah ada. Lestarikan agar tidak punah.”

Dengan pahat di tangan dan semangat yang tak pernah pudar, Anak Agung Oka Budiasih bukan hanya mengukir kayu, tetapi juga mengukir jejak keberanian dan dedikasi untuk generasi mendatang. [T]

  • Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co

Penulis: Ni Komang Sariasih
Editor: Adnyana Ole

Tags: Desa GuwangSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kembali ke Amerika [2] — Tanah Impian (Berlapis Plastik dan Bertumpuk Kardus)

Next Post

Taman Ayun Barong Festival 2025: Regenerasi dan Superstar Jadi Sorotan

Ni Komang Sariasih

Ni Komang Sariasih

Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali

Related Posts

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
0
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

Read moreDetails

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
0
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

Read moreDetails

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
0
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

Read moreDetails

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails
Next Post
Taman Ayun Barong Festival 2025: Regenerasi dan Superstar Jadi Sorotan

Taman Ayun Barong Festival 2025: Regenerasi dan Superstar Jadi Sorotan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co