14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kisah Anak Agung Oka Budiasih, Perempuan Tukang Pahat Kayu dari Guwang

Ni Komang Sariasih by Ni Komang Sariasih
September 28, 2025
in Persona
Kisah Anak Agung Oka Budiasih, Perempuan Tukang Pahat Kayu dari Guwang

Anak Agung Oka Budiasih

DI sudut Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Bali, terdengar suara ketukan pelan namun pasti dari alat pahat yang bertemu kayu. Di tangan Anak Agung Oka Budiasih (57), sebatang kayu akasia polos bertransformasi menjadi tapel sai—topeng tradisional Bali yang sarat makna budaya. Di tengah profesi yang kerap diasosiasikan dengan laki-laki, perempuan yang akrab disapa Ibu Oka ini menorehkan kisah inspiratif tentang ketekunan, kemandirian, dan cinta pada seni pahat.

Dari Meja Pengacara ke Meja Pahat

Oka Budiasih bukanlah nama asing di dunia hukum pada masanya. Ia lulusan Universitas Warmadewa Jurusan Hukum, san menjalani profesi sebagai pengacara selama delapan tahun sejak 1993. Namun, hidup membawanya ke babak baru. Setelah menikah pada 1997 dan memiliki anak pada tahun 2000, ia memilih mengundurkan diri dari dunia pengadilan untuk menjadi ibu rumah tangga.

“Menjadi ibu rumah tangga saya tidak bisa diam saja. Harus menghasilkan, bantu-bantu perekonomian keluarga,” ujar Oka Budiasih dengan nada tegas namun hangat.

Keputusan itu bukanlah akhir dari produktivitasnya. Dengan latar belakang pendidikan formal yang mentereng—SD di SD 3 Guwang, SMP di SMP Saraswati Sukawati, SMA di SMA 1 Gianyar, hingga kuliah di Universitas Warmadewa—Oka kembali ke akar budayanya: seni pahat kayu. Keterampilan yang ia pelajari sejak kecil ini menjadi jalan untuk tetap berkarya sambil menjalani peran sebagai ibu.

Seni pahat bukanlah hal baru bagi Oka. Sejak kelas tiga SD, ia sudah akrab dengan dunia kayu. Dari kelas tiga SD, ia sudah bisa menghasilkan uang dari memahat kayu. Untuk menambah bekal, karena keluarganya juga kurang berada.

Oka Budiasih

Ia adalah anak ketiga dari empat bersaudara, dibesarkan oleh orang tua yang sederhana—sang ayah seorang guru SD sekaligus tukang ukir kayu, sementara penghasilan sebagai pegawai negeri saat itu hanya cukup untuk kebutuhan dasar.

“Dulu gaji guru cuma cukup beli sabun, odol. Bisa dibilang nggak dapat gaji, benar-benar mengabdi,” ceritanya dengan tawa kecil.

Di masa kecil, bekal sekolah adalah barang mewah.

“Kalau dulu, 25 rupiah itu sudah besar. Biasanya bekal cuma 5 rupiah, kalau dapat 5 rupiah lagi, jadi 10 rupiah, sudah bisa beli nasi di sekolah,” ungkap Oka.

Bersama kakak-kakak dan adiknya, ia belajar mengukir di bawah bimbingan ayahnya. Setiap pulang sekolah, mereka menghabiskan sore dengan memahat, menghasilkan karya sederhana yang dijual untuk tambahan bekal.

“Beda dengan sekarang, anak-anak dibuatkan nasi, diberi uang jajan. Dulu disekolahkan saja sudah syukur,” tambahnya, mengenang masa kecil yang penuh perjuangan.

Tapel Sai: Jejak Tradisi dan Mata Pencaharian

Kecintaannya pada seni pahat berakar dari tradisi keluarga dan lingkungan Guwang, desa yang dikenal sebagai pusat kerajinan pahat kayu. Di Guwang, seni pahat merupakan kerajinan turun-temurun. Kalau ada yang tidak punya pekerjaan tetap, maka memahat akan jadi penghasilan utama. Bagi ibu rumah tangga seperti dirinya, memahat adalah pekerjaan sampingan yang bermakna. Selain itu, ia juga menerima pesanan nasi kotak dan rayunan pedanda—sajian khusus untuk sulinggih sebagai bentuk persembahan—serta aktif di seka gong, kidung, dan Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI).

Oka Budiasih

Kalau dulu ukiran itu banyak jenisnya dan memang sejak dulu tapel sai saja yang dibuat ibunya karena ukiran itu yang lebih laku di pasaran dan dijual lima puluh ribu, satu jam dapat satu tapel sai karena sudah lihai, kalau sempat kerja sampai lima jam sudah dapat lima tapel sai langsung selesai karena ibunya juga sudah berumur, tidak kuat duduk terlalu lama.

Seni pahat sering dianggap sebagai dunia laki-laki, namun Oka membuktikan sebaliknya.

“Kalau saya, nggak ada tantangan. Semua gampang-gampang saja, nggak ada yang susah. Beli kayu ya beli sendiri, tanpa campur tangan laki-laki,” tegasnya.

Ketika ada komentar yang meragukan karyanya, ia memilih untuk tidak terpaku. Ia yakin pasti ada yang mengatakan karya yang dihasilkan Oka tidak bagus. Tetapi ia tidak memikirkan semua itu, yang terpenting baginya adalah yang membeli karyanya masih banyak. Itu saja pandangan yang diungkapkan dengan percaya diri ketika ditanya pernah mendapat pandangan atau komentar yang meragukan kemampuannya.

Menurutnya, perempuan tidak memiliki kelebihan khusus dibandingkan laki-laki dalam seni pahat. Kalau laki-laki mau belajar, hasilnya bisa lebih bagus, pasti lebih kuat. Ia menyampaikan perempuan banyak sekali tantangannya: mengurus anak, rumah, banjar, ngayah. Jadi tidak bisa fokus belajar yang bagus sekali.

Namun, ia menambahkan dengan nada tulus, “Kalau kemampuan saya segini saja, sudah bangga, sudah bersyukur. Masih bisa diberikan kemampuan untuk memahat kayu demi menyambung hidup.”

Bagi Oka, seni pahat bukan sekadar mata pencaharian, melainkan jembatan untuk melestarikan budaya Bali. Banyak sekali peran seni pahat dalam pelestarian budaya lokal. Selain itu, memiliki skill atau kemampuan juga otomatis bisa bantu perekonomian keluarga. Ia berharap generasi muda mau belajar dan melanjutkan tradisi ini agar tidak punah.

“Kalau ada yang mau, pasti saya ajarkan,” katanya dengan antusias.

Oka Budiasih

Meski belum pernah mengikuti pameran formal, karya Oka sering dikunjungi pembeli langsung ke rumahnya. Harapannya sederhana namun mendalam: seni pahat Guwang tetap hidup, diminati, dan menjadi sumber penghidupan bagi banyak orang, terutama ibu-ibu yang membutuhkan pekerjaan dan seni pahat tetap laku di pasaran, supaya Bali tetap ajeg, tetap lestari.

Kepada anak muda, khususnya perempuan, yang ingin menekuni seni pahat, pesan Oka jelas.

“Mau belajar dan meneruskan apa yang sudah ada. Lestarikan agar tidak punah.”

Dengan pahat di tangan dan semangat yang tak pernah pudar, Anak Agung Oka Budiasih bukan hanya mengukir kayu, tetapi juga mengukir jejak keberanian dan dedikasi untuk generasi mendatang. [T]

  • Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co

Penulis: Ni Komang Sariasih
Editor: Adnyana Ole

Tags: Desa GuwangSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kembali ke Amerika [2] — Tanah Impian (Berlapis Plastik dan Bertumpuk Kardus)

Next Post

Taman Ayun Barong Festival 2025: Regenerasi dan Superstar Jadi Sorotan

Ni Komang Sariasih

Ni Komang Sariasih

Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali

Related Posts

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails

Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
March 13, 2026
0
Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

DI dalam stan pameran Kasanga Festival 2026 di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, deretan ogoh-ogoh mini berdiri rapi menunggu penilaian. Suasana...

Read moreDetails

Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

RASA senang dan bangga tampak dalam wajahnya. Ketika namanya disebut untuk menerima penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama, kakinya melangkah dengan...

Read moreDetails

Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

by Made Adnyana Ole
February 28, 2026
0
Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

SUDAH sejak lama Wahyu Ardi dikenal sebagai sutradara dan penulis naskah drama modern, baik berbahasa Bali maupun bahasa Indonesia. Lalu,...

Read moreDetails

Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

ANA seorang siswi yang tidak disebutkan secara jelas sekolahanya tidak menyukai bahasa Bali, bahkan tidak pernah memakai Bahasa itu dalam...

Read moreDetails

I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

I Made Sunaryana terpilih sebagai Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII. Itu artinya, karya...

Read moreDetails

Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

Sakewala, ada ané makleteg di tangkahné. “Bagus Sutedja sané nuwé panjak akéh, tur sugih, prasida  kamatiang, apa buin kulawargan tiangé, rumasuk Ngurah, pasti sing...

Read moreDetails
Next Post
Taman Ayun Barong Festival 2025: Regenerasi dan Superstar Jadi Sorotan

Taman Ayun Barong Festival 2025: Regenerasi dan Superstar Jadi Sorotan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co