12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Festival ke Uma V-2025: Ketika Anak-anak Mengenal Tanah dan Lumpur Sawah dengan Riang-Gembira

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
September 27, 2025
in Panggung
Festival ke Uma V-2025: Ketika Anak-anak Mengenal Tanah dan Lumpur Sawah dengan Riang-Gembira

Festival ke Uma 2025

FESTIVAL ke Uma V tahun 2025 dibuka dengan permainan tradisional matimbang, pada Jumat 27 September 2025. Keceriaan anak-anak bermain, mendorong suasana subak menjadi lebih bermakna. Tanpa sadar, luapan kegembiraan itu berubah menjadi kreativitas anak. Timbangan bambu dengan dua terong pengganti bungsil (pucil kelapa), menjadi inti permainan itu. Pagi itu, ceritera, edukasi dan pengalaman berpadu menjadi pengetahuan usang yang berarti.

Festival itu digelar Sanggar Buratwangi dan Wintang Rare Banjar Ole, Desa Marga Dauh Puri, Kecamatan Marga Kabupaten Tabanan. Festival digelar di areal Subak Sidang Rapuh, Desa Marga Dauh Puri.

Ketua Sanggar Buratwangi, I Nyoman Budarsana mengajak anak-anak permainan matimbang itu. Sementara siswa-siswi Sekolah Dasar (SD) No.1 Marga Dauh Puri juga anak-anak desa lain menjadi peserta.

Mereka bergembira, misalnya pada permainan timbangan, mereka menaruh timbangan di atas hidung, lalu adu lari sambil menjaga timbangan agar tetap seimbang.

Satu petak sawah kering disiapkan menjadi landasan utuh. Sementara anak-anak lain berderet di pematang sawah, sambi memberi semangat para jagoannya. Ketika salah satu peserta tidak mampu menjaga keseimbangan timbangan, sorak sorai anak-anak lain membuat mereka menjadi lebih semangat. Anak itu kemudian memperbaiki timbangannya, kemudian menerobos tumpukan jerami di sawah kering itu. 

“Acara bermain dalam festival ini menjadi sebuah pembelajaran luar sekolah yang dapat  menciptakan suasana berbeda dari keseharian mereka dalam belajhar. Medreka tak hanya mengenal sawah dengan segala yang ada, tetapi juga dikenalkan budaya yang ada di Desa Marga Dauah Puri, sepeti matimbang ini,” kata Kepala Sekolah Luh Putu Mutiara Roshita Adi, S.Pd didampingi guru I Made Wetro, S.Pd yang ikut memandu anak-anak dalam bermain.

Dari siswa kelas I hingga kelas VI, hanya anak-anak dari kelas III hingga kelas VI yang melakukan permainan itu. Sementara kelas yang lain, hanya menjadi penonton sambal mempelajari agar bisa melakukan permainan itu pada kesempatan selanjutnya. Dalam permainan itu, tentu ada yang kalah dan menang. Namun, bagi anak-anak yang menang ataupun kalah sama-sama mendapat hadiah, senang.

Permainan kemudian dilanjutkan dengan “paid upih” menarik pelepah pinang di sawah. Anak-anak menyambut permainan yang tergolong langka ini. Permainan ini dilakukan secara berpasangan untuk menguji rasa percaya diri, menciptakan kebersamaan juga keberanian. Satu anak duduk di atas pelapah pinang, satu anak lagi kemudian menarik. Ketika aba-aba dimulai, mereka berlari penuh lumpur, namun menyenangkan.

Permainan ini susah dihentikan, karena setiap anak ingin mencoba. Mereka tampak senang ketika jatuh ke lumpur, kemudian disoraki teman-temannya. Mereka bangkit lagi, walau sudah ditinggal lawan. Semua anak sudah dapat merasakan permainan paid upih, namun anak-anak tetap saja senang di sawah. Budarsana dan Wetro yang memandu acara itu, kemudian menambahkan dengan lomba lari megandong di sawah. Permainan ini juga menarik, karena membuat mereka senang.

“Ini pengalaman yang sulit kalaian dapatkan di jaman ini. Berjalan di pematang sawah, bermaian di lumpur untuk dapat merasakan perbedaan dengan berjalan biasa. Jika memungkin festival digelar tahun depan, kami akan mengenalkan anak-anak budaya matekap, membaja tanah secara tradisional yang dilakukan oleh para leluhur kita jaman dulu,” ujar Wetro.

Sore hari dilanjutkan dengan kegiaran workshop Megandu, permaian tradisional yang telah ditetapkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dan Program “Respon Sosial”, sebuah pemutaran film. Program ini menyuguhkan 7 film pendek yang menampilkan beragam cara anak-anak dan remaja merespons kehidupan. Dari keluarga hingga lingkungan, program ini membuka ruang bersuara bagi anak-anak dan remaja.

Acara ini menghadirkan programmer Kardian Narayana yang menampilkan 7 film, yaitu:

1.⁠ ⁠Made | Agus Primarta | Fiksi | 2022 | 07.52 

2.⁠ ⁠Metuun | Dewadi Wijaya | Fiksi | 2019 |10.27

3.⁠ ⁠The Sacred Landfill | I Kadek Jaya Wiguna | Fiksi | 2021 | 03.00

4.⁠ ⁠Kala Rau | Medy Mahasena | Fiksi | 2022 | 18.49 |

5.⁠ ⁠Anak-anak Melenial | Nirartha Bas Diwangkara | Animasi | 2021 07.01

6.⁠ ⁠A’Ir | Dian Suryantini | Fiksi | 2023 | 03.43

7.⁠ ⁠@ItsDekRaaa | I Made Suarbawa I Fiksi | 2022 | 9.36

Festival yang fokus pada sawah dan permainan tradisional

Festival ke Uma telah berlangsung sejak 2017. Kali ini memasuki pelaksanaan ke-5 bertempat di Subak, Sidangrapuh. Festival ini lahir dari keinginan untuk mengingatkan kembali nilai-nilai kehidupan desa yang bersumber dari budaya pertanian. “Pertanian bukan hanya aktivitas mengolah sawah, tetapi juga melahirkan kearifan lokal, kesenian, dan permainan tradisional yang menjadi daya tarik sekaligus warisan budaya,” ungkap Budarsana yang juga seniman itu.

Festival ini menjadi wadah peringatan, perayaan, serta ungkapan kegembiraan yang dikemas sesuai kehidupan anak-anak masa kini. Festival ini digagas untuk mengajak anak-anak beraktivitas layaknya sedang berwisata di desanya sendiri.

“Melalui kegiatan tersebut, kami ingin mengajak anak-anak untuk mengenal dan memahami peran leluhur dalam menggarap sawah demi mempertahankan hidup. Termasuk pula memperkenalkan seni, tradisi, dan permainan yang lahir dari budaya pertanian sebagai bagian penting dari identitas desa,” ungkapnya.

Di tengah derasnya arus modernisasi, Festival ke Uma menjadi upaya untuk melestarikan kesenian dan permainan tradisional yang kini semakin terpinggirkan. Festival ini dihadirkan di kawasan persawahan Tabanan agar anak-anak kembali dekat dengan alam dan sawah, menumbuhkan kecintaan terhadap leluhur, serta memberi ruang bagi mereka untuk bermain bebas sebagaimana anak-anak desa tempo dulu.

Digelar di beberapa desa di Tabanan

Festival ke Uma dimulai digelar di Subak Uma Ole, Banjar Dinas Ole, Desa Marga Dauh Puri, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan pada 24–25 Juni 2017 diawali dengan lomba dan eksebisi tradisional seperti melayangan, medayung, megandu, mebuitbuitan, megala-gala, nyuun sigih, matulupan, dan paid upih yang terinspirasi dari budaya pertanian masyarakat. Festival juga menghadirkan berbagai pentas seni, mulai dari Dongeng Tantri, Monolog.

“Zetan Teater Selem Putih” oleh Putu Satria Kusuma, teater Komunitas Mahima, drama Kambing Takutin Macan oleh Komunitas Jalan Air, Tari Cupak oleh mahasiswa ISI Denpasar, serta musikalisasi puisi bertema pertanian. Tak hanya hiburan, festival ini juga diisi dengan workshop edukatif seperti membuat layangan dan kolek-kolek dari jerami, mengenal tanaman herbal, yoga, hingga menulis puisi, sekaligus mengajak anak-anak dan masyarakat membiasakan hidup bersih dengan mengurangi penggunaan plastik.

Festival ke Uma II berlangsung di masa pandemi Covid-19, tepatnya pada 3–4 Juli 2021 di Subak Sidangrapuh, Desa Adat Ole, Desa Marga Dauh Puri, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan. Dibuka dengan Tari Gopala Massal yang melibatkan seluruh peserta. Saat itu masih dalam masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), seluruh kegiatan dipantau langsung oleh Satgas Desa dan Kecamatan Marga, sehingga acara berlangsung dari pagi hingga sore dengan penerapan aturan ketat.

Rangkaian program festival tetap berlangsung meriah meskipun tanpa liputan media. Kegiatan meliputi workshop kolase menulis dan bercerita, workshop menulis caption Instagram, pentas musik, serta Magpag Toya atau jalan santai menuju pusat air subak Sidangrapuh.

Selain itu, diadakan pula lomba-lomba tradisional seperti paid upih, timbangan, megala-gala, memula gondo, hingga memacan-macanan, ditambah workshop memasak yang menghadirkan nuansa kebersamaan khas desa.

Festival ke Uma III digelar pada 9–10 Juli 2022 di areal persawahan Subak Kekeran, Banjar Kekeran, Desa Penatahan, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan – Bali. Sanggar Buratwangi dan Wintang Rare bekerja sama dengan Kubu Bali Woman Crisis Center (WCC) serta

melibatkan UMKM desa setempat. Festival dibuka dengan yoga menyongsong matahari pagi bersama I Gusti Ngurah Panji Tisna, dan menghadirkan beragam lomba seru untuk anak-anak, remaja, hingga dewasa.

Rangkaian kegiatan festival diisi dengan dengan berbagai workshop edukatif, mulai dari sosialisasi hukum perlindungan perempuan dan anak, pembuatan eco dupa, hingga pelatihan teater dan Megandu. Panggung seni dimeriahkan oleh Gender Wayang, Drama Men Tiwas Men Sugih oleh Komunitas Mahima, musikalisasi puisi Komunitas Jalan Air, dan pementasan teater Pan Jempiyit oleh Teater Kalangan. Sebagai penutup, digelar jalan santai lintas pedusunan, dongeng bersama Wanda, dan bernyanyi bersama lagu “Kemesraan”.

Festival Ke Uma IV digelar pada 16–17 September 2023 di Subak Pamo, Tempek Nangka, Banjar Cau, Desa Tua, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan – Bali. Rangkaian acara menghadirkan permainan tradisional, pentas seni, workshop kreatif, serta berbagai lomba seru. Semua kegiatan dirancang untuk mendekatkan anak-anak pada alam pedesaan dan persawahan, ditutup dengan jalan pagi “Lintas Pedusunan” hingga Objek Wisata Kayu Putih. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tukad Gredeg, Riwayatmu Dulu

Next Post

Kembali ke Amerika [2] — Tanah Impian (Berlapis Plastik dan Bertumpuk Kardus)

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

by Ingga Adelia
September 11, 2026
0
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

Read moreDetails

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
0
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

Read moreDetails

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
0
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

Read moreDetails

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
0
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

Read moreDetails

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
0
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

Read moreDetails

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
0
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

Read moreDetails

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

Read moreDetails

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

Read moreDetails

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
0
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

Read moreDetails

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

Read moreDetails
Next Post
Kembali ke Amerika [2] — Tanah Impian (Berlapis Plastik dan Bertumpuk Kardus)

Kembali ke Amerika [2] -- Tanah Impian (Berlapis Plastik dan Bertumpuk Kardus)

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co