4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tukad Gredeg, Riwayatmu Dulu

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
September 27, 2025
in Esai
Tukad Gredeg, Riwayatmu Dulu

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dengan Canva

Sekitar tahun 1978, kala saya masih duduk di bangku SMP, ada satu tempat yang begitu lekat dalam ingatan: Tukad Gredeg. Sungai kecil itu membelah kawasan barat Monang Maning, sebelum Perumnas dibangun. Nama “Gredeg” sendiri tidak pernah jelas asal-usulnya, tetapi bagi anak-anak kala itu, Tukad Gredeg adalah ruang bermain, ruang belajar, sekaligus ruang menemukan kebahagiaan sederhana.

Posisinya saat ini mungkin di jembatan yang terletak di ujung barat Jalan Gunung Karang. Ada semacam dinding yang membendung aliran Tukad Gredeg, mirip sebuah bendungan kecil. Kedalaman dulu sekitar dua meter dengan lebar hampir tiga meter adalah dunia yang penuh petualangan. Air yang jatuh ke dasar sungai berbatu membentuk celah di mana kami merangkak mencari kepiting. Itu adalah dunia kanak-kanak yang seolah tidak ada habisnya—air, batu, suara gemericik, dan tawa.

Namun, sekitar tahun 1980, Perumnas mulai dibangun. Setahun kemudian, saya pun meninggalkan Bali, menempuh perjalanan hidup penuh liku: pendidikan militer selama tiga bulan penuh di TNI AD Cimahi, lalu pendidikan Makasar dan Bandung masing-masing setahun, hingga akhirnya penempatan perdana di Manado. Setelah ikatan dinas selesai, saya memilih pulang. Tetapi ketika kembali, saya mendapati sesuatu yang berbeda: Tukad Gredeg yang dulu akrab dan hidup kini seolah raib bagai siluman. Yang tersisa adalah sosoknya yang rapuh, ditelan perubahan dan modernisasi.

Sungai yang Hilang Jejak

Saya mencoba mencari, menelusuri kembali, di mana sesungguhnya aliran Tukad Gredeg sekarang. Namun, yang saya temukan adlah sepadan sungai itu telah berubah total. Bangunan beton, mencaplok pinggir sungai, baik di sisi timur maupun barat. Sungai yang dahulu menjadi ruang bermain anak-anak desa, kini kehilangan bentuknya. Ia tidak lagi hadir sebagai ruang publik, melainkan seolah “ditundukkan” oleh kepentingan lain yang jauh dari manusiawi.

Mungkin inilah wajah perubahan zaman. Tetapi, pertanyaan muncul: perubahan macam apakah yang tega menghapus ruang-ruang hidup, bahkan ingatan kolektif sebuah generasi? Apakah ini harga yang harus dibayar atas nama pembangunan?

Banjir dan Lupa

September lalu, banjir besar melanda sejumlah kawasan di Denpasar. Banyak orang sibuk menyalahkan hujan deras atau cuaca ekstrem. Padahal, bila kita mau jujur, banjir bukan semata-mata “ulah alam.” Alam hanya menunaikan tugasnya. Air mencari jalan, dan ketika jalan itu hilang karena dicaplok beton dan pagar, maka ia meluap tanpa kendali.

Hulu daerah aliran sungai (DAS) juga tidak kalah parah. Bukit-bukit gundul, hutan ditebang, tanah-tanah dicaplok atas nama proyek atau kepentingan pribadi. Eksploitasi dilakukan dengan masif, sementara kesadaran ekologis masih jauh tertinggal. Dalam situasi seperti ini, apakah kita masih pantas menyalahkan air? Atau justru menyalahkan diri kita sendiri sebagai manusia yang terlalu rakus?

Kongkalikong yang Membisu

Perubahan wajah Tukad Gredeg tentu tidak terjadi dalam semalam. Ada proses panjang, ada persetujuan diam-diam, ada kongkalikong antara penguasa dan pengusaha yang membuat sungai perlahan kehilangan wujudnya. Tidak perlu menunjuk hidung siapa yang bersalah, tetapi mari kita akui: di negeri ini, kekuasaan dan kepentingan bisnis sering berjalan beriringan, mengabaikan kelestarian alam. Sungai yang seharusnya menjadi milik bersama bisa tiba-tiba terdesak oleh dinding beton,bahkan mungkin juga lenyap dari peta, karena berganti ruang bisnis atas nama keserakahan.

Prof.Dr.Ir. Putu Rumawan Salain, M.Si. dosen Arsitektur, yang rupanya menjadi penerus jejak almarhum Prof. Nyoman Gelebet, dalam menyuarakan kepedulian terhadap alam dan lingkungan, saat ditemui media Indonesia Expose menegaskan, bahwa banjir besar yang melanda Bali, Rabu  10 September 2025,  tidak bisa hanya menyalahkan tingginya curah hujan ekstrem, alih fungsi lahan dan tata ruang yang buruk merupakan faktor utama yang memperparah bencana ini.

Tukad Gredeg sebagai Simbol

Bagi saya, Tukad Gredeg bukan sekadar nama sungai. Ia adalah simbol tentang bagaimana kita memperlakukan ruang hidup. Ia adalah pengingat bahwa alam pernah begitu dekat dengan kita, memberi tempat bermain, memberi tawa, bahkan memberi makanan sederhana berupa kepiting kecil. Tetapi, seiring waktu, kita kehilangan kedekatan itu. Kita lebih memilih tembok daripada gemericik air, lebih memilih beton daripada ruang hijau.

Kini, ketika Tukad Gredeg nyaris tak bisa ditemukan, bahkan Mbah Google cuma diam membisu tanpa mampu menjawab dimana keberadaannya, saya merasa seakan kehilangan bagian dari diri saya sendiri. Hilangnya sungai ini bukan hanya kehilangan ruang fisik, melainkan juga kehilangan memori kolektif. Generasi baru mungkin tidak pernah tahu bahwa di antara deretan rumah-rumah di Perumnas Monang Maning, pernah ada sungai yang penuh cerita.

Refleksi untuk Kita Semua

Kemana Tukad Gredeg harus mengadu? Pertanyaan itu tentu hanya retoris. Sungai tidak punya suara untuk berteriak. Alam tidak menulis surat protes. Hanya kita, manusialah yang bisa memilih: apakah akan terus menutup mata, atau mulai mengembalikan sedikit ruang bagi kehidupan.

Barangkali sudah saatnya kita berhenti berpikir bahwa pembangunan selalu identik dengan beton dan aspal. Pembangunan sejati adalah ketika manusia bisa hidup selaras dengan alam, ketika sungai tetap mengalir jernih, ketika anak-anak masih bisa bermain tanpa takut tergerus arus sampah dan limbah.

Tukad Gredeg adalah cermin bagi banyak sungai lain di Bali, bahkan di seluruh negeri ini. Jika kita tidak mau belajar dari masa lalu, maka banjir, longsor, dan bencana lain akan terus datang. Alam akan selalu mencari jalannya sendiri, dan manusia akan selalu menjadi pihak yang kalah bila terus menutup telinga.

Kini, mungkin Tukad Gredeg tidak bisa lagi dikembalikan ke wajah lamanya. Tetapi, paling tidak, kita bisa menjadikannya pelajaran. Agar sungai-sungai lain tidak bernasib sama. Agar anak-anak masa depan masih punya ruang untuk bermain, bercanda, dan merayakan hidup di tepi air yang mengalir.

Kemana Tukad Gredeg harus mengadu? Jawabannya ada pada hati nurani kita. Jika kita masih punya rasa malu pada alam, masih punya rasa hormat pada kehidupan, maka suara Tukad Gredeg akan terus bergema, meski dalam diam. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis AGUNG SUDARSA

Tags: banjir balidenpasarlingkungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sastra Komunitas Asyik Sendiri?

Next Post

Festival ke Uma V-2025: Ketika Anak-anak Mengenal Tanah dan Lumpur Sawah dengan Riang-Gembira

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails
Next Post
Festival ke Uma V-2025: Ketika Anak-anak Mengenal Tanah dan Lumpur Sawah dengan Riang-Gembira

Festival ke Uma V-2025: Ketika Anak-anak Mengenal Tanah dan Lumpur Sawah dengan Riang-Gembira

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co