14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tukad Gredeg, Riwayatmu Dulu

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
September 27, 2025
in Esai
Tukad Gredeg, Riwayatmu Dulu

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dengan Canva

Sekitar tahun 1978, kala saya masih duduk di bangku SMP, ada satu tempat yang begitu lekat dalam ingatan: Tukad Gredeg. Sungai kecil itu membelah kawasan barat Monang Maning, sebelum Perumnas dibangun. Nama “Gredeg” sendiri tidak pernah jelas asal-usulnya, tetapi bagi anak-anak kala itu, Tukad Gredeg adalah ruang bermain, ruang belajar, sekaligus ruang menemukan kebahagiaan sederhana.

Posisinya saat ini mungkin di jembatan yang terletak di ujung barat Jalan Gunung Karang. Ada semacam dinding yang membendung aliran Tukad Gredeg, mirip sebuah bendungan kecil. Kedalaman dulu sekitar dua meter dengan lebar hampir tiga meter adalah dunia yang penuh petualangan. Air yang jatuh ke dasar sungai berbatu membentuk celah di mana kami merangkak mencari kepiting. Itu adalah dunia kanak-kanak yang seolah tidak ada habisnya—air, batu, suara gemericik, dan tawa.

Namun, sekitar tahun 1980, Perumnas mulai dibangun. Setahun kemudian, saya pun meninggalkan Bali, menempuh perjalanan hidup penuh liku: pendidikan militer selama tiga bulan penuh di TNI AD Cimahi, lalu pendidikan Makasar dan Bandung masing-masing setahun, hingga akhirnya penempatan perdana di Manado. Setelah ikatan dinas selesai, saya memilih pulang. Tetapi ketika kembali, saya mendapati sesuatu yang berbeda: Tukad Gredeg yang dulu akrab dan hidup kini seolah raib bagai siluman. Yang tersisa adalah sosoknya yang rapuh, ditelan perubahan dan modernisasi.

Sungai yang Hilang Jejak

Saya mencoba mencari, menelusuri kembali, di mana sesungguhnya aliran Tukad Gredeg sekarang. Namun, yang saya temukan adlah sepadan sungai itu telah berubah total. Bangunan beton, mencaplok pinggir sungai, baik di sisi timur maupun barat. Sungai yang dahulu menjadi ruang bermain anak-anak desa, kini kehilangan bentuknya. Ia tidak lagi hadir sebagai ruang publik, melainkan seolah “ditundukkan” oleh kepentingan lain yang jauh dari manusiawi.

Mungkin inilah wajah perubahan zaman. Tetapi, pertanyaan muncul: perubahan macam apakah yang tega menghapus ruang-ruang hidup, bahkan ingatan kolektif sebuah generasi? Apakah ini harga yang harus dibayar atas nama pembangunan?

Banjir dan Lupa

September lalu, banjir besar melanda sejumlah kawasan di Denpasar. Banyak orang sibuk menyalahkan hujan deras atau cuaca ekstrem. Padahal, bila kita mau jujur, banjir bukan semata-mata “ulah alam.” Alam hanya menunaikan tugasnya. Air mencari jalan, dan ketika jalan itu hilang karena dicaplok beton dan pagar, maka ia meluap tanpa kendali.

Hulu daerah aliran sungai (DAS) juga tidak kalah parah. Bukit-bukit gundul, hutan ditebang, tanah-tanah dicaplok atas nama proyek atau kepentingan pribadi. Eksploitasi dilakukan dengan masif, sementara kesadaran ekologis masih jauh tertinggal. Dalam situasi seperti ini, apakah kita masih pantas menyalahkan air? Atau justru menyalahkan diri kita sendiri sebagai manusia yang terlalu rakus?

Kongkalikong yang Membisu

Perubahan wajah Tukad Gredeg tentu tidak terjadi dalam semalam. Ada proses panjang, ada persetujuan diam-diam, ada kongkalikong antara penguasa dan pengusaha yang membuat sungai perlahan kehilangan wujudnya. Tidak perlu menunjuk hidung siapa yang bersalah, tetapi mari kita akui: di negeri ini, kekuasaan dan kepentingan bisnis sering berjalan beriringan, mengabaikan kelestarian alam. Sungai yang seharusnya menjadi milik bersama bisa tiba-tiba terdesak oleh dinding beton,bahkan mungkin juga lenyap dari peta, karena berganti ruang bisnis atas nama keserakahan.

Prof.Dr.Ir. Putu Rumawan Salain, M.Si. dosen Arsitektur, yang rupanya menjadi penerus jejak almarhum Prof. Nyoman Gelebet, dalam menyuarakan kepedulian terhadap alam dan lingkungan, saat ditemui media Indonesia Expose menegaskan, bahwa banjir besar yang melanda Bali, Rabu  10 September 2025,  tidak bisa hanya menyalahkan tingginya curah hujan ekstrem, alih fungsi lahan dan tata ruang yang buruk merupakan faktor utama yang memperparah bencana ini.

Tukad Gredeg sebagai Simbol

Bagi saya, Tukad Gredeg bukan sekadar nama sungai. Ia adalah simbol tentang bagaimana kita memperlakukan ruang hidup. Ia adalah pengingat bahwa alam pernah begitu dekat dengan kita, memberi tempat bermain, memberi tawa, bahkan memberi makanan sederhana berupa kepiting kecil. Tetapi, seiring waktu, kita kehilangan kedekatan itu. Kita lebih memilih tembok daripada gemericik air, lebih memilih beton daripada ruang hijau.

Kini, ketika Tukad Gredeg nyaris tak bisa ditemukan, bahkan Mbah Google cuma diam membisu tanpa mampu menjawab dimana keberadaannya, saya merasa seakan kehilangan bagian dari diri saya sendiri. Hilangnya sungai ini bukan hanya kehilangan ruang fisik, melainkan juga kehilangan memori kolektif. Generasi baru mungkin tidak pernah tahu bahwa di antara deretan rumah-rumah di Perumnas Monang Maning, pernah ada sungai yang penuh cerita.

Refleksi untuk Kita Semua

Kemana Tukad Gredeg harus mengadu? Pertanyaan itu tentu hanya retoris. Sungai tidak punya suara untuk berteriak. Alam tidak menulis surat protes. Hanya kita, manusialah yang bisa memilih: apakah akan terus menutup mata, atau mulai mengembalikan sedikit ruang bagi kehidupan.

Barangkali sudah saatnya kita berhenti berpikir bahwa pembangunan selalu identik dengan beton dan aspal. Pembangunan sejati adalah ketika manusia bisa hidup selaras dengan alam, ketika sungai tetap mengalir jernih, ketika anak-anak masih bisa bermain tanpa takut tergerus arus sampah dan limbah.

Tukad Gredeg adalah cermin bagi banyak sungai lain di Bali, bahkan di seluruh negeri ini. Jika kita tidak mau belajar dari masa lalu, maka banjir, longsor, dan bencana lain akan terus datang. Alam akan selalu mencari jalannya sendiri, dan manusia akan selalu menjadi pihak yang kalah bila terus menutup telinga.

Kini, mungkin Tukad Gredeg tidak bisa lagi dikembalikan ke wajah lamanya. Tetapi, paling tidak, kita bisa menjadikannya pelajaran. Agar sungai-sungai lain tidak bernasib sama. Agar anak-anak masa depan masih punya ruang untuk bermain, bercanda, dan merayakan hidup di tepi air yang mengalir.

Kemana Tukad Gredeg harus mengadu? Jawabannya ada pada hati nurani kita. Jika kita masih punya rasa malu pada alam, masih punya rasa hormat pada kehidupan, maka suara Tukad Gredeg akan terus bergema, meski dalam diam. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis AGUNG SUDARSA

Tags: banjir balidenpasarlingkungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sastra Komunitas Asyik Sendiri?

Next Post

Festival ke Uma V-2025: Ketika Anak-anak Mengenal Tanah dan Lumpur Sawah dengan Riang-Gembira

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Festival ke Uma V-2025: Ketika Anak-anak Mengenal Tanah dan Lumpur Sawah dengan Riang-Gembira

Festival ke Uma V-2025: Ketika Anak-anak Mengenal Tanah dan Lumpur Sawah dengan Riang-Gembira

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co