24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tukad Gredeg, Riwayatmu Dulu

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
September 27, 2025
in Esai
Tukad Gredeg, Riwayatmu Dulu

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dengan Canva

Sekitar tahun 1978, kala saya masih duduk di bangku SMP, ada satu tempat yang begitu lekat dalam ingatan: Tukad Gredeg. Sungai kecil itu membelah kawasan barat Monang Maning, sebelum Perumnas dibangun. Nama “Gredeg” sendiri tidak pernah jelas asal-usulnya, tetapi bagi anak-anak kala itu, Tukad Gredeg adalah ruang bermain, ruang belajar, sekaligus ruang menemukan kebahagiaan sederhana.

Posisinya saat ini mungkin di jembatan yang terletak di ujung barat Jalan Gunung Karang. Ada semacam dinding yang membendung aliran Tukad Gredeg, mirip sebuah bendungan kecil. Kedalaman dulu sekitar dua meter dengan lebar hampir tiga meter adalah dunia yang penuh petualangan. Air yang jatuh ke dasar sungai berbatu membentuk celah di mana kami merangkak mencari kepiting. Itu adalah dunia kanak-kanak yang seolah tidak ada habisnya—air, batu, suara gemericik, dan tawa.

Namun, sekitar tahun 1980, Perumnas mulai dibangun. Setahun kemudian, saya pun meninggalkan Bali, menempuh perjalanan hidup penuh liku: pendidikan militer selama tiga bulan penuh di TNI AD Cimahi, lalu pendidikan Makasar dan Bandung masing-masing setahun, hingga akhirnya penempatan perdana di Manado. Setelah ikatan dinas selesai, saya memilih pulang. Tetapi ketika kembali, saya mendapati sesuatu yang berbeda: Tukad Gredeg yang dulu akrab dan hidup kini seolah raib bagai siluman. Yang tersisa adalah sosoknya yang rapuh, ditelan perubahan dan modernisasi.

Sungai yang Hilang Jejak

Saya mencoba mencari, menelusuri kembali, di mana sesungguhnya aliran Tukad Gredeg sekarang. Namun, yang saya temukan adlah sepadan sungai itu telah berubah total. Bangunan beton, mencaplok pinggir sungai, baik di sisi timur maupun barat. Sungai yang dahulu menjadi ruang bermain anak-anak desa, kini kehilangan bentuknya. Ia tidak lagi hadir sebagai ruang publik, melainkan seolah “ditundukkan” oleh kepentingan lain yang jauh dari manusiawi.

Mungkin inilah wajah perubahan zaman. Tetapi, pertanyaan muncul: perubahan macam apakah yang tega menghapus ruang-ruang hidup, bahkan ingatan kolektif sebuah generasi? Apakah ini harga yang harus dibayar atas nama pembangunan?

Banjir dan Lupa

September lalu, banjir besar melanda sejumlah kawasan di Denpasar. Banyak orang sibuk menyalahkan hujan deras atau cuaca ekstrem. Padahal, bila kita mau jujur, banjir bukan semata-mata “ulah alam.” Alam hanya menunaikan tugasnya. Air mencari jalan, dan ketika jalan itu hilang karena dicaplok beton dan pagar, maka ia meluap tanpa kendali.

Hulu daerah aliran sungai (DAS) juga tidak kalah parah. Bukit-bukit gundul, hutan ditebang, tanah-tanah dicaplok atas nama proyek atau kepentingan pribadi. Eksploitasi dilakukan dengan masif, sementara kesadaran ekologis masih jauh tertinggal. Dalam situasi seperti ini, apakah kita masih pantas menyalahkan air? Atau justru menyalahkan diri kita sendiri sebagai manusia yang terlalu rakus?

Kongkalikong yang Membisu

Perubahan wajah Tukad Gredeg tentu tidak terjadi dalam semalam. Ada proses panjang, ada persetujuan diam-diam, ada kongkalikong antara penguasa dan pengusaha yang membuat sungai perlahan kehilangan wujudnya. Tidak perlu menunjuk hidung siapa yang bersalah, tetapi mari kita akui: di negeri ini, kekuasaan dan kepentingan bisnis sering berjalan beriringan, mengabaikan kelestarian alam. Sungai yang seharusnya menjadi milik bersama bisa tiba-tiba terdesak oleh dinding beton,bahkan mungkin juga lenyap dari peta, karena berganti ruang bisnis atas nama keserakahan.

Prof.Dr.Ir. Putu Rumawan Salain, M.Si. dosen Arsitektur, yang rupanya menjadi penerus jejak almarhum Prof. Nyoman Gelebet, dalam menyuarakan kepedulian terhadap alam dan lingkungan, saat ditemui media Indonesia Expose menegaskan, bahwa banjir besar yang melanda Bali, Rabu  10 September 2025,  tidak bisa hanya menyalahkan tingginya curah hujan ekstrem, alih fungsi lahan dan tata ruang yang buruk merupakan faktor utama yang memperparah bencana ini.

Tukad Gredeg sebagai Simbol

Bagi saya, Tukad Gredeg bukan sekadar nama sungai. Ia adalah simbol tentang bagaimana kita memperlakukan ruang hidup. Ia adalah pengingat bahwa alam pernah begitu dekat dengan kita, memberi tempat bermain, memberi tawa, bahkan memberi makanan sederhana berupa kepiting kecil. Tetapi, seiring waktu, kita kehilangan kedekatan itu. Kita lebih memilih tembok daripada gemericik air, lebih memilih beton daripada ruang hijau.

Kini, ketika Tukad Gredeg nyaris tak bisa ditemukan, bahkan Mbah Google cuma diam membisu tanpa mampu menjawab dimana keberadaannya, saya merasa seakan kehilangan bagian dari diri saya sendiri. Hilangnya sungai ini bukan hanya kehilangan ruang fisik, melainkan juga kehilangan memori kolektif. Generasi baru mungkin tidak pernah tahu bahwa di antara deretan rumah-rumah di Perumnas Monang Maning, pernah ada sungai yang penuh cerita.

Refleksi untuk Kita Semua

Kemana Tukad Gredeg harus mengadu? Pertanyaan itu tentu hanya retoris. Sungai tidak punya suara untuk berteriak. Alam tidak menulis surat protes. Hanya kita, manusialah yang bisa memilih: apakah akan terus menutup mata, atau mulai mengembalikan sedikit ruang bagi kehidupan.

Barangkali sudah saatnya kita berhenti berpikir bahwa pembangunan selalu identik dengan beton dan aspal. Pembangunan sejati adalah ketika manusia bisa hidup selaras dengan alam, ketika sungai tetap mengalir jernih, ketika anak-anak masih bisa bermain tanpa takut tergerus arus sampah dan limbah.

Tukad Gredeg adalah cermin bagi banyak sungai lain di Bali, bahkan di seluruh negeri ini. Jika kita tidak mau belajar dari masa lalu, maka banjir, longsor, dan bencana lain akan terus datang. Alam akan selalu mencari jalannya sendiri, dan manusia akan selalu menjadi pihak yang kalah bila terus menutup telinga.

Kini, mungkin Tukad Gredeg tidak bisa lagi dikembalikan ke wajah lamanya. Tetapi, paling tidak, kita bisa menjadikannya pelajaran. Agar sungai-sungai lain tidak bernasib sama. Agar anak-anak masa depan masih punya ruang untuk bermain, bercanda, dan merayakan hidup di tepi air yang mengalir.

Kemana Tukad Gredeg harus mengadu? Jawabannya ada pada hati nurani kita. Jika kita masih punya rasa malu pada alam, masih punya rasa hormat pada kehidupan, maka suara Tukad Gredeg akan terus bergema, meski dalam diam. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis AGUNG SUDARSA

Tags: banjir balidenpasarlingkungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sastra Komunitas Asyik Sendiri?

Next Post

Festival ke Uma V-2025: Ketika Anak-anak Mengenal Tanah dan Lumpur Sawah dengan Riang-Gembira

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Festival ke Uma V-2025: Ketika Anak-anak Mengenal Tanah dan Lumpur Sawah dengan Riang-Gembira

Festival ke Uma V-2025: Ketika Anak-anak Mengenal Tanah dan Lumpur Sawah dengan Riang-Gembira

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co