12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sastra Komunitas Asyik Sendiri?

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 27, 2025
in Esai
Memoar “Hantu Padang” Esha Tegar Putra di Kafe Halaman  Belakang, Singaraja — Rabu Puisi #12 Komunitas Mahima

Komunitas Mahima dalam sebuah acara sastra di Singaraja

Komunitas-komunitas sastra yang tumbuh di Indonesia, termasuk di Bali, patut diakui telah ikut mewarnai kehidupan sastra. Fenomena ini pernah ditulis sastrawan Sutardji Calzoum Bachri (SCB) dalam esainya berjudul “Sastra Komunitas” di harian Kompas. Ia menyoroti gejala yang pada mulanya tampak positif, banyaknya komunitas sastra yang muncul di berbagai daerah, menjadi wadah berkumpul para pengarang, seniman, dan pecinta sastra.

SCB menggambarkan betapa komunitas-komunitas ini menjalankan beragam aktivitas, mulai dari diskusi, pembacaan puisi, pementasan teater, penerbitan buku, hingga obrolan di warung kopi. Ia melihat bahwa komunitas dapat memperkaya karya seorang pengarang, dan sebaliknya, karya pengarang bisa memberi arah bagi komunitas. Dengan kata lain, komunitas menjadi simpul penting dalam peta sastra Indonesia kontemporer.

Tetapi, seperti biasa, SCB tidak berhenti pada pujian. Ia juga melontarkan kritik tajam. Menurutnya, banyak komunitas sastra di Indonesia cenderung “asyik sendiri.” Komunitas-komunitas itu sibuk dengan selera internalnya, lebih senang merayakan dirinya sendiri, dan kurang membuka diri pada masyarakat luas.

Kritik sastra yang muncul pun sering kali tidak objektif. Kritikus baru tampil jika diundang komunitas, atau menulis di media massa yang berafiliasi dengan komunitas tertentu. Akibatnya, kritik berubah menjadi basa-basi, sekadar hiburan untuk tuan rumah, bukan pisau tajam yang menyingkap lapisan terdalam karya sastra.

Bagi SCB, keadaan ini berbahaya. Ia menyebut bahwa kesusastraan Indonesia kini cenderung menjadi “kesusastraan komunitas” kumpulan produk yang lahir dari komunitas-komunitas, dengan bias dan selera yang berbeda-beda. Karena itu ia mengusulkan perlunya studi mendalam dan obyektif tentang komunitas sastra, lebih konkret ketimbang cultural studies yang baginya sering kali kurang relevan.

Pertanyaannya, apakah benar komunitas sastra hanya “asyik sendiri”? Ataukah ada wajah lain yang lebih kompleks?

Sebelum menjawab, kita perlu menempatkan komunitas sastra sebagai gejala sosial. Sejarah sastra Indonesia menunjukkan bahwa komunitas selalu hadir dalam berbagai bentuk. Pada masa 1960-an, ada Lekra dan Manikebu yang membawa visi politik dan ideologi besar. Pada dekade 1980-an, muncul komunitas-komunitas kampus, sanggar, atau kelompok diskusi yang memunculkan nama-nama baru. Di era 2000-an, komunitas sastra menyebar luas, bahkan sampai ke kota kecil, berkat dorongan media sosial, festival, dan tradisi literasi yang semakin cair.

Komunitas tidak pernah netral. Ia selalu punya warna, dipengaruhi tokoh sentral, visi estetik, bahkan ideologi tertentu. SCB benar ketika menyebut ada komunitas yang religius, sekuler, elitis, santai, atau bahkan anti-intelektual. Komunitas adalah cermin kecil dari kehidupan sosial kita yang plural.

Namun, di sinilah letak dilema. Di satu sisi, komunitas adalah rumah yang menghangatkan, tempat sastrawan muda menemukan sahabat sepenanggungan. Di sisi lain, komunitas bisa berubah menjadi tembok, membatasi pandangan anggotanya pada lingkaran yang sempit. Dari sinilah muncul kesan “asyik sendiri” yang dikritik SCB.

Wajah Komunitas Sastra di Bali

Untuk menilai lebih jauh, mari kita tengok Bali. Penelitian yang dilakukan oleh akademisi Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, pada 2019—oleh I Gusti Ayu Agung Mas Triadnyani, Maria Matildis Banda, dan I Ketut Nama—memberikan potret konkret tentang komunitas sastra di Pulau Dewata. Sejak awal 2000-an, komunitas sastra di Bali tumbuh dengan pesat. Tak lagi terbatas di Denpasar, melainkan merambah kabupaten-kabupaten.

Di Buleleng ada Komunitas Mahima, yang dikenal aktif menggelar diskusi buku, pemutaran film, musikalisasi puisi, dan pementasan drama. Di Jembrana ada Komunitas Kertas Budaya yang diprakarsai sastrawan Wayan Udiana (Nanoq da Kansas). Di Denpasar, Jatijagat Kehidupan Puisi (JKP) kerap menjadi pusat kegiatan, merangkul berbagai kelompok teater dan sastra dari sekolah-sekolah.

Selain itu, banyak komunitas berbasis sekolah, Teater Solagracia di SMA 1 Negara, Teater Tanpa Nama di SMA 2 Negara, Teater Galang Kangin di SMAN 2 Amlapura, Teater Jineng di Tabanan, hingga Komunitas Lentera di Klungkung. Sebagian besar anggota komunitas ini adalah remaja SMA/SMK berusia 14–17 tahun. Menariknya, mayoritas anggota adalah perempuan (57,4 persen). Mereka tidak hanya menjadi objek karya, tetapi juga subjek, penulis, pemain teater, pembaca puisi, sekaligus penonton.

Kegiatan mereka rutin, 63 persen komunitas mengadakan aktivitas seminggu sekali. Bentuk kegiatannya beragam—diskusi, baca puisi, musikalisasi, hingga pementasan drama. Teater menjadi kegiatan paling diminati (48,1 persen). Banyak anggota bergabung karena ingin mencari inspirasi (48,1 persen), pengalaman baru, atau sekadar memperluas pergaulan.

Data penelitian ini menantang asumsi SCB. Benar bahwa ada komunitas yang tampak eksklusif, sibuk dengan lingkarannya sendiri. Tetapi di Bali, komunitas justru berfungsi sebagai ruang pembelajaran kreatif yang terbuka. Mereka melibatkan siswa, guru, mahasiswa, bahkan masyarakat umum. Kekhasan komunitas terletak pada karya cipta, bukan sekadar gaya hidup intelektual.

Komunitas Mahima, misalnya, telah melahirkan sejumlah penulis muda seperti Wayan Sumahardika, Wulan Dewi Saraswati, Juli Sastrawan, Putu Agus Phebi Rosadi, hingga Desi Nurani. Komunitas Kertas Budaya menumbuhkan nama-nama baru, termasuk Angga Wijaya, dan Ibed Surgana Yuga. Mereka bukan sekadar menulis untuk dinikmati internal, tetapi juga menembus media nasional dan forum lebih luas.

Fakta ini menunjukkan bahwa komunitas tidak selalu “asyik sendiri”. Justru sebaliknya, mereka menjadi pintu masuk bagi generasi baru untuk mengenal sastra dan menghidupi kreativitas.

Meski demikian, kritik SCB soal kritik sastra tetap relevan. Penelitian Udayana juga menyebut bahwa banyak penulis berbakat di Bali tenggelam karena tidak ada diskusi khusus atau dukungan lingkungan. Di sini letak persoalan, komunitas bisa sangat aktif, tetapi jika kritik obyektif kurang, karya-karya bisa terjebak pada euforia internal. Kritik akademik, jurnal, atau media independen masih dibutuhkan untuk menjaga kualitas dan membuka perspektif baru. Dengan kata lain, komunitas memerlukan cermin dari luar agar tidak jatuh pada narsisme kolektif.

Antara Rumah dan Jerat

Komunitas selalu ambivalen, ia bisa menjadi rumah yang hangat, tetapi juga jerat yang membatasi. Ia bisa memunculkan solidaritas, tetapi juga homogenisasi selera. Ia bisa memperkaya karya, tetapi juga menekan kreativitas yang berbeda.

SCB mengingatkan kita agar tidak terlena pada romantika komunitas. Esainya “Sastra Komunitas” adalah seruan agar kita tetap kritis, jangan sampai sastra hanya menjadi pesta kecil di ruang sempit. Tetapi, temuan penelitian di Bali menunjukkan ada jalan lain. Komunitas bisa berkembang menjadi ruang belajar yang dinamis, ruang pertemuan lintas usia, dan ruang inspirasi yang melampaui batas internal.

Apakah benar komunitas sastra “asyik sendiri”? Jawabannya tidak bisa hitam putih. Ada komunitas yang memang terjebak dalam lingkaran eksklusif, hanya memuji dirinya sendiri. Tetapi ada pula yang berhasil membuka diri, melahirkan sastrawan baru, dan menyapa publik lebih luas.

Pengalaman Bali memperlihatkan bahwa komunitas bisa menjadi motor penting bagi pertumbuhan sastra. Mereka menghidupi kegiatan kreatif di tingkat lokal, memberi ruang bagi anak muda, dan menjaga agar sastra tetap hidup meski perhatian pemerintah minim. Festival Bali Jani yang digagas pemerintah provinsi sejak 2019, misalnya, juga berupaya merangkul komunitas sebagai bagian dari ekosistem kebudayaan.

Pandangan SCB tetap relevan sebagai kritik, tetapi penelitian Udayana membuktikan bahwa komunitas tidak selalu asyik sendiri. Mereka juga bisa menjadi jembatan antara karya sastra dan masyarakat, antara ruang kecil dan ruang publik.

Mungkin, pada akhirnya, yang penting bukan sekadar apakah komunitas “asyik sendiri” atau tidak, melainkan bagaimana komunitas mampu menjaga keseimbangan merawat internalnya sekaligus menyapa dunia luar. Jika keseimbangan ini terjaga, maka komunitas sastra tidak hanya menjadi lingkaran kecil yang menutup diri, tetapi taman luas tempat sastra tumbuh, berbunga, dan dinikmati siapa saja. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: komunitas sastraPuisisastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wisata Kesehatan Jamu Kalibakung: Inovasi Edukatif dalam Berwisata

Next Post

Tukad Gredeg, Riwayatmu Dulu

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Tukad Gredeg, Riwayatmu Dulu

Tukad Gredeg, Riwayatmu Dulu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co