KABUPATEN Cilacap, Jawa Tengah dikenal masyarakat karena keberadaan Pulau Nusakambangan. Di pulau ini terdapat penjara dengan kategori pengamanan super maksimal. Beberapa nama penting pernah menghuni penjara di Nusakambangan, baik yang tersangkut kasus pembunuhan, korupsi, terorisme, maupun narkotika. Sebut saja nama Tommy Soeharto, Johny Indo, Bob Hasan, Trio Bom Bali Amrozi, Imam Samudera, dan Mukhlas, hingga bandar narkoba Freddy Budiman.
Namun Cilacap bukan hanya dikenal karena Nusakambangan. Kabupaten yang berada di pesisir selatan Jawa Tengah ini memiliki banyak objek dan daya tarik wisata. Di kota Cilacap sendiri ada objek wisata sejarah Benteng Pendem dan Pantai Teluk Penyu. Kedua objek wisata ini ramai dikunjungi wisatawan, terutama pada hari Sabtu dan Minggu.
Bergeser ke arah timur dari kota Cilacap, terdapat potensi objek wisata Pantai Sodong dan wisata budaya dan spiritual Gunung Srandil yang terletak di Kecamatan Adipala. Pantai Sodong berada di Desa Karangbenda. Sedangkan Gunung Srandil terletak di Desa Glempangpasir. Pada hari-hari tertentu kedua objek wisata itu banyak dikunjungi wisatawan.

Melihat potensi wisata di Pantai Sodong dan Srandil, tim peneliti dari Fisip Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto melakukan kajian dan riset tentang “Strategi Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengembangan Potensi Ekowisata Pantai dengan Community Based Tourism (CBT) dan Kearifan Lokal di Cilacap Jawa Tengah”.
Riset yang diketuai oleh Tri Nugroho Adi dengan anggota Agus Ganjar Runtiko dan Petrus Imam Prawoto Jati, ingin melihat sejauh mana objek wisata tersebut dapat dikembangkan dengan konsep ekowisata dan CBT dengan memperhatikan kearifan lokal. Riset ini menjadi urgen untuk dilakukan, karena banyak pengelolaan objek wisata yang mengabaikan faktor lingkungan dan peran serta masyarakat.
Diterjang Ombak Besar
Pantai Sodong memiliki pesona yang indah. Pantai yang berpasir hitam ini memiliki keunikan, karena adanya pohon cemara yang tumbuh di sepanjang pesisir pantai. Sejauh mata memandang, wisatawan akan disuguhi deburan ombak Pantai Sodong serta Samudera Hindia yang luas.
Tiket masuk pun relatif murah, hanya 6.500 rupiah per orang. Selain menikmati debur ombak, wisatawan juga dapat mencicipi kuliner khas Pantai Sodong dengan harga yang terjangkau. Banyak warung makan yang menyajikan menu kelapa muda hijau dan tempe mendoan, yaitu tempe yang digoreng setengah matang dengan dibalut tepung.

Sarana dan prasarana wisata cukup memadai. Terdapat lahan parkir yang luas dan aneka spot foto yang menarik. Sayangnya, ketika tim peneliti mengunjungi Pantai Sodong, kondisi sarana dan prasarana banyak yang rusak karena diterjang ombak besar di pertengahan bulan Agustus. Sebagian besar warung rusak. Sampah di pantai pun tampak menumpuk.
Dampak terjangan ombak cukup serius. Warung-warung tepi pantai dan fasilitas umum seperti kamar mandi rusak berat akibat hantaman ombak dan rob. Akses jalan menuju pantai juga terendam dan mengalami kerusakan signifikan. Air laut pasang maksimum masuk hingga ke area wisata dan permukiman dengan ketinggian banjir mencapai 5 meter di titik tertentu, mengganggu aktivitas warga dan wisatawan.
Gelombang tinggi menggerus bibir pantai, melemahkan garis pantai yang sebelumnya stabil. Tanggul yang ada terbukti kurang efektif menahan gelombang laut. Usaha kecil seperti warung pedagang mengalami kerugian finansial akibat kerusakan barang. Hal itu dirasakan oleh Sumarsih, salah satu pemilik warung di Pantai Sodong.
“ Aktivitas wisata menurun dan beberapa area ditutup sementara demi keselamatan,” ujar Sumarsih.
Oleh karena itulah diperlukan strategi pemulihan dan mitigasi risiko rob Pantai Sodong. Pendekatan holistik diperlukan untuk mitigasi risiko rob dan pemulihan berkelanjutan Pantai Sodong. Pembangunan dan perawatan pemecah gelombang belum optimal, perencanaan tidak komprehensif.
“Pemetaan risiko dan pemulihan ekonomi harus segera dilakukan,” kata Tri Nugroho Adi selaku Ketua Tim Penelitian Fisip Unsoed.


Namun, di balik Pantai Sodong yang berombak besar, tersimpan mitos yang menarik. Banyak pengunjung pada malam Jumat Kliwon melakukan tirakat di bibir pantai. Mereka biasanya membawa sesaji dan melakukan semedi hingga larut malam. Tujuan para pengunjung selain tirakat juga mencari berkah atau dalam bahasa Jawanya ngalap berkah, memohon kepada Sang Pencipta untuk mendapatkan berkah.
Pantai Sodong memang menyimpan misteri dan mitos sebagaimana pantai di Laut Selatan. Sosok Nyi Roro Kidul kerap dipersonifikasikan sebagai penguasa Pantai Selatan. Menurut Sumarsih yang sudah bertahun-tahun berjualan di Pantai Sodong, pengunjung di malam Jumat Kliwon bisa mencapai puluhan orang.
“Saya sendiri belum pernah melihat makhluk halus di Pantai Sodong,” kata Sumarsih menutup cerita.
Srandil, Syaratnya Adil
Sekitar dua kilometer ke arah timur dari Pantai Sodong terdapat objek wisata budaya dan spiritual Gunung Srandil. Tidak seperti lazimnya sebuah gunung, Srandil merupakan bukit karang yang menjulang tinggi di tepian pantai. Srandil menyimpan banyak misteri yang berbalut mitos.

Menurut juru kunci Gunung Srandil Suwarto, bebukitan karang itu oleh masyarakat setempat disebut gunung yang disakralkan dari dulu hingga sekarang. Terdapat pula paguyuban masyarakat penghayat kepercayaan di sekitar Srandil. Nama Srandil menurut Suwarto berasal dari singkatan bahasa Jawa, yaitu sarananing adil atau syaratnya adil. Srandil dianggap sebagai tempat meditasi dan berdoa bagi mereka yang ingin mendapatkan keadilan.
Pengunjung Srandil tidak pernah sepi setiap harinya. Mereka datang dari berbagai daerah, bahkan dari luar Jawa banyak yang datang. Pada malam Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon di bulan Suro pengunjung bisa mencapai ratusan orang. Motivasi pengunjung bermacam-macam, seperti tirakat dan meditasi untuk mendapatkan berkah jabatan yang lebih baik, mendapat jodoh, maupun rizki.
Mitos tentang Srandil dapat dilihat dari beberapa petilasan atau persinggahan yang berada di dalam lokasi. Memasuki Srandil akan ditemui petilasan Eyang Gusti Agung Sultan Murahidi. Menurut juru kunci Srandil, petilasan ini dipercaya sebagai pengejawantahan Prabu Brawijaya V.
Tiga puluh meter di sebelahnya ada petilasan Eyang Tunggul Sabdo Jati Doyo Amung Rogo atau yang biasa disebut Eyang Semar. Terdapat berbagai ornamen dan patung Semar di petilasan ini. Semar merupakan tokoh punakawan dalam pewayangan Jawa yang sangat dihormati. Di sebelahnya ada petilasan Nini Dewi Tunjung Sekar Sari, yang dianggap sebagai istri Eyang Semar.

Pernah terjadi peristiwa unik di petilasan Eyang Semar. Diceritakan oleh Suwarto, ada beberapa pengunjung dari luar negeri yang melakukan semedi. Tiba-tiba ada seorang di antara mereka yang kesurupan dan berbicara dengan bahasa Jawa dengan fasih. Ketika sadar kembali, ia berbahasa Inggris lagi dan tak mengerti bahasa Jawa.
Di puncak Gunung Srandil terdapat petilasan Eyang Langlang Buana. Petilasan ini dianggap sakral dan memiliki mitos terkait kewibawaan dan kekuasaan. Menurut juru kunci, petilasan Eyang Langlang Buana sering dikunjungi para politisi dan pejabat untuk mendapat berkah.
“Mantan Presiden Soeharto dulu mendapat wangsit di sini,” tutur juru kunci Srandil.

Di bagian luar Srandil, di bibir pantai terdapat petilasan Eyang Sukmo Sejati. Petilasan ini oleh masyarakat setempat dipercaya sebagai persinggahan Patih Gajah Mada dan Prabu Hayam Wuruk. Pengunjungnya pun banyak, dengan motivasi mendapatkan kanuragan atau kewibawaan.
Manusia acapkali memang berikhtiar dengan banyak jalan. Namun hasilnya tetap saja Tuhan yang menentukan. Pantai Sodong dan Gunung Srandil adalah sebentuk kearifan lokal tentang objek wisata alam, budaya, dan spiritual yang perlu dijaga dan dilestarikan. [T]
Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole
BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU



























