MINGGU, 20 November, hari kesebelas. Setelah istirahat dua hari di Tarano, Sumbawa, nyeri pada mata kaki kiri dan paha kanan sudah tidak terasa lagi.
Saya berangkat dari penginapan di Tarano pukul 04.35 WITA. Jalanan masih gelap, tidak ada satu pun kendaraan melintas.
Malam sebelum berangkat saya memastikan lagi rute menuju ke Dompu melalui Nanga Tumpu. Saya lihat di Google Map, setelah penginapan tertulis ada Puskesmas, SPBU dan masjid.
Saat itu saya berpikir, dengan berangkat selepas subuh, di jalanan kemungkinan masih ada aktivitas. Minimal ada warga yang baru pulang dari masjid, atau aktivitas di SPBU, sehingga suasana tidak sunyi.
Tapi ketika lewat, saya hanya menemukan Puskesmas dengan lampu penerangan yang mati, kios bensin, dan surau. Memang ada beberapa orang yang terlihat pulang dari surau, tapi hanya beberapa orang.
Setelah saya melewati perkampungan, yang ada hanya jalanan gelap dan mulai menanjak. Nyali saya agak ciut. Kepalang basah, tidak mungkin saya kembali untuk menunggu suasana terang. Saya terus mengayuh pedal untuk melawan udara pagi yang dingin dan rasa takut yang mulai datang.
Saya hanya bisa melihat suasana di depan, karena lampu yang saya gunakan cukup terang. Dalam keremangan, saya melihat di sisi kanan seperti tebing yang ditumbuhi semak. Di sisi kiri saya melihat dengan samar, buih ombak menjilat pantai.
Menjelang puncak tanjakan saya melihat satu-dua rumah dengan penerangan sekadarnya. Seratus meter kemudian, saya sampai pada puncak tanjakan. Untuk menghemat tenaga, laju sepeda saya serahkan pada gravitasi.
Setelah melewati perkampungan, jalan menjadi gulita kembali. Pada jarak sekitar 300 meter, saya melihat sepeda motor datang dari arah berlawanan. Saya gembira karena merasa tidak sendiri di jalan sepi itu.
Tapi kegembiraan hanya mampir sekejap. Saya melihat sepeda motor di depan berhenti dalam jarak sekitar 200 meter dari posisi saya. Saya mulai dihantui pikiran buruk.
Kenapa sepeda motor itu berhenti dengan mesin tetap dinyalakan? Akankah pengendaranya akan membegal saya?
Bagaimana jika saya dibegal? Apakah saya mampu melawan? Saya tidak memiliki bekal ilmu beladiri, alih-alih tenaga dalam sakti seperti dalam film kungfu.
Saya pernah membaca kisah petualangan pesepeda dari Perancis yang melewati wilayah hutan di Colombia. Dia sempat dicegat oleh kelompok bersenjata.
Petualang itu pasrah dan berbicara apa adanya tentang perjalanannya. Kelompok bersenjata itu kemudian menyilakan si petualang meneruskan perjalanan dengan tanpa diganggu. Bahkan sempat dikawal hingga keluar hutan.
Baik lah, saya akan bicara apa adanya dengan pengendara motor itu jika memang hendak dibegal. Saya akan sampaikan padanya, jika ingin mengambil silakan, asal jangan kartu identitas, ponsel dan, jika bisa, sepeda saya. Silakan ambil uang cash di dompet saku celana dan di pannier. Saat itu saya membawa uang tunai Rp3,5 juta.
Pada jarak 50 meter saya melihat dengan cukup jelas, pengendara sepeda motor sedang melihat layar ponsel. Dari cahaya layar ponsel yang memantul di wajah, saya bisa memastikan dia anak muda. Sosoknya tinggi besar.
Tubuh saya menggigil karena rasa takut yang memuncak. Dalam beberapa meter lagi kami akan berpapasan. Apa yang harus saya lakukan?
Pada jarak kurang dari satu meter, saya mendengar dia berdehem. Jantung saya berdetak semakin kencang.
Saat tepat bersebelahan, saya palingkan wajah ke arahnya. Anak muda itu memandang saya. Mata kami bersitatap dalam keremangan. Tidak terjadi apa pun. Saya membisu dan tetap mengayuh.

Pagi buta dari Tarano agar bisa sampai di Nanga Tumpu sebelum tengah hari | Foto: Dok. Wirya
Setelah berjalan sekitar empat meter, saya mendengar dia menarik gas, menjalankan sepeda motornya. Saya lega seiring dengan menjauhnya sepeda motor itu. Ternyata apa yang saya hawatirkan tidak terjadi.
Tapi kelegaan itu berubah lagi menjadi ketakutan. Saya mendengar sepeda motor itu kembali. Suara mesinnya semakin mendekati posisi saya. Jantung saya kembali berdegup dengan kencang.
Apakah kepala saya akan dipukul dari belakang? Ini kah waktu kematian saya? Saya memang tidak takut mati, selama tidak dengan proses yang menyakitkan. Tapi bagaimana dengan kali ini.
Raungan mesin sepeda motor itu semakin mendekat. Tubuh saya kembali menggigil ketakutan. Mampus lah saya kali ini. Volume suara mesin sepeda motor itu menurun begitu tepat di belakang saya.
Dengan segenap keberanian, saya menoleh ke belakang. Saya tidak ingin mati dengan cara mengenaskan. Saya harus melawan dengan cara apa pun.
Ternyata anak muda itu tidak membawa pentungan atau alat yang bisa digunakan untuk memukul kepala saya. Dia malah tersenyum saat tepat berada di samping saya.
“Sendiri, Pak?” sapanya.
“Iya.”
“Hati-hati.”
“Terima kasih.”
Anak muda itu kemudian melanjutkan perjalanan. Sepuluh meter di depan, dia membelokkan sepeda motornya ke kiri. Pada arah yang ditujunya, saya tidak melihat apapun, selain semak-semak dan rumah, atau mungkin gudang. Selebihnya hanya pagi yang temaram. [T]
Penulis: Made Wirya
Editor: Jaswanto
![Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [12]—Menggigil Ketakutan pada Pagi Buta Saat Keluar dari Tarano](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2025/08/wirya.-sepeda121-750x375.jpeg)


























