2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Karangasem Akhir Pekan: Sabtu Berseri, Minggu Penuh Energi

Gede Aries Pidrawan by Gede Aries Pidrawan
August 24, 2025
in Panggung
Karangasem Akhir Pekan: Sabtu Berseri, Minggu Penuh Energi

Panggung anak-anak di Karangasem Akhir Pekan

PERNAHKAH Anda membayangkan Amlapura, yang selama ini dianggap daerah sepi, tiba-tiba hidup seperti kota festival? Dibandingkan dengan Badung atau Denpasar tempat saya 4 tahun merantau, saya pun dulu ragu. Amlapura yang saya kenal adalah kota dengan ritme lambat, malam sepi dan terasa terlalu panjang. Namun, sejak ada Karangasem Akhir Pekan, suasana itu berubah total. Kota ini seperti menemukan nadinya kembali.

Setiap Sabtu sore, menjelang matahari turun di ufuk barat, saya melangkah ke Jalan Veteran—yang oleh banyak orang disebut Jalur Sebelas. Begitu sampai, saya seakan memasuki dunia lain. Jalanan sepanjang satu kilometer itu ditutup untuk kendaraan, digantikan derap langkah manusia. Lampu-lampu menyala, aroma kuliner menyeruak, dan di dekat taman, Panggung Terbuka Jagat Karana berdiri. Di sanalah malam Karangasem berpesta.

Panggung seni di Karangasem Akhir Pekan | Foto: Aries

Sabtu adalah panggung seni. Sejak pukul 18.00 Wita, panggung Jagat Karana tak pernah sepi. Ada yang menari, bernyanyi, berpuisi, berteater, bahkan modeling. Penampilnya? Bukan artis ibu kota, melainkan siswa SD, SMP hingga SMA. Sesekali, komunitas band indie mengambil alih suasana dengan musik yang menggetarkan dada.

Saya selalu terkesima ketika melihat anak-anak dari desa tampil, seperti SMP Negeri 3 Amlapura di Desa Seraya, SMP Negeri 4 Amlapura di Desa Bugbug, SMP Negeri 1 Bebandem di Desa Jungutan, dan SMP Negeri 2 Bebandem di Desa Budakeling. Saat mereka tampil, penonton lebih ramai. Bahkan ada yang datang dari jauh, membawa keluarga besar, kakek, nenek, semua ikut. “Asal anak tampil, kami ikut senang,” kata seorang bapak kepada saya sambil tersenyum bangga. Sungguh, pentas ini bukan hanya soal seni, tapi juga tentang cinta, kebersamaan, dan kebanggaan desa.

Panggung seni di Karangasem Akhir Pekan | Foto: Aries

Siapa sesungguhnya pemilik Karangasem Akhir Pekan? Ya, penampil itu. Atau, siapa panitianya? Tidak ada. Sebab, setiap penampil mengurus sendiri, koordinasi sendiri, hadir dengan waktu, lalu menyelesaikannya sendiri. Mereka bahkan menyiapkan pejati­-nya sendiri, tukang terang­-nya sendiri. Ini adalah gambaran begitu halus dan ikhlasnya kultur “hati” masyarakat Karangasem. Mereka tidak menolak saat diminta, tidak mengeluh mesti harus berkorban.

Lalu datang Minggu pagi, dan Jalan Veteran kembali ramai. Kali ini, bukan denting gitar yang mengisi udara, melainkan hentakan kaki dan tawa orang-orang berolahraga. Komunitas senam memimpin gerakan, musik upbeat terdengar dari pengeras suara, dan saya melihat wajah-wajah segar penuh semangat.

Setelah berkeringat, orang-orang menyerbu stand kuliner yang masih setia buka. Bakso panas, sate lilit, jaje Bali, nasi be guling—semuanya menggoda. Saya pun tak bisa menahan diri untuk mencicipi. Dan benar saja, klaim pemerintah bahwa kegiatan ini memutar uang miliaran rupiah bukan sekadar omong kosong. Stand kuliner tak pernah sepi, malam maupun pagi.

Kegembiraan warga di Karangasem Akhir Pekan | Foto: Aries

Namun, di tengah euforia ini, ada satu hal yang menggelitik saya. Sejak April hingga Agustus, saya mengamati: hampir semua pengisi panggung adalah sekolah-sekolah dan komunitas lokal. Lalu saya bertanya dalam hati, ke mana dinas-dinas kita? Bukankah mereka juga bagian dari masyarakat Karangasem?

Bukankah ini kesempatan emas untuk mendekatkan diri kepada publik, bahkan menyampaikan program dengan cara kreatif?

Jika sekolah-sekolah yang tidak punya anggaran bisa ikut, mengapa dinas tidak? Saya mendengar cerita dari beberapa guru—mereka rela urunan untuk kostum, menyiapkan konsumsi saat latihan, bahkan hadir mendampingi siswa dengan senyum tulus. Tidak ada urusan absensi, tidak ada cari muka, hanya karena cinta kepada anak didiknya. Jika semangat itu ada di sekolah, mengapa tidak kita temukan di OPD?

Saya percaya, panggung terbuka ini bukan hanya ruang hiburan. Ia adalah ruang sosial, ruang pertemuan, bahkan ruang ekonomi. Di sinilah wajah Karangasem yang ramah dan kreatif dipertontonkan. Jadi, OPD, dinas, ayo turun panggung! Hadir bukan hanya dengan seremonial, tapi dengan kreasi. Tampilkan seni, pamerkan produk, sosialisasikan program dengan cara yang menyenangkan.

Warga menyerbu stand kuliner di Karangasem Akhir Pekan | Foto: Aries

Kolaborasi adalah kuncinya, seperti yang dilakukan gugus SD yang tampil bersama-sama. Sadar bahwa jumlah siswa SD terbatas dan tidak ada anggaran, mereka tampil dengan system gugus. Beberapa sekolah berkolaborasi dengan menampilkan masing-masing satu pementasan. Dari mereka kita belajar, keterbatasan hanya tantangan, alasan “tidak ada anggaran” tidak bisa menjadi penghalang. Mari, belajar tentang gotong royong dari sekolah-sekolah ini?

Berikutnya, perlu penambahan beberapa lampu sorot pada areal panggung agar penampil lebih jelas. Beberapa sekolah yang memiliki dana lebih menyiasatinya dengan menyewa, budget­-nya bisa sampai 5 jutaan rupiah, apalagi jika dilengkapi dengan lampu sorot warna-warni, bisa lebih. Di sinilah saya berharap pemerintah hadir memfasilitasinya, demikian juga kualitas sound sistem.

Karangasem Akhir Pekan telah memberi kita bukti: kota ini bisa hidup, bahkan berdenyut lebih kencang daripada yang kita bayangkan. Ia bukan sekadar acara mingguan, melainkan identitas baru. Identitas yang harus kita rawat bersama. Sebab, sebuah kota bukan hanya tentang jalanan dan gedung, tetapi tentang orang-orang yang mau menciptakan ruang kebersamaan. Dan saya, sebagai saksi setiap Sabtu dan Minggu, percaya: ini baru awal. Jika kita semua ambil bagian, Karangasem akan semakin bersinar.

Semoga ke depan Karangasem Akhir Pekan bisa hadir di kecamatan-kecamatan, mungkin dengan pola yang disesuaikan dengan karakteristik daerah masing-masing. Sekolah-sekolah yang tidak bisa hadir Jalan Veteran, bisa menggunakan ruang kreatif Karangasem Akhir Pekan di kecamatan. Pun UMKM yang tidak bisa menempatkan produknya di Jalan Veteran, bisa menjajakan produknya di Karangasem Akhir Pekan kecamatan sehingga geliat UMKM juga menyentuh pelosok. [T]

Penulis: Gede Aries Pidrawan
Editor: Adnyana Ole

Tags: hiburankarangasemKarangasem Akhir PekankulinerSeni
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [12]—Menggigil Ketakutan pada Pagi Buta Saat Keluar dari Tarano

Next Post

Seminar Kesehatan Mental DWP ISI Bali: Berdaya–Berbahagia Bersama

Gede Aries Pidrawan

Gede Aries Pidrawan

Sastrawan dan guru. Lahir di Karangasem, Bali

Related Posts

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
0
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

Read moreDetails

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

Read moreDetails

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

 “Perempuan punya hak atas tubuhnya sendiri!” Kalimat itu meluncur tegas dari Sasti Gotama saat membahas novel Korpus Uterus di Singaraja...

Read moreDetails

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 31, 2026
0
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

 “Rumah itu sebenarnya apa?” Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary...

Read moreDetails

13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

by Wahyu Mahaputra
July 30, 2026
0
13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Di tengah menjamurnya festival musik yang kian mengaburkan batas antar-genre demi menjangkau pasar yang lebih luas, Sthala Ubud Village Jazz...

Read moreDetails

“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

by Yahya Umar
July 28, 2026
0
“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

jika rakyat pergiketika penguasa pidatokita harus hati-hatibarangkali mereka putus asa kalau rakyat sembunyidan berbisik-bisikketika membicarakan masalahnya sendiripenguasa harus waspada dan...

Read moreDetails

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
0
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di...

Read moreDetails

“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
0
“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

KETIKA Bagus Diarsa tampak sibuk menatap layar telepon genggamnya, di sampingnya berdiri sosok berwajah penuh riasan, berbusana merah menyala. Dialah...

Read moreDetails

Siap-siap ke Lovina Festival 2026

by Komang Puja Savitri
July 24, 2026
0
Siap-siap ke Lovina Festival 2026

"Hari ini kesiapan sudah seratus persen," ucap Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra membuka jumpa pers di Spice Dive Beach Club,...

Read moreDetails

Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026
0
Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

PERTIKAIAN dan peperangan kerap melahirkan penderitaan, kebencian, dendam, serta luka yang membekas dalam jiwa. Namun, di balik kehancuran itu selalu...

Read moreDetails
Next Post
Seminar Kesehatan Mental DWP ISI Bali: Berdaya–Berbahagia Bersama

Seminar Kesehatan Mental DWP ISI Bali: Berdaya–Berbahagia Bersama

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co