12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Karangasem Akhir Pekan: Sabtu Berseri, Minggu Penuh Energi

Gede Aries Pidrawan by Gede Aries Pidrawan
August 24, 2025
in Panggung
Karangasem Akhir Pekan: Sabtu Berseri, Minggu Penuh Energi

Panggung anak-anak di Karangasem Akhir Pekan

PERNAHKAH Anda membayangkan Amlapura, yang selama ini dianggap daerah sepi, tiba-tiba hidup seperti kota festival? Dibandingkan dengan Badung atau Denpasar tempat saya 4 tahun merantau, saya pun dulu ragu. Amlapura yang saya kenal adalah kota dengan ritme lambat, malam sepi dan terasa terlalu panjang. Namun, sejak ada Karangasem Akhir Pekan, suasana itu berubah total. Kota ini seperti menemukan nadinya kembali.

Setiap Sabtu sore, menjelang matahari turun di ufuk barat, saya melangkah ke Jalan Veteran—yang oleh banyak orang disebut Jalur Sebelas. Begitu sampai, saya seakan memasuki dunia lain. Jalanan sepanjang satu kilometer itu ditutup untuk kendaraan, digantikan derap langkah manusia. Lampu-lampu menyala, aroma kuliner menyeruak, dan di dekat taman, Panggung Terbuka Jagat Karana berdiri. Di sanalah malam Karangasem berpesta.

Panggung seni di Karangasem Akhir Pekan | Foto: Aries

Sabtu adalah panggung seni. Sejak pukul 18.00 Wita, panggung Jagat Karana tak pernah sepi. Ada yang menari, bernyanyi, berpuisi, berteater, bahkan modeling. Penampilnya? Bukan artis ibu kota, melainkan siswa SD, SMP hingga SMA. Sesekali, komunitas band indie mengambil alih suasana dengan musik yang menggetarkan dada.

Saya selalu terkesima ketika melihat anak-anak dari desa tampil, seperti SMP Negeri 3 Amlapura di Desa Seraya, SMP Negeri 4 Amlapura di Desa Bugbug, SMP Negeri 1 Bebandem di Desa Jungutan, dan SMP Negeri 2 Bebandem di Desa Budakeling. Saat mereka tampil, penonton lebih ramai. Bahkan ada yang datang dari jauh, membawa keluarga besar, kakek, nenek, semua ikut. “Asal anak tampil, kami ikut senang,” kata seorang bapak kepada saya sambil tersenyum bangga. Sungguh, pentas ini bukan hanya soal seni, tapi juga tentang cinta, kebersamaan, dan kebanggaan desa.

Panggung seni di Karangasem Akhir Pekan | Foto: Aries

Siapa sesungguhnya pemilik Karangasem Akhir Pekan? Ya, penampil itu. Atau, siapa panitianya? Tidak ada. Sebab, setiap penampil mengurus sendiri, koordinasi sendiri, hadir dengan waktu, lalu menyelesaikannya sendiri. Mereka bahkan menyiapkan pejati­-nya sendiri, tukang terang­-nya sendiri. Ini adalah gambaran begitu halus dan ikhlasnya kultur “hati” masyarakat Karangasem. Mereka tidak menolak saat diminta, tidak mengeluh mesti harus berkorban.

Lalu datang Minggu pagi, dan Jalan Veteran kembali ramai. Kali ini, bukan denting gitar yang mengisi udara, melainkan hentakan kaki dan tawa orang-orang berolahraga. Komunitas senam memimpin gerakan, musik upbeat terdengar dari pengeras suara, dan saya melihat wajah-wajah segar penuh semangat.

Setelah berkeringat, orang-orang menyerbu stand kuliner yang masih setia buka. Bakso panas, sate lilit, jaje Bali, nasi be guling—semuanya menggoda. Saya pun tak bisa menahan diri untuk mencicipi. Dan benar saja, klaim pemerintah bahwa kegiatan ini memutar uang miliaran rupiah bukan sekadar omong kosong. Stand kuliner tak pernah sepi, malam maupun pagi.

Kegembiraan warga di Karangasem Akhir Pekan | Foto: Aries

Namun, di tengah euforia ini, ada satu hal yang menggelitik saya. Sejak April hingga Agustus, saya mengamati: hampir semua pengisi panggung adalah sekolah-sekolah dan komunitas lokal. Lalu saya bertanya dalam hati, ke mana dinas-dinas kita? Bukankah mereka juga bagian dari masyarakat Karangasem?

Bukankah ini kesempatan emas untuk mendekatkan diri kepada publik, bahkan menyampaikan program dengan cara kreatif?

Jika sekolah-sekolah yang tidak punya anggaran bisa ikut, mengapa dinas tidak? Saya mendengar cerita dari beberapa guru—mereka rela urunan untuk kostum, menyiapkan konsumsi saat latihan, bahkan hadir mendampingi siswa dengan senyum tulus. Tidak ada urusan absensi, tidak ada cari muka, hanya karena cinta kepada anak didiknya. Jika semangat itu ada di sekolah, mengapa tidak kita temukan di OPD?

Saya percaya, panggung terbuka ini bukan hanya ruang hiburan. Ia adalah ruang sosial, ruang pertemuan, bahkan ruang ekonomi. Di sinilah wajah Karangasem yang ramah dan kreatif dipertontonkan. Jadi, OPD, dinas, ayo turun panggung! Hadir bukan hanya dengan seremonial, tapi dengan kreasi. Tampilkan seni, pamerkan produk, sosialisasikan program dengan cara yang menyenangkan.

Warga menyerbu stand kuliner di Karangasem Akhir Pekan | Foto: Aries

Kolaborasi adalah kuncinya, seperti yang dilakukan gugus SD yang tampil bersama-sama. Sadar bahwa jumlah siswa SD terbatas dan tidak ada anggaran, mereka tampil dengan system gugus. Beberapa sekolah berkolaborasi dengan menampilkan masing-masing satu pementasan. Dari mereka kita belajar, keterbatasan hanya tantangan, alasan “tidak ada anggaran” tidak bisa menjadi penghalang. Mari, belajar tentang gotong royong dari sekolah-sekolah ini?

Berikutnya, perlu penambahan beberapa lampu sorot pada areal panggung agar penampil lebih jelas. Beberapa sekolah yang memiliki dana lebih menyiasatinya dengan menyewa, budget­-nya bisa sampai 5 jutaan rupiah, apalagi jika dilengkapi dengan lampu sorot warna-warni, bisa lebih. Di sinilah saya berharap pemerintah hadir memfasilitasinya, demikian juga kualitas sound sistem.

Karangasem Akhir Pekan telah memberi kita bukti: kota ini bisa hidup, bahkan berdenyut lebih kencang daripada yang kita bayangkan. Ia bukan sekadar acara mingguan, melainkan identitas baru. Identitas yang harus kita rawat bersama. Sebab, sebuah kota bukan hanya tentang jalanan dan gedung, tetapi tentang orang-orang yang mau menciptakan ruang kebersamaan. Dan saya, sebagai saksi setiap Sabtu dan Minggu, percaya: ini baru awal. Jika kita semua ambil bagian, Karangasem akan semakin bersinar.

Semoga ke depan Karangasem Akhir Pekan bisa hadir di kecamatan-kecamatan, mungkin dengan pola yang disesuaikan dengan karakteristik daerah masing-masing. Sekolah-sekolah yang tidak bisa hadir Jalan Veteran, bisa menggunakan ruang kreatif Karangasem Akhir Pekan di kecamatan. Pun UMKM yang tidak bisa menempatkan produknya di Jalan Veteran, bisa menjajakan produknya di Karangasem Akhir Pekan kecamatan sehingga geliat UMKM juga menyentuh pelosok. [T]

Penulis: Gede Aries Pidrawan
Editor: Adnyana Ole

Tags: hiburankarangasemKarangasem Akhir PekankulinerSeni
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [12]—Menggigil Ketakutan pada Pagi Buta Saat Keluar dari Tarano

Next Post

Seminar Kesehatan Mental DWP ISI Bali: Berdaya–Berbahagia Bersama

Gede Aries Pidrawan

Gede Aries Pidrawan

Sastrawan dan guru. Lahir di Karangasem, Bali

Related Posts

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

by Ingga Adelia
September 11, 2026
0
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

Read moreDetails

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
0
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

Read moreDetails

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
0
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

Read moreDetails

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
0
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

Read moreDetails

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
0
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

Read moreDetails

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
0
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

Read moreDetails

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

Read moreDetails

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

Read moreDetails
Next Post
Seminar Kesehatan Mental DWP ISI Bali: Berdaya–Berbahagia Bersama

Seminar Kesehatan Mental DWP ISI Bali: Berdaya–Berbahagia Bersama

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co