24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Uang, Komunikasi, dan Politik

Chusmeru by Chusmeru
August 24, 2025
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

KETIKA anak perempuan memutuskan hendak menikah, istri saya menasihatinya agar hidup rukun dengan suaminya kelak. Pertengkaran atau keributan memang tak terhindarkan dalam rumah tangga, namun jangan sampai ribut masalah uang. Itu hal yang memalukan, karena menyangkut adab komunikasi dalam keluarga.

Akan tetapi nasihat itu tentunya tidak berlaku bagi semua orang, karena banyak orang yang justru menciptakan keributan untuk mendapatkan uang. Sebut saja preman, pengusaha nakal, politisi busuk, pejabat korup, dan oknum aparat keamanan; mereka siap bertengkar untuk berebut uang.

Uang memang sering menjadi sumber masalah komunikasi interpersonal. Tidak sedikit perceraian terjadi antara suami istri bukan lantaran perselingkuhan, tetapi karena uang yang tak mencukupi rumah tangga mereka. Orang yang ditagih utang bisa lebih galak dari yang memberi utang. Putus jalinan komunikasi antarteman, tetangga, dan saudara karena uang.

 Konon, ayah seorang artis ternama pernah bercanda jika ingin melamar anaknya harus menyediakan uang mahar lima miliar rupiah. Uang menjadi sesuatu yang mampu membunuh kesakralan sebuah pernikahan. Hidup berumah tangga hanya dinilai dari seberapa besar orang mampu menyiapkan uang untuk menebus anaknya.

Begitulah uang. Ia bukan lagi sekadar alat pembayaran yang sah, namun dapat menjelma sebagai simbol cinta, kuasa, bahkan doa. Uang telah menjadi “agama” baru bagi banyak orang. Uang mampu mengubah dan menjadikan apa pun dan siapa pun. Jabatan yang sakral pun bisa hilang kewibawaannya karena uang.

Harimau dan kucing yang galak dapat menjadi jinak karena uang yang diberikan tikus. Mereka bukan lagi memusuhi dan memangsa tikus, tapi merawatnya dengan baik demi uang. Bahkan anak-anak tikus pun akan dirawat dan dimanja oleh harimau dan kucing. Semua karena uang.

Uang bukan hanya mampu menciptakan stratifikasi, namun juga transendensi. Maka dikenal uang haram dan uang halal, uang jasa, uang terima kasih, uang rakyat, uang pejabat, dan sebagainya. Serangkaian peringatan kemerdekaan bulan Agustus, banyak beredar status dan meme di media sosial: “Pejabat Merayakan Kemerdekaan Dengan Anggaran Negara, Sedangkan Rakyat Merayakan Dengan Iuran Bersama”.

Simbol Komunikasi

Uang harus dianalisis dengan cara komunikasi, begitu kata Simmel dan Burke (dalam Duncan, 1997). Uang harus diubah atau ditransformasikan menjadi sesuatu yang lain agar memiliki makna sosialnya. Sama seperti lambang apa pun, uang dapat memiliki kekuatan simbol metafora, analitis, abstrak, maupun sintesis. Banyak orang menganggap uang bukan sekadar cara, tetapi juga tujuan.            Dalam perspektif komunikasi, uang telah menjadi simbol dan pesan dalam proses komunikasi. Musik dan lagu bukan sekadar ingin mengkomunikasikan syair dan irama, tetapi juga melambangkan uang. Maka musik dan lagu bukan hanya pesan untuk disampaikan kepada publik, bukan semata untuk didengar, namun juga dikenakan royalti yang berujung uang.

Simbol komunikasi yang egaliter melekat pada uang. Mereka yang kaya belanja dengan uang, yang miskin juga membeli dengan uang. Mereka yang menjabat menerima gaji berupa uang, yang jelata juga mendapat upah berujud uang. Namun uang juga menciptakan ketidaksetaraan dalam komunikasi.

Seorang pejabat dan artis yang hidup bermewah-mewah bukan karena ia ingin menunjukkan bahwa uangnya tak pernah habis. Ia juga ingin mengkomunikasikan kepada orang lain, bahwa hidupnya lebih baik dari orang-orang yang tidak setara dengannya.

Ketidaksetaraan simbolisasi uang dapat terlihat dari gaji atau upah yang diterima seseorang. Guru dan dosen berperan penting dalam membentuk karakter manusia Indonesia ke depan. Guru dan dosen juga seorang komunikator yang menentukan kecerdasan anak-anak bangsa. Namun gaji guru dan dosen tak sebanding dengan gaji seorang karyawan BUMN. Itu karena guru dan dosen dianggap tak mampu menghasilkan barang yang secara instan dapat mendatangkan uang bagi pemerintah.

Guru dan dosen berdiri di depan kelas berjam-jam setiap harinya. Berbicara kepada peserta didik berjam-jam, berpikir dan menulis berjam-jam. Namun gaji guru dan dosen ibarat bumi dan langit jika dibandingkan dengan gaji anggota DPR yang konon tiga juta rupiah per hari. Sama-sama berkomunikasi kepada rakyat, namun uang yang diterima tidak setara. Seolah DPR begitu berjasa, sedangkan guru dan dosen dianggap beban negara.

 Sebagai simbol komunikasi, uang dapat menggambarkan banyak hal. C. Oldier mengatakan, arti penting uang secara simbolik adalah lebih penting ketimbang arti pentingnya secara nyata. Uang dapat melambangkan perhatian, ketidakpedulian, egoisme, dan kesombongan (Duncan,1997). Maka tidak heran bila para pejabat dan anggota DPR berjoget di tengah derita rakyat yang mengalami kesulitan keuangan. Mereka sudah banyak uang, mereka bisa sombong dan tak peduli dengan nasib rakyatnya.

Uang memang bukan sekadar cara berkomunikasi, namun juga tujuan komunikasi. Pegawai Negeri Sipil (PNS) menunggu bertahun-tahun untuk mendapat kenaikan gaji yang tak seberapa. Para buruh harus berdarah-darah demo untuk menuntut kenaikan upah. Sementara anggota DPR yang duduk manis dengan sedikit berbisik, gaji dan berbagai tunjangan langsung melambung tinggi.

Politik Uang

Puluhan ribu orang berdemonstrasi menuntut pembatalan kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sebesar 250% di Pati, Jawa Tengah. Di daerah lain bahkan ada kenaikan PBB yang mencapai 1000%. Belum lagi pajak-pajak lain yang dipungut dari rakyat di banyak sektor kehidupan. Semua masalah uang. Semua tentang rezim yang rakus mengeruk uang.

Uang telah menjadi bagian dari keputusan politik. Sayangnya, ketika uang berada dalam ruang politik acapkali lebih dilandasi hal-hal yang emosional ketimbang rasional. Padahal sebagaimana dikatakan Puntsch (1996), menjadikan emosi sebagai dasar pengambilan keputusan adalah cara yang otoriter. Politik dan uang telah menggiring rakyat; bukan ke mana mereka ingin pergi, tetapi ke mana mereka harus pergi. Dan semua rezim yang otoriter tak pernah merasa bersalah ketika memeras uang rakyatnya.

Kredibilitas rezim dan keberlanjutan negara juga kerap diukur dari uang. Seberapa banyak pemerintah memiliki uang akan menggambarkan kredibilitas politiknya. Jika perlu berutang untuk mendapat uang. Dan ironi bagi republik yang baru saja genap 80 tahun merdeka ini, hampir 600 triliun rupiah anggaran negara dipakai untuk bayar utang. Agar rezim tetap dianggap digdaya, pemerintah pun akan menambah utang 781,9 triliun rupiah dalam RAPBN 2026.

Politik dan uang sangat menentukan sejauh mana rezim ini diterima oleh rakyatnya. Apa pun cara dan tujuannya. Anggaran makan bergizi sebesar 335 triliun rupiah adalah bentuk keputusan politik rezim agar dipercaya dan diterima rakyat. Dengan dalih peningkatan gizi, kesehatan, dan kecerdasan anak di masa depan, program makan bergizi gratis (MBG) sejatinya adalah politik derita rakyat. Tujuannya, agar rezim ini dipercaya, diterima, dan berkelanjutan.

 Dalam perspektif politik, masuknya uang dalam ranah kekuasaan sudah terjadi sejak lama. Sekitar tahun 1925 “agama uang” telah berkembang di Amerika, yang berlanjut ke berbagai negara hingga kini. Partai politik mencari pemimpin dalam kalangan pengusaha yang banyak uang. Akhirnya, politik menjadi identik dengan perusahaan, mirip komoditas, serupa dengan uang. Jika ingin berpolitik, banyak-banyaklah punya uang. Dan jika sudah berkuasa, banyak-banyaklah mencari uang.

Politik dapat menentukan arah kebiajakan apa pun, sepanjang ada uang. Thomas Carlyle (dalam Duncan, 1997) menyindir, barangsiapa memiliki uang satu sen, maka ia berdaulat (sejauh satu sen) atas seluruh manusia; memerintah para juru masak menyajikan santapan baginya, memerintah para bijak cendekia mengajarinya, dan memerintah para raja untuk menjaganya.

Betapa uang menjadi “agama” bagi mereka yang hendak berkuasa. Bila di masa lalu informasi adalah sumber kekuasaan, maka kini uang menjadi sumber dari segala sumber kekuasaan. Tak ada kekuasaan yang gratis. Tak ada kursi bupati, walikota, gubernur, presiden, dan DPR yang gratis. Semua perlu uang, dan pada akhirnya semua untuk menumpuk uang.

 Lantas apa yang dapat diharapkan rakyat, yang lebih sering tak punya uang? Barangkali hanya sederhana. Diperlukan komunikasi dan politik yang lebih bermartabat dan beradab. Bukan yang menuhankan uang. Bukan berjoget sambil memeras uang rakyat yang sudah terkuras. Karena uang bukan semata simbol komunikasi, tetapi juga rezim yang seharusnya beradab. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU

Komunikasi Politik Karut-Marut dan Korupsi Akut
Pemerintahan yang Gagal Berkomunikasi dengan Rakyat
Tags: komunikasiPolitikuang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Apa Ini Tempat Penghakiman? | Cerpen Kadek Indra Putra

Next Post

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [12]—Menggigil Ketakutan pada Pagi Buta Saat Keluar dari Tarano

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [12]—Menggigil Ketakutan pada Pagi Buta Saat Keluar dari Tarano

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [12]—Menggigil Ketakutan pada Pagi Buta Saat Keluar dari Tarano

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co