2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apa Ini Tempat Penghakiman? | Cerpen Kadek Indra Putra

Kadek Indra Putra by Kadek Indra Putra
August 24, 2025
in Cerpen
Apa Ini Tempat Penghakiman? | Cerpen Kadek Indra Putra

Ilustrasi tatkala.co

SUARA tangis lirih terdengar hampir setiap malam dari arah dapur. Perempuan penghuni rumah tentu saja mendengarnya setiap malam, namun Ia pura-pura tidak tahu dan memilih mengabaikannya.

Sudah lama Ia tinggal sendiri di rumah ini. Awalnya tidak ada yang aneh dengan tempat ini – tenang, biasa saja. Hingga suatu hari, setelah kasus pembunuhan yang terjadi di rumah sebelah, mulai terdengar suara-suara aneh. Bukan jeritan, bukan teriakan melainkan isak yang dalam dan lambat. Tangisan seorang perempuan yang terdengar sangat sedih.

Ia tidak pernah mencari tahu maupun penasaran. Sudah seminggu ia mencoba terbiasa dengan keberadaan tamu tak diundang itu. Dalam pikirnya, mungkin makhluk itu hanya butuh tempat untuk meluapkan perasaannya tanpa takut dihakimi. Dan entah kenapa, rumah ini adalah pilihan yang tepat.

Gadis muda itu ditemukan bersimbah darah, dengan tujuh tusukan menyebar dari kepala hingga kaki. Kabar yang beredar, ia sempat berkelahi dengan pacarnya, entah iblis apa yang merasuki mereka hingga akhirnya maut datang. Malang sekali nasib gadis itu, ia menjadi korban. Tapi seperti biasa, tak peduli sekejam apa kejadiannya, perempuan akan tetap menjadi yang disalahkan. Mata sinis akan terus menuju padanya, perkataan pedas akan selalu membakar telinganya bahkan dari kaumnya sendiri.

Bayangkan jika kalian dihadapkan pada keadaaan dimana terdengar suara tangis dari salah satu sudut rumah kalian, pasti kalian akan merasa takut dan mungkin saja sudah lari terbirit-birit. Namun perempuan penghuni rumah malah merasa sangat sedih, perasaan yang dibawa oleh makhluk itu bisa ia rasakan sangat jelas. Kesedihan, ketakutan, dan benci.

Semua itu mengingatkannya dengan kejadian puluhan tahun silam. Mesin waktu membawanya kembali. Kejadiannya begitu cepat, tangisnya dianggap palsu, traumanya dipermainkan, ia disayat setiap hari oleh pandangan orang. Diklaim sebagai pemicu masalah, padahal ia hanya berdiri sedikit dekat. Dikatakan genit, padahal ia hanya tersenyum ke semua orang. Sejak itu ia diam, dan dunia senang dengan diamnya.

Waktu berjalan pelan, menyulam luka dalam diam. Luka tidak selalu berujung sembuh, kadang akan membusuk dan menanah. Tangis yang pelan menjadi jeritan yang tajam, menusuk ulu hati yang mendengarnya. Seakan ditusuk oleh bambu runcing yang tajam.  Dalam kepercayaan Hindu-Bali, roh manusia yang meninggal tidak akan langsung meninggalkan bumi, mereka akan tinggal sejenak di bumi sampai segala upacara dilakukan. Naasnya, gadis itu salah pati. Rohnya belum siap untuk meninggalkan dunia ini, terombang-ambing di antara dunia, tak sudi pergi. Ajalnya tidak datang secara alami. Sehingga doa, keiklashan dan keadilan yang membawanya pulang seperti seharusnya.

Hari ke hari berlalu sangat cepat, suara makhluk itu mengikis kewarasan perempuan penghuni rumah, sampai ia tidak lagi bisa membedakan mana suara makhluk itu, mana suara dalam kepalanya sendiri. Semuanya bercampur dalam jerit yang sama –- jerit luka yang tak kunjung sembuh. Dengan terpaksa ia mencoba untuk mendekat ke arah sumber suara. Tangisnya masih terdengar, raganya tidak terlihat sehelai rambutpun. Sudut dapur yang gelap hanya itu yang terlihat.

“Aku paham, jiwa yang terluka tidak mudah untuk pergi dengan tenang, kenangan yang masih melekat merantaimu di sini, tapi apa pantaskah kau mengganggu jiwa lain yang tidak kalah terlukanya darimu. Kumohon kembalilah ke tempatmu berasal, aku di sini tidak bisa membantumu, membantu diri sendiripun aku belum mampu!”

Sunyi, sepi. Tangis itu memudar terbawa angin, sejenak suara jangkrik terdengar sangat jelas.

“Apa yang kaudengar dari mereka?”

Terkejut. Suara Makhluk itu terdengar sangat keras menggema di setiap sudut telinganya, memasuki kepalanya. Lidahnya kelu, tubuhnya kaku tak berdaya. Hatinya berbicara, tapi kata-kata tidak terdengar dari mulutnya satu katapun. Seperti di hantam oleh dingin yang tepat mendarat di sekujur tubuhnya, tak bisa lari —  bergerakpun tak mampu walau hanya untuk mundur.

“Mereka hanya menilai, tanpa pernah tahu rasanya berjalan di jalan yang kulalui. Tidak akan pernah paham badai ini, jika hidupmu selalu cerah. Tidakkah kau marah dan membenci mereka? Jujur saja, sudah berapa lama kau memendam semua perasaan itu.”

Tatapan mereka tidak pernah melihat, keingintahuan mereka tidak akan menjadi empati. Sering sekali manusia hanya akan menyimpulkan tanpa pernah memahami bahkan tanpa pernah merasakan. Manusia akan mempercayai apa yang mereka ingin percayai, tak peduli seberapa salah dan merugikannya tingkah mereka bagi orang lain.

Tentu masih ada  tatapan yang menjadi empati dan merasakan sakit yang kita alami. Namun, apa menjamin ujungnya mereka tidak menjadi seperti perempuan penghuni rumah dan gadis malang itu? Tangis pecah di antara kesunyian malam, membelah dinginnya angin yang masuk dari jendela rumah. Mereka hanya bisa menangis dan mencari tempat yang tidak menghakimi mereka.

Semenjak itu perempuan penghuni rumah tidak pernah didatangi oleh makhluk itu lagi, mungkin doa, keikhlasan dan keadilan sudah membawanya pulang. Tapi dapur masih menjadi tempat favoritnya untuk meluapkan perasaannya menunggu ada teman untuknya berbagi kesedihan. Masih mengharapkan ada jiwa lain yang mau duduk dan berbagi sepi. [T]

Penulis: Kadek Indra Putra
Editor: Jaswanto

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketut Putrayasa Menciptakan Air Terjun Buatan Sepanjang 60 Meter dengan Tinggi 11 Mater di New Kuta Golf

Next Post

Uang, Komunikasi, dan Politik

Kadek Indra Putra

Kadek Indra Putra

Lahir di Singaraja pada 01 Oktober 1999, tinggal di Denpasar Barat. Mahasiswa Manajemen Undiksha, yang aktif di UKM Teater Kampus Seribu Jendela dan dalam beberapa pertunjukkan berperan sebagai aktor. Selain itu, ia juga aktif dalam kelompok diskusi buku yaitu, Singaraja Literet.

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Uang, Komunikasi, dan Politik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co