2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apa Ini Tempat Penghakiman? | Cerpen Kadek Indra Putra

Kadek Indra Putra by Kadek Indra Putra
August 24, 2025
in Cerpen
Apa Ini Tempat Penghakiman? | Cerpen Kadek Indra Putra

Ilustrasi tatkala.co

SUARA tangis lirih terdengar hampir setiap malam dari arah dapur. Perempuan penghuni rumah tentu saja mendengarnya setiap malam, namun Ia pura-pura tidak tahu dan memilih mengabaikannya.

Sudah lama Ia tinggal sendiri di rumah ini. Awalnya tidak ada yang aneh dengan tempat ini – tenang, biasa saja. Hingga suatu hari, setelah kasus pembunuhan yang terjadi di rumah sebelah, mulai terdengar suara-suara aneh. Bukan jeritan, bukan teriakan melainkan isak yang dalam dan lambat. Tangisan seorang perempuan yang terdengar sangat sedih.

Ia tidak pernah mencari tahu maupun penasaran. Sudah seminggu ia mencoba terbiasa dengan keberadaan tamu tak diundang itu. Dalam pikirnya, mungkin makhluk itu hanya butuh tempat untuk meluapkan perasaannya tanpa takut dihakimi. Dan entah kenapa, rumah ini adalah pilihan yang tepat.

Gadis muda itu ditemukan bersimbah darah, dengan tujuh tusukan menyebar dari kepala hingga kaki. Kabar yang beredar, ia sempat berkelahi dengan pacarnya, entah iblis apa yang merasuki mereka hingga akhirnya maut datang. Malang sekali nasib gadis itu, ia menjadi korban. Tapi seperti biasa, tak peduli sekejam apa kejadiannya, perempuan akan tetap menjadi yang disalahkan. Mata sinis akan terus menuju padanya, perkataan pedas akan selalu membakar telinganya bahkan dari kaumnya sendiri.

Bayangkan jika kalian dihadapkan pada keadaaan dimana terdengar suara tangis dari salah satu sudut rumah kalian, pasti kalian akan merasa takut dan mungkin saja sudah lari terbirit-birit. Namun perempuan penghuni rumah malah merasa sangat sedih, perasaan yang dibawa oleh makhluk itu bisa ia rasakan sangat jelas. Kesedihan, ketakutan, dan benci.

Semua itu mengingatkannya dengan kejadian puluhan tahun silam. Mesin waktu membawanya kembali. Kejadiannya begitu cepat, tangisnya dianggap palsu, traumanya dipermainkan, ia disayat setiap hari oleh pandangan orang. Diklaim sebagai pemicu masalah, padahal ia hanya berdiri sedikit dekat. Dikatakan genit, padahal ia hanya tersenyum ke semua orang. Sejak itu ia diam, dan dunia senang dengan diamnya.

Waktu berjalan pelan, menyulam luka dalam diam. Luka tidak selalu berujung sembuh, kadang akan membusuk dan menanah. Tangis yang pelan menjadi jeritan yang tajam, menusuk ulu hati yang mendengarnya. Seakan ditusuk oleh bambu runcing yang tajam.  Dalam kepercayaan Hindu-Bali, roh manusia yang meninggal tidak akan langsung meninggalkan bumi, mereka akan tinggal sejenak di bumi sampai segala upacara dilakukan. Naasnya, gadis itu salah pati. Rohnya belum siap untuk meninggalkan dunia ini, terombang-ambing di antara dunia, tak sudi pergi. Ajalnya tidak datang secara alami. Sehingga doa, keiklashan dan keadilan yang membawanya pulang seperti seharusnya.

Hari ke hari berlalu sangat cepat, suara makhluk itu mengikis kewarasan perempuan penghuni rumah, sampai ia tidak lagi bisa membedakan mana suara makhluk itu, mana suara dalam kepalanya sendiri. Semuanya bercampur dalam jerit yang sama –- jerit luka yang tak kunjung sembuh. Dengan terpaksa ia mencoba untuk mendekat ke arah sumber suara. Tangisnya masih terdengar, raganya tidak terlihat sehelai rambutpun. Sudut dapur yang gelap hanya itu yang terlihat.

“Aku paham, jiwa yang terluka tidak mudah untuk pergi dengan tenang, kenangan yang masih melekat merantaimu di sini, tapi apa pantaskah kau mengganggu jiwa lain yang tidak kalah terlukanya darimu. Kumohon kembalilah ke tempatmu berasal, aku di sini tidak bisa membantumu, membantu diri sendiripun aku belum mampu!”

Sunyi, sepi. Tangis itu memudar terbawa angin, sejenak suara jangkrik terdengar sangat jelas.

“Apa yang kaudengar dari mereka?”

Terkejut. Suara Makhluk itu terdengar sangat keras menggema di setiap sudut telinganya, memasuki kepalanya. Lidahnya kelu, tubuhnya kaku tak berdaya. Hatinya berbicara, tapi kata-kata tidak terdengar dari mulutnya satu katapun. Seperti di hantam oleh dingin yang tepat mendarat di sekujur tubuhnya, tak bisa lari —  bergerakpun tak mampu walau hanya untuk mundur.

“Mereka hanya menilai, tanpa pernah tahu rasanya berjalan di jalan yang kulalui. Tidak akan pernah paham badai ini, jika hidupmu selalu cerah. Tidakkah kau marah dan membenci mereka? Jujur saja, sudah berapa lama kau memendam semua perasaan itu.”

Tatapan mereka tidak pernah melihat, keingintahuan mereka tidak akan menjadi empati. Sering sekali manusia hanya akan menyimpulkan tanpa pernah memahami bahkan tanpa pernah merasakan. Manusia akan mempercayai apa yang mereka ingin percayai, tak peduli seberapa salah dan merugikannya tingkah mereka bagi orang lain.

Tentu masih ada  tatapan yang menjadi empati dan merasakan sakit yang kita alami. Namun, apa menjamin ujungnya mereka tidak menjadi seperti perempuan penghuni rumah dan gadis malang itu? Tangis pecah di antara kesunyian malam, membelah dinginnya angin yang masuk dari jendela rumah. Mereka hanya bisa menangis dan mencari tempat yang tidak menghakimi mereka.

Semenjak itu perempuan penghuni rumah tidak pernah didatangi oleh makhluk itu lagi, mungkin doa, keikhlasan dan keadilan sudah membawanya pulang. Tapi dapur masih menjadi tempat favoritnya untuk meluapkan perasaannya menunggu ada teman untuknya berbagi kesedihan. Masih mengharapkan ada jiwa lain yang mau duduk dan berbagi sepi. [T]

Penulis: Kadek Indra Putra
Editor: Jaswanto

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketut Putrayasa Menciptakan Air Terjun Buatan Sepanjang 60 Meter dengan Tinggi 11 Mater di New Kuta Golf

Next Post

Uang, Komunikasi, dan Politik

Kadek Indra Putra

Kadek Indra Putra

Lahir di Singaraja pada 01 Oktober 1999, tinggal di Denpasar Barat. Mahasiswa Manajemen Undiksha, yang aktif di UKM Teater Kampus Seribu Jendela dan dalam beberapa pertunjukkan berperan sebagai aktor. Selain itu, ia juga aktif dalam kelompok diskusi buku yaitu, Singaraja Literet.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Uang, Komunikasi, dan Politik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co