6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Osmosia: Menonton Sebuah Mimpi yang Tak Ingin Dijelaskan

Yoga Wismantara by Yoga Wismantara
August 17, 2025
in Ulas Film
Osmosia: Menonton Sebuah Mimpi yang Tak Ingin Dijelaskan

Pemutaran film Osmosia di Seririt | Foto: Singaraja Menonton

SAMPAI detik ini, pertanyaan itu masih mengganggu kepala saya. Apa itu Osmosia? Mengapa kata ini terdengar asing, seolah bukan berasal dari bahasa manapun? Saya mencarinya di kamus, nihil. Saya menelusuri memori, tetap kosong. Namun, justru kekosongan itulah yang membuatnya menggoda. Osmosia, sebuah kata yang seperti hendak menutup diri, tapi di saat bersamaan mengundang kita untuk mendekat.

Tanggal 23 Juni 2025. Malam hari di Seririt. Kedai Cana—sebuah tempat yang akrab bagi para penikmat kopi, musik, di Seririt—malam itu berubah fungsi. Layar putih terpasang, kursi-kursi ditata, dan suasana yang biasanya riuh dengan obrolan santai, kini berubah menjadi ruang menonton sederhana. Ada lima film pendek yang ditayangkan. Namun dari kelimanya, hanya satu yang benar-benar mencuri perhatian saya, Osmosia.

“Ini film eksperimental,” kata teman saya.

Eksperimental. Kata itu saja sudah cukup untuk membuat rasa penasaran saya melonjak. Selama ini, film yang saya kenal lebih banyak mengalir dengan cerita lurus—ada awal, konflik, dan penyelesaian. Namun eksperimental? Saya belum pernah sungguh-sungguh menyelami dunia itu. Maka dengan mobil putih, saya melaju menuju kedai, menatap jalanan malam dan membayangkan seperti apa rupa sebuah film yang disebut eksperimental?

Udara Seririt malam itu sejuk, tapi tidak menusuk. Saya membantu sebentar mempersiapkan pemutaran film, lalu menunggu. Waktu berjalan lambat. Di kedai, saya dan teman saya duduk, nongkrong, menatap jam, menunggu lagi. Rasanya seperti menanti sebuah peristiwa yang tidak bisa ditebak.

Pukul 19.30 WITA, akhirnya panggilan itu datang. Semua lampu dimatikan, layar menyala, suasana mendadak hening. Tidak ada hujan deras seperti tiga hari sebelumnya—malam itu, alam seolah ikut memberi restu agar film diputar dengan lancar.

Film dimulai. Bukan dengan gambar, melainkan dengan suara. Suara lantang, seperti sambutan untuk seseorang yang akan naik ke panggung. Tetapi panggung itu tidak pernah benar-benar muncul. Yang tampak justru layar kecil dengan rasio 9:16, berwarna biru. Di atasnya, ukiran Karang Boma, bergetar seperti hologram yang hampir pecah.

Layar itu memunculkan wajah-wajah. Arsip lama. Suara pembawa acara. Rekaman pemakaman. Nama yang berulang disebut – I Gde Dharna, seorang seniman Bali. Semuanya seperti potongan memori yang tidak utuh, kenangan yang dibiarkan retak, dan kita dipaksa menatapnya.

Ada rasa ganjil. Saya tak tahu apakah ini awal yang dimaksud, atau sekadar prolog. Namun sejak menit itu, saya tahu Osmosia bukan film yang mau memanjakan penontonnya.

Layar berganti merah menyala. Ruangan terasa ikut dipenuhi warna itu. Seorang perempuan berdiri di tengah padang gersang. Tatapan pertamanya membuat saya mengira dia adalah roh jahat, semacam entitas yang siap menakut-nakuti. Tetapi dugaan saya segera runtuh.

Dengan lantang, ia memperkenalkan dirinya sebagai Tumbuhan Merah. Dari mulutnya mengalun sebuah bacaan yang setengah nyanyian setengah mantra.

Gambar padi muncul, subak mengalir, simbol-simbol agraris Bali berkelebat seperti doa visual. Musik yang mengiringinya adalah pertemuan dua dunia, opera barat dan kidung Bali. Asing, tapi akrab. Seperti suara dari masa depan yang dibangun di atas ingatan masa lalu.

Potongan simbol lain berloncatan. Api yang melahap karya seni di dalam gua. Anak-anak yang berkisah tentang ayah mereka. Fragmen-fragmen yang kemudian bersatu menjadi adegan opera penuh warna.

Semua terasa seperti ritual—tapi ritual yang asing, tak pernah saya hadiri sebelumnya. Setiap gerak, setiap simbol, seolah punya arti. Namun tak ada keterangan. Tak ada teks yang membantu saya memahami.

Di situlah tantangannya. Penonton dipaksa untuk menafsirkan sendiri. Dan otak saya pun mulai bekerja liar. Saya membayangkan bahwa Osmosia adalah tentang awal pembentukan dunia. Sebuah kisah mitologis yang dikisahkan kembali melalui simbol dan suara. Apakah itu tafsir yang benar? Entahlah. Mungkin benar, mungkin meleset jauh. Tetapi justru di situlah letaknya. Film ini membuka pintu, dan kita yang memilih jalan.

Akhir film tiba tanpa kesimpulan. Tidak ada narasi yang merangkum, tidak ada teks penutup yang menjelaskan “ini maksudnya”. Yang tersisa hanyalah ruang kosong.

Saya teringat pada cara Junji Ito, mangaka horor Jepang, menutup kisah-kisahnya. Misteri selalu dibiarkan menggantung, membuat pembaca dihantui pertanyaan yang tak pernah selesai. Bedanya, jika Junji Ito menanamkan rasa takut, Osmosia justru menanamkan rasa hening.

Pemutaran film Osmosia di Seririt | Foto: Singaraja Menonton

Film ini bukan untuk memberi jawaban, melainkan untuk mengajak penontonnya berdialog dengan dirinya sendiri. Bukan sekadar tontonan, tapi percakapan batin yang masih berlangsung lama setelah layar padam.

Saya harus mengakui keberanian sutradara Fioretti Vera dan B.M Anggana. Mereka tidak mengikuti jalur dokumenter konvensional. Mereka mencampurkan arsip, opera, simbol-simbol alam, dan karakter seperti Tumbuhan Merah yang terasa mistis sekaligus puitis.

Adegan-adegan itu bukan sekadar rangkaian gambar, tapi semacam puisi visual yang bergerak. Saya masih mengingat layar biru kecil dengan wajah-wajah yang bergetar. Saya masih terbayang padi yang menari di layar, seakan-akan hendak berbicara kepada kita.

Namun di balik kekaguman itu, saya juga menemukan tantangan. Ada momen ketika peralihan dari arsip ke opera terasa terlalu tiba-tiba. Saya sempat tersesat, kehilangan pijakan. Beberapa simbol juga dibiarkan terlalu lama, hingga pikiran saya melayang ke hal lain.

Mungkin, jika sedikit saja ada pegangan—sepotong lirik, satu kalimat penghubung yang mengikat simbol dengan kisah I Gde Dharna—saya akan merasa lebih dekat. Tidak sekadar menatap bayangan, tetapi benar-benar menggenggam tangan tokoh yang diceritakan.

Osmosia rasanya seperti mimpi yang direkam kamera. Mimpi yang muncul saat kita demam. Kadang kaki menapak di tanah, kadang melayang entah kemana.

Film ini tidak menjawab pertanyaan “kenapa” atau “mengapa”. Film itu hanya memberikan jejak suara, warna, potongan wajah, simbol-simbol. Dan kita, para penonton, yang harus merangkai sendiri maknanya.

Apakah Osmosia bercerita tentang warisan seni I Gde Dharna? Tentang kehilangan? Tentang alam yang perlahan kehabisan suara? Mungkin ya, mungkin tidak. Yang jelas, film ini berhasil menanamkan rasa ingin tahu yang tidak habis setelah lampu kembali menyala.

Pukul 22.10 WITA, semua film sudah selesai. Diskusi dibuka. Saya berharap ada pencerahan. Tapi ternyata tidak banyak yang bisa saya tangkap. Para pembuat film tampaknya memang ingin Osmosia tetap menjadi misteri.

Mungkin memang begitu seharusnya. Tidak semua karya seni diciptakan untuk dijelaskan. Ada yang hanya untuk dirasakan, dipertanyakan, dan akhirnya dibiarkan menggantung.

Malam semakin larut. Saya pulang dengan mobil putih yang sama. Jalanan sepi. Dari balik kaca mobil, saya menatap lampu jalan yang sesekali menyala redup.

Dalam hati saya bergumam, mungkin saya tidak akan pernah tahu arti sesungguhnya dari Osmosia. Dan mungkin, memang begitu cara film ini bekerja. Tidak ingin dipahami tuntas. Tapi ingin kita terus memikirkannya.

Dan saya pun tersenyum kecil. Karena bukankah itu tujuan dari karya seni yang baik? Bukan sekadar menyenangkan mata, tapi juga mengganggu pikiran. [T]

Penulis: Gede Yoga Wismantara
Editor: Adnyana Ole

Artikel ini adalah hasil dari pelatihan pada Workshop Menulis Ulasan & Kritik Film yang diselenggarakan Singaraja Menonton, dan artikel ini ditayangkan atas kerjasama Singaraja Menonton dan tatkala.co.

  • BACA JUGA:
Film Pendek “Made”: Kerasnya Hidup Keluarga Kecil Menghadapi Perkembangan Teknologi
Belajar Tingwe dari Film “Rita Coba Rokok”—Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Kedai Umah Pradja, Singaraja
Mengutuk Pernikahan Usia Dini pada Film “Kembang Eleh” — Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Seririt
Sedih-Tegang dalam Instrumen Film “Metuun” dan “Nyambutin” — Dari Layar Kolektif Bali Utara di Tejakula
Tags: filmfilm pendekSingaraja Menonton
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mencegah Konflik Dokter Pasien

Next Post

Blibli, Platform E-Commerce Penyedia Brand Produk Elektronik Terlengkap Dengan Gratis Ongkir

Yoga Wismantara

Yoga Wismantara

Siswa dari SMK N 3 Singaraja, belajar menulis puisi di Klub Rabu Puisi, Komunitas Mahima. Salah satu dari peserta workshop menulis film yang diadakan oleh Komunitas Singaraja Menonton. Anggota Komunitas Jnana, komunitas yang bertujuan untuk meningkatkan literasi warga Singaraja.

Related Posts

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

by Dian Suryantini
January 13, 2026
0
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

FILM pendek Anuja terasa seperti tamparan pelan tapi tepat sasaran. Film ini tidak berisik. Tapi berhasil membuat penontonnya terngiang. Saya...

Read moreDetails

Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

by Jaswanto
December 18, 2025
0
Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

ADA sebuah komentar dari netizen―yang saya lupa entah di mana―tentang drama Korea (drakor) berjudul “Taxi Driver”. Komentar itu begini, “Seandainya...

Read moreDetails

Dari Rumah Hantu ke Panti Jompo: Langkah Baru Film ‘Agak Laen’ yang Menggaet Jutaan Pasang Mata

by Vivit Arista Dewi
December 2, 2025
0
Dari Rumah Hantu ke Panti Jompo: Langkah Baru Film ‘Agak Laen’ yang Menggaet Jutaan Pasang Mata

Film Agak Laen kembali hadir dengan langkah yang jauh lebih berani dari sebelumnya. Setelah sukses mengacak-acak rumah hantu, kini mereka...

Read moreDetails

Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

by Bayu Wira Handyan
November 13, 2025
0
Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

SEDIKIT film di Indonesia yang berani menampilkan kemiskinan sebagaimana adanya—banal, kasar, tanpa romantisasi. Sebagian besar memilih jalan aman, menjadikan kemiskinan...

Read moreDetails

The Long Walk (2025): Ritus Kekejaman di Jalan Panjang Tak Berujung

by Bayu Wira Handyan
November 7, 2025
0
The Long Walk (2025): Ritus Kekejaman di Jalan Panjang Tak Berujung

ADA sesuatu yang menakutkan tentang jalanan yang lurus. Ia tidak menjanjikan sebuah tujuan, tetapi yang ia berikan adalah cakrawala yang...

Read moreDetails
Next Post
Blibli, Platform E-Commerce Penyedia Brand Produk Elektronik Terlengkap Dengan Gratis Ongkir

Blibli, Platform E-Commerce Penyedia Brand Produk Elektronik Terlengkap Dengan Gratis Ongkir

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co