15 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Osmosia: Menonton Sebuah Mimpi yang Tak Ingin Dijelaskan

Yoga Wismantara by Yoga Wismantara
August 17, 2025
in Ulas Film
Osmosia: Menonton Sebuah Mimpi yang Tak Ingin Dijelaskan

Pemutaran film Osmosia di Seririt | Foto: Singaraja Menonton

SAMPAI detik ini, pertanyaan itu masih mengganggu kepala saya. Apa itu Osmosia? Mengapa kata ini terdengar asing, seolah bukan berasal dari bahasa manapun? Saya mencarinya di kamus, nihil. Saya menelusuri memori, tetap kosong. Namun, justru kekosongan itulah yang membuatnya menggoda. Osmosia, sebuah kata yang seperti hendak menutup diri, tapi di saat bersamaan mengundang kita untuk mendekat.

Tanggal 23 Juni 2025. Malam hari di Seririt. Kedai Cana—sebuah tempat yang akrab bagi para penikmat kopi, musik, di Seririt—malam itu berubah fungsi. Layar putih terpasang, kursi-kursi ditata, dan suasana yang biasanya riuh dengan obrolan santai, kini berubah menjadi ruang menonton sederhana. Ada lima film pendek yang ditayangkan. Namun dari kelimanya, hanya satu yang benar-benar mencuri perhatian saya, Osmosia.

“Ini film eksperimental,” kata teman saya.

Eksperimental. Kata itu saja sudah cukup untuk membuat rasa penasaran saya melonjak. Selama ini, film yang saya kenal lebih banyak mengalir dengan cerita lurus—ada awal, konflik, dan penyelesaian. Namun eksperimental? Saya belum pernah sungguh-sungguh menyelami dunia itu. Maka dengan mobil putih, saya melaju menuju kedai, menatap jalanan malam dan membayangkan seperti apa rupa sebuah film yang disebut eksperimental?

Udara Seririt malam itu sejuk, tapi tidak menusuk. Saya membantu sebentar mempersiapkan pemutaran film, lalu menunggu. Waktu berjalan lambat. Di kedai, saya dan teman saya duduk, nongkrong, menatap jam, menunggu lagi. Rasanya seperti menanti sebuah peristiwa yang tidak bisa ditebak.

Pukul 19.30 WITA, akhirnya panggilan itu datang. Semua lampu dimatikan, layar menyala, suasana mendadak hening. Tidak ada hujan deras seperti tiga hari sebelumnya—malam itu, alam seolah ikut memberi restu agar film diputar dengan lancar.

Film dimulai. Bukan dengan gambar, melainkan dengan suara. Suara lantang, seperti sambutan untuk seseorang yang akan naik ke panggung. Tetapi panggung itu tidak pernah benar-benar muncul. Yang tampak justru layar kecil dengan rasio 9:16, berwarna biru. Di atasnya, ukiran Karang Boma, bergetar seperti hologram yang hampir pecah.

Layar itu memunculkan wajah-wajah. Arsip lama. Suara pembawa acara. Rekaman pemakaman. Nama yang berulang disebut – I Gde Dharna, seorang seniman Bali. Semuanya seperti potongan memori yang tidak utuh, kenangan yang dibiarkan retak, dan kita dipaksa menatapnya.

Ada rasa ganjil. Saya tak tahu apakah ini awal yang dimaksud, atau sekadar prolog. Namun sejak menit itu, saya tahu Osmosia bukan film yang mau memanjakan penontonnya.

Layar berganti merah menyala. Ruangan terasa ikut dipenuhi warna itu. Seorang perempuan berdiri di tengah padang gersang. Tatapan pertamanya membuat saya mengira dia adalah roh jahat, semacam entitas yang siap menakut-nakuti. Tetapi dugaan saya segera runtuh.

Dengan lantang, ia memperkenalkan dirinya sebagai Tumbuhan Merah. Dari mulutnya mengalun sebuah bacaan yang setengah nyanyian setengah mantra.

Gambar padi muncul, subak mengalir, simbol-simbol agraris Bali berkelebat seperti doa visual. Musik yang mengiringinya adalah pertemuan dua dunia, opera barat dan kidung Bali. Asing, tapi akrab. Seperti suara dari masa depan yang dibangun di atas ingatan masa lalu.

Potongan simbol lain berloncatan. Api yang melahap karya seni di dalam gua. Anak-anak yang berkisah tentang ayah mereka. Fragmen-fragmen yang kemudian bersatu menjadi adegan opera penuh warna.

Semua terasa seperti ritual—tapi ritual yang asing, tak pernah saya hadiri sebelumnya. Setiap gerak, setiap simbol, seolah punya arti. Namun tak ada keterangan. Tak ada teks yang membantu saya memahami.

Di situlah tantangannya. Penonton dipaksa untuk menafsirkan sendiri. Dan otak saya pun mulai bekerja liar. Saya membayangkan bahwa Osmosia adalah tentang awal pembentukan dunia. Sebuah kisah mitologis yang dikisahkan kembali melalui simbol dan suara. Apakah itu tafsir yang benar? Entahlah. Mungkin benar, mungkin meleset jauh. Tetapi justru di situlah letaknya. Film ini membuka pintu, dan kita yang memilih jalan.

Akhir film tiba tanpa kesimpulan. Tidak ada narasi yang merangkum, tidak ada teks penutup yang menjelaskan “ini maksudnya”. Yang tersisa hanyalah ruang kosong.

Saya teringat pada cara Junji Ito, mangaka horor Jepang, menutup kisah-kisahnya. Misteri selalu dibiarkan menggantung, membuat pembaca dihantui pertanyaan yang tak pernah selesai. Bedanya, jika Junji Ito menanamkan rasa takut, Osmosia justru menanamkan rasa hening.

Pemutaran film Osmosia di Seririt | Foto: Singaraja Menonton

Film ini bukan untuk memberi jawaban, melainkan untuk mengajak penontonnya berdialog dengan dirinya sendiri. Bukan sekadar tontonan, tapi percakapan batin yang masih berlangsung lama setelah layar padam.

Saya harus mengakui keberanian sutradara Fioretti Vera dan B.M Anggana. Mereka tidak mengikuti jalur dokumenter konvensional. Mereka mencampurkan arsip, opera, simbol-simbol alam, dan karakter seperti Tumbuhan Merah yang terasa mistis sekaligus puitis.

Adegan-adegan itu bukan sekadar rangkaian gambar, tapi semacam puisi visual yang bergerak. Saya masih mengingat layar biru kecil dengan wajah-wajah yang bergetar. Saya masih terbayang padi yang menari di layar, seakan-akan hendak berbicara kepada kita.

Namun di balik kekaguman itu, saya juga menemukan tantangan. Ada momen ketika peralihan dari arsip ke opera terasa terlalu tiba-tiba. Saya sempat tersesat, kehilangan pijakan. Beberapa simbol juga dibiarkan terlalu lama, hingga pikiran saya melayang ke hal lain.

Mungkin, jika sedikit saja ada pegangan—sepotong lirik, satu kalimat penghubung yang mengikat simbol dengan kisah I Gde Dharna—saya akan merasa lebih dekat. Tidak sekadar menatap bayangan, tetapi benar-benar menggenggam tangan tokoh yang diceritakan.

Osmosia rasanya seperti mimpi yang direkam kamera. Mimpi yang muncul saat kita demam. Kadang kaki menapak di tanah, kadang melayang entah kemana.

Film ini tidak menjawab pertanyaan “kenapa” atau “mengapa”. Film itu hanya memberikan jejak suara, warna, potongan wajah, simbol-simbol. Dan kita, para penonton, yang harus merangkai sendiri maknanya.

Apakah Osmosia bercerita tentang warisan seni I Gde Dharna? Tentang kehilangan? Tentang alam yang perlahan kehabisan suara? Mungkin ya, mungkin tidak. Yang jelas, film ini berhasil menanamkan rasa ingin tahu yang tidak habis setelah lampu kembali menyala.

Pukul 22.10 WITA, semua film sudah selesai. Diskusi dibuka. Saya berharap ada pencerahan. Tapi ternyata tidak banyak yang bisa saya tangkap. Para pembuat film tampaknya memang ingin Osmosia tetap menjadi misteri.

Mungkin memang begitu seharusnya. Tidak semua karya seni diciptakan untuk dijelaskan. Ada yang hanya untuk dirasakan, dipertanyakan, dan akhirnya dibiarkan menggantung.

Malam semakin larut. Saya pulang dengan mobil putih yang sama. Jalanan sepi. Dari balik kaca mobil, saya menatap lampu jalan yang sesekali menyala redup.

Dalam hati saya bergumam, mungkin saya tidak akan pernah tahu arti sesungguhnya dari Osmosia. Dan mungkin, memang begitu cara film ini bekerja. Tidak ingin dipahami tuntas. Tapi ingin kita terus memikirkannya.

Dan saya pun tersenyum kecil. Karena bukankah itu tujuan dari karya seni yang baik? Bukan sekadar menyenangkan mata, tapi juga mengganggu pikiran. [T]

Penulis: Gede Yoga Wismantara
Editor: Adnyana Ole

Artikel ini adalah hasil dari pelatihan pada Workshop Menulis Ulasan & Kritik Film yang diselenggarakan Singaraja Menonton, dan artikel ini ditayangkan atas kerjasama Singaraja Menonton dan tatkala.co.

  • BACA JUGA:
Film Pendek “Made”: Kerasnya Hidup Keluarga Kecil Menghadapi Perkembangan Teknologi
Belajar Tingwe dari Film “Rita Coba Rokok”—Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Kedai Umah Pradja, Singaraja
Mengutuk Pernikahan Usia Dini pada Film “Kembang Eleh” — Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Seririt
Sedih-Tegang dalam Instrumen Film “Metuun” dan “Nyambutin” — Dari Layar Kolektif Bali Utara di Tejakula
Tags: filmfilm pendekSingaraja Menonton
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mencegah Konflik Dokter Pasien

Next Post

Blibli, Platform E-Commerce Penyedia Brand Produk Elektronik Terlengkap Dengan Gratis Ongkir

Yoga Wismantara

Yoga Wismantara

Siswa dari SMK N 3 Singaraja, belajar menulis puisi di Klub Rabu Puisi, Komunitas Mahima. Salah satu dari peserta workshop menulis film yang diadakan oleh Komunitas Singaraja Menonton. Anggota Komunitas Jnana, komunitas yang bertujuan untuk meningkatkan literasi warga Singaraja.

Related Posts

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

by Dian Suryantini
January 13, 2026
0
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

FILM pendek Anuja terasa seperti tamparan pelan tapi tepat sasaran. Film ini tidak berisik. Tapi berhasil membuat penontonnya terngiang. Saya...

Read moreDetails
Next Post
Blibli, Platform E-Commerce Penyedia Brand Produk Elektronik Terlengkap Dengan Gratis Ongkir

Blibli, Platform E-Commerce Penyedia Brand Produk Elektronik Terlengkap Dengan Gratis Ongkir

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co