23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Beda Mulut, Beda Bicara

Angga Wijaya by Angga Wijaya
August 16, 2025
in Esai
Beda Mulut, Beda Bicara

Ilustrasi tatkala.co

SERINGKALI ketika berkumpul dengan kerabat atau sahabat, topik pembicaraan menyangkut orang lain, keluarga atau teman dekat. Budaya “ngomongin orang lain” tampaknya sudah melekat. Rasanya ada yang kurang jika pertemuan tanpa membahas kabar orang lain.

Kalau sekadar menanyakan kabar, itu wajar. Tapi ketika obrolan bergeser ke kekurangan atau keburukan, di situlah bahaya muncul. Ada istilah lama, yakni “termakan omongan”. Artinya, kita mudah hanyut oleh perkataan orang lain tentang saudara, kerabat, atau teman yang menjadi objek gosip.

Kita sering ikut menimpali, menambahkan pengalaman atau informasi yang kita tahu. Obrolan pun terasa hangat, bahkan seru. Tapi jika gosip menyasar diri kita sendiri, kemarahan, kesal, atau sedih bisa muncul begitu saja.

Padahal, jika kita cek dan ricek, kabar itu belum tentu benar. Omongan sering sudah “dibumbui” sedemikian rupa. Lidah yang “tidak bertulang” ini bisa dipakai untuk kebaikan, tapi juga untuk mengadu domba. Omongan yang satu bisa melebar menjadi cerita lain, berubah bentuk sesuai kepentingan si pembicara. Tahu bisa menjadi pizza, pizza bisa menjadi martabak, dan tiba-tiba kita semua ikut makan “cerita” itu.

Saya pernah menyaksikan sendiri bagaimana gosip bisa mengubah persepsi sekelompok orang. Dalam sebuah pertemuan keluarga, ada isu tentang seorang anggota keluarga yang kabarnya melakukan kesalahan. Cerita itu berkembang begitu cepat, setiap orang menambahkan versi mereka sendiri. Akhirnya, fakta asli hampir tidak terdengar, dan suasana menjadi tegang. Ini bukan sekadar soal salah paham, tapi tentang bagaimana lidah yang tidak terkendali mampu merusak persatuan keluarga yang terbangun sejak lama.

Tak heran jika seorang mistik kontemporer India membuat pedoman bagi muridnya. Pedoman pertama: tidak membicarakan orang lain, terutama jika mereka tidak ada. Lidah, kata dia, adalah hal pertama yang harus dikendalikan.

Saat kita berkumpul dan membicarakan orang lain, energi yang terasa sering negatif. Fakta bisa kabur atau sengaja dikaburkan. Lidah yang tak terkendali bisa menjadi fitnah yang merusak persahabatan, pertemanan, bahkan ikatan keluarga.

Dalam antropologi, gosip bukan sekadar obrolan ringan. Ia memiliki fungsi sosial yang kompleks. Banyak antropolog menyebutnya sebagai mekanisme pengaturan sosial–cara masyarakat menegakkan norma, mengawasi perilaku anggota, dan memperkuat ikatan komunitas.

Di masyarakat tradisional, gosip bisa menjadi pengingat perilaku yang diharapkan, menyebarkan kabar penting, atau menegaskan batasan antara anggota dan non-anggota komunitas. Misalnya, dalam beberapa studi etnografi, gosip digunakan untuk memberi “peringatan sosial” kepada mereka yang melanggar aturan adat. Tanpa sanksi formal, kabar yang beredar melalui gosip cukup efektif membuat individu sadar akan tanggung jawab sosialnya.

Namun, gosip juga bisa menjadi alat kekuasaan dan manipulasi. Mereka yang lihai berbicara atau memiliki akses informasi sensitif dapat memengaruhi opini orang lain, membentuk reputasi seseorang secara tidak adil. Fenomena ini menunjukkan bahwa gosip adalah cermin relasi sosial, bukan sekadar hiburan ringan.

Di era digital, gosip berkembang lebih cepat. Media sosial membuatnya tersebar luas, tetapi dampaknya tetap sama, yaitu memperkuat ikatan kelompok, tapi juga bisa menimbulkan konflik. Terkadang, gosip digital lebih kejam karena sulit dikontrol dan bisa menjangkau orang yang tidak pernah kita kenal secara langsung. Setiap like, share, atau komentar menjadi bagian dari rantai informasi yang membesar dan seringkali tidak lagi mengenal kebenaran.

Meski fungsinya jelas, gosip memiliki dampak buruk yang nyata. Ia bisa merusak hubungan sosial, menimbulkan konflik, atau memicu retaknya persahabatan dan keluarga. Omongan yang dibumbui membuat fakta kabur dan masyarakat salah persepsi. Orang yang menjadi objek gosip sering merasa diawasi, dikritik, atau dikucilkan, menimbulkan stres dan isolasi. Gosip juga bisa memperkuat prasangka, stigma, dan stereotip dalam kelompok masyarakat. Dalam jangka panjang, kepercayaan antar anggota komunitas bisa menurun, dan energi sosial habis untuk konflik dan kecurigaan.

Selain itu, gosip dapat mengubah perilaku orang. Individu yang sering menjadi objek gosip mungkin mulai menahan diri, tidak lagi terbuka, atau bahkan mengubah cara mereka bersosialisasi. Secara psikologis, ini bisa menimbulkan ketidakpercayaan dan ketegangan sosial. Secara budaya, gosip yang tersebar luas dapat membentuk pandangan kolektif yang salah terhadap seseorang atau kelompok, bahkan mempengaruhi reputasi komunitas secara keseluruhan.

Dari perspektif antropologi, gosip memiliki dualitas. Di satu sisi alat pengikat sosial, di sisi lain senjata yang merusak tatanan masyarakat. Kesadaran ini mendorong kita untuk lebih bijak dalam berbicara, lebih kritis dalam mendengar, dan selalu melakukan konfirmasi sebelum mempercayai kabar tentang orang lain.

Jauh sebelum istilah hoaks atau berita bohong dikenal, kata “membual” sudah ada: omongan yang tampak menarik tapi kosong, penuh kebohongan dan keculasan. Memahami gosip sebagai fenomena sosial dan budaya mengingatkan kita bahwa lidah yang terkendali bukan sekadar soal etika, tapi juga menjaga harmoni, hubungan, dan energi positif di sekitar kita.

Di dunia yang cepat bergerak ini, lidah yang terkendali menjadi alat sederhana namun kuat untuk menahan fitnah, menjaga persahabatan, dan memberi ruang bagi percakapan yang membangun. Jadi, sebelum bicara tentang orang lain, tanyakan pada diri sendiri, apakah lidah kita membawa kebaikan, atau bara yang siap membakar hubungan?

Dan ingat, lidah bisa membuat kita tersedak jika tidak hati-hati. Bicara itu seperti menyeruput kopi panas; nikmati, tapi jangan sampai terbakar. Lebih dari itu, gosip juga memberi kita kesempatan untuk refleksi. Kita bisa belajar tentang diri sendiri, bahwa seberapa sering kita ikut menyebarkan cerita tanpa cek fakta, seberapa mudah kita termakan kabar yang belum tentu benar. Kesadaran ini adalah langkah pertama untuk menumbuhkan komunitas yang lebih sehat, hubungan yang lebih tulus, dan lingkungan sosial yang lebih damai. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
“Masiat Paturu Bali”, Ketika Saudara Menjadi Lawan
Menghapus Stigma Anak Muda Bali Apatis
Anjing Jalanan dan Wajah Paradoks Bali
Dea dan Buku-Buku yang Bersayap: Kisah dari Big Bad Wolf Bali 2025
Tags: gosipkomunikasirumor
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Jolly Roger “One Piece” Berkibar di Hari Kemerdekaan

Next Post

Mengintip Kesejukan “Kota Tembakau” di Lereng Sindoro-Sumbing

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Mengintip Kesejukan “Kota Tembakau” di Lereng Sindoro-Sumbing

Mengintip Kesejukan “Kota Tembakau” di Lereng Sindoro-Sumbing

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co