24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Beda Mulut, Beda Bicara

Angga Wijaya by Angga Wijaya
August 16, 2025
in Esai
Beda Mulut, Beda Bicara

Ilustrasi tatkala.co

SERINGKALI ketika berkumpul dengan kerabat atau sahabat, topik pembicaraan menyangkut orang lain, keluarga atau teman dekat. Budaya “ngomongin orang lain” tampaknya sudah melekat. Rasanya ada yang kurang jika pertemuan tanpa membahas kabar orang lain.

Kalau sekadar menanyakan kabar, itu wajar. Tapi ketika obrolan bergeser ke kekurangan atau keburukan, di situlah bahaya muncul. Ada istilah lama, yakni “termakan omongan”. Artinya, kita mudah hanyut oleh perkataan orang lain tentang saudara, kerabat, atau teman yang menjadi objek gosip.

Kita sering ikut menimpali, menambahkan pengalaman atau informasi yang kita tahu. Obrolan pun terasa hangat, bahkan seru. Tapi jika gosip menyasar diri kita sendiri, kemarahan, kesal, atau sedih bisa muncul begitu saja.

Padahal, jika kita cek dan ricek, kabar itu belum tentu benar. Omongan sering sudah “dibumbui” sedemikian rupa. Lidah yang “tidak bertulang” ini bisa dipakai untuk kebaikan, tapi juga untuk mengadu domba. Omongan yang satu bisa melebar menjadi cerita lain, berubah bentuk sesuai kepentingan si pembicara. Tahu bisa menjadi pizza, pizza bisa menjadi martabak, dan tiba-tiba kita semua ikut makan “cerita” itu.

Saya pernah menyaksikan sendiri bagaimana gosip bisa mengubah persepsi sekelompok orang. Dalam sebuah pertemuan keluarga, ada isu tentang seorang anggota keluarga yang kabarnya melakukan kesalahan. Cerita itu berkembang begitu cepat, setiap orang menambahkan versi mereka sendiri. Akhirnya, fakta asli hampir tidak terdengar, dan suasana menjadi tegang. Ini bukan sekadar soal salah paham, tapi tentang bagaimana lidah yang tidak terkendali mampu merusak persatuan keluarga yang terbangun sejak lama.

Tak heran jika seorang mistik kontemporer India membuat pedoman bagi muridnya. Pedoman pertama: tidak membicarakan orang lain, terutama jika mereka tidak ada. Lidah, kata dia, adalah hal pertama yang harus dikendalikan.

Saat kita berkumpul dan membicarakan orang lain, energi yang terasa sering negatif. Fakta bisa kabur atau sengaja dikaburkan. Lidah yang tak terkendali bisa menjadi fitnah yang merusak persahabatan, pertemanan, bahkan ikatan keluarga.

Dalam antropologi, gosip bukan sekadar obrolan ringan. Ia memiliki fungsi sosial yang kompleks. Banyak antropolog menyebutnya sebagai mekanisme pengaturan sosial–cara masyarakat menegakkan norma, mengawasi perilaku anggota, dan memperkuat ikatan komunitas.

Di masyarakat tradisional, gosip bisa menjadi pengingat perilaku yang diharapkan, menyebarkan kabar penting, atau menegaskan batasan antara anggota dan non-anggota komunitas. Misalnya, dalam beberapa studi etnografi, gosip digunakan untuk memberi “peringatan sosial” kepada mereka yang melanggar aturan adat. Tanpa sanksi formal, kabar yang beredar melalui gosip cukup efektif membuat individu sadar akan tanggung jawab sosialnya.

Namun, gosip juga bisa menjadi alat kekuasaan dan manipulasi. Mereka yang lihai berbicara atau memiliki akses informasi sensitif dapat memengaruhi opini orang lain, membentuk reputasi seseorang secara tidak adil. Fenomena ini menunjukkan bahwa gosip adalah cermin relasi sosial, bukan sekadar hiburan ringan.

Di era digital, gosip berkembang lebih cepat. Media sosial membuatnya tersebar luas, tetapi dampaknya tetap sama, yaitu memperkuat ikatan kelompok, tapi juga bisa menimbulkan konflik. Terkadang, gosip digital lebih kejam karena sulit dikontrol dan bisa menjangkau orang yang tidak pernah kita kenal secara langsung. Setiap like, share, atau komentar menjadi bagian dari rantai informasi yang membesar dan seringkali tidak lagi mengenal kebenaran.

Meski fungsinya jelas, gosip memiliki dampak buruk yang nyata. Ia bisa merusak hubungan sosial, menimbulkan konflik, atau memicu retaknya persahabatan dan keluarga. Omongan yang dibumbui membuat fakta kabur dan masyarakat salah persepsi. Orang yang menjadi objek gosip sering merasa diawasi, dikritik, atau dikucilkan, menimbulkan stres dan isolasi. Gosip juga bisa memperkuat prasangka, stigma, dan stereotip dalam kelompok masyarakat. Dalam jangka panjang, kepercayaan antar anggota komunitas bisa menurun, dan energi sosial habis untuk konflik dan kecurigaan.

Selain itu, gosip dapat mengubah perilaku orang. Individu yang sering menjadi objek gosip mungkin mulai menahan diri, tidak lagi terbuka, atau bahkan mengubah cara mereka bersosialisasi. Secara psikologis, ini bisa menimbulkan ketidakpercayaan dan ketegangan sosial. Secara budaya, gosip yang tersebar luas dapat membentuk pandangan kolektif yang salah terhadap seseorang atau kelompok, bahkan mempengaruhi reputasi komunitas secara keseluruhan.

Dari perspektif antropologi, gosip memiliki dualitas. Di satu sisi alat pengikat sosial, di sisi lain senjata yang merusak tatanan masyarakat. Kesadaran ini mendorong kita untuk lebih bijak dalam berbicara, lebih kritis dalam mendengar, dan selalu melakukan konfirmasi sebelum mempercayai kabar tentang orang lain.

Jauh sebelum istilah hoaks atau berita bohong dikenal, kata “membual” sudah ada: omongan yang tampak menarik tapi kosong, penuh kebohongan dan keculasan. Memahami gosip sebagai fenomena sosial dan budaya mengingatkan kita bahwa lidah yang terkendali bukan sekadar soal etika, tapi juga menjaga harmoni, hubungan, dan energi positif di sekitar kita.

Di dunia yang cepat bergerak ini, lidah yang terkendali menjadi alat sederhana namun kuat untuk menahan fitnah, menjaga persahabatan, dan memberi ruang bagi percakapan yang membangun. Jadi, sebelum bicara tentang orang lain, tanyakan pada diri sendiri, apakah lidah kita membawa kebaikan, atau bara yang siap membakar hubungan?

Dan ingat, lidah bisa membuat kita tersedak jika tidak hati-hati. Bicara itu seperti menyeruput kopi panas; nikmati, tapi jangan sampai terbakar. Lebih dari itu, gosip juga memberi kita kesempatan untuk refleksi. Kita bisa belajar tentang diri sendiri, bahwa seberapa sering kita ikut menyebarkan cerita tanpa cek fakta, seberapa mudah kita termakan kabar yang belum tentu benar. Kesadaran ini adalah langkah pertama untuk menumbuhkan komunitas yang lebih sehat, hubungan yang lebih tulus, dan lingkungan sosial yang lebih damai. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
“Masiat Paturu Bali”, Ketika Saudara Menjadi Lawan
Menghapus Stigma Anak Muda Bali Apatis
Anjing Jalanan dan Wajah Paradoks Bali
Dea dan Buku-Buku yang Bersayap: Kisah dari Big Bad Wolf Bali 2025
Tags: gosipkomunikasirumor
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Jolly Roger “One Piece” Berkibar di Hari Kemerdekaan

Next Post

Mengintip Kesejukan “Kota Tembakau” di Lereng Sindoro-Sumbing

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Mengintip Kesejukan “Kota Tembakau” di Lereng Sindoro-Sumbing

Mengintip Kesejukan “Kota Tembakau” di Lereng Sindoro-Sumbing

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co