24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sekeruh Bibir Pantai | Cerpen IBW Widiasa Keniten          

IBW Widiasa Keniten by IBW Widiasa Keniten
August 10, 2025
in Cerpen
Sekeruh Bibir Pantai | Cerpen IBW Widiasa Keniten          

Ilustrasi tatkala.co

BIBIR pantai yang dulunya ditumbuhi pohon bakau kini semakin keruh. Perlahan-lahan, namun pasti pohon bakau semakin menipis. Orang-orang yang tak kukenal mulai menebas batang-batang bakau tanpa belas kasihan. Padahal, ia sendiri tak pernah menanaminya. Ia sudah menerima dari alam. Alam menyayangi bibir pantai. Pohon-pohon bakau dibabat. Kudengar ada rencana pembangunan peristirahatan para pejabat. Jika ada tamu besar, bisa menginap di sana. Segala fasilitas berstandar internasional telah dipetakan. Keamanan dan keselamatan menjadi prioritas utama.

Ikan-ikan kecil tak lagi kutemui. Menghilang entah ke mana? Warna-warninya tak lagi menghiasinya mungkin habitatnya sudah tak bagus lagi untuk hidup. Hidup perlu kenyamanan dan memberi ketenangan saat menjalankan kehidupan. Deburan ombak semakin keras terdengar. Jika dulu, deburan agak menjauh dan pelan, sekarang semakin dekat dan mendekat. Gerusan demi gerusan menelan bibir pantaiku. Jika musim hujan, sampah-sampah menghiasi bibir pantai. Sampah plastik bercampur dengan sampah organik. Entah dari mana datangnya. Katanya kiriman. Tapi, kenapa sampah yang dikirim? Apa bibir pantaiku tempat pembuangan akhir?

Kuberanikan diri menanyakan pada orang-orang yang tak kukenal. “Kenapa dibabat bakau ini? Jika terjadi abrasi seperti ini, siapa yang bertanggung jawab?”

Orang-orang itu nyengir. “Jangan tanyakan hal itu pada kami. Kami perlu mengisi perut. Ini syukur ada tempat kerja baru. Jika tidak, kami bisa mati kelaparan. Sudahlah Pak, jangan pikirkan lagi tentang tempat ini. Ikuti saja alurnya. Sebaiknya Bapak mengurusi yang lain saja.”

Aku merasa tersinggung dengan sikapnya. Aku ambil sabitnya kuhadapkan ke tubuhnya. Coba rasakan apa yang sakit jika tubuh Bapak terkena sabit ini?”

Ia tatap wajahku. Ia tak merasa takut terhadapku. Bahkan ia rasakan kelucuan akan sikapku. “Pak, zaman sekarang tak usah terlalu idealis. Yang menyuruh ini juga bukan orang sembarangan. Kami tak ada apa-apanya. Kami hanya pekerja. Tak ada manfaatnya Bapak menggertak kami. Bagi kami, perut terisi sudah merasa bersyukur.”

Kukendorkan tanganku. Ia orang-orang tak bersalah, tapi sengaja dibuatkan agar ia yang menghadapi kenyataan. Semakin hari semakin  lapang bibir pantaiku yang dulunya rimbun dengan bakau. Alat-alat berat mulai berderet yang siap melakukan eksekusi kehidupan yang ada. Pasir-pasir mulai dikeruk. Tiang-tiang beton mulai dipancangkan. Para pekerja siang malam melakukan tugasnya. Kulihat beberapa orang memberikan instruksi tentang pembangunan. Aku mematung di kejauhan karena ada larangan, selain pekerja tidak boleh masuk.

Kudatangi teman-teman kecilku yang sudah memegang jabatan. Kukatakan bibir pantai tempat bermain dulu sedang berubah wajahnya. Tak ada reaksi apapun. Aku tahu, ia juga ingin menyelamatkan jabatannya. Jabatan itu gengsi yang perlu terus dijaga keamanannya. “Maaf, tidak bisa membantu. Mungkin nasib pantai kita memang sampai di situ?”

Aku kaget dengan jawabannya. Jawaban pasrah. Jawaban kekalahan. Jawaban menyelamtakan dirinya. Idealisme bisa berubah karena tempat yang memberi kenyamanan. Aku tinggalkan teman-temanku. Aku seruduk larangan tak boleh masuk. Aku datangi orang-orang yang mengaku kontraktor itu. “Pak ini daerah larangan membangun. Kenapa berani Bapak membangun seperti ini?”

Ia tertawa terbahak-bahak. Yang nyuruh bukan orang sekecil Bapak. Kami hanya kontraktor. Apa sih yang tidak bisa berubah di negeri ini? Bapak tenang saja. Tak usah merisaukan pantai Bapak ini. Toh laut dan pantai ini bukan milik Bapak?”

Aku benar-benar tersinggung dibuatnya. Kupegang kerah bajunya. Ia tak melawan. “Percuma Bapak berlaku seperti ini. Kami menerima perintah. Bapak pun jika seperti saya akan berbuat sama. Jangan-jangan bisa melebihi dari ini. Laut dan pantai ini sudah dikapling-kapling Pak. Cuma sayang Bapak tidak dapat kaplingannya karena Bapak sering melawan. Jika saja Bapak tidak suka melawan dan mau manggut-manggut saja, tentu Bapak akan bisa hidup nyaman dan dapat kaplingan juga. Lihat itu sudah mulai diratakan biar lebih luas. Sudahlah Pak, jangan memikirkan yang tidak perlu dipikirkan. Biarkan kami bekerja.”

Aku marah dengan diriku sendiri. Kenapa tidak bisa berbuat apapun demi menyelamatkan laut dan pantai yang telah banyak menghidupiku selama ini. Aku mau mengadu, kepada siapa terus mengadu? Tak ada tempat buatku. Sudahlah pasrah saja. Tapi, pasrah bukan sikapku. Aku adukan pada gelombang. Kuadukan pada deburan ombak. Kuadukan pada Dewa Baruna. Aku duduk di bibir pantai yang semakin keruh dengan beragam keinginan. “Dewa Baruna lihatlah bibir pantai ini semakin keruh. Jika bibir sudah keruh, tentu kata-kata tak sedap akan bergemuruh. Sementara selama ini, satupun tak ada yang berani melawan. Apa Dewa Laut tak merasa sakit melihat bibir-Mu dikotori?”

Gelombang tiba-tiba meninggi. Ombak bergemuruh menghantam setiap yang ada di depannya. Kemarahan kulihat di setiap buih putihnya. Ia membentur-bentur bangunan-bangunan itu. Kulihat para pekerja berlari. Ia seperti dikejar barisan gelombang. Kulihat satu dua pekerja ditelan gelombang. Berita mengenai keganasan laut menghiasi media sosial. Beragam komentar muncul. Ada yang menyayangkan pohon bakau dibabat ada juga mengatakan memang musim sekarang ini lagi tidak baik-baik saja. Aku sendiri tak berkomentar karena bibirku sudah kurasakan semakin kelu dan keruh seperti bibir pantaiku. [T]

Penulis: IBW Widiasa Keniten
Editor: Made Adnyana Ole

  • KLIK untuk BACA cerpen lain
Cerita Kematian Sebatang Pohon | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Seorang Kakek yang Tak Henti Bercerita | Cerpen I Wayan Paing
Perempuan Bercahaya Rembulan | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tiga Sajak Angga Wijaya | Selasar Waktu, Ruang Abimanyu, Sajak Kiri untuk Sahabat

Next Post

Tari Kecak Singa Mandawa Blangsinga: Warisan Budaya Bali yang Terus Hidup

IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten

Ida Bagus Wayan Widiasa Keniten lahir di Geria Gelumpang, Karangasem. 20 Januari 1967. Buku-buku yang sudah ditulisnya berupa karya sastra maupun kajian sastra. Pemenang Pertama Guru Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2013 dan Penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Pendidikan Tahun 2013 dari Presiden, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu, 27 November 2013 di Istora Senayan Jakarta. Tahun 2014 ikut Program Kunjungan (Benchmarking) ke Jerman, selanjutnya ke Paris (Prancis), Belgia, dan Amsterdam (Belanda). 2014 menerima penghargaan Widya Kusuma dari Gubernur Bali. Tahun 2015 memeroleh Widya Pataka atas bukunya Jro Lalung Ngutah.

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
Tari Kecak Singa Mandawa Blangsinga: Warisan Budaya Bali yang Terus Hidup

Tari Kecak Singa Mandawa Blangsinga: Warisan Budaya Bali yang Terus Hidup

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co