26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sekeruh Bibir Pantai | Cerpen IBW Widiasa Keniten          

IBW Widiasa Keniten by IBW Widiasa Keniten
August 10, 2025
in Cerpen
Sekeruh Bibir Pantai | Cerpen IBW Widiasa Keniten          

Ilustrasi tatkala.co

BIBIR pantai yang dulunya ditumbuhi pohon bakau kini semakin keruh. Perlahan-lahan, namun pasti pohon bakau semakin menipis. Orang-orang yang tak kukenal mulai menebas batang-batang bakau tanpa belas kasihan. Padahal, ia sendiri tak pernah menanaminya. Ia sudah menerima dari alam. Alam menyayangi bibir pantai. Pohon-pohon bakau dibabat. Kudengar ada rencana pembangunan peristirahatan para pejabat. Jika ada tamu besar, bisa menginap di sana. Segala fasilitas berstandar internasional telah dipetakan. Keamanan dan keselamatan menjadi prioritas utama.

Ikan-ikan kecil tak lagi kutemui. Menghilang entah ke mana? Warna-warninya tak lagi menghiasinya mungkin habitatnya sudah tak bagus lagi untuk hidup. Hidup perlu kenyamanan dan memberi ketenangan saat menjalankan kehidupan. Deburan ombak semakin keras terdengar. Jika dulu, deburan agak menjauh dan pelan, sekarang semakin dekat dan mendekat. Gerusan demi gerusan menelan bibir pantaiku. Jika musim hujan, sampah-sampah menghiasi bibir pantai. Sampah plastik bercampur dengan sampah organik. Entah dari mana datangnya. Katanya kiriman. Tapi, kenapa sampah yang dikirim? Apa bibir pantaiku tempat pembuangan akhir?

Kuberanikan diri menanyakan pada orang-orang yang tak kukenal. “Kenapa dibabat bakau ini? Jika terjadi abrasi seperti ini, siapa yang bertanggung jawab?”

Orang-orang itu nyengir. “Jangan tanyakan hal itu pada kami. Kami perlu mengisi perut. Ini syukur ada tempat kerja baru. Jika tidak, kami bisa mati kelaparan. Sudahlah Pak, jangan pikirkan lagi tentang tempat ini. Ikuti saja alurnya. Sebaiknya Bapak mengurusi yang lain saja.”

Aku merasa tersinggung dengan sikapnya. Aku ambil sabitnya kuhadapkan ke tubuhnya. Coba rasakan apa yang sakit jika tubuh Bapak terkena sabit ini?”

Ia tatap wajahku. Ia tak merasa takut terhadapku. Bahkan ia rasakan kelucuan akan sikapku. “Pak, zaman sekarang tak usah terlalu idealis. Yang menyuruh ini juga bukan orang sembarangan. Kami tak ada apa-apanya. Kami hanya pekerja. Tak ada manfaatnya Bapak menggertak kami. Bagi kami, perut terisi sudah merasa bersyukur.”

Kukendorkan tanganku. Ia orang-orang tak bersalah, tapi sengaja dibuatkan agar ia yang menghadapi kenyataan. Semakin hari semakin  lapang bibir pantaiku yang dulunya rimbun dengan bakau. Alat-alat berat mulai berderet yang siap melakukan eksekusi kehidupan yang ada. Pasir-pasir mulai dikeruk. Tiang-tiang beton mulai dipancangkan. Para pekerja siang malam melakukan tugasnya. Kulihat beberapa orang memberikan instruksi tentang pembangunan. Aku mematung di kejauhan karena ada larangan, selain pekerja tidak boleh masuk.

Kudatangi teman-teman kecilku yang sudah memegang jabatan. Kukatakan bibir pantai tempat bermain dulu sedang berubah wajahnya. Tak ada reaksi apapun. Aku tahu, ia juga ingin menyelamatkan jabatannya. Jabatan itu gengsi yang perlu terus dijaga keamanannya. “Maaf, tidak bisa membantu. Mungkin nasib pantai kita memang sampai di situ?”

Aku kaget dengan jawabannya. Jawaban pasrah. Jawaban kekalahan. Jawaban menyelamtakan dirinya. Idealisme bisa berubah karena tempat yang memberi kenyamanan. Aku tinggalkan teman-temanku. Aku seruduk larangan tak boleh masuk. Aku datangi orang-orang yang mengaku kontraktor itu. “Pak ini daerah larangan membangun. Kenapa berani Bapak membangun seperti ini?”

Ia tertawa terbahak-bahak. Yang nyuruh bukan orang sekecil Bapak. Kami hanya kontraktor. Apa sih yang tidak bisa berubah di negeri ini? Bapak tenang saja. Tak usah merisaukan pantai Bapak ini. Toh laut dan pantai ini bukan milik Bapak?”

Aku benar-benar tersinggung dibuatnya. Kupegang kerah bajunya. Ia tak melawan. “Percuma Bapak berlaku seperti ini. Kami menerima perintah. Bapak pun jika seperti saya akan berbuat sama. Jangan-jangan bisa melebihi dari ini. Laut dan pantai ini sudah dikapling-kapling Pak. Cuma sayang Bapak tidak dapat kaplingannya karena Bapak sering melawan. Jika saja Bapak tidak suka melawan dan mau manggut-manggut saja, tentu Bapak akan bisa hidup nyaman dan dapat kaplingan juga. Lihat itu sudah mulai diratakan biar lebih luas. Sudahlah Pak, jangan memikirkan yang tidak perlu dipikirkan. Biarkan kami bekerja.”

Aku marah dengan diriku sendiri. Kenapa tidak bisa berbuat apapun demi menyelamatkan laut dan pantai yang telah banyak menghidupiku selama ini. Aku mau mengadu, kepada siapa terus mengadu? Tak ada tempat buatku. Sudahlah pasrah saja. Tapi, pasrah bukan sikapku. Aku adukan pada gelombang. Kuadukan pada deburan ombak. Kuadukan pada Dewa Baruna. Aku duduk di bibir pantai yang semakin keruh dengan beragam keinginan. “Dewa Baruna lihatlah bibir pantai ini semakin keruh. Jika bibir sudah keruh, tentu kata-kata tak sedap akan bergemuruh. Sementara selama ini, satupun tak ada yang berani melawan. Apa Dewa Laut tak merasa sakit melihat bibir-Mu dikotori?”

Gelombang tiba-tiba meninggi. Ombak bergemuruh menghantam setiap yang ada di depannya. Kemarahan kulihat di setiap buih putihnya. Ia membentur-bentur bangunan-bangunan itu. Kulihat para pekerja berlari. Ia seperti dikejar barisan gelombang. Kulihat satu dua pekerja ditelan gelombang. Berita mengenai keganasan laut menghiasi media sosial. Beragam komentar muncul. Ada yang menyayangkan pohon bakau dibabat ada juga mengatakan memang musim sekarang ini lagi tidak baik-baik saja. Aku sendiri tak berkomentar karena bibirku sudah kurasakan semakin kelu dan keruh seperti bibir pantaiku. [T]

Penulis: IBW Widiasa Keniten
Editor: Made Adnyana Ole

  • KLIK untuk BACA cerpen lain
Cerita Kematian Sebatang Pohon | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Seorang Kakek yang Tak Henti Bercerita | Cerpen I Wayan Paing
Perempuan Bercahaya Rembulan | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tiga Sajak Angga Wijaya | Selasar Waktu, Ruang Abimanyu, Sajak Kiri untuk Sahabat

Next Post

Tari Kecak Singa Mandawa Blangsinga: Warisan Budaya Bali yang Terus Hidup

IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten

Ida Bagus Wayan Widiasa Keniten lahir di Geria Gelumpang, Karangasem. 20 Januari 1967. Buku-buku yang sudah ditulisnya berupa karya sastra maupun kajian sastra. Pemenang Pertama Guru Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2013 dan Penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Pendidikan Tahun 2013 dari Presiden, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu, 27 November 2013 di Istora Senayan Jakarta. Tahun 2014 ikut Program Kunjungan (Benchmarking) ke Jerman, selanjutnya ke Paris (Prancis), Belgia, dan Amsterdam (Belanda). 2014 menerima penghargaan Widya Kusuma dari Gubernur Bali. Tahun 2015 memeroleh Widya Pataka atas bukunya Jro Lalung Ngutah.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Tari Kecak Singa Mandawa Blangsinga: Warisan Budaya Bali yang Terus Hidup

Tari Kecak Singa Mandawa Blangsinga: Warisan Budaya Bali yang Terus Hidup

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co