14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sekeruh Bibir Pantai | Cerpen IBW Widiasa Keniten          

IBW Widiasa Keniten by IBW Widiasa Keniten
August 10, 2025
in Cerpen
Sekeruh Bibir Pantai | Cerpen IBW Widiasa Keniten          

Ilustrasi tatkala.co

BIBIR pantai yang dulunya ditumbuhi pohon bakau kini semakin keruh. Perlahan-lahan, namun pasti pohon bakau semakin menipis. Orang-orang yang tak kukenal mulai menebas batang-batang bakau tanpa belas kasihan. Padahal, ia sendiri tak pernah menanaminya. Ia sudah menerima dari alam. Alam menyayangi bibir pantai. Pohon-pohon bakau dibabat. Kudengar ada rencana pembangunan peristirahatan para pejabat. Jika ada tamu besar, bisa menginap di sana. Segala fasilitas berstandar internasional telah dipetakan. Keamanan dan keselamatan menjadi prioritas utama.

Ikan-ikan kecil tak lagi kutemui. Menghilang entah ke mana? Warna-warninya tak lagi menghiasinya mungkin habitatnya sudah tak bagus lagi untuk hidup. Hidup perlu kenyamanan dan memberi ketenangan saat menjalankan kehidupan. Deburan ombak semakin keras terdengar. Jika dulu, deburan agak menjauh dan pelan, sekarang semakin dekat dan mendekat. Gerusan demi gerusan menelan bibir pantaiku. Jika musim hujan, sampah-sampah menghiasi bibir pantai. Sampah plastik bercampur dengan sampah organik. Entah dari mana datangnya. Katanya kiriman. Tapi, kenapa sampah yang dikirim? Apa bibir pantaiku tempat pembuangan akhir?

Kuberanikan diri menanyakan pada orang-orang yang tak kukenal. “Kenapa dibabat bakau ini? Jika terjadi abrasi seperti ini, siapa yang bertanggung jawab?”

Orang-orang itu nyengir. “Jangan tanyakan hal itu pada kami. Kami perlu mengisi perut. Ini syukur ada tempat kerja baru. Jika tidak, kami bisa mati kelaparan. Sudahlah Pak, jangan pikirkan lagi tentang tempat ini. Ikuti saja alurnya. Sebaiknya Bapak mengurusi yang lain saja.”

Aku merasa tersinggung dengan sikapnya. Aku ambil sabitnya kuhadapkan ke tubuhnya. Coba rasakan apa yang sakit jika tubuh Bapak terkena sabit ini?”

Ia tatap wajahku. Ia tak merasa takut terhadapku. Bahkan ia rasakan kelucuan akan sikapku. “Pak, zaman sekarang tak usah terlalu idealis. Yang menyuruh ini juga bukan orang sembarangan. Kami tak ada apa-apanya. Kami hanya pekerja. Tak ada manfaatnya Bapak menggertak kami. Bagi kami, perut terisi sudah merasa bersyukur.”

Kukendorkan tanganku. Ia orang-orang tak bersalah, tapi sengaja dibuatkan agar ia yang menghadapi kenyataan. Semakin hari semakin  lapang bibir pantaiku yang dulunya rimbun dengan bakau. Alat-alat berat mulai berderet yang siap melakukan eksekusi kehidupan yang ada. Pasir-pasir mulai dikeruk. Tiang-tiang beton mulai dipancangkan. Para pekerja siang malam melakukan tugasnya. Kulihat beberapa orang memberikan instruksi tentang pembangunan. Aku mematung di kejauhan karena ada larangan, selain pekerja tidak boleh masuk.

Kudatangi teman-teman kecilku yang sudah memegang jabatan. Kukatakan bibir pantai tempat bermain dulu sedang berubah wajahnya. Tak ada reaksi apapun. Aku tahu, ia juga ingin menyelamatkan jabatannya. Jabatan itu gengsi yang perlu terus dijaga keamanannya. “Maaf, tidak bisa membantu. Mungkin nasib pantai kita memang sampai di situ?”

Aku kaget dengan jawabannya. Jawaban pasrah. Jawaban kekalahan. Jawaban menyelamtakan dirinya. Idealisme bisa berubah karena tempat yang memberi kenyamanan. Aku tinggalkan teman-temanku. Aku seruduk larangan tak boleh masuk. Aku datangi orang-orang yang mengaku kontraktor itu. “Pak ini daerah larangan membangun. Kenapa berani Bapak membangun seperti ini?”

Ia tertawa terbahak-bahak. Yang nyuruh bukan orang sekecil Bapak. Kami hanya kontraktor. Apa sih yang tidak bisa berubah di negeri ini? Bapak tenang saja. Tak usah merisaukan pantai Bapak ini. Toh laut dan pantai ini bukan milik Bapak?”

Aku benar-benar tersinggung dibuatnya. Kupegang kerah bajunya. Ia tak melawan. “Percuma Bapak berlaku seperti ini. Kami menerima perintah. Bapak pun jika seperti saya akan berbuat sama. Jangan-jangan bisa melebihi dari ini. Laut dan pantai ini sudah dikapling-kapling Pak. Cuma sayang Bapak tidak dapat kaplingannya karena Bapak sering melawan. Jika saja Bapak tidak suka melawan dan mau manggut-manggut saja, tentu Bapak akan bisa hidup nyaman dan dapat kaplingan juga. Lihat itu sudah mulai diratakan biar lebih luas. Sudahlah Pak, jangan memikirkan yang tidak perlu dipikirkan. Biarkan kami bekerja.”

Aku marah dengan diriku sendiri. Kenapa tidak bisa berbuat apapun demi menyelamatkan laut dan pantai yang telah banyak menghidupiku selama ini. Aku mau mengadu, kepada siapa terus mengadu? Tak ada tempat buatku. Sudahlah pasrah saja. Tapi, pasrah bukan sikapku. Aku adukan pada gelombang. Kuadukan pada deburan ombak. Kuadukan pada Dewa Baruna. Aku duduk di bibir pantai yang semakin keruh dengan beragam keinginan. “Dewa Baruna lihatlah bibir pantai ini semakin keruh. Jika bibir sudah keruh, tentu kata-kata tak sedap akan bergemuruh. Sementara selama ini, satupun tak ada yang berani melawan. Apa Dewa Laut tak merasa sakit melihat bibir-Mu dikotori?”

Gelombang tiba-tiba meninggi. Ombak bergemuruh menghantam setiap yang ada di depannya. Kemarahan kulihat di setiap buih putihnya. Ia membentur-bentur bangunan-bangunan itu. Kulihat para pekerja berlari. Ia seperti dikejar barisan gelombang. Kulihat satu dua pekerja ditelan gelombang. Berita mengenai keganasan laut menghiasi media sosial. Beragam komentar muncul. Ada yang menyayangkan pohon bakau dibabat ada juga mengatakan memang musim sekarang ini lagi tidak baik-baik saja. Aku sendiri tak berkomentar karena bibirku sudah kurasakan semakin kelu dan keruh seperti bibir pantaiku. [T]

Penulis: IBW Widiasa Keniten
Editor: Made Adnyana Ole

  • KLIK untuk BACA cerpen lain
Cerita Kematian Sebatang Pohon | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Seorang Kakek yang Tak Henti Bercerita | Cerpen I Wayan Paing
Perempuan Bercahaya Rembulan | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tiga Sajak Angga Wijaya | Selasar Waktu, Ruang Abimanyu, Sajak Kiri untuk Sahabat

Next Post

Tari Kecak Singa Mandawa Blangsinga: Warisan Budaya Bali yang Terus Hidup

IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten

Ida Bagus Wayan Widiasa Keniten lahir di Geria Gelumpang, Karangasem. 20 Januari 1967. Buku-buku yang sudah ditulisnya berupa karya sastra maupun kajian sastra. Pemenang Pertama Guru Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2013 dan Penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Pendidikan Tahun 2013 dari Presiden, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu, 27 November 2013 di Istora Senayan Jakarta. Tahun 2014 ikut Program Kunjungan (Benchmarking) ke Jerman, selanjutnya ke Paris (Prancis), Belgia, dan Amsterdam (Belanda). 2014 menerima penghargaan Widya Kusuma dari Gubernur Bali. Tahun 2015 memeroleh Widya Pataka atas bukunya Jro Lalung Ngutah.

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Tari Kecak Singa Mandawa Blangsinga: Warisan Budaya Bali yang Terus Hidup

Tari Kecak Singa Mandawa Blangsinga: Warisan Budaya Bali yang Terus Hidup

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co