4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sekeruh Bibir Pantai | Cerpen IBW Widiasa Keniten          

IBW Widiasa Keniten by IBW Widiasa Keniten
August 10, 2025
in Cerpen
Sekeruh Bibir Pantai | Cerpen IBW Widiasa Keniten          

Ilustrasi tatkala.co

BIBIR pantai yang dulunya ditumbuhi pohon bakau kini semakin keruh. Perlahan-lahan, namun pasti pohon bakau semakin menipis. Orang-orang yang tak kukenal mulai menebas batang-batang bakau tanpa belas kasihan. Padahal, ia sendiri tak pernah menanaminya. Ia sudah menerima dari alam. Alam menyayangi bibir pantai. Pohon-pohon bakau dibabat. Kudengar ada rencana pembangunan peristirahatan para pejabat. Jika ada tamu besar, bisa menginap di sana. Segala fasilitas berstandar internasional telah dipetakan. Keamanan dan keselamatan menjadi prioritas utama.

Ikan-ikan kecil tak lagi kutemui. Menghilang entah ke mana? Warna-warninya tak lagi menghiasinya mungkin habitatnya sudah tak bagus lagi untuk hidup. Hidup perlu kenyamanan dan memberi ketenangan saat menjalankan kehidupan. Deburan ombak semakin keras terdengar. Jika dulu, deburan agak menjauh dan pelan, sekarang semakin dekat dan mendekat. Gerusan demi gerusan menelan bibir pantaiku. Jika musim hujan, sampah-sampah menghiasi bibir pantai. Sampah plastik bercampur dengan sampah organik. Entah dari mana datangnya. Katanya kiriman. Tapi, kenapa sampah yang dikirim? Apa bibir pantaiku tempat pembuangan akhir?

Kuberanikan diri menanyakan pada orang-orang yang tak kukenal. “Kenapa dibabat bakau ini? Jika terjadi abrasi seperti ini, siapa yang bertanggung jawab?”

Orang-orang itu nyengir. “Jangan tanyakan hal itu pada kami. Kami perlu mengisi perut. Ini syukur ada tempat kerja baru. Jika tidak, kami bisa mati kelaparan. Sudahlah Pak, jangan pikirkan lagi tentang tempat ini. Ikuti saja alurnya. Sebaiknya Bapak mengurusi yang lain saja.”

Aku merasa tersinggung dengan sikapnya. Aku ambil sabitnya kuhadapkan ke tubuhnya. Coba rasakan apa yang sakit jika tubuh Bapak terkena sabit ini?”

Ia tatap wajahku. Ia tak merasa takut terhadapku. Bahkan ia rasakan kelucuan akan sikapku. “Pak, zaman sekarang tak usah terlalu idealis. Yang menyuruh ini juga bukan orang sembarangan. Kami tak ada apa-apanya. Kami hanya pekerja. Tak ada manfaatnya Bapak menggertak kami. Bagi kami, perut terisi sudah merasa bersyukur.”

Kukendorkan tanganku. Ia orang-orang tak bersalah, tapi sengaja dibuatkan agar ia yang menghadapi kenyataan. Semakin hari semakin  lapang bibir pantaiku yang dulunya rimbun dengan bakau. Alat-alat berat mulai berderet yang siap melakukan eksekusi kehidupan yang ada. Pasir-pasir mulai dikeruk. Tiang-tiang beton mulai dipancangkan. Para pekerja siang malam melakukan tugasnya. Kulihat beberapa orang memberikan instruksi tentang pembangunan. Aku mematung di kejauhan karena ada larangan, selain pekerja tidak boleh masuk.

Kudatangi teman-teman kecilku yang sudah memegang jabatan. Kukatakan bibir pantai tempat bermain dulu sedang berubah wajahnya. Tak ada reaksi apapun. Aku tahu, ia juga ingin menyelamatkan jabatannya. Jabatan itu gengsi yang perlu terus dijaga keamanannya. “Maaf, tidak bisa membantu. Mungkin nasib pantai kita memang sampai di situ?”

Aku kaget dengan jawabannya. Jawaban pasrah. Jawaban kekalahan. Jawaban menyelamtakan dirinya. Idealisme bisa berubah karena tempat yang memberi kenyamanan. Aku tinggalkan teman-temanku. Aku seruduk larangan tak boleh masuk. Aku datangi orang-orang yang mengaku kontraktor itu. “Pak ini daerah larangan membangun. Kenapa berani Bapak membangun seperti ini?”

Ia tertawa terbahak-bahak. Yang nyuruh bukan orang sekecil Bapak. Kami hanya kontraktor. Apa sih yang tidak bisa berubah di negeri ini? Bapak tenang saja. Tak usah merisaukan pantai Bapak ini. Toh laut dan pantai ini bukan milik Bapak?”

Aku benar-benar tersinggung dibuatnya. Kupegang kerah bajunya. Ia tak melawan. “Percuma Bapak berlaku seperti ini. Kami menerima perintah. Bapak pun jika seperti saya akan berbuat sama. Jangan-jangan bisa melebihi dari ini. Laut dan pantai ini sudah dikapling-kapling Pak. Cuma sayang Bapak tidak dapat kaplingannya karena Bapak sering melawan. Jika saja Bapak tidak suka melawan dan mau manggut-manggut saja, tentu Bapak akan bisa hidup nyaman dan dapat kaplingan juga. Lihat itu sudah mulai diratakan biar lebih luas. Sudahlah Pak, jangan memikirkan yang tidak perlu dipikirkan. Biarkan kami bekerja.”

Aku marah dengan diriku sendiri. Kenapa tidak bisa berbuat apapun demi menyelamatkan laut dan pantai yang telah banyak menghidupiku selama ini. Aku mau mengadu, kepada siapa terus mengadu? Tak ada tempat buatku. Sudahlah pasrah saja. Tapi, pasrah bukan sikapku. Aku adukan pada gelombang. Kuadukan pada deburan ombak. Kuadukan pada Dewa Baruna. Aku duduk di bibir pantai yang semakin keruh dengan beragam keinginan. “Dewa Baruna lihatlah bibir pantai ini semakin keruh. Jika bibir sudah keruh, tentu kata-kata tak sedap akan bergemuruh. Sementara selama ini, satupun tak ada yang berani melawan. Apa Dewa Laut tak merasa sakit melihat bibir-Mu dikotori?”

Gelombang tiba-tiba meninggi. Ombak bergemuruh menghantam setiap yang ada di depannya. Kemarahan kulihat di setiap buih putihnya. Ia membentur-bentur bangunan-bangunan itu. Kulihat para pekerja berlari. Ia seperti dikejar barisan gelombang. Kulihat satu dua pekerja ditelan gelombang. Berita mengenai keganasan laut menghiasi media sosial. Beragam komentar muncul. Ada yang menyayangkan pohon bakau dibabat ada juga mengatakan memang musim sekarang ini lagi tidak baik-baik saja. Aku sendiri tak berkomentar karena bibirku sudah kurasakan semakin kelu dan keruh seperti bibir pantaiku. [T]

Penulis: IBW Widiasa Keniten
Editor: Made Adnyana Ole

  • KLIK untuk BACA cerpen lain
Cerita Kematian Sebatang Pohon | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Seorang Kakek yang Tak Henti Bercerita | Cerpen I Wayan Paing
Perempuan Bercahaya Rembulan | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tiga Sajak Angga Wijaya | Selasar Waktu, Ruang Abimanyu, Sajak Kiri untuk Sahabat

Next Post

Tari Kecak Singa Mandawa Blangsinga: Warisan Budaya Bali yang Terus Hidup

IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten

Ida Bagus Wayan Widiasa Keniten lahir di Geria Gelumpang, Karangasem. 20 Januari 1967. Buku-buku yang sudah ditulisnya berupa karya sastra maupun kajian sastra. Pemenang Pertama Guru Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2013 dan Penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Pendidikan Tahun 2013 dari Presiden, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu, 27 November 2013 di Istora Senayan Jakarta. Tahun 2014 ikut Program Kunjungan (Benchmarking) ke Jerman, selanjutnya ke Paris (Prancis), Belgia, dan Amsterdam (Belanda). 2014 menerima penghargaan Widya Kusuma dari Gubernur Bali. Tahun 2015 memeroleh Widya Pataka atas bukunya Jro Lalung Ngutah.

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Tari Kecak Singa Mandawa Blangsinga: Warisan Budaya Bali yang Terus Hidup

Tari Kecak Singa Mandawa Blangsinga: Warisan Budaya Bali yang Terus Hidup

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co