TAK ada pilihan lain, kecuali mengikuti saran keluarga maupun teman. Apalagi upaya pengobatan medis yang telah dilakukan selama ini tak membuahkan hasil. Sudah tujuh tahun ibunya sakit. Kondisinya makin hari makin buruk. Mengangkat tubuhnya saja sudah tak mampu. Dokter sudah angkat tangan untuk mengobati ibunya yang didiagnosa menderita penyakit komplikasi. Sesungguhnya Putu Arya tak percaya kekuatan supranatural, tetapi saat ini mau tak mau ia harus ajak ibunya berobat ke balian.
Sesuai kepercayaan masyarakat di Bali, Putu Arya mengajak ibunya berobat ke rumah balian pada hari yang dinilai keramat yakni Sukra Kliwon. Mungkin kadar keangkerannya setara Jumat Keramat bagi kalangan koruptor bidikan KPK. Begitu tiba di depan rumah balian, Putu Arya serasa berat melangkahkan kakinya. Sejak kecil, ia tak percaya keahlian balian. Baginya, balian itu pembual. Mengaku bisa obati segala jenis penyakit. Jangankan balian, ia pun bisa mengobati segala jenis penyakit yang ada di muka bumi ini. Namun ia tak punya keyakinan bisa menyembuhkan penyakit-penyakit tersebut.
“Jangan ragu, langkahkan kakimu, obatilah ibumu. Meski kau tak percaya balian, tapi ini sebentuk usaha untuk menyembuhkan ibu kandungmu dari penderitaan. Berjalan terus, buanglah ragumu!” Putu Arya seperti mendengar bisikan gaib. Dengan langkah berat, ia membopong ibunya ke rumah balian itu.
Begitu sampai di rumah balian, ia lalu menyandarkan ibunya pada dinding tembok di ruang kamar suci. Ia beruntung punya paman, yang senantiasa mendampingi dan membantu ketika mengajak ibunya berobat. Di dalam kamar suci, ia melihat jero balian berpakaian serba hitam dengan janggut panjang tengah mengobati pasiennya. Ia kemudian mengarahkan pandangannya ke ornamen-ornamen yang ada di rumah balian tersebut. Di depan kamar suci, ada dua buah patung menyeramkan yakni macan dan singa. Di samping patung menyeramkan tersebut juga dipasang tedung, serupa payung namun biasanya khusus dipasang di pura atau tempat suci. Tedung di samping macan berwarna kuning, sementara tedung di samping singa berwarna merah.
Selain patung, tampak pula beberapa bilah keris tertempel di dinding tembok. Ada pula ekor ikan pai, pedang, trisula, serta cakra. Dari segi ornamen, rumah balian itu mampu melukiskan hal seram maupun magis. Menurut orang-orang, balian yang didatanginya saat ini tengah sidhi, betel tinggal atau sakti mandraguna dan tembus pandang. Segala macam penyakit bisa dideteksi dengan tepat, seakurat hasil laboratorium. Banyak pasien kronis yang tak sembuh secara medis mampu dibuat sehat dengan mantra dan ramuan-ramuan obat dari tanaman yang tumbuh di pekarangan rumah.
Begitu saktinya, daun apa pun diambil dan dimantrai jadi obat mujarab. Sehingga banyak warga berdatangan ke rumah balian itu untuk mendapatkan kesembuhan. Menurut berita dari mulut ke mulut, balian sakti ini juga telah sukses mengabulkan sejumlah permohonan pasangan suami istri yang telah kawin bertahun-tahun namun belum dikaruniai anak. Bagi pasangan suami istri tanpa keturunan disarankan datang berdua pada malam hari. Jero balian akan memberikan pasiennya minyak yang telah dicampur dengan kama kakia atau sperma ikan hiu. Minyak itu agar dioleskan pada pusaka lelaki, sementara pihak perempuan diberikan ramuan yang didominasi kecambah.
Begitulah iklan dari mulut ke mulut yang ditebar oleh warga yang mendapat kesembuhan. Sehingga teman dan pihak keluarga mendorong Putu Arya agar mengajak ibu kandungnya berobat di tempat itu. Kali ini Putu Arya ikuti saran tersebut, meski dalam hatinya tetap menyimpan keraguan. Sebab sudah banyak kasus yang ia temui dari warga seusai pulang berobat. Seperti hubungan keluarga besar jadi tidak harmonis. Karena keluarga yang berobat dapat petunjuk jika anggota keluarganya sakit akibat dijahili oleh ipar, misan, sepupu atau dari garis keturunan keluarga besar. Di mana disebutkan yang menyakiti itu mempunyai ilmu hitam. Akibat klu dari balian, terjadilah kerenggangan di keluarga bahkan sampai tak berbicara satu sama lain. Bahkan, sampai ada yang saling bunuh. Dendam pun terus bertumbuh di lingkungan keluarga itu.
Selain menumbuhkan bibit-bibit dendam, kadang petunjuk jero balian juga memberatkan pasiennya. Dikatakan, ada bangunan suci seperti palinggih yang kurang di lingkungan rumah tangga. Padahal keluarga yang sakit sudah punya sanggah atau merajan di rumahnya. Bayangkan saja, berapa biaya membangun satu palinggih di Bali. Belum lagi sesaji dan sesari untuk kelengkapan sarana upacaranya. Hal-hal seperti itulah yang membuat Putu Arya tak suka berobat ke balian.
Tapi kali ini, ia harus membuang sifat keras hatinya. Apalagi bujuk rayu teman dan keluarga semakin kuat mendorongnya dengan kalimat sakti, “Ini untuk kesembuhan ibumu!” Lamunan Putu Arya langsung buyar ketika jero balian keluar dari kamar suci dan mengagetkannya.
“Aduh, kamu ini anak durhaka. Setelah ibumu sekarat seperti ini, baru kau ajak ke sini. Lihatlah ibumu, tak ubahnya seperti mayat!” ucap Jero Balian.
Seketika darah muda Putu Arya mendidih mendengar kata-kata yang terlontar dari mulut balian berpakaian serba hitam itu. Matanya dengan tajam memandang ke arah Jero Balian. Tampak Jero Balian mengundurkan langkahnya melihat Putu Arya dengan mata menyala-nyala terbakar emosi. Melihat nyali Jero Balian ciut, emosi Putu Arya semakin meledak-ledak. Tangannya mengepal dengan keras dan ingin ia arahkan tinjunya ke wajah lelaki setengah baya di hadapannya.
‘Kamu bisa mengobati apa tidak? Jaga kata-katamu, jika tidak akan kukirim kau ke neraka,” ucap Putu Arya.
Beruntung, pamannya segera merangkul Putu Arya, jika tidak mungkin atlet karate itu telah menjadikan jero balian serupa zamzak. Dia masih berontak ketika pamannya mengunci tubuhnya. Putu Arya tak bisa leluasa bergerak, tensi emosinya berangsur normal. Pamannya yang juga pelatih karate dengan tenang menasehati.
“Ini untuk kesembuhan ibumu, Tu. Tenanglah, mari kita percayakan pengobatan ibumu pada jero balian. Semoga dengan kekuatan gaib yang dimiliki, ibumu bisa sembuh. Kamu tak mau kan kehilangan ibumu, makanya percayakan kesembuhannya pada jero balian,” tutur pamannya.
Putu Arya melunak. Ibunya kemudian dibopong oleh pamannya ke kamar suci. Ia masih duduk di beranda rumah, namun tetap awas melihat ke kamar suci. Sebelum diobati, pasien dituntun untuk melakukan persembahyangan memohon kesembuhan kehadapan Tuhan. Begitu diperciki tirta, ibunya meronta kesakitan. Begitu meminum tirta, mendadak ibunya mual-mual dan muntah. Putu Arya dengan cepat masuk ke kamar suci. Dengan mata kepala sendiri ia melihat dari mulut ibunya keluar darah menghitam. Ibunya beberapa kali muntah, sampai akhirnya pingsan. Putu Arya panik dan nyaris menyerang jero balian. Namun dengan sigap sang paman menyergap.
“Tenanglah, anak muda. Ibumu sebentar lagi siuman. Sakit ibumu terlalu parah, penyakit yang dideritanya baru sebagian berhasil dikeluarkan. Setelah dia sadar, akan terlihat lebih segar. Ibumu kena cetik, tapi tenanglah, ibumu akan pulih. Ini yang jero mau katakan tadi, setelah ibumu kronis baru diajak ke sini. Sehingga proses penyembuhannya lebih lama,” tutur jero balian.
Benar saja, tak berapa lama, ibunya siuman. Wajahnya terlihat lebih cerah. Ajaib memang, ibunya kini mampu menggerakkan tangan dan kakinya. Putu Arya senang bukan kepalang. Saking girangnya, ia sampai menyembah jero balian sembari berulang-ulang sampaikan permohonan maaf. Baru tahap awal pengobatan, sudah menunjukkan hasil menggembirakan. Ia menyesal, kenapa tak sedari dulu mengajak ibunya berobat ke balian.
Sebelum pulang, jero balian memberikan minyak sakti kepada Putu Arya. Sebagai anak, ia diminta menunjukkan bhakti kepada orangtua. Ia disuruh setiap pagi dan sore menjelang malam agar memijit kaki dan tangan ibunya dengan minyak sakti tersebut. Demi mempercepat kesembuhan, ia juga diminta pada Kajeng Kliwon bertepatan dengan Tilem untuk datang ke Pura Dalem, mencari bahan obat. Masuk Pura Dalem agar tak diketahui oleh siapa pun. Boleh mengajak teman, namun dilarang ikut masuk ke areal pura. Diingatkan, agar mencari obat di Pura Dalem yang ada di lingkungan setra atau kuburan.
***
Semakin hari kondisi ibunya semakin baik. Setiap hari ada perubahan positif. Sebelumnya hanya tergolek lemas di tempat tidur, kini sudah bisa bangkit dan duduk sendiri. Putu Arya semakin senang melihat ibunya yang berangsur sembuh. Ia juga sudah berani meninggalkan ibunya untuk kegiatan ronda malam di banjar. Selama ini, ia selalu izin dan meminta bantuan orang lain untuk menggantikan ronda. Tentunya orang yang dimintai bantuan diberikan upah begadang. Meski tak ikut ronda, Putu Arya yang masih bujang sebenarnya dibebaskan dari ayah–ayahan atau kewajiban di banjar. Apalagi ibunya dalam kondisi sakit sehingga perlu perawatan ekstra. Meski mendapat dispensasi seperti itu, Putu Arya merasa sungkan jika tak ngayah.
Pihak banjar tetapkan kegiatan ronda, sebab hampir setiap hari di koran selalu memberitakan kehilangan pratima di sejumlah pura. Pihak banjar pilih waspada dan jaga-jaga dengan mengaktifkan siskamling. Demikian pula banjar dan desa tetangga, utamanya yang memiliki barong dan rangda. Sebab bromocorah paling suka mempreteli perhiasan emas pada barong dan rangda tersebut. Saat kegiatan ronda, warga senantiasa siaga dengan senjata tajam maupun perkakas lainnya untuk jaga diri dan menyerang bromocorah.
Tibalah waktunya, Putu Arya mencarikan obat di Pura Dalem untuk kesembuhan ibunya. Ia semakin percaya petunjuk-petunjuk dari jero balian, sebab memang benar terbukti dan ibunya berangsur sembuh. Sesungguhnya, Putu Arya tipikal orang penakut. Ia hanya berani adu otot, namun tak berani keluar malam sendirian. Apalagi ke Pura yang ada di lingkungan setra. Ia paling takut cerita-cerita berbau leak. Bukan rahasia lagi, jika di setra merupakan tempat para leak berkumpul untuk cari makanan. Terlebih ketika ada warga baru dikubur, para leak akan berpesta pora di setra. Membayangkan cari obat di pura lingkungan setra membuat bulu kuduknya berdiri. Tapi demi kesembuhan ibunya, ia mengumpulkan keberanian untuk berangkat cari obat, tepat Kajeng Kliwon yang berbarengan dengan bulan mati atau Tilem.
Dengan kebulatan tekad ia sudah siap berangkat. Ia mencoba mengalahkan rasa takutnya. Mempercepat perjalanan, dia menaiki sepeda motor menuju kuburan, apalagi letak kuburan agak jauh dari rumah tempat tinggalnya. Ia akan mencari obat di Pura Dalem di desa tetangga. Sebab di kampungnya, antara setra dan Pura Dalem tempatnya terpisah. Begitu tiba di setra, ia memarkir motornya di depan pura. Ada keinginannya parkir di semak-semak, namun takut nanti disangka maling, apalagi musim pencurian pratima. Bila parkir di depan pura, maka masyarakat tak akan curiga, karena sudah sering krama ke pura malam hari untuk madewasraya minta kesembuhan maupun minta berkat.
Usai parkir, Putu Arya berdoa dalam hati guna minta izin untuk masuk pura. Jantungnya berdetak lebih kencang. Rasa takutnya kembali menggunung. Hampir saja ia mengurungkan niatnya, jika tak ingat petunjuk balian. Berjuanglah untuk kesembuhan ibumu. Kata-kata itu seakan berdengung di kupingnya. Keberaniannya kembali muncul dan seperti ada yang menuntun, langkahnya terasa ringan masuk pura.
Begitu berada di dalam pura, ia melihat warna merah di pojok palinggih. Sesuai petunjuk jero balian, apa dilihat pertama kali di dalam pura langsung ambil dan bawa pulang, itulah obat paling mujarab. Setelah didekati, ternyata warna merah itu bunga Soka. Bunga itu kemudian dimasukkan ke dalam kantong. Sebelum pulang, masih dalam sikap berdiri, kedua tangannya dicakupkan di depan ubun-ubun. Ia mohon mukjizat dan kesembuhan untuk ibunya.
Saat di dalam pura, ternyata ada empat pasang mata mengintai gerak-geriknya. Kedua lelaki berzebo itu tampak marah, karena ada anak muda masuk pura dan merusak rencana mereka. Dibaluti rasa marah, keduanya balik kucing. Tak mau pulang dengan tangan kosong, salah satu dari mereka mengambil motor Putu Arya yang terparkir di depan gapura. Motor itu kemudian didorong perlahan, barulah di jalan raya motor itu dihidupkan. Kedua lelaki berzebo itu melaju dengan kencang seraya berteriak maling.
Putu Arya tersentak kaget. Motornya tak ada lagi di tempat semula. Ia mencoba mencari di sekitar setra, tapi tak juga ditemukan. Dalam upaya mencari motornya yang raib, ternyata ia mendapati dirinya sudah dikurung warga bersenjata tajam. [T]
Kukuh, 31 Juli 2014.
Catatan:
- Balian = dukun, tabib
- Jero balian = dukun, tabib
- Tedung = payung
- Sidhi = manjur
- Betel tinggal = tepat, akurat, tembus pandang, sakti mandraguna
- Kama kakia = sperma hiu
- Sanggah/merajan = pura keluarga
- Sesari = persembahan yang diwujudkan dalam bentuk material, entah itu uang, beras, atau barang lainnya.
- Palinggih = tempat sembahyang
- Setra = kuburan
- Cetik = racun
- Ayah-ayahan = kewajiban
- Ngayah = pekerjaan adat yang dikerjakan dengan tulus ikhlas tanpa mendapatkan imbalan secara material.
- Banjar = kelompok masyarakat adat di Bali
- Pratima = arca berwujud binatang mitologi; media untuk mendekatkan diri dengan Tuhan
- Leak = setan
- Krama = warga adat
Penulis: Made Sugianto
Editor: Made Adnyana Ole



























