24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sreya atau Preya: Saatnya Memilih Jalan yang Memuliakan Ibu Bumi

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
July 28, 2025
in Esai
Sreya atau Preya: Saatnya Memilih Jalan yang Memuliakan Ibu Bumi

Foto ilustrasi: penulis

Pendahuluan: Dua Jalan dalam Hidup Manusia

Di dalam tradisi kebijaksanaan India Kuno, khususnya dalam ajaran Katha Upanishad, dikenal dua pilihan utama dalam kehidupan manusia: Sreya dan Preya. Sreya berarti jalan yang mulia, memuliakan, dan mendatangkan kebaikan jangka panjang. Sementara Preya berarti jalan yang menyenangkan, memanjakan indra, menawarkan kenikmatan sesaat, namun sering kali menjerumuskan dalam penderitaan jangka panjang.

Kedua pilihan ini tak hanya relevan di zaman kuno, namun juga semakin mendesak untuk kita pahami dan hayati di tengah krisis ekologi global. Dalam konteks kehidupan modern yang dikuasai oleh konsumsi berlebihan, urbanisasi tanpa kontrol, dan ekses betonisasi, pilihan antara Sreya dan Preya kini menentukan arah masa depan umat manusia dan planet tempat kita berpijak.

Dari Konsep Filosofis ke Praktik Ekologis

Dalam diskusi spiritual bersama Guruji, muncul pertanyaan sederhana namun dalam:

“Mana yang lebih penting: kenyamanan sesaat atau keberlanjutan kehidupan?”

Pertanyaan ini menggiring pada pemahaman bahwa Sreya tidak selalu menyenangkan di awal, namun hasilnya membawa keberkahan bagi banyak makhluk. Sebaliknya, Preya bisa tampak indah, namun berujung pada kerusakan. Sebagai contoh: membangun mal atau apartemen di lahan hijau mungkin menyenangkan secara ekonomi dan gaya hidup, namun merusak ekosistem dan memperburuk kualitas udara, air, dan keseimbangan alam.

Sebaliknya, menanam pohon adalah tindakan Sreya. Mungkin tidak menghasilkan keuntungan instan, namun ia adalah investasi kehidupan. Ketika kita menanam pohon:

  • Burung-burung kembali hinggap dan bersarang.
  • Udara disaring oleh dedaunan yang berfotosintesis.
  • Air tanah dipertahankan dan tidak langsung mengalir ke selokan.
  • Serangga, kupu-kupu, dan makhluk kecil lainnya mendapatkan habitat.
  • Ekosistem mikro pun terbentuk kembali.
  • Dan tanpa sadar, kita ikut menikmati manfaat dari udara yang bersih, suhu yang lebih sejuk, dan ketenangan jiwa.

Dengan kata lain, yang kita tanam untuk bumi, kembali kepada kita sebagai berkah.

Krisis Global: Preya Telah Mendominasi

Kita hidup di era di mana jalan Preya begitu menggoda. Infrastruktur masif dibangun atas nama kemajuan, namun seringkali dengan mengorbankan alam. Gaya hidup konsumtif dipromosikan tanpa menyadari dampaknya pada bumi. Limbah plastik, polusi udara, kepunahan spesies, pemanasan global—semuanya adalah konsekuensi dari pilihan Preya yang diambil oleh peradaban modern.

Data dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menunjukkan bahwa suhu bumi terus meningkat dan pola cuaca menjadi semakin ekstrem. Di Indonesia, deforestasi telah menyebabkan hilangnya habitat satwa endemik seperti orangutan, harimau Sumatera, dan burung cendrawasih.

Sains dan spiritualitas, meski sering dianggap berseberangan, kini menemukan titik temu. Ilmu lingkungan membuktikan bahwa kita harus mengubah pola konsumsi dan pembangunan, sementara tradisi spiritual seperti Vedanta telah lama mengajarkan penghormatan terhadap alam sebagai Ibu — Bhumi Devi.

Merawat Ibu Bumi: Sebuah Spiritualitas Tindakan

Merawat bumi bukan sekadar kewajiban ekologis, melainkan pengamalan spiritual tertinggi. Dalam tradisi Weda, terdapat ajaran:

Mata bhūmiḥ putro ’ham pṛthivyāḥ — “Bumi adalah ibuku, dan aku adalah anaknya.”

Kita bukan penguasa atas alam, melainkan bagian dari jaring kehidupan. Kita lahir dari bumi, diberi makan oleh bumi, dan pada akhirnya akan kembali ke bumi.

Ketika kita menanam pohon, merawat sungai, mengurangi plastik, memilih konsumsi lokal dan berkelanjutan—kita tidak sedang berbuat baik kepada orang lain saja, tapi sedang memuliakan diri sendiri sebagai bagian dari alam.

Gerakan seperti “Serve Mother Earth” yang digagas Guruji Anand Krishna, kini mengajak umat manusia kembali pada prinsip Sreya: melayani bukan menguasai, merawat bukan mengeksploitasi.

Dari Ritual ke Spiritualitas: Menghijaukan Kembali Jiwa dan Alam

Di Indonesia, semangat ini sebenarnya telah hidup dalam kearifan lokal. Tradisi Subak di Bali, sistem Huma di Kalimantan, atau Lubuk Larangan di Sumatera adalah ekspresi konkret dari hidup selaras dengan alam. Namun modernisasi yang tidak terarah seringkali menggusur sistem ini.

Kita tidak menolak kemajuan, namun kita membutuhkan kemajuan yang selaras, bukan kemajuan yang meniadakan.

Saat ini, banyak anak muda mulai kembali ke alam — berkebun, permakultur, urban farming, zero waste living. Ini adalah pertanda baik: kesadaran sedang bertumbuh.

Namun agar perubahan itu mendalam dan sistemik, dibutuhkan pergeseran paradigma: dari Preya ke Sreya. Dari sekadar ritual simbolik ke spiritualitas yang konkret dan membumi.

Menutup: Memilih Masa Depan

Sreya dan Preya akan selalu hadir dalam setiap langkah hidup kita. Dalam apa yang kita makan, beli, bangun, dan wariskan.
Saatnya kita bertanya sebelum bertindak:

  • Apakah ini memuliakan kehidupan atau hanya menyenangkan diriku sesaat?
  • Apakah ini baik bagi bumi dan seluruh penghuninya?
  • Apakah ini membawa manfaat jangka panjang?

Jika jawabannya ya, maka itu adalah Sreya — dan bumi akan tersenyum.

Karena ketika kita memilih jalan yang memuliakan, kita bukan hanya menyelamatkan planet ini, tapi juga menyelamatkan jiwa kita sendiri. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Melampaui Logika: Memaknai Kembali Mistisisme dalam Cahaya Filsafat Timur, Kritik atas Bertrand Russell
Pertemuan Batin Rabindranath Tagore dan Ki Hajar Dewantara: Refleksi atas Dialog Budaya India-Indonesia
Membaca Pesan Kehidupan: Refleksi  atas Pembongkaran Bangunan di Pantai Bingin
“Perintis? Ah, Kita Semua Pewaris..! ” — Menelusuri Jejak Identitas Budaya di Balik Nama Keluarga, Darah, dan Warisan Psikologis
Bali, di Antara Pesona dan Luka
Tags: Spiritual
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Antara Stoikisme dan “Toxic Positivity”: Saat Kita Salah Mengerti Kekuatan Emosi

Next Post

Jejak Klungkung di Tanah Blambangan

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Jejak Klungkung di Tanah Blambangan

Jejak Klungkung di Tanah Blambangan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co