11 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Film “OSMOSIA”: Perjalanan Panjang Gde Dharna dalam Sebuah Film Pendek — Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Kedai Umah Pradja, Singaraja

Wahyu Mahaputra by Wahyu Mahaputra
July 4, 2025
in Ulas Film
Film “OSMOSIA”: Perjalanan Panjang Gde Dharna dalam Sebuah Film Pendek — Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Kedai Umah Pradja, Singaraja

Film Osmosia | Foto: Singaraja Menonton

SENDIRIAN saya terkatung-katung mencari letak Kedai Umah Pradja malam itu, tambahan gerimis menambah keraguan saya untuk hadir dalam program Layar Kolektif Bali Utara yang diselenggarakan oleh Singaraja Menonton pada Jumat, 20 Juni 2025.

Setengah jam sebelum pemutaran berlangsung, akhirnya saya tiba dengan sedikit basah. Kala itu pukul 18.30 WITA, proyektor kembali ditutup oleh kantong plastik, hujan menetes sedikit demi sedikit, jatuh dari daun serta ranting ketapang di Kedai Umah Pradja, pemutaran pun ditunda kurang lebih tiga puluh menit.

Malam itu hening, penonton tak banyak bersuara. Sekalipun ada suara, itu pasti datang dari dapur Umah Pradja yang sedang membuat kopi atau memasak makanan ringan.

Layar berubah terang, tanda film akan segera diputar.

Di antara tetesan-tetesan hujan yang tersisa, muncul sebuah film eksperimental dengan gaya teatrikal, dengan simbol-simbol, dengan tanda-tanda yang membuat saya bingung, tetapi atas dasar kebingungan itulah tulisan ini hadir.

Film itu berjudul “OSMOSIA”, sebuah film pendek disutradarai oleh Fioretti Vera dan B. M. Anggana sebagai produser.

Film Osmosia | Foto: Singaraja Menonton

Film ini dimulai dengan pernyataan-pernyataan dari beberapa tokoh, dari Made Adnyana Ole sampai Made Adnyana bukan Ole. Pernyataan-pernyataan itu mengacu pada seseorang, seseorang yang penting, seorang pejuang, pencipta lagu, cerpenis, penulis drama. Namun, entah siapa, belum disebutkan namanya, saya kebingungan.

Sampai pada satu pernyataan yang menyebutkan bahwa yang sedang dibicarakan adalah orang yang menciptakan lagu “Merah Putih”. Di titik itu, saya baru teringat sebuah nama, I Gde Dharna.

Nama itu kali pertama saya dengar dari Putu Satria Kusuma, ketika sedang latihan drama berjudul “Bendera” di Teater Selem Putih. Saat itu, saya memerankan arwah seorang tokoh tua, seorang pejuang kemerdekaan yang turun ke dunia untuk memberi nasihat pada cucunya tentang arti kibaran bendera bagi sebuah bangsa.

Film Osmosia | Foto: Singaraja Menonton

I Gde Dharna adalah seorang seniman sekaligus budayawan hebat yang dimiliki Bali Utara, Buleleng. Selain mencipta lagu, Gde Dharna ternyata juga menciptakan banyak puisi, cerpen, dan naskah drama yang saya baru ketahui dari film “OSMOSIA”.

Kembali ke pembukaan film, pada bagian “pernyataan-pernyataan” itu divisualisasikan dengan cara yang tidak biasa. Tokoh-tokoh yang memberikan pendapat itu diberi efek piksel dengan warna hitam dan ungu, diletakan pada sebuah kotak warna biru dengan rasio 9:16, dengan ukiran karang boma di atasnya, dengan latar tebing-tebing pantai pada kanan dan kirinya. Gaya visual tersebut menjadi kebingungan selanjutnya.

Agak liar, saya menduga dalam pikiran “Apakah kotak itu merupakan simbol sebuah Bade? Karena sosok yang dijadikan film sudah berpulang?”

Namun, yang ada dalam kotak tersebut bukanlah Gde Dharna, melainkan orang- orang yang masih hidup dan memberi pendapat mengenai Gde Dharna, jadi saya tepis jauh-jauh hipotesis itu.

Barangkali kotak itu lebih cocok saya sandingkan dengan claw machine alias mesin pencapit boneka. Melalui “OSMOSIA”, Fioretti Vera dan B. M. Anggana seakan ingin mencapit kepingan-kepingan narasi dan melakukan penelusuran terhadap karya-karya Gde Dharna.

Adalah sebuah kepantasan jika Vera dan Anggana merasa perlu mengumpulkan kepingan-kepingan narasi dan karya Gde Dharna, karena memang tak banyak yang mengarsipkannya.

Selepas dari pernyataan-pernyataan itu, “OSMOSIA” membawa penonton pada gerak-gerak ala teater atau opera tapi dalam medium film. Sebagai seorang awam dan jarang menonton film eksperimental, saya tentu melihat unsur visual seperti itu sebagai bentuk baru dalam sebuah sajian film. Permainan kain, komposisi aktor, gerak tubuh, tangan, kostum, dan warna yang biasanya saya tonton di atas panggung kini saya saksikan dalam format video berasio 16:9. Format-format teatrikal tersebut saya duga datang dari produser yang juga merupakan seorang seniman teater dan dramaturg, B. M Anggana.

Sebagai penonton, saya tentunya sudah menyiapkan diri untuk tidak mengharapkan alur cerita yang kronologis, yang berisi orientasi, konflik, dan diakhiri dengan resolusi atau koda. “OSMOSIA” cenderung meletakan puisi dan lagu-lagu Gde Dharna sebagai kredo dan alur film.

Selain visual yang unik, aneh, baru. Ada satu unsur lagi yang justru menjadi kunci dari film ini, yakni audio. Sebagai seorang pencipta lagu, sosok Gde Dharna sangat berhasil diterjemahkan melalui bebunyian dalam film ini.

Penggarapan audio dalam film ini saya rasa begitu serius, mengingat sutradara, Fioretti Vera merupakan seorang musisi, penyanyi, dan komposer.

Kolaborasi antara produser yang berangkat dari teater dengan sutradara yang merupakan seorang musisi ini, bisa dikatakan berhasil dalam melahirkan sebuah karya eksperimental yang mampu menyihir mata dan telinga penonton.

Film Osmosia | Foto: Singaraja Menonton

Jika diperbolehkan saya menggunakan teori puisi untuk mengulas film ini, maka teori bulu kuduk dari Acep Zamzam Noor ini menjadi teori yang paling masuk akal. Puncaknya pada suatu adegan yang memperdengarkan lagu Gde Dharna yang berjudul “Buah Buni”.

Barangkali saya kebingungan untuk adegan-adegan sebelumnya, menimang- nimang simbol-simbol yang ada dalam film tersebut, akan tetapi ketika lagu itu berdengung di telinga saya, sekujur tubuh saya merinding, bulu kuduk itu benar- benar berdiri, telinga saya seperti orgasme (eargasm).

Tatkala adegan itu tengah berlangsung, kenangan akan masamnya buah buni samar- samar saya ingat, ketika itu saya masih siswa sekolah dasar, di desa. Di Blahbatuh. Setiap istirahat pertama, saya dan teman-teman akan duduk di bawah pohon nangka depan sekolah, menanti seorang pedagang tua dari desa sebelah, Desa Belega.

Namanya Pak Ketut, pedagang tua dari desa sebelah. Ia selalu datang dengan motor tua dan dua keranjang di kanan kirinya. Keranjang sebelah kanan biasanya berisikan nasi bungkus, waktu itu seharga dua ribu lima ratus rupiah. Keranjang kirinya berisi ragam es lilin. Namun, suatu kali ia membawa buah hitam kecil-kecil, dibungkus dengan plastik setengah kilo, dicampur bumbu uyah, sere, tabia. Rasanya masam, ada juga yang manis kalau matangnya pas. Itulah, buah buni.

Banyak adegan yang perlu penjelasan lebih untuk mengetahui maksud yang ingin disampaikan oleh film tersebut, atau justru tidak sama sekali. Membiarkan “OSMOSIA” menjadi larut dalam tafsiran masing-masing penonton.

Jika dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam, ada istilah osmosis, yakni perpindahan molekul dari bagian yang encer ke bagian yang lebih pekat. Dalam kaitannya dengan Gde Dharna, “OSMOSIA” bisa dibilang berhasil memindahkan karya-karya Gde Dharna yang tercecer, menjadi medium yang lebih pekat dan padat.

Kardian (Cotexc) Narayana sebagai programmer untuk 5 film pendek yang diputar di Kedai Umah Pradja malam itu cukup berani megambil risiko dengan menempatkan film ini sebagai urutan pertama. Sebab hanya ada dua kemungkinan, apakah film itu akan menjadi pembuka rasa penasaran penonton untuk menikmati film berikutnya, atau justru jadi penutup rasa keingintahuan penonton karena film tersebut sulit dimengerti, tapi sangat bisa dinikmati.

Kalau saya, saya akan memilih menjadi penonton yang penasaran untuk menikmati film berikutnya di Layar Kolektif Bali Utara. [T]

Penulis: Wahyu Mahaputra
Editor: Adnyana Ole

Artikel ini adalah hasil dari pelatihan pada Workshop Menulis Ulasan & Kritik Film yang diselenggarakan Singaraja Menonton, dan artikel ini ditayangkan atas kerjasama Singaraja Menonton dan tatkala.co.

  • BACA JUGA:
Ketika Kita Terlalu Cepat Menilai — Catatan untuk Film “Abu-abu” dan “Nyambutin” pada Layar Kolektif Bali Utara
Film Pendek “Made”: Kerasnya Hidup Keluarga Kecil Menghadapi Perkembangan Teknologi
Belajar Tingwe dari Film “Rita Coba Rokok”—Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Kedai Umah Pradja, Singaraja
Mengutuk Pernikahan Usia Dini pada Film “Kembang Eleh” — Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Seririt
Sedih-Tegang dalam Instrumen Film “Metuun” dan “Nyambutin” — Dari Layar Kolektif Bali Utara di Tejakula
Tags: filmfilm pendekSingaraja Menonton
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Deva Dianjaya Rilis Album Perdana Pendevasaan, Suguhkan Single “Dulu Kau Indah” Bertempo Upbeat Bertema Patah Hati

Next Post

Komunikasi Politik Karut-Marut dan Korupsi Akut

Wahyu Mahaputra

Wahyu Mahaputra

Bernama lengkap I Putu Wahyu Mahaputra, akrab dipanggil WM Putra, lahir di Gianyar, 14 Maret 2004. Masyarakat sipil biasa yang baru belajar menulis dan gemar mendengarkan nada-nada minor, sedang menempuh pendidikan di program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Pendidikan Ganesha.

Related Posts

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Komunikasi Politik Karut-Marut dan Korupsi Akut

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Rumah Dikontrakkan Bernama Indonesia [Renungan Hari Veteran Nasional]

ADA pepatah yang mulai usang, "hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, baik jua di negeri sendiri". ...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 10, 2026
Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

ORANG-orang masih berdiri di depan panggung ketika Salamander Big Band memainkan bagian-bagian terakhir musik jazz-nya pada Sabtu malam, 8 Agustus...

by Rusdy Ulu
August 10, 2026
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan
Tualang

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
MTN Presentasi Buruan.co 2026: “Merawat Regenerasi Penulis Sastra Muda”
Budaya

MTN Presentasi Buruan.co 2026: “Merawat Regenerasi Penulis Sastra Muda”

KEMENTERIAN Kebudayaan RI melalui program Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya berkolaborasi dengan Buruan.co menggelar program bertajuk “MTN Presentasi: Buruan.co...

by tatkala
August 10, 2026
Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital
Esai

Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital

TRANSFORMASI digital telah membawa perubahan mendasar dalam pola interaksi manusia. Perkembangan media sosial, aplikasi percakapan, platform berbagi video, forum daring,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 9, 2026
Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan
Bahasa

Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan

PERNAHKAH Anda membaca berita lingkungan dan merasa bingung dengan dua istilah yang mirip: timbulan sampah dan timbunan sampah? Sekilas keduanya tampak sama, tetapi...

by I Made Sudiana
August 9, 2026
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman
Khas

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’
Kuliner

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia
Esai

Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

SASTRA terjemahan telah lama menjadi salah satu media diplomasi budaya Indonesia. Namun, keberadaannya sebagai bagian dari kegiatan diplomasi budaya yang...

by I Nyoman Darma Putra
August 8, 2026
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz
Khas

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.
Ulas Rupa

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

by Angga Wijaya
August 7, 2026
Sudahi Isme-Ismemu Itu!
Kritik Seni

Sudahi Isme-Ismemu Itu!

ADA satu pertanyaan yang masih menjadi survei teratas ketika publik bertanya tentang karya seorang seniman. Karyamu ini gayanya apa? Abstrak,...

by Made Chandra
August 7, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co