SENDIRIAN saya terkatung-katung mencari letak Kedai Umah Pradja malam itu, tambahan gerimis menambah keraguan saya untuk hadir dalam program Layar Kolektif Bali Utara yang diselenggarakan oleh Singaraja Menonton pada Jumat, 20 Juni 2025.
Setengah jam sebelum pemutaran berlangsung, akhirnya saya tiba dengan sedikit basah. Kala itu pukul 18.30 WITA, proyektor kembali ditutup oleh kantong plastik, hujan menetes sedikit demi sedikit, jatuh dari daun serta ranting ketapang di Kedai Umah Pradja, pemutaran pun ditunda kurang lebih tiga puluh menit.
Malam itu hening, penonton tak banyak bersuara. Sekalipun ada suara, itu pasti datang dari dapur Umah Pradja yang sedang membuat kopi atau memasak makanan ringan.
Layar berubah terang, tanda film akan segera diputar.
Di antara tetesan-tetesan hujan yang tersisa, muncul sebuah film eksperimental dengan gaya teatrikal, dengan simbol-simbol, dengan tanda-tanda yang membuat saya bingung, tetapi atas dasar kebingungan itulah tulisan ini hadir.
Film itu berjudul “OSMOSIA”, sebuah film pendek disutradarai oleh Fioretti Vera dan B. M. Anggana sebagai produser.

Film Osmosia | Foto: Singaraja Menonton
Film ini dimulai dengan pernyataan-pernyataan dari beberapa tokoh, dari Made Adnyana Ole sampai Made Adnyana bukan Ole. Pernyataan-pernyataan itu mengacu pada seseorang, seseorang yang penting, seorang pejuang, pencipta lagu, cerpenis, penulis drama. Namun, entah siapa, belum disebutkan namanya, saya kebingungan.
Sampai pada satu pernyataan yang menyebutkan bahwa yang sedang dibicarakan adalah orang yang menciptakan lagu “Merah Putih”. Di titik itu, saya baru teringat sebuah nama, I Gde Dharna.
Nama itu kali pertama saya dengar dari Putu Satria Kusuma, ketika sedang latihan drama berjudul “Bendera” di Teater Selem Putih. Saat itu, saya memerankan arwah seorang tokoh tua, seorang pejuang kemerdekaan yang turun ke dunia untuk memberi nasihat pada cucunya tentang arti kibaran bendera bagi sebuah bangsa.


Film Osmosia | Foto: Singaraja Menonton
I Gde Dharna adalah seorang seniman sekaligus budayawan hebat yang dimiliki Bali Utara, Buleleng. Selain mencipta lagu, Gde Dharna ternyata juga menciptakan banyak puisi, cerpen, dan naskah drama yang saya baru ketahui dari film “OSMOSIA”.
Kembali ke pembukaan film, pada bagian “pernyataan-pernyataan” itu divisualisasikan dengan cara yang tidak biasa. Tokoh-tokoh yang memberikan pendapat itu diberi efek piksel dengan warna hitam dan ungu, diletakan pada sebuah kotak warna biru dengan rasio 9:16, dengan ukiran karang boma di atasnya, dengan latar tebing-tebing pantai pada kanan dan kirinya. Gaya visual tersebut menjadi kebingungan selanjutnya.
Agak liar, saya menduga dalam pikiran “Apakah kotak itu merupakan simbol sebuah Bade? Karena sosok yang dijadikan film sudah berpulang?”
Namun, yang ada dalam kotak tersebut bukanlah Gde Dharna, melainkan orang- orang yang masih hidup dan memberi pendapat mengenai Gde Dharna, jadi saya tepis jauh-jauh hipotesis itu.
Barangkali kotak itu lebih cocok saya sandingkan dengan claw machine alias mesin pencapit boneka. Melalui “OSMOSIA”, Fioretti Vera dan B. M. Anggana seakan ingin mencapit kepingan-kepingan narasi dan melakukan penelusuran terhadap karya-karya Gde Dharna.
Adalah sebuah kepantasan jika Vera dan Anggana merasa perlu mengumpulkan kepingan-kepingan narasi dan karya Gde Dharna, karena memang tak banyak yang mengarsipkannya.
Selepas dari pernyataan-pernyataan itu, “OSMOSIA” membawa penonton pada gerak-gerak ala teater atau opera tapi dalam medium film. Sebagai seorang awam dan jarang menonton film eksperimental, saya tentu melihat unsur visual seperti itu sebagai bentuk baru dalam sebuah sajian film. Permainan kain, komposisi aktor, gerak tubuh, tangan, kostum, dan warna yang biasanya saya tonton di atas panggung kini saya saksikan dalam format video berasio 16:9. Format-format teatrikal tersebut saya duga datang dari produser yang juga merupakan seorang seniman teater dan dramaturg, B. M Anggana.
Sebagai penonton, saya tentunya sudah menyiapkan diri untuk tidak mengharapkan alur cerita yang kronologis, yang berisi orientasi, konflik, dan diakhiri dengan resolusi atau koda. “OSMOSIA” cenderung meletakan puisi dan lagu-lagu Gde Dharna sebagai kredo dan alur film.
Selain visual yang unik, aneh, baru. Ada satu unsur lagi yang justru menjadi kunci dari film ini, yakni audio. Sebagai seorang pencipta lagu, sosok Gde Dharna sangat berhasil diterjemahkan melalui bebunyian dalam film ini.
Penggarapan audio dalam film ini saya rasa begitu serius, mengingat sutradara, Fioretti Vera merupakan seorang musisi, penyanyi, dan komposer.
Kolaborasi antara produser yang berangkat dari teater dengan sutradara yang merupakan seorang musisi ini, bisa dikatakan berhasil dalam melahirkan sebuah karya eksperimental yang mampu menyihir mata dan telinga penonton.


Film Osmosia | Foto: Singaraja Menonton
Jika diperbolehkan saya menggunakan teori puisi untuk mengulas film ini, maka teori bulu kuduk dari Acep Zamzam Noor ini menjadi teori yang paling masuk akal. Puncaknya pada suatu adegan yang memperdengarkan lagu Gde Dharna yang berjudul “Buah Buni”.
Barangkali saya kebingungan untuk adegan-adegan sebelumnya, menimang- nimang simbol-simbol yang ada dalam film tersebut, akan tetapi ketika lagu itu berdengung di telinga saya, sekujur tubuh saya merinding, bulu kuduk itu benar- benar berdiri, telinga saya seperti orgasme (eargasm).
Tatkala adegan itu tengah berlangsung, kenangan akan masamnya buah buni samar- samar saya ingat, ketika itu saya masih siswa sekolah dasar, di desa. Di Blahbatuh. Setiap istirahat pertama, saya dan teman-teman akan duduk di bawah pohon nangka depan sekolah, menanti seorang pedagang tua dari desa sebelah, Desa Belega.
Namanya Pak Ketut, pedagang tua dari desa sebelah. Ia selalu datang dengan motor tua dan dua keranjang di kanan kirinya. Keranjang sebelah kanan biasanya berisikan nasi bungkus, waktu itu seharga dua ribu lima ratus rupiah. Keranjang kirinya berisi ragam es lilin. Namun, suatu kali ia membawa buah hitam kecil-kecil, dibungkus dengan plastik setengah kilo, dicampur bumbu uyah, sere, tabia. Rasanya masam, ada juga yang manis kalau matangnya pas. Itulah, buah buni.
Banyak adegan yang perlu penjelasan lebih untuk mengetahui maksud yang ingin disampaikan oleh film tersebut, atau justru tidak sama sekali. Membiarkan “OSMOSIA” menjadi larut dalam tafsiran masing-masing penonton.
Jika dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam, ada istilah osmosis, yakni perpindahan molekul dari bagian yang encer ke bagian yang lebih pekat. Dalam kaitannya dengan Gde Dharna, “OSMOSIA” bisa dibilang berhasil memindahkan karya-karya Gde Dharna yang tercecer, menjadi medium yang lebih pekat dan padat.
Kardian (Cotexc) Narayana sebagai programmer untuk 5 film pendek yang diputar di Kedai Umah Pradja malam itu cukup berani megambil risiko dengan menempatkan film ini sebagai urutan pertama. Sebab hanya ada dua kemungkinan, apakah film itu akan menjadi pembuka rasa penasaran penonton untuk menikmati film berikutnya, atau justru jadi penutup rasa keingintahuan penonton karena film tersebut sulit dimengerti, tapi sangat bisa dinikmati.
Kalau saya, saya akan memilih menjadi penonton yang penasaran untuk menikmati film berikutnya di Layar Kolektif Bali Utara. [T]
Penulis: Wahyu Mahaputra
Editor: Adnyana Ole
Artikel ini adalah hasil dari pelatihan pada Workshop Menulis Ulasan & Kritik Film yang diselenggarakan Singaraja Menonton, dan artikel ini ditayangkan atas kerjasama Singaraja Menonton dan tatkala.co.
- BACA JUGA:



























