20 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Film “OSMOSIA”: Perjalanan Panjang Gde Dharna dalam Sebuah Film Pendek — Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Kedai Umah Pradja, Singaraja

Wahyu Mahaputra by Wahyu Mahaputra
July 4, 2025
in Ulas Film
Film “OSMOSIA”: Perjalanan Panjang Gde Dharna dalam Sebuah Film Pendek — Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Kedai Umah Pradja, Singaraja

Film Osmosia | Foto: Singaraja Menonton

SENDIRIAN saya terkatung-katung mencari letak Kedai Umah Pradja malam itu, tambahan gerimis menambah keraguan saya untuk hadir dalam program Layar Kolektif Bali Utara yang diselenggarakan oleh Singaraja Menonton pada Jumat, 20 Juni 2025.

Setengah jam sebelum pemutaran berlangsung, akhirnya saya tiba dengan sedikit basah. Kala itu pukul 18.30 WITA, proyektor kembali ditutup oleh kantong plastik, hujan menetes sedikit demi sedikit, jatuh dari daun serta ranting ketapang di Kedai Umah Pradja, pemutaran pun ditunda kurang lebih tiga puluh menit.

Malam itu hening, penonton tak banyak bersuara. Sekalipun ada suara, itu pasti datang dari dapur Umah Pradja yang sedang membuat kopi atau memasak makanan ringan.

Layar berubah terang, tanda film akan segera diputar.

Di antara tetesan-tetesan hujan yang tersisa, muncul sebuah film eksperimental dengan gaya teatrikal, dengan simbol-simbol, dengan tanda-tanda yang membuat saya bingung, tetapi atas dasar kebingungan itulah tulisan ini hadir.

Film itu berjudul “OSMOSIA”, sebuah film pendek disutradarai oleh Fioretti Vera dan B. M. Anggana sebagai produser.

Film Osmosia | Foto: Singaraja Menonton

Film ini dimulai dengan pernyataan-pernyataan dari beberapa tokoh, dari Made Adnyana Ole sampai Made Adnyana bukan Ole. Pernyataan-pernyataan itu mengacu pada seseorang, seseorang yang penting, seorang pejuang, pencipta lagu, cerpenis, penulis drama. Namun, entah siapa, belum disebutkan namanya, saya kebingungan.

Sampai pada satu pernyataan yang menyebutkan bahwa yang sedang dibicarakan adalah orang yang menciptakan lagu “Merah Putih”. Di titik itu, saya baru teringat sebuah nama, I Gde Dharna.

Nama itu kali pertama saya dengar dari Putu Satria Kusuma, ketika sedang latihan drama berjudul “Bendera” di Teater Selem Putih. Saat itu, saya memerankan arwah seorang tokoh tua, seorang pejuang kemerdekaan yang turun ke dunia untuk memberi nasihat pada cucunya tentang arti kibaran bendera bagi sebuah bangsa.

Film Osmosia | Foto: Singaraja Menonton

I Gde Dharna adalah seorang seniman sekaligus budayawan hebat yang dimiliki Bali Utara, Buleleng. Selain mencipta lagu, Gde Dharna ternyata juga menciptakan banyak puisi, cerpen, dan naskah drama yang saya baru ketahui dari film “OSMOSIA”.

Kembali ke pembukaan film, pada bagian “pernyataan-pernyataan” itu divisualisasikan dengan cara yang tidak biasa. Tokoh-tokoh yang memberikan pendapat itu diberi efek piksel dengan warna hitam dan ungu, diletakan pada sebuah kotak warna biru dengan rasio 9:16, dengan ukiran karang boma di atasnya, dengan latar tebing-tebing pantai pada kanan dan kirinya. Gaya visual tersebut menjadi kebingungan selanjutnya.

Agak liar, saya menduga dalam pikiran “Apakah kotak itu merupakan simbol sebuah Bade? Karena sosok yang dijadikan film sudah berpulang?”

Namun, yang ada dalam kotak tersebut bukanlah Gde Dharna, melainkan orang- orang yang masih hidup dan memberi pendapat mengenai Gde Dharna, jadi saya tepis jauh-jauh hipotesis itu.

Barangkali kotak itu lebih cocok saya sandingkan dengan claw machine alias mesin pencapit boneka. Melalui “OSMOSIA”, Fioretti Vera dan B. M. Anggana seakan ingin mencapit kepingan-kepingan narasi dan melakukan penelusuran terhadap karya-karya Gde Dharna.

Adalah sebuah kepantasan jika Vera dan Anggana merasa perlu mengumpulkan kepingan-kepingan narasi dan karya Gde Dharna, karena memang tak banyak yang mengarsipkannya.

Selepas dari pernyataan-pernyataan itu, “OSMOSIA” membawa penonton pada gerak-gerak ala teater atau opera tapi dalam medium film. Sebagai seorang awam dan jarang menonton film eksperimental, saya tentu melihat unsur visual seperti itu sebagai bentuk baru dalam sebuah sajian film. Permainan kain, komposisi aktor, gerak tubuh, tangan, kostum, dan warna yang biasanya saya tonton di atas panggung kini saya saksikan dalam format video berasio 16:9. Format-format teatrikal tersebut saya duga datang dari produser yang juga merupakan seorang seniman teater dan dramaturg, B. M Anggana.

Sebagai penonton, saya tentunya sudah menyiapkan diri untuk tidak mengharapkan alur cerita yang kronologis, yang berisi orientasi, konflik, dan diakhiri dengan resolusi atau koda. “OSMOSIA” cenderung meletakan puisi dan lagu-lagu Gde Dharna sebagai kredo dan alur film.

Selain visual yang unik, aneh, baru. Ada satu unsur lagi yang justru menjadi kunci dari film ini, yakni audio. Sebagai seorang pencipta lagu, sosok Gde Dharna sangat berhasil diterjemahkan melalui bebunyian dalam film ini.

Penggarapan audio dalam film ini saya rasa begitu serius, mengingat sutradara, Fioretti Vera merupakan seorang musisi, penyanyi, dan komposer.

Kolaborasi antara produser yang berangkat dari teater dengan sutradara yang merupakan seorang musisi ini, bisa dikatakan berhasil dalam melahirkan sebuah karya eksperimental yang mampu menyihir mata dan telinga penonton.

Film Osmosia | Foto: Singaraja Menonton

Jika diperbolehkan saya menggunakan teori puisi untuk mengulas film ini, maka teori bulu kuduk dari Acep Zamzam Noor ini menjadi teori yang paling masuk akal. Puncaknya pada suatu adegan yang memperdengarkan lagu Gde Dharna yang berjudul “Buah Buni”.

Barangkali saya kebingungan untuk adegan-adegan sebelumnya, menimang- nimang simbol-simbol yang ada dalam film tersebut, akan tetapi ketika lagu itu berdengung di telinga saya, sekujur tubuh saya merinding, bulu kuduk itu benar- benar berdiri, telinga saya seperti orgasme (eargasm).

Tatkala adegan itu tengah berlangsung, kenangan akan masamnya buah buni samar- samar saya ingat, ketika itu saya masih siswa sekolah dasar, di desa. Di Blahbatuh. Setiap istirahat pertama, saya dan teman-teman akan duduk di bawah pohon nangka depan sekolah, menanti seorang pedagang tua dari desa sebelah, Desa Belega.

Namanya Pak Ketut, pedagang tua dari desa sebelah. Ia selalu datang dengan motor tua dan dua keranjang di kanan kirinya. Keranjang sebelah kanan biasanya berisikan nasi bungkus, waktu itu seharga dua ribu lima ratus rupiah. Keranjang kirinya berisi ragam es lilin. Namun, suatu kali ia membawa buah hitam kecil-kecil, dibungkus dengan plastik setengah kilo, dicampur bumbu uyah, sere, tabia. Rasanya masam, ada juga yang manis kalau matangnya pas. Itulah, buah buni.

Banyak adegan yang perlu penjelasan lebih untuk mengetahui maksud yang ingin disampaikan oleh film tersebut, atau justru tidak sama sekali. Membiarkan “OSMOSIA” menjadi larut dalam tafsiran masing-masing penonton.

Jika dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam, ada istilah osmosis, yakni perpindahan molekul dari bagian yang encer ke bagian yang lebih pekat. Dalam kaitannya dengan Gde Dharna, “OSMOSIA” bisa dibilang berhasil memindahkan karya-karya Gde Dharna yang tercecer, menjadi medium yang lebih pekat dan padat.

Kardian (Cotexc) Narayana sebagai programmer untuk 5 film pendek yang diputar di Kedai Umah Pradja malam itu cukup berani megambil risiko dengan menempatkan film ini sebagai urutan pertama. Sebab hanya ada dua kemungkinan, apakah film itu akan menjadi pembuka rasa penasaran penonton untuk menikmati film berikutnya, atau justru jadi penutup rasa keingintahuan penonton karena film tersebut sulit dimengerti, tapi sangat bisa dinikmati.

Kalau saya, saya akan memilih menjadi penonton yang penasaran untuk menikmati film berikutnya di Layar Kolektif Bali Utara. [T]

Penulis: Wahyu Mahaputra
Editor: Adnyana Ole

Artikel ini adalah hasil dari pelatihan pada Workshop Menulis Ulasan & Kritik Film yang diselenggarakan Singaraja Menonton, dan artikel ini ditayangkan atas kerjasama Singaraja Menonton dan tatkala.co.

  • BACA JUGA:
Ketika Kita Terlalu Cepat Menilai — Catatan untuk Film “Abu-abu” dan “Nyambutin” pada Layar Kolektif Bali Utara
Film Pendek “Made”: Kerasnya Hidup Keluarga Kecil Menghadapi Perkembangan Teknologi
Belajar Tingwe dari Film “Rita Coba Rokok”—Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Kedai Umah Pradja, Singaraja
Mengutuk Pernikahan Usia Dini pada Film “Kembang Eleh” — Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Seririt
Sedih-Tegang dalam Instrumen Film “Metuun” dan “Nyambutin” — Dari Layar Kolektif Bali Utara di Tejakula
Tags: filmfilm pendekSingaraja Menonton
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Deva Dianjaya Rilis Album Perdana Pendevasaan, Suguhkan Single “Dulu Kau Indah” Bertempo Upbeat Bertema Patah Hati

Next Post

Komunikasi Politik Karut-Marut dan Korupsi Akut

Wahyu Mahaputra

Wahyu Mahaputra

Bernama lengkap I Putu Wahyu Mahaputra, akrab dipanggil WM Putra, lahir di Gianyar, 14 Maret 2004. Masyarakat sipil biasa yang baru belajar menulis dan gemar mendengarkan nada-nada minor, sedang menempuh pendidikan di program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Pendidikan Ganesha.

Related Posts

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Komunikasi Politik Karut-Marut dan Korupsi Akut

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengurus KPBU Dikukuhkan —Bupati Buleleng Dukung Perempuan Bali Utara yang Berdaya, Bergerak dan Berdampak
Budaya

Pengurus KPBU Dikukuhkan —Bupati Buleleng Dukung Perempuan Bali Utara yang Berdaya, Bergerak dan Berdampak

BULELENG | TATKALA.CO -- Barisan perempuan duduk berderet dengan gaung berwarna krem dan riasan diri yang lengkap. Perempuan-perempuan itu tampak...

by Rusdy Ulu
September 19, 2026
Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño
Esai

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

Di antara pepohonan kopi yang tumbuh di lereng dan kebun-kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pengetahuan...

by I Ketut Suar Adnyana
September 19, 2026
Morbid Monke Membawa “Feel Alive” ke Seoul: Tiga Panggung, Satu Napas dari Hongdae
Pop

Morbid Monke Membawa “Feel Alive” ke Seoul: Tiga Panggung, Satu Napas dari Hongdae

SEBULAN setelah pulang dari Prancis, Morbid Monke belum berniat mengendurkan langkah. Unit art punk asal Denpasar, Bali, itu kembali membawa...

by Dede Putra Wiguna
September 19, 2026
Ramai Penulis Menjadi Pelukis
Esai

Ramai Penulis Menjadi Pelukis

SAYA mulai curiga ketika beberapa nama penulis yang biasa saya temui di halaman buku, koran, dan media sosial tiba-tiba muncul...

by Angga Wijaya
September 19, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Tato: Menjadikan Tubuh Tempat Ingatan

Kita melihat tato seseorang, tetapi kita tidak pernah benar-benar melihat cerita yang membuatnya memilih tato itu. ADA sesuatu yang menarik...

by Tri Nugroho Adi
September 19, 2026
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram
Esai

“Mindfulness, Privilege”, dan LPDP: Ketika “Self-Care” Bertemu Realitas Sosial

Beberapa waktu terakhir, nama Maudy Ayunda kembali ramai diperbincangkan. Kali ini bukan karena film, musik, atau pendidikan di luar negeri,...

by Isran Kamal
September 18, 2026
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha
Khas

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
Dari Kehilangan hingga Memulai Kembali, Dialog Dini Hari Hadirkan “Rumah Bisa Lahir Sekali Lagi”
Pop

Dari Kehilangan hingga Memulai Kembali, Dialog Dini Hari Hadirkan “Rumah Bisa Lahir Sekali Lagi”

RUMAH tidak selalu berupa tempat. Ia bisa menjadi ruang untuk beristirahat, menjadi diri sendiri, atau sekadar merasa aman. Namun, rumah...

by Dede Putra Wiguna
September 18, 2026
Jangar Kembali Bersuara Melawan Represi Lewat “Air Keras”
Pop

Jangar Kembali Bersuara Melawan Represi Lewat “Air Keras”

KATA-kata bisa lebih menggentarkan kekuasaan ketimbang pedang atau senjata api. Gagasan itulah yang menjadi denyut utama “Air Keras”, single terbaru...

by Dede Putra Wiguna
September 18, 2026
Menulis Kok Seperti Muntah?
Esai

Menulis Kok Seperti Muntah?

SEJAK kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masuk semakin jauh ke dalam kehidupan sehari-hari, semua orang tampaknya bisa menulis. Tidak...

by Angga Wijaya
September 18, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Lalat Pengganggu Kebijakan MBG

SIDANG pembaca yang budiman, pernahkah singgah ke kedai makanan sederhana di pinggir jalan atau pojok pasar? Kadang banyak lalat ya?...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 18, 2026
Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali
Esai

Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali

TEATER Bali adalah pertunjukan kesenian-kesenian, tempat para penjual es ganefo, kacang rebus, rokok eceran, serta permen pedas cap Semar tetap...

by Nanoq da Kansas
September 18, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co