24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dupa Terakhir Sukasih | Cerpen Satria Aditya

Satria Aditya by Satria Aditya
June 22, 2025
in Cerpen
Dupa Terakhir Sukasih | Cerpen Satria Aditya

Ilustrasi tatkala.co

DI antara lalu-lalang wisatawan yang memotret pura, patung dan sesajen di pinggir jalan, di satu sudut kota Denpasar yang padat, berdirilah sebuah lapak kecil, dari bambu dan kayu lapuk beratapkan terpal biru. Di sanalah Yan Tawan dan Sukasih menghabiskan hari-hari mereka—menjual dupa, bunga cempaka, canang, janur dan banten-banten lain yang dirangkai rapi.

“Bali tanpa upacara seperti tubuh tanpa jiwa,” kata Yan Tawan kepada pembeli langganannya, sambil membungkus dupa ke dalam plastik.

Namun di balik kesahajaan itu, ada kesunyian yang mencekam setiap malam dalam rumah kontrakan mereka. Tak jauh dari lapak mereka. Sekitar lima kilometer dari lapak.

Sudah dua belas tahun mereka menikah. Doa telah dipanjatkan. Sesajen telah dibakar. Setiap pura sudah mereka sembah. Tirta suci telah diteteskan di ubun-ubun mereka oleh para pemangku. Tapi satu hal tak juga datang. Anak.

Malam itu hujan turun gerimis. Langit mendung seolah enggan memberi hangat di rumah itu. Yan Tawan baru saja selesai menggulung tikar yang tadinya untuk membuat canang-canang yang akan dijual besok. Sukasih membuka percakapan yang sudah menjadi rutinitas di setiap malam.

“Yan…,” suara Sukasih pelan. 

Tapi Yan Tawan tahu arah pembicaraan itu.

“Kita harus bahas lagi?” tanyanya, tanpa menoleh.

Sukasih menatap punggung suaminya, matanya sudah merah. “Aku ingin anak, Bli. Aku ingin punya alasan untuk hidup.”

“Kita sudah mencoba segalanya, Kasih.”

“Belum semuanya! Kau yang belum cukup mencoba!” teriak Sukasih.

“Pelankan suaramu, Kasih! Nanti tetangga mendengar hal-hal yang tidak perlu seperti ini,” bisik Yan Tawan. 

“Ini masalah serius, Bli! Bukan hanya urusan kecil yang besok bisa dilupakan.”

Yan Tawan berbalik dan melempar tikar yang sudah ia gulung tadi. “Tapi kita ini hanya pedagang kecil. Tak setiap hari semua dagangan kita ini laku. Rumah saja masih ngontrak, bagaimana caranya kita membiayai anak kita?” 

“Itu bukan persoalan kita bisa menghidupinya atau tidak! Lebih baik tetangga mendengar pembicaraan kita ini. Dari pada harus mendengar mereka berkata kalau aku tidak bisa punya anak!”

Sukasih mendengar dan memegang lembut tangan Yan Tawan, “Mungkin… memang kau yang tak bisa. Kau mandul, Bli.”

Kata itu menggema seperti genta pura—nyaring, menusuk, tak terhindarkan. Yan Tawan berdiri perlahan, menatap mata istrinya. 

“Jangan bilang itu! Kau tak berhak berkata seperti itu, Kasih! Kita belum tau, siapa yang sebenarnya tidak bisa!”

“Tapi itu kenyataannya! Kau buang-buang waktuku. Aku wanita, Bli! Aku ingin mempunyai anak! Aku ingin menggendongnya setiap hari! Tapi kau…” Sukasih memukul dada suaminya, keras. “Kau cuma lelaki cacat!”

“Kasih!” wajah Yan Tawan memerah.

Detik itu, seperti ada sesuatu yang patah di dalam diri Yan Tawan. Tangan yang selama ini tak pernah menyakiti bahkan seekor semut, mengayun dengan keras. Sukasih terhuyung. Ia jatuh, kepalanya membentur meja di belakangnya.

Yan Tawan terpaku, tubuhnya gemetar. Ia merangkul dan menggoyang bahu Sukasih, memanggil namanya berulang kali. Tapi tak ada jawaban. Dari belakang kepalanya mengalir darah segar melewati tangan dan jemari kiri Yan Tawan. Tubuh itu telah dingin, mata itu kosong menatap langit-langit.

Panik, ketakutan, dan rasa bersalah menyatu dalam satu racikan mematikan. Yan Tawan semakin gemetar. Air matanya mengalir deras, menetes ke tubuh Sukasih istrinya. Yan Tawan makin gemetar, ia terus memanggil nama Sukasih. 

“Kasih, maaf! Aku tak bermaksud… Bangunlah, Kasih. Bangun!” Yan Tawan menunduk. Kepalanya dan Sukasih bertemu.

Di tengah deras darah dan tangis, Yan Tawan menyeka darah dari kepala Sukasih. Ia membersihkan secara perlahan, dengan penyesalan dan kasih sayang yang selalu ia berikan kepada istrinya. Yan Tawan seperti merawat Sukasih ketika sakit. Ia membopong tubuh dingin istrinya ke atas kasur. Mengganti baju yang penuh dengan darah, mengobati luka di kepala istrinya itu. 

Yan Tawan duduk di sisi kasur. Ia menggenggam tangan istrinya sambil menangis penuh penyesalan.

Dengan tangan gemetar, ia menggali lubang tepat di bawah kasur mereka. Dengan kain putih yang biasa ia gunakan untuk membungkus sesajen, malam itu, ia membungkus tubuh Sukasih. Ia tak lagi menangis. Tidak malam itu.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa, setidaknya bagi dunia luar. Yan Tawan tetap ke lapak, tersenyum kepada pembeli, menyusun bunga seperti biasa. Tak ada yang curiga. Ia hanya akan menjawab jika ada yang bertanya tentang istrinya. Yan Tawan selalu berkata bahwa istrinya sedang sakit.  

Namun malam adalah siksaan.

Kasur itu tak lagi memberi tidur lelap. Ia merasa ada mata yang menatap dari bawah. Bau dupa berubah menjadi bau tanah basah. Kadang-kadang, ia mendengar suara langkah halus di kamar. Tirai bergerak padahal tak ada angin.

Pada malam ke tujuh, satu minggu setelah ia membunuh istrinya, Yan Tawan mendengar suara lembut, sangat dekat dengan telinganya. Suaranya sangat tidak asing.

“Bli… aku ingin anak.”

Ia terbangun. Keringat membasahi tubuhnya. Ia menatap semua sudut kamarnya. Tidak ada siapa-siapa di kamar.

Kejadian ini terjadi setiap malam. Ia mulai kehilangan akal. Setiap malam menyalakan dupa, memohon ampun. Namun suara itu terus datang. Kadang ia melihat bayangan wanita berambut panjang duduk di pinggir kasur. Kadang ada tangan yang memegang pergelangan kakinya di tengah malam.

Ia pergi ke dukun. Bertanya kepada pemangku pura. Namun tak satupun bisa menenangkan pikirannya.

Hingga suatu malam, ia melihat Sukasih berdiri di pojok kamar. Tubuhnya membiru, bibirnya pucat. Tapi matanya, mata itu penuh air.

“Kau berjanji akan memberiku anak…” katanya dengan suara yang lebih menyerupai desir angin di antara daun janur.

“Kasih, maaf!” Yan Tawan menjerit. Ia berlari keluar rumah, meninggalkan lapak, meninggalkan segalanya.

Beberapa hari kemudian, pemilik rumah dan warga sekitar menemukan rumah itu kosong. Tapi ada bau aneh menyengat dari dalam kamar. Mereka mencari sumber bau itu. Saat kasur diangkat, mereka menemukan tanah gembur, dan dari dalam menyembul kain putih dengan simpul upacara yang perlahan terurai.

Dan sejak hari itu, siapa pun yang tidur di rumah itu akan bermimpi tentang seorang wanita bernama Sukasih—yang terus menuntut satu hal:

“Beri aku anak!” [T]

Penulis: Satria Aditya
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Teman Sepanjang Perjalanan | Cerpen Putu Gede Pradipta
Lengkingan Gagak Hitam | Cerpen Mas Ruscitadewi
Toh Langkir dan Perang Itu | Cerpen Mas Ruscitadewi
Rudra Tiga | Cerpen Mas Ruscitadewi
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Memungut yang Hilang, Terbenam dalam Ingatan Ikan-ikan Karya sasti gotama

Next Post

Puisi-puisi Tjahjono Widarmanto | Riwayat, Takziah, Pulung Gantung

Satria Aditya

Satria Aditya

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha. Kini tinggal di Denpasar, jadi guru

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Tjahjono Widarmanto | Riwayat, Takziah, Pulung Gantung

Puisi-puisi Tjahjono Widarmanto | Riwayat, Takziah, Pulung Gantung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co