6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menelusuri Jejak Walter Spies Sembari Membangun Refleksi Pembangunan Bali

I Nyoman Gede Maha Putra by I Nyoman Gede Maha Putra
May 26, 2025
in Ulas Film
Menelusuri Jejak Walter Spies Sembari Membangun Refleksi Pembangunan Bali

Film Roots

NAMA Walter Spies tentu saja sudah tidak asing lagi bagi sebagian besar masyarakat Bali, terutama Ubud. Di tempat tinggal terakhirnya tersebut, ia bahkan punya nama yang lebih diakrabi oleh lidah lokal yaitu Tuan Tepis.

Kamis lalu, 22/05/2025, saya menghadiri undangan untuk menonton sebuah film berjudul Roots: One Hundred Years Walter Spies in Bali. Dari judulnya, saya menebak jika ini akan menjadi sebuah film biograpi pelukis berdarah Jerman-Rusia tersebut.

Dan, saya salah. Sebentar, tidak sepenuhnya salah karena ada juga kilasan cerita tentang kehadirannya di Bali. Sutradaranya bahkan menyertakan kisah ringkas kehidupannya sebelum beranjak ke Hindia Belanda, nama Indonesia pada jaman pra-kemerdekaan. Maksud saya, ini lebih dari sekedar biografi. Ini jauh lebih dalam dan lebih padat. Isinya, jika kita melihatnya dari kacamata masyarakat Bali, adalah sebuah kritik tajam namun disajikan dengan bungkus biografi.

Secara plot, film ini tampil meloncat-loncat. Sesekali, kita disajikan keadaan dunia, terutama di Jerman dan Eropa Barat masa awal abad ke-20, lalu meloncat ke Jakarta dan Yogyakarta tahun 1920-an sebelum ke Bali baik di masa lalu maupun di hari ini. Ini terjadi beberapa kali yang jika digambarkan seperti gigi gergaji, maju mundur. Tetapi dari situ, secara perlahan kita digiring tanpa sadar untuk memahami transformasi apa yang sedang terjadi secara global baik di masa lalu maupun di masa kini. Transformasi yang membuat kita menyaksikan Bali hari ini.

Diceritakaan soal masa kecil hingga remaja Walter Spies, kemudian kehidupan masa perang yang membuatnya cukup nekad bertualang ke Batavia. Tidak sabar menunggu waktu sandar, konon ia melompat dari kapal untuk menuju daratan. Bertahan hidup bukan hal mudah, dan Spies memilih jalan sebagai guru musik hingga ke Yogyakarta di mana ia berjumpa Punggawa Ubud yang membawanya ke Bali. Disinilah petualangannya dimulai.

Spies mengambil sekaligus memberi inspirasi bagi perkembangan seni budaya lokal. Lukisan-lukisannya selama tinggal di Ubud menunjukkan apresiasinya terhadap segala sesuatu yang ada di Bali. Ia juga menginspirasi lahirnya tarian kecak, yang awalnya adalah iringan tarian sacral, untuk bisa menjadi pentas kolosal disaksikan oleh turis. Tidak berhenti di situ, bersama beberapa seniman lokal dan punggawa Ubud, ia juga memodernkan distribusi barang-barang seni melalui koperasi Pita Maha.

Cerita lalu meloncat. Bali kini menghadapi msalah sampah yang pelik. Meningkatnya aktivitas wisata turut berkontrbusi terhadap persoalan yang kini menjadi atensi public. Bli Made Bayak mengajak kita bertualang ke teluk Benoa. Kawasan ini sempat heboh oleh rencana reklamasi yang mendapat penolakan luas. Rencana ini juga merupakan bagian dari perkembangan pariwisata. Bayak bersama seorang warga melihat gunung sampah dari atas perahunya yang melintas di Teluk Benoa.

Persoalan ini juga menjadi inspirasi lukisan-lukisan seniman Gus Dark. Pemuda gondrong asal desa Sidemen ini aktif membuat kartun yang bertemakan kampanye untuk memerangi sampah. Usahanya dilakukan melalui poster hingga penjualan T-Shirt. Desa ini bertetangga dengan Desa Iseh di Karangasem.

Iseh sendiri merupakan desa di mana Spies pernah tinggal saat menjadi buruan pemerintah kolonial. Di sebuah lahan terpencil yang jauh dari permukiman warga, seniman berkulit pucat itu membangun sebuah tempat persembunyian sekaligus tempatnya menyepi. Kini, desa ini ramai dengan rumah peristirahatan berupa villa.

Ya transformasi bidang investasi property juga sedang berlangsung. Lahan-lahan milik masyarakat lokal banyak yang beralih ke tangan investor. Meski tidak segera dibangun, lahan tersebut tetap menguntungkan karena nilainya terus naik setiap tahun. Seorang petani di dalam film, yang ternyata ayah dari seorang kawan, mengatakan ia hanya petani penggarap lahan. Pemiliknya investor besar yang sudah mengakuisisi lahan bertahun lampau.

Di sebelahnya, investor besar dari Rusia sedang membangun mimpi membangun kota global. Pemodal dari seluruh dunia diundang untuk berpartisipasi guna mencapai cita-citanya. Di sana, terselip juga kisah lokal dimana anak-anak diajarkan untuk mencintai budayanya. Selain itu, investasi besar tersebut juga memberi lapangan pekerjaan bagi generasi muda di sana. Ada banyak lagi kisah terserak sepanjang film. Sangat padat, adalah kesan yang saya tangkap.

Di awal acara, sang sutradara menyebutkan Bali menjadi pionir dalam pengembangan pariwisata. Sebelum berkemabng di Bali, memang sudah terjadi perjalanan wisata di eropa tetapi bukan menjangkau wilayah yang jauh dari tempat asal turis. Semenjak Bali dikenal dunia awal abad ke-20, pariwisata dengan tujuan jarak jauh mulai berkembang. Bali, hingga kini, tetap mnjadi salah satu node penting setiap ada pembicaraan atau pembahasan soal pariwisata.

Beberapa kali kesempatan menjadi narasumber seminar di berbagai belahan bumi, orang selalu menanyai saya tentang Bali karena pariwisatanya. Tidak bisa kita pungkiri bahwa salah satu orang yang membuat Bali seperti ini adalah Walter Spies.

Pariwisata dan Bali memang sudah tidak lagi bisa dipisahkan. Dengan segala kontroversi dan keuntungan ekonomi yang dibawanya, kita sudah tidak lagi punya pilihan. Sebagian dari kita memperoleh manfaat langsung dari pariwisata. Sebagian lainnya mungkin tidak mendapat tetapi malah memperoleh gangguan darinya. Di tengahnya, ada masyarakat yang mendapat keuntungan sekaligus juga mendapat kerugian tanpa mampu membuat pilihan. Dualisme dan dualitas yang dilematis inilah yang saya lihat pesan yang ditampilkan.

Ini memang film yang multiintepretasi. Tidak ada hitam putih. Tanpa peran protagonis atau antagonis. Penonton seolah dibiarkan untuk membangun sendiri pembacaannya atas makna yang tersirat. Mereka yng datang sekedar mencari kisah Walter Spies mungkin tidak menemukan apa yang dicarinya secara utuh tetapi menjumpai banyak fakta lain. Fakta-fakta yang tumbuh dari benih dan akar yang ditanam, sebagian, oleh Walter Spies. Karena itulah judulnya sangat tepat: ROOTS. [T]

Penulis: Gede Maha Putra
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis GEDE MAHA PUTRA

  • BACA JUGA:
Harapan itu Bernama Jumbo!
“Fireworks Wednesday”: Api Membakar Cadar Rumah Tangga
“Forushande”: Bagaimana Orang Bisa Berubah Menjadi Sapi?
Elphaba-Glinda (Wicked 2024): Cermin Kontras Psikologi Identitas dalam Komunikasi Antarbudaya
Suitcase (2023) dan Suku Kurdi yang Masih Terdiskriminasi
Tags: balifilmSeni RupaUbudWalter Spies
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Eternals, “Aum” yang Menghenyakkan Jiwa pada Acara “ASMARALOKA”—Album Launch Showcase dari Arkana

Next Post

Wahyu Sanjaya dan Cintya Pradnyandewi Terpilih Sebagai Duta Bahasa Provinsi Bali 2025

I Nyoman Gede Maha Putra

I Nyoman Gede Maha Putra

Dosen arsitektur di Universitas Warmadewa

Related Posts

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

by Dian Suryantini
January 13, 2026
0
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

FILM pendek Anuja terasa seperti tamparan pelan tapi tepat sasaran. Film ini tidak berisik. Tapi berhasil membuat penontonnya terngiang. Saya...

Read moreDetails

Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

by Jaswanto
December 18, 2025
0
Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

ADA sebuah komentar dari netizen―yang saya lupa entah di mana―tentang drama Korea (drakor) berjudul “Taxi Driver”. Komentar itu begini, “Seandainya...

Read moreDetails

Dari Rumah Hantu ke Panti Jompo: Langkah Baru Film ‘Agak Laen’ yang Menggaet Jutaan Pasang Mata

by Vivit Arista Dewi
December 2, 2025
0
Dari Rumah Hantu ke Panti Jompo: Langkah Baru Film ‘Agak Laen’ yang Menggaet Jutaan Pasang Mata

Film Agak Laen kembali hadir dengan langkah yang jauh lebih berani dari sebelumnya. Setelah sukses mengacak-acak rumah hantu, kini mereka...

Read moreDetails

Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

by Bayu Wira Handyan
November 13, 2025
0
Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

SEDIKIT film di Indonesia yang berani menampilkan kemiskinan sebagaimana adanya—banal, kasar, tanpa romantisasi. Sebagian besar memilih jalan aman, menjadikan kemiskinan...

Read moreDetails

The Long Walk (2025): Ritus Kekejaman di Jalan Panjang Tak Berujung

by Bayu Wira Handyan
November 7, 2025
0
The Long Walk (2025): Ritus Kekejaman di Jalan Panjang Tak Berujung

ADA sesuatu yang menakutkan tentang jalanan yang lurus. Ia tidak menjanjikan sebuah tujuan, tetapi yang ia berikan adalah cakrawala yang...

Read moreDetails
Next Post
Wahyu Sanjaya dan Cintya Pradnyandewi Terpilih Sebagai Duta Bahasa Provinsi Bali 2025

Wahyu Sanjaya dan Cintya Pradnyandewi Terpilih Sebagai Duta Bahasa Provinsi Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co