24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Yang Tersisa Dibuat Abadi:  Patung Trenggiling Sunda Karya Ketut Putrayasa di Singapura 

Tatang B.Sp by Tatang B.Sp
February 4, 2025
in Ulas Rupa
Yang Tersisa Dibuat Abadi:  Patung Trenggiling Sunda Karya Ketut Putrayasa di Singapura 

Patung Trenggiling Sunda berjudul "Mother & Child” yang dipajang di Mandai Wildlife Singapura | Foto: Dok. Putrayasa

SETIAP karya patung yang hadir di ruang publik harus mendasarkan pada raison d’etre  atau alasan kehadirannya.

Patung Trenggiling Sunda berjudul “Mother & Child” yang dipajang di Mandai Wildlife Singapura memiliki alasan khusus yakni terhubung dengan kesadaran ekologis. Sebagai pengingat ihwal pentingnya perlindungan satwa langka.

Dengan demikian, karya seni ini sesungguhnya diniatkan untuk mengabadikan sebuah pesan : Trenggiling Sunda penting dijaga keberlangsungan eksistensinya di tengah ancaman kepunahan.

Nama trenggiling berasal dari Bahasa Melayu yang berarti ‘sesuatu yang menggulung’. Yakni menggambarkan kemampuan trenggiling dalam menggulung tubuh seperti bola ketika datang ancaman predator.

Tenggiling Sunda, juga dikenal dengan nama Latin Manis javanica, penyebarannya meliputi wilayah Asia Tenggara : Indonesia, Brunei, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Struktur rangkanya kokoh dan ditunjang empat kaki pendek, yang masing-masing jarinya memiliki cakar panjang, lurus, kuat dan tajam.

Data petunjuk Patung Trenggiling Sunda berjudul “Mother & Child” yang dipajang di Mandai Wildlife Singapura | Foto: Dok. Putrayasa

Cakar pada kaki depan berperan penting dalam menggali sarang semut atau mengoyak gundukan rumah rayap, juga untuk memanjat pohon. Matanya kecil dan dilindungi kelopak mata tebal, yang dapat menjaga mata dari gigitan jenis serangga makanannya. Trenggiling Sunda dipenuhi sisik besar, keras, kokoh dan kuat.

Berbahan keratin berbentuk seperti lempengan, dengan berat 20 persen dari  keseluruhan bobot tubuh. Tersusun menyerupai perisai berlapis sebagai alat pelindung.

Saat terganggu, satwa ini akan mengibaskan ekor hingga sisiknya melukai predator. Itulah sebabnya, pada masa lampau sisik trenggiling dijadikan sebagai bahan baju zirah atau baju perang bagi para prajurit. Diketahui baju pelindung perang jenis ini berada dalam koleksi bangsa Eropa.

Salah satunya diperoleh dari seorang pengelana Perancis akhir abad ke-17 akhir, yang bahannya disinyalir dari Kalimantan. Koleksi itu sekarang dilestarikan di Musee du Quai Branly di Paris (journals.oppenedition.org)

Mamalia purba yang telah bertahan selama 45 juta tahun ini, hidup di hutan hujan tropis dataran rendah dan semak-semak lebat. Dalam ekosistem hutan, Trenggiling Sunda  memiliki peran ekologis yang cukup penting.

Perilakunya dalam berburu mangsa terhubung dengan kesuburan hutan. Menggali sarang semut dan rayap membuat tanah menjadi gembur dan melancarkan siklus biogeokimia hutan. Karena aktif di malam hari, maka tergolong jenis satwa nocturnal. Memakan semut dan rayap, menjadikannya turut berperan dalam menjaga proses regenerasi pohon.

Faktanya, seekor trenggiling dewasa dapat memakan sebanyak 70 juta serangga dalam setahun. Berkat nafsu makannya yang rakus, seekor trenggiling dapat melindungi area hutan seluas 41 hektar, atau 31 kali luas lapangan sepak bola, dari ancaman kerakusan rayap.

Hutan yang subur memproduksi  limpahan oksigen, bukan? Hidup secara soliter (penyendiri), dan berpasangan hanya bila kawin. Sang betina biasanya melahirkan satu atau dua anak saja setiap tahunnya.

Saat ini keberadaannya dalam ancaman kepunahan karena  habitat yang terganggu. Deforestasi yang terjadi di beberapa kawasan Asia Tenggara menjadi penyebabnya.

Jumlah Trenggiling Sunda di alam liar menurun drastis. Perdagangan satwa ilegal juga membayangi kepunahannya. Minat pasar internasional yang tinggi menyebabkan perburuan liar terjadi.

Bahkan satwa ini paling banyak diperdagangkan secara gelap di dunia. Sisik dan dagingnya diyakini memiliki khasiat penyembuh dalam pengobatan tradisional Tiongkok dan Vietnam.

Karena kelangkaannya, Trenggiling Sunda termasuk dalam kategori satwa yang dilindungi. Sejak tahun 2016 semua species trenggiling di seluruh dunia dilindungi dan dikategorikan oleh Daftar Merah Species Terancam IUCN (International Union for Conservation of Nature), sebagai species yang rentan, terancam punah.

Menengok Khazanah Lampau

Pada prinsipnya melindungi hewan yang hampir punah tak lain untuk menjaga kestabilan dan keseimbangan ekosistem. Upaya konservasi terus dilakukan oleh beberapa negara dan kelompok masyarakat sipil.

Interaksi manusia dengan trenggiling yang menjadi topik utama dalam mempromosikan kesadaran ekologis, bisa dibuka kembali lewat khazanah kebudayaan yang menjadi ingatan kolektif  berbagai suku atau masyarakat tradisi yang tersebar di belahan dunia.

Pada beberapa komunitas lokal, trenggiling dianggap sebagai mitos dan memiliki tempat unik dalam berbagai kebudayaan.

Sejumlah suku di Afrika Selatan meyakini bahwa trenggiling datang dari langit pada saat badai petir dan membawa keberuntungan bagi orang-orang yang menjumpainya.

Di Zimunya, Zimbabwe Timur, trenggiling dianggap sebagai satwa sakral dan simbol keberuntungan. Meyakini bahwa menyakiti akan mendatangkan kesialan, bilamana melindunginya akan mendapatkan berkah.

Bagi Suku Sapedi, membunuh trenggiling merupakan pantang karena menghambat musim penghujan penyebab kekeringan. Suku VaJindwi menerapkan kewajiban tradisional, bagi siapa yang menemukan trenggiling diharuskan menyerahkan kepada kepala suku untuk kemudian dilepaskan kembali ke alam liar.

Mitos-mitos semacam itu berlangsung sedemikian hingga menempatkan trenggiling sebagai satwa dalam kedudukan sakral, yang membuat masyarakat lokal pantang memburunya.

Siapa berani menggangu trenggiling, maka amarahnya mampu menyeret manusia ke lorong bawah tanah, begitulah Suku Mbuti di Afrika Tengah secara turun-temurun mempercayainya.

Di tempat lain di Afrika, mitologi trenggiling mencakup kepercayaan  tentang mahluk dengan daya mistis. Kelangkaannya telah menyebabkan banyak dongeng yang menceritakan trenggiling  sebagai penjaga hutan mulai diingat dan diangkat kembali.

Di luar Afrika, beberapa budaya Asia menempatkan mamalia bersisik ini pada makna spiritual. Dipandang sebagai simbol kemakmuran keberuntungan, dan kekuatan.

Legenda Tiongkok, misalnya, terhubung dengan simbol misteri kekuatan: trenggiling keliling dunia lewat bawah tanah. Di Sri Lanka (juga di Malaysia), masyarakat lokal menganggap  trenggiling memiliki kekuatan supranatural.

Mereka percaya, trenggiling mampu membunuh seekor gajah dengan menggigit kedua kakinya, lalu melingkar pada belalai untuk mencekiknya.

Dalam cerita rakyat Melayu di Malaysia, trenggiling dipercaya sebagai reinkarnasi plasenta seorang ibu. Rahim ibu adalah sumber keberuntungan dan kemakmuran manusia semenjak janin, bukan?

Penggambaran trenggiling dalam tradisi Afrika dan Asia mencerminkan status mamalia bersisik ini lebih dari sekedar hewan, tapi mengangkat derajatnya hingga ke ranah penghormatan dan mistik.

Kearifan lokal semacam itu turut membantu dalam mempromosikan sikap dan kebijakan yang diorientasikan pada pelestarian. Mitologi pada kepercayaan berbagai komunitas lokal menyarankan peran etis manusia dalam melindungi eksistensinya.

Ingatan Yang Diawetkan

Sebagai bagian dari perluasan kebijakan di bidang ekologi, Singapura membangun proyek seni berupa patung ikonik Trenggiling Sunda.

Menjadikannya sebagai sarana dalam memperkenalkan satwa langka kepada masyarakat global demi meningkatkan kesadaran kolektif bagi kelestariannya. Karya seni patung”Mother & Child” dengan diameter 5 meter dan tinggi 3 meter  ini dibuat oleh I Ketut Putrayasa, seniman asal Bali.

Patung Trenggiling Sunda berjudul “Mother & Child” yang dipajang di Mandai Wildlife Singapura | Foto: Dok. Putrayasa

Sebuah commission art di tengah keindahan lanskap Mandai Wildlife Singapura dan Lawrence Wong, Perdana Menteri yang baru, akan meresmikannya. Mandai Wildlife Singapura adalah cagar alam yang yang menjadi landmark ikonik. Sebuah kawasan dengan komitmen perlindungan bagi keanekaragaman hayati dan konservasi satwa liar global, utamanya pelestarian bagi species satwa yang terancam punah.

Pemerintah Singapura berambisi menjadikan kawasan ini sebagai andalan destinasi wisata terbesar se-Asia. Terbuat dari kuningan dengan kerangka stainless, patung ini dikerjakan sedemikian hingga menghadirkan paduan antara kelenturan dan kekokohan. Sisik-sisik kokoh bertumpang-tindih mengikuti posisi tubuh yang melingkar melahirkan “rasa gerak” elastis atau lentur.

Hal yang lain, warna kuningan menghadirkan suasana hangat. Kekokohan, kelenturan dan kehangatan merupakan kualitas nilai yang terhubung dengan sikap perlindungan, pemeliharaan dan kepedulian.

Induk Trenggiling Sunda tampak meringkuk sementara seekor anak menyembul keluar dari badannya adalah metafora tentang naluri keibuan yang secara alamiah terhubung dengan kualitas nilai di atas.

Lebih luas lagi, tentu saja naluri itu juga berlaku bagi setiap orang yang memiliki respek pada upaya pelestarian mamalia bersisik yang terancam punah itu.

Modernitas meminggirkan sesuatu yang dulu pernah ada di bumi, tapi seiring waktu modernitas pula yang merindukan kembali apa yang hilang.

Mandai Wildlife Singapura adalah sebuah proyek ambisius dengan visi ekologis: keseriusan sebuah negara modern dalam merawat kembali keanekaragaman hayati, termasuk tetumbuhan berserta satwa dalamnya.

Patung Trenggiling Sunda “Mother & Child’ berdiri kokoh sebagai ikon untuk mengabadikan visi tersebut. Dan, Singapura memahami soal itu.

Pada saat yang bersamaan, ada sebuah negeri berkudung hutan-hutan sedang bernafsu membabat lebatnya, dengan dalih modernitas. Negeri yang salah menyangka itu bernama Indonesia.[T]

Penulis: Tatang B. Sp
Editor: Adnyana Ole

Meja yang Menyatakan Hasrat
Catatan Akhir Tahun: Ulu Ledak Sang Kromoson   
Kode Gurita di Pantai Berawa
Satire “Sisyphus Game” Ketut Putrayasa
“Proyek Mengeringkan Air” Ketut Putrayasa: Sebuah Cibiran Sekaligus Pesan untuk Masa Depan
Tags: Ketut Putrayasaseni patungSeni RupaSingapura
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Teater Masuk Pesantren : Teater sebagai Medium Kampanye Nilai-nilai Positif bagi Remaja Pesantren

Next Post

“The Baduy Warrior”: Pejuang Suku Baduy

Tatang B.Sp

Tatang B.Sp

Perupa, tinggal di Denpasar, Bali.

Related Posts

Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

by Mahesa Putra
June 18, 2026
0
Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

SEJAK pagi langit mendung, angin membuat barisan pohon kelapa di halaman Roemah Tumbuh Kembang menari. Padahal sudah satu minggu ini...

Read moreDetails

Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

by Oka Rusmini
June 15, 2026
0
Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

SEBUAH pertanyaan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik kalimat pendek, “What’s for Dinner?” atau “Mau makan malam apa?”,...

Read moreDetails

Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

by Mas Ruscitadewi
June 13, 2026
0
Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar....

Read moreDetails

Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

by Made Chandra
June 8, 2026
0
Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

DERAP langkah beranjak naik, kain tirai perlahan mulai disingkapkan, lalu dengan segera bunyi-bunyian kendang, tembang dan segala perangkat kesenian jaranan,...

Read moreDetails

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

by Made Chandra
June 2, 2026
0
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

Read moreDetails

Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

by I Gede Made Surya Darma
May 7, 2026
0
Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

DI tengah geliat seni rupa kontemporer yang semakin cair dan lintas disiplin, pameran “Roots & Routes” yang berlangsung di Biji...

Read moreDetails

Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

by Made Chandra
May 4, 2026
0
Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

Artikel ini adalah catatan kuratorial pameran seni rupa “Refracted” pada 2 Mei 2026 di Ruang Arta Derau, Tegallalang. Tak pernah...

Read moreDetails

Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

by Made Chandra
April 14, 2026
0
Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

HARI itu rasanya begitu spesial, hari dimana buku-buku tersusun bertumpuk untuk dirayakan kehadirannya. Semerebak wangi dupa menyeruak sampai menyentil dalam-dalam...

Read moreDetails

Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan? —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

by I Wayan Sujana Suklu
March 27, 2026
0
Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan?  —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

Membaca Aurora Blue dan Red Blossom karya Wayan Kun Adnyana, pameran Parama Paraga Retrospective of Biographical Metaphoric Figure to New...

Read moreDetails

SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

by I Wayan Sujana Suklu
March 24, 2026
0
SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

Liminalitas sebagai Ambang Kosmologis LIMINALITAS, dalam pengertian paling mendasar, bukan sekadar fase peralihan, melainkan kondisi ontologis di mana batas-batas eksistensi...

Read moreDetails
Next Post
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

“The Baduy Warrior”: Pejuang Suku Baduy

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co