6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Yang Tersisa Dibuat Abadi:  Patung Trenggiling Sunda Karya Ketut Putrayasa di Singapura 

Tatang B.Sp by Tatang B.Sp
February 4, 2025
in Ulas Rupa
Yang Tersisa Dibuat Abadi:  Patung Trenggiling Sunda Karya Ketut Putrayasa di Singapura 

Patung Trenggiling Sunda berjudul "Mother & Child” yang dipajang di Mandai Wildlife Singapura | Foto: Dok. Putrayasa

SETIAP karya patung yang hadir di ruang publik harus mendasarkan pada raison d’etre  atau alasan kehadirannya.

Patung Trenggiling Sunda berjudul “Mother & Child” yang dipajang di Mandai Wildlife Singapura memiliki alasan khusus yakni terhubung dengan kesadaran ekologis. Sebagai pengingat ihwal pentingnya perlindungan satwa langka.

Dengan demikian, karya seni ini sesungguhnya diniatkan untuk mengabadikan sebuah pesan : Trenggiling Sunda penting dijaga keberlangsungan eksistensinya di tengah ancaman kepunahan.

Nama trenggiling berasal dari Bahasa Melayu yang berarti ‘sesuatu yang menggulung’. Yakni menggambarkan kemampuan trenggiling dalam menggulung tubuh seperti bola ketika datang ancaman predator.

Tenggiling Sunda, juga dikenal dengan nama Latin Manis javanica, penyebarannya meliputi wilayah Asia Tenggara : Indonesia, Brunei, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Struktur rangkanya kokoh dan ditunjang empat kaki pendek, yang masing-masing jarinya memiliki cakar panjang, lurus, kuat dan tajam.

Data petunjuk Patung Trenggiling Sunda berjudul “Mother & Child” yang dipajang di Mandai Wildlife Singapura | Foto: Dok. Putrayasa

Cakar pada kaki depan berperan penting dalam menggali sarang semut atau mengoyak gundukan rumah rayap, juga untuk memanjat pohon. Matanya kecil dan dilindungi kelopak mata tebal, yang dapat menjaga mata dari gigitan jenis serangga makanannya. Trenggiling Sunda dipenuhi sisik besar, keras, kokoh dan kuat.

Berbahan keratin berbentuk seperti lempengan, dengan berat 20 persen dari  keseluruhan bobot tubuh. Tersusun menyerupai perisai berlapis sebagai alat pelindung.

Saat terganggu, satwa ini akan mengibaskan ekor hingga sisiknya melukai predator. Itulah sebabnya, pada masa lampau sisik trenggiling dijadikan sebagai bahan baju zirah atau baju perang bagi para prajurit. Diketahui baju pelindung perang jenis ini berada dalam koleksi bangsa Eropa.

Salah satunya diperoleh dari seorang pengelana Perancis akhir abad ke-17 akhir, yang bahannya disinyalir dari Kalimantan. Koleksi itu sekarang dilestarikan di Musee du Quai Branly di Paris (journals.oppenedition.org)

Mamalia purba yang telah bertahan selama 45 juta tahun ini, hidup di hutan hujan tropis dataran rendah dan semak-semak lebat. Dalam ekosistem hutan, Trenggiling Sunda  memiliki peran ekologis yang cukup penting.

Perilakunya dalam berburu mangsa terhubung dengan kesuburan hutan. Menggali sarang semut dan rayap membuat tanah menjadi gembur dan melancarkan siklus biogeokimia hutan. Karena aktif di malam hari, maka tergolong jenis satwa nocturnal. Memakan semut dan rayap, menjadikannya turut berperan dalam menjaga proses regenerasi pohon.

Faktanya, seekor trenggiling dewasa dapat memakan sebanyak 70 juta serangga dalam setahun. Berkat nafsu makannya yang rakus, seekor trenggiling dapat melindungi area hutan seluas 41 hektar, atau 31 kali luas lapangan sepak bola, dari ancaman kerakusan rayap.

Hutan yang subur memproduksi  limpahan oksigen, bukan? Hidup secara soliter (penyendiri), dan berpasangan hanya bila kawin. Sang betina biasanya melahirkan satu atau dua anak saja setiap tahunnya.

Saat ini keberadaannya dalam ancaman kepunahan karena  habitat yang terganggu. Deforestasi yang terjadi di beberapa kawasan Asia Tenggara menjadi penyebabnya.

Jumlah Trenggiling Sunda di alam liar menurun drastis. Perdagangan satwa ilegal juga membayangi kepunahannya. Minat pasar internasional yang tinggi menyebabkan perburuan liar terjadi.

Bahkan satwa ini paling banyak diperdagangkan secara gelap di dunia. Sisik dan dagingnya diyakini memiliki khasiat penyembuh dalam pengobatan tradisional Tiongkok dan Vietnam.

Karena kelangkaannya, Trenggiling Sunda termasuk dalam kategori satwa yang dilindungi. Sejak tahun 2016 semua species trenggiling di seluruh dunia dilindungi dan dikategorikan oleh Daftar Merah Species Terancam IUCN (International Union for Conservation of Nature), sebagai species yang rentan, terancam punah.

Menengok Khazanah Lampau

Pada prinsipnya melindungi hewan yang hampir punah tak lain untuk menjaga kestabilan dan keseimbangan ekosistem. Upaya konservasi terus dilakukan oleh beberapa negara dan kelompok masyarakat sipil.

Interaksi manusia dengan trenggiling yang menjadi topik utama dalam mempromosikan kesadaran ekologis, bisa dibuka kembali lewat khazanah kebudayaan yang menjadi ingatan kolektif  berbagai suku atau masyarakat tradisi yang tersebar di belahan dunia.

Pada beberapa komunitas lokal, trenggiling dianggap sebagai mitos dan memiliki tempat unik dalam berbagai kebudayaan.

Sejumlah suku di Afrika Selatan meyakini bahwa trenggiling datang dari langit pada saat badai petir dan membawa keberuntungan bagi orang-orang yang menjumpainya.

Di Zimunya, Zimbabwe Timur, trenggiling dianggap sebagai satwa sakral dan simbol keberuntungan. Meyakini bahwa menyakiti akan mendatangkan kesialan, bilamana melindunginya akan mendapatkan berkah.

Bagi Suku Sapedi, membunuh trenggiling merupakan pantang karena menghambat musim penghujan penyebab kekeringan. Suku VaJindwi menerapkan kewajiban tradisional, bagi siapa yang menemukan trenggiling diharuskan menyerahkan kepada kepala suku untuk kemudian dilepaskan kembali ke alam liar.

Mitos-mitos semacam itu berlangsung sedemikian hingga menempatkan trenggiling sebagai satwa dalam kedudukan sakral, yang membuat masyarakat lokal pantang memburunya.

Siapa berani menggangu trenggiling, maka amarahnya mampu menyeret manusia ke lorong bawah tanah, begitulah Suku Mbuti di Afrika Tengah secara turun-temurun mempercayainya.

Di tempat lain di Afrika, mitologi trenggiling mencakup kepercayaan  tentang mahluk dengan daya mistis. Kelangkaannya telah menyebabkan banyak dongeng yang menceritakan trenggiling  sebagai penjaga hutan mulai diingat dan diangkat kembali.

Di luar Afrika, beberapa budaya Asia menempatkan mamalia bersisik ini pada makna spiritual. Dipandang sebagai simbol kemakmuran keberuntungan, dan kekuatan.

Legenda Tiongkok, misalnya, terhubung dengan simbol misteri kekuatan: trenggiling keliling dunia lewat bawah tanah. Di Sri Lanka (juga di Malaysia), masyarakat lokal menganggap  trenggiling memiliki kekuatan supranatural.

Mereka percaya, trenggiling mampu membunuh seekor gajah dengan menggigit kedua kakinya, lalu melingkar pada belalai untuk mencekiknya.

Dalam cerita rakyat Melayu di Malaysia, trenggiling dipercaya sebagai reinkarnasi plasenta seorang ibu. Rahim ibu adalah sumber keberuntungan dan kemakmuran manusia semenjak janin, bukan?

Penggambaran trenggiling dalam tradisi Afrika dan Asia mencerminkan status mamalia bersisik ini lebih dari sekedar hewan, tapi mengangkat derajatnya hingga ke ranah penghormatan dan mistik.

Kearifan lokal semacam itu turut membantu dalam mempromosikan sikap dan kebijakan yang diorientasikan pada pelestarian. Mitologi pada kepercayaan berbagai komunitas lokal menyarankan peran etis manusia dalam melindungi eksistensinya.

Ingatan Yang Diawetkan

Sebagai bagian dari perluasan kebijakan di bidang ekologi, Singapura membangun proyek seni berupa patung ikonik Trenggiling Sunda.

Menjadikannya sebagai sarana dalam memperkenalkan satwa langka kepada masyarakat global demi meningkatkan kesadaran kolektif bagi kelestariannya. Karya seni patung”Mother & Child” dengan diameter 5 meter dan tinggi 3 meter  ini dibuat oleh I Ketut Putrayasa, seniman asal Bali.

Patung Trenggiling Sunda berjudul “Mother & Child” yang dipajang di Mandai Wildlife Singapura | Foto: Dok. Putrayasa

Sebuah commission art di tengah keindahan lanskap Mandai Wildlife Singapura dan Lawrence Wong, Perdana Menteri yang baru, akan meresmikannya. Mandai Wildlife Singapura adalah cagar alam yang yang menjadi landmark ikonik. Sebuah kawasan dengan komitmen perlindungan bagi keanekaragaman hayati dan konservasi satwa liar global, utamanya pelestarian bagi species satwa yang terancam punah.

Pemerintah Singapura berambisi menjadikan kawasan ini sebagai andalan destinasi wisata terbesar se-Asia. Terbuat dari kuningan dengan kerangka stainless, patung ini dikerjakan sedemikian hingga menghadirkan paduan antara kelenturan dan kekokohan. Sisik-sisik kokoh bertumpang-tindih mengikuti posisi tubuh yang melingkar melahirkan “rasa gerak” elastis atau lentur.

Hal yang lain, warna kuningan menghadirkan suasana hangat. Kekokohan, kelenturan dan kehangatan merupakan kualitas nilai yang terhubung dengan sikap perlindungan, pemeliharaan dan kepedulian.

Induk Trenggiling Sunda tampak meringkuk sementara seekor anak menyembul keluar dari badannya adalah metafora tentang naluri keibuan yang secara alamiah terhubung dengan kualitas nilai di atas.

Lebih luas lagi, tentu saja naluri itu juga berlaku bagi setiap orang yang memiliki respek pada upaya pelestarian mamalia bersisik yang terancam punah itu.

Modernitas meminggirkan sesuatu yang dulu pernah ada di bumi, tapi seiring waktu modernitas pula yang merindukan kembali apa yang hilang.

Mandai Wildlife Singapura adalah sebuah proyek ambisius dengan visi ekologis: keseriusan sebuah negara modern dalam merawat kembali keanekaragaman hayati, termasuk tetumbuhan berserta satwa dalamnya.

Patung Trenggiling Sunda “Mother & Child’ berdiri kokoh sebagai ikon untuk mengabadikan visi tersebut. Dan, Singapura memahami soal itu.

Pada saat yang bersamaan, ada sebuah negeri berkudung hutan-hutan sedang bernafsu membabat lebatnya, dengan dalih modernitas. Negeri yang salah menyangka itu bernama Indonesia.[T]

Penulis: Tatang B. Sp
Editor: Adnyana Ole

Meja yang Menyatakan Hasrat
Catatan Akhir Tahun: Ulu Ledak Sang Kromoson   
Kode Gurita di Pantai Berawa
Satire “Sisyphus Game” Ketut Putrayasa
“Proyek Mengeringkan Air” Ketut Putrayasa: Sebuah Cibiran Sekaligus Pesan untuk Masa Depan
Tags: Ketut Putrayasaseni patungSeni RupaSingapura
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Teater Masuk Pesantren : Teater sebagai Medium Kampanye Nilai-nilai Positif bagi Remaja Pesantren

Next Post

“The Baduy Warrior”: Pejuang Suku Baduy

Tatang B.Sp

Tatang B.Sp

Perupa, tinggal di Denpasar, Bali.

Related Posts

SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

by Hartanto
February 24, 2026
0
SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

BENCANA banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan beberapa daerah di Indonesia – menurut saya, bukanlah sekedar bencana...

Read moreDetails

Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

by Agung Bawantara
February 22, 2026
0
Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

OGOH-OGOH Kalabendu karya Sekaa Teruna (ST) Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu, Kuta Selatan, menempatkan figur bhutakala bertangan enam sebagai pusat komposisi....

Read moreDetails

Rush to Paradise: Tumbal Menuju “Surga”

by I Wayan Westa
February 22, 2026
0
Rush to Paradise: Tumbal Menuju “Surga”

INI mobil kayu, mirip Ferrari, kendaraan tercepat di lintas darat. Dipajang di Labyrinth Art  Galleri Nuanu, Tabanan. Di ruang pameran...

Read moreDetails

Ombak, Ingatan, dan Pantai yang Dipertaruhkan — Catatan dari Pameran ‘Magic in The Waves’ Made Bagus Irawan

by Agung Bawantara
February 19, 2026
0
Ombak, Ingatan, dan Pantai yang Dipertaruhkan — Catatan dari Pameran ‘Magic in The Waves’ Made Bagus Irawan

Pameran Foto MAGIC IN THE WAVEFotografer : Made Bagus IrawanKurator : Ni Komang ErvianiProduser : Rofiqi HasanPameran. : 18 –...

Read moreDetails

Grafis yang Melentur: Menerka Praktik Berkesenian Seorang Kadek Dwi

by Made Chandra
February 9, 2026
0
Grafis yang Melentur: Menerka Praktik Berkesenian Seorang Kadek Dwi

APA yang tebersit ketika kita membayangkan kata grafis dalam kacamata kesenian hari ini? Bagaimana posisinya, atau bahkan eksistensinya, di era...

Read moreDetails

Menabur Ketabahan: Membaca “Tabur Tabah” Karya Derry Aderialtha Sembiring

by Rasman Maulana
February 6, 2026
0
Menabur Ketabahan: Membaca “Tabur Tabah” Karya Derry Aderialtha Sembiring

SUNGGUH menarik melihat “Tabur Tabah” karya Derry Aderialtha Sembiring di pameran seni rupa “Pulang ke Palung”—Denpasar, 24 Desember 2025 sampai...

Read moreDetails

Fajar dan Rekonstruksi Prambanan

by Hartanto
February 3, 2026
0
Fajar dan Rekonstruksi Prambanan

PADA tahun 1995, saya bersama wartawan majalah TEMPO, Putu Wirata -  menghadiri, atau tepatnya meliput Upacara Tawur Kesanga Hari Raya...

Read moreDetails

Mengurai Ke-Aku-An Seorang Wayan Suja : Catatan pinggir dari kacamata Gen-z dalam membaca relasi otonom-heteronom seorang seniman Gen-X

by Made Chandra
February 2, 2026
0
Mengurai Ke-Aku-An Seorang Wayan Suja : Catatan pinggir dari kacamata Gen-z dalam membaca relasi otonom-heteronom seorang seniman Gen-X

MENDENGAR adalah kegiatan tersulit yang sanggup untuk dilakoni oleh seorang seniman. Gurauan tentang bagaimana seniman adalah kegilaan yang diciptakan oleh...

Read moreDetails

Print-Mapping: Decolonial Axis — a Solo exhibition by Agung Pramana

by Vincent Chandra
January 30, 2026
0
Print-Mapping: Decolonial Axis — a Solo exhibition by Agung Pramana

“Ne visitez pas I’Exposition Coloniale! (Jangan kunjungi Pameran Kolonial!)”, begitu desak kelompok seniman surealis Prancis melalui selebaran-selebaran yang mereka bagikan...

Read moreDetails

Golden Hibernation, Sonic: Re-Listening and Re-activating the Sleeping Narrative

by Angelique Maria Cuaca
January 12, 2026
0
Golden Hibernation, Sonic: Re-Listening and Re-activating the Sleeping Narrative

BAGAIMANA membangunkan kembali pengetahuan yang tertidur—cerita yang tertinggal di lidah, ingatan bunyi yang mulai hilang bentuknya, catatan perjalanan yang tersisa...

Read moreDetails
Next Post
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

“The Baduy Warrior”: Pejuang Suku Baduy

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co