30 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tirtayatra Toska Se-Delod Ceking :  Pura Geger Dalem Pemutih dan Pura Karang Boma

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
February 3, 2025
in Tualang
Tirtayatra Toska Se-Delod Ceking :  Pura Geger Dalem Pemutih dan Pura Karang Boma

Pohon Sawa Kecik di Madya Mandala Pura Geger Dalem Pemutih

SETELAH persembahyangan di Pura Ratu Ayu Dalem Mumbul, rombongan Toska melanjutkan perjalanan menuju Pura Geger Dalem Pemutih dan Pura Karang Boma di Wilayah Banjar Sawangan Desa Adat Peminge. Jarak tempuh dari Toska (SMA Negeri 2 Kuta Selatan) ke Pura Geger Dalem Pemutih sekitar 10 menit dengan berkendaraan jika tidak macet. Di Pura Geger Dalem Pemutih bertepatan dengan Hari Siwa Ratri, Soma Wage Dukut, 27 Januari 2025 adalah persis 42 hari setelah karya Ngenteg Linggih dilaksanakan. Saat rombongan Toska sampai di Madya Mandala yang asri Ratu Peranda sedang mapuja serangkaian upacara satu bulan pitung dina (42 hari) setelah ngenteg linggih. Kesempatan bagi rombongan Toska mategtegan mengatur napas sebagaimana layaknya pranayama untuk menenangkan diri, sambil menyiapkan sarana pamuspan.

Setelah berkoordinasi dengan Pemangku, persembahyangan Toska dimulai di Madya Mandala dengan pintu bebetelan tembus ke laut. Dalam benak saya terlintas bebetelan itu adalah pintu niskala yang menghubungkan sinyal laut lepas dan Pulau Nusa Penida. Sinyal laut lepas sebagai pertanda keterhubungan antara Dalem Segara (Hyang Baruna) dengan umat-Nya yang memuliakan laut  ditandai dengan seringnya mulang pakelem di sekitar Pantai Geger  demi hubungan harmonis sekala niskala. Sementara itu, Pulau Nusa Penida yang karakteristiknya mirip dengan wilayah geografi Gumi Delod Ceking seakan membangun komunikasi jarak jauh untuk saling menjaga dan saling terhubung antar penguasa di dua Kawasan itu.

Persembahyangan di Pura Geger Dalem Pemutih | Foto: Dok. Nyoman Tingkat

Di Madya Mandala Pura Geger Dalem Pemutih juga terdapat dua pohon, Pohon Sawa Kecik dan Pohon Kem. Oleh IB Agastya, dalam bukunya berjudul Segara Giri di bawah Pohon  Sawa Kecik ini diperkirakan Dang Hyang Dwijendra menyurat karya sastra. Sementara itu, Pohon Kem sebagai pohon berduri yang langka  dan biasanya berbuah  pada musim hujan. Rasanya asam manis. Pohon Kem adalah tanaman khas di wilayah bukit yang dipercaya sebagai ramuan obat.

Jika di Madya Mandala terdapat Pohon Sawa Kecik dan Pohon Kem, di Utama Mandala Pura Geger Dalem Pemutih terdapat Pohon Juwet, tanaman khas Gumi Delod Ceking yang keberadaannya kian langka kini, seiring dengan beralih fungsinya lahan pertanian menjadi ladang pariwisata yang sangat rentan diserang isu dan membuat manusia peladangnya dagdigdug, tiadalah tenang kalau-kalau terjadi isu-isu miring pariwisata. Isu miring itu kini bisa datang dari sesama pengelola Kawasan dengan persaingan yang tidak sehat, yang seharusnya tidak perlu terjadi kalau Sapta Pesona diimani.

Terlepas dari risiko paceklik ladang pariwisata, secara ekolinguistik, Pohon Sawa Kecik, Kem, dan Juwet di area Pura Geger Dalem Pemutih dapat dibaca sebagai teks hidup yang berupaya melestarikan habitat tanaman yang kian langka dari hari ke hari. Oleh karena pohon itu berada di area Pura, pada akhirnya akan menjadi sakral sebagai mana Pohon Sawa Kecik yang dibusanai dengan kain poleng, identik dengan tugas Pecalang. Begitulah, Pura Geger Dalem Pemutih selain mengingatkan umat-Nya selalu terhubung ke atas dengan Sang Pencipta, juga mengingatkan untuk melestarikan tanaman sebagai kakek/nenek umat manusia sesuai dengan takdir penciptaan semesta. Mula-mula ada tumbuhan, lalu binatang, dan terakhir adalah manusia. Sangatlah rasional bila Tumpek Wariga tiba, mantra sesapa tetua Bali, “Kaki-kaki, dadong jumah, tiang mpanagarah buin selae dina Galungan, apang mabuah nged..nged…nged”. Sungguh pemuliaan buat Sang Tumbuh yang dijaga Dewa Sangkara.

Pura Dalem Karang Boma Sawangan Desa Adat Peminge | Foto: Dok. Nyoman Tingkat

Menarik pula di catat di Utama Mandala dengan Pelinggih Utama Gedong dan Meru Tumpang Tiga, Padmasana, Balai Sekaa Unen juga terdapat bak penampungan air hujan. Bak ini menjadi istimewa sekaligus penanda daerah yang berdanau di langit “madanu di langit” yang mengandalkan air hujan untuk memenuhi aneka kebutuhan. Seperti juga Pura Ratu Ayu Dalem Mumbul dengan Pura Taman sebagai taman bejinya, Pura Geger Dalem Pemutih juga memiliki Taman Beji sekitar 200 meter dari Kawasan Pura terletak di pantai yang kalau air laut pasang sumber kelebutan tidak tampak. Pemedek disarankan malukat pada saat Purnama atau Tilem sore hari ketika laut surut sehinga dapat  Tirta dari air kelebutan yang segar dan sejuk membasuh jiwa raga. Sumber Air Kelebutan  ini diperkirakan terhubung dengan Air Kelebutan di Pura Taman Mumbul, yang sama-sama disucikan sebagai tempat malukat.

Begitulah rombongan Toska mengakhiri persembahyangan di Pura Geger Dalem Pemutih setelah mendapatkan Tirta dan Bija dari Jro Mangku untuk selanjutnya menuju Pura Karang Boma yang jaraknya sekitar 1 km dengan waktu tempuh sekitar 5 menit. Sebelum meninggalkan Pura Geger Dalem Pemutih, tak lupa memainkan kamera mengambil gambar dari segala sisi dengan pemandangan yang indah, kombinasi laut dan gunung, penataan yang artistik dan dukungan kuliner yang menggoda untuk sekadar ngopi berteman ombak tenang menyaksikan peselancar bermain ombak, senang berayun.  Sungguh paduan yang serasi antara segara-giri tak ubahnya cinta sejati ibu dan ayah. Penuh kasih sayang sebagaimana kamus Pendidikan dioperasionalkan.

Tiba di Pura Karang Boma sekitar pk 10.00 Wita, kami harus sabar menunggu Jro Mangku yang juga ikut prosesi di Pura Geger Dalem Pemutih serangkaian upacara 42 hari pasca Ngenteg Linggih. Di tengah gerimis tipis, kami menunggu kehadiran Jro Mangku. Tidak berselang lama, Jro Mangku Gunung dan Jro Mangku Kodir datang berdua berboncengan. Kami mengiringi dari belakang setelah pintu masuk candi bentar dibuka kuncinya. Mengiringi Jro Mangku memasuki Utama Mandala di kedalaman melewati Jaba Tengah dengan Balai Panjang tempat para pelawatan  barong distanakan saat Pujawali yang jatuh setiap Tumpek Landep. Oleh karena itu, masyarakat setempat menyebut Pura Karang Boma adalah  Pura Barong-Barong. Barong dari berbagai daerah di Denpasar ke Pura ini ngaturang ayah napak pertiwi selain juga barong dari Desa Adat Peminge yang dijaga dan dirawat taksu-nya oleh sekaa unen masing-masing.

Sebagai Pura yang bertetangga dengan Pura Geger Dalem Pemutih, Pura Karang Boma di Banjar Sawangan ini memiliki kesamaan.  Adanya Sekaa Unen yang ngungsung dari segi seni budaya komunal. Selain itu, posisinya juga di tebing tepatnya di bangkiang ngampan pada posisi kedalaman. Lalu, di Utama Mandala terdapat tanaman langka yang tidak diketahui namanya oleh Jro Mangku Gunung. “Seorang pendeta dari Karangasem, menyebutnya Pohon Menanga”, kata Jro Mangku Gunung menjelaskan.

“Kok aneh, di tempat kering berbatu, Pohon Menanga tumbuh ? Biasanya tumbuh di daerah gunung dan banyak air”, kata Sang Pendeta sebagai mana ditirukan oleh Jro Mangku Gunung.

Pohon Menanga di depan Gedong Utama Pura Dalem Karang Boma | Foto: Dok. Nyoman Tingkat

Keajaiban Pura Karang Boma yang berada di posisi di kedalaman tak ubahnya masuk ke goa dalam diri menelusuri tubuh aksara sebagai sumber bacaan yang tak pernah habis-habisnya. Di bawah Pura Karang Boma juga ada tempat malukat yang biasa digunakan sebagai Taman Beji-nya. Mirip dengan Taman Beji di Pura Geger Dalem Pemutih. Jika pujawali di Pura Geger Dalem Pemutih berdasarkan perhitungan sasih, tepatnya  Panglong apisan Purnama Kanem, maka pujawali di Pura Karang Boma berdasarkan perhitungan wuku, tepatnya pada Saniscara Kliwon Landep (Tumpek Landep).

Kini Pura Karang Boma diapit oleh villa milik investor di kanan kirinya. Jalan menuju Pura juga tampak hijau sebagai dampak pariwisata. Semoga tidak hanya sekadar menjadi taman mini dan tontonan gratis bagi wisatawan. Keberadaannya diharapkan saling mendukung dan hidup-menghidupi sebagaimana layaknya slogan SMA : Maju bersama hebat semua !

Begitulah perjalanan Toska di Pura Karang Boma diakhiri dengan nunas tirta dan bija sebagai lambang menerima waranugraha Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Kami berpamit  sekaligus menyampaikan terima kasih kepada Jro Mangku Gunung dan Jro Mangku Kodir yang memberikan pelayanan kepada kami. Selanjutnya, Toska menuju Pura Gunung Payung sekitar 10 menit dari Pura Karang Boma Sawangan Desa Adat Peminge. Perjalanan ke Pura Gunung Payung disampaikan pada edisi selanjutnya. [T]

Penulis: I Nyoman Tingkat
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis  NYOMAN TINGKAT
Tirtayatra Toska Se-Delod Ceking :  Pura Taman Mumbul dan Pura Ratu Ayu  Dalem
Tradisi “Mendak Hujan” di Gumi Delod Ceking     
Membaca Gumi Delod Ceking dari Tol Bali Mandara    
Pura Gunung Payung di Gumi Delod Ceking
Tags: Gumi Delod Cekingkuta selatanPura GegerSMAN 2 Kuta Selatantirtayatra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Liong dan Barongsai, Hidup dan Kuat Setelah Sempat “Dimatikan” | Cerita Tercecer Imlek di Singaraja-Bali

Next Post

Kami, 23 Penyu Itu, Menuju Laut dengan Aman, Tapi Laut Barangkali Tidak Aman…

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
0
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

Read moreDetails

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
0
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

Read moreDetails

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

by Chusmeru
July 13, 2026
0
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

Read moreDetails
Next Post
Kami, 23 Penyu Itu, Menuju Laut dengan Aman, Tapi Laut Barangkali Tidak Aman…

Kami, 23 Penyu Itu, Menuju Laut dengan Aman, Tapi Laut Barangkali Tidak Aman...

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

MAKANAN sehari-hari yang kita konsumsi tentu tidak hadir begitu saja di atas meja makan kita. Sepiring nasi tidak lahir begitu...

by Muhammad Farras Hanif
August 29, 2026
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana
Ulas Rupa

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

by Hartanto
August 29, 2026
Telenovela
Esai

Sebelum Bali Dituduh Rasis, Ada Seorang Ibu yang Sedang Makan

SEBELUM Bali dituduh rasis, ada seorang ibu yang sedang makan. Kalimat itu mungkin terdengar terlalu sederhana untuk sebuah perkara yang...

by Angga Wijaya
August 29, 2026
Duta Bahasa Provinsi Bali Serahkan Model Pembelajaran Serasi kepada SLB Negeri 2 Denpasar
Pendidikan

Duta Bahasa Provinsi Bali Serahkan Model Pembelajaran Serasi kepada SLB Negeri 2 Denpasar

DENPASAR | TATKALA.CO -- Duta Bahasa Provinsi Bali menyerahkan Model Pembelajaran Serasi (Strategi Berbasis Multimodal bagi Disabilitas Rungu untuk Menyusun...

by Rusdy Ulu
August 29, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

LEVEL PERDEBATAN DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 29 Agustus 2026 Hindu mengenal struktur epistemologi yang berjenjang. Artinya apa? Hindu tidak memaksakan satu...

by Sugi Lanus
August 29, 2026
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka
Khas

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Di Bawah Lampu Kerlap-Kerlip: Membaca Fenomena “Coffee Shop” sebagai Teks Budaya

"Segelas kopi tidak pernah hanya berisi kopi. Di dalamnya terseduh sejarah, identitas, percakapan, bahkan cara manusia memahami dirinya sendiri." MENJELANG...

by Tri Nugroho Adi
August 28, 2026
Kemarau di Kalianget
Buku Tatkala

Kemarau di Kalianget

Judul: Kemarau di Kalianget Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Luh Arik Sariadi ISBN: Masih dalam proses Tebal: 145 halaman...

by Buku Tatkala
August 28, 2026
Agung Ngurah Astara, Kepala Sekolah SMKN 5 Denpasar dengan Perubahan dan Harapan Baru
Pendidikan

Agung Ngurah Astara, Kepala Sekolah SMKN 5 Denpasar dengan Perubahan dan Harapan Baru

SEMUA berawal dari kesungguhan, keteguhan, disiplin dan upaya kreatif dalam menggapai sebuah kemuliaan. Tidak mudah melewati dan menghadapi  tantangan dalam...

by Nyoman Budarsana
August 27, 2026
BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar
Esai

BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

Kebudayaan tidak pernah benar-benar hidup hanya karena diwariskan. Sebuah tradisi akan tetap hidup apabila pengetahuan, nilai, simbol, dan ingatan yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 27, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Destinasi “Detour”: Tren Wisata Alternatif Menyimpang Rute Utama

BERWISATA kadang berjalan tidak sesuai dengan yang direncanakan. Di awal perjalanan sudah ditentukan destinasi wisata mana yang akan dikunjungi. Namun...

by Chusmeru
August 27, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [7]: Rezim Algoritma dan Pembubaran Standar Sastra

Semua tekanan yang sudah diuraikan dalam bagian-bagian sebelumnya bisa dibaca sebagai masalah-masalah yang terpisah. Namun semuanya adalah gejala dari satu...

by Andre Syahreza
August 26, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co