23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bayang Hitam Perempuan dan Botol Depresi | Dari Pentas Seni UAS Mahasiswa PSBKH STAHN Mpu Kuturan

Son Lomri by Son Lomri
December 22, 2024
in Ulas Pentas
Bayang Hitam Perempuan dan Botol Depresi | Dari Pentas Seni UAS Mahasiswa PSBKH STAHN Mpu Kuturan

Pentas Teater Batasan yang Tak Terlihat | Foto: tatkala.co/Son

DI tengah cahaya, perempuan itu duduk di atas kursi. Mukanya murung. Tapi kedua tangannya menari—indah meski tampak masih sedikit tawar. Sesosok hitam atau bayangan hitam (diperankan oleh perempuan juga), mengikuti gerak pikir perempuan pertama, hingga ke mana pun tangannya meliuk.

Panggung gelap terang. Sesosok hitam itu terus membututinya, mengganggu.

Pementasan teater itu berjudul “Batasan yang Tak Terlihat” karya Luh Budiasa, semester 5 Jurusan Pendidikan Seni dan Budaya Keagamaan Hindu (PSBKH), Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN) Mpu Kuturan, Singaraja.

Teater tari itu memang salah satu pertunjukan dari sejumlah pertunjukan dalam rangka Ujian Akhir Semester (UAS) mahasiswa PSBKH STAHN Mpu Kuturan, Jumat, 20 Desember 2024, di Gedung Sasana Budaya Singaraja, Buleleng, Bali.

Ada sepuluh pertunjukan seni yang dipentaskan dalam rangkaian pergelaran itu. Ada tabuh, tari, teater, film dan seni pertunjukan lain. Ada Tabuh Kreasi Bengal, Tari Rejang Panutun, Tabuh Kreasi Malini Semara.

Kemudian ada juga Tari Durma Lawe, Tari Ksatria Sundari, Teater Terjebak di Dalam Layar, Teater Kapegatin Tresna, Teater Dunia di Balik Botol, Teater Cetik Croncong Polo dan Teater Batasan yang Tak Terlihat.

“Pementasan ini bertujuan untik memenuhi kebutuhan dunia kerja, salah satunya guru seni budaya. Yang dituntut tidak hanya cakap dalam pembelajaran teori tapi juga  melakukan penciptaaan karya seni dan prakarya,” jelas I Putu Ardiyasa, M.Sn., Kaprodi Pendidikan Seni dan Budaya Keagamaan Hindu.

Pentas Teater Batasan yang Tak Terlihat | Foto: tatkala.co/Son

Karya-karya itu digarap oleh mahasiswa secara langsung sebagai output belajar mereka beberapa bulan pada tahun ajaran tahun ini. Pada teater yang digarap oleh Luh Budiasa misalnya, ia mencoba menceritakan bagaimana kepelikan seorang perempuan dalam menatap—menghadapi hidup penuh konflik batin karena persoalan di luar dari dirinya.

Ada tiga pemain dalam pementasan teater itu, yakni Luh Budiasa sendiri—sebagai pemeran utamanya, Kadek Pipin Dwi Mentari sebagai pembaca naskah dan Komang Ayu Sri Wardani sebagai sesosok bayangan hitam.

“Batasan yang tak terlihat ini merupakan sebuah karya yang menggali pengalaman dan perjuangan seorang perempuan yang menghadapi berbagai keterbatasan dealam kehidupan,” kata Luh Budiasa.

Di atas panggung, Luh Budiasa menjadi sesosok—yangmenceritakan perjalanan batin seorang perempuan yang berusaha untuk melampaui segala bentuk batasan-batasan penghalang dalam hidup. Batasan dalam hal ini, tentu bukan saja menyoal fisik tubuh, tetapi bagaimana juga bersifat psikologis dan emosional. Batasan-batasn itu kemudian digambarkannya dengan sesosok hitam atau gelap.

Budiasa menegaskan, perempuan sering kali harus menanggung ekspektasi yang tidak sesuai dengan keinginan pribadi mereka karena terhalang oleh sesuatu yang lebih katos atau keras, yaitu seabrek peraturan dan norma, bahkan kerja-kerja terkait adat pun demikian.

Membayangkannya, Budiasa seakan berekstaksi sehingga gerak tubuh dalam teaternya menjadi sangat liat dan geliat. Betapa lenturnya tubuh Budiasa, dan sesosok hitam itu semakin ganas. Bayangan hitam itu kemudian menjelma menjadi rasa takut yang mengikatnya di kursi duduk.

Pentas Teater Batasan yang Tak Terlihat | Foto: tatkala.co/Son

Sosok perempuan itu dihantam pisau. Darah merembas dari dadanya. Teater itu berakhir dengan perempuan itu mati di tangan ketakutannya sendiri setelah menghentikan gerak tubuhnya. Menghentikan mimpinya.

“Sesosok hitam itu, selain tentang norma atau lainnya. Tetapi juga tentang ketakutan perempuan itu sendiri!” tegas Luh Budiasa.

Depresi dan Pelariannya

Sementara pada pementasan lain, monolog berjudul “Dunia di Balik Botol” karya Gede Arya Suryantika menceritakan penyakit mental pada seorang lelaki penuh depresi sebab tuntutan dunia luar, dunia kerja, pergaulan, kuliah, keluarga dan banyak hal yang harus ditanggung oleh seorang lelaki agar perfeksionis.

Lelaki itu tak sanggup bersaing dan percaya diri akhirnya, lalu mencelupkan dirinya ke dalam botol minuman keras. Menjadi seorang alkoholik di kemudian hari yang panjang. Datar.

Panggung menjadi gelap juga areal tempat duduk para penonton. Lampu menyala kemudian menembak seorang lelaki putus asa itu di depan dua botol, di depan sebuah meja.

Monolog Dunia di Balik Botol | Foto: tatkala.co/Son

Beberapa kali ditengguknya minuman itu. Ia meracau tak henti mengeluaskan percakapan sendiri, percakapan tentang sakit dirinya, diri paling sakit.

“Dulu aku minum karena aku bahagia. Segelas untuk kegembiraan. Tapi sekarang? Aku minum karena aku takut. Takut pada apa yang ada di luar sana. Dunia itu keras, tahu? Orang-orang penuh tuntutan!” kata Arya saat monolog, nyambi menenteng botol minuman.

Arya kemudian berdiri dengan kepalanya terhuyung. Aduh, hyung. Dunia seakan mencekam di kepalanya begitu keras. Minuman dalam botol itu ditenggaknya tak henti. Cahaya panggung berkedip gelap terang.

Kata-kata keluar semakin dahsyat, laki-laki itu semakin depresi—seakan tak sanggup menghadapi kenyataan lebih pahit tanpa mabuk.

Monolog Dunia di Balik Botol | Foto: tatkala.co/Son

Satu botol habis diminum lalu dibuang dan nyaris pecah. Ketakutan semakin mencekam di urat nadinya. Lantas ia menjerit memegang kepalanya. Dunia seakan kacau di kepalanya. Menggedor pikirannya. Ia bersimpuh kemudian selayaknya hamba di hadapan botol yang masih tersisa di atas meja. Ditenggaknya lagi. Lalu meracau…

“Aku mau pulang. Aku mau pulang. Aku mau pulang…” kata lelaki itu sebelum tertawa.

Lampu perlahan meredup, senyap, gelap total. Tepuk tangan menimpuginya kemudian, dan lampu menjadi terang.

Di samping panggung—setelah pentas, ada yang bertanya penuh penasaran, “Apa yang ada di dalam botol tadi?”

“Es teh!” kata Arya. [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Pentas Karya Mahasiswa PSBKH STAHN Mpu Kuturan: Mencipta untuk Menemukan Jati Diri dan Menjalin Jejaring Seni
Performance “Batu” : Ketika Perempuan Menatap Tubuhnya Sendiri
“Performing Spiral” dari Josh Marcy: Kesadaran Pada Laku Tubuh dan Ruang — Dari B-Part 2024
Memeluk Masa Lalu dengan Ingatan Yang Sadar: Catatan Festival Kala Monolog
Merayakan Perjalanan Setelah Menonton Pertunjukan Kelas Teater Shiro-San
Yang Terhubung: Ancaman dan Harapan | Catatan Pentas Kala Teater
Tags: kesenian baliMonologSTAHN Mpu KuturanTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kembalinya Sistem Pemerintahan Adat Baduy

Next Post

Ibu, Komunikator Pertama dalam Kehidupan

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

by Kadek Surya Jayadi
June 20, 2026
0
Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

 “Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….”  ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian...

Read moreDetails

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

by I Nyoman Darma Putra
June 15, 2026
0
Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan...

Read moreDetails

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

by Rezky Chiki
June 9, 2026
0
Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan,...

Read moreDetails

Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

by Mas Ruscitadewi
June 7, 2026
0
Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Lomba monolog dalam rangka Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Bali 2026 yang diadakan di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Sabtu,...

Read moreDetails

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails

Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

by I Putu Ardiyasa
March 22, 2026
0
Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

MENYAKSIKAN perjalanan kultural di Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, selama empat tahun terakhir adalah pelajaran berharga tentang bagaimana estetika mampu...

Read moreDetails

Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

by I Gede Tilem Pastika
March 1, 2026
0
Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

MALAM itu, 28 Februari 2026, udara di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar terasa bergetar oleh ekspektasi yang tinggi. Sebagai sutradara...

Read moreDetails

Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

by Wahyu Mahaputra
February 28, 2026
0
Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

DERING telepon membangunkan saya dari tidur siang hari itu. Di seberang sambungan, suara Ariel Valeryan: sahabat dari Kuningan, Jawa Barat...

Read moreDetails

Pesan, Refleksi, dan Kritik Sosial dalam Drama Bali Modern di Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

DRAMA Bali modern atau teater berbahasa Bali yang dipentaskan oleh sejumlah kelompok teater dalam ajang Bulan Bahasa Bali 2026 menunjukkan...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Ibu, Komunikator Pertama dalam Kehidupan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co