6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Redaksi Rupa : Kone Keto, Keto Kone?

Made Chandra by Made Chandra
November 6, 2024
in Ulas Rupa
Redaksi Rupa : Kone Keto, Keto Kone?

Foto-foto: Made Chandra

PAMERAN merupakan satu hal yang sangat sakral, yang tentu diamini oleh Sebagian besar perupa, tak terkecuali oleh ke-enam perupa yang tergabung dalam pameran seni rupa “kone keto, keto kone?” ini. Pameran yang masih berlangsung sampai tanggal 12 November  ini, bertempat di sebuah ruang yang mungkin bisa dibilang kiprahnya kini sangat jarang terdengar di kuping para pembaca, yaitu Karja Artspace.

Diinisiasi oleh beberapa perupa asal Bali dan luar Bali, pameran ini menghadirkan pengalaman dalam membaca kondisi bali hari ini, melalui sarana karya seni dengan berbagai spektrum disiplin kerja, hal itu tergambar dari beberapa karya yang dihadirkan oleh para perupa.

Salah satunya adalah karya milik Made Chandra berjudul “Pan Salim Komodifistory “, karya tersebut mencoba menantang daya tangkap kita sebagai audiens untuk bisa larut dan turut ikut dalam menyelesaikan puzzle yang akan menuntun kita dalam mengerti sekelumit permasalahan bali dalam menghadapi komodifikasi melalui satu cerita pendek karangannya.

Selain persoalan wajah ganda antara tradisi dan komodifikasi, permasalahan mengenai isu rasisme yang terjadi di sekitar kita, turut dirasakan oleh Derry Smbiring, dalam karya instalatifnya berjudul “ Pendatang Terpaksa Balita “, ia berusaha menceritakan pengalamannya sebagai seorang yang datang dari hamparan geografis yang sangat berbeda dengan Bali, harus terpaksa mendengar beberapa selentingan yang baginya sangat tidak mengenakan untuk diperdengarkan seperti “ JAWEKUPANGPETE”, ia mengandaikan dirinya harus dipaksa kembali menjadi seorang balita yang sedang diajari kata-kata baru tersebut Ketika ia tinggal di Bali.

Ia menampilkan kata-kata tersebut dalam rangkaian huruf abjad yang biasa kita temui di masa kecil kita saat sedang mengenal beberapa kata baru.

Mengisyaratkan bahwa hal tersebut sangat dekat namun begitu tabu untuk dibahas bersama, penyebutan itu mungkin terpantik bukan tanpa sebab, namun lebih dari itu Derry mengajak kita untuk merefleksi diri kita masing-masing, dan belajar untuk saling mengerti serta menghargai.

Tak kalah menariknya beberapa karya lainnya turut menampilkan beberapa permasalahan yang sangat dekat untuk para perupa bisa dalami, di antaranya Dedepot dengan ‘crash into my sculpture’ yang menceritakan bagaimana ke-chaos-an yang terjadi di desanya akibat banyaknya ATV yang memberikan sumbangsih destruktif kepada karya-karya patung di daerahnya, yang sering kali menjadi sasaran empuk bagi para wisatawan.

Karya Dedepot “crash into my sculpture” silkscreen dan video art

Dengan karya Video Art dan silks screennya, ia mencoba untuk memprovokasi indra kita untuk lebih peka terhadap kejadian yang ada di sekeliling kita, yang sering kali abai untuk kita perhatikan, dengan audio yang berputar berulang-ulang mengurung ruangan, membawa kita agar khusuk mendengarkan ucapan bak mantra yang menenangkan namun menyiratkan arti satir di dalamnya.

Karya Dede menyajikan pengalaman eksploratif yang lebih unik, dengan teknologi yang berpadu raw material menantang daya imajinatif kita untuk bisa membayangkan gambaran masa kini yang penuh dengan kejutan.

Di lain sisi di satu daerah yang saling berdekatan Yudana dengan reliefnya “ Siapa Lagi?”  mencoba mempertanyakan ulang keberlangsungan generasi pematung di tempatnya, Singapadu yang terkenal dengan patung menghiasi seantero jalan utamanya, kini menghadapi kenyataan yang sangat kontradiktif yaitu krisis dari para pengerajin ukir paras maupun kayu di daerahnya. Sebagai seorang yang bergelut di bidang tersebut, Yudana merasakan kecemasan akan jalur estafet yang dimulai sejak jaman leluhurnya, kini seakan putus dalam bayang-bayang kejayaan masa lalu.

Keresahannya terukir dalam relief yang ia hadirkan dalam pameran ini, dengan visual topeng Rangda khas singapadu dengan hidung dan mulut terpisah, menjadi metafor yang sederhana untuk menggambarkan bagaimana kelangsungan para penerus patung singapadu mengalami sebuah reduksi dan keterpisahan dari apa yang seharusnya diharapkan.

“ Stabbing for the future”

karya perupa asal Banyuwangi, Krisna Jiwanggi menjadi salah satu karya yang cukup menarik untuk kita dalami bersama-sama, dalam karya instalatifnya ia banyak menggunakan found object yang sangat berkaitan dengan geliat pembangunan di Bali. Perpindahannya yang masih terbilang dini mengungkap satu kenyataan yang ia terus rasakan, terutama di daerah sekelilingnya.

Di salah satu bagian karyanya terdapat jendela bertuliskan “ Dijual cepat!!! Tanah murah harga mulai IDR 50.000 ( SIAPA CEPAT DIA DAPAT)” kata-kata itu menjadi pemantik kita untuk melihat apa yang coba krisna hadirkan. Dalam bayangannya ia mencoba untuk menghadirkan gambaran akan murahnya tanah di Bali, Bak lelang yang mengisyaratkan akan cepatnya pergeseran kepemilikan tanah dari orang lokal terhadap investor asing, menjadi sumber api utama Bali hari ini dengan segala kepadatannya.

Di ruangan terakhir jargon “New Romantic?” menyapa kita dengan lukisan karya Made Ari. Ada yang tak biasa dari lukisan ini. Yaitu dimensinya yang ternyata menghadirkan dua wajah ganda bali hari ini, serupa dengan Made Chandra, karya Ari juga membahas tradisi dan komodifikasi namun dalam studi kasus yang lebih spesifik mengenai budaya komunal yang lumrah di Bali. Banyaknya kegiatan tradisi yang hadir di Bali tentu beriringan dengan status komunal pada sosial mereka, tanpa masa yang banyak tampaknya mustahil upacara besar-besaran yang selalu kita lihat dapat terlaksana.

Namun di era yang serba cepat ini kebutuhan akan tradisi kini dapat diakomodir dengan sistem komodifikasi yang marak terjadi, dimana banyaknya sarana upacara yang diperjualbelikan, sehingga kebutuhan untuk sosial menjadi terdistrupsi dengan adanya hal tersebut. Dalam benaknya kini ia mempertanyakan masih pentingkah tradisi itu terus berjalan, jika kini mereka semua dapat teraksana tanpa harus melibatkan sosial di sekitar Masyarakat.

Mereka berusaha untuk mencoba menghadirkan wacana tersebut melalui pendekatan yang sedekat mungkin dengan masyarakat, harapannya agar media penyadaran kritis tersebut dapat tersampaikan dengan baik tentunya dengan banyaknya wahana rupa yang mereka hadirkan.

Pameran bersama ini melalui kurasi yang dilakukan oleh kurator muda wanita asal Bali, Sekar Pradnyadari. Melalui kerja kurasinnya selama kurang lebih 6 bulan, ia dan para perupa berusaha untuk membangun wacana yang akan lebih mengedepankan hal-hal mendasar yang terutama perupa rasakan sebagai seorang yang tinggal di Bali, melalui kacamata lokal mereka dalam merespon apa yang dekat dan terjadi di lingkungan sekitar.

Audiens dituntun untuk bisa melihat bali dari segi ‘ Present’ yaitu kenyataan hari ini, dibanding untuk ikut larut dalam arus wacana ‘ representatif’ yang tentu dibangun dari berbagai kepentingan yang menginginkan Bali agar terus berwajah indah dan molek.

Dari ke-enam karya tersebut kita dapat melihat banyaknya cakupan spektrum visual yang dihadirkan oleh masing-masing perupa, dari karya mereka kita dapat sadar bahwa Bali hari ini merupakan satu bejana besar yang menampung berbagai hiruk pikuk permasalahan yang terjadi di masyarakat, ke-enam perupa ini adalah gambaran kecil dari masyarakat yang tak tau akan akan kepastian di tanahnya, namun tetap bertanya dan mendiskusikan bagaimana Bali hari ini?. “ kone keto, keto kone? “. [T]

Dirah dan Pilkada dalam Mozaik Asik,  Sebuah Pameran Kebebasan Seniman Muda Undiksha
Dewi Sri dan Spirit Kemerdekaan dalam Pameran Seni Rupa di Undiksha Singaraja
Tulang, Tubuh, dan Puisi dalam Ruang-Waktu | Dari Pameran Seni Instalasi Sampi Duwe di Desa Tambakan
Tags: Pameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca Novel dan Roman Mahfud Ikhwan: Warna Lokal yang Tak Eksotis

Next Post

Eksistensi Para Penjaga Ornamentik Bulelengan : Cerita Kecil dari Pura Penegil Dharma

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

by Hartanto
February 24, 2026
0
SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

BENCANA banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan beberapa daerah di Indonesia – menurut saya, bukanlah sekedar bencana...

Read moreDetails

Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

by Agung Bawantara
February 22, 2026
0
Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

OGOH-OGOH Kalabendu karya Sekaa Teruna (ST) Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu, Kuta Selatan, menempatkan figur bhutakala bertangan enam sebagai pusat komposisi....

Read moreDetails

Rush to Paradise: Tumbal Menuju “Surga”

by I Wayan Westa
February 22, 2026
0
Rush to Paradise: Tumbal Menuju “Surga”

INI mobil kayu, mirip Ferrari, kendaraan tercepat di lintas darat. Dipajang di Labyrinth Art  Galleri Nuanu, Tabanan. Di ruang pameran...

Read moreDetails

Ombak, Ingatan, dan Pantai yang Dipertaruhkan — Catatan dari Pameran ‘Magic in The Waves’ Made Bagus Irawan

by Agung Bawantara
February 19, 2026
0
Ombak, Ingatan, dan Pantai yang Dipertaruhkan — Catatan dari Pameran ‘Magic in The Waves’ Made Bagus Irawan

Pameran Foto MAGIC IN THE WAVEFotografer : Made Bagus IrawanKurator : Ni Komang ErvianiProduser : Rofiqi HasanPameran. : 18 –...

Read moreDetails

Grafis yang Melentur: Menerka Praktik Berkesenian Seorang Kadek Dwi

by Made Chandra
February 9, 2026
0
Grafis yang Melentur: Menerka Praktik Berkesenian Seorang Kadek Dwi

APA yang tebersit ketika kita membayangkan kata grafis dalam kacamata kesenian hari ini? Bagaimana posisinya, atau bahkan eksistensinya, di era...

Read moreDetails

Menabur Ketabahan: Membaca “Tabur Tabah” Karya Derry Aderialtha Sembiring

by Rasman Maulana
February 6, 2026
0
Menabur Ketabahan: Membaca “Tabur Tabah” Karya Derry Aderialtha Sembiring

SUNGGUH menarik melihat “Tabur Tabah” karya Derry Aderialtha Sembiring di pameran seni rupa “Pulang ke Palung”—Denpasar, 24 Desember 2025 sampai...

Read moreDetails

Fajar dan Rekonstruksi Prambanan

by Hartanto
February 3, 2026
0
Fajar dan Rekonstruksi Prambanan

PADA tahun 1995, saya bersama wartawan majalah TEMPO, Putu Wirata -  menghadiri, atau tepatnya meliput Upacara Tawur Kesanga Hari Raya...

Read moreDetails

Mengurai Ke-Aku-An Seorang Wayan Suja : Catatan pinggir dari kacamata Gen-z dalam membaca relasi otonom-heteronom seorang seniman Gen-X

by Made Chandra
February 2, 2026
0
Mengurai Ke-Aku-An Seorang Wayan Suja : Catatan pinggir dari kacamata Gen-z dalam membaca relasi otonom-heteronom seorang seniman Gen-X

MENDENGAR adalah kegiatan tersulit yang sanggup untuk dilakoni oleh seorang seniman. Gurauan tentang bagaimana seniman adalah kegilaan yang diciptakan oleh...

Read moreDetails

Print-Mapping: Decolonial Axis — a Solo exhibition by Agung Pramana

by Vincent Chandra
January 30, 2026
0
Print-Mapping: Decolonial Axis — a Solo exhibition by Agung Pramana

“Ne visitez pas I’Exposition Coloniale! (Jangan kunjungi Pameran Kolonial!)”, begitu desak kelompok seniman surealis Prancis melalui selebaran-selebaran yang mereka bagikan...

Read moreDetails

Golden Hibernation, Sonic: Re-Listening and Re-activating the Sleeping Narrative

by Angelique Maria Cuaca
January 12, 2026
0
Golden Hibernation, Sonic: Re-Listening and Re-activating the Sleeping Narrative

BAGAIMANA membangunkan kembali pengetahuan yang tertidur—cerita yang tertinggal di lidah, ingatan bunyi yang mulai hilang bentuknya, catatan perjalanan yang tersisa...

Read moreDetails
Next Post
Eksistensi Para Penjaga Ornamentik Bulelengan : Cerita Kecil dari Pura Penegil Dharma

Eksistensi Para Penjaga Ornamentik Bulelengan : Cerita Kecil dari Pura Penegil Dharma

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co