25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Redaksi Rupa : Kone Keto, Keto Kone?

Made Chandra by Made Chandra
November 6, 2024
in Ulas Rupa
Redaksi Rupa : Kone Keto, Keto Kone?

Foto-foto: Made Chandra

PAMERAN merupakan satu hal yang sangat sakral, yang tentu diamini oleh Sebagian besar perupa, tak terkecuali oleh ke-enam perupa yang tergabung dalam pameran seni rupa “kone keto, keto kone?” ini. Pameran yang masih berlangsung sampai tanggal 12 November  ini, bertempat di sebuah ruang yang mungkin bisa dibilang kiprahnya kini sangat jarang terdengar di kuping para pembaca, yaitu Karja Artspace.

Diinisiasi oleh beberapa perupa asal Bali dan luar Bali, pameran ini menghadirkan pengalaman dalam membaca kondisi bali hari ini, melalui sarana karya seni dengan berbagai spektrum disiplin kerja, hal itu tergambar dari beberapa karya yang dihadirkan oleh para perupa.

Salah satunya adalah karya milik Made Chandra berjudul “Pan Salim Komodifistory “, karya tersebut mencoba menantang daya tangkap kita sebagai audiens untuk bisa larut dan turut ikut dalam menyelesaikan puzzle yang akan menuntun kita dalam mengerti sekelumit permasalahan bali dalam menghadapi komodifikasi melalui satu cerita pendek karangannya.

Selain persoalan wajah ganda antara tradisi dan komodifikasi, permasalahan mengenai isu rasisme yang terjadi di sekitar kita, turut dirasakan oleh Derry Smbiring, dalam karya instalatifnya berjudul “ Pendatang Terpaksa Balita “, ia berusaha menceritakan pengalamannya sebagai seorang yang datang dari hamparan geografis yang sangat berbeda dengan Bali, harus terpaksa mendengar beberapa selentingan yang baginya sangat tidak mengenakan untuk diperdengarkan seperti “ JAWEKUPANGPETE”, ia mengandaikan dirinya harus dipaksa kembali menjadi seorang balita yang sedang diajari kata-kata baru tersebut Ketika ia tinggal di Bali.

Ia menampilkan kata-kata tersebut dalam rangkaian huruf abjad yang biasa kita temui di masa kecil kita saat sedang mengenal beberapa kata baru.

Mengisyaratkan bahwa hal tersebut sangat dekat namun begitu tabu untuk dibahas bersama, penyebutan itu mungkin terpantik bukan tanpa sebab, namun lebih dari itu Derry mengajak kita untuk merefleksi diri kita masing-masing, dan belajar untuk saling mengerti serta menghargai.

Tak kalah menariknya beberapa karya lainnya turut menampilkan beberapa permasalahan yang sangat dekat untuk para perupa bisa dalami, di antaranya Dedepot dengan ‘crash into my sculpture’ yang menceritakan bagaimana ke-chaos-an yang terjadi di desanya akibat banyaknya ATV yang memberikan sumbangsih destruktif kepada karya-karya patung di daerahnya, yang sering kali menjadi sasaran empuk bagi para wisatawan.

Karya Dedepot “crash into my sculpture” silkscreen dan video art

Dengan karya Video Art dan silks screennya, ia mencoba untuk memprovokasi indra kita untuk lebih peka terhadap kejadian yang ada di sekeliling kita, yang sering kali abai untuk kita perhatikan, dengan audio yang berputar berulang-ulang mengurung ruangan, membawa kita agar khusuk mendengarkan ucapan bak mantra yang menenangkan namun menyiratkan arti satir di dalamnya.

Karya Dede menyajikan pengalaman eksploratif yang lebih unik, dengan teknologi yang berpadu raw material menantang daya imajinatif kita untuk bisa membayangkan gambaran masa kini yang penuh dengan kejutan.

Di lain sisi di satu daerah yang saling berdekatan Yudana dengan reliefnya “ Siapa Lagi?”  mencoba mempertanyakan ulang keberlangsungan generasi pematung di tempatnya, Singapadu yang terkenal dengan patung menghiasi seantero jalan utamanya, kini menghadapi kenyataan yang sangat kontradiktif yaitu krisis dari para pengerajin ukir paras maupun kayu di daerahnya. Sebagai seorang yang bergelut di bidang tersebut, Yudana merasakan kecemasan akan jalur estafet yang dimulai sejak jaman leluhurnya, kini seakan putus dalam bayang-bayang kejayaan masa lalu.

Keresahannya terukir dalam relief yang ia hadirkan dalam pameran ini, dengan visual topeng Rangda khas singapadu dengan hidung dan mulut terpisah, menjadi metafor yang sederhana untuk menggambarkan bagaimana kelangsungan para penerus patung singapadu mengalami sebuah reduksi dan keterpisahan dari apa yang seharusnya diharapkan.

“ Stabbing for the future”

karya perupa asal Banyuwangi, Krisna Jiwanggi menjadi salah satu karya yang cukup menarik untuk kita dalami bersama-sama, dalam karya instalatifnya ia banyak menggunakan found object yang sangat berkaitan dengan geliat pembangunan di Bali. Perpindahannya yang masih terbilang dini mengungkap satu kenyataan yang ia terus rasakan, terutama di daerah sekelilingnya.

Di salah satu bagian karyanya terdapat jendela bertuliskan “ Dijual cepat!!! Tanah murah harga mulai IDR 50.000 ( SIAPA CEPAT DIA DAPAT)” kata-kata itu menjadi pemantik kita untuk melihat apa yang coba krisna hadirkan. Dalam bayangannya ia mencoba untuk menghadirkan gambaran akan murahnya tanah di Bali, Bak lelang yang mengisyaratkan akan cepatnya pergeseran kepemilikan tanah dari orang lokal terhadap investor asing, menjadi sumber api utama Bali hari ini dengan segala kepadatannya.

Di ruangan terakhir jargon “New Romantic?” menyapa kita dengan lukisan karya Made Ari. Ada yang tak biasa dari lukisan ini. Yaitu dimensinya yang ternyata menghadirkan dua wajah ganda bali hari ini, serupa dengan Made Chandra, karya Ari juga membahas tradisi dan komodifikasi namun dalam studi kasus yang lebih spesifik mengenai budaya komunal yang lumrah di Bali. Banyaknya kegiatan tradisi yang hadir di Bali tentu beriringan dengan status komunal pada sosial mereka, tanpa masa yang banyak tampaknya mustahil upacara besar-besaran yang selalu kita lihat dapat terlaksana.

Namun di era yang serba cepat ini kebutuhan akan tradisi kini dapat diakomodir dengan sistem komodifikasi yang marak terjadi, dimana banyaknya sarana upacara yang diperjualbelikan, sehingga kebutuhan untuk sosial menjadi terdistrupsi dengan adanya hal tersebut. Dalam benaknya kini ia mempertanyakan masih pentingkah tradisi itu terus berjalan, jika kini mereka semua dapat teraksana tanpa harus melibatkan sosial di sekitar Masyarakat.

Mereka berusaha untuk mencoba menghadirkan wacana tersebut melalui pendekatan yang sedekat mungkin dengan masyarakat, harapannya agar media penyadaran kritis tersebut dapat tersampaikan dengan baik tentunya dengan banyaknya wahana rupa yang mereka hadirkan.

Pameran bersama ini melalui kurasi yang dilakukan oleh kurator muda wanita asal Bali, Sekar Pradnyadari. Melalui kerja kurasinnya selama kurang lebih 6 bulan, ia dan para perupa berusaha untuk membangun wacana yang akan lebih mengedepankan hal-hal mendasar yang terutama perupa rasakan sebagai seorang yang tinggal di Bali, melalui kacamata lokal mereka dalam merespon apa yang dekat dan terjadi di lingkungan sekitar.

Audiens dituntun untuk bisa melihat bali dari segi ‘ Present’ yaitu kenyataan hari ini, dibanding untuk ikut larut dalam arus wacana ‘ representatif’ yang tentu dibangun dari berbagai kepentingan yang menginginkan Bali agar terus berwajah indah dan molek.

Dari ke-enam karya tersebut kita dapat melihat banyaknya cakupan spektrum visual yang dihadirkan oleh masing-masing perupa, dari karya mereka kita dapat sadar bahwa Bali hari ini merupakan satu bejana besar yang menampung berbagai hiruk pikuk permasalahan yang terjadi di masyarakat, ke-enam perupa ini adalah gambaran kecil dari masyarakat yang tak tau akan akan kepastian di tanahnya, namun tetap bertanya dan mendiskusikan bagaimana Bali hari ini?. “ kone keto, keto kone? “. [T]

Dirah dan Pilkada dalam Mozaik Asik,  Sebuah Pameran Kebebasan Seniman Muda Undiksha
Dewi Sri dan Spirit Kemerdekaan dalam Pameran Seni Rupa di Undiksha Singaraja
Tulang, Tubuh, dan Puisi dalam Ruang-Waktu | Dari Pameran Seni Instalasi Sampi Duwe di Desa Tambakan
Tags: Pameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca Novel dan Roman Mahfud Ikhwan: Warna Lokal yang Tak Eksotis

Next Post

Eksistensi Para Penjaga Ornamentik Bulelengan : Cerita Kecil dari Pura Penegil Dharma

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

by Emi Suy
October 19, 2026
0
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

Read moreDetails

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
0
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

Read moreDetails

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails
Next Post
Eksistensi Para Penjaga Ornamentik Bulelengan : Cerita Kecil dari Pura Penegil Dharma

Eksistensi Para Penjaga Ornamentik Bulelengan : Cerita Kecil dari Pura Penegil Dharma

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co