31 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Secangkir Sianida Hangat | Cerpen Nazhif Amin

Nazhif Amin by Nazhif Amin
July 27, 2024
in Cerpen
Secangkir Sianida Hangat | Cerpen Nazhif Amin

Ilustrasi tatkala.co

DIA duduk di situ. Di pojok ruangan kafe bercorak retro, beraroma pekat, dan sedikit bau kamper. Pria itu menghadapi Americano, kopi yang tengah digandrunginya akhir akhir ini. Dihirupnya aroma kopi itu, syahdu, seperti para pecandu musik reggae dengan nada yang makin tinggi. Kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari saku. Sebotol kecil cairan sianida yang ia impor melalui relasinya.

Ia menatap sekitar. Orang orang tak ada yang peduli satu sama lain. Ini kesempatan emas untuk ia segera menuangkan sianida itu ke dalam  Americano sebelum ada yang melihat.

“Kau sudah gila ya?”

Suara itu mematahkan gerakan pria itu, padahal sianida itu sudah hampir tertuang.

“Kau pikir bagaimana?” kata pria itu. “Ah,sialan!”.umpat pria itu dalam hati. Pikirnya, memang sebuah kesalahan mengajak Ted ke sini. Ia berpaling ke depan. Kucing persia dengan bulu keabuan dan lengan yang montok ini selalu bikin perkara.

“Aku masih tak mengerti, mengapa kau ingin bunuh diri?” Kucing itu memelankan suaranya, sambil sesekali melirik ke samping, berharap tak ada yang mendengarnya.

Pria itu terdiam.

“Apa ini berkaitan dengan Diandra?” Ted, si kucing itu, melanjutkan lagi.

Si pria terhenyak sesaat. Hampir terlonjak dari kursinya. Tentu saja, hari itu persis dua tahun setelah pria dan seorang gadis bernama Diandra bertemu. Hari yang tak terlupakan.

——–

Sore yang lelah. Setelah seharian dihajar dengan pekerjaan di kantor ia memutuskan ingin menikmati me time  di kafe. Episode pertemuannya dengan gadis itu bermula dari sini.

“Jodoh pasti bertemu!” Tampaknya itu adalah penamaan yang cerdas untuk sebuah kafe dengan tujuan menarik pelanggan. Apalagi para wraiter perempuan di kafe itu bergaya noni dengan rambut dicatok dan disemir pirang. Juga kebanyakan berperilaku centil.

Pria itu duduk sendiri. Di sudut ruangan ia cuma melamun kemudian memandangi wraiters berkacamata yang mengantarkan ekspresso ke mejanya seraya menyunggingkan senyum manis. Ia menatap ekspresso dengan pandangan hambar. Sejujurnya ia bukan penikmat kopi. Bahkan ia tak bisa membedakan mana kopi robusta mana arabica.

Sedetik sebelum ia merapatkan bibirnya ke mulut gelas, terasa seseorang menepuk pundaknya.

“Maaf, Mas, sepertinya pesanan kita tertukar!” sergah seorang wanita. Ia menggunakan blus hitam dan rambut tergerai sebahu.

Pria itu bingung.

“Mas pesennya Ekspresso kan?” lanjut wanita itu.

“Benar, memangnya ini apa?”  Si pria menatap cangkirnya bingung.

“Itu Americcano, Mas. Barangkali wraiters salah memberi pesanan,” kata wanita itu sambil tergelak. Lalu mengacungkan jempol untuk memberi kode pada wraiters bahwa kesalahpahaman dapat mereka atasi.

“Saya tak begitu mengerti mengenai kopi.”

“Kalau gitu, kita tukeran kopinya aja, Mas. Saya Diandra!” Wanita itu mengulurkan tangan kemudian disambut genggaman si pria yang memperkenalkan namanya.

Semenjak hari itu terjalin sebuah chemistry yang erat antara keduanya. Satu sama lain berusaha menyempatkan diri datang ke kafe hanya untuk sekadar berbincang tentang hobi, pekerjaan atau melepas penat.

Merekapun telah memiliki tempat favorit dalam tiap kunjungan ke kafe, yakni di meja paling pojok yang menghadap langsung ke jendela. Dari jendela tampil pemandangan hiruk pikuk kota.

Beruntung keduanya memiliki minat yang sama dalam hal seni sehingga sangat mudah dekat dan nyaman. Setidaknya sepekan dua kali mereka datang dan duduk di sana. Rabu dan Sabtu adalah kunjungan rutin mereka berdua.

Kehidupan berjalan semestinya. Si pria tampak tak mempermasalahkan Diandra masuk dan membangun tempat baru di hatinya. Apakah ia memiliki rasa? Ia masih belum mengerti. Yang pasti dia tak keberatan jika Diandra tahu mengenai asal usulnya. Misalnya tentang problematika keluarganya dimana ia harus tinggal berdua dengan ayahnya, tak lama setelah orang tuanya bercerai. Hal itu ia rasakan sejak kecil hingga membuat trauma yang membuatnya takut untuk kehilangan orang-orang berharga dalam hidupnya.

Entah Diandra mengerti atau tidak, barangkali karena datang dari keluarga yang lengkap dan sempurna membuatnya tak bisa merasakan empati. Diandra bercerita kalau ayahnya adalah seorang pelukis dan kakaknya adalah seniman jalanan, darah seni mengalir dalam gennya. Sungguh sangat cocok jika mau disandingkan dengan si pria yang ayahnya adalah kolektor seni.

Hingga setahun setelah mereka berkenalan si pria berinisiatif untuk mengajak berkunjung kerumahnya. Hanya kunjungan biasa. Sekaligus mengenalkan Diandra pada ayahnya. Namun langkah ini adalah kesalahan terbesarnya.

Pada mulanya ketika memasuki rumah si pria, Diandra dibuat takjub dengan selera arsitektur rumah itu. Rumah besar itu tak kurang dari separuh hektar. Nampak glamour dengan perabot dan furnitur klasik di dalamnya.

Diandra terpaku memandangi lukisan di muka dinding. Tampak dingin dan tajam. Sementara si pria memandang Diandra dengan tatapan tak biasa. Waktu memporak-porandakan semua. Sudah semenjak beberapa bulan ini jantungnya seperti habis diajak marathon keliling Jogja tatkala melihat Diandra. Diandra menjadi sumber dari segala debarnya. Pandangannya tak bisa dia alihkan pada selain Diandra.

Ia bahkan mencuri waktu di sela kesibukan di luar jadwal rutin kunjungan ke kafe hanya demi bertemu dengan Diandra. Malam-malamnya kini menjelma puisi yang begitu indah. Begitu pula kehidupannya sebagai budak korporat di kantor terasa lebih ringan juga menyenangkan. Yup, lagi lagi karena cinta.

“Siapa gadis manis ini?” Suara berat itu datang dari tangga. Suara pria paruh baya dengan badan tegap dan rahang simetris yang kemudian mendekati mereka berdua. Ayah si pria.

“Saya Diandra, Om.” Gadis itu malu-malu.

“Pacar atau teman?” tembak ayah si pria.

“Hanya teman,” jawab Diandra, lalu dibalas dengan tatapan sang ayah yang sulit diartikan.

“Diandra senang dengan lukisan? Mau saya ajak berkeliling lihat-lihat?”

Diandra mengangguk membuntuti sang ayah yang telah melangkah menyusuri ruang tengah, meninggalkan si pria sendirian.

——

“Tunggu-, kejadian itu pemicunya atau ada bagian lain yang belum kauceritakan?” Ted, si kucing persia bertanya.

“Itu pemicunya. Semenjak hari aku mengajaknya ke rumahku si jalang itu terus menempel ke ayahku. Bahkan menjalin hubungan dengannya. Dia tahu saja kalau ayahku meninggalkan warisan yang cukup banyak. Ditambah lagi ia direktur perusahaan  besar. Dasar wanita matre!”

“Kau tak pernah bicara benar-benar dengan ayahmu?” Ted menyelidik lagi.

“Buat apa? Sekarang semua telah terlambat. Sepekan lagi mereka akan menikah. Dan aku akan terus tersiksa karena selalu bersamanya, bukan sebagai seorang kekasih. Namun sebagai orang tua dan anak!”

Kali ini si pri pria benar-benar telah menuangkan sianida ke dalam Americcano. Ia mengaduknya selagi masih hangat.

“Kau benar-benar sudah gila!”

“Kau pikir berbicara dengan seekor kucing sepertimu adalah hal yang waras?”

Di tengah percakapan, ponsel pria itu berdering. Terpampang nama Diandra di sana.

“Ah, sialan!” umpat si pria.

Ia tahu Diandra pasti mencarinya. Sudah lebih dari sepekan ia tak pulang ke rumah. Ia tak menghiraukan panggilan tersebut.  Tangannya bergetar memegangi cangkir. Ingin segera menenggaknya dan mengakhiri huru-hara ini.

Tepat saat mulut cangkir hampir menyentuh bibir, seseorang menepuk pundaknya. Seorang wanita dengaan sweater hijau dan rok warna senada. Wajahnya tirus dan bersih namun ada tahi lalat sangat kecil di bawah matanya.Rambutnya dibiarkan tergerai.

Tangan pria itu merosot dan hampir menumpahkan minumannya. Jantungnya serasa dipompa lebih kencang. Ia menatap wanita itu tanpa berkata-kata. Semua musik harmonis berkelebat mendramatisir momentum ini. Segala ibarat dan frasa yang muncul dalam pikirannya hanya bermuara pada satu kata: indah.

“Mas, sepertinya minuman kita tertukar. Mas pesan americcano kan? Ini punya, Mas. Kalau ini ekspresso saya,” kutur wanita itu lembut, seraya cekatan menukar cangkir mereka.

Si pria tampak termangu beberapa detik dan menyadari kelengahannya. Ia ingin bersuara namun kelu. Terlambat. Wanita itu menenggak minuman yang harusnya ia minum.

“Duh, matek aku!” kata si pria. [T]

  • BACA cerpen lain di tatkala.co
Kota Bandit | Cerpen Daviatul Umam
Arus Pelayaran | Cerpen Karisma Nur Fitria
Sejak Itu Samsu Berubah | Cerpen Khairul A. El Maliky
Sumbi Tak Mengandung Anak Tumang | Cerpen Amina Gaylene
Semalam Bersama Alien | Cerpen Putu Arya Nugraha
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Achmad Khoirul Fatoni | Catatan Biru

Next Post

LONTAR BALI DI MUSEUM SONOBUDOYO YOGYAKARTA

Nazhif Amin

Nazhif Amin

Pelajar SMA MBS Yogyakarta. Hobi berdiskusi.Karyanya telah dimuat di berbagai media

Related Posts

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails
Next Post
LONTAR BALI DI MUSEUM SONOBUDOYO YOGYAKARTA

LONTAR BALI DI MUSEUM SONOBUDOYO YOGYAKARTA

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Apakah Buku Fisik Masih Asik?
Esai

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

by Made Chandra
August 31, 2026
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota
Esai

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan
Tualang

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu
Esai

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

SEMAKIN kita menginginkan sesuatu, semakin jelas pula rasanya bahwa kita tidak memilikinya. Ada ironi yang cukup melelahkan dalam cara kerja...

by T.H. Hari Sucahyo
August 31, 2026
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana
Khas

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan
Khas

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
Perkara Anarkis dan Anarkistis
Bahasa

Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

by I Made Sudiana
August 30, 2026
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?
Esai

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto
Cerpen

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas
Puisi

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

by Supali Kasim
August 30, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
August 30, 2026
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?
Esai

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co