12 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Secangkir Sianida Hangat | Cerpen Nazhif Amin

Nazhif Amin by Nazhif Amin
July 27, 2024
in Cerpen
Secangkir Sianida Hangat | Cerpen Nazhif Amin

Ilustrasi tatkala.co

DIA duduk di situ. Di pojok ruangan kafe bercorak retro, beraroma pekat, dan sedikit bau kamper. Pria itu menghadapi Americano, kopi yang tengah digandrunginya akhir akhir ini. Dihirupnya aroma kopi itu, syahdu, seperti para pecandu musik reggae dengan nada yang makin tinggi. Kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari saku. Sebotol kecil cairan sianida yang ia impor melalui relasinya.

Ia menatap sekitar. Orang orang tak ada yang peduli satu sama lain. Ini kesempatan emas untuk ia segera menuangkan sianida itu ke dalam  Americano sebelum ada yang melihat.

“Kau sudah gila ya?”

Suara itu mematahkan gerakan pria itu, padahal sianida itu sudah hampir tertuang.

“Kau pikir bagaimana?” kata pria itu. “Ah,sialan!”.umpat pria itu dalam hati. Pikirnya, memang sebuah kesalahan mengajak Ted ke sini. Ia berpaling ke depan. Kucing persia dengan bulu keabuan dan lengan yang montok ini selalu bikin perkara.

“Aku masih tak mengerti, mengapa kau ingin bunuh diri?” Kucing itu memelankan suaranya, sambil sesekali melirik ke samping, berharap tak ada yang mendengarnya.

Pria itu terdiam.

“Apa ini berkaitan dengan Diandra?” Ted, si kucing itu, melanjutkan lagi.

Si pria terhenyak sesaat. Hampir terlonjak dari kursinya. Tentu saja, hari itu persis dua tahun setelah pria dan seorang gadis bernama Diandra bertemu. Hari yang tak terlupakan.

——–

Sore yang lelah. Setelah seharian dihajar dengan pekerjaan di kantor ia memutuskan ingin menikmati me time  di kafe. Episode pertemuannya dengan gadis itu bermula dari sini.

“Jodoh pasti bertemu!” Tampaknya itu adalah penamaan yang cerdas untuk sebuah kafe dengan tujuan menarik pelanggan. Apalagi para wraiter perempuan di kafe itu bergaya noni dengan rambut dicatok dan disemir pirang. Juga kebanyakan berperilaku centil.

Pria itu duduk sendiri. Di sudut ruangan ia cuma melamun kemudian memandangi wraiters berkacamata yang mengantarkan ekspresso ke mejanya seraya menyunggingkan senyum manis. Ia menatap ekspresso dengan pandangan hambar. Sejujurnya ia bukan penikmat kopi. Bahkan ia tak bisa membedakan mana kopi robusta mana arabica.

Sedetik sebelum ia merapatkan bibirnya ke mulut gelas, terasa seseorang menepuk pundaknya.

“Maaf, Mas, sepertinya pesanan kita tertukar!” sergah seorang wanita. Ia menggunakan blus hitam dan rambut tergerai sebahu.

Pria itu bingung.

“Mas pesennya Ekspresso kan?” lanjut wanita itu.

“Benar, memangnya ini apa?”  Si pria menatap cangkirnya bingung.

“Itu Americcano, Mas. Barangkali wraiters salah memberi pesanan,” kata wanita itu sambil tergelak. Lalu mengacungkan jempol untuk memberi kode pada wraiters bahwa kesalahpahaman dapat mereka atasi.

“Saya tak begitu mengerti mengenai kopi.”

“Kalau gitu, kita tukeran kopinya aja, Mas. Saya Diandra!” Wanita itu mengulurkan tangan kemudian disambut genggaman si pria yang memperkenalkan namanya.

Semenjak hari itu terjalin sebuah chemistry yang erat antara keduanya. Satu sama lain berusaha menyempatkan diri datang ke kafe hanya untuk sekadar berbincang tentang hobi, pekerjaan atau melepas penat.

Merekapun telah memiliki tempat favorit dalam tiap kunjungan ke kafe, yakni di meja paling pojok yang menghadap langsung ke jendela. Dari jendela tampil pemandangan hiruk pikuk kota.

Beruntung keduanya memiliki minat yang sama dalam hal seni sehingga sangat mudah dekat dan nyaman. Setidaknya sepekan dua kali mereka datang dan duduk di sana. Rabu dan Sabtu adalah kunjungan rutin mereka berdua.

Kehidupan berjalan semestinya. Si pria tampak tak mempermasalahkan Diandra masuk dan membangun tempat baru di hatinya. Apakah ia memiliki rasa? Ia masih belum mengerti. Yang pasti dia tak keberatan jika Diandra tahu mengenai asal usulnya. Misalnya tentang problematika keluarganya dimana ia harus tinggal berdua dengan ayahnya, tak lama setelah orang tuanya bercerai. Hal itu ia rasakan sejak kecil hingga membuat trauma yang membuatnya takut untuk kehilangan orang-orang berharga dalam hidupnya.

Entah Diandra mengerti atau tidak, barangkali karena datang dari keluarga yang lengkap dan sempurna membuatnya tak bisa merasakan empati. Diandra bercerita kalau ayahnya adalah seorang pelukis dan kakaknya adalah seniman jalanan, darah seni mengalir dalam gennya. Sungguh sangat cocok jika mau disandingkan dengan si pria yang ayahnya adalah kolektor seni.

Hingga setahun setelah mereka berkenalan si pria berinisiatif untuk mengajak berkunjung kerumahnya. Hanya kunjungan biasa. Sekaligus mengenalkan Diandra pada ayahnya. Namun langkah ini adalah kesalahan terbesarnya.

Pada mulanya ketika memasuki rumah si pria, Diandra dibuat takjub dengan selera arsitektur rumah itu. Rumah besar itu tak kurang dari separuh hektar. Nampak glamour dengan perabot dan furnitur klasik di dalamnya.

Diandra terpaku memandangi lukisan di muka dinding. Tampak dingin dan tajam. Sementara si pria memandang Diandra dengan tatapan tak biasa. Waktu memporak-porandakan semua. Sudah semenjak beberapa bulan ini jantungnya seperti habis diajak marathon keliling Jogja tatkala melihat Diandra. Diandra menjadi sumber dari segala debarnya. Pandangannya tak bisa dia alihkan pada selain Diandra.

Ia bahkan mencuri waktu di sela kesibukan di luar jadwal rutin kunjungan ke kafe hanya demi bertemu dengan Diandra. Malam-malamnya kini menjelma puisi yang begitu indah. Begitu pula kehidupannya sebagai budak korporat di kantor terasa lebih ringan juga menyenangkan. Yup, lagi lagi karena cinta.

“Siapa gadis manis ini?” Suara berat itu datang dari tangga. Suara pria paruh baya dengan badan tegap dan rahang simetris yang kemudian mendekati mereka berdua. Ayah si pria.

“Saya Diandra, Om.” Gadis itu malu-malu.

“Pacar atau teman?” tembak ayah si pria.

“Hanya teman,” jawab Diandra, lalu dibalas dengan tatapan sang ayah yang sulit diartikan.

“Diandra senang dengan lukisan? Mau saya ajak berkeliling lihat-lihat?”

Diandra mengangguk membuntuti sang ayah yang telah melangkah menyusuri ruang tengah, meninggalkan si pria sendirian.

——

“Tunggu-, kejadian itu pemicunya atau ada bagian lain yang belum kauceritakan?” Ted, si kucing persia bertanya.

“Itu pemicunya. Semenjak hari aku mengajaknya ke rumahku si jalang itu terus menempel ke ayahku. Bahkan menjalin hubungan dengannya. Dia tahu saja kalau ayahku meninggalkan warisan yang cukup banyak. Ditambah lagi ia direktur perusahaan  besar. Dasar wanita matre!”

“Kau tak pernah bicara benar-benar dengan ayahmu?” Ted menyelidik lagi.

“Buat apa? Sekarang semua telah terlambat. Sepekan lagi mereka akan menikah. Dan aku akan terus tersiksa karena selalu bersamanya, bukan sebagai seorang kekasih. Namun sebagai orang tua dan anak!”

Kali ini si pri pria benar-benar telah menuangkan sianida ke dalam Americcano. Ia mengaduknya selagi masih hangat.

“Kau benar-benar sudah gila!”

“Kau pikir berbicara dengan seekor kucing sepertimu adalah hal yang waras?”

Di tengah percakapan, ponsel pria itu berdering. Terpampang nama Diandra di sana.

“Ah, sialan!” umpat si pria.

Ia tahu Diandra pasti mencarinya. Sudah lebih dari sepekan ia tak pulang ke rumah. Ia tak menghiraukan panggilan tersebut.  Tangannya bergetar memegangi cangkir. Ingin segera menenggaknya dan mengakhiri huru-hara ini.

Tepat saat mulut cangkir hampir menyentuh bibir, seseorang menepuk pundaknya. Seorang wanita dengaan sweater hijau dan rok warna senada. Wajahnya tirus dan bersih namun ada tahi lalat sangat kecil di bawah matanya.Rambutnya dibiarkan tergerai.

Tangan pria itu merosot dan hampir menumpahkan minumannya. Jantungnya serasa dipompa lebih kencang. Ia menatap wanita itu tanpa berkata-kata. Semua musik harmonis berkelebat mendramatisir momentum ini. Segala ibarat dan frasa yang muncul dalam pikirannya hanya bermuara pada satu kata: indah.

“Mas, sepertinya minuman kita tertukar. Mas pesan americcano kan? Ini punya, Mas. Kalau ini ekspresso saya,” kutur wanita itu lembut, seraya cekatan menukar cangkir mereka.

Si pria tampak termangu beberapa detik dan menyadari kelengahannya. Ia ingin bersuara namun kelu. Terlambat. Wanita itu menenggak minuman yang harusnya ia minum.

“Duh, matek aku!” kata si pria. [T]

  • BACA cerpen lain di tatkala.co
Kota Bandit | Cerpen Daviatul Umam
Arus Pelayaran | Cerpen Karisma Nur Fitria
Sejak Itu Samsu Berubah | Cerpen Khairul A. El Maliky
Sumbi Tak Mengandung Anak Tumang | Cerpen Amina Gaylene
Semalam Bersama Alien | Cerpen Putu Arya Nugraha
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Achmad Khoirul Fatoni | Catatan Biru

Next Post

LONTAR BALI DI MUSEUM SONOBUDOYO YOGYAKARTA

Nazhif Amin

Nazhif Amin

Pelajar SMA MBS Yogyakarta. Hobi berdiskusi.Karyanya telah dimuat di berbagai media

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
LONTAR BALI DI MUSEUM SONOBUDOYO YOGYAKARTA

LONTAR BALI DI MUSEUM SONOBUDOYO YOGYAKARTA

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Esai

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co