14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Secangkir Sianida Hangat | Cerpen Nazhif Amin

Nazhif Amin by Nazhif Amin
July 27, 2024
in Cerpen
Secangkir Sianida Hangat | Cerpen Nazhif Amin

Ilustrasi tatkala.co

DIA duduk di situ. Di pojok ruangan kafe bercorak retro, beraroma pekat, dan sedikit bau kamper. Pria itu menghadapi Americano, kopi yang tengah digandrunginya akhir akhir ini. Dihirupnya aroma kopi itu, syahdu, seperti para pecandu musik reggae dengan nada yang makin tinggi. Kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari saku. Sebotol kecil cairan sianida yang ia impor melalui relasinya.

Ia menatap sekitar. Orang orang tak ada yang peduli satu sama lain. Ini kesempatan emas untuk ia segera menuangkan sianida itu ke dalam  Americano sebelum ada yang melihat.

“Kau sudah gila ya?”

Suara itu mematahkan gerakan pria itu, padahal sianida itu sudah hampir tertuang.

“Kau pikir bagaimana?” kata pria itu. “Ah,sialan!”.umpat pria itu dalam hati. Pikirnya, memang sebuah kesalahan mengajak Ted ke sini. Ia berpaling ke depan. Kucing persia dengan bulu keabuan dan lengan yang montok ini selalu bikin perkara.

“Aku masih tak mengerti, mengapa kau ingin bunuh diri?” Kucing itu memelankan suaranya, sambil sesekali melirik ke samping, berharap tak ada yang mendengarnya.

Pria itu terdiam.

“Apa ini berkaitan dengan Diandra?” Ted, si kucing itu, melanjutkan lagi.

Si pria terhenyak sesaat. Hampir terlonjak dari kursinya. Tentu saja, hari itu persis dua tahun setelah pria dan seorang gadis bernama Diandra bertemu. Hari yang tak terlupakan.

——–

Sore yang lelah. Setelah seharian dihajar dengan pekerjaan di kantor ia memutuskan ingin menikmati me time  di kafe. Episode pertemuannya dengan gadis itu bermula dari sini.

“Jodoh pasti bertemu!” Tampaknya itu adalah penamaan yang cerdas untuk sebuah kafe dengan tujuan menarik pelanggan. Apalagi para wraiter perempuan di kafe itu bergaya noni dengan rambut dicatok dan disemir pirang. Juga kebanyakan berperilaku centil.

Pria itu duduk sendiri. Di sudut ruangan ia cuma melamun kemudian memandangi wraiters berkacamata yang mengantarkan ekspresso ke mejanya seraya menyunggingkan senyum manis. Ia menatap ekspresso dengan pandangan hambar. Sejujurnya ia bukan penikmat kopi. Bahkan ia tak bisa membedakan mana kopi robusta mana arabica.

Sedetik sebelum ia merapatkan bibirnya ke mulut gelas, terasa seseorang menepuk pundaknya.

“Maaf, Mas, sepertinya pesanan kita tertukar!” sergah seorang wanita. Ia menggunakan blus hitam dan rambut tergerai sebahu.

Pria itu bingung.

“Mas pesennya Ekspresso kan?” lanjut wanita itu.

“Benar, memangnya ini apa?”  Si pria menatap cangkirnya bingung.

“Itu Americcano, Mas. Barangkali wraiters salah memberi pesanan,” kata wanita itu sambil tergelak. Lalu mengacungkan jempol untuk memberi kode pada wraiters bahwa kesalahpahaman dapat mereka atasi.

“Saya tak begitu mengerti mengenai kopi.”

“Kalau gitu, kita tukeran kopinya aja, Mas. Saya Diandra!” Wanita itu mengulurkan tangan kemudian disambut genggaman si pria yang memperkenalkan namanya.

Semenjak hari itu terjalin sebuah chemistry yang erat antara keduanya. Satu sama lain berusaha menyempatkan diri datang ke kafe hanya untuk sekadar berbincang tentang hobi, pekerjaan atau melepas penat.

Merekapun telah memiliki tempat favorit dalam tiap kunjungan ke kafe, yakni di meja paling pojok yang menghadap langsung ke jendela. Dari jendela tampil pemandangan hiruk pikuk kota.

Beruntung keduanya memiliki minat yang sama dalam hal seni sehingga sangat mudah dekat dan nyaman. Setidaknya sepekan dua kali mereka datang dan duduk di sana. Rabu dan Sabtu adalah kunjungan rutin mereka berdua.

Kehidupan berjalan semestinya. Si pria tampak tak mempermasalahkan Diandra masuk dan membangun tempat baru di hatinya. Apakah ia memiliki rasa? Ia masih belum mengerti. Yang pasti dia tak keberatan jika Diandra tahu mengenai asal usulnya. Misalnya tentang problematika keluarganya dimana ia harus tinggal berdua dengan ayahnya, tak lama setelah orang tuanya bercerai. Hal itu ia rasakan sejak kecil hingga membuat trauma yang membuatnya takut untuk kehilangan orang-orang berharga dalam hidupnya.

Entah Diandra mengerti atau tidak, barangkali karena datang dari keluarga yang lengkap dan sempurna membuatnya tak bisa merasakan empati. Diandra bercerita kalau ayahnya adalah seorang pelukis dan kakaknya adalah seniman jalanan, darah seni mengalir dalam gennya. Sungguh sangat cocok jika mau disandingkan dengan si pria yang ayahnya adalah kolektor seni.

Hingga setahun setelah mereka berkenalan si pria berinisiatif untuk mengajak berkunjung kerumahnya. Hanya kunjungan biasa. Sekaligus mengenalkan Diandra pada ayahnya. Namun langkah ini adalah kesalahan terbesarnya.

Pada mulanya ketika memasuki rumah si pria, Diandra dibuat takjub dengan selera arsitektur rumah itu. Rumah besar itu tak kurang dari separuh hektar. Nampak glamour dengan perabot dan furnitur klasik di dalamnya.

Diandra terpaku memandangi lukisan di muka dinding. Tampak dingin dan tajam. Sementara si pria memandang Diandra dengan tatapan tak biasa. Waktu memporak-porandakan semua. Sudah semenjak beberapa bulan ini jantungnya seperti habis diajak marathon keliling Jogja tatkala melihat Diandra. Diandra menjadi sumber dari segala debarnya. Pandangannya tak bisa dia alihkan pada selain Diandra.

Ia bahkan mencuri waktu di sela kesibukan di luar jadwal rutin kunjungan ke kafe hanya demi bertemu dengan Diandra. Malam-malamnya kini menjelma puisi yang begitu indah. Begitu pula kehidupannya sebagai budak korporat di kantor terasa lebih ringan juga menyenangkan. Yup, lagi lagi karena cinta.

“Siapa gadis manis ini?” Suara berat itu datang dari tangga. Suara pria paruh baya dengan badan tegap dan rahang simetris yang kemudian mendekati mereka berdua. Ayah si pria.

“Saya Diandra, Om.” Gadis itu malu-malu.

“Pacar atau teman?” tembak ayah si pria.

“Hanya teman,” jawab Diandra, lalu dibalas dengan tatapan sang ayah yang sulit diartikan.

“Diandra senang dengan lukisan? Mau saya ajak berkeliling lihat-lihat?”

Diandra mengangguk membuntuti sang ayah yang telah melangkah menyusuri ruang tengah, meninggalkan si pria sendirian.

——

“Tunggu-, kejadian itu pemicunya atau ada bagian lain yang belum kauceritakan?” Ted, si kucing persia bertanya.

“Itu pemicunya. Semenjak hari aku mengajaknya ke rumahku si jalang itu terus menempel ke ayahku. Bahkan menjalin hubungan dengannya. Dia tahu saja kalau ayahku meninggalkan warisan yang cukup banyak. Ditambah lagi ia direktur perusahaan  besar. Dasar wanita matre!”

“Kau tak pernah bicara benar-benar dengan ayahmu?” Ted menyelidik lagi.

“Buat apa? Sekarang semua telah terlambat. Sepekan lagi mereka akan menikah. Dan aku akan terus tersiksa karena selalu bersamanya, bukan sebagai seorang kekasih. Namun sebagai orang tua dan anak!”

Kali ini si pri pria benar-benar telah menuangkan sianida ke dalam Americcano. Ia mengaduknya selagi masih hangat.

“Kau benar-benar sudah gila!”

“Kau pikir berbicara dengan seekor kucing sepertimu adalah hal yang waras?”

Di tengah percakapan, ponsel pria itu berdering. Terpampang nama Diandra di sana.

“Ah, sialan!” umpat si pria.

Ia tahu Diandra pasti mencarinya. Sudah lebih dari sepekan ia tak pulang ke rumah. Ia tak menghiraukan panggilan tersebut.  Tangannya bergetar memegangi cangkir. Ingin segera menenggaknya dan mengakhiri huru-hara ini.

Tepat saat mulut cangkir hampir menyentuh bibir, seseorang menepuk pundaknya. Seorang wanita dengaan sweater hijau dan rok warna senada. Wajahnya tirus dan bersih namun ada tahi lalat sangat kecil di bawah matanya.Rambutnya dibiarkan tergerai.

Tangan pria itu merosot dan hampir menumpahkan minumannya. Jantungnya serasa dipompa lebih kencang. Ia menatap wanita itu tanpa berkata-kata. Semua musik harmonis berkelebat mendramatisir momentum ini. Segala ibarat dan frasa yang muncul dalam pikirannya hanya bermuara pada satu kata: indah.

“Mas, sepertinya minuman kita tertukar. Mas pesan americcano kan? Ini punya, Mas. Kalau ini ekspresso saya,” kutur wanita itu lembut, seraya cekatan menukar cangkir mereka.

Si pria tampak termangu beberapa detik dan menyadari kelengahannya. Ia ingin bersuara namun kelu. Terlambat. Wanita itu menenggak minuman yang harusnya ia minum.

“Duh, matek aku!” kata si pria. [T]

  • BACA cerpen lain di tatkala.co
Kota Bandit | Cerpen Daviatul Umam
Arus Pelayaran | Cerpen Karisma Nur Fitria
Sejak Itu Samsu Berubah | Cerpen Khairul A. El Maliky
Sumbi Tak Mengandung Anak Tumang | Cerpen Amina Gaylene
Semalam Bersama Alien | Cerpen Putu Arya Nugraha
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Achmad Khoirul Fatoni | Catatan Biru

Next Post

LONTAR BALI DI MUSEUM SONOBUDOYO YOGYAKARTA

Nazhif Amin

Nazhif Amin

Pelajar SMA MBS Yogyakarta. Hobi berdiskusi.Karyanya telah dimuat di berbagai media

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
LONTAR BALI DI MUSEUM SONOBUDOYO YOGYAKARTA

LONTAR BALI DI MUSEUM SONOBUDOYO YOGYAKARTA

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co