22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Semur Jengkol | Cerpen Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
July 13, 2024
in Cerpen
Semur Jengkol | Cerpen Khairul A. El Maliky

Ilustrasi tatkala.co

MENJELANG Maghrib Pak Karyamin telah rapi. Pria itu mengenakan baju terbaiknya kemeja safari empat saku yang telah disetika rapi dan disemprot dengan air rendaman daun suji yang dibiarkan semalaman. Tidak lupa ia juga mengenakan sarung kesayangannya yang hanya ia pakai pada bulan puasa saja. Setelah berpakaian rapi ia pergi mematut-matutkan dirinya di depan kaca lemari pakaian di dalam kamarnya. Rambut dan kumisnya sama-sama klimis. Ia sedang melihat orang lain di dalam dirinya sendiri.

Tidak lupa ia pamit kepada istrinya, Bu Bariyah, yang selama tiga hari ini cuti tidak berjualan rujak cingur karena demi menghormati umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa. Kepada perempuan asli Madura itu, Pak Karyamin hendak berpamitan untuk menghadiri acara buka puasa bersama di rumah dua orang teman lamanya, Pak Mustajab dan Pak Sabari. Istrinya merelakan suaminya pergi meskipun dengan setengah merepet-repet karena tak diajak serta. Bu Bariyah baru diam setelah Pak Karyamin membujuknya nanti akan membawakannya sebungkus semur jengkol. Lalu, Bu Bariyah melanjutkan aktivitasnya, memasak untuk keluarganya yang sebentar lagi akan berbuka puasa.

Di tengah jalan. Orang-orang kampung yang lagi ‘Ngabuburit’ atau habis mencari kerang di laut menyapa Pak Karyamin yang berjalan macam Pak Carik.

“Hendak pergi kemana, Pak?” tanya salah seorang warga.

“Kondangan buka puasa,” jawab Pak Karyamin.

“Ngurangi jatah di rumah Pak?” celetuk salah seorang warga.

“Ya ndaklah. Kalau perutku diisi, burungku juga harus makan dong.”

Warga tergelak menahan sakit perut.

Di hadapan warga kampung, Pak Karyamin dikenal sebagai orang yang humoris. Bahkan di usianya yang menginjak kepala tujuh, ubannya masih sedikit. Selain itu, ia juga masih kuat menebang pohon kelapa atau mangga. Pria itu jarang mengeluhkan sakit tulang karena nyeri. Kalau berjalan masih tegap dan cepat. Tidak ada pantangan makanan tertentu. Padahal, teman masa kecilnya dulu kini cuma tinggal namanya di batu nisan.

“Mau kondangan, ya Pak?”

“Bukan mau memancing. Kalau pakai baju ini yam au kondangan dong.”

“Romantis nih Pak Karyamin.”

“Kondangan kok romantis?”

“Iyalah, Pak, rokok, makan gratis.”

“Ah, kalian ini ada-ada saja.”

“Kalau boleh disisain, Pak.”

“Boleh, tapi piringnya ya?”

“Sekalian sama kulkasnya.”

***

Kalau boleh dibilang di antara teman-temannya, Pak Karyamin paling tidak beruntung nasibnya. Sejak kecil, Pak Karyamin sudah terbiasa hidup susah. Ayahnya bekerja sebagai penjual tapai singkong keliling. Jadi untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya sehari-hari, ayahnya Pak Karyamin menjajakan tapai singkong dari pagi sampai sore dengan berkeliling ke kampung-kampung. Adalah yang paling menyedihkan saat tapai itu kalau hanya laku sampai lima bungkus. Apalagi hidup di zaman itu masih sulit meskipun harga beras hanya lima ratus perak. Dan itu pun bukan beras premium yang saat ini bahkan orang miskin pun mampu membelinya. Dengan pendapatan yang tak seberapa, Pak Karyamin dan keluarganya rela dengan memakan nasi jagung atau beras dari Bulog yang kadang masih banyak kutunya. Biasalah, pada zaman itu beras sering ditimbun oleh pemerintah. Jika dagangan ayahnya Pak Karyamin banyak yang laku, maka mereka sekeluarga bisa makan enak. Makan enak menurut ukuran ekonomi keluarga rakyat jelata seperti keluarga Pak Karyamin bukanlah makan enak macam orang-orang gedongan yang tinggal di kota-kota, melainkan makan yang jarang dimakan, yaitu ikan asin dan kuah kelor.

Pernah suatu ketika Pak Karyamin ikut keliling menjajakan tapai singkong dagangan ayahnya, di kampung sebelah ada sebuah acara pernikahan dua keluarga kaya. Kata ayahnya kalau yang lagi menikah itu adalah anak dari seorang pejabat daerah dari partai bergambar pohon angker yang ada di kuburan. Dia menikahi seorang putri konglomerat yang sudah puluhan tahun mengkorup uang rakyat. Meskipun sudah jelas-jelas mengembat uang rakyat, namun tak seorang polisi pun yang berani menyentuhnya apalagi menjebloskannya ke dalam penjara.

“Kita sangat beruntung dijadikan sebagai orang miskin,” kata ayahnya Pak Karyamin.

“Kenapa bisa begitu, Pak?” protes Pak Karyamin yang kala itu masih duduk di bangku kelas lima Sekolah Rakyat.

“Apakah kamu tahu, darimana asal kekayaan orang kaya itu?”

Pak Karyamin menggeleng. Jelas ia tidak habis pikir, kenapa ayahnya berkata seperti itu. Bukankah dengan menjadi orang miskin mereka selalu dremehkan oleh orang-orang? Tiap ada yang kecolongan mereka pasti akan dicurigai. Dan bukankah dengan menjadi orang yang serba ada, tinggal di rumah gedong, punya mobil, makan enak, dan bergelimang harta, orang-orang akan tunduk hormat?

“Semua harta yang dimilikinya berasal dari mengkorup uang rakyat. Pejabat yang seharusnya menjadi wakil rakyat justru memakan uang rakyat,” jawab ayahnya Pak Karyamin.

“Uang rakyat?”

“Ya, semua uang bantuan yang semestinya disalurkan dan diberikan kepada rakyat miskin dikorupnya untuk memperkaya diri. Dan apakah kamu tahu semur jengkol yang mereka makan? Makan itu juga berasal dari uang rakyat. Haram apabila dimakan karena berasal dari perbuatan tidak benar.”

“Semur jengkol?”

***

Selama di dalam perjalanan, yang muncul di dalam otak Pak Karyamin adalah semur jengkol dan semur rending yang akan menjadi menu utama dalam buka puasa bersama nanti. Sambil mendayung sampannya, Pak Karyamin membayangkan bagaimana rasanya semur jengkol. Jika membayangkannya saja bisa bikin ngiler, apalagi sampai memakannya. Petai jengkol yang kata orang makruh jika dimakan, dimasak sampai empuk, lalu ditumbuk, lalu dimasukkan ke dalam kuali bersama bumbu semur. Aromanya menggoda selera. Setelah itu dimakan dengan nasi panas dan lauk bebek goreng. Pak Karyamin semakin bersemangat ketika membayangkan makanan itu. Ia makin mempercepat laju sampannya agar segera sampai di tempat tujuan yang berada di Hulu. Rumah Pak Mustajab ada di Hulu Sungai. Ia akan menjadi orang pertama yang sampai dalam acara itu.

Tapi, ketika sampai di pertengahan jalan, bayangan semur daging rending segera menyita otak kepala orang itu. Ia pernah melihat makana itu di etalase sebuah rumah makan ampera. Ia tidak bisa membayangkan, bagaimana rasanya daging sapi yang direbus sampai empuk, lalu daging itu dilumuri dengan bumbu rempah-rempah pilihan yang diracik oleh tangan perempuan-perempuan asli Bukit Tinggi, lalu dimasak sampai bumbu-bumbu tadi meresap ke dalam daging. Apalagi kalau dimakan dengan nasi panas. Semur jengkol dan semur rending, sebuah kombinasi makanan yang sama-sama lezatnya bukan?

Akhirnya Pak Karyamin dilema. Manakah tempat yang harus ia datangi terlebih dulu? Rumah Pak Mustajab dengan masakan semur jengkolnya, atau rumah Pak Sabari yang terkenal dengan semur rendangnya? Ia tidak bisa memilih salah satunya sebab ia sama-sama menginginkan kedua masakan itu.

“Yang mana ya?” Pak Karyamin menggaruk kepalanya.

“Di Hilir semur rendang, di Hulu semur jengkol.”

“Apa aku harus pergi ke Hulu dulu ya? Siapa tahu aku bisa makan semur jengkol? Lalu, aku akan pergi ke Hilir untuk mencicipi semur rendang.”

“Ah, tidak, tidak, aku harus mencicipi semur rendang dulu, baru semur jengkol.”

Sampai matahari tumbang di kaki barat, Pak Karyamin masih bergeming di tempatnya. Pria itu masih bingung dengan pilihannya. Tak lama kemudian azan Magrib berkumandang, tanda buka puasa. Lalu Pak Karyamin pergi ke Hulu, namun sesampai di sana orang-orang sudah pulang dalam keadaan perut kenyang. Lalu, Pak Karyamin berbalik ke Hilir, ia mendayung sampannya dengan sekuat tenaga. Namun ketika sampai, acara buka puasa bersama telah usai. Orang-orang pulang sambil mencangking berkat kenduri.

Pak Karyamin pulang dengan tangan kosong. Ia tidak sempat mencicipi semur jengkol apalagi semur rendang. Ia sangat kecewa dan marah. Ia pun pulang ke rumahnya dan makan bersama keluarganya. Karena diduga telah berbuka puasa dengan semur jengkol, istrinya hanya menyisakan tempe dan tahu penyet sisa anaknya. Sungguh malang nian nasib Pak Karyamin. [T[

Probolinggo, Maret 2024

  • BACA cerpen lain di tatkala.co
Arus Pelayaran | Cerpen Karisma Nur Fitria
Sejak Itu Samsu Berubah | Cerpen Khairul A. El Maliky
Sumbi Tak Mengandung Anak Tumang | Cerpen Amina Gaylene
Semalam Bersama Alien | Cerpen Putu Arya Nugraha
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Farras Pradana | Bukan Hukuman

Next Post

Night Market Chiang Mai: Surganya Makanan, Minuman, dan Souvenir di Thailand

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Night Market Chiang Mai: Surganya Makanan, Minuman, dan Souvenir di Thailand

Night Market Chiang Mai: Surganya Makanan, Minuman, dan Souvenir di Thailand

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co