24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Semur Jengkol | Cerpen Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
July 13, 2024
in Cerpen
Semur Jengkol | Cerpen Khairul A. El Maliky

Ilustrasi tatkala.co

MENJELANG Maghrib Pak Karyamin telah rapi. Pria itu mengenakan baju terbaiknya kemeja safari empat saku yang telah disetika rapi dan disemprot dengan air rendaman daun suji yang dibiarkan semalaman. Tidak lupa ia juga mengenakan sarung kesayangannya yang hanya ia pakai pada bulan puasa saja. Setelah berpakaian rapi ia pergi mematut-matutkan dirinya di depan kaca lemari pakaian di dalam kamarnya. Rambut dan kumisnya sama-sama klimis. Ia sedang melihat orang lain di dalam dirinya sendiri.

Tidak lupa ia pamit kepada istrinya, Bu Bariyah, yang selama tiga hari ini cuti tidak berjualan rujak cingur karena demi menghormati umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa. Kepada perempuan asli Madura itu, Pak Karyamin hendak berpamitan untuk menghadiri acara buka puasa bersama di rumah dua orang teman lamanya, Pak Mustajab dan Pak Sabari. Istrinya merelakan suaminya pergi meskipun dengan setengah merepet-repet karena tak diajak serta. Bu Bariyah baru diam setelah Pak Karyamin membujuknya nanti akan membawakannya sebungkus semur jengkol. Lalu, Bu Bariyah melanjutkan aktivitasnya, memasak untuk keluarganya yang sebentar lagi akan berbuka puasa.

Di tengah jalan. Orang-orang kampung yang lagi ‘Ngabuburit’ atau habis mencari kerang di laut menyapa Pak Karyamin yang berjalan macam Pak Carik.

“Hendak pergi kemana, Pak?” tanya salah seorang warga.

“Kondangan buka puasa,” jawab Pak Karyamin.

“Ngurangi jatah di rumah Pak?” celetuk salah seorang warga.

“Ya ndaklah. Kalau perutku diisi, burungku juga harus makan dong.”

Warga tergelak menahan sakit perut.

Di hadapan warga kampung, Pak Karyamin dikenal sebagai orang yang humoris. Bahkan di usianya yang menginjak kepala tujuh, ubannya masih sedikit. Selain itu, ia juga masih kuat menebang pohon kelapa atau mangga. Pria itu jarang mengeluhkan sakit tulang karena nyeri. Kalau berjalan masih tegap dan cepat. Tidak ada pantangan makanan tertentu. Padahal, teman masa kecilnya dulu kini cuma tinggal namanya di batu nisan.

“Mau kondangan, ya Pak?”

“Bukan mau memancing. Kalau pakai baju ini yam au kondangan dong.”

“Romantis nih Pak Karyamin.”

“Kondangan kok romantis?”

“Iyalah, Pak, rokok, makan gratis.”

“Ah, kalian ini ada-ada saja.”

“Kalau boleh disisain, Pak.”

“Boleh, tapi piringnya ya?”

“Sekalian sama kulkasnya.”

***

Kalau boleh dibilang di antara teman-temannya, Pak Karyamin paling tidak beruntung nasibnya. Sejak kecil, Pak Karyamin sudah terbiasa hidup susah. Ayahnya bekerja sebagai penjual tapai singkong keliling. Jadi untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya sehari-hari, ayahnya Pak Karyamin menjajakan tapai singkong dari pagi sampai sore dengan berkeliling ke kampung-kampung. Adalah yang paling menyedihkan saat tapai itu kalau hanya laku sampai lima bungkus. Apalagi hidup di zaman itu masih sulit meskipun harga beras hanya lima ratus perak. Dan itu pun bukan beras premium yang saat ini bahkan orang miskin pun mampu membelinya. Dengan pendapatan yang tak seberapa, Pak Karyamin dan keluarganya rela dengan memakan nasi jagung atau beras dari Bulog yang kadang masih banyak kutunya. Biasalah, pada zaman itu beras sering ditimbun oleh pemerintah. Jika dagangan ayahnya Pak Karyamin banyak yang laku, maka mereka sekeluarga bisa makan enak. Makan enak menurut ukuran ekonomi keluarga rakyat jelata seperti keluarga Pak Karyamin bukanlah makan enak macam orang-orang gedongan yang tinggal di kota-kota, melainkan makan yang jarang dimakan, yaitu ikan asin dan kuah kelor.

Pernah suatu ketika Pak Karyamin ikut keliling menjajakan tapai singkong dagangan ayahnya, di kampung sebelah ada sebuah acara pernikahan dua keluarga kaya. Kata ayahnya kalau yang lagi menikah itu adalah anak dari seorang pejabat daerah dari partai bergambar pohon angker yang ada di kuburan. Dia menikahi seorang putri konglomerat yang sudah puluhan tahun mengkorup uang rakyat. Meskipun sudah jelas-jelas mengembat uang rakyat, namun tak seorang polisi pun yang berani menyentuhnya apalagi menjebloskannya ke dalam penjara.

“Kita sangat beruntung dijadikan sebagai orang miskin,” kata ayahnya Pak Karyamin.

“Kenapa bisa begitu, Pak?” protes Pak Karyamin yang kala itu masih duduk di bangku kelas lima Sekolah Rakyat.

“Apakah kamu tahu, darimana asal kekayaan orang kaya itu?”

Pak Karyamin menggeleng. Jelas ia tidak habis pikir, kenapa ayahnya berkata seperti itu. Bukankah dengan menjadi orang miskin mereka selalu dremehkan oleh orang-orang? Tiap ada yang kecolongan mereka pasti akan dicurigai. Dan bukankah dengan menjadi orang yang serba ada, tinggal di rumah gedong, punya mobil, makan enak, dan bergelimang harta, orang-orang akan tunduk hormat?

“Semua harta yang dimilikinya berasal dari mengkorup uang rakyat. Pejabat yang seharusnya menjadi wakil rakyat justru memakan uang rakyat,” jawab ayahnya Pak Karyamin.

“Uang rakyat?”

“Ya, semua uang bantuan yang semestinya disalurkan dan diberikan kepada rakyat miskin dikorupnya untuk memperkaya diri. Dan apakah kamu tahu semur jengkol yang mereka makan? Makan itu juga berasal dari uang rakyat. Haram apabila dimakan karena berasal dari perbuatan tidak benar.”

“Semur jengkol?”

***

Selama di dalam perjalanan, yang muncul di dalam otak Pak Karyamin adalah semur jengkol dan semur rending yang akan menjadi menu utama dalam buka puasa bersama nanti. Sambil mendayung sampannya, Pak Karyamin membayangkan bagaimana rasanya semur jengkol. Jika membayangkannya saja bisa bikin ngiler, apalagi sampai memakannya. Petai jengkol yang kata orang makruh jika dimakan, dimasak sampai empuk, lalu ditumbuk, lalu dimasukkan ke dalam kuali bersama bumbu semur. Aromanya menggoda selera. Setelah itu dimakan dengan nasi panas dan lauk bebek goreng. Pak Karyamin semakin bersemangat ketika membayangkan makanan itu. Ia makin mempercepat laju sampannya agar segera sampai di tempat tujuan yang berada di Hulu. Rumah Pak Mustajab ada di Hulu Sungai. Ia akan menjadi orang pertama yang sampai dalam acara itu.

Tapi, ketika sampai di pertengahan jalan, bayangan semur daging rending segera menyita otak kepala orang itu. Ia pernah melihat makana itu di etalase sebuah rumah makan ampera. Ia tidak bisa membayangkan, bagaimana rasanya daging sapi yang direbus sampai empuk, lalu daging itu dilumuri dengan bumbu rempah-rempah pilihan yang diracik oleh tangan perempuan-perempuan asli Bukit Tinggi, lalu dimasak sampai bumbu-bumbu tadi meresap ke dalam daging. Apalagi kalau dimakan dengan nasi panas. Semur jengkol dan semur rending, sebuah kombinasi makanan yang sama-sama lezatnya bukan?

Akhirnya Pak Karyamin dilema. Manakah tempat yang harus ia datangi terlebih dulu? Rumah Pak Mustajab dengan masakan semur jengkolnya, atau rumah Pak Sabari yang terkenal dengan semur rendangnya? Ia tidak bisa memilih salah satunya sebab ia sama-sama menginginkan kedua masakan itu.

“Yang mana ya?” Pak Karyamin menggaruk kepalanya.

“Di Hilir semur rendang, di Hulu semur jengkol.”

“Apa aku harus pergi ke Hulu dulu ya? Siapa tahu aku bisa makan semur jengkol? Lalu, aku akan pergi ke Hilir untuk mencicipi semur rendang.”

“Ah, tidak, tidak, aku harus mencicipi semur rendang dulu, baru semur jengkol.”

Sampai matahari tumbang di kaki barat, Pak Karyamin masih bergeming di tempatnya. Pria itu masih bingung dengan pilihannya. Tak lama kemudian azan Magrib berkumandang, tanda buka puasa. Lalu Pak Karyamin pergi ke Hulu, namun sesampai di sana orang-orang sudah pulang dalam keadaan perut kenyang. Lalu, Pak Karyamin berbalik ke Hilir, ia mendayung sampannya dengan sekuat tenaga. Namun ketika sampai, acara buka puasa bersama telah usai. Orang-orang pulang sambil mencangking berkat kenduri.

Pak Karyamin pulang dengan tangan kosong. Ia tidak sempat mencicipi semur jengkol apalagi semur rendang. Ia sangat kecewa dan marah. Ia pun pulang ke rumahnya dan makan bersama keluarganya. Karena diduga telah berbuka puasa dengan semur jengkol, istrinya hanya menyisakan tempe dan tahu penyet sisa anaknya. Sungguh malang nian nasib Pak Karyamin. [T[

Probolinggo, Maret 2024

  • BACA cerpen lain di tatkala.co
Arus Pelayaran | Cerpen Karisma Nur Fitria
Sejak Itu Samsu Berubah | Cerpen Khairul A. El Maliky
Sumbi Tak Mengandung Anak Tumang | Cerpen Amina Gaylene
Semalam Bersama Alien | Cerpen Putu Arya Nugraha
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Farras Pradana | Bukan Hukuman

Next Post

Night Market Chiang Mai: Surganya Makanan, Minuman, dan Souvenir di Thailand

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
Night Market Chiang Mai: Surganya Makanan, Minuman, dan Souvenir di Thailand

Night Market Chiang Mai: Surganya Makanan, Minuman, dan Souvenir di Thailand

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co